Anda di halaman 1dari 45

TES SPESIFIK

No Nama Tujuan Prosedur Hasil

SPINE
1 TES SKOLIOSIS Mencari adanya pembengkokan Pasien berdiri tegak lurus dengan punggung Apabila tali schit load tidak segaris dengan
tulang belakang ke samping terbuka, tali schit load (bandul) dipasang tepat prosesus spinosus vertebrae maka skoliosis
(skoliosis). pada vertebrae prominen (C7). positif. Dengan busur derajat dapat diukur
derajat pembengkokannya

2 Tes Provokasi Mengetahui CRS Dilakukan dengan cara posisi leher diekstensikan Hasil positif bila terdapat nyeri radikuler ke
dan kepala dirotasikan ke salah satu sisi, arah ekstremitas ipsilateral sesuai arah rotasi
kemudian berikan tekanan ke bawah pada puncak kepala.
kepala

3 Tes Distraksi Kepala Menegakkan diagnosisCRS Menarik kepala pasien dari arah bawah(dagu) ke Distraksi kepala akan menghilangkan nyeri
atas yang diakibatkan oleh kompresi terhadap
radiks syaraf
4 Tindakan Valsava Nyeri radikuler(bahu sampai Pasien disuruh mengejan sewaktu ia menahan Positif bila timbul nyeri radikuler yang
pinggang)/HNP nafasnya berpangkal di leher menjalar ke lengan.

5 Swallowing test Penghalang tulang belakang Pasien diminta untuk menelan. Peningkatan rasa sakit atau kesulitan
cervical atau tumor di tulang menelan (disfagia).
belakang anterior daerah
cervical.

6 Lateral dan anterior/posterior Untuk menentukan apakah Duduk atau berdiri, pemeriksa menempatkan Jika ada rasa sakit di tulang rusuk selama
rib compression test pasien memiliki patah tulang tangan di sisi berlawanan dari tulang rusuk. kompresi, mungkin ada fraktur, memar, atau
rusuk. Kompresi dari pemeriksa Pemeriksa kemudian menerapkan gaya tekan pemisahan costochondral.
akan menyebabkan deformasi kedua tulang rusuk anterior(sternum) ke
tulang rusuk, yang akan posterior(vertebrae thoracal) dan sisi lateral.
mengakibatkan rasa sakit jika
frature hadir.

7 Kernig / Brudzinski’s “Neck” Untuk mengetahui meningitis di Pasien terlentan, letakkan satu tangan pemeriksa Pada saat kepala pasien difleksikan timbul
Sign (lumbar) selaput tipis yang membungkus di bawah kepala dan tangan lainnya diletakkan di pula fleksi involunter pada kedua tungkai
otak dan jaringan saraf tulang atas dada pasien, lalu fleksikan kepala pasien dan rasa tidak enak atau nyeri pada bagian
belakang. dengan cepat semaksimal mungkin leher dan punggung bawah
8 Stoop test Untuk penyakit degenerative Pasien berdiri, suruh pasien berjalan cepat Postur tubuh membungkuk secara progresif
lumbal, radiculopathy beberapa lama dan suruh berhenti dengan badan saat jalan cepat dan nyeri punggung saat
entrapment, stenosis vertebra berdiri tegak berhenti badan berdiri tegak (terutama pada
stenosis vertebra saat berjalan akan
membungkuk dan menyesuaikan tubuh
untuk mengurangi nyeri radiculer dengan
fleksi hip dan fleksi knee)

9 Hoover test Untuk membedakan antara kaki Pasien berbaring/ terlentang, pemeriksa Tekanan dirasakan di kaki paretic ketika kaki
paresis yang psikogenik dari yang menempatkan tangannya di bawah tumit pasien. non-paretic dinaikkan dan tidak ada tekanan
asli. Kelemahan kaki asli terlihat Pasien kemudian diinstruksikan untuk menekan dirasakan di kaki non-paretic ketika kaki
pada paresis dianggap "organik," tumit ke bawah /ke meja. Pemeriksa diharapkan paretic sedang dibangkitkan.
dan penyebab lain dari kaki dapat merasakan tekanan pada anggota tubuh
paresis yang tidak terkait dengan non-paretic. Pasien kemudian diminta untuk
proses neuropathological meningkatkan ekstremitas non-paretic terhadap
dianggap "nonorganik." perlawanan ke bawah yang diterapkan oleh
terapis. Tidak ada tekanan ,diharapkan akan
merasa di bawah kaki paretic yang ada di meja.

10 Bowstring test (cram test) Untuk mengetahui adanya nyeri pasien diarahkan berbaring terlentang dengan tes dianggap positif apabila timbul rasa sakit
radikuler dari akar saraf L5-S1 kedua kaki ekstensi, terapis mengangkat secara karena penekanan fossa popliteal meskipun
lurus sebelah kaki pasien yang akan diperiksa. lutut di tekuk.
Saat pasien merasa nyeri, terapis menekuk lutut
pasien hingga rasa nyeri berkurang. Terapis
kemudian memberi tekanan pada fossa popliteal.
11 Slump test Tes ketegangan saraf digunakan Terapis mempertahankan kepala pasien pada Bila saat tekanan pada kepala dipindah ke
untuk mendeteksi herniated posisi netral, setelah itu pasien melakukan fleksi bahu pasien, mampu menambah gerakan
disc , neurodynamic atau lumbal, kemudian beri tekanan (kompresi) pada ekstensi lutut atau nyeri berkurang, berarti
sensitivitas jaringan saraf. bahu kanan kiri untuk memepertahankan posisi tes positif.
fleksi lumbal, selanjutnya pasien diminta
menggerakan fleksi leher dan kepala sejauh
mungkin, (kemudian terapis mempertahankan
posisi maksimal fleksi vertebra tersebut dengan
memberi tekanan pada kepala bagian belakang,
terapis menahan kaki pasien pada maksimal dorsi
fleksi, pasien diminta meluruskan (ekstensi)
lututnya, jika pasien tidak mampu meluruskan
lututnya (karena nyeri), tekanan pada kepala
dipindah ke bahu kanan kiri.

12 Spring test untuk menguji mobilitas L5. pasien dalam posisi tengkurap dengan tangan tes dianggap positif apabila tidak ada
terapis di atas L5 dan memberikan kompresi. gerakan pada L5. Hal ini menunjukkan bahwa
L5 tertekuk terhadap sacrum dan
menunjukkan torsi sacrum ke arah belakang.

13 Gillet test Untuk menilai keterbatasan pasien diposisikan berdiri dengan terapis yang tes dianggap positif apabila tidak ada
mobilitas di wilayah sacroiliac melakukan palpasi pada aspek inferior SIPS gerakan, dimana SIPS di sisi ipsilateral dari
dengan satu tangan dan palpasi pada prosesus lutut yang flexi tidak melakukan pergerakan.
spinosus S2 dengan tangan lainnya. Pasien lalu
diintruksikan untuk flexi pinggul hingga melewati
90 derajat. Terapis harus merasakan SIPS
bergerak inferior dan lateral terhadap sacrum.
Terapis juga harus membandingkan kedua SIPS
pada saat yang sama dan membandingkan posisi
akhirnya.
14 Squish test (gaping) Untuk menilai mobilitas sendi pasien dalam posisi berbaring terlentang, terapis tes dianggap positif apabila pada salah satu
sacroiliac. menempatkan tangan secara bersilang pada sisi terjadi gerakan yang lebih sedikit
setiap SIAS dan memberikan dorongan. daripada sisi yang satunya.
Sementara mempertahankan posisi pada satu
sisi, sisi yang berlawanan diberikan tekanan lebih
untuk menentukan mobilitas sendiri. Ulangi
secara bergantian.

