Anda di halaman 1dari 33

MODEL KOMUNIKASI MASSA

FADLUN MAROS - 157045029

KELAS KOMINFO ANGKATAN III

MAGISTER ILMU KOMUNIKASI


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2016
PENDAHULUAN

Jika kita membicarakan komunikasi massa, ada banyak hal yang


terkait mulai dari apa yang disebut pesan, gatekeeper, jumlah audience,
penggunaan media massa sebagai saluran. Oleh karenanya, komunikasi
massa mempunyai model tersendiri dalam aliran pesan-pesannya
(Nurudin, 2004). Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata
maupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena
tersebut.
Untuk memberikan pemahaman dasar model-model komunikasi
massa, Hiebert et. al mengemukakan empat elemen yang mendasari
dibuatnya model, yakni; 1) Jumlah partisipan; 2) Jenis pesan; 3) kondisi
sosial dan lingkungan partisipan; dan 4) Penggunaan saluran komunikasi.
DeVito (1997), mengatakan ada beberapa keuntungan mempelajari model
komunikasi, di antaranya sebagai berikut:
1. Model memiliki fungsi mengorganisasikan, artinya model dapat
mengurutkan dan menghubungkan satu sistem dengan sistem
lainnya serta dapat memberikan gambaran yang menyeluruh;
2. Model membantu menjelaskan sesuatu dengan menyajikan
informasi secara sederhana, artinya tanpa model, informasi
tersebut menjadi sangat rumit;
3. Dengan model dimungkinkan adanya perkiraan hasil atau jalannya
suatu kejadian.
Secara sederhana, dapat dinyatakan bahwa model dapat dijadikan
suatu dasar bagi pernyataan kemungkinan terhadap berbagai alternatif
dan karenanya dapat membantu membuat hipotesis suatu penelitian.
Secara umum ada beberapa kategori model komunikasi massa; model
liner, model sirkuler, model komunikasi spiral, dan model lainnya.

i
DAFTAR ISI

Pendahuluan ............................................................................................................. i

Daftar Isi.................................................................................................................. ii

1. Model AnalisisDasar Komunikasi .................................................................... 1


1.1. Model Dasar Komunikasi (Model Aristoteles) ......................................... 1
1.2. Model Lasswell ......................................................................................... 3
1.3. Model Shannon dan Weaver ..................................................................... 7

2. Model Proses Komunikasi Sirkuler (Schramm) ............................................. 11

3. Model Komunikasi Partisipasi ........................................................................ 12

4. Model Jarum Hipodermik ............................................................................... 14

5. Model Alir Satu Tahap (One Step Flow Model) ............................................. 16

6. Model Alir Dua Tahap (Two Step Flow Model) ............................................. 17

7. Model Alir Banyak Tahap (Multi StepFlow Model) ....................................... 18

8. Model Melvin De Fleur ................................................................................... 19

9. Model HUB (Hiebert, Ungrait, Bohn) ............................................................ 21

10. Model Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble ........................................ 22

11. Model Black dan Whitney .............................................................................. 24

12. Model Bruce Westley dan Malcolm Mclean .................................................. 25

13. Model Maletzke .............................................................................................. 26

14. Model Bryant dan Wallace.............................................................................. 27

15. Model Berlo .................................................................................................... 27

16. Model McNelly ............................................................................................... 29

Daftar Pustaka ....................................................................................................... 30

ii
1

1. Model Analisis Dasar Komunikasi


1.1. Model Dasar Komunikasi (Model Aristoteles)
Salah satu dari model model komunikasi yaitu model analisis dasar
komunikasi. Model komunikasi ini dinilai sebagai suatu model paling klasik atau
model pemula komunikasi yang dikembangkan sejak Aristoteles, kemudian
Lasswell hingga Weaver dan Shannon. Aristoteles membuat model komunikasi
yang terdiri atas tiga unsur, yaitu siapa, mengatakan apa dan terakhir kepada siapa.
Model komunikasi yang dibuat Aristoteles belum menempatkan unsur media dalam
proses komunikasi karena belum ada media seperti surat kabar pada massanya.
Rethoric, salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak dilihat sebagai studi
tentang psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles dinilai mampu membawa
retorika menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis menyelidiki efek dari
pembicara, orasi, serta audiensnya. Orator sendiri dilihat oleh Aristoteles sebagai
orang yang menggunakan pengetahuannya sebagai seni. Jadi, orasi atau retorika
adalah seni berorasi.
Aristoteles melihat fungsi retorika sebagai komunikasi „persuasif‟, meskipun
dia tidak menyebutkan hal ini secara tegas. Meskipun begitu, dia menekankan
bahwa retorika adalah komunikasi yang sangat menghindari metode yang kohesif.
Aristoteles kemudian menyebutkan tentang klasifikasi tiga kondisi audiens
dalam studi retorika. Klasifikasi yang pertama adalah courtroom speaking, yaitu yang
dicontohkan dengan situasi ketika hakim sedang menimbang untuk memutuskan
tersangka bersalah atau tidak bersalah dalam suatu sidang peradilan. Ketika seorang
Penuntut dan Pembela beradu argumentasi dalam persidangan tersebut, maka
keduanya telah melakukan judicial rethoric.
Yang kedua adalah political speaking, yang bertujuan untuk mempengaruhi
legislator atau pemilih untuk ikut serta dalam pilihan politik tertentu. Debat dalam
kampanye termasuk dalam kategori ini. Sedangkan yang ketiga adalah ceremonial
speaking, di mana yang dilakukan adalah upaya mendapatkan sanjungan atau
menyalahkan pihak lain guna mendapatkan perhatian dari khalayak. Mungkin yang
masuk kategori ini semacam tabligh akbar atau sejenisnya.
2

Karena muridnya terbiasa dengan metode dialectic Socrates, yaitu metode


diskusi tanya-jawab, one-on-one discussion, maka Aristoteles menyebutkan retorika
adalah kebalikannya. Retorika adalah diksusi dari satu orang kepada banyak orang.
Jika dialectic adalah upaya untuk mencari kebenaran, maka retorika mencoba
menunjukkan kebenaran yang telah diketemukan sebelumnya. Dialectic menjawab
pertanyaan filosofis yang umum, retorika hanya fokus pada satu hal saja. Dialectic
berurusan dengan kepastian, sedang retorika berurusan dengan probabilitas
(kemungkinan). Menurutnya, retorika adalah seni untuk mengungkapkan suatu
kebenaran kepada khalayak yang belum yakin sepenuhnya terhadap kebenaran
tersebut, dengan cara yang paling cocok atau sesuai.
Menurut Aristoteles, kualitas persuasi dari retorika bergantung kepada tiga
aspek pembuktian, yaitu logika (logos), etika (ethos), dan emosional (pathos).
Pembuktian logika berangkat dari argumentasi pembicara atau orator itu sendiri,
pembuktian etis dilihat dari bagaimana karakter dari orator terungkap melalui
pesan-pesan yang disampaikannya dalam orasi, dan pembuktian emosional dapat
dirasakan dari bagaimana transmisi perasaan dari orator mampu tersampaikan
kepada khalayaknya.
Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi verbal yang petama.
Komunikasi terjadi saat pembicara menyampaikan pesannya kepada khalayak
dengan tujuan mengubah perilaku mereka. Model ini mempunyai 3 bagian dasar
dari komunikasi. pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).
Model ini lebih berorientasi pada pidato. Terutama pidato untuk mempengaruhi
orang lain.

