Anda di halaman 1dari 9

BAB VI

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1 Hasil Percobaan


Table 4.1 Tinggi Nata dan Massa Nata yang dihasilkan

Tinggi Nata
Variabel Massa Nata
Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari 4
1 0 cm 0,2 cm 0,3 cm 0,4 cm 0 gram
2 0,1 cm 0,2 cm 0,3 cm 0,3 cm 0 gram
3 0,1 cm 0,3 cm 0,3 cm 0,4 cm 0 gram
4 0,2 cm 2,3 cm 2,4 cm 2,6 cm 14,7 gram
5 0,2 cm 2,5 cm 2,6 cm 2,6 cm 9,39 gram
6 0,2 cm 2,2 cm 2,4 cm 2,4 cm 9,42 gram

Table 4.2 Analisa glukosa pada air kelapa dan sari buah mangga

ANALISA GLUKOSA
Volume
Volume
Variabel %S %S titran pH pH
titran akhir
(gr/ml) (gr/ml) awal akhir awal awal akhir
(ml)
(ml)
1 0,9963 1,00766 4,961 1,9847 23 20 5 3
2 0,9963 1,00887 4,961 2,48 23 19,5 5 3
3 0,9963 1,0168 4,961 1,984 23 20 5 3
4 0,9547 0,96069 6,946 1,488 21 20,5 5 3
5 0,9547 0,8594 6,946 2,977 21 19 5 3
6 0,9547 0,96069 6,946 1,9847 21 20 5 3
Tabel 4.3 Foto nata yang dihasilkan

Foto hasil nata

Variabel 4 5 6

1.2 Pembahasan
4.2.1 Perbandingan densitas awal dengan densitas akhir

Gambar 4.1.1 Grafik Perbandingan densitas awal dengan densitas akhir

Gambar 4. merupakan fenomena perubahan densitas diawal waktu dan


akhir. Dapat dilihat bahwa semua densitas pada hari terakhir jika dibandingkan
dengan hari awal mengalami kenaikan. Densitas awal air kelapa muda adalah
sebesar 0,993 gr/ml sedangkan densitas sari buah mangga adalah sebesar 0,99963
gr/ml. Densitas akhir variabel 1 sebesar 1,00766 gr/ml, variabel 2 sebesar
1,00766 gr/ml, variabel 3 sebesar 1,01168 gr/ml, variabel 4 sebesar 0,9069 gr/ml,
variabel 5 sebesar 0,9594 gr/ml, dan variabel 6 sebesar 0,96069 gr/ml.

Secara teoritis, menurut Iguchi et al., (2000) dalam Hamad dkk., (2014),
nilai densitas mengalami kenaikan dikarenakan oleh pertumbuhan bakteri
Acetobacter xylinum yang meningkat secara eksponensial, karena oksigen dapat
menembus gel selulosa yang dihaslkan oleh bakteri di permukaan sehingga
memenuhi medium fermentasi yaitu air kelapa dan sari buah mangga. Menurut
Bell Chris dkk., (2005) dalam Hamad dkk., (2014), pada fase eksponensial
ini,kecepatan pertumbuhan bakteri sangat cepat. Hal ini menyebabkan massa
media bertambah. Berdasarkan rumus, menurut Rabek, (1983) dalam Bahmid
dkk., (2014), nilai densitas diperoleh dengan cara membagi nilai massa terhadap
volume maka densitas sebanding dengan massa. Jika massa bertambah, maka
densitas bertambah.

Jika dilihat dari hasil percobaan, densitas mengalami kenaikan karena


adanya pertumbuhan bakteri, teruatama pada fase eksponensial. Pertumbuhan
bakteri ini akan menambah massa media. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
semua variabel dari hasil percobaan kami sesuai dengan teori yaitu densitas pada
hari terakhir fermentasi akan semakin naik karena bakteri Acetobacter xylinum
mengalami fase eksponensial yang menyebabkan massa media bertambah.

