Anda di halaman 1dari 17

PERBANDINGAN

PERSYARATAN DAN PROSES PERIZINAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT


DAN KLINIK UTAMA

Disusun Oleh :
Kelompok B

Ari Saputra 18344149


Dinda Puspita Dewi 18344132
Hamim Restu Annisa 18344141
Surtining 18344153

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang“ Undang-undang dan etika
”ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.Kami sangat berharap makalah ini dapat
berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai pentingnya pendidikan
dan prilaku kesehatan di Indonesia.Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna, tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat Berguna bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
Makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya.Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Jagakarsa, Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1

BAB II DEFINISI ............................................................................................3

BAB III PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN SECARA

HIRARKI ..........................................................................................................5

BAB IV JENIS DAN CONTOH IZIN YANG DIPERLUKAN ....................6

BAB V MASUKAN, KEGIATAN, PROSES DAN HASIL YANG ADA

UNTUK PERIZINAN ......................................................................................8

BAB VI KESIMPULAN ..................................................................................13

BAB VII DAFTAR PUSTAKA ......................................................................14

ii
BAB I
PENDAHULUAN
Penyelenggaraan pelayanan publik merupakan proses yang sangat strategis karena di
dalamnya berlangsung interaksi yang cukup intensif antara warga negara dengan pemerintah.
Kualitas produk dan proses penyelenggaraan pelayanan publik dapat diamati, dirasakan, dan
dinilai secara langsung oleh masyarakat. Karena pelayanan publik merupakan tanggung jawab
pemerintah maka kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah ini menjadi
salah satu indikator dari kualitas pemerintahan (Agus Dwiyanto, 2006:143). Dalam praktiknya
pelayanan publik seringkali muncul kasus seperti tidak adanya standar dan ketidakpastian biaya
serta waktu pelayanan. Ketidakpastian ini sering menjadi penyebab munculnya praktik KKN
dalam penyelenggaraan pelayanan publik (Luthfi J. Kurniawan dan Hesti Puspitosarai, 2007:17).

Buruknya sistem birokrasi pemerintahan dimasa lalu dengan segala implikasinya menjadi
titik tolak pemikiran pemerintah untuk melakukan usaha-usaha perbaikan kualitas pelayanan
publik. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk kembali memahami arti pentingnya kualitas
pelayanan publik terhadap kemajuan pembangunan baik itu pelayanan publik yang dilakukan
oleh pusat maupun oleh pemerintah daerah dalam hal pelayanan publik baik itu tentang perizinan
ataupun non perizinan. Selain itu, perbaikan kualitas pelayanan tentang perizinan ditujukan
untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia usaha baik bagi pemerintah pusat ataupun
pemerintah daerah serta meningkatkan daya tarik investasi.

Pada proses pengurusan perizinan misalnya harus dilakukan langsung oleh masyarakat ke
instansi atau unit yang menerbitkan surat izin tersebut. Umumnya masyarakat baru mengetahui
syarat-syarat yang harus dipenuhi dan apa yang harus dilakukan setelah mendatangi instansi
yang terkait. Masyarakat mendatangi sendiri meja per meja dan orang per orang yang terkait
dengan perizinan. Pada tiap meja ini, rawan terjadi pungutan liar (pungli). Pada pelayanan
dengan pola ini biaya yang dikeluarkan biasanya 8 tidak sesuai dengan biaya yang resmi yang
diumumkan, waktu penyelesaiannya pun biasanya tidak jelas, tergantung dari kerajinan
masyarakat memantau perizinan yang diurusnya dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Situasi
tersebut dapat menimbulkan kualitas pelayanan yang cenderung memburuk
(Dikson.2008.Kualitas PelayananPerizinanSIUP.URL:http://dikson.blogspot.com/07/02/kualitas-
pelayanan-perijinan-siup-pdfdoc.html,diakses pada tanggal 7 Mei 2012).

