Anda di halaman 1dari 46

1

CRITICAL BOOK RIVIEW

“ EVALUASI PEMBELAJARAN “

Dosen Pengampu :
Dr. Arif Rahman M.Pd.

Oleh :
JEFRY SILALAHI ( 5171151009 )
ANGELINA TARIPAR ( 5173151004 )

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN KOMPUTER


FAKULTAS TEKNIK – UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MARET 2019
MEDAN
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha esa yang telah

melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada kita semua, sehingga saya dapat

menyelesaikan Critikal Book Review saya mengenai ini yang mengenai “Evaluasi

pembelajaran” yang ditulis oleh Prof. Anas Sudijono. Dan tak lupa saya berterima kasih

kepada bapak Dr. Arif Rahman M.Pd selaku dosen mata kuliah evaluasi hasil belajar yang

telah memberikan tugas ini kepada saya.

Saya menyadari bahwa Critikal Book review ini masih jauh dari kata kesempurnaan,

Oleh karena itu saya sangat mengaharapkan saran dan kritik yang dapat membangun dan

menyempurnakan Critikal Book Review saya ini, saya berharap semoga Critikal book ini dapat

membantu dan menambah wawasan bagi kita semua.

Medan, Maret 2019

Penulis
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 2
DAFTAR ISI........................................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................................... 4
B. Tujuan........................................................................................................................ 4
C. Manfaat...................................................................................................................... 5
D. Identitas buku.............................................................................................................5

BAB II RINGKASAN BUKU


A. Ringkasan Buku utama.................................................................................................. 7
B. Ringkasan Buku pembanding........................................................................................19

BAB III PEMBAHASAN


A. Pembahasan isi buku.................................................................................................41
B. Keunggulan buku dan Kelemahan buku..................................................................42

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan...............................................................................................................45
B. Saran.........................................................................................................................45

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................46
4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Evaluasi dapat digambarkan sebagai pembuatan penetapan tentang nilai, untuk
tujuan tertentu, baik berupa gagasan, pekerjaan, solusi, metode, material dan lain–lain,
yang melibatkan penggunaan ukuran seperti halnya untuk menilai tingkat suatu
tertentu itu akurat, efektif, hemat, atau memuaskan, ketentuan itu baik yang
kwantitatif atau kwalitatif. Dengan demikian maka evaluasi merupakan kegiatan yang
sangat penting dalam pengajaran. Dan kegiatan ini merupakan salah satu dari empat
tugas pokok seorang guru.
Dalam praktek pengajaran keempat kegiatan pokok ini merupakan sebuah
kesatuan yang padu dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Dalam
melaksanakan tugas mengajarnya seorang guru berusaha untuk menciptakan situasi
belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar, memotivasi, mengajukan bahan ajar,
serta menggunbakan metode dan media yang telah disiapkan. Selain itu guna
mencapai tujuan pendidikan yang optimal , guru memberikan bimbingan kepada
siswa dengan berupaya untuk memahami kesulitan belajar yang dialami siswa. Dari
berbagai persoalan yang di hadapi dalam proses belajar mengajar evaluasi
memberikan sumbangan yang cukup berarti. fungsi evaluasi digunakan sebagai acuan
untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan proses pembelajaran serta sebagai alat untuk
menyeleksi dan sebagai alat untuk memberikan motivasi belajar siswa.

B. Tujuan
Adapun tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengkritik kelebihan dan kelemahan buku utama dan buku pembanding
2. Untuk mencari metode apa saja yang digunakan dalam Evaluasi Hasil Belajar
3. Untuk melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang diberikan
oleh setiap bab dari kedua buku tersebut
4. Untuk menganalisis kedua buku tersebut
C. Manfaat
Adapun manfaat sebagai berikut :
1. Dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai Evaluasi Hasil Belajar
2. Dapat mengetahui kegunaan metode dalam Evaluasi Pembelajaran
3. Dapat mengambil kesimpulan dari kedua buku yang telah di review
5

4. Dapat menyarankan ke pada para pembaca buku mana yang baik untuk digunakan
oleh Calon Guru.

D. Identitas Buku

Buku Utama

Judul : Evaluasi Pembelajaran


Penulis : Drs Asrul M.Si,Rusdi Ananda M.Pd,dan Dra Rosnita,M.A.
Penerbit : CitaPustaka Media
Penata : Tim Pencetak Citapustaka
Perancang : Aulia Grafika
Cetakan I : Oktober 2014
Cetakan II : September 2015
ISBN : 978-602-1317-49-5
Buku Pembanding

Judul : Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru Profesional


Edisi :-
Pengarang : Prof.Dr.Suyanto, Ph.D dan Drs.Asep Djihad, M.Pd
Penerbit : Multi Pressindo
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2013
6

ISBN : 978-602-18309-0-1
Buku pembanding

Judul : Pengantar evaluasi pendidikan


Penulis : Prof. Anas Sudijono
ISBN : 979-421-495-7
Halaman : 504
Ukuran : 13,5 x 20,5 cm
Cetakan : 15, 2017
7

BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

A. BUKU UTAMA . EVALUASI PEMBELAJARAN Oleh: Drs Asrul


M.Si,Rusdi Ananda M.Pd,dan Dra Rosnita,M.A

Bab 1. KONSEP DASAR EVALUASI PEMBELAJARAN


Istilah evaluasi pembelajaran sering disamaartikan dengan ujian. Meskipun saling
berkaitan, akan tetapi tidak mencakup keseluruhan makna yang sebenarnya. Ujian ulangan
harian yang dilakukan guru di kelas atau bahkan ujian akhir sekolah sekalipun, belum dapat
meng-gambarkan esensi evaluasi pembelajaran, terutama bila dikaitkan dengan penerapan
kurikulum 2013. Sebab, evaluasi pembelajaran pada dasarnya bukan hanya menilai hasil
belajar, tetapi juga proses-proses yang dilalui pendidik dan peserta didik dalam keseluruhan
proses pembelajaran.Istilah tes, pengukuran (measurement), penilaian (assesment) dan
evaluasi sering disalahartikan dan disalahgunakan dalam praktik evaluasi. Secara
konsepsional istilah-istilah tersebut sebenarnya berbeda satu sama lain, meskipun mempunyai
keterkaitan yang sangat erat.

Tes adalah pemberian suatu tugas atau rangkaian tugas dalam bentuk soal atau
perintah/suruhan lain yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil pelaksanaan tugas
tersebut digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu terhadap peserta didik.
Pengukuran (measurement) adalah suatu proses untuk menentukan kuantitas daripada
sesuatu. Sesuatu itu bisa berarti peserta didik, starategi pembelajaran, sarana prasana sekolah
dan sebagainya. Untuk melakukan pengukuran tentu dibutuhkan alat ukur. Dalam bidang
pendidikan, psikologi, maupun variabel-variabel sosial lainnya, kegiatan pengukuran
biasanya menggunakan tes sebagai alat ukur.

Sedangkan penilaian (assesment) adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan
berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta
didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dan pertimbangan
tertentu (Arifin, 2013:4). Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, keputusan tersebut dapat

menyangkut keputusan tentang peserta didik (seperti nilai yang akan diberikan), keputusan
tentang kurikulum dan program atau juga keputusan tentang kebijakan pendidikan
8

Bab 2. EVALUASI PEMBELAJARAN DALAM PERSPEKTIF KURIKULUM 2013


(PENILAIAN OTENTIK)

A. Teori Pendekatan Saintifik.


Pendekatan saintifik sudah lama diyakini sebagai jembatan bagi pertumbuhan dan
pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Para ahli meyakini bahwa
melalui pendekatan saintifik, selain dapat menjadikan peserta didik menjadi lebih aktif dalam
mengkonstruk pengetahuan dan keterampilannya, juga dapat memotivasi mereka untuk
melakukan penyelidikan guna menemukan fakta dari suatu fenomena atau kejadian. Dalam
hal ini peserta didik dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan berintuisi,
mengira-ngira dalam melihat suatu fenomena. Mereka mestilah dilatih agar mampu berfikir
logis, runut dan sistematis.

Ilmuan Muslim era klasik seperti Ibnu Tufail (wafat 1138 M) misalnya, telah
mengetengahkan pemikiran bahwa kebenaran suatu pengetahuan dapat diperoleh dengan
sendirinya melalui pengamatan terhadap fenomena yang spesifik sekalipun tanpa bersumber
dari guru dengan mengamati fenomena-fenomena spesifik secara terfokus,
mempertanyakannya, menalar dan kemudian menarik kesimpulan (Siddik, 2011: 60). Proses
berfikir yang demikian disebut sebagai penalaran induktif (inductive reasoning) yang
berkebalikan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning).

B. Penerapan Pendekatan Saintifik dalam Proses Pembelajaran

Untuk menerapkan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran menuntut adanya


perubahan setting dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran
konvensional. Terdapat sejumlah metode pembelajaran yang dipandang sejalan dengan
prinsip-prinsip pendekatan saintifik yang sudah popular, seperti metode problem based
learning; project based learning; inkuiri, group investigation dan lain-lain.

Metode-metode tersebut pada umumnya menekankan pembelajaran peserta didik untuk


mengenal masalah, merumuskan masalah, mencari solusi atau menguji jawaban sementara
atas suatu masalah atau pertanyaan dengan melakukan penyelidikan guna menemukan
berbagai fakta melalui penginderaan, yang daripadanya dapat ditarik suatu kesimpulan yang
disajikan dalam laporan penemuan, baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itu, tidak bisa
tidak, semua guru tidak bisa lagi mencukupkan kegiatannya dengan cara-cara pembelajaran
9

konvensional, melainkan dituntut dan wajib untuk dapat melaksanakan metode-metode


tersebut secara baik dan benar, dan tentu saja harus menyenangkan.

BAB 3. INSTRUMEN EVALUASI BENTUK TES


A. Tes Tertulis Bentuk Uraian (Essay)
Tes bentuk uraian adalah tes yang pertanyaannya membutuhkan jawaban uraian, baik
uraian secara bebas maupun uraian secara terbatas. Tes bentuk uraian ini, khususnya bentuk
uraian bebas menuntut kemampuan murid untuk mengorganisasikan dan merumuskan
jawaban dengan menggunakan kata-kata sendiri serta dapat mengukur kecakapan murid
untuk berfikir tinggi yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan yang menuntut:

a. Memecahkan Masalah
b. Menganalisa masalah
c. Membandingkan
d. Menyatakan hubungan
e. Menarik kesimpulan dan sebagainya (Sutomo, 1995:80).

Dilihat dari keluasan materi yang ditanyakan, maka tes bentuk uraian ini dapat dibagi
menjadi dua bentuk, yaitu uraian terbatas (restricted respons items) dan uraian bebas
(extended respons items).