4.2.2 Perbandingan %S awal dengan %S akhir

Gambar 4.1.2 Perbandingan %S awal dengan %S akhir

Gambar 4. diatas menjelaskan bahwa terjadi penurunan kadar glukosa


selama proses fermentasi nata yang terjadi pada setiap variabel. Pada kadar
glukosa awal air kelapa yakni sebesar 4,961% dan kadar glukosa awal sari buah
mangga yakni 6,946%. Kadar glukosa akhir pada variabel 1 yakni sebesar
1,9847%, variabel 2 sebesar 2,48%, variabel 3 sebesar 1,984%, variabel 4
sebesar 1,488%, variabel 5 sebesar 2,977%, dan variabel 6 sebesar 1,9847%.

Secara teori, menurut Nainggolan, (2009) dalam Putriana dan Aminah


(2013), kadar glukosa akan turun karena bakteri Acetobacter xylinum
menghasilkan enzim ekstraseluler yang dapat menyusun (mempolimerisasi) zat
gula (glukosa) menjadi ribuan rantai (homopolimer) serat atau selulosa. Dari
jutaan jasad renik yang tumbuh dalam media, akan dihasilkan jutaan lembar
benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga
transparan, yang disebut sebagai nata yang termasuk metabolit sekunder.

Jika dilihat dari hasil percobaan,sesuai dengan teori yang ada dimana
terjadi penurunan kadar glukosa (%S) pada semua variabel karena adanya
aktivitas bakteri Acetobacter xylinum yang merubah glukosa menjadi selulosa,
sehingga kadar glukosa mengalami penurunan.

4.2.3 Perbandingan pH awal dengan pH akhir

Gambar 4.1.3 Perbandingan pH awal dengan pH akhir

Gambar 4.3 diatas merupakan perbandingan perubahan pH pada fermentasi


nata, terlihat bahwa diagram batang menunjukkan penurunan pH, yakni pH akhir
lebih kecil dari pH awal. Variabel 1 hingga variabel 6 memiliki pH awal dan pH
akhir yang sama yaitu berturut-turut adalah 5 dan 3.
Menurut Sreeramulu et al., (2000) dalam Pratiwi dkk., (2010) menyatakan
bahwa penurunan pH terjadi karena selama proses fermentasi khamir mensintesis
memproduksi alkohol secara anaerob, kemudian alkohol menstimulasi
pertumbuhan Acetobacter xylinum. Acetobacter xylinum menyintesa gula menjadi
etanol dan oleh bakteri asetat dirombak menjadi asam-asam organik, seperti asam
asetat dan asam glukonat dan beberapa konsentrasi asam-asam organik tersebut
mengakibatkan penurunan pH medium fermentasi. Menurut Wusnah dkk., (2018)
berikut adalah reaksi pembentukan ethanol dari glukosa yang kemudian dirombak
menjadi asam asetat.
Saccharomyces cerevisiae

C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2


Acetobacter xylinum

C2H5OH + O2 CH3COOH + H2O

Dari praktikum yang dihasilkan, diketahui bahwa variabel 1 hingga 6 mengalami


penurunan pH. Hal ini disebabkan karena selama proses fermentasi nata akan
terbentuk karbondioksida dan asam-asam organik seperti asam piruvat, asam
suksinat, asam laktat, dan asam-asam lainnya. Asam-asam yang dihasilkan
sebagai produk sampingan inilah yang membuat pH larutan semakin rendah.
Sehingga dapat disimpulkan praktikum yang dihasilkan sesuai dengan teori yang
ada.