Untuk mempercepat pelaksanaan berusaha di Indonesia, Pemerintah pada tanggal 26


september 2017 telah mengeluarkan Perpres no 91 tahun 2017 tentang percepatan berusaha
melalui instrument

- Pembentukan satuan tugas di kementrian/lembaga, Pemerintah Daerah Provinsi, dan


pemerintah daerah Kabupaten/kota yang bertugas mengawal pelaksanaan investasi
/berusaha dan membantu penyelesaian perizinan yang diperlukan.
- Menyederhanakan regulasi dan mempermudah birokrasi perizinan berusaha.
- Menggunakan data atau dokumen bersama dalam perizinan berusaha, serta
1
- Menyatukan pengajuan, proses, dan pengeluaran perizinan berusaha melalui system
pengelolaan perizinan secara terpadu secara elektronik (Online Single
Submission/OSS).
Investor /pelaku usaha dapat melakukan pendaftaran atau perizinan investasi/berusaha
secara langsung melalui internet (www.OSS.go.id) atau mendatangi pelayanan terpadu
satu pintu (PTSP) di kantor pusat (BKPM). Dinas penanaman modal dan pelayanan
terpadu satu pintu (DPMPTSP) yang berada disetiap provinsi ataupun kabupaten/kota
yang menyediakan pelayanan internet mandiri dan pelayanan melalui petugas.
Investor/pelaku usaha dapat melacak proses perizinan serta menyampaikan informasi dan
pengaduan melalui pelayanan protocol communication pada www.OSS.go.id , aplikasi
smartphone yang dapat dan atau sarana informasi lainnya (telephone, whatsapp, email,
dsb).

2
BAB II
DEFINISI
1. Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat. (Undang-undang No 44 Tahun 2009)
2. Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau spesialistik (PMK No.9
Tahun 2014 tentang Klinik Pasal 1 ayat 1)
3. Perizinan Berusaha adalah pendaftaran yang diberikan kepada pelaku usaha untuk
memulai dan menjalankan usaha dan/atau kegiatan dan diberikan dalam bentuk
persetujuan yang dituangkan dalam bentuk surat/keputusan atau pemenuhan persyaratan
dan/atau komitmen.
4. Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission yang
selanjutnya disingkat OSS adalah Perizinan Berusaha yang diterbitkan oleh lembaga OSS
untuk dan atas nama menteri, pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/wali kota kepada
pelaku usaha melalui elektronik yang terintegrasi.
5. Pelaku Usaha adalah perseorangan atau non perseorangan yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan pada bidang tertentu.
6. Pendaftaran adalah pendaftaran usaha dan/atau kegiatan oleh Pelaku Usaha melalui OSS.
7. Izin Usaha adalah izin yang diterbitkan oleh lembaga OSS untuk dan atas nama menteri,
pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/wali kota setelah Pelaku Usaha melakukan
Pendaftaran dan untuk memulai usaha dan/atau kegiatan sampai sebelum pelaksanaan
komersial atau operasional dengan memenuhi persyaratan dan/atau komitmen.
8. Izin Komersial atau Operasional adalah izin yang diterbitkan oleh Lembaga OSS untuk
dan atas nama menteri, pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/walikota setelah Pelaku
Usaha mendapatkan Izin Usaha dan untuk melakukan kegiatan komersial atau
operasional dengan memenuhi persyaratan dan/atau komitmen.
9. Komitmen adalah pernyataan Pelaku Usaha untuk memenuhi persyaratan Izin Usaha
dan/atau Izin Komersial atau Operasional.
10. Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS yang selanjutnya disebut Lembaga OSS
adalah lembaga pemerintahan non kementerian yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang koordinasi penanaman modal.
11. Nomor Induk Berusaha yang selanjutnya disingkat NIB adalah identitas Pelaku Usaha
yang diterbitkan oleh Lembaga OSS setelah Pelaku Usaha melakukan Pendaftaran.
12. Nomor Pokok Wajib Pajak yang selanjutnya disingkat NPWP adalah nomor yang
diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang
dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan
hak dan kewajiban perpajakannya.
13. Dokumen Elektronik adalah setiap informasi elektronik yang dibuat, diteruskan,
dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik,
optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui
system elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan,suara, gambar, peta,

3
rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses, perforasi yang memiliki
makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.
14. Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yangterdiri atas informasi elektronik yang
dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan informasi elektronik lainnya yang digunakan
sebagai alat verifikasi dan autentikasi.
15. E-Farmasi adalah elektronik yang digunakan dalam penyelenggaraan kefarmasian.
16. Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi yang selanjutnya disingkat PSEF adalah badan
hukum yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan Efarmasi untuk
keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain.