15 Yeoman’s test Sakroilitis dengan subjek tulang Pasien dalam posisi tengkurap, terapis memutar Tes dianggap positif apabila ada nyeri pada
rawan tulang pangkal paha dengan satu tangan dan flexi sendi sacroiliac. Jika sakit berada pada
lutut 90 derajat dengan hip ekstensi. sacroiliac posterior ipsilateral itu mungkin
berhubungan dengan patologi pada
sacroiliac anterior ligament. Jika di paha,
maka berhubungan dengan ketegangan otot-
otot pingul yang serta saraf femoral
sementara jika di pinggang maka
kemungkinan adanya keterlibatan lumbal.
16 Long-sitting test Untuk menilai kontribusi Terlentang dan duduk, knee extensi ,dosofleksi Positif jika ada innominate posterior, kaki
sacroiliac dan perbedaan panjang ankle dan pemeriksa memegang di atas yang muncul lebih pendek akan
a. Posisi duduk kaki. pergelangan kaki , kemudian plantar fleksi ankle . memperpanjang dengan sit up. Jika ada
Pemeriksa kemudian membandingkan dua innominate anterior, kaki yang muncul lebih
malleoli medial untuk melihat apakah perbedaan panjang dan akan lebih pendek jika sit up.
dalam posisi. Kemudian pasien duduk (posisi sit
up ), sambil menjaga knee extensi knee dan
plantar fleksi ankle. Bandingkan posisi malleoli
medial lagi untuk melihat apakah ada perubahan.

b. Posisi Terlentang

17 Seated Flexion Test Menunjukkan disfungsi sacroiliac Duduk, palpasi SIPS lalu pasien membungkuk ke Positif gerak Asymmetric atas dari SIPS
depan. menunjukkan disfungsi sacroiliac. Gunakan
Standing Fleksi Test untuk membedakan sisi
disfungsi
18 Kemp’s test untuk menilai sendi facet lumbar Posisi duduk Tes ini positif ketika pasien melaporkan nyeri,
a. posisi pasien duduk tulang belakang  Pasien duduk dengan lengan disilangkan di mati rasa atau kesemutan di daerah
atas dada . punggung atau ekstremitas bawah .
 Salah satu tangan terapis menstabilkan daerah
lumbosakral pasien di sisi yang akan diuji .
 Lengan lain mengontrol gerakan tubuh bagian
atas pasien
 Pasien pasif diarahkan ke fleksi , rotasi , fleksi
lateral, dan akhirnya ekstensi .
 Tergantung pada respon pasien , kompresi
aksial dapat diterapkan dalam posisi penuh
diperpanjang dan diputar untuk meningkatkan
stres pada sendi posterior .

b. Posisi pasien berdiri Posisi berdiri


 Pasien berdiri
 Terapis membantu klien untuk ekstensi, fleksi
lateral, dan rotasi.
 Terapkan overpressure dalam ekstensi

19 Sharp Purser Test Menilai integritas sendi atlanto Pasien duduk (+) sebuah gerakan geser kepala dalam
-Axial dan lebih terutama  Pemeriksa menempatkan telapak tangan kaitannya dengan sumbu menunjukkan
stabilisator dari sarang-sarang di di dahi pasien , ketidakstabilan atlantoaxial.
Atlas . Tes ini secara khusus  dan jari telunjuk atau ibu jari dari tangan (+) pengurangan gejala, terdapat bunyi " klik
menilai integritas Transverse lain di ujung proc.spinosus dari sumbu (C2 ) . " terasa di langit-langit mulut pasien.
Ligamen  Pasien diminta untuk perlahan-lahan
melenturkan kepala melakukan anggukan
cervikal sedikit , pada saat yang sama
pemeriksa menekan/ memberi tahanan
posterior di dahi pasien .
20 Tes arteri vertebralis Tes arteri vertebralis digunakan • Pasien diposisikan dalam posisi terlentang. Apabila pasien mengalami dizzines, bicara
dalam fisioterapi untuk menguji • Kemudian tangan pemeriksa memegang ngawur (slurred speech) dan hilang
aliran darah arteri vertebralis, bagian kepala pasien, kemudian kepala pasien kesadaran. Jika terjadi salah satu atau
mencari gejala penyakit arteri di ekstensikan, rotasi dan fleksi kearah lateral seluruh gejala diatas maka hasil pemeriksaan
vertebralis. penyakit arteri secara perlahan positif terhadap terjadinya oklusi total atau
vertebralis juga dikenal sebagai parsial dari arteri vertebralis.
iskemia vertebrobasilar (VBI).

21 PRONE INSTABILITY TEST Untuk menguji kemungkinan  Pasien di posisikan tengkurap dengan Tes ini dianggap positif jika timbul nyeri
pasien dengan nyeri pinggang tubuh di atas meja pemeriksaan dan kaki ke dalam posisi istirahat tapi mereda di posisi
menanggapi program latihan tepi dan kaki bertumpu pada lantai, pemeriksa bergerak, menunjukkan ketidakstabilan
stabilisasi. berlaku posterior kompresi anterior untuk lumbo-pelvis.
proc. spinosus individu dari tulang belakang
lumbar.
 Kemudian pasien mengangkat kaki dari
lantai (pasien dapat memegang meja untuk
mempertahankan posisi) dan posterior
kompresi anterior diterapkan lagi untuk tulang
belakang lumbal.

22 PRONE KNEE BENDING TEST Mengetahui kemungkinan cedera Posisi pasien tengkurap, pemeriksa memfleksikan Nyeri unilateral di daerah lumbal mungkin
akar saraf L2/L3 dan ketegangan knee pasien sedapat mungkin dan memastikan indikasi cedera akar saraf L2 atau L3.
m.quadrisep hip pasien tidak rotasi. Jika pemeriksa tidak dapat Sedangkan nyeri di bagian depan paha
memfleksikan knee 90˚ derajat karena ada kondisi indikasi m. quadriseps tegang. Tes ini juga
patologis, maka tes ini dapat juga dilakukan mengulur n. femoralis.
dengan pasif ekstensi hip dengan knee fleksi
sedapat mungkin. Posisi knee fleksi ini
dipertahankan antara 45-60 detik
SHOULDER
1 TES APLEY Mengetahui adanya tendinitis Pasien disuruh menggaruk punggung atas sekitar Bila pasien tidak dapat melakukan, berarti
supraspinatus, bursitis akromialis angulus medialis skapula dengan-tangan sisi yang hasil tes positif.
dan kapsulitis adhesiva bahu. diperiksa.

