Anda di halaman 1dari 4

TOPIK 1

Perbedaan resiko operasi dengan mencukur rambut daerah operasi dan tidak mencukur
rambut daerah operasi
1. Judul:
Al-Maqbali, Mohammed. (2016). Pre-operative Hair Removal: A Literature Review.
International Journal of Nursing & Clinical Practices. 3. 10.15344/2394-4978/2016/163
Rangkuman:
 5 studi menyarankan untuk tidak melakukan pencukuran rambut daerah operasi
sebelum operasi dan menunjukkan adanya hubungan antara mencukur dengan
pisau cukur dengan tingkat infeksi.
 2 studi membandingkan penggunaan krim perontok dengan mencukur dan
menemukan bahwa pencukuran dengan pisau cukur secara signifikan
berhubungan dengan kejadian infeksi luka pos operasi. Namun 1 studi
menyatakan tidak ada perbedaan antara pencukuran dengan pisau cukur dan
krim perontok
 Secara keseluruhan tidak ada bukti yang meyakinkan mengenai manfaat
pencukuran rambut daerah operasi terhadap tingkat infeksi daerah operasi.

Kesimpulan: Belum ditemukan perbedaan yang bermakna. Namun disarankan jika


memang perlu mencukur rambut, menggunakan alat cukur atau krim
pencukur rambut dibandingkan dengan pisau cukup.

2. Judul:
Tanner J, Woodings D, Moncaster K. Preoperative hair removal to reduce surgical site
infection. Cochrane Database of Systematic Reviews 2006, Issue 3. Art. No.:
CD004122. DOI: 10.1002/14651858.CD004122.pub3.

Rangkuman :
 Percobaan yang membandingkan mencukur dan tidak mencukur daerah operasi,
baik dengan cara menggunakan pisau cukur maupun krim perontok, tidak
menunjukkan adanya perbedaan statistik yang signifikan terhadap infeksi
daerah operasi.
 Infeksi daerah operasi terjadi lebih sedikit pada saat menggunakan clippers
dibandingkan pisau cukur untuk mencukur daearah operasi.
 Tidak terdapat perbedaan kejadian infeksi daerah operasi pada pasien yang
dilakukan pencukuran sehari sebelum operasi maupun pencukuran pada hari
operasi.

Kesimpulan: Belum ditemukan cukup bukti yang mendukung pengaruh pencukuran


rambut sebelum operasi dengan kejadian infeksi pada luka operasi. namun
apabila perlu mencukur rambut, menggunakan alat cukur atau krim
pencukur rambut. Karena kejadian infeksi pada luka operasi lebih rendah
dibandingkan dengan menggunakan pisau cukur
3. Judul:
Global Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection. Geneva: World Healh
Organization; 2018. Web Appendix 7, Summary of a systematic review on the
effectiveness and optimal method of hair removal.

Rangkuman:
 Bukti yang lemah menunjukkan bahwa mencukur, memotong atau
menggunakan krim perontok tidak memiliki manfaat ataupun bahaya dalam
menurunkan resiko infeksi daerah operasi
 Bukti yang lemah menunjukkan bahwa memotong , menggunakan krim
perontok dan tidak mencukur rambut daerah operasi memiliki manfaat
menurunkan resiko infeksi daerah operasi bila dibandingkan dengan
pencukuran daerah operasi dengan mengguanakan pisau cukur
 Bukti yang lemah menunjukkan waktu pencukuran rambut daerah operasi
sehari sebelum operasi tidak memiliki manfaat ataupun bahaya dalam
menurunkan resiko infeksi daerah operasidibandingkan pencukuran daerah
operasi pada hari operasi

TOPIK 2
Anatomi dinding abdomen tikus Wistar dan perbandingan fisiologi penyembuhan luka
pada manusia dan tikus

1. Judul:
Vdoviakofa, Katarina. 2016. Surgical Anatomy of the Gastrointestinal Tract and Its
Vasculature in the Laboratory Rat. Hindawi Publishing Corporation. 3 Mei 2019.
Hasil:
Anatomi dinding abdomen tikuus wistar
 Dinding abdomen tikus wistar merupakan sebuah kantung besar berbentuk
semilunar dengan berat 3,9 gr – 8,5 gr.
 Abdomen tikus wistar menyumbang berat 1,8% dari total berat tubuh
keseluruhan.
 Bagian kiri abdomen merupakan cardiac (pars cardiac) sedangkan bagian kanan
abdomen merupakan bagian pylorus (pars pylorica)
 Lapisan abdomen dibagi menjadi dua bagian dibagian cranial atau permukaan
parietal yang bersentuhan dengan daifragma dan dinding kiri abdomen. Bagian
kaudal atau permukaan visceral menempel pada usus
 Omentum memisahkan antara jejunum dan caecum, kedua lapisan ini nantinya
menyatu pada kelengkungan besar dan kelengkungan kecil.
 Esofagus masuk kebagian tengah lengkungan kecil yang mengarah ke
craniodorsal
 Abdomen perut bergabung dengan bagian viseral hepar melalui ligament
hepatogastric
 Limpa berbatasan dengan kelengkungan besar dinding abdomen
 Lapisan membrane mukosa terbagi menjadi glandular dan non glandular
 Arteri yang memperdarahi dinding abdomen diperdarahi oleh 3 arteri besar
yaitu arteri coeliaca , arteri mesenterica cranialis, arteri mesenterica caudalis
Kesimpulan: Mengetahui anatomi dinding abdomen tikus wistar sangatlah penting
karena fungsi anatomi tikus wintsar dengan manusia hampir sama
dimana nantinya percobaan menggunakan tikus dapat bermanfaat bagi
kita untuk penelitian seperti menentukan mekanisme absorbsi obat,
bioavailbilitas dari sebuah obat atau formulasi.