B. Tes Hasil Belajar Bentuk Objektif


Tes objektif disebut objektif karena cara pemeriksaannya yang seragam terhadap semua
murid yang mengikuti sebuah tes. Tes objektif juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek
(short answer test), dan salah satu tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (items)
yang dapat dijawab oleh tester dengan jalan memilih salah satu (atau lebih), di antara
beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing masing items atau
dengan jalan menuliskan jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada
tempat-tempat yang disediakan untuk masing-masing butir yang bersangkutan.

BAB 4. INSTRUMEN EVALUASI BENTUK NON-TES

Hasil dari satu proses pembelajaran mencakup tidak hanya aspek kognitif, tapi juga
aspek afaktif dan psikomotorik. Sehingga hasil dari proses pembelajaran dapat berupa
pengetahuan teoritis, keterampilan dan sikap. Pengetahuan teoritis dapat diukur dengan
menggunakan teknik tes. Keterampilan dapat diukur dengan menggunakan tes perbuatan.
Sedangkan hasil belajar berupa perubahan sikap hanya dapat diukur dengan teknik non-tes.
Instrumen evaluasi jenis non-tes dapat digunakan jika kita ingin mengetahui kualitas proses
10

dan produk dari suatu pembelajaran yang berkenaan dengan domain afektif, seperti sikap,
minat, bakat, motivasi, dan lain-lain. Termasuk jenis instrumen evaluasi jenis non-tes adalah
observasi, wawancara, skala sikap, dan lain-lain.

a. Daftar Cek
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya - tidak).
Pada penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai
apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat
diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya
mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati.
Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah.

b. Skala Rentang
Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala rentang memungkinkan penilai
memberi nilai penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinuum di
mana pilihan kategori nilai lebih dari dua.

c. Penilaian Sikap
Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: komponen afektif, komponen kognitif, dan
komponen konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau
penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan
seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk
berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.
Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran berbagai mata
pelajaran adalah sebagai berikut:

Sikap terhadap materi pelajaran. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap
materi pelajaran. Dengan sikap„positif dalam diri peserta didik akan tumbuh dan berkembang
minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi
pelajaran yang diajarkan.

Sikap terhadap guru/pengajar. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap guru.
peserta didik yang tidak memiliki sikap positif terhadap guru akan cenderung mengabaikan
hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, peserta didik yang memiliki sikap negatif terhadap
guru/pengajar akan sukar menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.
11

Sikap terhadap proses pembelajaran. Peserta didik juga perlu memiliki sikap positif
terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran di sini mencakup
suasana pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan. Proses
pembelajaran yang menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi
belajar peserta didik, sehingga dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

d. Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus
diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data.Penilaian
proyek dapat digunakan, diantaranya untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan dalam
bidang tertentu, kemampuan peserta didik mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam
penyelidikan tertentu, dan kemampuan peserta didik dalam menginformasikan subyek
tertentu secara jelas.

e. Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan dalam membuat suatu produk
dan kualitas produk tersebut. Penilaian produk tidak hanya diperoleh dari hasil akhir saja
tetapi juga proses pembuatannya.

f. Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada
kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu
periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik tersebut dapat berupa karya peserta
didik (hasil pekerjaan) dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didiknya,
hasil tes (bukan nilai), piagam penghargaan atau bentuk informasi lain yang terkait dengan
kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Berdasarkan informasi perkembangan
tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta
didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memper-lihatkan
perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karya peserta didik, antara lain:
karangan, puisi, surat, komposisi, musik.

g. Penilaian Diri
12

Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian, di mana subjek yang
ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan, status, proses dan
tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu.

h. Tugas-Tugas
Rancanglah satu instrumen eavaluasi bentuk non-tes untuk penilaian produk yang kait
dengan materi pelajaran di jurusan anda. Diskusikan dengan teman anda, materi pelajaran apa
di jurusan anda yang paling tepat dievaluasi dengan teknik non-tes.

B. Ringkasan Buku Pembanding


BAB I Guru Yang Profesional dan Efekif
A. Kompetensi Guru
Secara umum, ada tiga tugas guru sebagai profesi, mendidik, mengajar, dan
melatih. Mendidik berarti bertahan dan mengembang- kan hidup-hidup; mengajar
berarti mengajar dan mengembang- kan ilmu pengetahuan; pelatihan berarti
mengembangkan keterampilan- untuk hidup siswa. Untuk dapat mengirimkan
tugas dan tanggung jawab di atas, seorang guru dituntut memiliki beberapa
kemampuan dan kompetensi tertentu sebagai bagian dari profesional- isme guru.
Diatas kompetensi diartikan sebagai kemampuan atau ke- cakapan. Mc Load
(1990) mendefinisikan sikap sebagai perilaku yang rasional untuk mencapai
tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Kompetensi
guru sendiri merupakan kemam puan seorang guru dalam menjalankannya
bertanggung jawab dan layak dimata pemangku kepentingan. Seiring pengajar,
guru dituntut memiliki kewenangan menga jar berdasarkan kualifikasinya sebagai
tenaga pengajar. Sebagai tenaga pengajar, guru harus memiliki kemampuan
profesional dala b setiap kemampuan itu dang pembelajaran.Dengan nakan
menyediakan kemudahan-kemudahan b fasilitator yang mengajar; peserta didik
dalam proses belajar siswa mengatasi kesulitan 2 yang membantu dalam proses
belajar mengajar; lingu 3. jadi penyedia yang sedang m gan belajar yang
menantang bagi siswa agar mereka sedang belajar dengan bersemangat; Model
yang mampu memberikan contoh yang baik ke peserta didik agar berperilaku
sesuai dengan norma yang ada dan berlaku di dunia pendidikan; sebagai motivator
yang turut menyebarluaskan usaha-usah pem bahtim kepada masyarakat
khususnya kepada subjek didik yaiti siswa; 6 sebagai agen
perkembangan kognitif, yang menyebarluaskan ilmu dan teknologi kepada
peserta didik dan masyarakat dan; tim manajer, siswa dalam kelas se asa belajar
13

mengajar mencapai.Hakikat pengajaran adalah proses yang menghantarkan siswa


untuk belajar dengan cara kegiatan, persiapan dan mewujudkan, memberikan fasi
litas, memberikan ceramah dan latihan, memecahkan masalah, membimbing,
mengarahkan dan memberikan dorongan atau motivasi untuk merealisasikan
hakikat mengajar yang sejati diser kolah, guru harus memiliki pengetahuan /
bidang ilmu yang terbagi dan besar, memiliki iktikad yang baik untuk mem
memalui ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan siswa, memiliki komit pria untuk
terus belajar sepanjang hayat.Yang dengan belajar untuk gu ru dalam konteks ini
adalah belajar bidang ilmu yang belajar atau cara pengembangan ilmu / bidang
siswanya serta belajar metode pembelajaran mandiri, dalam arti is the ca madai
maka adalah metode pengajarannya tidak mer baca berbagai buku barumelalui
berbagai pelatihan, mem bidang pembelajaran, akses internet untuk mencari
berbagai metode pembelajaran yang bisa diadopsi dalam rangka peningkatan
kemampuan mengajarnya. seorang guru harus memiliki motivasi yang tinggi
untuk terlibat dalam kegiatan belajar sepanjang hayat. memahami para siswa
memiliki keinginan agar mereka lebih mudah tiap sarjana. Ha ini pun terjadi jika
setiap guru dalam proses pem 1. Mampu melibatkan mereka sebagai subjek
belajaran, di mana setiap guru harus berkeyakinan semua siswanya bisa belajar,
taruh siswanya secara adil dan mampu memahami perbedaan siswa yang satu
dengan yang lain 2. Menguasai bidang ilmu yang mengajarkan dan mampu
menghubung- kan dengan bidang ilmu lain serta menerapkannya dalam dunia 3.
nyata; dan meng buat, memperkaya, dan metode penjelajahan ajarnya untuk
menarik sekaligus. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru dapat
menggunakan strategi belajar kontekstual dengan beberapa hal, yaitu: kegiatan
yang bervariasi dapat melayani perbedaan individu siswa, lebih aktif siswa dan
guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menciptakan jalinan kegiatan
belajar di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat. Melalui pembelajaran ini,
siswa menjadi lebih responsif dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan
secara kontekstual dalam kehidupan nyata karena memiliki motivasi tinggi untuk
belajar. Untuk menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran terse but,
tentunya setiap guru harus meningkatkan kemampuannya, baik melalui
keikutsertaaannya dalam pelbagai pelatihan, seminar lokakarya melakukan studi
kependidikan seperti penelitian tindakan teknik pengembangan, pengajaran kelas,
kan disiplin kelas, menerapkan prinsip-prinsip pengajaran yang mampu
menginspirasi perkem bangan kognitif siswa dan sebagainya. Di samping itu, guru
14

juga harus bisa mendapatkan umpan balik bagaimana cara mengajarnya dari dan
sesama guru untuk mendapatkan masukan cara memperjuangkannya dengan baik.
B. Guru Profesional
Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang
amat besar bagi penentuan kualitas guru yang di perlukan di daerahnya masing-
masing. Oleh karena itu di masa yang akan dating daerah benar-benar harus
memiliki pola rekrutmen dan polasa pembinaan karie guru secara tersistem agar
tercipta profesionalisme pendidikan di daerah.
Lantas, seperti apa suatu pekerjaan disebut professional? C.O Houle (1980),
membuat ciri-ciri suatu pekerjaan disebut professional meliputi :
1. Harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat
2. Harus berdasarkan atas kompetensi individual
3. Memiliki Sistem Seleksi dan sertifikasi
4. Ada kerjasama dan kompetensi yang sehat antar sejawat
5. Adanya kesadaran professional yang tinggi
6. Memiliki prinsip-prinsip etik
7. Adanya militansi individual
8. Memiliki system Sanksi
9. Memiliki organisasi profesi

C. guru efektif
Dalam manajemen SDA, menjadi professional adalah tuntutan jabatan,
pekerjaan ataupun profesi. Hal penting yang menjadi aspek bagi sebuah profesi,
yaiu sikap professional dan kualitas kerja. Menjadi Seorang guru professional
adalah keniscayaan. Profesi guru juga sangat lekat dengan integritas dan
personality bahkan identik dengan citra kemanusiaan. Menjadi guru mungkin
orang bias. Tetapi menjadi guru yang memiliki keahlian dalam mendidik perlu
pendidikan, pelatihan dan jam terbang yang memadai. Dalam konteks tersebut,
menjadi guru professional setidaknya memiliki standar minimal yakni :
1. Memiliki kemampuan intelektual yang baik
2. Memiliki kemampuan memahami visi dan misi pendidikan nasional
3. Mempunyai keahlian mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa secara
efektif
4. Memahami konsep perkembangan psikologi anak
5. Memiliki kemampuan mengorganisir dan proser belajar
6. Memiliki kreativitas dan seni mendidik.
15

7. Kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran yang


meliputi :
a. Memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak
memiliki perhatiaan, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mapu
memberikan transisi subtansi bahan ajar dalam proses pembelajaran.
b. Mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan
berpikir yang berbeda unutuk semua siswa.
8. Memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik dan
penguatan yang meliputi :
a. Mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa.
b. Mampu memberikan respon yang berifat membantu terhadap siswa yang
lamban belajar
c. Mampu meberikan bantuan professional kepada siswa jika diperlukan
d. Mampu memberikan bantuan professional kepada siswa jika di perlukan
9. Memiliki kemampuan yang tekait peningkatan diri, meliputi ;
a. Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif
b. Mampu memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode
pengajaran
c. Mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang
mampu.
d. Mampu memberikan bantuan professional kepada siswa jika diperlukan

D. implementasi di Ruang Kelas


Beberapa cermin diri yang dapat guru pakai dalam peningkatan
kemampuannya antara lain:
1) Siswa memperhatikan guru atau tidak
2) Siswa semangat mengikuti pelajaran atau tidak
3) Siswa memahami atau tidak ketika di tanya
4) Siswa sudah berakhlak mulia atau tidak
5) Hasil supervise guru dalam mengajar sudah baik atau tidak

BAB II Kepribadian dan profesioanlisme guru

A. Kepribadian Guru
Untuk menjadi guru seseorang harus memiliki kepribadian yang kuat dan terpuji,
Kepribadian yang harus ada pada diri guru itu: kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif dan berwibawa, jaditeladan untuk hal menainya, danberakhlakmulia, Kepribadian
16

yang mantap dan stabilmemi liki indikator esensial bertindak sesuai dengan norma hukum;
bertindak sesuai dengan norma sosial, tumbuhnya sebagai guru, dan memiliki reputasi-
sidalam bertindak dan berperilaku Kepribadian yang dewasa memiliki in-isipan esensial
menampilkan kemandirian dalam bahasa sebagai pena didik dan memiliki etos kerja
sebagai guru Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial menampilkan
tindakanyang dibangun pada kemanfaa- tan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta
menunjukkanketerbukaan dalam pemikiran dan tindakan. Kepribadian yang
berwibawamemiliki indika- tor esensial memiliki perilaku yang berpengaruh positif
terhadap proses dan hasil belajar peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani bera-
khlak mulia, bertindak sesuai dengan norma agama iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka
menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani pes didik 1. Ciri Kepribadian Guru
adalah faktor utama dan bagi proses belajar siswa. Dalam pandangan siswa, guru memiliki
otoritas, bukan saja dalam bidang akademis, pelaut juga dalam bidang non akademis,
karena itu pengaruh guru terhadap para siswanya sangat mudah dan sangat menentukan.
Kepribadian guru memiliki pengaruh langsung dan kumulatif terhadap hidup dan
kebiasaan-kebiasaan belajar para siswa. Hasil percobaan dan hasil-hasil observasi
menguatkan. yak apa yang dipelajari oleh siswa dari gurunya Para Siswa menyerap sikap-
sikap merefleksikan perasaan-perasaannya, menyerap keyakinan-keyakinannya, m tingkah
lakunya, dan kutipan pern- yataan-pernyataannya. Pengalaman menunjukkan masalah-ma
salah seperti motivasi, disiplin, tingkah laku sosial, prestasi, dan hasrat belajar yang terus-
terus pada diri siswa yang bersumber dari keprib adian guru. Kepribadian guru sangat
sangat terhadap siswa, maka guru perlu memiliki ciri sebagai orang yang berpribadi
matang dan sehat. Allport (1978) mengemukakan ciri khas orang yang memiliki
kepribadian matang adalah: Ekstensian rasa diri Meningkatkan kesadaran diri, melihat sisi
lebih dan sisi kurang dari diri; b. Keterkaitan yang hangat dengan orang lain ini bisa
menjalin relasi dengan hangat dengan orang lain. Allport suka menjadi in itinag dan kasih
sayang (Keajaiban) Keintiman merupa. kan kemampuan orang mencintai keluarga atau
teman. Sementara kecintaan adalah kemampuan orang untuk mencintai kelu- arga, teman,
maupun orang lain. Guru yang memiliki tipe ini bias. anya memiliki banyak relasi, tidak
hanya sebatas relasi disekolah, juga relasi di lingkungan penerimaan diri. Memiliki
kemampuan untuk mengendalikan emosi dan mampu. Biasanya, guru yang memiliki sifat
ni memiliki toleransi tinggi terhadap frustasi, dan mau meneri. ma apa yang ada dalam
dirinya.
2. Kepribadina Guru yang Konstruktif
Guru yang konstruktif adalah guru yang memiliki tujuan untuk melakukan perubahan
dari diri peserta didiknya.Perubahan terse- but bisa dicapai jika guru mampu menempatkan
17

diri sebagai sumber kreativitas dan inspirasi. Bagi peserta didik.Sebagai sumber tenaga
energi untuk peserta didik, mata batin guru yang sudah terlatih dengan baik, dipastikan
akan mampu menyentuh dan menggetarkan jiwa dan lainya.Terlebih, jika itu dilakukan
dalam suasana kelas yang kondusif, maka para peserta didik akan lebih mudah menyerap
materi yang diberikan.Dengan kata lain, saat seorang guru berbicara sesuatu, maka seluruh
peserta didik akan menyimaknya bahkan menunggu tiap kata yang diucapkan sang guru
untuk dijadikan pedoman dalam pembelajaran maupun dalam perilaku keseharian.Jika
ingin menjadi guru yang konstruktif yang mudah memotivasi belajar para peserta didik,
maka guru itu harus lebih dahu lu bisa memotivasi diri sendiri.Dia harus mampu
memahami dan mengen- dalikan diri sendiri.Akan, jika dia sibuk dengan begitu banyak
kesalahpahaman dalam dirinya, dalam keluarga, dan dalam memilih profesinya, maka
kemungkinan besar akan sukar ubah hati dan pikiran peserta didiknya .Selain itu, guru
yang konstruktif juga harus dapat memahami kebutuhan dan masalah-masalah siswa,
seperti hal nya tugas guru BK (Bimbingan & Konseling) karena dengan memahami
kondisi psikologi siswa, seorang guru konstruktif mudah mengubah kesadaran siswanya.
B. Profesionalisme Guru
1. Memaknai Profesionalisme Guru
Memaknai Profesionalisme Guru yang menyandang suatu Makna
"profesional" pada orang mewujudkan profesi atau sebutan tentang penampilan
seseorang dalam unjuk kerja sesuai dengan profesinya. dan juga ini telah
mendapat baik segara formal lem-informal. Pengakuan secara formal diberikan
oleh suatu badan atau / yang memiliki kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah
informal pengakuan itu diberikan tau pengguna jasa suatu profesi. Bagi para
humberan luas dan para telah mendapat penind sebutan "guru profesional" adalah
guru yang berlaku, balk secara formal dengan ketentuan yang belakang dengan
jabatan jabatan belakang pendidikan formalnya. Pengakuan ini berlaku dalam
bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, dan sebagainya baik yang
menyangkut kualifikasi maupun kompetensi. Sebutan "guru profesional" juga bisa
lolos ke pengakuan terhadap kompetensi penampilan unjuk kerja seorang guru
dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai tenaga pengajar. Dengan demikian,
sebutan "profesional" terwujud pada pengakuan formal ter hadap kualifikasi dan
kompetensi penampilan unjuk kerja suatu jaba- tan atau pekerjaan tertentu.
iDalam UU Guru dan Dosen (pasal 1 ayat 4) adalah profesi atau pekerjaan yang
dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan yang membutuhkan
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar profesionalisme "
adalah sebutan yang diharapkan untuk mewujudkan senantiasa mewujudkan dan
18

meningkatkan kualitas profesionalnya. Seorang guru yang memiliki


profesionalisme yang tinggi akan tercer- min dalam sikap mental serta komitmen
terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas profesional melalui berbagai cara
dan strategi.
2. Profesi Guru
Profesi dan profesional adalah dua kata yang mirip hati mempu- nyai makna
yang berbeda. Profesi berasal dari kata profesi, semen- tara profesional berasal
dari kata profesional, yang memiliki batasan bervariasi tergantung dari konteks
yang ingin halal. Batasan mengenai profesi dan profesional ditandaskan oleh Page
& Thomas (1979), seperti kutipan berikut ini, profesi, istilah evaluatif yang
menggambarkan pekerjaan paling bergengsi yang bisa disebut profesional.
Dari batasan di atas, bisa dikatakan etika profesi itu berkai- tan dengan baik
dan buruknya tingkah laku individu dalam suatu peker- jaan, yang telah diatur
dalam kode etik. Prasyarat profesi akan terpenuhi jika memenuhi kriteria sebagai
berikut: a. Profesi menuntut suatu latihan profesional yang dipersyaratkan dan
membudaya; b. Profesi menuntut suatu lembaga yang sistematis dan
terspesialisasi; c. Profesi harus memberikan keterangan tentang keterampilan yang
dibutuhkan di mana masyarakat umum tidak memilikinya; d. Profesi harus sudah
mengembangkan hasil dan pengalaman yang sudah teruji; e. Profesi harus
membutuhkan pelatihan dan penampungan tugas; Profesi harus merupakan tipe
pekerjaan yang bermanfaat; g, Profesi harus memiliki kesadaran kelompok
sebagai kekuatan yang mampu mendorong dan membina anggotanya; h. tidak
boleh menjadi batu loncatan mencari pekerjaan lain; Profesi harus terjerat dalam
masyarakat dengan meminta anggotanya penuh kode etik yang diterima dan
membangun nya. Prasyarat profesi akan terpenuhi jika memenuhi kriteria sebagai
berikut: a. Profesi menuntut suatu latihan profesional yang memadai dan
membudaya b. Profesi muhammad tentang apa yang sedang terjadi pada
umumnya tidak memilikinya; c. Profesi harus mampu mengembangkan suatu basil
dan pengalaman yang sudah teruji kemanfaatannya, d. Profesi membutuhkan
pelatihan spesifik; e. Profesi adalah tipe pekerjaan yang bermanfaat f Profesi
memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan membina anggotanya; g. Profesi
tidak menjadi batu loncatan mencari pekerjaan lain.
Dalam UU Guru dan Dosen pasal (7) ayat (1) kata guru pro dan fiksi adalah
bidang pekerjaaan khusus yang memer- lukan prinsip-prinsip profesional sebagai
berikut: a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme b. Memiliki
kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan seskin dengan jurusan
19

tugasnya Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugasnya d.


