Anda di halaman 1dari 6

PERBEDAAN JUMLAH FIBROBLAST DAN KEPADATAN KOLAGEN PADA DEFEK

FASCIA ABDOMEN YANG DILAKUKAN PENUTUPAN DENGAN MENGGUNAKAN


MEMBRAN AMNION KERING SAPI DAN TANPA AMNION KERING SAPI (Studi Pada
Mencit Rattus Novergicus Strain Wistar)

Delzar Amrullah*, IGB Adria Hariastawa**, Eddy Herman Tanggo**

*Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS-I) Ilmu Bedah Umum Fakultas Kedokteran
Unair / RSUD Dr. Soetomo Surabaya

**Staf Pengajar Ilmu Bedah SMF/Lab. Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Unair/ RSUD Dr.
Soetomo Surabaya

ABSTRAK
Latar Belakang: Defek dinding abdomen merupakan suatu keadaan terganggu atau hilangnya
satu atau lebih dari komponen dinding abdomen. Prostesis menjadi salah satu alternatif dalam
penutupan defek dinding abdomen. Membran Amnion Kering (MAK) sapi memiliki komponen
matriks ekstraseluler yang berpotensi untuk menutup defek sebagai scaffold fascia pada dinding
abdomen, dinilai dari jumlah fibroblast dan kepadatan kolagen pada proses penyembuhan luka.
Namun penggunaan membran amnion sapi untuk memperbaiki defek pada fascia masih belum
banyak diteliti.
Tujuan: Mengetahui terdapat perbedaan jumlah fibroblast dan kepadatan kolagen pada defek
fascia abdomen yang dilakukan penutupan dengan MAK sapi dan tanpa MAK sapi.

Metode: Desain penelitian eksperimental pada hewan coba yang mana dibuat defek pada dinding
abdomen. Dengan subjek 32 ekor mencit Rattur norvegicus strain Wistar, di mana 16 ekor (tanpa
MAK sapi) dan 16 ekor (dengan MAK sapi). Evaluasi jumlah fibroblast dengan pewarnaan
hematoxylin-eosin pada pembesaran 400x, dan kepadatan kolagen dengan pewarnaan Masson’s
Trichrom dengan pembesaran 100x serta skor kepadatan kolagen dengan rentang nilai 0 hingga 4.

Hasil: Evaluasi pemeriksaan jumlah fibroblas didapatkan pada kelompok kontrol rata-rata 32,187,
dan perlakuan 46,875, p < 0,05 (0,001). Pada kepadatan kolagen dengan skoring, skor terbanyak
pada kelompok kontrol adalah skor 1 dan 2 (37,5%), skor 0 (18,8%), skor 3 (6,2%). Sedangkan
pada kelompok perlakuan adalah skor 2 (56,2%), skor 3 (43,8%).

