Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

A. Tinjauan Teori
1. Definisi
Suatu keadaan dimana tekanan systole dan diastole mengalami kenaikan
yang melebihi batas normal ( tekanan systole diatas 140 mmHg dan tekanan
diastole diatas 90 mmHg) (Murwani, 2009).
Kondisi abnormal dari hemodinamik, dimana menurut WHO tekanan
sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan diastolic >90 mmHg (untuk usia <60 tahun)
dan tekanan sistolik ≥160 mmHg dan atau tekanan diastolic >95 mmHg (untuk
usia >60 tahun) (Nugroho, 2011).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah diatas normal yang ditunjukan oleh angka systolic
(bagian atas) dan bawah (diastolic) (Pudiastuti, 2011).

B. Anatomi Fisiologi
1. Jantung

Jantung manusia memiliki berongga dengan 2 atrium dan 2 ventrikel.


Jantung merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai
bagian tubuh. Jantung manusia berbentuk seperti kerucut dan berukuran
sebesar kepalan tangan, terletak di rongga dada sebalah kiri. Jantung
dibungkus oleh suatu selaput yang disebut perikardium. Jantung bertanggung
jawab untuk mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep
yang melengkapinya. Untuk menjamin kelangsungan sirkulasi, jantung
berkontraksi secara periodik.
a. Bentuk Serta Ukuran Jantung
Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler.
Jantung dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis,
atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung
panjangnya kira-kira 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm. Berat
jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar
dari kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan
dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara
dengan 7.571 liter darah.
Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah
tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5
cm diatas processus xiphoideus.Pada tepi kanan cranial berada pada tepi
cranialis pars cartilaginis costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum.
Pada tepi kanan caudal berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa VI
dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Tepi kiri cranial jantung berada
pada tepi caudal pars cartilaginis costa II sinistra di tepi lateral sternum,
tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di kiri
linea medioclavicularis.
Selaput yang membungkus jantung disebut perikardium dimana
terdiri antara lapisan fibrosa dan serosa, dalam cavum pericardii berisi 50
cc yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak ada gesekan antara
perikardium dan epikardium. Epikardium adalah lapisan paling luar dari
jantung, lapisan berikutnya adalah lapisan miokardium dimana lapisan ini
adalah lapisan yang paling tebal. Lapisan terakhir adalah lapisan
endokardium.
b. Ruang Dalam Jantung
Ada 4 ruangan dalam jantung dimana dua dari ruang itu disebut
atrium dan sisanya adalah ventrikel. Pada orang awam, atrium dikenal
dengan serambi dan ventrikel dikenal dengan bilik. Kedua atrium
merupakan ruang dengan dinding otot yang tipis karena rendahnya
tekanan yang ditimbulkan oleh atrium. Sebaliknya ventrikel mempunyai
dinding otot yang tebal terutama ventrikel kiri yang mempunyai lapisan
tiga kali lebih tebal dari ventrikel kanan. Kedua atrium dipisahkan oleh
sekat antar atrium (septum interatriorum), sementara kedua ventrikel
dipisahkan oleh sekat antar ventrikel (septum inter-ventrikulorum).
Atrium dan ventrikel pada masing-masing sisi jantung berhubungan satu
sama lain melalui suatu penghubung yang disebut orifisium
atrioventrikuler. Orifisium ini dapat terbuka atau tertutup oleh suatu katup
atrioventrikuler (katup AV). Katup AV sebelah kiri disebut katup bikuspid
(katup mitral) sedangkan katup AV sebelah kanan disebut katup trikuspid.

c. Katup-Katup Jantung
1) Katup Trikuspidalis
Katup trikuspidalis berada diantara atrium kanan dan ventrikel
kanan. Bila katup ini terbuka, maka darah akan mengalir dari atrium
kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid berfungsi mencegah
kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup
pada saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid
terdiri dari 3 daun katup.
2) Katup pulmonal
Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan mengalir dari
dalam ventrikel kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis
bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang akan
berhubungan dengan jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal
trunkus pulmonalis terdapat katup pulmonalis yang terdiri dari 3 daun
katup yang terbuka bila ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila
ventrikel kanan relaksasi, sehingga memungkinkan darah mengalir dari
ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis.
3) Katup bikuspidalis
Katup bikuspid atau katup mitral mengatur aliran darah dari
atrium kiri menuju ventrikel kiri.. Seperti katup trikuspid, katup
bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel. Katup bikuspid terdiri
dari dua daun katup.
4) Katup Aorta
Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang terdapat pada
pangkal aorta. Katup ini akan membuka pada saat ventrikel kiri
berkontraksi sehingga darah akan mengalir keseluruh tubuh.
Sebaliknya katup akan menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi,
sehingga mencegah darah masuk kembali kedalam ventrikel kiri.

d. Komponen Sistem Induksi Jantung


1) Sinoatrial
2) Atrioventrikular
3) RA, LA, RV, LV

e. Peace Meker ( Pusat Picu Jantung )


Fungsi utama jantung adalah memompa darh ke seluruh tubuh
dimana pada saat memompa jantung otot-otot jantung (miokardium) yang
bergerak. Untuk fungsi tersebut, otot jantung mempunyai kemampuan
untuk menimmbulkan rangsangan listrik. Aktifitas kontraksi jantung untuk
memompa darah keseluruh tubuh selalu didahului oleh aktifitas listrik.
Aktifitas listrik inidimulai pada nodus sinoatrial (nodus SA) yang terletak
pada celah antara vena cava suiperior dan atrium kanan. Pada nodus SA
mengawali gelombang depolarisasi secara spontan sehingga menyebabkan
timbulnya potensial aksi yang disebarkan melalui sel-sel otot atrium,
nodus atrioventrikuler (nodus AV), berkas His, serabut Purkinje dan
akhirnya ke seluruh otot ventrikel.

2. Pembuluh Darah
Pembuluh darah adalah bagian dari sistem sirkulasi dan berfungsi
mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Jenis-jenis yang paling penting, arteri dan
vena, juga disebut demikian karena mereka membawa darah keluar atau masuk
ke jantung. Kerja pembuluh darah membantu jantung tuk mengedarkan sel
darah merah atau eritrosit ke seluruh tubuh.dan mengedarkan sarimakanan,
oksigen dan membawa keluar karbon dioksida.
a. Pembuluh Nadi (Arteri)
1) Membawa darah bersih (oksigen) kecuali arteri pulmonalis
2) Mempunyai dinding yang tebal
3) Mempunyai jaringan yang elastic
4) Katup hanya pada pemulaan keluar dari jantung
5) Menunjukkan adanya tempat untuk mendengarkan denyut jantung
6) Pembuluh darah arteri yang terbesar adalah Aorta ( yang keluar dari
ventrikel sinistra) dan arteri pulmonalis (yang keluar dari ventrikel
dekstra).
7) Cabang dari arteri disebut Arteriola yang selanjutnya menjadi kapiler.
8) Arteri membawa darah dari jantung menuju ke seluruh tubuh.
9) Arteri terbesar: aorta.
10) Aorta berasal dari ventrikel kiri jantung, pangkal aorta : aorta
asenden—arcus aorta—aorta desendens (aorta torakalis di rongga
dada dan aorta abdominalis di rongga perut) lalu berakhir sebagai a.
iliaca komunis kiri dan kanan di rongga panggul.
b. Pembuluh Balik (Vena)
1) Mengembalikan darah ke jantung dilengkapi dengan katup
2) Membawa darah kotor (sisa metabolisme dan CO2), kecuali vena
pulmonalis
3) Mempunyai dinding yg tipis
4) Jaringannya kurang elastic
5) Mempunyai katup-katup sepanjang jalan yang mengarah ke jantung
6) Tidak menunjukkan adanya tempat mendengar denyut jantung.
7) Pembuluh darah vena yang ukurannya besar adalah vena kava dan
vena pulmonalis.
8) Cabang dari vena disebut venolus/ venula yang selanjutnya menjadi
kapiler.

c. Kapiler
1) Disebut juga pembuluh rambut
2) Terdiri dari sel-sel endotel
3) Diameter kira-kira 0,008 mm
4) Alat penghubung antara pembuluh darah arteri dan vena
5) Tempat terjadinya pertukaran zat-zat antara darah dan cairan jaringan
6) Mengambil hasil-hasil dari kelenjar
7) Menyerap zat makanan yang terdapat di usus
8) Menyaring darah yang terdapat di ginjal
Semua pembuluh darah kecuali kapiler terdiri atas tiga lapisan yaitu :
a. Tunika intima/ interna, lapisan dalam yang mempunyai lapisan endotel
dan berhubungan dgn darah.
b. Tunika media, lapisan tengah, terdiri dari jaringan otot, sifatnya elastis
dan termasuk otot polos.
c. Tunika adventisia/ eksterna, lapisan luar, terdiri dari jaringan ikat yang
berguna menguatkan dinding arteri (Syaifuddin, 2014)

C. Etiologi/Predisposisi
Menurut penyebabnya ada 2 jenis yaitu:
1. Hipertensi primer (essensial) :
a. Keturunan
b. Umur
c. Psikis
2. Hipertensi sekunder:
a. Penyakit ginjal (glumerulus nephitis akuta/kronika)
b. Tumor dalam rongga kepala
c. Penyakit syaraf
d. Toxemia gravidarum
Factor yang menunjang:
1. Adakah riwayat penyakit system kardiovaskuler atau ginjal sebelumnya
2. Obesitas
3. Aktivitas yang terlalu melelahkan (gerak badan)
4. Emosional/ketegangan mental
5. Umur semakin tua makin bertambah desakan (50-60)
(Arita Murwani, 2009).