4
BAB III
PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN SECARA HIRARKI
 Undang-Undang No.44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit
 PMK No.9 Tahun 2014 Tentang Klinik
 PMK No.56 Tahun 2014 Tentang Klasifikasi Dan Perizinan RS
 PMK No.72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di RS
 PMK No. 26 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan Beusaha Terintegritas Secara
Elektronik Sektor Kesehatan

5
BAB IV
JENIS DAN CONTOH IZIN YANG DIPERLUKAN
No Aspek IFRS Klinik
.
1. Jenis dan PMK No.56 tahun 2014 tentang PMK No.9 tahun 2014 tentang
Contoh izin Klasifikasi dan Perizinan RS Klinik
yang di
Jenis Izin : Pasal 25
perlukan
Pasal 1 ayat 4 Jenis Izin :
Izin Mendirikan Rumah Sakit, yang 1) Setiap penyelenggaraan Klinik
selanjutnya disebut Izin Mendirikan wajib memiliki izin mendirikan
adalah izin yang diberikan oleh dan izin operasional.
pejabat yang berwenang kepada 2) Izin mendirikan sebagaimana
instansi Pemerintah, Pemerintah dimaksud pada ayat (1) diberikan
Daerah atau badan swasta yang oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota.
akan mendirikan bangunan atau
3) Izin operasional sebagaimana
mengubah fungsi bangunan yang dimaksud pada ayat (1) diberikan
telah ada untuk menjadi rumah oleh pemerintah daerah
sakit setelah memenuhi persyaratan kabupaten/kota atau kepala dinas
yang ditetapkan dalam Peraturan kesehatan kabupaten/kota.
Menteri ini.

Contoh izin :
Pasal 1 ayat 5 Pasal 26 dan 27
Izin Operasional Rumah Sakit, Izin mendirikan dan operasional
yang selanjutnya disebut Izin
Operasional adalah izin yang lokasi, bangunan, prasarana,
diberikan oleh pejabat yang ketenagaan, peralatan, kefarmasian,
berwenang sesuai kelas rumah sakit dan laboratorium .
kepada penyelenggara/pengelola
rumah sakit untuk
menyelenggarakan pelayanan
kesehatan di rumah sakit setelah
memenuhi persyaratan dan standar
yang ditetapkan dalam Peraturan
Menteri ini.

6
Contoh izin :
Contoh izin mendirikan : Pasal 66
Izin Mendirikan diberikan untuk
mendirikan bangunan baru atau
mengubah fungsi bangunan lama
untuk difungsikan sebagai Rumah
Sakit.

Contoh izin operasional : Pasal 72


ayat 3
Dokumen administrasi dan
manajemen sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf k meliputi:
a. badan hukum atau kepemilikan;
b. peraturan internal Rumah Sakit
(hospital bylaws);
c. komite medik;
d. komite keperawatan;
e. satuan pemeriksaan internal;
f. surat izin praktik atau surat izin
kerja tenaga kesehatan;
g. standar prosedur operasional
kredensial staf medis;
h. surat penugasan klinis staf
medis; dan
i. surat keterangan/sertifikat hasil
uji/kalibrasi alat kesehatan.