Gambar Alur model Aristoteles

Menurut Aristoteles, pengaruh dapat dicapai oleh seseorang yang dipecaya


oleh publik, alasan, dan juga dengan memainkan emosi publik.
3

Tapi model ini juga memiliki banyak kelemahan. Kelamahan yang pertama adalah,
komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Kelemahan yang kedua adalah,
model ini tidak memperhitungkan komunikasi non verbal dalam mempengaruhi
orang lain.
Meskipun model ini mempunyai banyak kelemahan, tapi model ini nantinya
akan menjadi inspirasi bagi para ilmuwan komunikasi untuk mengembangkan
model komunikasi modern.

1.2. Model Lasswell


Model dasar komunikasi yang dibuat Aristoteles telah mempengaruhi Harold
D. Lasswell, yang kemudian membuat model komunikasi yang dikenal dengan
formula Lasswell. Model komunikasi Lasswell terdiri atas 5 unsur, yaitu: siapa,
mengatakan apa, melalui apa, kepada siapa dan apa akibatnya. Lasswell melihat
bahwa suatu proses komunikasi selalu mempunyai efek atau pengaruh. Oleh karena
itu tidak menghendaki kalau model Lasswell ini banyak menstimuli riset
komunikasi, khususnya pada bidang komunikasi massa dan komunikasi publik.
Dalam sebuah artikel klasik yang ditulisnya pada tahun 1948 yang berjudul
“The Structure and Function of Communication in Society”, Lasswell menyajikan suatu
model komunikasi yang berbentuk sederhana. Model ini sering diajarkan kepada
mahasiswa yang baru belajar ilmu komunikasi. Menurut Lasswell komunikasi dapat
didefinisikan sebagai :
 Siapa (Who)
 Bicara apa (says what)
 Pada saluran mana (in which channel)
 Kepada siapa (to whom)
 Dengan pengaruh apa (with what effect)

Model yang diutarakan Lasswell ini secara jelas mengelompokkan elemen-


elemen mendasar dari komunikasi kedalam lima elemen yang tidak bisa
dihilangkan salah satunya. Model yang dikembangkan oleh Laswell ini sangat
populer di kalangan ilmuwan komunikasi, dan kebanyakan mahasiswa komunikasi
4

ketika pertama kali belajar ilmu komunikasi, akan diperkenalkan dengan model di
atas.
Sumbangan pemikiran Lasswel dalam kajian teori komunikasi massa adalah
identifikasi yang dilakukannya terhadap tiga fungsi dari komunikasi massa.
Pertama, adalah kemampuan kemampuan media massa memberikan informasi yang
berkaitan dengan lingkungan di sekitar kita, yang dinamakannya sebagai
surveillance. Kedua, adalah kemampuan media massa memberikan berbagai pilihan
dan alternatif dalam penyelesaian masalah yang dihadapi masyarakat, yang
dinamakanya sebagai fungsi correlation. Ketiga, adalah fungsi media massa dalam
mensosialisasikan nilai-nilai tertentu kepada masyarakat, yang dalam terminologi
Laswell dinamakan sebagai transmission.
Model Lasswell telah menjadi model komunikasi massa yang melegenda
dalam kajian teori komunikasi massa. Maksudnya model Laswell telah banyak
digunakan sebagai kerangka analisis dalam kajian komunikasi massa. Karakteristik
model Laswell adalah kemampuannya mencatat bagian-bagian yang membentuk
sistem komunikasi massa dan serempak pula dapat menggambarkan hasil-hasil
yang hendak dicapai oleh komunikasi massa melalui ketiga fungsi yang telah
dijelaskan di atas.

Gambar Alur model Lasswell (sumber rizkife.blogspot.com)


5

 Who (siapa/sumber)
Who dapat diartikan sebagai sumber atau komunikator yaitu, pelaku utama
atau pihak yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi dan yang memulai
suatu komunikasi, bisa seorang individu, kelompok, organisasi, maupun suatu
negara sebagai komunikator.
 Says What (pesan)
Says menjelaskan apa yang akan disampaikan atau dikomunikasikan kepada
komunikan (penerima), dari komunikator (sumber) atau isi informasi. Merupakan
seperangkat simbol verbal/non verbal yang mewakili perasaan, nilai,
gagasan/maksud sumber tadi. Ada tiga komponen pesan yaitu: makna, simbol
untuk menyampaikan makna, dan bentuk/organisasi pesan.
 In Which Channel (saluran/media)
Saluran/media adalah suatu alat untuk menyampaikan pesan dari
komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima) baik secara langsung (tatap
muka) maupun tidak langsung (melalu media cetak/elektronik).
 To Whom (siapa/penerima)
Sesorang yang menerima informasi siapa bisa berupa suatu kelompok,
individu, organisasi atau suatu Negara yang menerima pesan dari sumber. Hal
tersebut dapat disebut tujuan (destination), pendengar (listener), khalayak
(audience), komunikan, penafsir, penyandi balik (decoder).
 With What Effect (dampak/efek)
Dampak atau efek yang terjadi pada komunikan (penerima) seteleh
menerima pesan dari sumber seperti perubahan sikap dan bertambahnya
pengetahuan.
Adapun fungsi komunikasi menurut Lasswell adalah sebagai berikut:
 The surveillance of the environment (pengamatan lingkungan)
 The correlation of the parts of society in responding to the environment (korelasi
kelompok-kelompok dalam masyarakat ketika me-nanggapi lingkungan)
 The transmission of the social heritage from one generation to the next (transmisi
warisan sosial dari generasi yang satu ke generasi yang lain).
6

Yang dimaksud dengan surveillance oleh Lasswell adalah kegiatan


mengumpulkan dan menyebarkan informasi mengenai peristiwa-peristiwa dalam
suatu lingkungan dengan kata lain penggarapan berita. Kegiatan yang disebut
correlation adalah interpretasi atau penafsiran terhadap informasi mengenai
peristiwa yang terjadi di lingkungan dalam beberapa hal ini dapat
didefinisikan sebagai tajuk rencana atau propaganda. Kegiatan transmission of culture
difokuskan kepada kegiatan mengkomunikasikan informasi, nilai, dan norma sosial
dari generasi yang satu ke generasi yang lain atau dari anggota suatu kelompok
kepada pendatang baru. Ini sama dengan kegiatan pendidikan.
Meski demikian, model Lasswell ini tak luput dari kritikan, walau tetap
memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan model Lasswell adalah sebagai berikut:
 Model Lasswell masih berfokus pada komunikasi verbal satu arah, namun
teori ini dipandang lebih maju dari teori-teori lain yang ada;
 Model Lasswell berhasil melepaskan dari pengaruh komunikasi propaganda
yang ketika pada saat itu sangat mendominasi wacana komunikasi;
 Model Lasswell telah mendefinisikan medium pesan dalam arti yang lebih
luas yakni media massa;
 Lasswell lebih mendefinisikan tujuan komunikasi sebagai suatu penciptaan
pengaruh dari pesan yang telah disampaikan;
 Model Lasswell fokus dan perhatian terhadap aspek-aspek penting
komunikasi;
 Lebih mudah dan sederhana;
 Berlaku hampir di semua model komunikasi;
 Dasar konsep komunikasi.
Sementara kritikan atas model Lasswell di antaranya:
 Timbal balik tidak disebutkan;
 Tidak semua komunikasi mendapatkan umpan balik yang lancar;
 Teori Lasswell hanya menyimpulkan teori satu arah;
 Teori Lasswell menitik beratkan model komunikasi arti yang sempit yaitu
dengan cara menyebarluaskan melalu media massa hingga mencapai dan
7

memperoleh efek dari audience. Namun jalannya pesan-pesan media tidak


sesederhana yang dipikirkan banyak orang.