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya


perubahan – perubahan pada :
1. Elastisitas dinding aorta menurun
2. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena
kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
5. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
(Nurarif, 2015).

D. Patofisiologi
Tekanan akan sangat mempengaruhi terhadap tingginya desakan darah.
Tekanan ini terjadi pada pembuluh darah perifer. Tahanan terbesar di alami
oleh arteriolae sehingga perbedaan desakan besar bila arteriolae menyempit
akan menaikkan desakan darah. Stadium pertama dari hipertensi sensiil adalah
kenaikan tonus dari arteriolae. (Arita Murwani, 2009).
Hipertensi disebabkan oleh banyak faktor penyebab seperti
penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkim ginjal, berbagai obat,
disfungsi organ, tumor dan kehamilan. Gangguan emosi, obesitas, konsumsi
alkohol yang berlebihan, rangsangan kopi yang berlebihan, tembakau dan
obat-obatan dan faktor keturunan, faktor umur. Faktor penyebab diatas dapat
berpengaruh pada sistem saraf simpatis.
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor pada medula diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis ditoraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui sistem jarak simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang merangsang serabut saraf
pasca ganglion ke pembuluh darah dengan dilepaskannya norepinefrin
mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Pada saat bersamaan sistem saraf
simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi kelenjar
adrenal terangsang, vasokonstriksi bertambah. Medula adrenal mensekresi
epinofrin menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid yang memperkuat respons vasokontriksi dan mengakibatkan
penurunan aliran darah ke ginjal merangsang pelepasan renin. Renin
merangsang pembentukan angiptensin I dan diubah menjadi angiotensin II
yang mengakibatkan retensi natrium dan air yang menimbulkan odema.
Vasokontriksi pembuluh darah juga mengakibatkan peningkatan
tahanan perifer, meningkatnya tekanan arteri juga meningkatkan aliran balik
darah vena ke jantung dalam keadaan ini tubuh akan berkompensasi untuk
meningkatkan curah jantung mengalami penurunan. Hal ini mempengaruhi
suplai O2 miokardium berkurang yang menimbulkan manifestasi klinis
cianosis, nyeri dada/ angina, sesak dan juga mempengaruhi suplai O2 ke otak
sehingga timbul spasme otot sehingga timbul keluhan nyeri kepala/pusing,
sakit pada leher. Tingginya tekanan darah yang terlalu lama akan merusak
pembuluh darah diseluruh tubuh seperti pada mata menimbulkan gangguan
pada penglihatan, jantung, ginjal dan otak karena jantung dipaksa
meningkatkan beban kerja saat memompa melawan tingginya tekanan darah.
Diotak tekanan darah tinggi akan meningkatkan tekanan intra kranial yang
menimbulkan manifestasi klinis penurunan kesadaran, pusing, mual/muntah
dan gangguan pada penglihatan kadang-kadang sampai menimbulkan
kelumpuhan. (Smeltzer, 2012).
Pertimbangan gerontologist, perubahan stuktural dan fungsional pada
sistem pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah
yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat, ddan penurunan dalam relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang pada giliranya menurunkan kemampuan distensi dan
daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang
dipompa oleh jantung ( volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah
jantung dan peningkatan tahan perifer (Brunner & Suddarth, 2012).
Pathway
E. Manifestasi Klinis/ Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :
1. Tekanan darah >140 mmHg sistol
2. Sakit kepala dan pusing
3. Epistaksis
4. Sesak napas
5. Emosi meningkat (tidak labil)
6. Susah tidur
7. Pandangan menjadi kabur kabur
8. Tegang pada leher.
(Mansjoer, 2010)

F. Pemeriksaan Penunjang/ Diagnostik


1. Pemeriksaan penunjang menurut Murwani (2009):
a. Mengukur tekanan darah, pada kedua tangan ketika pasien terlentang dan
tegak setiap 1-2 jam sekali
b. Mengukur berat badan,tinggi badan ( BB ideal, gemuk, obesitas)
c. Pemeriksaan khusus:
1) Jantung ( pada gagal jantung kanan terjadi oedema perifer, sesak napas)
2) ECG
3) Foto Thorax
4) Echocardiogram
5) Pada mata fundus copi (pembuluh darah pada retina menjadi tipis)
d. Pemeriksaan darah : cholesterol, uric acid, gula darah, creatinin, ureum,
clearance, trigliserida, electrolit.
e. Pemeriksaan IVP.
2. Kriteria diagnostik dan pemeriksaan penunjang menurut Nugroho (2011):
a. Kriteria diagnostik:
1) Tekanan darah diatas normal
2) Sebagian kecil mengeluh : sakit kepala, berdebar-debar, dll.
3) Gejala yang muncul tergantung organ yang terkena
b. Pemeriksaan penunjang:
1) Mencari factor resiko: kolesterol serum, trigliserida, gula darah.
2) Mencari komplikasi : ureum, kreatinin, proteinuria, ronsen torak
G. Komplikasi

Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hipertensi diantaranya

adalah:

1. Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, transient

ischemic attack (TIA).

2. Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut

(IMA).

3. Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.

4. Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.

H. Penatalaksanaan
1. Medis
a. Pengobatan hipertensi sekunder lebih mengutamakan pengobatan causal
b. Pengobatan hipertensi primer ditujukan untuk enurunkan tekanan darah
dengan harapan meprpanjang umur dan mengurangi timbulnya komplikasi.
c. Upaya menurnkan tekanan darah ilakukan dengan mengunakan obat anti
hipertensi selain dengan perubaha gaya hidup.
d. Pengobatan hipertensi primer adalah pengobatan jangka panjang dengan
memunkginakn besat untuk seumur hidup.
e. Terapi :
1) Diet rendah garam
2) Penurunan berat badan, olahraga, latihan jiwa ( yoga, dll.)
3) Diuretic
4) Penghambat adrenergic
5) Penyekat alfa 1
6) Penyekat beta
7) Vasodilator
8) Penghambat ACE
9) Penghambat kalsium
f. Penyulit :
1) Perdarahan otak, perdarahan retina, dekompensasi cordis.
2) Stroke, penyakit jantung, gagal ginjal.
g. Lama Perawatan : 1 minggu.

2. Keperawatan
a. Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
1) Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
2) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
3) Penurunan berat badan
4) Penurunan asupan etanol
5) Menghentikan merokok
b. Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk
penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu :
1) Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,
bersepeda, berenang dan lain-lain
2) Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau
72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
3) Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan
4) Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu
c. Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
1) Tehnik Biofeedback --> Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai
untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh
yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. Penerapan
biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti
nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis seperti
kecemasan dan ketegangan.
2) Tehnik relaksasi --> Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang
bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh
menjadi rileks
d. Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien
tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat
mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
e. Kolaborasi dengan dokter mengenai terapi obat dan fisioterapi (Pudiastuti,
2011).

