Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN ORAL MEDICINE

Smoker’s melanosis

oleh:
Rama Dia Dara, S.KG
04074881517023

Dosen Pembimbing:
drg. Ade Puspa Sari, Sp. PM

PENDIDIKAN PROFESI

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
LAPORAN ORAL MEDICINE

1. PENDAHULUAN
Smoker’s melanosis adalah perubahan karakteristik pada warna mukosa oral yang
terpapar asap rokok dan merupakan hasil utama dari deposisi melanin pada lapisan sel
basal mukosa. Smoker’s melanosis merupakan kelainan pada rongga mulut yang tidak
berbahaya, tetapi apabila dibiarkan akan mengganggu estetika.1
Smoker’s melanosis timbul pada perokok dan meningkat secara signifikan
selama tahun pertama seseorang merokok. Prevalensi smoker’s melanosis sebesar 46,3%
dari 80 responden yang diperiksa dan lebih banyak pada laki-laki dibandingkan
perempuan, lokasi yang paling sering mengalami smoker’s melanosis adalah gingiva
anterior rahang atas dan rahang bawah juga bisa juga ditemukan pada mukosa bukal, dan
semakin meluas jika semakin lama seseorang merokok. 2
Smoker’s melanosis diakibatkan karena hiperpigmentasi berhubungan dengan
faktor predisposisi endogen karena meningkatnya jumlah produksi melanin. Faktor
endogen umumnya disebabkan oleh lima pigmen utama yaitu: melanin, melanoid,
oxyhemoglobin, hemoglobin dan karoten, selain itu terdapat pigmen lain yaitu bilirubin
dan besi sedangkan Faktor eksogen dapat berasal dari deposisi metal dan makanan.3,4
Diagnosa banding dari smoker’s melanosis antara lain pigmentasi fisiologis,
melanoma dan amalgam tatto. Pigmentasi fisiologis dapat disebabkan karena faktor
genetik pada individu yang berkulit gelap terjadi peningkatan produksi melanin
pigmentasi fisiologis biasanya ditemukan pada gingiva. Addison disease merupakan
defisiensi adrenokortikal yang disebabkan karena destruksi korteks adrenal. Addison
disease adalah penyakit yang jarang ditemui yang disebabkan oleh berbagai agen termasuk
tuberculosis. Gejala klinis pada rongga mulut akan muncul jika sekitar 90% kelenjar
adrenal mengalami destruksi. Pasien merasa lelah, mual, muntah, nafsu makan berkurang,
dan kehilangan berat badan.4Amalgam tattoo merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV
akibat implantasi material amalgam dalam rongga mulut yang akan menyebabkan
perubahan warna pada gingiva, mukosa bukal dan palatum tergantung dari lokasi tempat
material amalgam terimplantasi. Kemiripan dari gambaran klinis menjadi pertimbangan
penentuan diagnosa banding dari smoker’s melanosis 2,3,,5
Gambaran klinis yang terlihat pada kasus smoker’s melanosis menunjukkan bercak
coklat diffuse, berbentuk datar dan tidak teratur dengan diameter kurang dari 1 cm.
Biasanya dijumpai pada gingiva anterior labial, mukosa pipi, mukosa bibir, palatum dan
lidah. Derajat pigmentasi berkisar dari coklat muda sampai tua. Lesi ini tidak mempunyai
gejala dan perubahan yang terjadi tidak menunjukkan keganasan.2,3,5,6
Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakan diagnosa pada kasus smoker’s
melanosis diantaranya adalah pemeriksaan subyektif untuk menggali informasi mengenai
identitas pasien, keluhan dan kebiasaan buruk pasien yang mungkin berhubungan dengan
keluhan utama pasien mengenai smoker’s melanosis, pemeriksaan objektif bertujuan
melihat dan menganalisa lebih lanjut kondisi lesi yang ada pada rongga mulut pasien. Pada
pemeriksaan histilogi menunjukan peningkatan jumlah melanin pada lapisan basal mukosa
sama dengan tampilan yang di tunjukan pada gambaran histologi pada pasien dengan
hiperpigmentasi fisiologis. 3,5,7
Perawatan yang dapat dilakukan pada pada kasus smoker’s melanosis adalah ablasi
gingiva merupakan tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi pigmentasi
(depigmentasi). Teknik depigmentasi atau ablasi gingiva terdiri dari beberapa cara yaitu
teknik bedah konvensional menggunakan pisau bedah (scalpel), abrasi gingiva dengan bur
diamond, gingival scraping dengan menggunakan scalpel, gingivektomi, gingivektomi
dengan free gingival graft, electrosurgery, cryosurgery, dan sinar laser.3,5,6 Setelah
pembedahan, pasien diberikan post medikasi berupa antibiotik berupa amoxycilin 500 mg
yang diberikan dengan dosis 3 kali sehari selama 5 hari untuk mencegah terjadinya
infeksi sekunder paska bedah eksisi. Pasien juga diresepkan asam mefenamat 500 mg
sebanyak 10 buah dengan dosis 3 kali sehari untuk menghilangkan rasa sakit pasca
pembedahan.10
Tujuan pembuatan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan diagnosis,
identifikasi dan penatalaksanaan smoker’s melanosis.
2. PENATALAKSANAAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama pasien : Rendi Dinata
Tempat/tanggal lahir : Prabumulih / 23 Desember 1990
Suku : Melayu
Jenis kelamin : Laki-laki
Status perkawinan : Belum Menikah
Agama : Islam
Alamat : Jl. Gotong royong, Kecamatan alang-alang lebar, Palembang
Telepon rumah/Hp : 081373667628
Pendidikan terakhir : S1
Pekerjaan : Karyawan Swasta
No. Rekam Medik : 1077786
Peserta Asuransi :-