1.3. Model Shannon dan Weaver


Model ini membahas tentang masalah dalam mengirim pesan berdasarkan
tingkat kecermatannya. Model ini mengandaikan sebuah sumberdaya informasi
(source information) yang menciptakan sebuah pesan (message) dan mengirimnya
dengan suatu saluran (channel) kepada penerima (receiver) yang kemudian membuat
ulang (recreate) pesan tersebut. Dengan kata lain, model ini mengasumsikan bahwa
sumberdaya informasi menciptakan pesan dari seperangkat pesan yang tersedia.
Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan
saluran yang dipakai. Saluran adalah media yang mengirim tanda dari pemancar
kepada penerima. Di dalam percakapan, sumber informasi adalah otak, pemancar
adalah suara yang menciptakan tanda yang dipancarkan oleh udara. Penerima
adalah mekanisme pendengaran yang kemudian merekonstruksi pesan dari tanda
itu. Tujuannya adalah otak si penerima. Dan konsep penting dalam model ini adalah
gangguan.
Sebagai peneliti untuk perusahaan telekomunikasi, Shannon tentu saja
tertarik terhadap efisiensi mengirim infomasi melalui saluran telegram dan telepon
yang waktu itu belum berkembang seperti saat ini. Untuk itu, Shannon perlu
memandang informasi sebagai simbol-simbol yang dipertukarkan dalam
komunikasi antar manusia. Secara khusus, dia harus menjelaskan bagaimana alat
dan saluran komunikasi mengirim simbol-simbol itu dari satu titik di suatu tempat
ke titik lain di tempat lainnya. Ini dikenal sebagai transmisi informasi.
Bagi laboratorium Bell tempat Shannon bekerja, kapasitas, efisisiensi, dan
efektivitas transmisi ini menjadi amat penting untuk pengembangan jaringan
telepon. Shannon lalu menggunakan pendekatan matematik yang memudahkan
manusia mereduksi gejala rumit agar mudah dipahami, dan kemudian menghitung
atau mengukur gejala tersebut untuk mencapai efisiensi teknologi.
Setahun setelah Shannon mengajukan pemikiran matematisnya di jurnal
perusahaan Bell, teori ini dikembangkan lebih jauh bersama seorang rekannya,
8

Warren Weaver, untuk menjadi buku. Di dalam buku inilah mereka menegaskan
bahwa untuk memahami informasi, kita perlu berasumsi bahwa semua tujuan
komunikasi adalah mengatasi ketidakpastian (uncertainty). Teori yang
dikembangkan Shannon dan Weaver menyederhanakan persoalan komunikasi ini
dengan memakai pemikiran-pemikiran probabilitas (kemungkinan).
Jika kita melakukan undian dengan melempar sebuah uang logam, hasil
undian itu dianggap bernilai satu bit informasi karena mengandung dua
kemungkinan dan setiap kemungkinan mengandung nilai 0,5 alias sama besar dari
segi kesempatan undian. Dari pemikiran dasar yang sederhana ini, Shannon dan
Weaver menyatakan bahwa semua sumber informasi bersifat stochastic alias
probabilistik (bersifat kemungkinan). Jika kemungkinan tersebut bersifat tidak
mudah diduga, maka derajat ketidakmudahan ini disebut sebagai entropy.
Melalui pernyataan-pernyataan matematis, Shannon (dan lalu juga Weaver)
menunjukkan hubungan antara elemen sistem teknologi komunikasi, yaitu sumber,
saluran, dan sasaran. Setiap sumber dalam gambaran Shannon memiliki tenaga atau
daya untuk menghasilkan sinyal. Dengan kata lain, pesan apa pun yang ingin
disampaikan melalui komunikasi, perlu diubah menjadi sinyal, dalam sebuah proses
kerja yang disebut encoding atau pengkodean. Sinyal yang sudah berupa kode ini
kemudian dipancarkan melalui saluran yang memiliki kapasistas tertentu. Saluran
ini dianggap selalu mengalami gangguan (noise) yang mempengaruhi kualitas
sinyal. Memakai hitung-hitungan probabilitas, teori informasi mengembangkan cara
menghitung kapasitas saluran dan kemungkinan pengurangan kualitas sinyal.
Sesampainya di sasaran, sinyal ini mengalami proses pengubahan dari kode menjadi
pesan, atau disebut juga sebagai proses decoding.
Model informasi Shannon juga menganggap bahwa informasi dapat dihitung
jumlahnya, dan bahwa informasi bersumber atau bermula dari suatu kejadian.
Jumlah informasi yang dapat dikaitkan, atau dihasilkan oleh, sebuah keadaan atau
kejadian merupakan tingkat pengurangan (reduksi) ketidakpastian, atau pilihan
kemungkinan, yang dapat muncul dari keadaan atau kejadian tersebut. Dengan kata
yang lebih sederhana, teori ini berasumsi bahwa kita memperoleh informasi jika kita
memperoleh kepastian tentang suatu kejadian atau suatu hal tertentu.
9

Keunggulan model Shannon-Weaver terletak pada kemampuannya membuat


persoalan komunikasi informasi menjadi persoalan kuantitas, sehingga sangat cocok
untuk mengembangkan teknologi informasi. Kritik terhadap teori mereka datang
dari kaum yang mencoba mengaitkan informasi dengan makna dan kandungan nilai
sosial-budaya di dalam informasi. Sampai sekarang, perdebatan tentang apakah
informasi adalah sesuatu yang kuantitatif atau kualitatif masih terus berlangsung.
Ada yang mencoba mengambil kebaikan dari kedua pihak dengan mengatakan
bahwa informasi adalah sesuatu yang berwujud dan sekaligus bersifat abstrak.
Jasa Shannon-Weaver terletak pada kepioniran mereka memperkenalkan
diskusi dan aplikasi informasi ke dalam kehidupan manusia. Apa yang sekarang
kita alami dan nikmati, adalah hasil perkembangan dari pemikiran mereka juga.
Karya Shannon dan Weaver, “Mathematical Theory of Communication” (1949),
adalah salah satu pelopor model komunikasi, dan juga dianggap sebagai salah satu
model komunikasi yang tertua. Model ini juga salah satu contoh yang paling jelas
dari “Mahzab Proses”, yaitu aliran yang melihat komunikasi sebagai transmisi
pesan.
Fokus utama teori ini adalah untuk menentukan cara di mana saluran
(channel) komunikasi dapat digunakan secara efisien. Bagi mereka, saluran
utamanya adalah kabel telepon dan gelombang radio. Mereka mencetuskan teori
yang memungkinkan mereka mendekati masalah bagaimana mengirim sejumlah
informasi yang maksimum melalui saluran yang ada, dan bagaimana mengukur
kapasitas dari suatu saluran yang ada untuk membawa informasi. Mereka
menggunakan asumsi bahwa komunikasi antar manusia (human communication) itu
ibarat hubungan melalui telepon dan gelombang radio.