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan
Adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah kebutuhan perawat bagi
klien.
1. Biodata yang berisi identitas klien : Nama, umur, jenis kelamin, suku
bangsa, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, serta identitas
penanggung jawab dari klien
2. Alasan masuk rumah sakit : Pasien dengan hipertensi biasanya
mengeluh pusing dan nyeri kepala
3. Riwayat kesehatan sekarang : Pasien biasanya mengeluh merasakan
pusing dan nyeri yang terasa berat di tengkuk dan gejala tidak berhenti
setelah pasien melakukan aktivitas bahkan setelah pasien beristirahat
4. Riwayat kesehatan dahulu : Menggambarkan keadaan kesehatan
sebelum klien di rawat di rumah sakit.
5. Riwayat kesehatan keluarga yang berisi genogram tiga generasi yang
menggambarkan adanya anggota keluarga yang mengidap riwayat penyakit
yang sama. Pada pasien hipertensi biasanya ada/anggota keluarga yang
mempunyai riwayat hipertensi.
6. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan :
Tanyakan kepada klien pendapatnya mengenai kesehatan dan
penyakit. Apakah pasien langsung mencari pengobatan atau menunggu
sampai penyakit tersebut mengganggu aktivitas pasien. Pada pasien dengan
hipertensi ditanyakan apakah mempunyai kebiasaan merokok, minum
minuman beralkohol dan bagaimana cara pasien memelihara kesehatannya.
b. Pola Nutrisi dan Metabolik
Tanyakan bagaimana pola dan porsi makan sehari-hari pasien ( pagi,
siang dan malam ), bagaimana nafsu makan pasien, apakah ada mual
muntah, pantangan atau alergi. Tanyakan apakah klien mengalami
gangguan dalam menelan. Tanyakan apakah klien sering mengkonsumsi
buah-buahan dan sayur-sayuran yang mengandung vitamin antioksidant.
Pada Pasien hipertensi perlu ditanyakan apakah sering mengkonsumsi
makanan yang tinggi akan kadar garam seperti ikan asin, dan apakah pasien
sangat sering mengkonsumsi kopi atau minuman bersoda.
c. Pola Aktivitas dan Latihan
Pada pasien hipertensi biasanya mengalami kelemahan, letih, napas
pendek, gaya hidup monoton
d. Pola Tidur dan Istirahat
Tanyakan lama, kebiasaan dan kualitas tidur pasien. Masalah Pola
Tidur : Tanyakan apakah terjadi masalah istirahat/tidur yang berhubungan
dengan penyakit hipertensi, bagaimana perasaan klien setelah bangun
tidur? Apakah merasa segar atau tidak atau merasa pusing? Biasanya pasien
dengan hipertensi mengalami gangguan tidur
e. Pola Eliminasi
Tanyakan bagaimana pola BAK dan BAB, warna dan
karakteristiknya. Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin dan
defekasi. Adakah masalah dalam proses miksi dan defekasi, adakah
penggunaan alat bantu untuk miksi dan defekasi.
f. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Tanyakan pada klien bagaimana klien menggambarkan dirinya
sendiri, apakah penyakit yang menimpa klien mengubah gambaran dirinya,
tanyakan apa yang menjadi pikiran bagi klien, apakah merasa cemas,
depresi atau takut, Apakah ada hal yang menjadi pikirannya. Biasanya klien
dengan hipertensi merasa cemas, banyak pikiran dan gelisah.
g. Pola Peran Hubungan
Tanyakan apa pekerjaan pasien, tanyakan tentang system
pendukung dalam kehidupan klien seperti: pasangan, teman, dll. Tanyakan
apakah ada masalah keluarga berkenaan dengan perawatan penyakit klien.
h. Pola Seksualitas/Reproduksi
Tanyakan masalah seksual klien yang berhubungan dengan
penyakitnya, tanyakan apakah klien sudah menopause dan masalah
kesehatan terkait dengan menopause, tanyakan apakah klien mengalami
kesulitan/ perubahan dalam pemenuhan kebutuhan seks.
i. Pola Manajemen Koping
Tanyakan dan kaji perhatian utama selama dirawat di RS ( financial
atau perawatan diri ), kaji keadan emosi klien sehari-hari dan bagaimana
klien mengatasi kecemasannya (mekanisme koping klien ). Apakah ada
penggunaan obat untuk penghilang stress atau klien sering berbagi
masalahnya dengan orang-orang terdekat.
j. Pola Kognitif Perseptual
Kaji status mental klien, kaji kemampuan berkomunikasi dan
kemampuan klien dalam memahami sesuatu, kaji tingkat ansietas klien
berdasarkan ekspresi wajah, nada bicara klien. Identifikasi penyebab
kecemasan klien.
k. Pola Nilai & Kepercayaan
Tanyakan agama klien dan apakah ada pantangan-pantangan dalam
beragama serta seberapa taat klien menjalankan ajaran agamanya. Orang
yang dekat kepada Tuhannya lebih berfikiran positif.
7. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi : Pasien tampak lemah, pucat, adanya sianosis, pasien tampak
sesak (adanya pernafasan cuping hidung, tampak ada retraksi dada, RR
> 16 - 20 kali/menit), tampak odema pada ekstremitas.
b. Palpasi : Tekanan darah >160/90 mmHg, turgor kulit >2 detik, CRT >
2 detik, nadi teraba kuat, jelas, dan cepat, pembesaran ginjal.
c. Perkusi : Suara dullness pada paru.
d. Auskultasi : Terdengar suara jantung S3S4, terdengar suara crackles
pada paru, terdengar suara bruit pada abdomen.
2. Masalah Keperawatan