Penyakit/Kelainan Ada Disangkal Penyakit/Kelainan Ada Disangkal


Sistemik Sistemik

Alergi √ HIV/AIDS √

Penyakit Jantung √ Penyakit Pernapasan/ √


Paru

Penyakit Tekanan Darah √ Kelainan Pencernaan √


Tinggi

Penyakit Kencing Manis/ √ Penyakit Ginjal √


Diabetes Mellitus

Penyakit Kelainan Darah √ Penyakit/Kelainan √


Kelenjar Ludah

Penyakit Hepatitis √ Epilepsy √


A/B/C/D/E/F/G

Kelainan Hati Lainnya √


B. STATUS UMUM PASIEN
Keadaan Umum : Compos mentis
Berat Badan : 68 kg
Tinggi Badan : 169 cm
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Pernapasan : 20 kali/menit
Pupil Mata : Normal

C. ANAMNESIS
a. Keluhan Utama:
Seorang pasien laki-laki berusia 28 tahun datang ke poli gigi RS Mohammad
Hoesin Palembang mengeluhkan gusi bagian depan rahang atas dan rahang bawahnya
berwarna coklat kehitaman, yang disadarinya sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu.
Pasien tidak merasakan sakit pada gusi tersebut, namun pasien merasa kurang percaya
diri saat tersenyum sehingga pasien ingin gusinya dirawat.
Keluhan Tambahan: Tidak ada
Riwayat Perawatan Gigi: Pernah dirawat membersihkan karang gigi di puskesmas
kurang lebih 1 tahun yang lalu

b. Kebiasaan Buruk:
Pasien memiliki riwayat kebiasaan merokok sejak tahun 2008 dengan jumlah
rokok ± 10 batang perhari. Sejak awal tahun 2018, pasien sudah mulai mengurangi
jumlah konsumsi rokok perharinya.

Riwayat Sosial:
Pasien adalah seorang karyawan swasta dengan keadaan ekonomi menengah.

Riwayat Penyakit/Kelainan Sistemik:


Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik.
D. PEMERIKSAAN EKSTRA ORAL
Wajah : simetri
Bibir : sehat
KGB Submandibula :
Kanan : tidak teraba dan tidak sakit
Kiri : tidak teraba dan tidak sakit

E. PEMERIKSAAN INTRA ORAL


Debris : Ada, regio a, c, d, e, f
Plak : Ada, regio a, b, c, d, e, f
Kalkulus : Ada, regio a,e,f
Perdarahan Papilla Interdental : Ada, regio e
Gingiva : - Terdapat lesi pigmentasi berupa makula berwarna
coklat kehitaman, permukaan rata, berbatas tidak jelas,
tersebar merata disepanjang gingiva cekat rahang atas
dan rahang bawah bagian anterior, ukuran bervariasi,
tidak sakit saat palpasi.
- Terdapat eritema dan edema pada margin gingiva
regio e
Mukosa : Sehat
Palatum : Sehat
Lidah : Sehat
Dasar mulut : Sehat
Hubungan rahang : Ortognati
Kelainan gigi geligi : Tidak ada
Lain-lain : Terdapat stain pada regio b dan e
OHI-S : 1, 3 (sedang)

Pemeriksaan Gigi Geligi


 Lesi D3 : gigi 16, 26, 27, 28, 37, 36, 46
 Sisa akar : Tidak ada
 Malposisi : gigi 13, 23, 32, 43, 44
F. DIAGNOSA

 Terdapat lesi pigmentasi smoker’s melanosis pada regio anterior rahang atas dan rahang
bawah dengan diagnosa banding pigmentasi fisiologis/ melanoma/ amalgam tatto.

 Gingivitis marginalis kronis generalisata rahang atas dan bawah

 Pulpitis reversible gigi 16, 26, 27, 28, 37, 36, 46


G. RENCANA PERAWATAN
 Pro Periodonsia : Scaling
(Ablasi gingiva menggunakan bur diamond, tidak
dilakukan karena pasien tidak bersedia).

 Pro Konservasi : Tumpatan resin komposit pada gigi 16, 26, 36, 46 dan
obsevasi gigi 28, 27, 37
 Pro Oral medicine : Konsultasi, pemberian obat kumur dan KIE (edukasi,
motivasi, instruksi pasien untuk menjaga kebersihan
dan kesehatan rongga mulut serta menghentikan
kebiasaan merokok).

3. PENATALAKSANAAN PADA KASUS


 Tanggal 15 Oktober 2018 (Indikasi Awal)
Pemeriksaan Subjektif : Pasien mengeluhkan gusi bagian depan rahang atas dan
rahang bawahnya berwarna coklat kehitaman, yang
disadarinya sejak kurang lebih 2 tahun yang lalu. Pasien
tidak merasakan sakit pada gusi tersebut, namun pasien
merasa kurang percaya diri saat tersenyum sehingga
pasien ingin gusinya dirawat.
Pemeriksaan Objektif : Terdapat lesi pigmentasi berupa makula berwarna coklat
kehitaman, permukaan rata, berbatas tidak jelas, tersebar
merata disepanjang gingiva cekat rahang atas dan rahang
bawah bagian anterior, ukuran bervariasi, tidak sakit saat
palpasi.
 Assassement : Smoker’s melanosis
 Plan :- Indikasi kasus (tidak dilakukan perawatan ablasi gingiva
karena pasien tidak bersedia).
- scaling, pemberian obat kumur dan KIE (edukasi,
motivasi, instruksi pasien untuk menjaga kebersihan dan
kesehatan rongga mulut serta menghentikan kebiasaan
merokok).