Gambar alur model Shannon dan Weaver


10

Sumber (source) dipandang sebagai pembuat keputusan (decision maker), yaitu


sumber yang memutuskan pesan mana yang akan dikirim. Pesan yang sudah
diputuskan untuk dikirim kemudian diubah oleh transmiter menjadi sebuah sinyal
yang dikirim melalui saluran kepada penerima (receiver). Diumpamakan telepon,
salurannya adalah kabel, sinyalnya adalah arus listrik di dalamnya, dan transmiter
dan penerimanya adalah pesawat telepon.
Shannon dan Weaver mengidentifikasi tiga level gangguan (noise) dalam
studi komunikasi. Ketiga hal tersebut adalah:
 Level A (masalah teknis); Bagaimana simbol-simbol komunikasi dapat
ditransmisikan secara akurat?
 Level B (masalah semantik); Bagaimana simbol-simbol yang ditransmisikan
secara persis menyampaikan makna yang diharapkan?
 Level C (masalah keefektifan); Bagaimana makna yang diterima secara efektif
mempengaruhi tingkah laku dengan cara yang diharapkan?
Ibarat sedang berkomunikasi lewat telepon, gangguan teknis adalah tentang
apakah telepon kita berfungsi baik atau tidak. Jika telepon yang kita gunakan
sinyalnya tidak jelas atau putus-putus, sehingga suara kita tidak terdengar dengan
jelas oleh lawan bicara kita, maka hal ini termasuk ke dalam gangguan (noise) teknis.
Pada noise yang kedua, gangguan level semantik, adalah sejauh mana kata-
kata atau komunikasi yang kita lakukan melalui telepon tadi dapat dipahami atau
ditangkap sesuai apa yang kita maksudkan. Mungkin secara teknis, suara kita sudah
dapat didengar dengan cukup jelas oleh lawan bicara kita, tapi belum tentu apa
maksud dari pembicaraan atau dari kata-kata kita dipahami atau ditangkap secara
baik oleh lawan bicara kita itu.
Sedangkan pada level yang ketiga, gangguan masalah keefektifan adalah
persoalan tentang sejauh mana kata-kata atau komunikasi yang kita lakukan
terhadap lawan bicara kita mampu mempengaruhi tingkah laku orang tersebut agar
mau melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak kita. Gangguan pada level ini
adalah persoalan behavioral. Pada level ini pula, komunikasi dilihat oleh Shannon
dan Weaver sebagai alat propaganda.
11

Jika ternyata komunikasi yang dilakukan tidak berhasil mengubah perilaku


lawan bicara kita agar mau mengikuti apa-apa yang dimaksudkan oleh
komunikator, maka komunikasi yang dilakukan dianggap mengalami gangguan
atau noise. Lebih dari itu komunikasi yang dilakukan dilihat juga sebagai
komunikasi yang tidak efektif, atau komunikasi yang gagal.
Dalam sudut pandang ini, model Shannon dan Weaver selanjutnya dianggap
memandang persoalan komunikasi sekedar sebagai hitung-hitungan yang
matematis. Lebih jauh lagi, komunikasi pada nantinya dibuat sedemikian rupa agar
mampu merekayasa pesan dan saluran guna mencapai level keefektifan komunikasi
yang optimal, yaitu mampu mengubah orang lain mengikuti apa-apa yang
diinginkan oleh seorang komunikator.

2. Model Proses Komunikasi Sirkuler (Schramm)


Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengan model
komunikasi manusia yang sederhana (1954), lalu model yang lebih rumit yang
memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga
ke model komunikasi yang dianggap interaksi dua individu.
Berdasarkan perkembangan waktu, ketika titik perhatian penelitian mulai
bergeser dari komunikasi massa ke komunikasi yang bersifat antarpribadi dimana
dapat ditemui umpan balik dengan intensitas yang lebih tinggi, maka model sirkuler
umumnya berangkat dari paradigma antarpribadi, dimana kedudukan komunikator
dan komunikan relatif setara. Model sirkuler mulai diperkenalkan oleh Schramm
(1954), yang menyatakan, “Sebenarnya menganggap proses komunikasi dimulai
dari suatu tempat dan berakhir pada tempat lain bisa menimbulkan salah
pengertian, komunikasi itu benar-benar tidak ada ujungnya. Kita hanyalah pusat
pengatur kecil yang menangani dan mengatur rute sejumlah besar alur informasi
yang tak berujung.”
Schramm menggambarkan komunikasi sebagai proses sirkuler. Untuk
pertamanya mereka menggambarkan dua titik pelaku komunikasi yang melakukan
fungsi encoder, interpreter, decoder. Dalam proses sikuler ini setiap pelaku komunikasi
bertindak sebagai encoder dan decoder. Ia meng-encode pesan kita mengirim dan men-
12

decode pesan ketika menerimanya. Pesan yang diterima kembali dapat disebut
umpan balik, yang tetap ia beri nama massage. Umpan balik inilah yang telah
membuat model linear menjadi sirkuler.
Selain itu, unsur tambahan baru yang ia sebut interpreter (penerjemah)
berfungsi memaknai pesan yang berhasil di sandikan/disimbolkan dengan alat
kemudian dikembalikan dalam bentuk pesan berikutnya agar dapat dikirimkan.
Model Schramm ini menggambarkan suatu proses komunikasi yang dinamis. Model
ini juga cocok untuk kajian komunikasi dalam tataran antarpribadi, di mana
kedudukan komunikator dan dan komunikan relatif setara.