1. Ketidakefektifan pola napas b.d. hiperventilasi, keletihan, nyeri, obesitas,


ansietas.
2. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d. hipertensi, gaya hidup kurang
gerak, merokok.
3. Kelebihan volume cairan b.d. gangguan mekanisme regulasi, kelebihan asupan
natrium, kelebihan asupan cairan.
4. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera (biologis, fisik, kimiawi).
5. Intoleransi aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen, gaya hidup kurang gerak.
6. Resiko penurunan curah jantung b.d. perubahan afterload.
7. Resiko jatuh b.d. gangguan visual, penyakit vascular.
(NANDA, 2015-2017)
TUJUAN &
DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI
KRITERIA HASIL
NOC NIC
1. Ketidakefektifan pola napas A. Outcome untuk mengukur penyelesaian Intervensi keperawatan yang disarankan untuk
Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak dari diagnosis menyelesaikan masalah:
memberi ventilasi adekuat. 1. Respon penyapihan ventilasi mekanik: 1. Manajemen jalan napas
Batasan karakteristik: dewasa a. Buka jalan nafas dengan teknik chin lift atau jaw thrust,
1. Bradipnea 2. Status pernafasan sebagaimana mestinya
2. Dispnea 3. Status pernafasan: ventilasi b. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
3. Fase ekspirasi memanjang B. Outcome tambahan untuk mengukur c. Identifikasi kebutuhan actual/potensial pasien untuk
4. Ortopnea memasukkan alat membuka jalan nafas
batasan karakteristik
5. Penggunaan otot bantu pernapasan d. Masukkan alat nasopharyngeal airway (NPA) atau
1. Respon alergi: sistemik
6. Penggunaan posisi tiga-titik oropharyngeal airway (OPA), sebagaimana mestinya
2. Status pernafasan: kepatenan jalan nafas
7. Peningkatan diameter anterior-posterior e. Lakukan fisioterapi dada, sebagaimana mestinya
3. Status pernafasan: pertukaran gas f. Buang secret dengan memotivasi pasien untuk melakukan
8. Penurunan kapasitas vital
4. Keparahan syok: anafilaksis batuk atau menyedot lender
9. Penurunan tekanan ekspirasi
C. Outcome yang berkaitan dengan faktor g. Motivasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, berputar dan
10. Penurunan tekanan inspirasi
11. Penurunan ventilasi semenit yang berhubungan atau oucome batuk
12. Pernapasan bibir menengah h. Intruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk efektif
13. Pernapasan cuping hidung 1. Keparahan respirasi asidosis akut i. Bantu dengan dorongan spirometer, sebagaimana mestinya
14. Perubahan ekskursi dada 2. Keparahan respiratori alkalosis akut j. Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun
15. Pola napas abnormal (mis., irama, 3. Tingkat kecemasan atau tidak ada dan adanya suara tambahan
frekuensi, kedalaman) 4. Kognisi k. Lakukan penyedotan melalui endotrakea atau nasotrakea,
16. Takipnea 5. Konservasi energy sebagaimana mestinya
Faktor yang berhubungan: 6. Kelelahan: efek yang mengganggu l. Kelola pemberian bronkodilator, sebagaimana mestinya
1. Ansietas 7. Tingkat kelelahan m. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler sesuai resep,
2. Cedera medulla spinalis sebagaimana mestinya
8. Status neurologi: ortonomik
3. Deformitas dinding dada n. Kelola pengobatan aerosol, sebagaimana mestinya
9. Status neurologi: sensori tulang
4. Deformitas tulang o. Kelola nebulizer ultrasonic, sebagaimana mestinya
punggung/fungsi motorik
5. Disfungsi neuromuscular p. Kelola udara atau oksigen yang dilembabkan, sebagaimana
10. Tingkat nyeri mestinya
6. Gangguan muskulokeletal 11. Organisasi (pengelolaan) bayi premature
7. Gangguan neurologis (mis., q. Regulasi asupan cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan
12. Manajemen diri: asma cairan
elektroensefalogram [EEG] positif, trauma
13. Manajemen diri: penyakit paru obstruktif r. Posisikan untuk meringankan sesak napas
kepala, gangguan kejang)
8. Hiperventilasi kronik s. Monitor status pernapasan dan oksigenasi, sebagaimana
9. Imaturitas neurologis 14. Perilaku berhenti merokok mestinya
10. Keletihan 15. Berat badan: massa tubuh 2. Penghisapan lendir pada jalan napas
11. Keletihan otot pernapasan a. Lakukan tindakan cuci tangan
12. Nyeri b. Gunakan pelindung diri
13. Obesitas c. Informasikan kepada keluarga pentingnya tindakan
14. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi suction
paru d. Gunakan alat steril setiap tindakan suction trakea
15. Sindrom hipoventilasi 3. Manajemen alergi
4. Manajemen anafilaksis
5. Pengurangan kecemasan
6. Manajemen jalan nafas buatan
7. Manajemen asma
a. Tentukan dasar status pernapasan sebagai titik
pembanding
b. Dokumentasikan pengukuran dasar dalam catatan klinik
c. Bandingkan status saat ini dengan sebelumnya
d. Dapatkan pengukuran spirometri sebelum dan setelah
penggunaan bronkodilator
e. Monitor reaksi asma
f. Ajarkan teknik bernapas/relaksasi
g. Berikan pengobatan dengan tepat
8. Manajemen batuk
9. Manajemen ventilasi mekanik: invasive
10. Manajemen ventilasi mekanik: non invasif
11. Manajemen ventilasi mekanik: pencegahan pneumonia
12. Penyapihan ventilasi mekanik
13. Pemberian obat
14. Pemberian obat: hidung
15. Terapi oksigen
a. Bersihkan mulut, hidung, dan sekresi trakea dengan tepat
b. Batasi (aktivitas) merokok
c. Pertahankan kepatenan jalan napas
d. Siapkan peralatan oksigen dan berikan melalui system
humidifier
e. Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan
f. Monitor aliran oksigen
g. Monitor posisi perangkat (alat) pemberian oksigen
h. Monitor efektifitas terapi oksigen (mis., tekanan oksimetri,
ABGs) dengan tepat
i. Pastikan penggantian masker oksigen/kanul nasal setiap kali
perangkat diganti
j. Rubah perangkat pemberian oksigen dari masker ke kanul
nasal saat makan
k. Amati tanda-tanda hipoventilasi induksi oksigen
l. Pantau adanya tanda keracunan oksigen dan kejadian
atelektasis
m. Sediakan oksigen ketika pasien dibawa/dipindahkan
16. Monitor pernapasan
a. Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan bernafas
b. Catat pergerakan dada, catat ketidaksimetrisan, penggunaan
otot bantu nafas, dan retraksi pada otot supraclaviculas dan
interkosta
c. Monitor suara nafas tambahan seperti ngorok atau mengi
d. Monitor pola nafas (mis., bradipneau, takipneau,
hiperventilasi, pernafasan kusmaul, pernafasan 1:1,
apneustik, respirasi biot, dan pola ataxic)
e. Monitor saturasi oksigen pada pasien yang tersedasi (seperti,
SaO2, SvO2, SpO2) sesuai dengan protocol yang ada
f. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
g. Perkusi toraks anterior dan posterior, dari apeks ke basis
paru, kanan dan kiri
h. Catat lokasi trakea
i. Monitor kelelahan otot-otot diapragma dengan pergerakan
parasoksikal
j. Auskultasi suara nafas, catat area dimana terjadinya
penurunan atau tidak adanya ventilasi dan keberadaan suara
nafas tambahan
k. Monitor kemampuan batuk efektif pasien
l. Monitor sekresi pernapasan pasien
m. Monitor keluhan sesak napas pasien, termasuk kegiatan yang
meningkatkan atau memperburuk sesak nafas tersebut
17. Surveilans
a. Kaji resiko kesehatan pasien dengan tepat
b. Kaji adanya tanda-tanda awal yang harus di tangani
c. Monitor kestabilan pasien yang kritis
18. Bantuan ventilasi
19. Monitor tanda-tanda vital
Pilihan intervensi tambahan:
1. Monitor asam basa
2. Stabilisasi dan membuka jalan nafas
3. Pemberian analgesic
4. Pencegahan aspirasi
5. Fisioterapi dada
6. Perawatan gawat darurat
7. Dukungan emosional
8. Ekstubasi endotrakea
9. Manajemen energy
10. Monitor cairan
11. Manajemen pengobatan
12. Monitor neurologi
13. Manajemen nyeri
14. Phlebotomy: sampel darah arteri
15. Phlebotomy: sampel darah vena
16. Pengaturan posisi
17. Menghadirkan diri
18. Relaksasi otot progresif
19. Resusitasi
20. Bantuan penghentian merokok
21. Perawatan selang: dada
2. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Perifer A. Outcome untuk mengukur penyelesaian A. Intervensi keperawatan yang disarankan untuk menyelesaikan
Definisi: Penurunan sirkulasi darah ke perifer yang dari diagnosis masalah:
dapat mengganggu kesehatan 1. Perfusi jaringan : perifer 1. Manajemen asam basa
B. Outcome tambahan untuk mengukur a. Pertahankan kepatenanan jalan nafas
Batasan Karakteristik: batasan karakteristik b. Posisikan klien untuk mendapatkan ventilasi yang
1. Tidak ada nadi perifer 1. Ambulasi adekuat
2. Perubahan fungsi motoric 2. Status sirkulasi c. Monitor gas darah arteri
3. Perubahan karakteristik kulit 3. koordinasi pergerakan d. Monitor pola pernafasan
2. Monitor asam-basa
(warna, elastisitas, rambut, 4. Keparahan cairan berlebihan
3. Tes laboratorium di samping tempat tidur
kelembapan, kuku, sensasi, suhu) 5. Tingkat nyeri
4. Perawatan sirkulasi: insufisiensi arteri
4. Indeks ankle-brakhial <0,90 6. Keparahan penyakit arteri perifer
a. Lakukan pemeriksaan fisik sistem kardiovaskuler
5. Perubahan tekanan darah di 7. Fungsi sensori : taktil atau penilaian yang komperensif pada sirkulasi
ekstremitas 8. Integritas jaringan : kulit & perifer
6. Waktu pengisian kapiler >3 detik membrane mukosa b. Insfeksi kulit untuk adanya luka pada arteri
7. Klaudikasi intermitten 9. Perfusi jaringan c. Monitor tingkat ketidaknyamanan
8. Warna tidak kembali ke tungkai 1 10. Perfusi jaringan : seluler d. Ubah posisi pasien setidaknya setiap 2 jam dengan
menit saat tungkai diturunkan 11. Tanda-tanda vital tepat
9. Kelambatan penyembuhan luka 12. Penyembuhan luka : primer 5. Perawatan sirkulasi: alat bantu mekanik
perifer 13. Penyembuhan luka : sekunder 6. Perawatan sirkulasi: insufisiensi vena
10. Penurunan nadi perifer C. Outcome berkaitan dengan faktor yang a. Lakukan penilaian sirkulasi perifer secara komprehensif
11. Edema berhubungan atau outcome menengah b. Nilai udem dan nadi perifer
12. Nyeri ekstremitas 1. Koagulasi darah c. Inspeksi kulit apakah terdapat luka tekan atau jaringan
13. Bruit femoral 2. Keefektifan pompa jantung yang tidak utuh
14. Pemendekan jarak total yang 3. Partisipasi latihan d. Monitor level ketidaknyamanan atau nyeri
e. Tinggikan kaki 20˚ atau lebih tinggi dari jantung
ditempuh dalam uji berjalan 6 menit 4. Keparahan hipertensi
f. Ubah posisi tiap 2 jam sekali