Mematuhi kode etik profesi e. Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan
tugas f Memperoleh penghasilan yang sesuai dengan prestasi kerja g Memiliki
kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan h.
Memperoleh badan dalam tugas pro- fesionalnya i. Memiliki organisasi profesi
yang berbadan hukum Pada prinsipnya profesionalisme guru dapat diartikan
sebagai guru yang dapat menjalankan tugasnya secara profesional. Untuk melihat
apakah seorang guru sedang profesional atau tidak, dapat dilihat dari dua
perspektif Pertamo, dilihat dari tingkat pendidikan minimal dari latar belakang
pendidikan untukjenjang sekolah tempat bekerja menja. di guru Kedua,
penguasaan guru terhadap materi bahan ajar, penyusunan proses pembelajaran,
penyusunan siswa, melakukan tugas-tugas bimbin gan, dan lain-lain. Sementara
itu, untuk melihatlebih jauh profesionalisme guru, dapat dilihat berdasarkan ciri-
ciri sebagai berikut 1. Ahli di bidang teori dan praktik keguruan. Guru profesional
adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan dan ahli
Selanjutnya Suyanto (2001) mengemukakan empat prasyarat agar seorang guru
dapat dikatakan profesional,
1. kemampuan guru mengolah atau menyiasati kurikulum,
2. kemampuan guru mengaitkan materi kurikulum dengan lingkungan.
3. kemampuan guru memotivasi siswa untuk belajar sendiri.
4. kemampuan guru untuk mengintegrasikan berbagai bidang atau mata
pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh.
a. Keshalehan Pribadi
Makna shaleh sebenarnya bukan hanya baik dalam arti hubungan dengan
sesama manusia, akankah juga mengandung makna baik ter hadap diri alam semesta,
dan hubungan manusia dengan Tuhan Keshalehan pribadi ini bisa diwujudkan dalam
bebera pa bentuk, seperti obyektif dewasa , berakhlak mulia, teladan, beriman
(iryakinan terhadap Tuhan), dan bertakwa (guru dan anak-anak) a guru harus mampu
menjaga dirinya sendiri dengan mengembangkan sikap dewasa (beraplak mulia)
berakhlak mulia, dan bisa menjadi teladan bagi siapa saja, sehingga kewibawaan akan
tumbuh pada dirinya.

BAB III Kompetensi Guru dalam Berbagai Perspektif

A. Kompetensi Guru
Dalam merumuskan kompetensi, Louise Moqvist (2003) berpendirian
"kompetensi telah didefinisikan dalam kenyataan yang sebenarnya berkaitan dengan
20

individu dan pekerjaan. Sementara itu, dalam Len Holmes (1992) mendefinisikan:" A
Kompetensi adalah deskripsi tentang beberapa hal yang seseorang yang bekerja di
area pekerjaan tertentu harus menjadi Ini adalah deskripsi tindakan, perilaku atau hasil
yang seseorang harus dapat tunjukkan. Jadi seseorang baru di rebut saya-punya
kompetensi jika dia bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan baik.
Begitu juga seorang guru, ia bisa dikatakan memiliki kompetensi mengajar jika guru
yang mampu mengajar dengan baik bagi siswa yang diajarnya. Kompetensi pada
hambatan, merupakan deskripsi tentang apa yang bisa dilakukan seseorang dalam
bekerja, dan apa wujucl dari peker- jaan tersebut yang bisa terlihat. Untuk dapat
melakukan suatu peker jaan, seseorang harus memiliki kemampuan dalam bentuk
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang relevan dengan bidang pekerjaannya.
Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, kompetensi guru dapat dimaknai
sebagai gambaran tentang apa yang harus dilakukan ses eorang guru dalam
menjalankan pekerjaannya, baik itu kegiatan, perilaku maupun hasil yang dapat saling
membantu dalam proses belajar mengajar Menurut Suyanto dan Djihad Hisyam
(2000) ada tiga jenis kompeni tensi guru, yaitu: 1. Kompetensi profesional; memiliki
pengetahuan yang luas dari bi dang studi yang mengajarnya, memilih dan
menggunakan berbagai metode dalam proses belajar-mengajar yang diseleng garaka
nnya;2. Kompetensi kemasyarakatan: aampu berkomunikasi, baik dengan siswa,
sesama guru, maupun masyarakat luas, dalam konteks sosial;3. Kompetensi pribadi
yang memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian,
seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran: ing
ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,

B. Kompetensi Guru Dalam Konteks Kebijakan


Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah teilah merumuskan
empat jenis kompetensi guru dalam hal Peraturan Peraturan No 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu:
1. Kompetensi Pedagogik Kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru lingkup
pemaha - man guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pem-
belajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara keseluruhan sekali
subkompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut
a. Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator es ensial:
memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip- prinsip perkembangan
21

kognitif memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip


kepribadian; dan WIB bekal ajar awal peserta didik;
b. Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pena didikan untuk
kepentingan pembelajaran yang memiliki indikator esen- sial memahami
landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran;
menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta diduk,
menetapkan kompetensi yang ingin di- capai, dan materi ajar; strategi yang
dipilih;
c. Melaksanakan pembelajaran memiliki indikator esensial menata pelajaran; dan
pelaksanaan pembelajaran yang kondusif
d. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran dalam
2. Kompetensi Kepribadian
kepribadian menurut oleh Hall & Lindzey, (1970: 167), fakta-fakta yang tidak
diketahui: tidak serangkaian fakta biografi, "itu umum dan dirusak dari karena
bisa memperjelas konsep kepribadian yang abstrak yang bagaimanapun knya
indikatornya berdering tidak ada sesuaikan dengan apa yang dimaksud dengan
karakter, bukan karakter, bukan karakter, bukan karakter. Itu dan apa adanya,
karena itu, tubuh kepribadian untuk guru mampuan pribadi yang saling
kepribadian yang mantap, sta berakhlak mulia dan berwibawa, dan kemudian
dapat menjadi teladan bagi peserta didik. Secara keseluruhan kepri badian terdiri
dari:
a. Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial, ber -indak
sesuai dengan norma sosial; yang profesional; dan memi konsistensi dalam
bertindak sesuai dengan norma yang ber la dalam kehidupan;
b. Kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: menampi. kan
kemandirian dalam aksi sebagai pendidik dan memiliki etos kerja yang tinggi;
c. Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial menampilkan tin- dakan
yang didirikan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan laja keilm tur d
liki
3. Kompetensi Sosial harus dimiliki Kompetensi sosial merupakan kemampuan yang
dengan peserta guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif peserta didik,
sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua / wali didik dan masyarakat
sekitar Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai
berikut:
22

a. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara otomatis dengan peserta didik


memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif den gan peserta
didik; guru bisa mengerti keinginan dan harapan siswa;
b. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan
tenaga kependidikan; Misalnya bisa berdiskusi tenyang anak didik juga
solusinya.
c. Mampu berkomunikasi dan bergaul dengan orang tua / dinding peserta didik
dan masyarakat sekitar. Contohnya guru mem-informasi tentang bakat, minat
dan kemampuan tertentu untuk orang tua peserta didik.
4. Kompetensi Profesional Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi
pembinaan yang sangat luas dan mendalam yang harus dikuasai guru esensi dan
kurikulum keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struk-
tur dan metodologi keilmuannya. Setiap subkompetensi indikator memi- liki
berikut esensial sebagai berikut:
a. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Hal ini
berarti guru harus memahami materi ajar yang ada dalam kuriku- lum sekolah;
pengertian struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi dan koheren
dengan materi ajar; memahami konsep evolusi, dan menerapkan konsep -
konsep keilmuan dalam proses belajar implikasi itu
b. Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki langkah - langkah
penelitian dan kajian kritis guru untuk memperdalam pengetahuan / materi
bidang studi. Keseluruhan kompetensi guru dalam praktiknya merupakan satu
kesatuan kesatuan kesatuan. Pemilahan menjadi empat ini, semata-mata untuk
kemudahan memahaminya. Beberapa ahli mengatakan istilah kompetensi
profesional sebenarnya adalah "payung karena telah menuturkan semua hal
lainnya, sementara penguasaan materi ajar dan luasnya lebih tepat disebut
dengan penguasaan sumber ajar atau sering disebut bidang studi keterampilan.
Yang disebut sebagai guru yang berkompeten harus memiliki:
a. Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik
b. Penguasaan bidang studi
c. Kemampuaan penyelengaraan pembelajaran yang mendidik
d. Kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan
kepribadian secara berkelanjutan

Meriam (1989) menyarankan bahwa kompetensi profesioanla yang harus


dimiliki oleh guru adalah :
23

a. Memahami motivasi para siswa


b. Memahami kebutuhan belajar siswa
c. Memiliki kemampuan yang cukup tentang teori dan praktik
d. Mengetahui kebutuhan masyarakat para pengguna pendidikan
e. Mampu menggunakan beragam metode dan teknik pembelajaran
f. Memiliki keterampilan mendengar dan berkomunikasi
g. Mengetahui bagaimana menggunakan materi yang diajarkan dalam praktik
kehidupan nyata
h. Memiliki pandangan yang terbuka untuk memperkenalkan siswa
mengembangkan minatnya masing-masing

C. Perbandingan Kompetensi Dengan Negara Lain


1. Pemahaman guru tentang peserta didik
2. Pengetahuan tentang bahan ajar dan bagaimana cara mengajarkannya
3. Pengelolaan Pembelajaran
D. Kompetensi dalam mengajar
1. Mengajar dan mengembangkan potensi siswa
2. Merancang pembelajaran yang menarik
3. Membangun pembelajaran yang menarik
4. Memahami gaya mengajar guru adalah gaya belajar siswa
5. Membangun kreativitas dalam pembelajaran
6. Memahami beragam kecerdasan siswa

BAB IV Pengelolan Proses Pembelajaran


A. Pengolalaan kegiatan pembelajaran
Secara garis besar aspek yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dan
pelaksanaan pembelajaran pembelajaran, meliputi pengelolaan ruang belajar (kelas),
pengelolaan slawa dan kegiatan pembelajaran (Puskur Balitbang Depdiknas 2002).
Pengelolaan Ruang Belajar merupakan tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran,
lazimnya bentuk ruang kelas selama berjam-jam siswa berada di tempat tersebut,
selama itu terbilang interakel antara turu dan anak-anak. yang teritunya haris dilala
sedemiklan enggan kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. oleh
karena itu, suasana dan penataan ruang belajar yang palingnya tidak ada empat
kondisi berikut :
a. Aksesibilitas, apakah siswa atau guru mudah terkena dampak dan sumber belajar
yang sedang dalam proses belajar mengajar.
24

b. Mobilitas, yakni siswa dan guru mudah bergerak dari suatu bagian ke bagian lain
dalam kelas
c. Interaksi, yakni memudahkan terjadinya interaksi antara guru dan siswa maupun
antar sesama siswa
d. Variasi kerja siswa, yakni memungkinkan siswa bekerja secara perorangan,
berpasangan, ataupun kelompok secara variatif

2. Pengelolaan Siswa memiliki kemampuan dalam kelas biasanya belajar beragam,


terutama dalam hal ini termasuk materi yang harus dikuasainya. karena guru
maunya memahami tentang karakteristik masalah berkenaan dengan kemampuan
siswa. Bobbi DePorter & Mike Hernacki dalam tiga karakter, yaitu: menggu.
1. Pelajar visual, kemampuan belajar cepat dengan menekan penglihatan mata;
2. Pelajar auditorial, kemampuan belajar cepat; dan dengan pendekatan
3. Pelajar kinestik yakni kemampuan belajar dengan cara bergerak, bekerja atau
menyentuh dan Bahasa tubuh lainnya.