Gambar alur model komunikasi sirkuler Schramm (sumber: shyntasuryandini.blogspot.com)

3. Model Komunikasi Partisipasi


D. Lawrence Kincaid dan Everett M. Rogers mendefenisikan Komunikasi
adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk data, melakukan
pertukaran informasi dengan satu sama lainnya yang pada akhirnya akan sampai
pada saling pengertian yang mendalam. Lawrence dan Rogers mengembangkan
sebuah model komunikasi berdasarkan prinsip pemusatan yang dikembangkan dari
teori informasi dan teori sibernetik. Model ini muncul setelah melihat berbagai
kelemahan model komunikasi satu arah yang telah mendominasi berbagai riset
teknologi sebelumnya. Teori sibernetik melihat komunikasi sebagai suatu sistem di
mana semua unsur saling bermain dan mengatur dalam memproduksi luaran.
Keberhasilan teori ini telah ditunjukkan dalam merakit berbagai macam teknologi
canggih seperti computer, radar, dan peluru kendali jelajah.
Komunikasi sebagai suatu proses yang memusat menuju ke arah pengertian
bersama, menurut Kincaid dapat dicapai meski kebersamaan pengertian pada suatu
13

objek yang tidak pernah sempurna. Dalam proses komunikasi yang memusat, setiap
pelaku berusaha menafsirkan dan memahami informasi yang diterimanya dengan
sebaik-baiknya. Dengan kata lain, komunikasi adalah suatu proses di mana dua
orang atau lebih saling menukar informasi untuk mencapai kebersamaan dalam
situasi di mana mereka berkomunikasi.
Model komunikasi kontemporer, sebagai paradigma baru, yang
memberi tekanan pada khalayaknya dan bersifat dua arah (dialogis), interaktif
(saling memengaruhi) dan saling membagi yang mengarah pada saling pengertian
(mutual understanding). Sedangkan model komunikasi yang berdasar paradigma
lama, memberi tekanan pada sumber sebagai pelaku yang dominan, satu arah dan
berusaha memengaruhi khalayak dengan metode persuasi propaganda. Jelasnya,
dalam komunikasi yang multidimensional semua elemen berada dalam posisi sama
untuk dapat memengaruhi dan dipengaruhi.

Gambar alur model komunikasi partisipatif Lawrence dan Rogers


(sumber: Farah Tania Putri Pasaribu)

Model komunikasi yang terlihat pada Gambar di atas mencerminkan sifat


memusat yang terjadi dari pertukaran informasi yang melingkar (cylical). Pada
Gambar tersebut dapat dilihat bahwa proses komunikasi ini dimulai dari “dan
kemudian…” yang mengingatkan kita bahwa sesuatu telah terjadi sebelum kita
mulai mengamati suatu kejadian.
14

Pelaku A mungkin saja mempertimbangkan kejadian ini, atau sebaliknya


sebelum ia melakukan komunikasi (11) dengan B. Informasi yang diciptakan dan
dikirim oleh A tadi, kemudian dipersepsi oleh B. Reaksi B terhadap informasi itu
dilanjutkan (12) sebagai informasi baru kepada A, lalu dikirim lagi (13) kepada B
dengan topik yang sama. B yang menerima informasi ini kemudian melanjutkan (14)
sampai keduanya mencapai kesamaan pengertian terhadap objek yang dibicarakan
itu.

4. Model Jarum Hipodermik


Istilah model jarum hipodermik dalam komunikasi massa diartikan sebagai
media massa yang dapat menimbulkan efek yang kuat, langsung, terarah,dan
segera. Efek yang segera dan langsung itu sejalan dengan pengertian “Stimulus-
Respon” yang mulai dikenal sejak penelitian dalam psikologi tahun 1930-an. Model
jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow), yaitu media
massa langsung kepada khalayak sebagai mass audiance. Model ini mengasumsikan
media massa secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat kuat atas mass
audience. Media massa ini sepadan dengan teori Stimulus-Response (S-R) yang
mekanistis dan sering digunakan pada penelitian psikologi antara tahun 1930 dan
1940. Teori S-R mengajarkan, setiap stimulus akan menghasilkan respons secara
spontan dan otomatis seperti gerak refleks. Seperti bila tangan kita terkena percikan
api (S) maka secara spontan, otomatis dan reflektif kita akan menyentakkan tangan
kita (R) sebagai tanggapan yang berupa gerakkan menghindar. Tanggapan di dalam
contoh tersebut sangat mekanistis dan otomatis, tanpa menunggu perintah dari
otak. Teori peluru atau jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media
memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak
tahu apa-apa. Teori ini mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat
menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak
berdaya (pasif).
Menurut Elihu Katz, model ini berasumsi:
1) Media massa sangat ampuh dan mampu memasukkan ide-ide pada benak
komunikan yang tak berdaya;
15

2) Khalayak yang tersebar diikat oleh media massa, tetapi di antara khalayak
tidak saling berhubungan.
Model Hypodermic Needle tidak melihat adanya variabel-variabel antara yang
bekerja diantara permulaan stimulus dan respon akhir yang diberikan oleh mass
audiance. Elihu Katz dalam bukunya, “The Diffusion of New Ideas and Practices”
menunjukkan aspek-aspek yang menarik dari model hypodermic needle ini, yaitu:
1) Media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, sanggup menginjeksikan
secara mendalam ide-ide ke dalam benak orang yang tidak berdaya;
2) Mass audience dianggap seperti atom-atom yang terpisah satu sama lain, tidak
saling berhubungan dan hanya berhubungan dengan media massa. Kalau
individu-individu mass audience berpendapat sama tentang suatu persoalan,
hal ini bukan karena mereka berhubungan atau berkomunikasi satu dengan
yang lain, melainkan karena mereka memperoleh pesan-pesan yang sama
dari suatu media (Schramm, 1963).
Model jarum hipodermik cenderung sangat melebihkan peranan komunikasi
massa dengan media massanya. Para ilmuwan sosial mulai berminat terhadap
gejala-gejala tersebut dan berusaha memperoleh bukti-bukti yang valid melalui
penelitian-penelitian ilmiah. Teori Peluru yang dikemukakan Schramm pada tahun
1950-an ini kemudian dicabut kembali tahun 1970-an, sebab khalayak yang menjadi
sasaran media massa itu tenyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini didukung oleh
Lazarsfeld dan Raymond Bauer.
Lazarfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa peluru komunikasi,
mereka tidak jatuh terjerembab, karena kadang-kadang peluru itu tidak menembus.
Ada kalanya efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak. Sering kali
pula sasaran senang untuk ditembak. Sedangkan Bauer menyatakan bahwa
khalayak sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang diinginkannya dari
media massa, mereka melakukan interpretasi sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sejak tahun 1960-an banyak penelitian yang dilakukan oleh para pakar
komunikasi yang ternyata tidak mendukung teori ini. Hasil dari serangkaian
penelitian itu menghasilkan suatu model lain tentang proses komunikasi massa,
sekaligus menumbangkan model jarum hipodermik.
16

Gambar ilustrasi model jarum hipodermik (sumber: tukangteori.com)

5. Model Alir Satu Tahap (One Step Flow Model)


Bermula dari Model Hypodermic Needle Theory (Teori jarum hipodermik) yang
dikembangkan dimana pesan yang disampaikan melalui media massa langsung
ditujukan kepada komunikan tanpa melalui perantara, misalnya opinion leader.
(Ardianto dan Erdinaya, 2004:66). Pesan yang disampaikan secara satu tahap ini
tidak mencapai seluruh komunikan apalagi menimbulkan efek yang sama pada
setiap komunikan.
Model ini sudah banyak ditinggalkan oleh ilmuwan komunikasi.
Masalahnya, model alir satu tahap banyak kekurangannya dan sudah tidak sesuai
lagi dengan perkembangan media massa beserta dampak yang ditimbulkannya saat
ini. Model alir satu tahap banyak dipengaruhi media masssa era Perang Dunia (PD)
II yang mengatakan bahwa media massa itu sangat kuat mempengaruhi benak
audience. Sementara audience sendiri dianggap tidak punya kekuatan untuk
menghindar dari pesan-pesan media massa. (Nurudin, 2004:131).