2 TES YERGASON Mengetahui adanya tendinitis 1. Pasien disuruh menekuk (memfleksikan) sendi Bila nyeri berarti tes positif.
m.biceps brachii sikunya, terapis memberi grk eksorotasi arm,
pasien disuruh menahan kemudian perlahan
gerakan kearah ekstensi.
2. Pasien disuruh menekuk (memfleksikan) sendi
sikunya, terapis memberikan tahanan kearah
abd dan ekstensi.

3 TES MOSELEY/Tes lengan Mengetahui ada tidaknya Pasien disuruh mengabduksikan lengannya Bila pada posisi abduksi 90⁰ pasien tiba-tiba
jatuh (Drop arm tes) kerusakan otot-otot “rotator dalam posisi lurus secara penuh, kemudian menjatuhkan lengannya (tidak dapat
cuff” sendi bahu. menurunkannya perlahan-lahan menurunkan lengannya secara perlahan)
berarti hasil tes positif.
4 Supraspinatus Test Untuk mengetahui adanya cedera Abduksi shoulder pasien sampai 900 dalam Tahanan terhadap abduksi diberikan oleh
otot & tendon supraspinatus. posisi netral dan pemeriksa memberikan tahanan pemeriksa sambil melihat apakah ada
dalam posisi tersebut. medial rotasi shoulder kelemahan atau nyeri yang menggambarkan
sampai 300, dimana thumb pasien menghadap hasil test positif, jika hasil test positif
kelantai. indikasi kerobekan atau cidera otot tendon
supraspinatus

5 TES APPREHENSI (TES SUB- Mengetahui ada tidaknya sub- 1. Pasien berdiri dengan lengan pada posisi Bila pasien mengeluh adanya nyeri pada
LUKSASI SENDI BAHU) luksasi sendi bahu abduksi bahu 90⁰ dan siku fleksi 90⁰, satu bahu atau terdengar suara “klik”, berarti tes
tangan terapis mengangkat lengan pasien positif.
a. Posisi duduk sedangkan tangan yang lain mendorong caput
humeri ke arah depan.
2. pasien dalam posisi telentang, dengan lengan
diculik 90 derajat. Putar bahu eksternal dengan
mendorong lengan bawah posterior. Jika
pasien merasa ketidakstabilan, mereka
biasanya akan menolak ketika tes dilakukan.

b. Posisi terlentang
6 Laxity Test (tes Kelemahan) Perhatikan beban aksial yang Pasien dalam posisi terlentang. Pss MLPP, dan
diterapkan pada siku. geser kepala humeri posterior anterior dalam
fosa glenoid utk mengevaluasi stabilitas sendi.

7 Speed Test Untuk mengetahui adanya Pemeriksa memberikan tahanan pada shoulder Tes ini positif apabila ada peningkatan
tendinitis bicepitalis pasien yang berada dalam posisi fleksi, secara tenderness didalam sulcus bicipitalis dan ini
bersamaan pasien melakukan gerakan pronasi merupakan indikasi.
lengan bawah dan ekstensi elbow.

8 Allen Maneuver Untuk mengetahui adanya TOCS Pemeriksa memfleksikan nelbow pasien sampai Jika tes positif indikasi adanya TOCS, jangan
900, sementara shoulder ekstensi horizontal dan lupa tanyakan apakah pasien merasakan
lateral rotasi, disertai rotasi kepala pasien kesisi sesuatu yang aneh.
yang berlawanan, pemeriksa mempalpasi denyut
a. radialis yang biasanya hilang pada saat kepala
rotasi kesisi yang berlawanan dari lengan yang di
test
9 Adson Maneuver Untuk mengetahui adanya TOCS Kepala pasien rotasi kesisi shoulder yang Jika denyutannya hilang indikasi test positif
diperiksa lalu ekstensi kepala, sementara (TOCS test).
shoulder pasien posisi lateral rotasi dan ekstensi
pemeriksa melokalisir denyut a. radilis dan pasien
diminta untuk menarik nafas yang dalam

10 Halstead Maneuver Untuk mengetahui adanya TOCS Pemeriksa menemukan denyut a. radialis dan Tidak ada atau hilangnya denyutan indikasi
menarik kearah bawah lengan yang di test, test positif untuk TOCS.
sementara leher pasien hyperekstensi dan rotasi
kepala kesisi yang berlawanan.
11 Tes Cyriax Untuk mengetahui adanya TOCS Cyriax menggambarkan pasif elevasi scapula Timbulnya rasa kesemutan didalam jari
selama beberapa menit perlu dipertahankan. tangan menunjukan adanay TOCS.
12 Tes Roos Untuk mengetahui adanya TOCS Posisi pasien duduk dengan bahu retraksi dan orang sehat biasanya mampu melakukan
depresi sejauh mungkin dalam posisi bahu 90˚ gerakan ini dengan mudah selama tiga
serta elbow 90˚, selanjutnya pasien diminta untuk menit, sedangkan pasien dengan TOCS
menutup dan membuka jarinya kuat-kuat dan sudah merasakan timbul keluhan dalam
secara bergantian, posisi menyebabkan waktu satu menit. Yang paling mencolok
kompresi didalam berbagai pintu sementara itu pasien merasakan kelelahan yang
perlu adanaya penyediaan darah ekstra karena berlebihan didalam lengan dan tangannya
kerja otot tersebut. dan tidak mampu mempertahankan
gerakabn menutup dan membuka jari.

13 Hawkins-Kennedy Test mengetahui adanya nyeri pada Pasien diperiksa pd posisi duduk dengan fleksi px merasakan nyeri dan sakit di sub-acromial
sub-acromial shoulder 90, fleksi elbow 90, pemeriksa
menyangga tangan pasien untuk memastikan
tangan pasien dalam keadaan rileks maksimal,
pemeriksa kemudian menstabilisasi bagian
proksimal dari elbow, dengan menggunakan
tangan bagian luar, dan tangan yg lain memfiksasi
bagian proksimal dari wrist, kemudian pemeriksa
menggerakan tangan secara cepat kearah dalam
(endorotasi
14 O’ Brien Tes mengetahui adanya kompresi Pasien di instruksikan untuk memfleksikan bila sakit, kemungkinan adanya kompresi
pada Acj shouldernya 90 ˚ dengan elbow ekstensi penuh pada ACJ dan labrum superior. (dengan
dan kemudian adduksi shoulder 10-15 ˚. Ke arah pengulangan tes minimal 2x, bisa
medial. Tangan kemudian endorotasi maksimal mengurangi rasa sakit)
dan pasien menahan tahanan dari pemeriksa ke
arah bawah. Prosedur ini diulangi dgn tangan pd
posisi supinasi.