Dalam proses belajar, semakin banyak melibatkan panca indera, semakin baik
hasil belajar yang bisa dicapai. Pola pikir yang tidak membutuhnya dalam jangka
waktu lama, akan menyebabkan ker jenuh otak, belajar menjadi lambat, bahkan
kemampuan dapat terhenti, dengan kata lain stan Dave Meier (2002: 90) fisik
mening- katkan proses mental. Bagian otak manusia yang terlibat dalam gerakan
tubuh (korteks motor) terletak tepat di sebelah otak yang nakan untuk berpikir dan
memecahkan rnasala oleh karena mengimbangi tubuh. Rasa, pengaruh tubuh
dalam belajar. Dalam mengefektifkan kegiatan dalam belajar, Dave Meier (2002:
91) menggunakan pendekatan "SAVI" yaitu: a. Somalia: Belajar dengan bergerak
dan bersama b. Auditori: Belajar dengan berbicara dan belajar c visual: Belajar
dengan dan pilihan d. Intelektual: Belajar dengan memecahkan masalah dan
merenung.

Kegiatan belajar siswa perlu disesuaikan dengan ukuran sesuai denagn tingkat
kemampuannya. Seorang guru dituntut untuk menciptakan berbagai bentuk
kegiatan dalam mengelolaan pembelajaran, agar siswa secara optimal dapat
mengembangkan kemampuan diri den gan berbekal pengalaman yang ditempuh
selama melakukan kegiatan belajar. Berkenaan dengan optimalisasi kemampuan
belajar seseorang, Sheal, Peter (1989) menggambarkan enam kualifikasi
kemampuan sebagai berikut:
25

B. Strategi Kegiatan Pembelajaran


Langkah umum strategi kegiatan pembelajaran merupakan hasil dalam
kegiatan belajar dilakukan untuk melingkul empat cara efektif efisien. Paling tidak
Strategi yang dimaksud, yaitu: spesifikasi dan laualifikasi
1. Mengidentifikasi dan menentukan standar bahan tingkah laku yang diharapkan.
Hal ini berlaku pada kompetensi atau kompetensi tinggi, yang selanjutnya
dirumuskan dengan kemampuan dasar siswa untuk mendapatkan suatu kompetensi
yar mesti besar siswa, sesuai dengan rumpun mata pelajaran yang diberikan
2. cara belajar belajar yang tepat untuk mencapai stand. ar kompetensi, dengan
memperhatikan karakteristik siswa sebagai su-byek belajar dalam kegiatan ini,
kita wajib memahami tentang mo-dalitas dan / atau gaya belajar siswa, sebagai
individu yang menjadi beda baik secara logis, fisiologis, maupun sosiologi
3. Pilihan dan ukuran metode pembelajaran, dan metode yang sedang dikembangkan.
dahkan siswa menguasai dan menjiwai seluruh inti pesan yang ter kandung dalam
setiap sajian pembelajaran.

Dalam pengembangan strategi pembelajaran, Dave Maier (1990: 103) menawarkan


pola “Siklus Empat Tahap” :

1. Persiapan
2. Penyampaian
3. Praktik
4. Penampilan Hasil

C. Sarana Dan Sumber Belajar


Sarana belajar merupakan fasilitas yang sangat antusias dalam mencapai
tujuan pembelajaran. Sarana yang paling membantu dalam mencapai tujuan
pembelajaran adalah media atau alat peraga. oleh karena itu, dalam pembelajaran guru
perlu menggunakan berbagai jenis media pembelajaran dan harus dim atasi secara
tepat, sesuai dengan pengalaman dan tujuan yang belajar akan ditempuh siswa.
Dengan demikian, media pembelajaran bisa menjadi anggota informasi dan konsep
yang sedang dipelajari. Beberapa karakteristik sarana yang efektif (Puskur, balitbang
Dep- diknas, 2002) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menarik perhatian dan minat siswa
2. Mampu menguat dasar-dasar untuk memahami sesuatu hal konkrit, sekaligus
dapat mencegah atau mengurangi verbalisme.
26

3. Merangsang tumbuhnya saling pengertian dan / atau tumbuhnya. pengembangan


usa-ha.
4. Mempunyai banyak kegunaan atau multifungsi
5. Memperkuat bentuk yang sederhana, mudah digunakan dan perawatan, mudah
dihasilkan, bisa dibuat sendiri oleh guru. Dalam Peraturan Pemerintah No. 19
tahun 2005 tentang Standar Sara-na dan Prasarana, berikut beberapa hal, sebagai
berikut:
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang mencakup per abot,
peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya,
bahan habis pakai serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan
2. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi la han, ruang
kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha,
ruang perpustakaan, ruang laboratorium.

D. Pengembangan Materi Pembelajaran


Perkembangan teknologi dan informasi cepat tut guru untuk mengubah
kebiasaan belajar-mengajarnya. Guru-guru perlu memperdalam materi pembelajaran
lewat pelbagai usaha, diusahakan akses internet, jurnal, majalah, dan media
pembelajaran lainnya. jika guru kurang meningkatkan kemampuan intelek tualnya,
maka proses belajar-mengajar di kelas menjadi tidak pria oleh karena itu,
pengembangan materi pembelajaran melalui media pembelajaran apapun menjadi
sangat penting bagi kelancaran proses belajar-mengajar. pengembangan materi
pembelajaran merupakan upaya mening katkan kualitas / kompetensi guru maupun
siswa melalui media pembe-lajaran. Materi pelajaran sendiri merupakan bahan yang
harus dis ampaikan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Hal yang sama sama
bagi para murid adalah kebutuhan un tuk. Hal ini berarti membutuhkan pengem
bangan materi berdasarkan empat tingkat kurikulum pendidikan ala Dryden dan Vos
(2003), yang menekankan pada:
1. Citra diri dan perkembangan pribadi
2. Pelatihan keterampilan hidup
3. Belajar tentang cara belajar dan berpikir kemampuan akademik, fisik dan artistik
yang spesifik Empat tingkat 256 Dryings dan vos di atas dapat dijelaskan seba- gai
berikut. Pertama, citra diri harus dikembangkan dalam perspektif peran dan fungsi
manusia sebagai makhluk Tuhan, individu mandiri, dan makhluk sosial, serta
sebagai unsur produksi. Seperti makhluk Tuhan, guru (juga siswa) mestinya selalu
27

bertindak dan mengerjakan sesuatu atas nama ibadah demi mendapat ridho Tuhan.
Bagi individu, guru (juga siswa) harus dapat melepaskan diri, menemukan jati diri,
mema- hami kelemahan dan kekurangannya, dalam kerangka membangun ka
rakter dan mengembangkan potensi diri untuk terus berkarya. Bagi para sosial,
guru (juga siswa) harus memahami nilai sosial, menghargai perbedaan dan
menerima pluralitas dalam kehidupan, dan senantiasa termotivasi untuk berkarya
dalam kehidupan sosial. Memiliki unsur produksi, guru (juga siswa) selalu
tergerak untuk berprestasi secara produktif, kreatif, inovatif dan ekonomis. Jika
proses membangun

BAB V Kompetensi Memecahkan Permasalahan Belajar di Kelas

A. Gambaran Ruang Kelas


1. Situasi Kelas Bruce Joyce (1992: 1) menyatakan dengan tegas bahwa "sekolah dan
kelas adalah komunitas siswa, berkumpul untuk menjelajahi dunia dan belajar
menavigasinya secara produktif". Artinya, sekolah dan kelas adalah komunitas
para murid, yang digabung bersama untuk saling belajar dan belajar cara
mengemudikannya dengan kata lain, efektif dan produktif tidaknya proses
pembelajaran tidak berada di sekolah dan kelas. Apa yang terjadi di sekolah dan di
kelas, akan menjadi salah satu faktor penting yang akan mempengaru keberhasilan
pendidikan, Ketika siswa di suatu sekolah kegatangan saat dewan guru sedang
sibuk rapat, atau guru tidak masuk sekolah dengan berbu- agai sebab, maka sudah
dapat dipastikan Apakah letak kekeliruannya ada pada sistem yang terjadi di
dalam sekolah dan ruang kelas. Bukan pada siswanya yang dikatakan bandel, atau
tidak mau belajar sebaliknya, jika para murid yang saat dijemput orang tuanya
masih tidak mau pulang, karena masih mau berada di sekolah, maka dapat
dipastikan bahwa sekolah dan kelas telah menjadi tempat yang menyenangkan
bagi mereka.
2. Meluruskan Makna Bermain
Ada yang menyesatkan tentang makna “bermain” baik yang menyesatkan
tentang maha pemen Ada orang maupun ayo saya-nurut pengertian jangan
bermain Gut orang tua kepada anlah kalimat yang sering diucapkan oleh yang
yang sedang sedang asyik bermain. Bermain tidak berguna seperti waktu, tidak
bermain, orang tua lainnya. Agar anak untuk anak, juga sering menyuruh anak-
anaknya tidur, orang tua yang bisa agar anak-anak bisa bobok bobok siang '(BBS),
dan tidak bermain. Jadi, tidurnya lebih baik dari bermain. Dalam proses sedang
28