Kesimpulan: Terdapat peningkatan jumlah fibroblast dan kepadatan kolagen pada defek fascia
abdomen yang dilakukan rekonstruksi MAK sapi.
Kata Kunci: defek fascia abdomen, membran amnion kering sapi, jumlah fibroblast, kepadatan
kolagen
Pendahuluan Jaringan konektif membran amnion
mengandung laminin, fibronectin, dan
Defek dinding abdomen merupakan kolagen yang merupakan komponen
suatu keadaan terganggu atau hilangnya satu membran basal dermis. Membran amnion
atau lebih dari komponen dinding abdomen, sapi mengekspresikan protein anti-inflamasi
terutama bagian terpenting dari dinding seperti antagonis reseptor IL-1, IL-10 yang
abdomen yaitu fascia, otot dan kulit mungkin mengakibatkan percepatan resolusi
(Leppaniemi & Tukiainen, 2013). eritema dan inflamasi (Min et al. 2013).
Rekonstruksi dinding abdomen Membran amnion memproduksi
bertujuan untuk penutupan luka, factor-faktor pertumbuhan diantaranya yaitu
mengembalikan fungsi sistem TGF-a, Epidermal Growth Factor (EGF),
muskulofascial, melindungi dan menutup keratocyte growth factor (KGF), hepatocyte
visera abdomen tanpa adhesi, memperbaiki growth factor (HGF), dan basic fibroblast
dan mencegah herniasi dinding abdomen growth factor (bFGF), yang dapat
serta untuk mencapai kontur permukaan merangsang epitelialisasi.
seanatomis mungkin dan dengan
memperhatikan estetika (Leppäniemi & Pada jaringan normal, sekresi dan
Tukiainen 2013). aktifitas MMP-1 sangat rendah, namun pada
jaringan yang mengalami luka atau
Patrianagara A, Hariastawa A IGB keradangan akan terjadi peningkatan
2016, meneliti rekonstruksi fascia abdomen produksi dan sekresi MMP-1. Membran
pada herwan tikus dengan pemberian amnion dapat menghambat produksi enzirn
membrane amnion kering manusia dengan Matrix Metalloproteinase-1 (MMP-1) yang
hasil membrane amnion manusia merupakan enzim pendegradasi kolagen
meningkatkan jumlah fibroblast pada fase (Velnar dkk, 2009)
inflamasi dan membrane amnion manusia
tidak terdegradasi pada fase proliferasi dan Membran amnion sapi telah
masih terjadi pertumbuhan fibroblast dan dianggap sebagai materi penutupan luka yang
kolagen.(Patrianagara A, Hariastawa A IGB ideal karena dapat meningkatkan
2016). epitelialisasi, mempunyai efek anti-
inflamasi, anti-angiogenik, dan analgesic
Penggunaan membran amnion sapi (Min et al. 2013).
sebagai graft untuk memperbaiki defek pada
fascia masih belum banyak diteliti. Membran
amnion sapi mempunyai beberapa
keuntungan dibandingkan membran amnion Metode Penelitian
manusia, antara lain terkait dengan isu
Penelitian ini merupakan penelitian
legalitas dan agama yang membatasi
eksperimental, dengan menggunakan desain
penyediaan membran amnion manusia.
randomized control trial yang dilakukan
Membran amnion sapi yang stabil lebih
pada hewan coba mencit jenis Rattus
mudah didapatkan, lebih tebal sehingga lebih
novergicus strain Wistar. Mencit coba akan
mudah untuk aplikasinya (Min et al. 2013).
diadaptasi selama 7 hari, kemudian dilakukan
Membran amnion sapi terdiri dari randomisasi secara permuted block
sel epitel kuboid yang memipih dan jaringan randomization sehingga sampel akan dibagi
konektif mesenkimal. Sel epitel mengalami menjadi kelompok kontrol dan kelompok
migrasi sepanjang membran amnion. perlakuan. Setelah dibuat defek pada fascia
abdomen, kelompok kontrol dilakukan Evaluasi pemeriksaan jumlah
penutupan dengan flap kulit, kelompok fibroblas didapatkan pada kelompok kontrol
perlakuan ditambahkan dengan MAK sapi. rata-rata 32,187, dan kelompok perlakuan
Setelah fase maturasi (21 hari), dilakukan rata-rata 46,875, dengan uji independent t-
pemeriksaan jumlah fibroblast dengan test karena jumlah fibroplas merupakan data
pewarnaan hematoxylin-eosin dan kepadatan rasio dan didapatkan hasil p < 0,05 (0,001)
kolagen dengan pewarnaan Masson’s sehingga dapat disimpulkan perbedaan
trichrom dan dilakukan penilaian kepadatan jumlah fibroblast pada kelompok kontrol
kolagen menggunakan scoring : dibandingkan dengan kelompok perlakuan
bermakna secara statistik.
Skor 0 : Kepadatan serabut kolagen pada
daerah luka sangat rendah Tabel 2 Jumlah fibroblas
Skor 1 : Kepadatan serabut kolagen pada
daerah luka rendah
Skor 2 : Kepadatan serabut kolagen pada
daerah luka sedang
Skor 3 : Kepadatan serabut kolagen pada
daerah luka rapat
Skor 4: Kepadatan serabut kolagen pada
daerah luka sangat rapat (Novriansyah,2008)