15. Pemendekan jarak bebas nyeri yang 5. Pengetahuan : manajemen penyakit
g. Dukung latihan ROM pasif dan aktif
ditempuh dalam uji berjalan 6 kronis
menit 6. Pengetahuan : manajemen diabetes 7. Perawatan sirkumsisi
16. Parastesia 7. Pengetahuan : proses penyakit a. Verivikasi bahwa ijin untuk dilakukan pembedahan
17. Warna kulit pucat saat elevasi 8. Pengetahuan : promosi kesehatan telah di tandatangani
9. Pengetahuan : diet sehat b. Berikan pengontrol nyeri sebelum prosedur sekitar 1
Factor yang berhubungan: 10. Pengetahuan : manajemen hipertensi jam
1. Kurang pengetahuan tentang factor 11. Pengetahuan : manajemen gangguan c. Posisikan pasien pada posisi yang nyaman selama
pemberat (mis., merokok, gaya lipid prosedur
hidup monoton, trauma, obesitas, 12. Pengetahuan : manajemen penyakit d. Monitor tanda-tanda vital
8. Perawatan gawat darurat
asupan garam, imobilitas) arteri perifer
9. Manajemen elektrolit/cairan
2. Kurang pengetahuan tentang proses 13. Pergerakan
10. Manajemen cairan
penyakit (mis.,diabetes, 14. Keparahan cedera fisik
11. Monitor cairan
hyperlipidemia) 15. Manajemen diri : diabetes 12. Perawatan kaki
3. Diabetes mellitus 16. Manajemen diri : hipertensi 13. Pengaturan hemodinamik
4. Hipertensi 17. Manajemen diri : kelainan lipid 14. Manajemen hipervolemia
5. Gaya hidup kurang gerak 18. Manajemen diri : penyakit arteri 15. Manjemen hipovolemia
6. Merokok perifer 16. Monitor hemodinamik invasive
19. Perilaku berhenti merokok 17. Interpretasi data laboratorium
20. Berat badan : massa tubuh 18. Monitor ekstremitas bawah
19. Monitor neurologi
20. Manajemen nutrisi
21. Terapi oksigen
a. Bersihkan mulut, hidung, dan sekresi trakea dengan tepat
b. Batasi (aktivitas) merokok
c. Pertahankan kepatenan jalan napas
d. Siapkan peralatan oksigen dan berikan melalui system
humidifier
e. Berikan oksigen tambahan seperti yang diperintahkan
f. Monitor aliran oksigen
g. Monitor posisi perangkat (alat) pemberian oksigen
h. Monitor efektifitas terapi oksigen (mis., tekanan
oksimetri, ABGs) dengan tepat
i. Pastikan penggantian masker oksigen/kanul nasal setiap
kali perangkat diganti
j. Rubah perangkat pemberian oksigen dari masker ke kanul
nasal saat makan
k. Amati tanda-tanda hipoventilasi induksi oksigen
l. Pantau adanya tanda keracunan oksigen dan kejadian
atelektasis
m. Sediakan oksigen ketika pasien dibawa/dipindahkan
22. Manajemen sensasi perifer
a. Monitor sensasi tumpul atau tajam dan panas atau dingin
b. Monitor adanya parasthesia dengan tepat
c. Gunakan alat yang dapat mengurangi penekanan yang
sesuai
d. Imobilisasikan kepala, leher dan punggung dengan tepat
e. Monitor tromboplebitis dan tromboemboli pada vena
23. Perlindungan terhadap torniket pneumatic
24. Pengaturan posisi
a. Berikan matras yang lembut
b. Dorong pasien untuk terlibat dalam perubahan posisi
c. Monitor status oksigenasi
d. Tempatkan pasien pada posisi terapeutik yang sudah
di rancang
e. Posisikan pasien untuk mengurangi dyspnea
25. Pencegahan luka tekan
26. Resusitasi
27. Resusitasi : neonates
28. Manajemen syok
29. Manajemen syok: jantung
30. Manajemen syok: vasogenik
31. Pengecekan kulit
a. Monitor warna dan suhu kulit
b. Monitor kulit untuk adanya kekeringan yang
berlebihan
c. Monitor sumbertekanan dan gesekan
d. Monitor infeksi terutama dari daerah edema
32. Bantuan berhenti merokok
33. Pengajaran: proses penyakit
34. Monitor tanda-tanda vital
B. Pilihan intervensi tambahan :
1. Perawatan emboli : perifer
2. Pencegahan emboli
3. Peningkatan latihan
4. Terapi latihan: ambulasi
5. Terapi latihan: keseimbangan
6. Terapi latihan: pergerakan sendi
7. Terapi latihan: control otot
8. Pemasangan infuse
9. Terapi intravena (IV)
10. Pemberian obat
11. Manajemen pengobatan
12. Manajemen nyeri
13. Perawatan penyisipan kateter sentral perifer
14. Phlebotomy: sampel darah arteri
15. Phlebotomy: pembuluh darah yang terkanulasi
16. Phlebotomy: sampel darah vena
17. Surveilans
18. Pengaturan suhu
19. Pemberian nutrisi total parenteral (TPN)
3. Kelebihan volume cairan A. Outcome untuk mengukur penyelesaian Intervensi keperawatab yang disarankan untuk menyelesaikan masalah:
Definisi: peningkatan retensi cairan isotonik dari diagnosis
1. Manajemen asam basa
Batasan Karakteristik: 1. Keseimbangan cairan
2. Manajemen elektrolit
1. Ada bunyi jantung S3 B. Outcome tambahan untuk mengukur 3. Manajemen elektrolit: hiperkalsemia
2. Anasarka batasan karakteristik 4. Manajemen elektrolit: hiperkalemia
3. Ansietas 1. Tingkat agitasi 5. Manajemen elektrolit: hipermagnesemia
4. Asupan melebihi haluaran 2. Tingkat kecemasan 6. Manajemen elektrolit: hipernatremia
5. Azotemia 3. Status jantung paru 7. Manajemen elektrolit: hiperfosfatemia
6. Bunyi napas tambahan 4. Tingkat delirium 8. Manajemen elektrolit: hipokalsemia
7. Dispneu 5. Keseimbangan elektrolit 9. Manajemen elektrolit: hipokalemia
8. Dispneu nocturnal paroksismal 6. Keparahan hipertensi 10. Manajemen elektrolit: hipomagnesemia
9. Distensi vena jugularis 7. Status pernapasan 11. Manajemen elektrolit: hiponatremia
10. Edema 8. Status pernapasan: pertukaran gas 12. Manajemen elektrolit: hipofosfatemia
11. Efusi pleura 9. Status pernapasan: ventilasi 13. Monitor elektrolit
12. Gangguan pola napas 10. Eliminasi urin 14. Manajemen elektrolit/cairan
13. Gangguan tekanan darah 11. Tanda-tanda vital
15. Manajemen cairan
a. Timbang berat badan setiap hari dan monitor status
14. Gelisah 12. Berat badan: massa tubuh
pasien
15. Hepatomegali C. Outcome yang berkaitan dengan faktor
b. Hitung atau timbang popok dengan baik
16. Ketidakseimbangan elektrolit yang berhubungan atau oucome c. Jaga intake/asupan yang akurat dan dan catat output
17. Kongesti pulmonal menengah d. Masukkan kateter urin
18. Oliguria 1. Keefektifan pompa jantung e. Monitor status hidrasi (mis, membrane mukosa lembat,
19. Ortopneau 2. Perilaku patuh: diet yang disarankan denyut nadi adekuat, dan TD ortostatik)
20. Penambahan berat badan dalam 3. Keseimbangan elektrolit & f. Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensi
waktu sangat singkat asam/basa cairan
21. Peningkatan tekanan vena sentral 4. Keparahan cairan berlebihan g. Monitor status hemodinamik
22. Penurunan hematokrit 5. Keparahan hipernatremia h. Monitor tanda-tanda vital
23. Penurunan hemoglobin 6. Fungsi ginjal i. Monitor indikasi kelebihan cairan/retensi
24. Perubahan berat jenis urine 7. Pengetahuan: manajemen gagal j. Monitor perubahan berat badan pasien sebelum dan
25. Perubahan status mental jantung setelah dialysis
26. Perubahan tekanan arteri pulmonal 8. Pengetahuan: manajemen hipertensi k. Kaji lokasi dan luasnya edema, jika ada
27. Refleks hepatojugular positif 9. Status nutrisi: asupan makanan & l. Monitor makanan/cairan yang dikonsumsi dan hitung
Factor yang berhubungan: cairan asupan kalori harian
2. Gangguan mekanisme regulasi 10. Status nutrisi: asupan nutrisi m. Berikan terapi IV, seperti yang ditentukan
3. Kelebihan asupan cairan 11. Manajemen diri: gagal jantung
n. Monitor status gizi
o. Berikan cairan, dengan tepat
4. Kelebihan asupan natrium 12. Manajemen diri: hipertensi
p. Berikan diuretic yang diresepkan
q. Berikan cairan IV sesuai suhu kamar
r. Tingkatkan asupan oral
s. Arahkan pasien mengenai status NPO
t. Berikan penggantian nasogastrik yang diresepkan
berdasarkan output pasien
u. Distribusikan asupan cairan selama 24 jam
v. Dukung pasien dan keluarga untuk membantu dalam
pemberian makan dengan baik
w. Tawari makanan ringan
x. Konsultasikan dengan dokter jika tanda-tanda dan gejala
kelebihan volume cairan menetap atau memburuk
y. Atur ketersediaan produk darah untuk transfusi, jika perlu
z. Berikan produk-produk darah
16. Manajemen hipervolemia
a. Monitor berat badan tiap hari di waktu yang sama
b. Monitor status hemodinamik
c. Monitor pola pernapasan untuk mengetahui adanya gejala
edema pilmonar
d. Monitor suara paru abnormal
e. Monitor suara jantung abnormal
f. Monitor distensi vena jugularis
g. Monitor edema perifer
h. Monitor data laboratorium yang menandakan adanya
hemokonsentrasi
i. Monitor data laboratorium yang menandakan adanya
potensi terjadinya peningkatan tekanan onkolitik plasma
j. Monitor data laboratorium tentang penyebab yang
mendasari terjadinya hipervolemia
k. Monitor intake dan output
l. Berikan obat yang diresepkan untuk mengurangi preload
m. Monitor tanda berkurangnya preload
n. Monitor adanya efek pengobatan yang berlebihan
o. Instruksikan pasien mengenai penggunaan obat untuk
mengurangi preload
p. Berikan infuse IV secara perlahan untuk mencegah
peningkatan preload yang cepat
q. Batasi intake cairan bebas pada pasien dengan
hyponatremia dilusi
r. Hindari penggunaan cairan IV hipotonik
s. Tinggikan kepala tempat tidur untuk memperbaiki
ventilasi, sesuai kebutuhan
t. Siapkan pasien untukdilakukan dialysis, sesuai kebutuhan
u. Pertahankan alat akses vascular dialysis
v. Reposisi pasien dengan edema dependent secara teratur,
sesuai kebutuhan
w. Monitor integritas kulit pada pasien yang mengalami
imobilisasi dengan edema dependent
x. Tingkatkan integritas kulit pada pasien yang mengalami
imobilisasi dengan edema dependent, sesuai kebutuhan
y. Instruksikan pasien dan keluarga penggunaan catatan
asupan dan output, sesuai kebutuhan
z. Batasi asupan natrium, sesuai indikasi
17. Pemasangan infuse
18. Terapi intravena (IV)
19. Monitor tanda-tanda vital
Pilihan intervensi tambahan:
1. Sampel darah kapiler
2. Manajemen edema serebral
3. Pemeliharaan akses dialysis
4. Manajemen disritmia
5. Pemberian makan
6. Intubasi gastrointestinal
7. Terapi hemodialisa
8. Pengaturan hemodinamik
9. Monitor hemodinamik invasive
10. Manajemen pengobatan
11. Monitor neurologi
12. Manajemen nutrisi
13. Perawatan penyisipan kateter sentral perifer
14. Terapi dialisa peritoneal
15. Phlebotomi: sampel darah arteri
16. Phlebotomi: pembuluh darah yang terkanulasi
17. Phlebotomi: sampel darah vena
18. Pengaturan posisi
19. Pengecekan kulit
20. Pemberian nutrisi total parenteral (TPN)
21. Perawatan selang: gastrointestinal
22. Kateterisasi urin
23. Manajemen berat badan
24. Perawatan luka
4. Nyeri Akut NOC NIC