ELBOW
1 Tes instabilitas Ligaments Untuk memeriksa ligament stabilisasi lengan pasien didaerah elbow oleh Penekanan ditingkatkan dan perhatikan ada
collateral lateral, berikan tangan pemeriksa,sedangkan tangan lainnya tidaknya perubahan nyeri atau ROM
penekanan kearah abduksi/valgus diletakkan diatas wrist pasien, selanjutnya pasien
dan penekanan kearah memfleksikan elbow sekitar 20-30 derajat. Untuk
adduksi/varus untuk memeliksa memeriksa ligament collateral lateral berikan
ligament collateral medial. penekanan kearah adduksi/varus dan penekanan
kearah abduksi/valgus untuk memeriksa ligament
collateral medial..
2 Cozen’s Test Masalah pada epycondylus pemeriksa menstabilisasi elbow dengan cara apabila pasien positif tindakan itu akan
lateralis meletakkan ibu jari pada epikondilus lateral dan menimbulkan nyeri di area Epicondylus
elbow dengan fleksi 90 derajat . Lalu pasien lateral humeri . Epicondylus dapat juga
diminta untuk mengepalkan tangan sambil dipalpasi untuk menentukan tempat nyeri.
mempronasikan lengan bawah dan radial deviasi
lalu pasien mengekstensikan wrist sambil
melawan tahanan yang diberikan oleh pemeriksa.

3 Tennis Elbow Test / Masalah pada epycondylus 1. Pemeriksa menstabilisasi elbow dengan cara 1. Jika tes ini positif indikasi timbul nyeri
Maudsley's test lateralis meletakkan ibu jari pada epikondilus lateral diatas epicondylus lateral humeri M.
lalu pasien diminta untuk melakukan ekstensi Ekstensor carpi radialis longus
jari II sedangkan pemeriksa memberikan 2. Jika tes ini positif indikasi timbul nyeri
tahanan. diatas epicondylus lateral humeri M.
2. Pemeriksa menstabilisasi elbow dengan cara Ekstensor carpi radialis brevis.
meletakkan ibu jari pada epikondilus lateral
lalu pasien diminta untuk melakukan ekstensi
jari III sedangkan pemeriksa memberikan
tahanan.

Medial Epicondylitis Test Masalah pada Medial Pameriksa mempalpasi epicondylus medial Tanda positif indikasi timbul nyeri diatas
4 (Golfer’s elbow) Epicondylitis pasien selanjutnya pameriksa menggerakkan epicondylus medial humeri.
lengan pasien kearah supinasi lengan bawah
disertai ekstensi elbow dan wrist joint bila perlu
ditambah gerakan fleksi wrist dan terapi memberi
tahanan scr perlahan.
5 Fleksi elbow test Tes ini membantu untuk Minta pasien untuk fleksi elbow maksimal dan Tanda positif indikasi adanya rasa kram atau
mengetahui adanya cubital pertahankan posisi tersebut sampai 5 menit. paresthesia sepanjang distribusi saraf ulnar
tunnel syndrome. di lengan bawah dan tangan.

6 MILL TEST Untuk mengetahui adanya lateral Pasien berdiri dengan elbow fleksi dan forearm Positif jika nyeri bertambah atau terjadinya
epicondilitis elbow / tennis elbow sedikit pronasi. Tangan pemeriksa berposisi di nyeri di epicondilus lateral elbow.
elbow dan satunya di menggenggam distal
forearm. Kemudian pasien diminta untuk
melakukan gerakan supinasi atau ekstensi dengan
melawan tahanan dari pemeriksa.

7 FOREARM EXTENSION TEST Untuk mengetahui adanya medial Pasien duduk. Posisi elbow fleksi dan forearm Positif jika nyeri bertambah atau terjadinya
epicondilitis elbow. supinasi. Tangan pemeriksa fiksasi di distal nyeri di epicondilus medial elbow.
forearm pasien. Kemuadian pasien diminta untuk
melakukan gerakan ekstensi elbow sambil
melawan tahanan pemeriksa.

8 PRESSURE PROVOCATION Mengetes adanya Cubital Tunnel Pasien duduk dengan fleksi elbow sekitar 20 o, dan Positif jika terjadi peningkatan nyeri,
TEST Syndrome (terjadinya kompresi forearm posisi supinasi. Jari telunjuk terapis paresthesia atau mati rasa di area yang
terhadap saraf ulnaris pada diletakkan di diatas saraf ulnaris. Tekan saraf diinervansi saraf ulnaris.
elbow). ulnaris selama satu menit.

WRIST AND HAND


1 Phalen Test Mengetahui adanya carpal tunnel Minta klien untuk melakukan fleksi 90o pada Normal tidak ada keluhan, tetapi pada
syndrome kedua pergelangan tangan, dan kedua punggung “Carpal Tunnel Syndrome“, tangan akan
tangan saling merapat (bersentuhan). kebas dan terasa seperti terbakar.
Pertahankan posisi ini selama 60 detik.

2 Tinel’s sign Sebuah tes yang dirancang untuk Pemeriksa mengetuk diatas terowongan carpal di Hasil uji positif jika pasien merasakan
mendeteksi carpal tunnel pergelangan tangan. paresthesia di distal dari pergelangan
syndrome (CTS). tangan.

3 Tes Finkelstein Untuk menegakkkan diagnosis de Tes ini dilakukan dengan cara pasien diminta Hasilnya positif jika pasien merasakan nyeri
Quervain syndrome mengepalkan tangannya dimana ibu jari diliputi hebat sehingga menolak untuk melanjutkan
oleh jari-jari lainnya, selanjutnya dilakukan gerakan tersebut.
deviasi ulner plus ekstension.

4 Allen’s test Sebuah tes yang dirancang untuk Pertama-tama pemeriksa mempalpasi dan Hasil tes positif menunjukkan bahwa tidak
menentukan patensi dari mengoklusi (menekan) arteri radialis dan ulnaris. ada atau berkurangnya hubungan antara
anastomosis pembuluh darah di Pasien kemudian diminta untuk membuka dan arcus ulnaris superficialis dan arcus radialis
tangan menutup jari tiga sampai lima kali dengan cepat profunda.
sampai kulit telapak tangan sembab. Tekanan
kemudian dilepaskan salah satu bisa arteri radialis
atau ulnaris, kecepatan kembalinya warna normal
tangan dicatat. Pengujian diulangi dengan
melepas arteri yang tidak dilepas pada pengujian
pertama.

5 Bunnel-Littler test untuk mengetahui kontraktur Pemeriksa memflexikan PIP hingga maksimal Hasil tes positif untuk kontraktur kapsul
otot intrinsik atau kontraktur sambil sebelumnya sedikit mengekstensikan sendi jika sendi PIP tidak dapat difleksikan.
sendi pada sendi PIP (Proximal sendi metacarpophalang (MCP). Tes ini positif untuk kontraktur otot intrinsik
Inter Phalang). jika MCP sedikit fleksi dan PIP dapat
diflexikan sepenuhnya.
6 Froment’s sign Sebuah tes yang dirancang untuk Pasien diminta untuk memegang selembar kertas Hasil uji positif jika saat penguji menarik
menentukan adanya kelemahan memakai ujung ibu jari dan sisi radial jari kertas dari pegangan pasien maka phalang
otot adduktor policis karena telunjuk. terminal ibu jari pasien akan terfleksikan
kelumpuhan nervus ulnaris. atau jika sendi MCP di ibu jari menjadi
sangat memanjang (Jeanne’s sign).