(gambaran klinis smoker’s melanosis)

4. PEMBAHASAN
Smoker’s melanosis terjadi akibat adanya peningkatan deposit pigmen
melanin pada lapisan basal epitel gingiva yang distimulasi oleh rokok. Meningkatnya
pigmentasi gingiva berhubungan langsung dengan kebiasaan merokok (banyaknya jumlah
rokok yang dihisap setiap hari, jenis rokok yang dihisap, dan lamanya merokok).
Menurut Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)-WHO, bahan
kimia yang paling berbahaya yaitu tar, nikotin, dan karbon monoksida. Namun yang
berperan penting dalam rongga mulut adalah tar yang merupakan hidrokarbon aromatik
polisiklik yang terdapat dalam rokok dan merupakan senyawa yang bersifat
karsinogenik. Kadar tar yang terkandung dalam rokok inilah yang berhubungan dengan
resiko timbulnya kanker nantinya. Kandungan tar pada rokok berkisar antara 1-35 mg.
Tar juga merupakan salah satu penyebab timbulnya stain pada gigi yang mengakibatkan
warna gigi berubah menjadi kuning kecoklatan.6
Rokok juga mengandung nikotin yang bersifat adiktif dan akan menyebabkan
ketergantungan. Rokok dapat memicu produksi matrix metalloproteinase-1 (MMP-1)
yang menyebabkan perubahan warna pada kulit maupun mukosa mulut/ ginggiva. Asap
rokok teridiri atas zat kimia yang dapat menginduksi reactive oxygen spesies (ROS) dan
aldehida elektrofilik yang menyebabkan degenerasi jaringan ikat di kulit dan peningkatan
matriks metalloproteinase-1 (MMP-1) yang akan menyebabkan degradasi kolagen, serat
elastin dan proteoglikan yang akan menyebabkan ketidak seimbangan metabolisme
jaringan ikat kulit yang berperan dalam mengghambat dan menurunkan fibroblas serta
dapat merusak sel membrane selain terjadinya perubahan kulit dapat mengakibatkan
melogenesis dan merangsang peningkatan α melanocyte stimulating hormone (α MSH)
banyaknya melanin yang terbentuk saat melanogenesis dan memberikan warna yang lebih
gelap atau disebut dengan hiperpigmentasi. Komponen rokok yang terakumulasi dalam
jaringan akan mempercepat melanogenesis yang akan membentuk melanin sehingga
menghasilkan warna gelap pada kulit. Jadi efek rokok yang menimbulkan lesi pigmentasi
disebabkan oleh peningkatan produksi α melanocyte stimulating hormone (α MSH) pada
saat proses melanogenesis.6,7 Proses pigmentasi terdiri dari tiga fase utama yaitu aktifasi
melanin (activation of melanocytes) fase aktivasi terjadi ketika melanosit mendapatkan
rangsangan dan berlanjut pada fase sintesis melanin (synthesis of melanin) melanosit
membentuk melanosom,proses ini terjadi ketika enzim tyrosinase mengubah tirosin asam
amino menjadi molekul dehydroxyphenylalanin (DOPA) dan tyrosinase kemudian
mengubah DOPA menjadi dopaquinone yang akan menjadi melanin (eumelanin) fase ke
tiga adalah fase expression of melanin pada fase ini melanosom ditransfer dari melanosit
ke keratinosit yang merupakan sel-sel epidermis sehingga warna kulit/mukosa menjadi
lebih gelap .9
Pigmentasi gingiva akibat mekokok meningkat sebanding dengan jumlah dan
lamanya merokok, nikotin yang terdapat dalam rokok akan menstimulasi melanosit yang
terletak disepanjang sel-sel basal epitel untuk menghasilkan melanosom sehingga
mengakibatkan peningkatan deposit melanin yang akan menyebabkan gingiva berwarna
lebih pekat (coklat kehitaman).2-5
Pada kasus ini, smoker’s melanosis disebabkan karena kebiasaan merokok
pasien. Berdasarkan anamnesa, diketahui bahwa pasien telah merokok sejak 10 tahun
yang lalu dengan jumlah rokok ± 10 batang per hari. Pada pemeriksaan klinis, ditemukan
lesi pigmentasi berupa makula berwarna coklat kehitaman, permukaan rata, berbatas
tidak jelas, tersebar merata disepanjang gingiva cekat rahang atas dan rahang bawah
bagian anterior , ukuran bervariasi, serta tidak sakit saat dipalpasi.
Pemeriksaan yang dilakukan pada kasus ini hanya pemeriksaan subjektif dan
pemeriksaan objektif saja, tidak dilakukan pemeriksaan penunjang karena sudah dapat
ditegakan diagnosa dari kasus ini adalah smoker’s melanosis dari tanda klinis yang ada
dimana terdapat lesi pigmentasi berupa makula berwarna coklat kehitaman, permukaan
rata, berbatas tidak jelas, tersebar merata disepanjang gingiva cekat anterior rahang atas
dan rahang bawah, ukuran bervariasi, tidak sakit saat palpasi dan dari pemeriksaan
subjektif diketahui bahwa pasien merupakan seorang perokok yang merupakan faktor
utama penyebab smoker’s melanosis.3,6
Diagnosa banding dari smoker’s melanosis pada kasus ini adalah
hiperpigmentasi fisiologis. Hiperpigmentasi fisiologis dapat disebabkan karena faktor
genetik dan aktivitas melanosit, dimana pada individu yang berkulit gelap terjadi
peningkatan produksi melanin. Pigmentasi fisiologis biasanya ditemukan pada gingiva,
tetapi juga bisa terjadi diseluruh rongga mulut dengan gambaran klinis berupa bersifat
simetris, pigmentasi biasanya ditemukan pada gingiva, dimulai dari beberapa milimeter
dari tepi free gingival margin, dengan bentuk seperti pita di gingiva cekat, berbatas jelas
dan dapat juga ditemukan di mukosa bukal, berwarna coklat muda sampai coklat
kehitaman.3,5,7 Addison disease merupakan defisiensi adrenokortikal yang disebabkan
karena destruksi korteks adrenal. Addison disease jarang ditemui biasa disebabkan oleh
berbagai agen termasuk tuberkulosis. Gejala klinis pada mukosa oral akan muncul jika
sekitar 90% kelenjar adrenal mengalami destruksi. Pasien merasa lelah, mual, muntah,
nafsu makan berkurang, dan kehilangan berat badan.4,5Pigmentasi oral adalah gejala awal
dari Addison disease yang ditandai dengan area biru kehitaman atau coklat gelap yang
sering muncul pada area mukosa bukal dan labial, namun juga dapat muncul pada mukosa
gingiva. Tidak ada pola atau distribusi yang khas dalam pigmentasinya. Diagnosis
memerlukan adanya tanda produksi kortisol adrenal yang berkurang dan tidak bisa
didasarkan hanya pada pigmentasi saja.3,4 Diagnosa banding lainnya adalah amalgam
tattoo merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV akibat implantasi material amalgam pada
jaringan dirongga mulut hal ini dapat terjadi karena kesalahan pada fese pengisian
material amalgam pada kavitas gigi, terjadi pada saat pemolesan, saat ekstraksi gigi
dengan tambalan amalgam, implantasi material amalgam masuk kedalam mukosa mulut
yang terablasi, seiring berjalannya waktu material amalgam akan terimplantasi secara
permanen hingga memberikan gambaran klinis berupa gambaran kebiruan/ abu/ hitam
pada mukosa rongga mulut, ukuran < 2cm, tunggal atau multiple dan asimtomatis dengan
lokasi yang paling sering terkena adalah palatum,mukosa bukal dan gingiva.3,6,7
Perawatan yang dapat dilakukan pada pada kasus smoker’s melanosis adalah
ablasi gingiva merupakan tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi pigmentasi
(depigmentasi). Teknik depigmentasi atau ablasi gingiva terdiri dari beberapa cara yaitu
teknik bedah konvensional menggunakan pisau bedah (scalpel), ablasi gingiva dengan bur
diamond, gingival scraping dengan menggunakan scalpel, gingivektomi, gingivektomi
dengan free gingival graft, electrosurgery, cryosurgery, dan sinar laser.6 Dari beberapa
pilihan teknik ablasi gingiva yang paling umum dilakukan adalah teknik ablasi gingiva
dengan menggunakan diamond bur no.8 (diameter 2-2,5 mm) dengan tahap pengerjaan
yang mudah dilakukan yaitu mengaplikasikan bur diamond pada permukaan gingiva yang
mengalami hiperpigmentasi, kemudian bur digerakkan dari arah apikal ke koronal,
dengan perlahan tanpa tekanan karena proses ablasi gingiva hanya pada lapisan
superfisial saja.6 Setelah proses ablasi biasanya diaplikasikan periodontal pack untuk
menjaga kebersihan area pasca pembedahan guna menghindari infeksi dan kontaminasi
bakteri dan akumulasi sisa makanan yang akan mengganggu proses penyembuhan luka.7
Namun pada kasus ini tidak dilakukan perawatan apapun untuk smoker’s
melanosis yang dikeluhkan pasien karena pasien tidak bersedia jadi hanya lakukan
scalling dan pemberian obat kumur serta KIE untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut
serta menghentikan kebiasaan merokok.