Hasil
Grafik 1 Jumlah Fibroblas
Penelitian dilakukan terhadap 32 ekor
mencit jenis Rattus novergicus strain Wistar
jantan yang telah dipilih berusia antara 12- 16
minggu dengan berat badan antara 250 - 300 Uji Perbedaan Kepadatan Kolagen
gram. Enam belas ekor mencit sebagai Kepadatan kolagen dihitung
kelompok kontrol, dan 16 ekor lagi sebagai berdasarkan skor kepadatan kolagen. Skor
kelompok perlakuan. terbanyak pada kelompok kontrol adalah
Data dasar sampel penelitian seperti skor 1 dan 2, yaitu sebanyak 6 sampel
tergambar pada tabel di bawah ini. (Tabel 1) (37,5%), diikuti skor 0 sebanyak 3 sampel
(18,8%), skor 3 sebanyak 1 sampel (6,2%).
Tabel 1 Tabel data dasar sampel penelitian Sedangkan skor terbanyak pada kelompok
perlakuan adalah skor 2, yaitu sebanyak 9
sampel (56,2%), diikuti skor 3 sebanyak 7
sampel (43,8%).
Tabel 3 Tabel skor kepadatan kolagen

sehingga disimpulkan bahwa data berat


badan dan usia sampel terdistribusi dengan
normal (bersifat homogen), dengan nilai P >
0,05.
Uji Perbedaan Jumlah Fibroblas
dan kelompok tinggi yang digambarkan
melalui skor kepadatan kolagen dilakukan
menggunakan uji Fisher’s Exact test karena
jumlah sampel yang relatuf kecil. Hasil uji
Fisher’s Exact test didapatkan p < 0,05
(0,001) sehingga dapat disimpulkan
perbedaan kepadatan kolagen rendah dan
Grafik 2 Kepadatan Kolagen tinggi pada kelompok kontrol dibanding
dengan kelompok perlakuan bermakna
Kepadatan kolagen dilakukan
secara statistik.
menggunakan uji Mann-Whitney U karena
jenis data skor kepadatan kolagen merupakan
data ordinal. Hasil uji Mann-Whitney U Diskusi
didapatkan p < 0,05 (0,001) sehingga dapat Penelitian ini dilakukan untuk
disimpulkan perbedaan kepadatan kolagen membuktikan membran amnion dapat
pada kelompok kontrol dibanding dengan menjadi bahan dasar pembentukan fascia
kelompok perlakuan bermakna secara terhadap penyembuhan defek fascia
statistik. abdomen pada mencit.
Selanjutnya peneliti mencoba Membran amnion digunakan sebagai
membuat kelompok skoring menjadi dua, biological dressing karena kemampuannya
yaitu kelompok rendah untuk skore 0 dan memfasilitasi penyembuhan luka, proliferasi
skore 1, serta kelompok tinggi untuk skore 2 dan diferensiasi sel. Membran amnion
skore 3. Untuk kelompok rendah pada digunakan dalam penanganan luka bakar,
kelompok kontrol berjumlah 9(56,3%) dan rekonstruksi kornea, buli, timpanoplasi,
pada kelompok perlakuan berjumlah 0(0%), artroplasti, dan mencegah adhesi dalam
sedangkan untuk kelompok tinggi pada pembedahan abdomen (Fernandes dkk.,
kelompok kontrol berjumlah 7(43,8%) dan 2005). Membran amnion mengandung faktor
kelompok perlakuan berjumlah 16(100%). pertumbuhan (growth factor), sitokin dan
matriks ekstraseluler dalam jumlah yang
Tabel 4.Kelompok Kepadatan Kolagen
banyak dan mempunyai fungsi yang penting
dalam proses penyembuhan luka (Niknejad et
al., 2008). Membran amnion memenuhi
karakteristik sebagai bioprostesis dan
berperan dalam rekayasa rekonstruksi
jaringan karena memiliki aktivitas anti
bakteri, memungkinkan pertumbuhan
jaringan bila digunakan pada berbagai
jaringan tubuh karena respon jaringan yang
rendah.
Jumlah fibroblas meningkat pada
kelompok perlakuan dibandingkan pada
Grafik 3. Kelompok Kepadatan Kolagen
kelompok kontrol. Peningkatan jumlah
fibroblas ini disebabkan oleh meningkatnya
Pada penelitian ini, uji perbedaan rangsangan protein sekretori FGF sebagai
kepadatan kolagen antara kelompok rendah hasil dari degranulasi platelet (Liakakos dkk,
2001). Membran amnion mempunyai Berdasarkan penelitian ini dapat
kemampuan menstimulasi sintesis fibroblas disimpulkan bahwa terdapat peningkatan