7 Tight retinacular ligament Sebuah tes yang dirancang untuk Pemeriksa memegang sendi PIP pasien dalam Untuk membedakannya, sendi PIP
test/malet tes menentukan adanya posisi ekstensi penuh sembari memfleksikan difleksikan dan jika sendi DIP dapat
pemendekan ligamen retinacular sendi DIP. Jika sendi DIP tidak dapat difleksikan, difleksikan dengan mudah maka kapsul sendi
atau adanya ikatan pada kapsul maka tes dianggap positif (baik disebabkan dianggap normal
sendi interphalangeal distal (DIP). karena kontraktur ligamen collateral atau
kontraktur kapsul sendi).

8 Grind Test Assessmen osteoarthritis pada Pemeriksa memegang ibu jari yang sakit dan Nyeri dirasakan dalam sendi
sendi carpometacarpal ibu jari. melakukan gerakan grinding sambil carpometacarpal jempol biasanya karena
mengkompresi jempol sepanjang axis osteoarthritis pada sendi. Adanya
longitudinalnya kelembutan saat palpasi dan ketidakstabilan
menyakitkan adalah tanda-tanda tambahan.
pasien biasanya akan juga mengeluhkan rasa
nyeri di sendi carpometacarpal dari jempol
ketika menentang jempol terhadap
ketahanan sang pemeriksa
9 Piano Key Tests Untuk mendeteksi adanya Duduk dengan lengan full pronasi di atas, duduk Tes ini positif apabila terasa nyeri
instabilitas pada inferior radio menghadap pasien, satu tangan menstabilkan
ulnar joint. tangan pasien dalam posisi netral, telunjuk dan
jari tengah ditempatkan di atas kepala ulna
dengan ibu jari menyediakan beberapa
counterpressure bawah dasar radius.
Tekan dengan jari tangan pada distal ulna pasien,
bgamana sperti menekan piano

10 Radial collateral ligament Untuk menekan ligamen radial Duduk dengan pergelangan tangan ditaruh di atas Test positif rasa sakit dari hasil yang paling
stress test kolateral dan kapsul lateral meja, satu tangan fiksasi pada lengan bawah mungkin tetapi evaluasi lebih lanjut akan
Wrist Adduction Test pergelangan tangan untuk bagian distal dengan posisi tangan menggenggam diperlukan jika rentang berlebihan tercatat
mendeteksi rasa sakit dan radius dan ulna sedangkan tangan yang satunya menunjukkan gangguan signifikan terhadap
kelemahan menggenggam jari-jari tangan. Dengan lengan sendi
tetap dalam keadaan fiksasi, tangan distal
mengambil wirst menjadi deviasi ulnaris (adduksi
wirst) dimana normal berkisar antara 30 derjat
dan 45 derajat.

11 Ulnar collateral ligament Untuk menekankan ulna Duduk dengan pergelangan tangan didukung di Tes positifnyeri adalah mot hasil
stress test collateral ligamentum (UCL) dan atas meja, satu sisi perbaikan lengan distal kemungkinan tetapi evaluasi lebih lanjut
Wrist Abduction Test kapsul medial pada pergelangan membungkus jari-jari sekitar radius dan ulna akan diperlukan jika marah berlebihan
tangan untuk mendeteksi rasa sementara yang lain graps tangan, mengurus tercatat, gangguan signifikan terhadap sendi
sakit. untuk tidak melibatkan jari atau jempol
dengan lengan tetap, tangan distal mengambil
pergelangan tangan menjadi deviasi radial (wrist
abduction) di mana rentang normal adalah
sekitar 15 derajat
12 Triangular fibrocartilage Untuk mengetahui adanya rasa Duduk atau berdiri. Menghadap pasien , Tes Positifnyeri lokal pada sisi ulnar dari
complex (TFCC) Tests sakit atau mengetahui indikasi pemeriksa menstabilkan lengan pasiendengan pergelangan tangan kadang-kadang disertai
robekan atau degenerative TFCC. satu tangan dan , seolah-olah berjabat. dengan kecemasan dan / atau klik atau
Lakukan tekanan axial lalu meminta pasien krepitus pada gerakan.
melakukan ulnar deviasi ditambah dengan fleksi
dan ekstensi wrist

13 Carpal compression test Menambah tekanan pada nervus Duduk dengan tangan supinasi. Duduk Tes Positif adanya parastesia dalam distribusi
medianus yang melewati carpal menghadap pasien, pemeriksa menempatkan nervus medianus (aspek palmar ibu jari,
tunnel untuk membantu satu ibu jari, ditumpangkan dengan yang lain, telunjuk dan jari tengah dan setengah lateral
diagnosa CTS lebih dari titik tengah dari retinakulum fleksor jari manis) dan jika kondisi parah, nyeri juga
dan menekan dengan kuat ke bawah sampai satu dapat timbul.
menit sambil mempertahankan counterpressure
dengan jari pada punggung tangan

14 Supination Lift Test Untuk memeriksa patologi TFCC Pasien duduk dengan fleksi elbow 90 dan supinasi Tes Positif adanya nyeri pada bagian ulnar
(triangular cartilaginous disk). lalu pasien diminta untuk menempatkan telapak dan kesulitan untuk melawan tahanan
tangan ke telapak tangan pemeriksa dan merupakan tanda positif adanya indikasi dari
mendorong tekanan tangan pemeriksa dorsal triangular cartilaginous disk tear.
15 Flick Sign Test Mengetahui adanya Carpal Pasien diminta mengibas-ngibaskan tangan atau Bila keluhan berkurang atau menghilang
Tunnel Syndrom (CTS). menggerak-gerakan jari-jarinya. akan menyokong diagnosa CTS.

16 Watenberg’s Sign Mengetahui adanya neuropati Pasien ditempatkan dengan pergelangan tangan tes positif apabila pasien tidak mampu untuk
ulnar. dalam posisi netral dan lengan sepenuhnya adduksi jari ke-5 setelah di ekstensi.
pronasi dan diperintahkan untuk melakukan
ekstensi penuh semua jari kemudian adduksi
semua jari .
17 Watson Test Untuk mengetahui ketidak Pemeriksa menempatkan ibu jari di atas skafoid tes positif bila ada bunyi.
stabilan pada scapho-lunate tuberkulum pasien, menerapkan tekanan dorsal.
instability. Pergelangan tangan tersebut kemudian
dipindahkan dari ulnaris ke radial deviasi.

18 Test Pray untuk mengetahui adanya cts pasien diminta untuk melakukan fleksi 90° pada positif apabila tangan terasa kebas atau
pergelangan tangan , selanjutnya kedua telapak seperti terbakar.
tangan saling merapat. Pertahankan posisi ini
selama 60 detik
HIP
1 TES TRENDELENBURG Tes ini untuk mengevaluasi Berdirilah dibelakang pasien dan observasi Jika dia dapat tegak, musculus gluteus
kekuatan musculus gluteus kekakuan kecil diatas SIPS. Normalnya, saat medius pada tungkai yang menyangga
medius pasien menumpu berat badan kedua kaki berkontraksi saat tungkai terangkat. Akan
seimbang, lekukan kecil itu nampak sejajar. terlihat garis pantat turun pada kaki yang
Kemudian mintalah pasien untuk berdiri satu diangkat pada kelemahan pada m. gluteus
kaki. minimus.