Gambar ilustrasi model komunikasi satu tahap (one step flow model)
17

6. Model Alir Dua Tahap (Two Step Flow Model)


Model ini diperkenalkan oleh Paul Lazarfeld, Bernard Barelson dan H Gudet
dalam People's Choice (1944). (Nurudin, 2004:132). Sebagai penyempurnaan dari
model alir satu tahap (one step flow model), model ini menyatakan bahwa media
massa memiliki peran yang minim dalam mempengaruhi audience, dengan kata lain
pengaruh yang dibawa oleh media massa tidak bersifat langsung melainkan melalui
pihak lain/perantara, dalam hal ini disebut pemimpin opini/pemuka pendapat
(opinion leader).
Di lingkungan pedesaan dengan tingkat pendidikan yang belum begitu baik
dan audience yang cenderung pasif dalam berinteraksi dengan media massa, ada
pihak lain/perantara yang mengambil peran sebagai pemimpin opini/pemuka
pendapat (opinion leader). Dalam lingkungan yang tradisional seperti ini, seseorang
yang mempunyai kedudukan, pendidikan dan wibawa yang tinggi akan menjadi
pemimpin opini yang bahkan lebih dipercaya daripada pesan-pesan media massa.
Akses langsung ke media massa diambil alih oleh opinion leader dan diteruskan
kepada pengikutnya (followers).
Pada masyarakat modern perkotaan yang telah memiliki akses yang hampir
tidak terbatas pada media massa, model komunikasi dua tahap (two step flow model)
ini dapat dilihat pada penggunaan hashtag (#) sebagai instrumen pihak yang
mencoba menjadi opinion leader pada media sosial semacam twitter atau facebook
untuk menggiring dan mengumpulkan topik bahasan audience-nya agar mengupas
tema/topik tertentu yang diinginkan pihak yang mencoba berlaku sebagai opinion
leader. Pada kasus ini dapat dilihat bahwa terpaan media massa akan disaring oleh
opinion leader melalui penggunaan hashtag (#). Ini membuktikan bahwa audience
tidak langsung menerima terpaan media massa melainkan melalui perantara yang
pada akhirnya menjadi penerus pesan-pesan media massa yang dianggap memiliki
efek terbatas. Bisa jadi pesan-pesan yang diterima oleh audience sudah
diinterpretasikan oleh para opinion leader sesuai dengan kapasitas dan minat serta
kepentingannya.
Ada 2 (dua) unsur yang menjadi kritikan Wilbur Schramm dan William
Porter (1982) pada model ini, yaitu :
18

1. Beberapa media massa memiliki kredibilitas tinggi dan kemudahan akses bagi
semua orang sehingga proses penerimaan pesan tidak memerlukan perantara.
2. Konsep pihak lain yang berlaku sebagai perantara/pemuka pendapat (opinion
leader) perlu penelaahan lebih dalam lagi mengingat pihak yang mengambil
peran sebagai opinion leader umumnya mempunyai pendidikan formal yang
lebih tinggi/lebih baik, kesejahteraan serta status sosial yang melebihi audience-
nya dan lebih terbiasa dengan komunikasi massa.

Gambar ilustrasi model komunikasi alir dua tahap (two step flow model).
(sumber : http://www.slideshare.net/geoffjmoss/media-theories-3016026)

7. Model Alir Banyak Tahap (Multistep Flow Model)


Pada model alir banyak tahap (multistep flow model), interaksi antara pesan
dan media massa serta perantara/pemuka pendapat (opinion leader) menjadi
dinamis dan tidak berlaku satu arah. Pesan bisa saja diterima secara langsung, bisa
juga tidak. Model ini mengatakan bahwa hubungan timbal balik dari media ke
khalayak (yang juga berinteraksi satu sama lain), kembali ke media, kemudian
kembali lagi ke khalayak dan seterusnya. (Nurudin, 2004:134).
Sedangkan Ardianto dan Erdinaya (2004:70) menyatakan bahwa bagi lajunya
komunikasi dari komunikator kepada komunikan terdapat sejumlah saluran yang
berganti-ganti. Artinya, beberapa komunikan menerima pesan langsung dari
komunikator melalui saluran media massa lalu menyebarkannya kepada
komunikan lainnya. Pesan terpindahkan beberapa kali dari sumbernya melalui
beberapa tahap.
19

Untuk mempengaruhi media secara efektif, Kathleen Hall Janieson dan


Karlyn Khors Campbell dalam The Interplay Influence (1988) pada Nurudin (2004:136)
menyatakan ada 4 (empat) cara utama, yaitu:
1. Menyampaikan keluhan individual (misalnya menulis surat pembaca atau
kepada pihak yang berwenang)
2. Mengorganisasikan tekanan masyarakat untuk memboikot stasiun pemancar
atau produk yang bersangkutan atau melakukan tindakan hukum
3. Mendesak pihak yang berwenang untuk mengambil tindakan tertentu
4. Mengadu ke DPRD atau DPR

Gambar ilustrasi model komunikasi alir banyak tahap (multistep flow model)
(sumber : http://www.slideshare.net/Cugelman/social-psychology-of-social-media)

8. Model Melvin De Fleur


Dalam buku Theories of Mass Communication (1982) pada Nurudin (2004:138),
Melvin De Fleur mengemukakan model komunikasi massa dimana sumber dan
pemancar tidak berada di satu posisi. Baginya, antara sumber dan pemancar
berbeda tahapannya dalam aktivitas komunikasi massa. Saluran menjadi media
massa yang mampu menyebarkan pesan-pesan yang dikemukakan sumber.
Sedangkan fungsi penerima pesan sebagai orang yang dikenai sasaran pesan yang
20

disebarkan dan penginterpretasi pesannya. Tujuan menguraikan pesan dan


memberi mereka interpretasi penerima. Ini sama dengan fungsi otak. Umpan balik
adalah respon dari tujuan kepada sumber.
Model ini menempatkan komunikasi massa dalam konteks lembaga-lembaga
lain, terutama lembaga politik dan ekonomi - yang langsung memberi bentuk
hubungan antara komunikator, pesan dan publik. Ardianto dan Erdinaya (2004:78).
Model ini memperlihatkan sistem media Amerika secara keseluruhan, dan pertama
kali diucapkan De Fleur pada tahun 1966. Versi yang sudah disederhanakan dan
disistematiskan untuk memberi penekanan pada elemen-elemen terpenting yang
dapat ditemukan pada hampir setiap sistem komunikasi massa nasional. Perlu
ditekankan bahwa model ini hanya menggambarkan versi liberal atau pasar bebas
dari sistem media massa, karena setiap variasi dalam keseimbangan kekuatan
politik dan ekonomi dalam masyrakat dapat berakibat banyak pada struktur
antarhubungan yang digambarkan.
Ardianto dan Erdinaya (2004:80) menyebutkan elemen utama pada model ini
adalah :
1. Khalayak, yang dibeda-bedakan menurut hipotesis distribusi selera atau tingkat
kecenderungan menjadi tinggi-menengah-rendah.
2. Agen-agen finansial dan komersial yang menyediakan model untuk produksi
media, membeli/menyewa ruang iklan dan memperoleh penghasilan sendiri
melalui kegiatan untuk melihat kecondongan selera publik, daya beli, kebiasaan
khalayak dan kepentingan-kepentingan pemasang iklan.
3. Produksi media dan organisasi-organisasi distribusi. Dalam hal ini kebanyakan
perusahaan swasta yang harus bekerja berdasarkan keuntungan dalam sistem
produksi massal.
4. Peraturan dan lembaga pengawasan, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah
maupun swasta dengan berbagai macam tekanannya. Lembaga-lembaga ini
menerima masukan dan umpan balik dari publik, kadang-kadang melalui
sistem politik. Kegiatan mereka bisa langsung mempengaruhi para produsen
media, baik melalui undang-undang tentang isi media atau lewat pengawasan
21