(Niknejad et al, 2008) jumlah fibroblast dan peningkatan kepadatan
kolagen pada defek fascia abdomen mencit
Fibroblas merupakan sel utama selama fase yang dilakukan rekonstruksi dengan MAK
proliferasi yang berperan dalam sapi dibandingkan tanpa MAK sapi pada hari
menyediakan matriks ekstraseluler sebagai ke-21 paska rekonstruksi, sehingga dapat
kerangka untuk migrasi keratinosit. Fibroblas disimpulkan bermakna secara statistik.
yang lebih padat membantu pembentukan
matriks ekstraseluler yang lebih padat Berdasarkan hal tersebut maka MAK
sehingga memacu proses epitelialisasi oleh sapi dapat digunakan sebagai material lokal
keratinosit (Liakakos dkk, 2001). yang bisa diaplikasikan untuk meningkatkan
struktur matrix ekstraseluler jaringan luka
Kolagen pada kelompok perlakuan pada fascia abdomen.
lebih padat dibandingkan dengan kelompok
luka kontrol. Pada jaringan normal, sekresi
dan aktifitas MMP-1 sangat rendah, namun Daftar Pustaka
pada jaringan yang mengalami luka atau Fernandes, M., Sridhar, M.S., Sangwan, V.S.
keradangan akan terjadi peningkatan & Rao, G.N., 2005, ‘Amniotic membrane
produksi dan sekresi MMP-1. Membran transplantation for ocular surface
amnion dapat menghambat produksi enzirn reconstruction’, Cornea, 24: 643-653.
Matrix Metalloproteinase-1 (MMP-1) yang
merupakan enzim pendegradasi kolagen Leppäniemi, A. & Tukiainen, L., 2013,
(Velnar dkk, 2009).Hal ini dibuktikan dari ‘Reconstruction of Complex Abdominal
hasil penelitian dimana kolagen lebih padat Wall Defects’, Scandinavian Journal of
pada kelompok perlakuan karena membrane Surgery, 102: 14–19.
amnion dapat menghambat produksi MMP-1
sehingga sintesis kolagen meningkat. Liakakos T. Thomakos N, Fine PM.
Peritoneum adhesions, etiology,
Penelitian ini secara umum patophysiology and clinical significance.
menunjukan bahwa aplikasi membran Recent advances in prevention and
amnion dapat merangsang proses fibroblas management. Dig Surg. 2001;18:20-73.
dan kolagenisasi. Hal ini dibuktikan dengan
adanya peningkatan jumlah fibroblas dan Min, S., Yoon, J.Y., Park, S.Y. et al, 2013,
kolagen, dimana didapatkan peningkatan ‘Clinical effect of bovine amniotic membrane
kepadatan kolagen yang berperan sebagai and hydrocolloid on wound by laser
struktur utama matriks ekstraseluler. Dari treatment: Prospective comparative
hasil yang kita dapatkan terlihat bahwa randomized clinical trial’, Wound Repair and
membran amnion ini dapat meningkatkan Regeneration, (22):212-219.
jumlah fibroblas dan kepadatan kolagen,
namun bagaimana perkembangannya sampai Niknejad, H., Peirovi, H., Jorjani, M.,
kemudian dapat tumbuh jaringan fascia baru Ahmadiani, A., Ghanavi, J & Seifalian,
masih perlu diteliti lebih lanjut. A.M., 2008, ‘Properties Of The Amniotic
Membrane For Potential Use In Tissue
Engineering’, European Cells and Materials,
Kesimpulan 15;88-99.
Novriansyah R, 2008. Tesis: Perbedaan
Kepadatan Kolagen di Sekitar Luka Insisi
Tikus Wistar yang dibalut Kasa
Konvensional dan Penutup Oklusif
Hidrokoloid selama 2 dan 14 Hari.
Universitas Diponegoro Semarang. Halaman
37

Patrianagara A & Hariastawa A IGB., 2016,


Jumlah Fibroblast dan Kepadatan Kolagen
Sebagai Petanda Matrix Pertumbuhan
Jaringan Pada Defek Fascia Yang Dilakukan
Penutupan Menggunakan Membran Amnion.
Program Studi Ilmu Bedah Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga RSUD
Soetomo, Surabaya.

Velnar T, Bailey T, Smrkolj V. The Wound


Healing Process: an Overview of the Cellular
and Molecular Mechanisms. The Journal of
International Medical Research. 2009; 37:
1528 – 48