dalam proses yang dalam. Di pun sering kita dengar perintegah bermain. "Ayo
masuk kelas Kita belajar lagi. Ayo semua berhenti beya teriak seorang guru untuk
mengajak masuk ruang ke. Las, karena pelajaran akan segera dimulai. Kalimat itu
sama sekali tidak ada bedanya dengan apa yang diucapkan siswa saat kirim
anaknya untuk segera mandi dan belajar. Walhasil, bermain diberi makna negatif.
teknik bermain, belajar model belajar serunya belajar. strategi bermain dan
permainan peran. peran dalam permainan peran.
3. Aktivitas Guru dan Siswa di kelas
Untuk memahami aktivitas guru dan siswa di kelas dapat d dan ruan contoh
ajiner berikut: dilukiskan kinerja guru di suatu SD Antah Jadilah ruang ke. ranta
Sang guru masih sibuk ngobrol sesama kolega entah tentang apa ara guru di ruang
guru, sementara murid menunggu sekitar lima menit di dalam kelas. Memangkelas
tidakgaduh, karena tinggi mu alam hal kelas m ridnya takut kepada gurunya, yang
sering menghukum berdiri di de- pan elas. Bel telah berbunyi sepuluh menit yang
lalu. Sang Guru masih juga asyik mengobrol. Dengan menenteng satu tas hitam
bertuliskan diklat sekitar 40 murid berdiri bla bla bla "dia masuk kelas." Selamat
Pagi Pak baik Guru "Guru pun menjawabnya 'selamat pagi ggota" anak-anak,
sekarang kita akan belajar Matematika. Coba buka buku miki kalian, halaman 25.
Coba perhatikan. Jangan ada yang gaduh Rumus luas pada segitiga adalah
setengah sayang kali tingi. Jadi kalau ada segitiga, sayang ngat 4 cm, dan
tingginya 6 cm, maka luasnya adalah 12 cm, Mengerti ana una kanak? "Begitulah
proses pembelajaran sedang dengan kondis yang mencekam, dan menegangkan."
Mengapa setengah panjang sayang Pak? "Seorang siswa yang bertu- buh agak
besar bertanya kepada sang Guru dengan rasa ingin tahu. Itu rumus duas segitiga.
Hapalkan saja. Itu bukan ukuran luas persegi empat, rumusnya adalah panjang kali
lebar, "jawab sang Guru tanpa ragu-ragu. Anak anak terdiam, tidak berani
bertanya lagi, meski di benaknya timbul banyak pertanyaan yang ingin diajukan.
'Anak-anak, dalam bukumu sudah ada beberapa contoh penerapan rumus itu. Lihat
itu Kemudian, pada halaman selanjutnya ada banyak latihan yang harus kalian
kerjakan.Tugas kalian sekarang adalah mengerjalan latihan-latihan itu. Nah,
sekarang kerjakan soal-soal itu. Basil pekerjaannya nanti '. Demikian perintah
sang Guru kepada muridnya, setelah itu dia ngeloyor kelas kearah guru dengan
ekspresi wajah yang dingin. el berbunyi tanda pelajaran telah selesai Sang Guru
masuk kembali ke kelas dan mengumpulkan pekerjaan siswa. Tanpa pesan tanpa
permisi, tanpa menegur sapa. Sang Guru ngeloyor lagi menuju ruang guru dengan
29

membawa setumpuk kertas hasil pekerjaan siswa-siswa. Para murid tidak tahu
nasib besar kertas-kertas itu nanti.

B. Peraturan Kelas
Ada kalanya seorang guru perlu aturan-aturan yang di nya mengajari siswa
bisa belajar disiplin. Terkadang masalah timbulnya batasan-batasan yang diterapkan
pada siswa yang memiliki kepribadian berbeda dengan teman sebayanya. Berbeda
dengan sine maksudnya memiliki perilaku yang lebih sulit dibina dan dikembangkan
dibinding siswa-siswa lainnya. Berikut beberapa saran untuk para guru yang sudah
bisa dan bisa dipakai pada siswa dengan dikurangi timbulnya masalah saya.
1. Buatlah Aturan Seminim dan sejelas Mungkin aturan yang mau dibuat jelas dan
langsung pada inti aturannya, tidak bertele-tele. Tujuannya, agar siswa langsung
mengeta- hui mana yang bisa mereka lakukan dan mana yang tidak mereka
lakukan. Jelaskan kepada mereka konsekuensi dari aturan singkat tapi, baik positif
maupun negatif. Berikan hadiah, pujian atau simpati kepada mereka yang
mematuhinya. Sedang untuk yang tidak patuh pada aturan, yang dapat memotivasi
tingkat kedisiplinan mereka.
2. Berikan Hadiah atau Hukuman Yang Masuk Akal Terangkan dengan sejelas-
jelasnya apa yang harus siswa kerjakan. Berikan pula pengertian kepada siswa
yang sangat efektif Jelaskan apakah mereka sendiri yang ada memegang kendali
atas kemampuan dan perilakunya masing-masing. Di akhir tugasnya, jelaskan
mereka harus mengerjakan tugas tepat pada waktunya, biarpun ngomong, toh
mereka pada saat yang sama juga bisa melakukan aktivi- tas yang lain. Jadi
mengerjakan tugas bukan penghalang un tuk melakukan kegiatan yang
menyenangkan lainnya.
3. Banyaklah Berkomunikasi dengan Siswa Selalu komunikasikan dengan siswa
secara baik-baik segala hal yang ingin diterapkan kepada mereka. Berikan
penjelasan dari sudut panik sebagai seorang guru dan terangkan perkembangan
apa saja yang telah diraih oleh setiap siswa.
4. Bekerja sama dengan Siswa Walaupun aturan sudah dibuat oleh guru t diajak kerja
sama. Ber. kan untuk mereka dalam proses pembelajaran mereka, jadwallisi dan
daftar ini. jadikan referensi bagi siswa untuk melakukan sesuai dengan jadwal
yang sudah disepakati bersama.
5. Bersikap dan Berpikir Positif Sekeras apapun disiplin yang dibuat, tidak berarti
disiplin yang dimaksud pemaksaan atau kekerasan terhadap siswa. Berikan kepada
ka pelbagai pilihan. Jadikan hal ini topik dari segala komun dengan siswa. Pada
30

siswa yang selalu mengerjakan tugas. alnya, beri pilihan untuk berusaha lebih
keras lagi atau akan kehilangan jatah waktu istirahatnya. Cara ini akan membuat
diri kita memiliki motivasi tersendiri secara internal maupun ekstern.
6. Pendekatan kepada siswa yang Bermasalah Bila ingin memberi pengertian kepada
siswa yang sering lalai atau bermasalah, gunakan pendekatan yang tidak mencolok
per. hatian siswa lainnya. Bila tidak bisa berbicara langsung pada ru. angan suka,
alihkan perhatian siswa lainnya dengan memberikan pekerjaan ringan. Ajaklah
berdiskusi, karena mungkin faktor kelalaian mereka bisa saja stres atau tekanan
akademis yang terlalu berat. Bisa juga karena mereka memiliki energi yang
berlebih sehingga sulit untuk berkonsentrasi cukup lama pada satu mata pelajaran.
Bantulah mereka untuk mengatasi masalah tersebut, dan jangan memalukan siswa
di de- pan teman-teman sekelasnya.

C. Interaksi Energik Guru dan Siswa di kelas


Untuk memotivasi belajar siswa, guru harus selalu inovatif dalam metode metode
pembelajaran. la pun harus men empatkan siswanya sebagai pusat pembelajaran,
maksudnyamana terangsang motif buka.

BAB VI Pengelolaan Kelas dan Media Pembelajaran

A. Pembelajaran Yang Efektif


1. Memahami Pengertian Pembelajaran Efektif Menurut Popham dan Baker (1992),
pada hakekatnya proses pem- belajaran yang dapat terjadi jika guru dapat
mengubah kemampuan dan persepsi siswa dari yang sulit dapat sesuatu yang
mudah mempelajarinya. Lebih jauh mereka menjelaskan proses belajar dan
mengajar yang efektif sangat tergantung pada pemilihan dan peng gunaan. Untuk
bisa memaksimalkan pembela jaran yang efektif itu, pembelajaran yang efektif
juga saya merlukan efesiensi. Oleh McWhorter (1992: 3), efisiensi sebagai
kemampuan untuk menunjukkan sesuatu dengan sedikit usaha, biaya, dan
kapasitas yang tepat untuk tujuan penggunaan. Dari penjelasan di atas, ada dua hal
utama yang diperlukan untuk mencapai proses belajar mengajar yang efektif.
Pertama, harus ada kegi- atan analisis kebutuhan belajar siswa.
2. Pengelolaan Kelas
Keberhasilan pembelajaran membutuhkan tidak per baik terhadap pengelolaan
Paling. guru sebagai yang siswa dan sem dapat meminimalisir. Meski demikian,
Guru tidak bisa bel keheider di tetap sangat diharapkan siswa sendiri dalam
pengelolaan kelas demikian sebaliknya, sekolah stakeholder lainnya tidak bisa
31

bekerja tanpa bantuan komunitas dari yang lain. pemahaman tentang pengelolaan
kelas tergantung masih keliru sedang mengelola kelas yang berhubungan dengan
sarana seperti tempat duduk, le mari baka, alat-alat mengajar santai dan sarana
pembelajaran, yang terutama adala + di kelasnya sebagian kecil, pengkondisian
kelas , kata bagaimana guru proses belajar mengungsi berbagai kegiatan di kelas
sehingga dapat beral dan berhasil dengan baik. Manajemen kelas menurut penulis
adalah upaya yang dilakukan guru untuk mengkondisikan kelas dengan
mengoptimalisasikan berbagai sumber (potensi yang ada pada diri gura sarana dan
lingkungan belajar di kelas) yang suka agar proses belajar mengajar bisa berjalan
sesuai dengan perencanaan dan bajuan yang ingin dicapai. Pengelolaan kelas
dalam bahasa Inggris diistilahkan sebagai kelas. manajemen ruang, itu berarti
istilah pengelolaan identik dengan mana- jemen Pengertian pengelolaan atau
manajemen umum pada kegiatan-kegiatan yang lingkup perencanaan.
pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian pengawasan, dan penilaian.
Wilford A. Weber Oames M. Cooper, 1995: 230) mengemukakan bahwa
manajemen kelas adalah seperangkat perilaku yang digunakan guru untuk
menetapkan dan mempertahankan kondisi kelas yang memungkinkan siswa
mencapai tujuan insmotional mereka yang sesuai yang akan memungkinkan
mereka untuk belajar.

Wilford mengemukakan mengenai pandangan- pandangan yang sedang dalam pengelolaan

1. Pendekatan otoriter. Lihat ini pada perlunya pengawasan dan pengaturan siswa;
peluang besar guru
2. Pendekatan ini memberi cara intim untuk mengawasi dan menertibkan siswa dengan
3. Pendekatan Permisif. Pendekatan ini memberikan kebebasan pada siswa untuk
melakukan apa yang ingin dilakukan, guru banya penting apa yang dilakukan siswa
tersebut; ke
4. Pendekatan "Resep Masakan". Pendekatan ini untuk guru dan guru yang tepat untuk
apa dan apa yang tidak bisa dilakukan; guru
5. pendekatan pengajaran Langkah ini memberi kesempatan bisa untuk menyusun
rencana pengajaran dengan tepat sehingga menghindari pertanyaan perilaku siswa
yang tidak diharapkan
6. Pendekatan Modifikasi Perilaku. Dalam pendekatan ini yang mendorong guru
mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa ini
7. pendekatan iklim sosio-emosional dalam konteks guru'menekankan pada terjalinnya
hubungan yang positif antara B. guru siswa kelompok / dinamika kelompok. Dari
32

pendekatan terse- but yang akan mengoptimalisasikan pengelolaan kelas adalah


penindasan modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, dan sistem proses kelompok
dinamika kelompok.

Seperti pengelola kelas, guru merupakan orang yang memiliki peran yang strategis karena dia
adalah orang yang merujuk kegiatan yang akan dilakukan di kelas, orang yang akan
melaksanakan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek siswa, orang yang
menentukan dan mengambil keputusan dengan Strategi yang akan digunakan dengan
berbagai kegiatan di kelas.