4.2.4 Pengaruh perbedaan bahan baku terhadap nata yang dihasilkan


Table 4.3 pengaruh bahan baku terhadap Nata yang dihasilkan

variabel Bahan baku ∆S%

1 Air kelapa 0,754

2 Air kelapa 0,69

3 Air kelapa 0,7558

4 Sari mangga 1,4412

5 Sari mangga 1,1815

6 Sari mangga 1,3115

Table 4.3 diatas merupakan pengaruh bahan baku terhadap Nata yang
dihasilkan. Terlihat bahawa pada varibel 1,2 dan 3 menggunakan bahan baku air
kelapa. Sedangkan variabel 4,5 dan 6 menggunakn bahan baku sari buah manga.
Pada variabel 1,2 dan 3 kadar glukosa yang terkonversi yaitu sebesar 0,754%,
0,6% dan 0,75587. Sedangkan pada variabel 4,5 dan 6 kadar glukosa yang
terkonversi yaitu sebesar 0,14412%, 1,1815% dan 1,3115%. Terlihat bahwa
dengan bahan baku yang berbeda maka kadar glukosa yang terkonversi juga
berbeda-beda.
Menurut irawan (2007), kandungan gula pada air kelapa berkisar 1,7 –
2,6%. Sedangkan kadar gula pada manga sekitar 24%. Pembentukan nata
dipengaruhi oleh komponen gula dan mineral yang akan merangsang
pembentukan prekursos selulosa. Semakin pekat konsentrasi substrat fermentasi
maka senyawa gula sebagai sumber karbon yang diperlukan untuk pembentukan
prekursor nata tersedia lebih banyak dan nata yang terbentuk menjadi lebih tebal
(Muchtadi, 1997 dalam Handadari D., 2002:27). Adanya kandungan gula dalam
bahan baku akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi,
maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah
selulosa yang membentuk Nata. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba
(growth promoting factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba, sedangkan
adanya mineral dalam substrat akan membantumeningkatkan aktifitas enzim
kinase dalam metabolisme di dalam sel Acetobacter xylinum untuk menghasilkan
selulosa (Misgiyarta, 2007: 2).
Dari hasil praktikum, pada variabel 4 kadar glukosa yang terkonversi lebih
besar daripada variabel 3. Dan variabel 5 kadar glukosa yang terkonversi lebih
besar dari variabel 2. Dan variabel 6 kadar glukosa yang terkonversi lebih besar
dari variabel 1. Pada variabel 4,5 dan 6 menggunakan bahan baku sari buah
mangga, sedangkan pada variabel 1,2,dan 3 menggunakan bahan baku air kelapa.
Hal ini sesuai dengan teori yang ada karena pada buah mangga kadar glukosanya
lebih besar daripada air kelapa. Karena kadar glukosa tersebut akan dimanfaatkan
oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk
membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk
Nata. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan
meningkatkan pertumbuhan mikroba. Jika kadar glukosanya banyak maka
glukosa yang terkonversi menjadi nata juga akan banyak.

4.2.5 Pengaruh penambahan glukosa terhadap nata yang dihasilkan


Table 4.4 Pengaruh penambahan glukosa terhadap Nata yang dihasilkan

variabel Gula pasir ∆S%


1 22,49 0,754
2 19,992 0,69
3 22,49 0,7558
4 26,275 1,4412
5 23,88 1,1815
6 23,88 1,3115