5. KESIMPULAN
Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa perubahan warna gingiva pasien
yang tampak lebih hitam pada gingiva rahang atas dan rahang bawah bagian anterior
merupakan lesi hiperpigmentasi yang disebabkan kebiasaan merokok dalam waktu yang
lama dan jumlah yang banyak.
DAFTAR PUSTAKA
1. Gondak, R.O., da Silva-Jorge, R., Jorge, J., Lopes, M.A. and Vargas, P.A.
Oral Pigmented Lesions: Clinicopathologic Features and Review of The
Literature. Med Oral Patol OralCir Bucal. 2012;17(6):919-24. [ Disitasi: 10
2. Vieta chyntia, riani setiadhi. Gambaran klinis smoker’s menalosis pada
perokok kretek ditinjau dari lama merokok. Departemen ilmu penyakit
mulut. Universitas Padjadjaran. 2017
3. F kennedy John Bkvd, Thompson, Wenig. Diagnostic pathology Head and
Neck. Elsevier. 2016. 374
4. Greenberg, M.S., Glick, M. and Ship, J.A. Burket’s Oral Medicine
Diagnosis & Treatment. 11th ed. BC Decker Inc. 2008. P.117.
5. Nadeem, M., Shafique, R., Yaldram, A. and Lopez, R. Intraoral
Distribution of Oral Melanosis and Cigarette Smoking in A Pakistan
Population. International Journal of Dental Clinics. 2011:3(1): 25-28.[
Disitasi: 23 November 2013] Diakses darit: http://search.ebscohost.com/.
6. Michael H, Michael A. The ADA Practical Guide to Soft Tissue Oral
Disease. American Dental Association. 2018
7. Alqahtani, Saad M. Management of Gingival Hyperpigmentation by The
Surgical Abrasion: A Case Report. International Journal of Medical and
Dental Case Reports; 2015: 1-3.
8. Ghom, Anil Govindrao. Texbook of Oral Medicine, 2th edition. India:
Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd; 2010:513
9. RA.Abdel moneim et all. Future dental journal.Gingival pigmentation cause,
treatment and histologi preview.2017
10. Katzung, Bertram G., Susan B. Masters, and Anthony J. Trevor. 2012. Basic
& clinical pharmacology. New York: McGraw-Hill Medical.
Slide mekanisme umum
sumber. (RA.Abdel moneim et all. Future dental journal.Gingival pigmentation cause,
treatment and histologi preview.2017)

Smoker’s Melanosis
Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa yaitu adanya perubahan warna
pada gusi menjadi coklat kehitaman yang disadari pasien 2 tahun yang lalu, serta
berdasarkan pemeriksaan klinis yaitu berupa perubahan warna pada mukosa gingiva
yang lebih gelap dibandingkan daerah sekitarnya, dan adanya faktor etiologi merokok
berperan penting dalam menegakkan diagnosa. Sehingga didapatkan diagnosa dari
kasus ini adalah smoker’s melanosis.
Melanosit menjukan peningkatan produksinya sebagaimana dibuktikan oleh
pigmintasi basal keratinosit yang berdekatan. Gambaran mikroskopis pada dasarnya
sama dengan gambaran hiperpigmentasi fisologis dan melanotic macula.