7
BAB V
MASUKAN, KEGIATAN, PROSES DAN HASIL YANG ADA UNTUK PERIZINAN
No Aspek IFRS Klinik
1. Masukan/In PMK No.56 tahun 2014 tentang PMK No.9 tahun 2014 tentang
put Klasifikasi dan Perizinan RS Klinik
Izin mendirikan bangunan Pasal 26 ayat 1
Pasal 67 ayat 1 Untuk mendapatkan izin mendirikan,
penyelenggara Klinik harus
Pemilik atau pengelola yang akan
melengkapi persyaratan:
mendirikan Rumah Sakit
mengajukan permohonan Izin a. identitas lengkap pemohon;
Mendirikan kepada pemberi izin b. salinan/fotokopi pendirian badan
sesuai dengan klasifikasi Rumah hokum atau badan usaha, kecuali
Sakit yang akan didirikan untuk kepemilikan perorangan;
sebagaimana dimaksud dalam c. salinan/fotokopi yang sah
sertifikat tanah, bukti
Pasal 64 kepemilikan lain yang disahkan
oleh notaris, atau bukti surat
secara tertulis dengan kontrak minimal untuk jangka
melampirkan: waktu 5 (lima) tahun;
a. Fotokopi akta pendirian badan d. dokumen SPPL untuk Klinik
hukum yang sah sesuai dengan rawat jalan, atau dokumen UKL-
ketentuan peraturan UPL untuk Klinik rawat inap
perundang-undangan, kecuali sesuai ketentuan peraturan
instansi Pemerintah atau perundang-undangan; dan
Pemerintah Daerah; e. profil Klinik yang akan didirikan
b. Studi kelayakan; meliputi pengorganisasian,
c. master plan; lokasi, bangunan, prasarana,
d. Detail Engineering Design; ketenagaan, peralatan,
e. Dokumen pengelolaan dan kefarmasian, laboratorium, serta
pemantauan lingkungan; pelayanan yang diberikan;
f. Fotokopi sertifikat tanah/bukti f. persyaratan lainnya sesuai
kepemilikan tanah atas nama dengan peraturan daerah
badan hukum pemilik rumah setempat.
sakit;
g. Izin undang-undang gangguan Pasal 27
(Hinder Ordonantie/HO); 1) Untuk mendapatkan izin
h. Surat IzinTempat Usaha operasional, penyelenggara Klinik
(SITU); harus memenuhi persyaratan teknis
i. Izin Mendirikan Bangunan dan administrasi.
(IMB); 2) Persyaratan teknis meliputi

8
j. Izin operasional persyaratan lokasi, bangunan,
Pasal 72 ayat 1 prasarana, ketenagaan, peralatan,
kefarmasian, dan laboratorium.
Untuk memperoleh Izin 3) Persyaratan administrasi meliputi
Operasional, pengelola mengajukan izin mendirikan dan rekomendasi
permohonan secara tertulis kepada dari dinas kesehatan
pejabat pemberi izin sesuai dengan kabupaten/kota.
klasifikasi Rumah Sakit dengan
melampirkan dokumen:
a. Izin Mendirikan Rumah Sakit,
bagi permohonan Izin
Operasional untuk pertama kali;
b. Profil RumahSakit, meliputi visi
dan misi, lingkup kegiatan,
rencana strategi, dan struktur
organisasi;
c. Isian instrument self assessment
sesuai klasifikasi Rumah Sakit
yang meliputi pelayanan,
sumber daya manusia, peralatan,
bangunan dan prasarana;
d. Gambar desain (blue print) dan
foto bangunan serta sarana dan
prasarana pendukung;
e. Izin penggunaan bangunan
(IPB) dan sertifikat fungsi;
f. Dokumen pengelolaan
lingkungan berkelanjutan;
g. daftar sumber daya manusia;
h. daftar peralatan medis dan non
medis;
i. daftar sediaan farmasi dan alat
kesehatan;
j. berita acara hasil uji fungsi
peralatan kesehatan disertai
kelengkapan berkas izin
pemanfaatan dari instansi
berwenang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-
undangan untuk peralatan
tertentu;
k. dokumen administrasi dan
manajemen.
2. Kegiatan/Pr PMK No.56 tahun 2014 tentang PMK No.9 tahun 2014 tentang
oses Klasifikasi dan Perizinan RS klinik