teknis dan finansial yang dipublikasikan dalam kepentingan publik. Elemen ini
bertindak sebagai penyeimbang kepentingan swasta komersial.

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Melvin De Fleur


(sumber : http://communicationtheory.org/de-fleur-model-of-communication/)

9. Model HUB (Hiebert, Ungrait, Bohn)


Model ini dikemukakan oleh Ray Eldon Hiebert, Donald F Ungrait dan
Thomas W. Bohn. Sedangkan HUB sendiri berarti Hiebert Ungrait Bohn. Nurudin
(2004:142). Model HUB adalah model lingkaran konsentris yang bergetar sebagai
sebuah rangkaian proses aksi-reaksi.
Skema model ini mirip dengan gelombang riak air dimana komunikator
berada di tengah-tengah pusaran air, menyebarkan pesan ke luar dibantu oleh
penguat media (media amplification) yang juga berarti perluasan (extension) dengan
tujuan agar pesan yang dikeluarkan dapat diterima dengan jelas dan lengkap.
Dengan demikian saluran komunikasi sekaligus berfungsi untuk memperluas
jangkauan pesan.
Media massa sebagai alat saluran komunikasi massa tidak bisa berdiri
sendiri. Ada banyak faktor yang ikut mempengaruhi proses peredaran pesan-
pesannya. Jika diperinci ada komunikator, kode, pentapis informasi, media massa
22

itu sendiri, pengatur, penyaring komunikan dan efek. Semua elemen ini ikut
membentuk pesan apa yang akan disiarkan/diedarkan. Nurudin (2004:144).
Umpan balik selalu ada dalam proses komunikasi dan sejalan dengan
penyebaran pesan yang kemudian akan memberikan peran baru bagi komunikan
untuk merencanakan pesan yang akan dikeluarkan lagi oleh komunikator.
Disamping itu juga terdapat gangguan (distortion dan noise) yang turut dalam proses
penyebaran pesan. Gangguan bisa berupa gangguan saluran atau gangguan yang
berhubungan dengan kesalahan komunikator dalam menyandi pesan.

Gambar ilustrasi model komunikasi massa HUB


(sumber : http://slideplayer.info/slide/3657434/)

10. Model Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble


Model ini menyatakan bahwa media massa dalam komunikasi massa
memperluas bahkan mempengaruhi jenis komunikasi yang lain. Media massa
modern digunakan sebagai salah satu unsur yang mempengaruhi model
komunikasi yang dijalankan dan gatekeeper juga bisa melakukan fungsi kontrol
bahkan penyensoran. Dari model ini bisa dikatakan bahwa berkualitas tidaknya
23

pesan-pesan yang disampaikan ke audience sangat tergantung pada peran


gatekeeper. Nurudin (2004:139).
Peralatan media massa menjadi alat utama yang harus ada dalam komunikasi
massa. Sumber pesan mengalirkan pesan yang diedit oleh pentapis informasi
kemudian disebarkan melalui peralatan media massa lalu diterima oleh audience
setelah sebelumnya dipengaruhi oleh gangguan-gangguan. Berikutnya audience
memberikan umpan balik pada pengirim pesan melalui berbagai macam saluran.
Pada model ini, audience sebagai penerima pesan dapat berlaku sebagai
komunikator dan bertukar peran ketika ia merespon pesan yang diterimanya
kepada komunikator (pengelola media). Pertukaran peran ini (komunikator menjadi
komunikan dan sebaliknya) tergantung pada pihak yang lebih dahulu mengedarkan
pesannya. Model ini seolah mengatakan antara sumber dan penerima pesan sama
kedudukannya. Bahkan sulit dibedakan mana sumber dan mana penerima pesan.
Nurudin (2004:142).

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble.
(sumber : http://slideplayer.info/slide/3657434/)
24

11. Model Black dan Whitney


Jay Black dan Frederick C. Whitney dalam bukunya Introduction to Mass
Communication (1988) pada Nurudin (2004:145) membagi proses komunikasi massa
menjadi 4 (empat) wilayah, yakni sumber, pesan, umpan balik dan audience dimana
masing-masing mempunyai ciri satu sama lain yang berbeda dan melekat pada
komunikasi massa umumnya.
Model ini tidak memberikan peranan gatekeeper sebagai pentapis atau palang
pintu informasi. Berbeda dengan model yang lainnya, yang menekankan adanya
gatekeeper dalam proses komunikasi massa. Model ini memasukkan seorang sumber
yang dengan sengaja ingin mempengaruhi audience (sebagai salah satu ciri
komunikan dalam komunikasi) dan pesan yang berpeluang terhadap adanya
gangguan atau kegaduhan karena dilakukan memakai saluran media massa,
audience itu sendiri memiliki beragam minat dan kepentingan dalam memanfaatkan
pesan-pesan media massa dan umpan balik yang tertunda dan multi efek karena
pesan yang satu itu ditanggapi secara beragam sehingga akan memunculkan efek
yang berlainan. Nurudin (2004:147).

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Black dan Whitney.


(sumber : http://slideplayer.info/slide/3657434/)
25

12. Model Bruce Westley dan Malcolm McLean


Tidak seperti model Black dan Whitney, model ini justru menekankan peran
gatekeeper dalam proses komunikasi massa. X menunjuk pada peristiwa atau sumber
informasi sedangkan A adalah komunikator dalam komunikasi massa yang
diperankan oleh seorang reporter sementara C adalah gatekeeper yang diperankan
oleh seorang editor yang menghapus, menekankan kembali, atau menambahkan
laporan yang ditulis reporter. lalu B adalah audience yang membaca, mendengarkan
atau melihat kejadian yang dilaporkan gatekeeper setelah sebelumnya ditulis oleh
reporter. Pembaca bisa jadi merespon kepada editor (fBC) atau ke reporter (fBA).
Editor juga bisa menyediakan umpan balik kepada reporter (fCA). Nurudin
(2004:148).
Peran gatekeeper selain dapat dilakukan oleh editor, dapat juga dilaksanakan
oleh reporter. Namun, model ini seolah-olah menempatkan kedua posisi itu pada
tempat yang berbeda, padahal keduanya adalah komunikator (wakil dari lembaga
media massa).