G. DIAGNOSIS BANDING

ephilis/freckle, melanotic macule, nevus melanositik, maligna melanoma, sindroma Peutz


Jeghers, addison disease, melanoplakia, amalgam tato (agirosis fokal), gravit tattoo, heavy-
metal pigmentation, bismuth deposition, pigmentasi associated dengan obat.

 Hiperpigmentasi Fisiologis
Ras atau etnik telah diketahui menjadi salah satu penyebab pigmentasi melanin
pada rongga mulut. Pada individu keturunan Afrika maupun Asia Timur, ditemukan
jumlah melanin yang lebih banyak dan prevalensi terjadinya pigmentasi gingiva lebih
tinggi. Sedangkan pada individu berkulit putih, umumnya mempunyai lebih sedikit
melanin dibandingkan individu yang berkulit gelap. Pigmentasi fisiologis dapat
disebabkan karena faktor genetik dan aktivitas melanosit, dimana pada individu yang
berkulit gelap terjadi peningkatan produksi melanin.5,6
Pigmentasi fisiologis biasanya ditemukan pada gingiva, tetapi juga bisa terjadi
diseluruh rongga mulut. Secara klinis, perlu dibedakan antara kondisi hiperpigmentasi
yang bersifat fisiologis dengan yang non fisiologis, misalnya pada smoker’s melanosis.
Gambaran klinis hiperpigmentasi fisiologis adalah sebagai berikut:3
 Bersifat simetris.
 Dapat terjadi pada semua usia dan tidak ada kecenderungan pada jenis kelamin
tertentu.
 Pigmentasi biasanya ditemukan pada gingiva, dimulai dari beberapa milimeter
dari tepi free gingival margin, dengan bentuk seperti pita di gingiva cekat,
berbatas jelas dan dapat juga ditemukan di mukosa bukal.
 Berwarna coklat muda sampai coklat kehitaman.

Gambar 1. Hiperpigmentasi Fisiologi

 Addison Disease
Addison disease merupakan defisiensi adrenokortikal yang disebabkan karena
destruksi korteks adrenal. Addison disease adalah penyakit yang jarang ditemui yang
disebabkan oleh berbagai agen termasuk tuberkulosis dan infeksi jamur. Gejala klinis
akan muncul jika sekitar 90% kelenjar adrenal mengalami destruksi. Pasien merasa
lelah, mual, muntah, nafsu makan berkurang, dan kehilangan berat badan.4,5
Pigmentasi oral adalah gejala awal dari Addison disease yang ditandai dengan area
biru kehitaman atau coklat gelap yang sering muncul pada area mukosa bukal dan
labial, namun juga dapat muncul pada mukosa gingiva. Tidak ada pola atau distribusi yang
khas dalam pigmentasinya. Diagnosis memerlukan adanya tanda produksi kortisol adrenal
yang berkurang dan tidak bisa didasarkan hanya pada pigmentasi saja.6

Gambar 2. Addison disease pada regio gigi 21 dan 22

 Melanoma Maligna
Melanoma maligna atau biasa disebut juga sebagai melanoma adalah tumor ganas
yang terbentuk karena proliferasi sel-sel melanosit. Melanoma dalam rongga mulut
merupakan kasus yang sangat jarang terjadi dan sering ditemukan pada fase lanjut
karena lokasinya yang tersembunyi, serta gejala awalnya yang asimtomatis. Melanoma
dapat ditemukan di semua lokasi pada rongga mulut, tetapi paling sering ditemukan
pada palatum dan gingiva regio maksila. Gambaran klinis melanoma dapat berupa lesi
makula, papula ataupun nodula yang asimetris, tepi tidak teratur, dan ukurannya
semakin membesar. Lesi biasanya berwarna coklat tua, abu-abu, atau hitam. Pada tahap
lanjut, lesi mudah berdarah dan membentuk ulserasi.13

Gambar 3. Melanoma pada gingiva rahang atas

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak diperlukan dan tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

I. RENCANA PERAWATAN

FASE I (ETIOTROPIK)

 Scaling dan kontrol plak


 DHE (edukasi, motivasi, instruksi pasien untuk menjaga kebersihan dan
kesehatan rongga mulut serta menghentikan kebiasaan merokok)

FASE II (BEDAH)

 Depigmentasi gingiva regio A dan E dengan teknik gingivo abrasi


menggunakan bur diamond (tidak dilakukan pasien tidak bersedia)

FASE III (RESTORASI)

Pro Konservasi: Tumpatan resin komposit pada gigi 16, 26, 27, 28, 37, 36, 46
FASE IV (MAINTENANCE)

DHE (edukasi, motivasi, instruksi pasien untuk menjaga kebersihan dan


kesehatan rongga mulut, kesehatan secara umum serta menghentikan
kebiasaan merokok)

J. Perawatan Hiperpigmentasi Gingiva Metode Bur Abrasif


Alat :

1. Alat diagnostik (kaca mulut, sonde, ekskavator, pinset)


2. Spuit injeksi 3 cc
3. Masker dan sarung tangan
4. Kassa dan tampon steril
5. Probe WHO
6. Glass slab dan spatula
7. Diamond bur no.8 (diameter 2-2,5 mm)
8. Saliva ejector
9. Low speed handpiece
Bahan :

1. Anastetikum lokal
2. Povidone iodin 10%
3. Larutan salin
4. Periodontal pack (dressing)
Persiapan pasien :

1. Pasien diinstruksikan untuk menjaga kondisi tubuh, mengatur diet seimbang, dan
istirahat yang cukup menjelang pembedahan.
2. Pasien diberi penjelasan mengenai prosedur bedah yang akan dilaksanakan dan
informed consent
3. Pemeriksaan vital sign (denyut nadi, tekanan darah, pernafasan, dan refleks pupil
mata).
Persiapan Operator :

1. Operator melakukan prosedur desinfeksi yaitu mencuci tangan dengan sabun


antiseptik
2. Memakai masker dan sarung tangan.