Definisi: pengalaman sensori dan emosional Outcome untuk mengukur penyelesaian 1. Akupressur
2. Pemberian anlagesik
tidak menyenangkan yang muncul dari diagnosa a. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, keparahan nyeri
akibat kerusakan jaringan aktual atau sebelum mengobati pasien
 Kontrol Nyeri b. Cek adanya riwayat alergi obat
pontensial atau yang digambarkan c. Pilih analgesic atau kombinasi analgesic yang sesuai ketika
 Tingkat Nyeri lebih dari satu diberikan
sebagai kerusakan (International
Ooutcome tambahan untuk mengukur 3. Pemberian analgesik: intraspinal
Association for the Study of Pain); 4. Pemberian anastesi
batasan karakterisktik 5. Pengurangan kecemasan
awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
a. Gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan
intensitas ringan hingga berat dengan  Tingkat Kecemasan b. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku klien
c. Jelaskan semua tentang prosedur dan sensai yang akan
akhir yang dapat diantisipasi atau  Nafsu Makan
dirasakan
 Kepuasan Klien: Manajemen Nyeri d. Berada di sisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan
diprediksi  Kepuasan Klien: Kontrol Gejala mengurangi ketakutan
e. Dengarkan klien
 Status Kenyamanan 6. Stimulasi kutaneus
Batasan Karakteristik:
 Tingkat Ketidaknyamanan 7. Manajemen lingkungan: kenyamanan
8. Pengurangan perut kembung
 Bukti nyeri dengan mengguanakan  Pergerakan 9. Aplikasi panas/dingin
standar daftar periksa nyeri untuk  Keparahan Mual & Muntah 10. Pemberian obat
11. Pemberian obat: intramuskular (IM)
pasien yang tidak dapat  Nyeri: Respon Psikologis Tambahan 12. Pemberian obat: intravena (IV)
mengungkapkannya (mis., Neonatal 13. Pemberian obat: oral
 Nyeri: Efek Yang Mengganggu
14. Manajemen pengobatan
Infant Pain Scale, Pain Assessment
 Tidur 15. Peresepan obat
Checklist for Senior with Limited 16. Manajemen Nyeri
 Kontrol Gejala a. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi
Ability to Communicate)
 Keparahan Gejala lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
 Diaforesis atau beratnya nyeri dan factor pencetus
 Tanda-tanda Vital b. Pastikan perawatan analgesic bagi pasien dilakukan
 Dilatasi pupil dengan pemantauan yang ketat
Outcome yang berkaitan dengan faktor
 Ekspresi wajah nyeri (mis., mata c. Gali pengetahuan dan kepercayaan pasien mengenai nyeri
yang berhubungan atau outcome menengah d. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri,
kurang bercahaya, tampak kacau, berapa lama nyeri akan dirasakan dan antisipasi akibat
gerakan mata berpencar atau tetap pada  Pemulihan Luka Bakar ketidaknyamanan akibat prosedur
e. Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi
satu fokus, meringis)  Fungsi Gastrointestinal
respon pasien terhadap ketidaknyamanan
 Fokus menyempit (mis., persepsi  Fungsi Ginjal f. Ajarkan prinsip – prinsip manajemen nyeri
g. Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat dan tim
waktu, proses berpikir, interaksi dengan  Pengetahuan: Manajemen Penyakit kesehatan lainnya untuk memilih dan
orang dan lingkungan) Akut mengimplementasikan tindakan penurunan nyeri
nonfarmakologi dan farmakologi
 Fokus pada diri sendiri  Pengetahuan: Manajemen Penyakit 17. Bantuan pasien untuk mengontrol pemberian analgesik
 Keluhan tentang intensitas Peradangan Usus 18. Manajemen prolaps rektum
19. Manajemen Sedasi
menggunakan standar skala nyeri (mis.,  Pengetahuan: Manajemen Nyeri 20. Stimulasi listrik syaraf transkutaneus (TENS)
Pilihan Intervensi Tambahan:
skala Wong-Baker FACES, skala  Respon Pengobatan
1. Mendengar aktif
analog visual, skala penilaian numerik)  Status Neurologi 2. Terapi bantuan hewan
 3. Latihan autogenik
Keluhan tentang karakteristik nyeri  Keparahan Cedera Fisik 4. Memandikan
dengan menggunakan standar  Manajemen Diri: Penyakit Akut 5. Biofeedback
instrumen nyeri (mis., McGill Pain 6. Peningkatan mekanika tubuh
 Tingkat Stres 7. Manajemen saluran cerna
Questionnaire, Brief Pain Inventory)  Pemulihan Pembedahan: 8. Peningkatan koping
9. Pengalihan
 Laporan tentang perilaku nyeri/ Penyembuhan 10. Dukungan emosional
perubahan aktivitas (mis., anggota  Pemulihan Pembedahan: Segera 11. Manajemen energi
12. Manajemen lingkungan
keluarga, pemberi asuhan) Setelah Operasi 13. Peningkatan latihan
 Mengekspresikan perilaku (mis.,  Integritas Jaringan: Kulit & Membran 14. Peningkatan latihan: peregangan
15. Terapi latihan: ambulasi
gelisah, merengek, menangis, waspada) Mukosa 16. Terapi latihan: keseimbangan
 Perilaku distraksi  Perfusi Jaringan
17. Terapi latihan: pergerakan sendi
18. Terapi latihan: kontrol otot
 Perubahan pada parameter fisiologis  Perfusi Jaringan: Organ Abdominal 19. Fasilitasi proses berduka
(mis., tekanan darah, frekuensi jantung, 20. Imajinasi terbimbing
 Perfusi Jaringan: Kardiak 21. Inspirasi harapan
frekuensi pernafasan, saturasi oksigen,
 Perfusi Jaringan: Seluler 22. Humor
dan endtidal karbon dioksida [CO2]) 23. Hipnosis
 Perfusi Jaringan: Perifer 24. Perawatan intrapartum: risiko tinggi melahirkan
 Perubahan posisi untuk menghindari 25. Supresi laktasi
 Penyembuhan Luka: Primer
nyeri 26. Pemijatan
 Penyembuhan Luka: Sekunder 27. Fasilitasi meditasi
 Perubahan selera makan 28. Terapi musik
 Putus asa 29. Pemulihan kesehatan mulut
30. Terapi oksigen
 Sikap melindungi area nyeri 31. Pengaturan posisi
32. Perawtan paska anastesi
 Sikap tubuh melindungi 33. Persiapan informasi sensorik
Faktor yang Berhubungan : 34. Menghadirkan diri
35. Relaksasi otot progresif
 Agens cedera biologis (mis., infeksi, 36. Terapi relaksasi
37. Peningkatan keamanan
iskemia, neoplasma) 38. Fasilitasi hipnosis diri
39. Peningkatan tidur
 Agens cedera fisik (mis., abses,
40. Bermain terapeutik
amputasi, luka bakar, terpotong, 41. Sentuhan terapeutik
42. Sentuhan
mengangkat berat, prosedur bedah,
43. Monitor tanda tanda vital
trauma, olahraga berlebihan)
 Agens cedera kimiawi (mis., luka
bakar, kapsaisin, metilen klorida, agens
mustard)