3.Pengorganisasian Lingkungan Belajar

Pengorganisasian lingkungan belajar yang kondusif yang merupakan sarana bagi


terbangunnya proses belajar yang diharapkan adalah sebagai berikut

1. Terciptanya lingkungan sekolah yang kondusif trast


2. Terciptanya disiplin sekolah yang mendorong terbentuknya disiplin inya erap kem
belajar siswa sebagai pusat utama
3. kondisi yang layanan pendidikan dan pengembangan.
4. Terciptanya rasa nyaman. Rasa nyaman ini akan timbul jika seg enap komponen
pendidikan memberikan pelayanan kepada siswa tib melalui kehangatan, keakraban,
dan kekeluargaan. Di amping itu, kebersihan lingkungan belajar juga merupakan
unsur penting bagi terciptanya rasa nyaman ini. segala tugas yang diberikan
5. Adanya responsibilitas siswa terhadap guru, baik itu tugas mandiri maupun tugas
testruktur.
6. Tersedia sarana pembelajaran yang memadai, seperti buku, koran, dll
7. Adanya keteladanan guru sebagai masyarakat terpelajar.
8. Adanya kinerja profesional guru yang terandalkan. Artinya, guru mampu memberi
sugesti pada siswa dalam proses belajar mengajar
9. Program adanya kokurikuler dan ekstra kurikuler yang menyatu dengan program
kurikuler.
10. Terbentuknya konsep penentuan kriteria prestasi dalam pembela jaran yang dilakukan
secara obyektif.
11. Terciptanya kondisi orang tua siswa sebagai masyarakat yang senang belajar.
12. Tersedianya buku dan cumber informasi lain sebagai barang konsumsi harga
13. Adanya jadwal belajar bagi siswa dirumahnya masing-masing
33

B. Penggunaan Media Pembelajaran


1. Komunikasi dalam proses pembelajaran
Proses belajar-mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa.
Proses komunikasi yang mungkin terjadi selama proses belajar mengajar adalah
komunikasi searah, duua arah dan banyak arah

BAB VII Metode, Model dan Pendekatan pembelajaran.

A. Macam-macam Metode Pembelajaran


1.Ceramah
Metode ceramah yang digunakan untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan
secara lisan kepada sejumlah siswa dikelas, dimana pada umumnya hanya mengikuti
satu arah. Dalam penggunaan metode ceramah, seorang guru harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1) Menetapkan apakah metode ceramah digunakan dengan mempertimbangkan hal-
hal sebagai berikut
a. Tujuan yang hendak dicapai, jika tujuan penyampaian materi sebatas diketahui
siswa tanpa harus memahami dan menghayati.
b. Bahan yang akan diajarkan, biasanya tidak mengandung unsur yang rumit
c. Alat fasilitas waktu yang tersedia, jumlah siswa fasilitas serta waktu sangat
terbatas
d. Jumlah siswa beserta taraf kemampuanny, jumlah siswa yang banyak dengan
tara kemampuan yang merata
e. Kemampuan guru dalam menguasai materi dan kemampuan berbicara guru
memiliki kemampuan yang merata
2. Metode Diskusi
Adalah suatu proses bertukar informasi, pendapat, dan unsur pengalaman secara
teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan
lebih cermat tentang permasalahan atau topik yang di bahas. Tujuan dan di
aplikasikan metode diskusi kedalam prose belajar mengajar untuk :
a. Mendorong siswa beripikir kritis
b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas
c. Memotivasi siswa menyumbangkan buah pikirannya dalam memecahkan
masalah
d. Mengambil satu atau beberapa alternative jawaban dalam memecahkan
masalah berdasarkan pertimbangan seksama
34

3. Pemecahan Masalah (Problem Solving)


Merupakan satu proses berpikir ilmiah oleh Goldstein dan Levin (1987)
didefenisikan sebagai berikut “Problem solving has been defined as higher-order
cognitive process that requires the modulation and control of more routine or
fundamental skills. Beberapa cara dalam pemecahan masalah :
1. Klarifikasi lebih rinci tentang masalah tersebut, dengan cara menuntaskannya
secara jelas
2. Analisis sebab-sebab terjadinya masalah
3. Identifikasi alternative pemecahan masalah
4. Memilih alternative pemecahan yang paling baik
5. Melaksanakan, alternative yang paling baik dan benar
6. Mengevaluasi apakah masalah tersbut telah benar-benar dapat dipecahkan atau
belum

4. Metode Diskusi Panel


Merupakan salah satubentuk diskusi kelompok kecil yang biasanya terdiri dari 4-6
orang. Umumnya mendiskusikan tentang suatu topik tertentu dengan cara duduk
dalam susunan semi melingkar dan dipimpin oleh moderator.

5. Metode Buzz Group


Dilakukan dengan cara membagi suatu kelompok kecil, yang terdiri dari 4-6
orang. Tempat duduk siswa pun diatur sedemikian rupa agar mereka dapat bertuka
pikiran dan berhadapan muka dengan langsung.

6. Metode Syndicate Group


Dilakukan dengan cara membagi suatu kelompok menjadi beberapa kelompok
kecil yang teridiri dari 4-6 orang siswa. Masing-masing kelompok melaksanakan
tugas komplementer.

7. Metode Simposium
Dilakukan beberapa orang untuk membahas berbagai aspek dari suatu pokok
bahasan dan membacakan di muka peserta symposium secar singkat.
35

8. Metode Fish Bowl


Dapat digambarkan berikut beberapa peserta yang dipimpin oleh seseorang ketua
siding yang dipilih dari siswa untuk mengambil keputusan. Tempat duduk merka
diatur setengan lingkaran dengan dua atau tiga kursi kosong menghadap peserta
diskusi.

9. Metode Informal Debate


Dengan cara membagi kelas menjadi dua yaitu yang agak sama jumlahnya dan
mendiskusikan pokok bahasan yang cocok untuk diperdebatkan tanpa terlalu
memperhatikan peraturan perdebatan formal.

10. Metode Brainstorming Group


Teknik ini baik digunakan kalua jumlah peserta berkisar 8-12 orang Setiap
anggota kelompok diharapkan menyumbangkan ide dalam pemecahan masalah
tanpa dinilai segera benar atau salahnya.

11. Metode Qolloqium


Digunakan guru yang memberikan tugas belajar yang agak mendalam kepada
siswa. Apabila siswa itu telah menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan, ia
dianggap telah menguasai masalahnya.
12. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
Kedua metode ini dalam praktik sering digunakan silih berganti atau saling
melengkapi. Eksperimen adlah sutu metode yang biasanya digunakan di suatu
pelajaran sains. Di dalam eksperimen pengujian hipotesis melalui penyelidikan
mereka sendiri untuk menembukan konsep sains spesifik dan prinsip.

13. Metode Sosio Drama


Melalui metode bermain anak-anak deberi memainkan peran seseorang dan
menampilkan peranannya itu didepan kelas. Hal-hal yang berhubungan dengan
masalah social yang dimainkan oleh siswa disebut sosio drama

14. Metode Permainan


Tujuan utama permainan adalah untuk mrniptakan kesenangan dan keterkaitan
akan proses pelajaran. Pemainan tertentu membantu di dalam hal pelajaran
36

tertentu, dengan demikian mereka mendapat pengalaman manis dan


menyenangkan.

15. Metode Drill


Merupakan metode mengajar dengan memberikan latihan-latihan kepada siswa
untuk memperoleh suatu keterampilan.

BAB VIII Guru dan Perubahan Zaman


A. Pembelajaran Berbasis Teknologi
1. Perubahan Iptek dan guru.
Ilmu pengetahuan kian berkembang cepat seiring dengan perkembagan teknogi
dan informasi. Jika guru tidaks segera menysuaikan dengan laju perkembangan
ilmu pengetahuan tersebut, maka bias dipastikan pengetahuan yang diperoleh dan
dikuasainya selama dua-tiga tahun kulaih akan using di telan zaman.

2. Pengaruh Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam pembelajaran


Ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran seiring dengan perkembangan
penggunaan TIK, yaitu :
1. Dari pelatihan dan keterampilan
2. Dari ruang kelas ke dimana dan kapan saja
3. Dari kertas “online” atau saluran
4. Dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja
5. Dari waktu siklus ke waktu kerja

B. Pergeseran Pandangan Tentang Pembelajaran


1. Pemanfaatan Tik dalam pembelajaran
Untuk dapat memanfaatkan Tik dalam memperbaiki mutu pembelajran, ada tiga
hal yang harus diwujudkan, yaitu :
1. Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet
dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan
2. Harus tersedia materi yang berkualitas dan dukungan social-budaya bagi siswa
dan guru.
3. Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan alat
dan sumber digital untuk membantu siswa agar standa pendidikan yang ideal.

2. Pemanfaatan Tik oleh guru


37

Tik dimanfaatkan lebih jauh dan efektif untuk meningkatkan kualitas


pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan dengan mengintegritaskannya kedalam
kurikulum yang ada. Peran guru menjadi sangat penting sebagai sutradara dalam
proses belajar-mengajar.dalam ruang kelas maupun diluar ruang kelas ketika
memanfaatkan Tik. Peran Tik menurut Cark yaitu
1. Media sebagai teknologi
2. Media sebagai alat atau tutor guru
3. Media sebagai agen sosialisasi
4. Media sebagai motivator untuk belajar
5. Media sebagai alat mental untuk berpikir dan memecahkan masalah

BAB IX Kemampuan Evaluasi

A. Pemahaman Tentang Penilaian.


1. Evaluasi
Sebagai suatu proses penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil
karya siswa. Merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam meningkatkan
kualitas kinerja atau produktivitas suatus lembaga dalam melaksanakan
programnya.
2. Penilaian
Adalah suatu prose pengumpulan informasi tentang kinerja siswa untuk digunakan
sebagai dasar dalam membuat keputusan

B. Fungsi Penilaian
1. Fungsi Formatif
Evaluasi dilakukan selama pembelajaran berlangusung dapat memberikan
informasi yang berupa umpan balik baik bagi guru maupun bagi siswa.
2. Fungsi Sumatif
Dalam pelaksanaan evaluasi hasil belajar biasanya dilakukan pada akhir program
pengajaran, misalnya pada akhil kwartal, akhir semester dan akhir tahun ajaran.
3. Fungsi Diagnostik
Dipakai untuk mengungkapkan kesulitan siswa. Prosesnya dilakukan pada
permulaan PBM .
4. Fungsi Seleksi
Dipakai untuk menyeleksi peserta didik yang akan diterima dalam suatu jenjang
pendidikan guan didesuaikan dengan ruangan, tempat duduk atau fasilitas lain
yang tersedia.
38

5. Fungi Motivasi
Apabila siswa mengetahui bahwa dalam PBM yag dijalaninya tidak dilakukan
evalusai, maka sudah dapat dibayangkan : Siswa tesebut malas untuk belajar.
Dengan dilakukan evaluasi, maka keinginan untuk belajar akan menjadi lebih
tinggi, lebih-lebih lagi bagi siswa yang ingin menunjukan kemampuannya.

