Anda di halaman 1dari 7

PROPOSAL

Tinjauan Yuridis Tentang Urgensi Perlindungan Hukum Terhadap Anak Sebagai


Korban Tindak Pidana Kekerasan Seksual (Perkosaan)

Disusun oleh :
Voni Mega Oktavia
B10017177

Dosen Pembimbing :
Dr. Fauzi Syam SH.,M.H

Fakultas Hukum
Universitas Jambi
2019
1. Latar Belakang Masalah

Anak adalah karunia dari Tuhan Yang Maha Esa untuk agama, keluarga, bangsa dan negara.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah penerus cita-cita bagi kemajuan suatu
bangsa. Di dalam diri seorang anak terdapat suatu harkat dan martabat yang dimiliki oleh orang
dewasa pada umumnya, maka anak juga harus mendapatkan suatu perlindungan khusus agar
kelak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena anak adalah generasi muda penerus
bangsa serta berperan dalam menjamin kelangsungan eksistensi suatu bangsa dan Negara itu
sendiri.

Perlindungan Anak adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar
setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan
anak secara wajar baik fisik, mental dan sosial.1

Upaya-upaya perlindungan anak harus dimulai sedini mungkin, agar kelak dapat
berpartisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan Negara. 2 Dalam pasal 2 ayat (3) dan
(4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak,
disebutkan bahwa : Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa kandungan
maupun sudah dilahirkan. Anak berhak atas perlindungan lingkungn hidup yang dapat
membahayakan atau menghambat pertumbuhan atau perkembangan dengan wajar.3

Pada hakikatnya anak tidak dapat melindungi diri sendiri dari berbagai macam tindakan yang
menimbulkan kerugian mental, fisik, maupun sosial dalam berbagai bidang kehidupan dan
penghidupan. Anak harus dibantu oleh orang lain dalam melindungi dirinya.4

Perhatian terhadap permasalahan perlindungan anak sebagai objek kejahatan telah dibahas
dalam beberapa pertemuan berskala internasional yang antara lain Deklarasi Jenewa tentang
Hak-Hak Anak Tahun 1924 yang diakui dalam Universal Declaration Of Human Rights tahun
19948. Kemudian pada tanggan 20 November 1958, Majelis Umum PBB mengesahkan

1
Ibid, hlm. 2
2
Menurut pasal 1 butir 2 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, perlindungan anak adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-hak nya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan
berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi.
3
Menurut pasal 2 UU No 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
4
Ibid, hlm. 2
Declaration Of Rights Of The Child (Deklarasi Hak-Hak Anak).5 Kemudian Instrumen
Internasional dalam perlindungan anak yang termasuk dalam instrument HAMyang diakui oleh
Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah UN Rules For The Protection Of Juveniles Desprived Of
Their Liberty, UN Standard Minimum Rules For Non-Custodial Measures (Tokyo Rules), UN
Guidelines For The Prevention Of Juvenile Delinquency (The Riyadh Guidelines).6

Indonesia mempunyai Undang-Undang yang mengatur mengenai permasalahan anak, yaitu


Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dimana didalam
penegakan hukumnya, peraturan inilah yang menjadi acuan atau dasar pengenaan sanksi atau
hukuman kepada pelaku tindak pidana terhadap anak.

Perlindungan hak-hak anak pada hakikatnya menyangkut langsung pengaturan dalam


perundang-undangan, kebijaksanaan, usaha, dan kegiatan yang menjamin terwujudnya
perlindungan hak-hak anak, pertama-tama didasarkan atas pertimbangan bahwa anak-anak
merupakan golongan yang rawan dan dependent, disamping karena adanya golongan anak-anak
yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik rohani, jasmani,
maupun sosial.7

Tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana.
Pelaku ini dapat dikatakan merupakan “subject” tindak pidana.8 Tindak pidana merupakan
perbuatan yang merugikan masyarakat, bertentangan dengan atau menghambat terlaksananya
tata dalam masyarakat yang baik dan adil, syarat utama adanya tindak pidana adalah kenyataan
adanya aturan yang melarang dan mengancam dengan pidana barang siapa melanggar larangan
tersebut. Tindak pidana menurut sistem Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
Indonesia dibagi menjadi kejahatan atau misdrijven (pada pokoknya diatur dalam Buku II KUHP
dan aturan-aturan lain diluar KUHP yang dinyatakan sebagai kejahatan) dan pelanggaran atau
overtredingen (diatur dalam Buku III KUHP dan diluar KUHP yang dinyatakan dalam tiap-tiap
peraturan sebagai pelanggaran).