5. Intoleran Aktivitas Outcome untuk mengukur penyelesaian dari Intervensi keperawatan yang disarankan untuk
Definisi: Ketidakcukupan energy psikologis atau diagnosis menyelesaikan masalah:
fisiologis untuk mempertahankan atau 1. Toleransi terhadap aktivitas 1. Terapi aktivitas
menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari- a. Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi
2. Daya tahan
hari yang harus atau yang ingin dilakukan melalui kegiatan spesifik
3. Energy psikomotor b. Berkolaborasi dengan (ahli) terapis fisik, okupasi, dan terapis
Batasan karakteristik: rekreasional dalam perencanaan dan pemantauan program
1. Dispnea setelah beraktivitas Outcome tambahan untuk mengukur batasan aktivitas, jika memang diperlukan
2. Keletihan karakteristik c. Pertimbangkan komitmen klien untuk meningkatkan
3. Ketidaknyamanan setelah beraktivitas 1. Keefektifan pompajantung frekuensi dan jarak aktivitas
4. Perubahan elektrokardiogram (EKG) (mis., 2. Status jantung paru d. Bantu klien untuk memilih aktivitas dan pencapaian tujuan
aritmia, abnormalitas konduksi, iskemia) melalui aktivitas yang konsisten dengan kemampuan fisik,
5. Respons frekuensi jantung abnormal 3. Tingkat ketidaknyamanan fisiologis dan sosial
terhadap aktivitas 4. Konservasi energy e. Bantu klien untuk tetap focus pada kekuatan (yang
6. Respons tekanan darah abnormal terhadap 5. Kelelahan: efek yang mengganggu dimilikinya) dibandingkan dengan kelemahan (yang
aktivitas dimilikinya)
6. Tingkat kelelahan
Faktor yang berhubungan: f. Dorong aktivitas kreatif yang tepat
1. Gaya hidup kurang gerak 7. Status pernafasan: pertukaran gas g. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang diinginkan
2. Imobilitas 8. Istirahat h. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang bermakna
3. Ketidakseimbangan antara suplai dan 9. Status perawatan diri i. Intruksikan pasien dan keluarga untuk melaksanakan
kebutuhan oksigen 10. Perawatan diri: aktivitas sehari-hari (ADL) aktivitas yang diinginkan maupun yang (telah) diresepkan
4. Tirah baring 11. Perawatan diri: instrumental aktivitas j. Bantu dengan aktivitas fisik secara teratur (misalnya,
sehari-hari (IADL) ambulasi, transfer/berpindah, berputar dan kebersihan diri),
sesuai dengan kebutuhan.
12. Tanda-tanda vital
k. Berikan aktivitas motorik untuk mengurangi terjadinya
Outcome yang berkaitan dengan faktor yang kejang otot
berhubungan atau oucome menengah l. Monitor respon emosi, fisik, sosial dan spiritual terhadap
1. Ambulasi aktivitas
2. Ambulasi: kursi roda m. Bantu klien dan keluarga memantau perkembangan klien
3. Kepuasan klien: bantuan fungsional terhadap pencapaian tujuan (yang diharapkan)
4. Perilaku patuh: aktifitas yang disarankan 2. Peningkatan mekanika tubuh
a. Kaji komitmen pasien untuk belajar menggunakan postur
5. Partisipasi latihan
tubuh yang benar
6. Konsekuensi imobilitas: fisiologi b. Kaji pemahaman pasien mengenai mekanika tubuh dan
7. Pergerakan latihan
8. Status nutrisi: energy c. Instruksikan pada pasien untuk menghindari tidur dengan
9. Status kesehatan pribadi posisi telungkup
10. Kebugaran fisik d. Monitor perbaikan postur tubuh pasien
3. Perawatan jantung: rehabilitasi
11. Status pernafasan
4. Manajemen energy
12. Manajemen diri: asma 5. Manajemen lingkungan
13. Manajemen diri: penyakit jantung a. Ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien
14. Manajemen diri: multiple sklerosis b. Damping pasien selama tidak ada kegiatan bangsal
15. Manajemen diri: osteoporosis c. Letakakan benda yang sering digunakan dalam jangkaun
pasien
d. Sediakan tempat tidur dan lingkungan yang bersih dan
nyaman
6. Peningkatan latihan: latihan kekuatan
7. Bantuan pemeliharaan rumah
8. Manajemen alam perasaan
9. Bantuan perawatan diri
10. Bantuan perawatan diri: IADL
11. Perawatan diri: transfer
12. Peningkatan tidur
13. Pengajaran: peresepan latihan
Pilihan intervensi tambahan:
1. Terapi bantuan hewan
2. Manajemen disritmia
3. Manajemen lingkungan: kenyamanan
4. Peningkatan latihan
a. Hargai keyakinan individu terkait latihan fisik
b. Gali hambatan untuk melakukan latihan
c. Dukung individu untuk memulai atau melanjutkan latihan
d. Lakukan latihan bersama individu jika diperlukan
5. Peningkatan latihan: peregangan
6. Terapi latihan: ambulasi
7. Terapi latihan: keseimbangan
8. Terapi latihan: pergerakan sendi
9. Terapi latihan: control otot
10. Peningkatan keterlibatan keluarga
11. Manajemen pengobatan
12. Fasilitasi meditasi
13. Terapi music
14. Pengaturan tujuan saling menguntungkan
15. Manajemen nutrisi
16. Terapi oksigen
17. Manajemen nyeri
18. Relaksasi otot progresif
a. Pilih lingkungan yang nyaman
b. Instruksikan pasien menggunakan pakaian yang nyaman dan
tidak ketat
c. Instruksikan pasien untuk melakukan relaksasi rahang
19. Bantuan penghentian merokok
20. Dukungan spiritual
21. Fasilitasi kunjungan
22. Manajemen berat badan
6. Risiko penurunan curah jantung  Mempertahankan tekanan darah dalam 1. Pantau tekanan darah.
Definisi: Rentan terhadap ketidakadekuatan 2. Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer.
jantung memompa darah untuk memenuhi rentang individu yang dapat diterima. 3. Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas.
kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat 4. Amati warna kulit, kelembaban suhu, dan masa pengisian
mengganggu kesehatan.  Memperlihatkan irama dan frekuensi kapiler.
Faktor risiko:
jantung stabil dalam rentang dan pasien. 5. Catat edema umum/tertentu.
1. Perubahan afterload
2. Perubahan frekuensi jantung 6. Beri lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktifitas/keributan
3. Perubahan irama jantung lingkungan dan batasi jumlah pengunjung dan lamannya
4. Perubahan kontraktilitas tinggal.
5. Perubahan preload 7. Pertahankan pembatasan aktifitas (jadwal istirahat tanpa
6. Perubahan volume sekuncup gangguan, istirahat di tempat tidur/kursi), bantu pasien
melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kebutuhan.
8. Lakukan tindakan yang nyaman (pijatan punggung dan leher,
meninggikan kepala tempat tidur).
9. Anjurkan tehnik relaksasi, distraksi, dan panduan imajinasi.
10. Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
11. Kolaborasi dalam pemberian obat-obat sesuai indikasi seperti:
Diuretik tiazoid: diuril, esidrix, bendroflumentiazoid
12. Kolaborasi dalam memerikan pembatasan cairan dan diet
natrium sesuai indikasi.
13. Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.