2 TES OBER Mengetahui kekuatan traktus Pasien tidur miring, abduksikan kaki sejauh jika traktus iliotibial normal, maka paha akan
iliotibial mungkin dan fleksikan knee 90⁰ sambil tetap berposisi saat tungkai dibebaskan
memegang hip joint pada posisi netral untuk
merileksasikan traktus iliotibial. Kemudian
lepaskan tungkai yang diabduksikan tadi
3 TES GAPPING ANTERIOR Terjadi kelainan pada sacro iliaca pasien tidur terlentang dan tangan terapis Jika pasien merasakan nyeri berarti tes
joint atau lig. Anterior Sacroiliaca diletakan bersilangan di SIAS. Setelah itu lakukan menunjukan positif
Joint kompresi atau penekanan di SIAS.

4 TES GAPPING POSTERIOR Maka terjadi kelainan sacro iliaca Pasien tidur miring dan tangan pemeriksa berada Jika pasien merasakan nyeri berarti tes
joint atau Ligamen. posterior region pelvis. Setelah itu lakukan kompresi. menunjukan positif.
sacroiliaca joint

5 TES PATRICK (FABERE TEST) Adanya kelainan di group pasien dalam posisi tidur terlentang dengan Terjadi nyeri
adductor atau Lig. anterior hip, posisi tumit bagian kanan menyentuh lutut
atau ligament Anterior Sacroiliaca bagian kiri dan tangan terapis berada di SIAS di
Joint bagian medial dari knee, setelah itu lakukan
penekanan atau kompresi.
6 TES ANTI PATRICK mengetahui adanya kelainan pasien dengan posisi tidur terlentang dengan kaki Terjadi nyeri
pada ligament posterior internal rotasi, tangan terapis akan memegang
sacroilliaca joint. pergelangan kaki dan bagian lateral dari knee.
Kemudian lakukan penekanan atau kompresi

7 TRUE LEG LENGTH Untuk mengetahui panjang Posisi pasien supine lying posisi pelvic Perbedaan 1-1,5 cm dikategorikan normal
DISCREPAMCY tungkai diseimbangkan dengan anggota gerak bawah atau walaupun dapat menyebabkan gejala.
SIAS searah pada satu garis lurus dan segaris
dengan anggota gerak bawah. Tungkai lurus
dengan jarak 15-20 cm dari satu sama lain (jarak
antara kaki).
Letakkan tungkai pasien pada posisi yang tepat
dan pastikan jarak dari SIAS ke Malleolus Medialis
dari Ankle (merupakan titik penentu).

8 Straight Leg Raising (SLR) / Mengetahui permasalahan pada Tes ini dapat dikombinasi dengan fleksi leher atau Apabila positif maka terjadi pengedangan
Laseque test N. ischiadicus/HNP fleksi dorsal dari kaki pada N. ischiadicus yang mengakibatkan
nyeri kejut yang amat sangat, maka
kemungkinan besar bahwa ada rangsangan
dari satu akar atau lebih dari L4 sampai S2.
9 ELY TEST Terjadinya ketegangan rectus Pasien posisi tengkurap. Terapis berdiri di salah Test ini mungkin tidak nyaman bila dilakukan
femoris satu sisi meja sebelah kaki pasien. Menempatkan pada pasien yang memiliki disfungsi pelvic
salah satu tangan di daerah ipsilateral pelvic atau sacroiliac karena posisi tengkurap.
Pemeriksa secara pasif memfleksikan knee pasien
dan mencatat reaksi dari hip joint. Tes ini diulang
pada sisi yang lainnya untuk perbandingan

10 Gaenslen’s Test untuk mengetahui adanya Terlentangkan pasien pada bed. Lalu relaksasikan Apabila merasakan nyeri berarti pasien
keterbatasn gerak dari sacroilliaca kaki yang mengalami gangguan pada tepi bed. positif mengalami gangguan.
joint Fleksikan hip dan knee kaki yang tidak mengalami
gangguan hingga 90o . Lalu berikan tekanan pada
kedua kaki tersebut hingga pasien merasakan
nyeri.

11 Thomas’s Test Mengetahui fleksibilitas dari grup Posisikan pasien terlentang, instruksikan pasien Positif apabila pasien tidak dapat manahan
otot illiopsoas untuk memfleksikan hip dan knee lalu intruksikan punggung bawah dan sacrum tetap diatas
pasien untuk menahannya. Lalu kaki satunya d bed. Sebaliknya jika pinggul memiliki
relaksasikan ditepi meja kemiringan posterior atau hip ekstensi lebih
besar dari 15 °, atau jika lutut tidak mampu
memenuhi fleksi 80 ° atau lebih
12 Lateral Step Down Manoeuver Untuk mengetahui kelemahan Instruksikan pasien untuk berdiri pada sebuah Positif apabila kaki yang melayang terjatuh
(Pelvis Drop Test) hip dan rotator lateral meja kecil dengan satu kaki, satu kaki lainnya dan tidak dapat menahan keseimbangan
dibiarkan melayang.

13 Braged test untuk mengetahui adanya pasien dengan posisi tidur lalu fleksikan hip dan positif apabila adanya nyeri.
masalah pada N. Ischiadicus. di kombinasikan dengan dorsofleksi.
14 Neri Test untuk mengetahui permasalahan pasien duduk, melakukan flexi hip (secara pasif) positif apabila adanya nyeri dan kesemutan
pada n. Ischidicus yang di kombinasikan dengan gerakan dorsofleksi dari cervical hingga menjalar ke tungkai
dan flexi leher. bawah.

15 Phelp’s Test Untuk mengetahui kelemahan Baringkan pasien dengan posisi terkurap. Pasien positif apabila pasien terdapat
pada rotator hip Fleksikan lutut pasien hingga 90o, lalu abduksikan keterbatasan pada saat mengabduksikan hip.
hip.
KNEE
1 TES MC MURRAY Mengetahui adanya lesi meniscus Pasien terlentang dengan lutut maksimal fleksi. Bila terdengan bunyi “klek” berarti hasil tes
medialis. Terapis menyangga tungkai pada kakinya dan positif.
menggerakkan ke arah eksorotasi, tangan yang
lain pada samping lateral lutut sedikit di atas
celah sendi dan memberi dorongan ke arah
ekstensi dan medial. Kemudian lutut perlahan
diluruskan.

2 TES MENISCUS MEDIAL IS Mengetahui adanya lesi meniscus Pasien tengkurap dengan lutut fleksi 90”, Bila pasien merasa adanya nyeri pada
MENURUT “APLEY” medialis. kemudian terapis memberi kompresi pada tumit samping medial celah sendi lutut, berarti
ke arah longitudinal axis tulang tibia. hasil tes positif.