2. Judul:
Helena D. Zomera, Andrea G. Trentina. 2017. Skin wound healing in humans and mice:
Challenges in translational, Department of Biology, Embryology,and Genetics, Federal
University of Santa Catarina, Brazil National Institute of Science and Technology for
Regenerative Medicine, Rio de Janeiro, Brazil H.D. Zomer, A.G. Trentin/Journal of
Dermatological Science 90 (2018) 3-12
https://doi.org/10.1016/j.jdermsci.2017.12.009
Hasil: Penyembuhan luka kulit tikus tidak sepenuhnya meniru penyembuhan luka
kulit manusia karena :
 morfologi kulitnya berbeda. Anatomi kulit penting untuk memahami kedalaman luka
sebagai aspek luka penyembuhan. Karena elastisitas pada kulit tikus dan kurangnya
adhesi yang kuat terhadap jaringan yang mendasarinya struktur diatasnya , tikus
digambarkan sebagai hewan berkulit longgar.Sifat-sifat kulit yang 'longgar' tersebut
memungkinkan kontraksi luka dapat berperan penting dalam menutup luka kulit tikus.
Akibatnya, kontraksi luka, yang biasanya lebih cepat daripada epitelisasinya,
menyebabkan penurunan keseluruhan waktu penyembuhan luka tikus. Manusia punya
kulit yang tidak longgar (loose), dan perbedaan ini membuat perbandingan dengan
model hewan tikus menjadi sulit.
 Adanya perbedaan pada struktur di bawah kulit juga turut berkontribusi pada
perbedaan dalam membandingkan tikus dengan kulit manusia. Tikus memiliki otot
panniculus carnosus subkutan , yang ditemukan sangat sedikit pada manusia. Otot ini
berkontribusi dalam penyembuhan kulit dengan kontraksi dan pembentukan kolagen.
 Hambatan potensial lain dalam menggunakan tikus untuk meneliti penyembuhan luka
kulit manusia adalah tikus tidak dapat terkena penyakit scurvy dan karenanya tidak
memerlukan penambahan vitamin C, yang penting dalam sintesis kolagen,.

3. Judul:
WANDA A. DORSETT-MARTIN,2004, WOUND REPAIR AND
REGENERAATION NOVEMBER-DECEMBER p591-599. Missisipi.
Rangkuman:
 Fase penyembuhan pada kulit manusia dan tikus sama, yaitu melalui fase :
homeostasis, inflamasi, proliferation dan remodeling
 Terdapat perbedaan antara kulit manusia dan kulit tikus, dimana kulit manusia lebih
tebal dan melekat pada jaringan dibawahnya, sedangkan tikus tidak,
 Pada lapisan epidermis, kulit manusia lebih tebal daripada kulit tikus, sehinga
menyebabkan berkurangnya fungsi barrier dan meningkatkan fungsi penyerapan
perkutan pada kulit tikus.
 Pada lapisan dermis tikus memiliki ketebalan yang lebih daripada manusia sehingga
menyebabkan lebih mudah untuk mengalami kontraksi
 Pada kulit tikus lapisan otot ( muscularis propria ) lebih tipis daripada kulit manusia
sehingga memberikan potensi kontraksi yang hebat pada kulit tikus, dan luka lebih
cepat sembuh karena disebabkan lebih mudahnya kontraksi pada kedua ujung –
ujung luka. Akan tetapi luka tersebut semakin mudah mengalami kontraktur
 Pada manusia dermis melekat kuat pada jaringan subkutan, dan kontraksi lebih sulit
untuk terjadi pada kedua ujung luka, sehingga luka lebih membutuhkan waktu
untuk menyembuh, akan tetapi potensi untuk terjadinya kontraktur lebih kecil pada
kulit manusia, karena kulit manusia cenderung untuk menyembuh dengan proses
pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi
 Pada fase remodeling Antara manusia dan tikus tidak tampak perbedaan yang
signifikan
 Antimicrobial peptides (AMP ) pada luka yang terinfeksi berperan dalam
penyembuhan luka dengan merangsang peradangan dan perbaikan jaringan. AMP
hanya terdapat pada kulit manusia dan tidak pada kulit tikus
 Interleucin-1 (IL-1), , keratinosit dan fibroblast menghasilkan proinflammatory
cytokines and chemokines pada tikus dan IL-8 di manusia,
 Sel- sel peradangan nonspecific missal IL-8, CXCL-7, CXCL-11, dan monocyte
chemoattractant diidentifikasi pada manusia tetapi tidak pada tikus, sehingga pada
manusia bisa untuk melakukan mekanisme reepitelisasi, remodeling jaringan dan
angiogenesis
 Perbedaan sistem kekebalan pada tikus dan manusia dimana terdapat perbedaan
pada tingkat transkripsi gen
 Reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR),sangat terekspresikan di kulit
manusia tetapi tidak pada tikus, sehingga peran peran kunci dalam homeostasis,
kontrol inflamasi, respon mikroba,dan fungsi penghalang lebih baik pada manusia.