7. Risiko jatuh NOC Intervensi keperawatan yang disarankan untuk menyelesaikan


Definisi: rentan terhadap peningkatan resiko jatuh masalah:
yang dapat menyebabkan bahaya fisik dan 1. Trauma risk for
gangguan kesehatan 2. Injury risk for 1. Pembatasan area
Faktor risiko:
2. Peningkatan mekanika tubuh
Dewasa: Kriteria hasil:
a. Kaji komitmen pasien untuk belajar menggunakan postur
3. Penggunaan alat bantu (mis., walker,
tubuh yang benar
tongkat, kursi roda) 1. Keseimbangan: kemampuan untuk b. Kaji pemahaman pasien mengenai mekanika tubuh dan latihan
4. Prosthesis eksremitas bawah c. Instruksikan pada pasien untuk menghindari tidur dengan
5. Riwayat jatuh mempertahankan ekuilibrium posisi telungkup
6. Tinggal sendiri 2. Perilaku keselamatan pribadi d. Monitor perbaikan postur tubuh pasien
7. Usia ≥ 65 tahun 3. Manajemen demensia
Anak: 3. Kejadian jatuh: tidak ada kejadian jatuh 4. Manajemen demensia: memandikan
1. Jenis kelamin laki-laki berusia < 1 tahun 5. Manajemen lingkungan: Keselamatan
2. Kurang pengawasan 4. Pengetahuan: keamanan pribadi
6. Terapi latihan: keseimbangan
3. Kurangnya pengekang pada mobil 5. Gerakan terkoordinasi: kemampuan otot 7. Terapi latihan: control otot
4. Tidak ada pagar pada tangga
5. Tidak ada terali pada jendela untuk bekerja sama secara volunteer 8. Pencegahan jatuh
6. Usia ≤ 2 tahun a. Identifikasi kekurangan baik kognitif atau fisik dari
Kognitif:
untuk melakukan gerakan yang bertujuan. pasien yang mungkin meningkatkan potensi jatuh pada
Gangguan fungsi kognitif lingkungan tertentu
Lingkungan: b. Identifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi
1. Lingkungan yang tidak terorganisasi risiko jatuh
2. Kurang pencahayaan c. Kaji ulang riwayat jatuh bersamadengan pasien dan
3. Kurang material antislip di kamar mandi keluarga
4. Penggunaan restrain d. Identifikasi karakteristik dari lingkungan yang mungkin
5. Penggunaan karpet yang tidak rata/terlipat meningkatkan potensi jatuh
6. Ruang yang tidak dikenal e. Monitor gaya berjalan, keseimbangan dan tingkat
7. Pemajanan pada kondisi cuaca tidak aman
kelelahan dengan ambulasi
(mis., lantai basah, es)
Agens farmaseutikal: f. Tanyakan pasien mengenai persepsi keseimbangan,
1. Penggunaan alcohol dengan tepat
2. Agens farmaseutikal g. Sarankan perubahan gaya berjalan pada pasien
Fisiologis: h. Ajarkan pasien untuk beradaptasi terhadap modifikasi
1. Anemia gaya berjalan yang disarankan
2. Arthritis i. Bantu ambulasi individu yang memiliki
3. Deficit proprioseptif ketidakseimbangan
4. Diare j. Sediakan alat bantu untuk menyeimbangkan gaya
5. Gangguan keseimbangan berjalan
6. Gangguan mendengar k. Dukung pasien untuk menggunakan tongkat atau walker,
7. Gangguan mobilitas
dengan tepat
8. Gangguan pada kaki
9. Gangguan visual l. Rawat alat bantu dalam kondisi siap pakai
10. Hipotensi ortostatik m. Kunci kursi roda, tempat tidur atau brankar selama
11. Inkotinensia melakukan pemindahan pasien
12. Kesulitan gaya berjalan n. Letakkan benda dalam jangkauan pasien
13. Mengantuk o. Instruksikan pasien untuk memanggil bantuan terkait
14. Neoplasma
pergerakan, dengan tepat
15. Neuropati
16. Penurunan kekuatan ekstremitas bawah p. Ajarkan pasien bagaimana jika jatuh, untuk
17. Penyakit vascular meminimalkan cedera
18. Periode pemulihan pasca operasi q. Jawab panggilan lampu pemanggil segera
19. Perubahan kadar gula darah r. Bantu eliminasi dengan frekuensi dan interval terjadwal
20. Pusing saat mengekstensikan leher s. Sediakan pencahayaan yang cukup dalam rangka
21. Pusing saat menolehkan leher meningkatkan pandangan
22. Sakit akut t. Sediakan permukaan lantai yang tidak licin dan anti selip
23. Urgensi berkemih u. Lakukan program latihan fisik rutin yang meliputi
berjalan
v. Orientasikan pasien pada lingkungan fisik
9. Manajemen pengobatan
10. Pengaturan posisi
11. Pengaturan posisi: kursi roda
12. Identifikasi risiko
13. Pencegahan kejang
14. Bantuan perawatan diri: eliminasi
15. Perawatan diri: transfer
16. Pengajaran: keselamatan bayi 0-3 bulan
17. Pengajaran: keselamatan bayi 4-6 bulan
18. Pengajaran: keselamatan bayi 7-9 bulan
19. Pengajaran: keselamatan bayi 10-12 bulan
20. Pengajaran: keselamatan bayi 13-18 bulan
21. Pengajaran: keselamatan bayi 19-24 bulan
22. Pengajaran: keselamatan bayi 25-36 bulan
23. Transfer
24. Bantuan perawatan diri
25. Monitor tanda tanda vital
Pilihan intervensi tambahan:
1. Manajemen saluran cerna
2. Perawatan sirkulasi: insufisiensi arteri
3. Perawatan sirkulasi: insufisiensi vena
4. Stimulasi kognitif
5. Peningkatan komunikasi: kurang pendengaran
6. Peningkatan komunikasi: kurang penglihatan
7. Manajemen delirium
8. Manajemen diare
9. Peningkatan latihan
10. Peningkatan latihan: laihan kekuatan
11. Peningkatan latihan: peregangan
12. Terapi latihan: ambulasi
13. Terapi latihan: pergerakan sendi
14. Manajemen hipoglikemia
15. Manajemen nyeri
16. Bantuan perawatan diri
17. Peningkatan tidur
Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth. (2012). Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, EGC: Jakarta.
Bulechek, G.M., Butcher, H.K, Dochterman, J.M, & Wagner, C.M. (2016). Nursing
Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam. Mocomedia: Yogyakarta.
Herdman, T. Heather. (2015). Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan: Definisi &
Klasifikasi 2015-2017. EGC: Jakarta.
Mansjoer, Arif, dkk. (2010). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aeculapius FKUI: Jakarta.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M.L., Swanson, E. (2016). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Edisi Kelima. Mocomedia: Yogyakarta.
Murwani, A. (2009). Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Mitra Cendikia: Yogyakarta.
Nugroho, T. (2011). Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, dan Penyakit Dalam.
Nuha Medika: Yogyakarta.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. (2015). Asuhan Keperawatan Praktis,
Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda, Nic, Noc dalam Berbagai Kasus, Edisi
Revisi Jilid 2. Mediaction: Yogyakarta.
Pudiastuti, R.D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke. Nuha Medika: Yogyakarta.
Smeltzer, C. Suzanne & Bare, Brenda G. (2012). Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8
volume 2. EGC: Jakarta.
Syaifuddin. (2014). Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Salemba
Medika : Jakarta
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI

Oleh:

NAMA : KRISTIN PURWANTI

NIM :149012018304

SRIKES MUHAMMADIYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
2018