3 TES LACHMANN Mengetahui adanya lesi ligamen Pasien terlentang dengan lutut fleksi ± 20 , terapis Bila terjadi gerakan berlebihan/nyeri berarti
krusiatum anterior dan kapsul memegang tungkai bawah bagian proksimal dan hasil tes positif.
sendi bagian lateral. menggerakannya ke depan.
4 TES GRAVITY Mengetahui adanya lesi ligamen Pasien terlentang, terapis memposisikan tungkai Bila ketinggian tuberositas tibia kanan dan
krusiatum posterior. pasien fleksi panggul 90° dan fleksi lutut 90° kiri tidak satu level, berarti tungkai dimana
dengan satu tangan menyangga tungkai pada tuberositas tibianya lebih rendah
tumitnya. Tangan yang lain merapatkan paha kemungkinan mengalami lesi ligamen
pasien. Kemudian dilihat ketinggian tuberositas krusiatum posteriornya.
tibia kanan dan kiri satu level atau tidak.

5 Fluctuation Test Mengetahui adanya RA/OA Ibu jari dan jari telunjuk dari satu tangan Bila ada cairan dalam lutut yang melebihi
diletakkan disebelah kiri dan disebelah kanan normal maka tes tersebut akan positif.
patella. Sesekali proc. Suprapetellaris
dikosongkan memakai tangan lain, maka ibu jari
dan jari telunjuk seolah-olah terdorong oleh
perpindahan cairan itu.

6 Test Balotement (bursitis) untuk melihat apakah ada cairan recessus suprapatellaris dikosongkan dengan bila ada (banyak) cairan di dalam lutut, maka
di dalam lutut. menekannya dengan satu tangan, sementara itu patella sepertinya terangkat, yang
dengan jari tangan lainnya patella ditekan ke memungkinkan adanya sedikit gerakan maka
bawah. pada pemeriksaan yersebut hasilnya positif.
7 Tes instabilitas Ligaments Untuk memeriksa ligament Stabilitasi lengan didaerah elbow/knee oleh Adanya nyeri
collateral lateral dan ligament tangan pemeriksa, sedang tangan lainnya
collateral medial. diletakkan diatas wrist pasien. Selanjutnya pasien
memfleksikan elbownya sekitar 20 – 30 derajat.
Untuk memeriksa ligament collateral lateral,
berikan penekanan kearah abduksi/valgus dan
penekanan kearah adduksi/varus untuk
memeriksa ligament collateral medial.Penekanan
ditingkatkan dan perhatikan ada tidaknya
perubahan nyeri atau ROM

8 Active Anterior Drawer Sign Mengetahui adanya cidera ACL. Tahan kaki pasien, pasien diminta meluruskan Bila tibia plateau bergerak ke depan tes
lututnya positif
9 Posterior Drawer Sign Mengetahui adanya cidera PCL, Dorong tungkai bawah bagian atas ke dorsal Gerakan normal sekitar 6 mm, bila > 6 mm
Lig. Oblique posterior tes positif

10 Slocum Test Mengetahui adanya cidera Posisi kaki endorotasi 300 (tes Inst. Anterolateral) Bila terjadi gerakan saat endorotasi ACL,
ACL, PCL, LCL kapsul atau eksorotasi 150 (tes Inst. Anteromedial), tarik PCL, LCL kapsul posterolateral, tractus
posterolateral, tractus iliotibialis, tungkai bawah ke ventral. iliotibialisBila terjadi gerakan saat eksorotasi
MCL serabut superficial, kapsul MCL serabut superficialPCL, kapsul
posteromedial posteromedial, ACL

11 Dejour Test Mengetahui adanya cidera ACL, Beri varus stress pd tungkai bawah, angkat tibia & Bila tibia subluksasi ke depan ACL, kapsul
kapsul posterolateral, tractus tekan femur ke bawah posterolateral,tractus iliotibialis
iliotibialis, lesi meniscus Bila nyeri hebat  lesi meniscus
Bila gerakan < 1 mm, berarti injury grade 1
Bila gerakan sekitar 1 – 2 mm, berarti injury
grade 2
Bila gerakan > 2 mm, berarti injury grade 3
12 Lateral Pivot Shift Maneuver mengetahui adanya cidera ACL, Posisi awal lutut lurus, panggul abduksi 30 0& Bila saat lutut lurus terjadi subluksasi tibia &
(Mac.Intosh Test) kapsul posterolateral, LCL, traktus endorotasi 200.Fiksasi kaki pd posisi endorotasi, saat fleksi 300 – 400 tibia tersentak ke
iliotibialis fleksikan lutut & dorong tungkai bawah ke depan belakang hasil tes positif
& varus

13 Jerk Test of Hughston Mengetahui adanya cidera ACL, Telentang lutut fleksi 900 fiksasi kaki pd posisi Bila saat lutut posisi fleksi 20 0 – 300 tjd
Kapsul posterolateral, LCL,tractus endorotasidan luruskan lutut serta beri varus subluksasi tibia plateaubagian lateral ke
iliotibialis stress pd lutut & dorong tungkai bawah bag. atas anterior kemudian saat lutut lurus berkurang
ke depan.

14 Noyes Flexion-Rotation Ruptur ACL Fleksikan lutut 150 – 300 serta pertahankan tibia Tes positif bila subluksasi berkurang
Drawer Test pada posisi netral dorong tibia ke posterior untuk
mengurangi subluksasi

15 Posteromedial Pivot Shift Test Mengetahui adanya cidera PCL, Fleksikan lutut pasien hingga 45 0 serta beri valgus Tes positif bila pada posisi lutut fleksi 450
MCL, Lig Oblique posterior stress, kompresi dan endorotasi tibia, kemudian terjadi subluksasi tibia plateaubagian medial
ekstensikan ke posterior dan saat lutut fleksi 20 0 – 400
subluksasi berkurang.
16 Jakob Test (Reverse Pivot Shift Mengetahui adanya cidera Pasien memfleksikan lututnya, FT’s memberi Tes positif bila tibia plateau bergeser ke
Maneuver) LCL,1/3 kapsul lateral varus stress posterior
17 Bounce Home Test Mengetahui adanya kerobekan Gerakan knee fleksi penuh kemudian Bila tak bisa lurus atau endfeel “ngeper”
meniskus diekstensikan tiba-tiba (springy block)
tes positif

ANKLE AND FOOT


1 Shift Anterior Untuk mengetahui adanya ruftur Posisi kaki fleksi 70o. salah satu tangan pemeriksa Positif bila timbul nyeri. ATF Ligament sprain/
atau hipermobile pada lig. memfiksasi bagian dorsal kaki kemudian tangan capsular sprain
talofibulare anterior. yang satunya menarik bagian distal dari os tibia
dan fibula ke anterior.

2 Clik Varus Untuk mengetahui adanya ruftur Caranya calcaneus secara cepat digerakkan Jika gerakan cepat atau ada bunyi berarti
pada lig. Calcaneo fibular. kearah varus positif.

3 Thomson Test Untuk mengetahui adanya Posisi pasien, ankle berada diluar atau dipinggir Jika tidak terjadi gerakan berarti positif.
kerobekan pada tendon Achilles bed, kemudian remas musclebelli gastrok. Akan
ada gerakan planter fleksi.

4 Talartil Test Untuk mengetahui adanya ruftur Posisi pasien tidur miring kemudian pemeriksa
atau hipermobile ligamen memegang calcaneusnya dan kemudian gerakkan
Talofibular anterior. kearah abduksi dan adduksi.