Prosedur Depigmentasi Gingiva :

1. Isolasi daerah pembedahan


2. Lakukan probing menggunakan probe WHO dan pengukuran indeks PBI dan HYG
3. Aplikasikan povidone iodine 10% pada daerah pembedahan
4. Anastesi infiltrasi pada bagian bukal apeks insisivus atas kiri dan lipatan
bukogingival gigi premolar atas kanan serta pada lipatan bukogingival gigi kaninus
atas kiri sebanyak 0,5 cc
5. Periksa daerah anastesi dengan menggunakan sonde
6. Proses pembedahan
Epitel yang mengalami hiperpigmentasi diabrasi menggunakan bur diamond dengan
gerakan seperti menyapu dari daerah posterior ke anterior dari apikoinsisal.
Pengambilan epitel gusi jangan sampai mengenai periosteum tulang. Daerah operasi
harus selalu dibilas dengan semprotan air atau larutan salin.Daerah pembedahan
dibersihkan dari darah dan saliva menggunakan saliva ejector.Tekanan minimal dan
gerakan memutar ringan dilakukan pada gingiva yang mengalami hiperpigmentasi
gingiva. Pembedahan bertujuan untuk membentuk epitel kembali pada gingiva yang
mengalami hiperpigmentasi.
7. Daerah pembedahan dibersihkan dan dikeringkan sebelum pengaplikasian
periodontal pack.
8. Mengaplikasikan periodontal pack (Coe-Pack)
Pasta (1:1) diaduk diatas glass slab dengan menggunakan spatula sehingga tercapai
setting time (warna seragam, tidak lengket dan dapat dibentuk). Sarung tangan
dibasahi alcohol agar dressing tidak meleka pada sarung tangan. Periodontal pack
diaplikasikan pada daerah operasi dibagian mukosa sampai menutupi sepertiga
servikal gusi.
9. Medikasi paska pembedahan
Asam mefenamat 500 mg sebanyak 10 tablet dan Amoxicillin 500 mg sebanyak 15
tablet.
Penulisan resepnya yaitu:
R/ Amoxiciline Tab 500 mg No. XV
S 3dd 1 tab pc
R/ Asam mefenamat Tab 500 mg No. X
S 3 dd 1 tab pc prn

K. DESKRIPSI LESI

Smoker’s Melanosis
No.

1 Foto Klinis
2 Tempat Pada permukaan atas lidah pada bagian 2/3 anterior
lidah dan 1/3 posterior lidah

3 Morfologi Berupa lapisan plak

4 Warna Berwarna putih kekuningan

5 Konsistensi Dapat dikerok dan meninggalkan dasar kemerahan

6 Ukuran Bervariasi, berbatas tidak jelas

L. PEMBAHASAN

Smoker’s melanosis terjadi akibat adanya peningkatan deposit pigmen melanin


pada lapisan basal epitel gingiva yang distimulasi oleh rokok. Meningkatnya
pigmentasi gingiva berhubungan langsung dengan kebiasaan merokok (banyaknya
jumlah rokok yang dihisap setiap hari, jenis rokok yang dihisap, dan lamanya
merokok). Pigmentasi gingiva meningkat sebanding dengan jumlah nikotin yang
terpapar akibat merokok, nikotin yang terdapat dalam rokok akan menstimulasi
melanosit yang terletak disepanjang sel-sel basal epitel untuk menghasilkan melanosom
sehingga mengakibatkan peningkatan deposit melanin yang akan menyebabkan gingiva
berwarna lebih pekat (coklat kehitaman).2,3,4,8 Pada kasus ini, smoker’s melanosis
disebabkan karena kebiasaan merokok pasien. Berdasarkan anamnesa, diketahui bahwa
pasien telah merokok sejak 10 tahun yang lalu dengan jumlah rokok ± 10 batang per hari.
Pada pemeriksaan klinis, ditemukan lesi pigmentasi berupa makula berwarna coklat
kehitaman, permukaan rata, berbatas tidak jelas, tersebar merata disepanjang gingiva
cekat rahang atas dan rahang bawah bagian anterior , ukuran bervariasi, serta tidak sakit
saat dipalpasi.
Pada kasus ini hanya dilakukan pemeriksaan subjektif dan pemeriksaan objektif
saja, tidak dilakukan pemeriksaan penunjang karena sudah dapat ditegakan diagnosa
dari kasus ini adalah smoker’s melanosis dari tanda klinis yang ada dimana terdapat lesi
pigmentasi berupa makula berwarna coklat kehitaman, permukaan rata, berbatas tidak
jelas, tersebar merata disepanjang gingiva cekat anterior rahang atas dan rahang
bawah, ukuran bervariasi, tidak sakit saat palpasi dan dari pemeriksaan subjektif
diketahui bahwa pasien merupakan seorang perokok yang merupakan faktor utama
penyebab smoker’s melanosis.
Diagnosa banding dari smoker’s melanosis pada kasus ini adalah
hiperpigmentasi fisiologis. Hiperpigmentasi fisiologis dapat disebabkan karena faktor
genetik dan aktivitas melanosit, dimana pada individu yang berkulit gelap terjadi
peningkatan produksi melanin. Pigmentasi fisiologis biasanya ditemukan pada gingiva,
tetapi juga bisa terjadi diseluruh rongga mulut dengan gambaran klinis berupa bersifat
simetris, pigmentasi biasanya ditemukan pada gingiva, dimulai dari beberapa milimeter
dari tepi free gingival margin, dengan bentuk seperti pita di gingiva cekat, berbatas
jelas dan dapat juga ditemukan di mukosa bukal, berwarna coklat muda sampai coklat
kehitaman.11

Smoker’s melanosis dapat dihilangkan dengan cara depigmentasi gingiva, akan


tetapi pasien tidak bersedia untuk dilakukan pembedahan. Oleh karena itu, pada kasus ini
pasien diberikan edukasi, motivasi, serta instruksi untuk menghentikan kebiasaan
merokok serta menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulutnya.
Smoker’s melanosis biasanya akan menghilang secara bertahap dan kembali normal
dalam waktu 3 tahun setelah berhenti merokok.