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Bruce Westley dan Malcolm McLean.
(sumber : http://slideplayer.info/slide/3657434/)
26

13. Model Maletzke


Dikemukakan pada tahun 1963 oleh seorang ilmuwan Jerman bernama
Maletzke, model ini dibuat berdasarkan elemen-elemen tradisional komunikasi,
yakni komunikator, pesan, media dan komunikan dengan tambahan tekanan atau
kendala diantara media dan komunikan. Ardianto dan Erdinaya (2004:76).
Di awal perkembangannya secara sederhana menggambarkan peta media
massa bawah tanah di Berlin. Model ini merupakan pengembangan dari model
umum komunikasi yang sering dinamakan Communicator, Medium, dan Receiver.
Pada Ardianto dan Erdinaya (2004), beberapa faktor atau variabel lain dalam
model ini dapat dianggap sebagai kausatif dan independen, yaitu:
1. Citra diri media : pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, peranan, sikap,
menciptakan sebuah disposisi dalam menerima pesan. Penelitian-penelitian
psikologi-sosial, misalnya, telah memperlihatkan bahwa kita cenderung menolak
informasi yang tidak sama dengan nilai-nilai yang kita anut.
2. Struktur kepribadian komunikan : dinyatakan bahwa orang-orang yang
mempunyai harga diri rendah lebih mudah dibujuk.
3. Konteks sosial komunikan : faktor ini bisa berupa masyarakat disekitarnya,
komunitas di mana komunikan tinggal, kelompok yang diikutinya atau juga
orang-orang yang berhubungan dengannya.

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Maletzke.


(sumber : http://www.slideshare.net/mebner/is-twitter-an-individual-mass-communication-
medium-3593904
27

14. Model Bryant dan Wallace


Model ini khas untuk mengamati model arus pesan dalam media radio dan
televisi. Gatekeeper tidak secara khusus dimasukkan dalam proses peredaran pesan.
Nurudin (2004:150).

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Bryant dan Wallace.


(sumber : http://slideplayer.info/slide/3657434/)

15. Model Berlo


Diperkenalkan tahun 1960 oleh David K. Berlo dari hasil pengembangan
model linear Shannon dan Weaver (1949). Model ini mengikutsertakan komunikasi
verbal dan non verbal juga mempertimbangkan aspek emosional dari suatu pesan. 4
(empat) elemen utama yang difokuskan pada model ini adalah : Source (S) sebagai
sumber pesan, Message (M) atau pesan yang dihantarkan, Channel (C) sebagai
saluran yang digunakan, dan Receiver (R) sebagai penerima pesan.
Masing-masing elemen dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berbeda :
1. Source (S) adalah sumber pesan, juga biasa disebut pembicara atau pengirim
pesan.
 Kemampuan berkomunikasi (communication skills) kemampuan pembicara
untuk mengkomunikasikan pesan yang mengacu kepada kemampuannya
untuk berbicara, mendengar, membaca, menulis, mendebat dan
menanyakan/menjawab pertanyaan.
28

 Attitudes (Perilaku) - perlakuan pembicara kepada pendengar, pokok


permasalahan dan bahkan kepada dirinya sendiri.
 Pengetahuan (knowledge) - seberapa berpendidikan, akrab dan seberapa
banyak informasi yang dikuasai si pembicara.
 Sistem Sosial (social system) - latar belakang sosial yang mengacu pada
nilai, kepercayaan, agama, budaya dan tradisi dari masyarakat tertentu
yang mempengaruhi pemahaman umum.
 Budaya (culture).
2. Message (M) adalah ide, opini, emosi atau informasi yang disampaikan.
 Konten (content) - apa yang dikandung oleh pesan
 Elemen (elements) - Bahasa, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan postur yang
digunakan.
 Perlakuan (treatment) - bagaimana pesan ditangani atau diperlakukan.
 Struktur (structure) - bagaimana pesan tersebut disusun. Source (S) harus
menyusun pesannya dalam format yang paling baik untuk menghindari
gangguan dan kesalahan komunikasi.
 Kode (code) - termasuk bahasa, gerak tubuh, bahasa tubuh dan ekspresi
yang digunakan. Penggunaan kode ini harus akurat untuk menghindari
distorsi atau kesalahan penerjemahan pesan.
3. Channel (C) adalah media yang digunakan untuk menhantarkan pesan.
 Hearing (pendengaran) - digunakan untuk aktivitas oral.
 Seeing (penglihatan) - digunakan untuk mengamati presentasi visual
 Touching (sentuhan) - digunakan untuk mengenali materi
 Smelling (penciuman) - digunakan untuk membedakan bermacam aroma
 Tasting (rasa) - digunakan untuk mendiferensiasikan rasa.
4. Receiver (R) - pihak yang menerima, memahami, menganalisis dan
menerjemahkan pesan akan dipengaruhi oleh faktor yang sama dengan Sender
(S) namun tentu saja dengan sudut pandang penerima.
29

Gambar ilustrasi model komunikasi massa Berlo.


(sumber : http://www.managementstudyguide.com/berlo-model-of-communication.htm)

16. Model McNelly


Biasanya mengacu pada surat kabar dimana beberapa komunikator tengah
(intermediaty) berperan sebagai gatekeeper yang berada di antara kejadian dan
pembaca dan seringkali mengubah bentuk dan sifat berita yang datang kepadanya.

Gambar ilustrasi model komunikasi massa McNelly.


(sumber : McQuail, Denis and Windahl, Sven : 169)
30

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto, E., dan L. K. Erdinaya. (2004). Komunikasi Massa; Suatu Pengantar.


Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Cangara, Hafied. (2011). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta. PT. RajaGrafindo


Persada.

DeVito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antarmanusia. Jakarta. Profesional Books.

Mulyana, Deddy. (2015). Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar (Edisi Revisi).


Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

McQuail, Denis and Windahl, Sven. (2013). Communication Models for the study of
mass communications - second edition. New York. Routledge.

Pasaribu, Farah Tania P. (2015). Komunikasi Massa (Makalah tidak dipublikasikan).


Medan. Universitas Sumatera Utara.

Nuruddin. (2004). Komunikasi Massa. Malang. Cespur.

Wiryanto. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta. Grasindo.

http://www.blackwellreference.com/public/uid=3/tocnode?id=g9780631233176_c
hunk_g978140510254418_ss1-4

http://www.slideshare.net/alankusuma03/pp-komunikasi-massa-kel-5
http://www.slideshare.net/geoffjmoss/media-theories-3016026
http://www.slideshare.net/Cugelman/social-psychology-of-social-media
http://communicationtheory.org/de-fleur-model-of-communication/
http://slideplayer.info/slide/3657434/
http://www.managementstudyguide.com/berlo-model-of-communication.htm
http://www.slideshare.net/iansagabaen28/david-berlos-model-of-communication
https://en.wikipedia.org/wiki/Models_of_communication
http://www.slideshare.net/iansagabaen28/david-berlos-model-of-communication
http://communicationtheory.org/berlos-smcr-model-of-communication/
http://www.managementstudyguide.com/berlo-model-of-communication.htm