C. Aspek Yang Dinilai


1. Proses Pembelajaran
2. Hasil belajar

D. Prinsip penilaian.
Prinsip Penilaian dalam pembelajaran,baik pada penilaian bekelanjutan maupun
penilaian akhir hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai
berikut :
1. Penilaian Menyeluruh
2. Penilaian Bekelanjutan
3. Penilaian Berorientasi
4. Penilaian sesuai dengan pengalaman belajar

E. Jenis instrument penilaian


1. Tes
2. Nontes

F. Langkah-langkah membuat instrument penilaian


1. Langkah penyusunan instrument test
2. Langkah penyusunan Nontes

G. Pengskoran
1. Tes Kognitif
2. Pengukuran aspek afektif
3. Tes Psikomotorik

H. Penerapan Penilaian kelas dalam pembelajaran


1. Manfaat Penilaian kelas
2. Fungsi Penilaian kelas
39

BAB X Pentingnya Jaringan Profesi Kerja Guru


A. Pengertian jaringan kerja guru
Adalah sekelompom guru, baik yang se-sekolah atau, se-bidang atau lintas bidang
studi yang menjalin komunikasi satu sama lai.
B. Tujuan utama jarigan kerja guru
1. Membagun kerja sama sesame guru guna menciptakan proses pembelajaran yang
aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan
2. Menumbuhkan motivasi guru untuk meningkatkan kemampuan dan kecakapan
mereka dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran di kelas.
3. Mendiskusikan masalh pendidikan dan pembelajaran yang di hadapi guru dalam
menjalankan tugas mereka sehari-hari dan menemukan metode penyelesaian
sesuai dengan sifat-siat mata pelajaran, guru, sekolah dan kondisi lingkungan
sekitar.
4. Memberikan jalan kepada guru untuk berbagi informasi dan pengalaman
menerapkan kurikulum dan dalam menggunakan teknologi pembelajaran

C. Urgensi jaringan kerja guru


JKG bias dijadikan model yang paling baik untuk membantu guru melakukan
pengembangan profesioanlitas berkelanjutan.

D. Langkah membangun jaringan


1. Mendata Kebutuhan
2. Menghitung potensi yang dimiliki
3. Menemukan relasi-relai sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing
4. Mengikat kemitraan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing pihak
5. Mengembangkan usaha
6. Memelihara kerja sama melalui usaha interaktif antara angoota jaringan
7. Mengikat kesamaan-kesamaan pandangan dalam wadah kebersamaan

E. Jaringan Kerja Guru Indonesia


Tujuan Umum MGMP dan KKG adalah untuk mengembangkan kreatifitas dan
inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru. Sedangkan tujuan khusu MGMP
adalah memperluas wawasan dan pengetahuan guru mata pelajaran dalam upaya
mewujudkan pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan.
40

F. Jenis kegiatan jaringan kerja guru


1. Peningkatan Penguasaan materi mata pelajaran
2. Peningkatan pemahaman kurikulum
3. Peningkatan kualitas pembelajaran
4. Penigkatan kemampuan evaluasi
5. Pengembangan penunjang/profesi

G. Startegi kegiatan pemberdayaan MGMP/KKG


1. Merencanakan pembelajaran
2. Melaksanakan KBM
3. Melakukan penilaian
4. Melaksankan inovasi pembelajaran
41

BAB III

PEMBAHASAN

A. Pembahasan isi buku


Buku Utama :

1. Pada Bab 1 Buku Utama adalah Membahas Tentang Konsep Evaluasi Pembelajaran
yang mana dalam materi ini Pada hakikatnya tes adalah serangkaian tugas yang harus
dilakukan atau soal-soal yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur suatu
aspek perilaku tertentu. Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk
menentukan kuantitas daripada sesuatu. Dalam proses pengukuran tentu harus
menggunakan alat ukur Sedangkan Pada Bab 1 Buku Pembanding adalah
Membahas Tentang Konsep Dasar Evaluasi Pembelajaran yang mana dalam materi ini
Tes adalah pemberian suatu tugas atau rangkaian tugas dalam bentuk soal atau
perintah/suruhan lain yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Hasil pelaksanaan
tugas tersebut digunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan tertentu terhadap
peserta didik. Pengukuran (measurement) adalah suatu proses untuk menentukan
kuantitas daripada sesuatu. Sesuatu itu bisa berarti peserta didik, starategi
pembelajaran, sarana prasana sekolah .

2. Pada Bab 2 Buku Utama Adalah membahas Tentang Tujuan evaluasi pembelajaran
adalah untuk mengetahui keefektifan dan efisiensi sistem pembelajaran. Sedangkan,
tujuan umum penilaian adalah keeping-track, checking-up, finding-out, and summing-
up. Tujuan penilaian hasil belajar adalah untuk mengetahui tingkat penguasaan
peserta didik terhadap materi yang telah diberikan; kecakapan, motivasi, bakat, minat,
dan sikap peserta didik terhadap program pembelajaran; tingkat kemajuan dan
kesesuaian hasil belajar peserta didiK
42

dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai oleh pendidik dalam proses
pembelajaran adalah melalui evaluasi. Evaluasi yang dilakukan oleh pendidik ini
dapat berupa evaluasi hasil belajar dan evaluasi pembelajaran.

Memang tidak semua orang menyadari bahwa setiap saat kita selalu melakukan
pekerjaan evaluasi. Dalam beberapa kegiatan sehari-hari, kita jelas-jelas mengadakan
pengukuran dan penilaiankata sendiri serta dapat mengukur kecakapan murid untuk
berfikir tinggi yang biasanya dituangkan dalam bentuk pertanyaan.

3. Pada Bab 3 Buku Utama Adalah Membahas Tentang Ruang Lingkup Proses
Pembelajara yang mana materi nya itu Ruang lingkup evaluasi pembelajaran dalam
perspektif domain hasil belajar dapat mengikuti pengelompokkan dari Benyamin
S.Bloom, dkk (1956) yang membagi hasil belajar menjadi tiga domain, yaitu kognitif,
afektif dan psikomotor.

4. Pada Bab 4 Buku Utama Adalah Membahas tentang Prosedur


Pengembangan Evaluasi Pembelajaran yang mana materi nya dibahas Perencanaan
evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai dan komprehensif,
sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah
selanjutnya. Melalui perencanaan evaluasi yang matang inilah Anda dapat
menetapkan indikator yang harus dikuasai peserta didik, dapat mempersiapkan
pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu
yang tepat. Dalam perencanaan evaluasi, ada beberapa hal yang harus Anda
perhatikan,seperti tujuan, kisi-kis
 Buku Pembanding
Pandangan Evaluasi Hasil Belajar menurut para ahli
Evaluasi belajar menurut Kirkkendall (1980) adalah proses penentuan nilai
atau manfaat dari satu data kolektif. Nitko Brookhart (2007) sebagai suatu
proses penetapan nilai yang berkaitan dengan kinerja dan hasil karya siswa.
Kirik Patrick (1998) menyarankan tiga komponen yang harus di evaluasi
dalam pembelajaran yaitu pengetahuan yang dipelajari, keterampilan apa yang
dikembangkan, dan sika papa yang perlu diubah. Ebel (1986) berpendapat
bahwa evaluasi merupakan suatu kebutuhan dimana evaluasi harus
memberikan keputusan tentang informasi apa saja yang dibutuhkan,
bagaimana informasi tersebut dikumpulkan, dan bagaimana informasi tersebut
dikumpulkan, dan bagaimana informasi itu disintesiskan untuk mendukung
hasil yang di harapkan. Astin (1993) menyarankan tiga komponen yang harus
dievaluasi agar hasilnya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Ketiga
komponen itu adalah masukan, lingkungan sekolah dan kelurahan.

 Buku Pembanding
Pandangan Evaluasi Hasil Belajar menuru para ahli
Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977): Evaluation refer to the act or
process to determining the value of something. Menurut definisi ini, maka
istilah evaluasi itu menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.

Kesimpulan yang dapat di ambil dari ke dua buku tersebut adalah bahwa pada buku
utama para ahli mengungkapkan Evaluasi Hasil Belajar harus memiliki beberapa
komponen dalam mengevaluasi. Sendangkan pada buku pembanding mendefenisikan
(Menjelaskan) evaluasi hasil belajar.

 Buku Pembanding
Prinsip-Prinsip Dasar Dalam Penyusunaiu Tes Hasil Belajar
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu dicermati di dalam menyusun tes hasil
belajar agar tes tersebut dapat mengukur tujuan instruksional khusus untuk
mata pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan
44

keterampilan peserta didik yang diharapkan, setelah mereka menyelesaikan


suatu unit pengajaran tertentu. Pertama, tes hasil belajar harus dapat mengukur
secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai
dengan tujuan instruksional. Kedua, butir butir soal tes hasil belajar harus
merupakan sampel yang representatif dari populasi bahan pelajaran yang telah
diajarkan. Ketiga, bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar harus
dibuat bervariasi. Keempat, tes hasil belajar harus di desain sesuai dengan
kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Kelima, tes hasil
belajar harus memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan.

Kesimpulan yang dapat di ambil dari kedua buku tersebut adalah bahwa buku utama
memberikan jenis-jenis prinsip penilaian dalam evaluasi hasil belajar. Sedangkan
buku pembanding menjelaskan prinsip dasar dalam penyusunan tes hasil belajar.

B. Kelebihan dan kekurangan buku


1. Dilihat dari aspek face value buku utama dan dan pembanding yang direview
diambil kesimpulan bahwa buku utama lebih bagus dibandingkan buku kedua
(Buku kedua kusam/buku tahun lama)
2. Dilihat dari aspek layout dan tata letak,serta tata tulis termasuk penggunaan font
buku utama dan pembanding sudah bagus dan enak dilihat.
3. Dilihat dari aspek isi buku utama dan pembanding dari Kata Pengantar, Daftar isi,
dan BAB sudah bagus.
4. Dilihat dari aspek Bahasa dan tata letak buku utama dan buku pembanding Bahasa
yang di gunakan bagus.

44
45

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari Ketiga buku yang telah kami bahas, kami menyimpulkan bahwa lebih banyak
Kelebihan Buku Utama dari pada Buku Pembanding. Sehingga kami menyarankan
buku ini cocok dimiliki Mahasiswa.

B. Saran
Semoga dengan adanya Critical Book Review ini pembaca, khusunya pendidik, atau
calon pendidik dapat memberikan perhatian lebih dalam hal yang berkaitan dengan
evaluasi sehingga seorang pendidik akan mempunyai dasar yang kuat dalam
melakukan penilaian terhadap siswanya. utamanya bagi pendidik ataupun calon
pendidik untuk lebih memperdalam pengetahuannya dalam hal evaluasi pembelajaran
dan menerapkan proses evaluasi tersebut secara benar dan tepat.

45
46

Daftar Pustaka

Suyanto.2013.Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru Profesional.Yogyakarta : Multi


Pressindo.

Sudijono, Anas. 1996.Pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

46