9
Izin mendirikan : Pasal 68 Izin medirikan : Pasal 26 ayat 1 dan 2
1) Pemberi izin harus 1) Izin mendirikan diberikan untuk
menerbitkan bukti penerimaan jangka waktu 6 (enam) bulan,
berkas permohonan yang telah dan dapat diperpanjang paling
lengkap atau memberikan lama 6 (enam) bulan apabila
informasi apabila berkas belum dapat memenuhi
permohonan belum lengkap persyaratan.
kepada pemilik atau pengelola 2) Apabila batas waktu sebagaimana
yang mengajukan permohonan dimaksud pada ayat (2) habis dan
Izin Mendirikan sebagaimana pemohon tidak dapat memenuhi
dimaksud dalam Pasal 67 persyaratan, maka pemohon
dalam jangka waktu paling harus mengajukan permohonan
lama 6 (enam) hari kerja sejak izin mendirikan yang baru
berkas permohonan diterima. sebagaimana dimaksud pada ayat
2) Dalam hal berkas permohonan (1).
belum lengkap sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), Izin operasional : Pasal 29
pemohon harus mengajukan
permohonan ulang kepada (1) Apabila dalam permohonan izin
pemberi izin. operasional, pemohon dinyatakan
3) Dalam jangka waktu 14 (empat masih harus melengkapi
belas) hari kerja setelah bukti persyaratan sesuai ketentuan
penerimaan berkas diterbitkan, Pasal 29 ayat (3), maka
pemberi izin harus menetapkan Pemerintah daerah
untuk memberikan atau kabupaten/kota atau kepala dinas
menolak permohonan Izin kesehatan kabupaten/kota harus
Mendirikan. segera memberitahukan kepada
4) Dalam hal terdapat masalah pemohon dalam jangka waktu 1
yang tidak dapat diselesaikan (satu) bulan.
dalam kurun waktu (2) Pemohon sebagaimana dimaksud
sebagaimana dimaksud pada pada ayat (1) dalam jangka waktu
ayat (3), pemberi izin dapat 60 (enam puluh) hari sejak
memperpanjang jangka waktu pemberitahuan disampaikan,
pemrosesan izin paling lama harus segera melengkapi
14 (empat belas) hari kerja persyaratan yang belum dipenuhi.
dengan menyampaikan (3) Apabila dalam jangka waktu
pemberitahuan tertulis kepada sebagaimana dimaksud pada ayat
pemohon. (2) pemohon tidak dapat
5) Penetapan pemberian atau memenuhi persyaratan,
penolakan permohonan Izin pemerintah daerah
Mendirikan dilakukan setelah kabupaten/kota atau kepala dinas
pemberi izin melakukan kesehatan kabupaten/kota
penilaian dokumen dan mengeluarkan surat penolakan
peninjauan lapangan. atas permohonan izin operasional
6) Dalam hal permohonan Izin dalam jangka waktu 7 (tujuh)
Mendirikan ditolak, pemberi hari.

10
izin harus memberikan alasan Pasal 30
penolakan yang disampaikan
secara tertuliskepada (1) Perpanjangan izin operasional
pemohon. sebagaimana dimaksud dalam
7) Apabila pemberi izin tidak Pasal 27 ayat (4) harus diajukan
menerbitkan Izin Mendirikan pemohon paling lama 3 (tiga)
atau tidak menolak bulan sebelum habis masa
permohonan hingga berlaku izin operasional.
berakhirnya batas waktu (2) Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak
sebagaimana dimaksud pada permohonan perpanjangan izin
ayat (3) dan ayat (4), sebagaimana dimaksud pada ayat
permohonan Izin Mendirikan (1) diterima, pemerintah daerah
dianggap diterima. kabupaten/kota atau kepala dinas
kesehatan kabupaten/kota harus
memberi keputusan berupa
Izin operasional : pasal 74 penerbitan izin atau penolakan
izin.
Ketentuan mengenai tata cara (3) Dalam hal permohonan
proses pengajuan, penerimaan, perpanjangan izin sebagaimana
penerbitan,dan penolakan dimaksud pada ayat (2) ditolak,
IzinOperasional sebagaimana pemerintah daerah kabupaten/
dimaksud dalam Pasal 72 ayat (1) kota atau kepala dinas kesehatan
sampai dengan ayat (10) berlaku kabupaten/kota wajib
secara mutatis mutandis terhadap memberikan alasan penolakan
tata cara proses pengajuan, secara tertulis.
penerimaan, penerbitan, dan
penolakan atas permohonan
perpanjangan dan perubahan Izin
Operasional.