Pigmentasi fisiologis Smoker’s melanosis


Definisi Pigmentasi gelap yang Perubahan karateristik warna
menyeluruh dan konstan pada pada permukaan mukosa
mukosa mulut
Persamaan Pigmentasi adalah pada Perubahan pigmentasi
bagian gingiva cekat berwarna coklat kehitaman
pada permukaan mukosa

Perbedaan  Pigmentasi tidak dapat  Melanosis rongga


hilang mulut dapat hilang
 Pigmentasi biasanya apabila kebiasaan
simetris merokok dihentikan
 Bersifat endogen  Biasanya tidak
simetris, bergantung
pada arah sedotan
asap rokok
 Bersifat eksogen

Tabel 2. Perbedaan pigmentasi fisiologis dan smoker’s melanosis

M. KESIMPULAN

Smoker’s melanosis adalah pigmentasi pada mukosa mulut yang disebabkan karena
merokok. Nikotin yang terdapat dalam rokok akan menstimulasi melanosit yang
terletak disepanjang sel-sel basal epitel untuk menghasilkan melanosom sehingga
mengakibatkan peningkatan deposit melanin. Smoker’s melanosis secara langsung
dihubungkan dengan jumlah rokok yang dihisap, jenis rokok yang dihisap, serta
lamanya merokok.
Perawatan yang dilakukan untuk kasus ini adalah edukasi pasien untuk berhenti
merokok. Pigmentasi melanin pada membran mukosa adalah suatu lesi yang bersifat
reversible. Secara bertahap lesi akan menghilang dan mukosa kembali normal
dalam waktu 3 tahun setelah kebiasaan merokok dihentikan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Gondak, R.O., da Silva-Jorge, R., Jorge, J., Lopes, M.A. and Vargas, P.A. Oral
Pigmented Lesions: Clinicopathologic Features and Review of The Literature.
Med Oral Patol OralCir Bucal. 2012;17(6):919-24. [ Disitasi: 10
2. Langlais, R.P. and Miller, C.S. Color Atlas of Common Oral Disease. 3th ed.
Lippincott Williams & Wilkins. 2003. P.132.
3. Greenberg, M.S., Glick, M. and Ship, J.A. Burket’s Oral Medicine Diagnosis &
Treatment. 11th ed. BC Decker Inc. 2008. P.117.

4. Nadeem, M., Sha que, R., Yaldram, A. and Lopez, R. Intraoral Distribution

of Oral Melanosis and Cigarette Smoking in A Pakistan Population.


International Journal of Dental Clinics. 2011:3(1): 25-28.[ Disitasi: 23 November
2013] Diakses darit: http://search.ebscohost.com/.
5. Ada
6. Lap
7. 805
8. Nurcahyani FH, Nurfitri B., Rachmania D. Hubungan Antara Kebiasaan Merokok
dan Kejadian Hipertensi di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat. Bina Widya.
2011; 22(4): 185-90.
9. Alqahtani, Saad M. Management of Gingival Hyperpigmentation by The Surgical
Abrasion: A Case Report. International Journal of Medical and Dental Case
Reports; 2015: 1-3.
10. Prasad SSV, Agrawal N, Reddy NR. Gingival Depigmentation: A Case Report.
People’s Journal of Scientific Research; 2010: 3(1): 27-9.
11. Ghom, Anil Govindrao. Texbook of Oral Medicine, 2th edition. India: Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) Ltd; 2010:513
12. Wood, Norman K, Paul W. Goaz. 1997. Differential Diagnosis of Oral and
Maxilofacial Lessions, 5th Edition. USA: Mosby.
13. Glick, Michael. Burket’s Oral Medicine, 12th edition. USA: People’s Medical
Publishing House; 2015:134
14. Silverman, Sol, L. Roy Eversole, Edmond Truelove. 2001. Essential of Oral
Medicine. London: BC Decker.
15. Ghom, Anil Govindrao. Texbook of Oral Medicine, 2th edition. India: Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) Ltd; 2010:513
16. Langlais, Robert P., dkk. Atlas Berwarna: Lesi Mulut yang Sering Ditemukan
Edisi 4. Jakarta: EGC; 2014:148.
17. Yerger VB, Malone RE. Melanin and Nicotine: A Review of The Literature.
Nicotine and Tobacco Research. 2006: 8(4): 487-98.
18. Laskaris, George. Pocket Atlas of Oral disease, 2nd Edition. New York: Thieme;
2006: 86
19. Fawzani N, Triratnawati A. Terapi Berhenti Merokok (Studi Kasus 3 Perokok
Berat). Makara Kesehatan; 2005: 9(1): 15-22.
20. Nurcahyani FH, Nurfitri B., Rachmania D. Hubungan Antara Kebiasaan Merokok
dan Kejadian Hipertensi di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat. Bina Widya.
2011; 22(4): 185-90.
21. Alqahtani, Saad M. Management of Gingival Hyperpigmentation by The Surgical
Abrasion: A Case Report. International Journal of Medical and Dental Case
Reports; 2015: 1-3.
22. Prasad SSV, Agrawal N, Reddy NR. Gingival Depigmentation: A Case Report.
People’s Journal of Scientific Research; 2010: 3(1): 27-9.
23. Ebenezer J. Malignant melanoma of the oral cavity. Indian J Dent Res. 2006; 17:
94-6.
2.Greenberg, M.S., Glick, M. and Ship, J.A. Burket’s Oral Medicine Diagnosis &
Treatment. 11th ed. BC Decker Inc. 2008. P.117.

1. Gondak, R.O., da Silva-Jorge, R., Jorge, J.,

Lopes, M.A. and Vargas, P.A. Oral Pigmented

Lesions: Clinicopathologic Features and

Review of The Literature. Med Oral Patol OralCir Bucal. 2012;17(6):919-24. [


Disitasi: 10

Novemeber 2013]. Diakses dari: http://www.

ncbi.nlm.nih.gov/pubmed.