Table 4.4 diatas merupakan pengaruh gula pasir terhadap Nata yang
dihasilkan. Terlihat bahawa pada varibel 1 menggunakan gula pasir 22,49 gram,
variabel 2 dengan gula pasir 19,992 gram, variabel 3 dengan gula pasir 22,49
gram, variabel 4 dengan gula pasir 26,275 gram, variabel 5 dengan gula pasir
23,88 gram dan variabel 6 menggunakan gula pasir 23,88 gram. Terlihat bahwa
penambahan jumlah gula pasir yang berbeda menghasilkan kadar glukosa yang
terkonversi juga berbeda-beda.
Pembentukan nata dipengaruhi oleh komponen gula dan mineral yang
akan merangsang pembentukan prekursos selulosa. Semakin pekat konsentrasi
substrat fermentasi maka senyawa gula sebagai sumber karbon yang diperlukan
untuk pembentukan prekursor nata tersedia lebih banyak dan nata yang terbentuk
menjadi lebih tebal (Muchtadi, 1997 dalam Handadari D., 2002: 27). Adanya
kandungan gula dalam bahan baku akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum
sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa
metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk Nata. Senyawa peningkat
pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan meningkatkan
pertumbuhan mikroba, sedangkan adanya mineral dalam substrat akan
membantumeningkatkan aktifitas enzim kinase dalam metabolisme di dalam sel
Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa (Misgiyarta, 2007: 2).
Dari hasil praktikum, pada variabel 6 kadar glukosa yang terkonversi lebih
besar daripada variabel 1. Dan pada variabel 5 kadar glukosa yang terkonversi
lebih besar dari pada variabel 2. Dan pada variabel 4 kadar glukosa yang
terkonversi lebih besar daripada variabel 3. Hal ini sesuai dengan teori diatas
bahwa semakin banyak jumlah glukosa yang ditambahkan maka glukosa yang
terkonversi menjadi nata juga banyak. Karena kadar glukosa tersebut akan
dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber
karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang
membentuk Nata. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting
factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba. Jika kadar glukosanya banyak
maka glukosa yang terkonversi menjadi nata juga akan banyak.

4.2.6 Pengaruh penambahan Acetobacter aceti terhadap nata yang dihasilkan


Table 4.5 Pengaruh penambahan Acetobacter aceti terhadap nata yang dihasilkan

Variabel Acetobacter aceti ∆S%


1 25 ml 0,754
2 20 ml 0,69
3 27,5 ml 0,7558
4 27,5 ml 1,4412
5 25 ml 1,1815
6 25 ml 1,3115

Table 4.5 diatas merupakan pengaruh Acetobacter aceti terhadap Nata


yang dihasilkan. Terlihat bahawa pada varibel 1 menggunakan Acetobacter aceti
25 ml, variabel 2 dengan Acetobacter aceti 20 ml, variabel 3 dengan Acetobacter
aceti 27,5 ml, variabel 4 dengan Acetobacter aceti 27,5 ml, variabel 5 dengan
Acetobacter aceti 25 ml dan variabel 6 menggunakan Acetobacter aceti 25 ml.
Terlihat bahwa penambahan jumlah Acetobacter aceti yang berbeda
menghasilkan kadar glukosa yang terkonversi juga berbeda-beda .
Menurut awwaly dkk (2011), semakin banyak konsentrasi Acetobacter
aceti yang ditambahkan maka enzim yang dihasilkan oleh Acetobacter aceti
untuk merombak glukosa menjadi nata menjadi lebih besar. Karbohidrat pada
medium dipecah menjadi glukosa yang kemudian berikatan
dengan asam lemak (Guanosin trifosfat) membentuk prekursor
penciri selulosa oleh enzim selulosa sintetase, kemudian
dikeluarkan ke lingkungan membentuk jalinan selulosa pada
permukaan medium (Wardhanu, 2009).
Dari hasil praktikum, pada variabel 4 kadar glukosa yang terkonversi lebih
besar daripada variabel 1. Dan variabel 5 kadar glukosa yang terkonversi lebih
besar dari variabel 2. Dan variabel 6 kadar glukosa yang terkonversi lebih besar
dari variabel 3. Pada variabel 4,5 dan 6 menggunakan bahan baku sari buah
mangga, sedangkan pada variabel 1,2,dan 3 menggunakan bahan baku air kelapa.
Hal ini sesuai dengan teori yang ada karena pada buah mangga kadar glukosanya
lebih besar daripada air kelapa. Karena kadar glukosa tersebut akan dimanfaatkan
oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk
membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk
Nata. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan
meningkatkan pertumbuhan mikroba. Jika kadar glukosanya banyak maka
glukosa yang terkonversi menjadi nata juga akan banyak.