3. Hasil PMK No.56 tahun 2014 tentang PMK No.9 tahun 2014 tentang
Klasifikasi dan Perizinan RS klinik
Pasal 66 ayat 3 Pasal 28ayat 1
Izin Mendirikan diberikan untuk Pemerintah daerah kabupaten/kota
jangka waktu 1 (satu) tahun dan atau kepala dinas kesehatan
hanya dapat diperpanjang untuk 1 kabupaten/kota harus mengeluarkan
(satu) tahun. keputusan atas permohonan izin
operasional, paling lama 1 (satu)
Pasal 70
bulan sejak diterima permohonan izin.
(1) Izin Operasional merupakan
izin yang diberikan kepada

11
pengelola rumah sakit untuk
menyelenggarakan pelayanan
kesehatan.
(2) Izin Operasional berlaku untuk
jangka waktu 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang selama
memenuhi persyaratan.

12
BAB VI
KESIMPULAN
1. Izin Mendirikan Rumah Sakit diberikan oleh pejabat yang berwenang kepada instansi
Pemerintah, Pemerintah Daerah atau badan swasta yang akan mendirikan bangunan.
2. Izin Operasional Rumah Sakit diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai kelas rumah
sakit kepada penyelenggara/pengelola rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan
kesehatan di rumah sakit.
3. Izin mendirikan Klinik diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota.
4. Izin operasional Klinik diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota atau kepala
dinas kesehatan kabupaten/kota.
5. Untuk mempercepat pelaksanaan berusaha di Indonesia, Pemerintah pada tanggal 26
september 2017 telah mengeluarkan Perpres no 91 tahun 2017 tentang percepatan
berusaha melalui instrument
- Pembentukan satuan tugas di kementrian/lembaga, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
pemerintah daerah Kabupaten/kota yang bertugas mengawal pelaksanaan investasi
/berusaha dan membantu penyelesaian perizinan yang diperlukan.
- Menyederhanakan regulasi dan mempermudah birokrasi perizinan berusaha.
- Menggunakan data atau dokumen bersama dalam perizinan berusaha, serta
- Menyatukan pengajuan, proses, dan pengeluaran perizinan berusaha melalui system
pengelolaan perizinan secara terpadu secara elektronik (Online Single
Submission/OSS).

13
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
Dwiyanto Agus, 2006:143
Kurniawan Luthfi J. dan Hesti Puspitosarai, 2007:17.
Dikson.2008.KualitasPelayananPerizinanSIUP.URL:http://dikson.blogspot.com/07/02/ku
alitas-pelayanan-perijinan-siup-pdfdoc.html,diakses pada tanggal 7 Mei 2012).

Republik Indonesia, Undang-Undang No.44 Tahun 2009, Tentang Rumah Sakit. Jakarta

Republik Indonesia, Permenkes No.9 Tahun 2014, Tentang Klinik. Jakarta

Republik Indonesia, Permenkes No.56 Tahun 2014, Tentang Klasifikasi Dan Perizinan
RS. Jakarta

Republik Indonesia,PMK No.72 Tahun 2016, Tentang, Standar Pelayanan Kefarmasian


Di RS. Jakarta

Republik Indonesia,PMK No. 26 Tahun 2018 Tentang Pelayanan Perizinan


Beusaha Terintegritas Secara Elektronik Sektor Kesehatan. Jakarta

14