4. Nadeem, M., Sha que, R., Yaldram, A.

and Lopez, R. Intraoral Distribution of Oral

Melanosis and Cigarette Smoking in A

Pakistan Population. International Journal of

Dental Clinics. 2011:3(1): 25-28.[ Disitasi: 23

November 2013] Diakses darit: http://search.

ebscohost.com/.

5.ada
6.laporan
7.805
8. Nurcahyani FH, Nurfitri B., Rachmania D. Hubungan Antara Kebiasaan Merokok
dan Kejadian Hipertensi di Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat. Bina Widya.
2011; 22(4): 185-90.

9. Alqahtani, Saad M. Management of Gingival Hyperpigmentation by The Surgical


Abrasion: A Case Report. International Journal of Medical and Dental Case Reports; 2015: 1-
3.

10. Prasad SSV, Agrawal N, Reddy NR. Gingival Depigmentation: A Case


Report. People’s Journal of Scientific Research; 2010: 3(1): 27-9.
11. 5. Ghom, Anil Govindrao. Texbook of Oral Medicine, 2th edition. India: Jaypee
Brothers Medical Publishers (P) Ltd; 2010:513

Melanin adalah pigmen yang memberikan warna coklat sampai kehitaman pada
kulit, gingiva dan membran mukosa mulut. Hiperpigmentasi gingiva disebabkan karena
meningkatnya deposit melanin di lapisan epitel gingiva, terutama pada lapisan basal
dan suprabasal.3 Hiperpigmentasi melanin yang disebabkan oleh merokok disebut
sebagai smoker’s melanosis.
Smoker’s melanosis terjadi akibat adanya peningkatan produksi melanin pada
lapisan basal epitel gingiva yang distimulasi oleh rokok. Nikotin yang terdapat dalam
sebatang rokok akan menstimulasi melanosit secara langsung untuk memproduksi
melanosom, sehingga akan menghasilkan peningkatan deposit melanin.4 Melanin akan
melindungi mukosa dengan mengikat agen beracun dari asap tembakau, yang mana
mudah menembus ke dalam jaringan.5,6 Pigmentasi terjadi karena sintesa melanin dan
perpindahan melanin dari melanosom ke keratinosit.7
Gambaran klinis yang terlihat pada kasus smoker’s melanosis menunjukkan bercak

coklat diffuse, berbentuk datar dan tidak teratur dengan diameter kurang dari 1 cm.

Biasanya dijumpai pada gingiva anterior labial, mukosa pipi, mukosa bibir, palatum

dan lidah. Derajat pigmentasi berkisar dari coklat muda sampai tua. Smoker’s
melanosis secara langsung dihubungkan dengan jumlah rokok yang dihisap per hari,

jenis rokok, dan lamanya merokok. Lesi ini tidak mempunyai gejala dan perubahan

yang terjadi tidak menunjukkan keganasan.3,5

Rokok merupakan gabungan dari bahan-bahan kimia yang terdiri dari

komponen gas dan komponen partikel. Komponen gas asap rokok adalah

karbon monoksida, amoniak, asam hidroksianat, nitrogen oksida dan formaldehyde

sedangkan komponen partikel terdiri dari tar, indol, nikotin, karbarzol dan kresol.

Zat-zat tersebut beracun dan mengiritasi sehingga dapat menimbulkan kanker.5,6

Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap, perokok dapat dikelompokkan menjadi

perokok ringan, merokok kurang dari 10 batang per hari, perokok sedang, merokok

10-20 batang per hari, dan perokok berat, merokok lebih dari 20 batang per hari.8

Tidak ada perawatan khusus untuk kasus smoker’s melanosis selain memotivasi

pasien untuk berhenti merokok karena alasan kesehatan. Pigmentasi melanin pada

membran mukosa adalah suatu lesi yang bersifat reversible. Pigmentasi biasanya

menghilang secara bertahap setelah kebiasaan merokok dihentikan. Smoker’s melanosis

biasanya hilang dan kembali normal dalam waktu 3 tahun setelah berhenti merokok.8

Ablasi gingiva merupakan perawatan untuk menghilangkan atau mengurangi

pigmentasi (depigmentasi). Teknik depigmentasi atau ablasi gingiva terdiri dari

beberapa cara yaitu teknik bedah konvensional menggunakan pisau bedah (scalpel),

abrasi gingiva dengan bur diamond, gingival scraping dengan menggunakan scalpel,

gingivektomi, gingivektomi dengan free gingival graft, electrosurgery, cryosurgery,

dan sinar laser.9,10 Prinsip dasar dari depigmentasi adalah pengambilan deposit pigmen

melanin yang terjadi pada stratum basal maupun stratum spinosum, dimana batas

gingival thickness pada gingiva yang akan didepigmentasi ketebalannya < 0,5 mm.

Depigmentasi gingiva harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah pengambilan

gingiva berlebihan yang dapat menyebabkan resesi gingiva, kerusakan jaringan

periodontal, serta penyembuhan luka yang buruk.11,12

Antibiotik ini merupakan golongan penisilin yang berspektrum luas dan bekerja
dengan cara menghancurkan dinding sel bakteri sehingga bakteri tidak dapat
berkembang. Pasien juga diresepkan asam mefenamat 500 mg sebanyak 10 buah
dengan dosis 3 kali sehari untuk menghilangkan rasa sakit pasca pembedahan. Obat
ini merupakan golongan antiinflamasi non steroid yang diindikasikan untuk mengatasi
nyeri akut paska tindakan bedah.8 Cara kerja obat ini adalah menghambat
pembentukan enzim siklooksigenase (COX), dengan terhambatnya enzim
siklooksigenase (COX) maka sintesa prostaglandin yang merupakan mediator nyeri
terhambat. pemberian terapi obat berupa analgesik dan antibiotik biasanya diberikan
asam mefenamat dan amoxicillin disertai pemberian obat kumur seperti betadine
gargle.8