5 Heel Tap (“Bump”) Test Untuk mengidentifikasi posisi pasien duduk dengan kaki diperpanjang nyeri di daerah keluhan (tibia, fibula,
pergelangan kaki atau patah dan pergelangan kaki jauh dari meja. Posisi kalkaneus, talus) pada fraktur di daerah
tulang kaki bagian bawah. pemeriksa di depan pasien, kemudian pemeriksa keluhan.
menstabilkan kaki bagian bawah dengan satu
tangan. Pemeriksa menggunakan tumit tangan
bebas untuk bertemu fraktur calcaneus.
Pemeriksa benjolan pemeriksa 2-3 kali dengan
kekuatan semakin lebih.
6 Squeeze Test untuk membantu posisi pasien terlentang atau duduk dengan kaki menerapkan pada gaya tekan di daerah ini
mengidentifikasi cedera mengantung, kemudian pemeriksa meletakkan setelah cedera akan sering mendapatkan
syndesmotic tibiofibular. tangan di pasien bagian sisi tibia dan fibula dari 6- respon yang sangat sakit.
8 inchi dibawah knee. lalu lakukan dengan
menekan tibia dan fibula secara perlahan
kemudian beri tekanan berlebih

7 Varus / Valgus stress Testing Sprain ligament collateral lateral pasien posisi terlentang atau duduk dengan kaki Peningkatan laxity atau sakit
Of The MTP medial menggantung, pemeriksa akan memeriksa bagian
lateral dan keseluruhan kaki kemudian stabilisasi
bagian tulang proksimal dalam posisi close joint.
Setelah itu periksa dengan memegang bagian
tulang distal sendi untuk mengetes dekat dengan
tungkai pada kaki, dibawa gerakan distal pada
tulang kea rah medial dan lateral, lalu lakukan
dengan mencoba membuka sendi.
8 Homan Sign Test Deep vein thrombophlebitis pasien duduk atau terlentang dengan lutut pucat dan bengkak di kaki, mati rasa saat
( DVT ) diluruskan, untuk pemeriksaan pasif dorsofleksi betis dipalpasi.
kaki dalam sementara pada lutut diluruskan
kemudian untuk pemeriksaan palpates betis yang
menyebabkan kelembutan.

9 HEEL TAP (“BUMP”) TEST Kemungkinan fraktur Px duduk atau berbaring terlentang, dgn kaki Nyeri dan / atau crepitus
tergantung diujung meja, lutut lurus. Pemeriksa Apabila px merasakan sakit pd daerah
menstabilkan kaki bagian bawah dgn satu tangan calcaneus, kemungkinan terdapat fraktur Os
dan tangan yg lain memukul calcaneus bagian Calcaneus.
bawah dgn telapak tangan ke arah proksimal 2-3
kali dgn kekuatan yg progresif naik.

10 Feiss’ Line Test Hyperpronation kaki Pasien duduk dengan kakinya menapak di lantai Navicular turun lebih dari 10 mm
Pemeriksa menempatkan tanda pada puncak
maleolus medial , tuberkulum navicular & aspek
plantar dari 1 sendi MTP & menarik garis yang
menghubungkan tanda
Pemeriksa mengintruksikan atlet berdiri dengan
kakinya sekitar 1menit terpisah & berat merata
Pemeriksa menandai posisi baru dari tuberkulum
navicular
11 Inversion Talar Tilt Test Ruptur ATF (posisiPF)/CF Pasien duduk dengan posisi kaki menggantung di Dipalpasi posisi talus miring saat dipalpasi
(posisinetral) ujung bed Terapis memobilisasi calcaneus pasien dan terasa nyeri saat dilakukan testersebut
dengan satu tangan dan tangan lain
menstabilisasi kaki. Terapis melakukan inverse
pada kaki pasien dengan menekan dan memutar
calcaneus kearah dalam sementara ankle dalam
posisi netral. Terapis melakukan inverse pada kaki
pasien dengan menekan dan memutar calcaneus
kearah dalam sementara ankle dalam posisi
plantar fleksi

12 Eversion Talar Tilt Test Apabila tes positive, pasien Pasien duduk dengan posisi kaki menggantung di Dipalpasi posisi talus miring saat dipalpasi
mengalami sprain deltoid ujung bed. Terapis memfiksasi calcaneus pasien dan terasa nyeri saat dilakukan tes tersebut
ligament dengan satu tangan dan tangan lain
menstabilisasi kaki.
Terapis melakukan eversi pada kaki pasien
dengan menekan dan memutar calcaneus kearah
dalam sementara ankle dalam posisi netral
13 Intermetatarsal Glide Test Apabila tes positive, terjadi Pasien tidur terlentang di bed atau duduk dengan Tes dikatakan positive apabila terasanya
trauma pada ligament metatarsal posisi kaki relaks nyeri saat dilakukan atau terjadi peningkatan
atauintrosseus Terapis beridiri di depan kaki pasien glide
Terapis mempalpasi kepala setiap 2 metatarsal
Terapis menggerakkan 2 kepala metatarsal
dengan arah berlawanan
Terapis mengulangi prosedur di atas sampai
keempat sendi metatarsal terevaluasi

14 Interdigital Neuroma Test pasien mengalami interdigital Pasien diposisikan terlentang di atas bed Terjadi nyeri menjalar ketika positive
neuroma Terapis menggunakan penghapus pada pensil interdigital neuroma.
untuk menekan ruang diantara intermetatarsal

15 Tinel's Sign Test Tarsal tunnel syndrome Pasien terlentang dengan pinggul dari rotasi Radiasi nyeri pada kaki dan jari kaki
eksternal dan kaki sedikit eversi Pemeriksa
mengetuk di bagian atas tarsal tunnel
16 Supple Pes Planus Test Medial longitudinal arch berpisah Pasien duduk di tepi bed. Pemeriksa diposisikan Supple Pes Planus
saat ketika weight bearing di bangku menghadap atlet. Pemeriksa mencatat
adanya medial longitudinal arch pada atlet.
Pemeriksa meminta atlet berdiri dengan posisi
weight bearing.

17 Side–to–Side Test Syndesmosis sprain none Pasien duduk (atau terlentang dengan lutut Nyeri; terlihat "bunyi"
sedikit menekuk). Pemeriksa menstabilkan kaki
bagian bawah dengan satu tangan
menggenggam. Pemeriksa memegang bagian
belakang kaki dan menggeser talus/calcaneus ke
sisi lateral dan medial.

18 Percussion of Tibia Test Kemungkinan fraktur Pasien tidur terlentang dengan kaki setengah Nyeri
berada di ujung bed
Pemeriksamengetuk tibia
19 Kleiger test Medial/Lateral ligamen keseleo Pasien duduk dengan kakinya di tepi bed Medial / nyeri sendi lateralis ; syndesmosis
(medial / lateral yang nyeri sendi) Pemeriksa menstabilkan kaki bagian bawah ( anterior Tib - fib ) nyeri
dengan satu tangan
Pemeriksa memfiksasi medial kaki sementara
tangan yang lain menopang pergelangan kaki
Pemeriksa memutar kaki ke lateral

Anda mungkin juga menyukai