5
Muladi, Barda Nawawi Arief, Bungan Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1992, hal. 108
6
Moch. Faisal Salam, Hukum Acara Peradilan Anak Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2005, hal. 15
7
ibid
8
Wirjono Prodjodikoro. Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia. Eresco : Jakarta – Bandung. 1981. Hlm 50
Salah satu bentuk kejahatan yang sangat merugikan dan meresahkan mayarakat dewasa ini
adalah kejahatan seksual seperti perbuatan kesusilaan dan pemerkosaan terhadap anak.
Pemerkosaan sebagai suatu kejahatan yang sering dikemukakan oleh Mulyana W. Kusumah,
mengatakan :9

“pemerkosaan merupakan salah satu kejahatan yang mempunyai tingkat seriusitas yang
tinggi dan mengandung tumbuhnya “fear of creme” (ketakutan pada kejahatan di dalam
masyarakat)“.
Mengenai tindak pidana perkosaan terhadap anak sudah diatur dalam KUHP yang terdapat
dalam pasal 285 KUHP. Tindak pidana perkosaan merupakan salah satu dari tindak pidana
kesusilaan. Menurut Wirjono Prodjodikoro, perkosaan adalah terjemahan dari kualifikasi aslinya
(Belanda) yaitu verkrachting, yakni perkosaan untuk berseetubuh.10 Perkosaan merupakan nama
kelompok berbagai jenis perbuatan yang melanggar norma kesopanan atau kesusilaan dan juga
termasuk perbuatan persetubuhan diluar perkawinan.

Fenomena tindak kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak di Indonesia mulai menuai
sorotan keras dari berbagai kalangan pada saat banyak stasium televisi swasta menayangkannya
secara vulgar pada program kriminal, seperti : kasus perkosaan yang dilakukan oleh keluarga
korban atau orang-orang terdekat korban, kasus sodomi, perdagangan anak untuk dieksploitasi
untuk menjadi pekerja seks komersil hingga pembunuhan. Banyaknya kasus kekerasan terhadap
anak di Indonesia dianggap sebagai salah satu indikator buruknya kualitas perlindungan anak.
Rendahnya kualitas perlindungan anak di Indonesia banyak menuai kritik dari berbagai elemen
masyarakat. Pertanyaan yng sering dilontarkan adalah sejauh mana pemerintah telah berupaya
memberikan perlindungan (hukum) pada anak sehingga anak dapat memperoleh jaminan atas
kelangsungan hidup dan penghidupannya sebagai bagian dari hak asasi manusia. Padahal,
berdasarkan pasal 20 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang
berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaran perlindungan anak adalah
Negara, Pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua.

Tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak dapat terjadi kapan saja dan dimana saja.
Siapa saja dapat menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, karena tidak adanya

9
Mulyana W. Kusuma, 1988. Kejahatan Dan Penyimpangan Dalam Perspektif Kriminologi, Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Hlm. 47
10
Wirjono Prodjodikoro. Tinda-Tindak Pidana Tertentu Di Indonesia. Eresco. Jakarta. 1990. Hlm. 123
karakteristik khusus. Pelaku kekerasan terhadap anak mungkin dekat dengan anak, yang berasal
dari berbagai kalangan. Pedofilia tidak pernah berhenti, pelaku kekerasan seksual terhadap anak
juga cenderung memodifikasi target yang beragam, dan siapapun bisa menjadi target kekerasan
seksual, bahkan anak ataupun saudaranya sendiri. Itu sebabnya pelaku kekerasan seksual
terhadap anak ini dapat dikatakan sebagai predator.

Kasus tindak pidana perkosaan paling banyak menimbulkan kesulitan dalam penyelesaiannya
baik pada tahap penyidikan, penuntutan, maupun pada tahap penjatuhan putusan. Selain
kesulitan dalam batasan diatas, juga mengalami kesulitan pembuktian misalnya perkosaan atau
perbuatan cabul yang umumnya dilakukan tanpa kehadiran orang lain.11

Akhir-akhir ini sering terjadi tindak pidana mengenai kekerasan seksual terhadap anak dan
yang paling parah tindak pidana kekerasan seksual sekarang ini tidak hanya dilakukan oleh orang
dewasa tetapi juga dilakukan oleh anak. Anak dibawah umur yang dimaksud disini adalah anak
yang belum berusia 18 tahun atau yang berusia dibawah 18 tahun menurut Undang-Undang
Perlindungan Anak. Fenomena tindak pidana ini terus meningkat dengan berbagai modus
operasionalnya. Dengan terdapatnya perkara perkosaan terhadap anak dibawah umur yang
dilakukan, memunculkan banyak kecemasan dan pengaruh psikologis terhadap korbannya. Oleh
sebab itu tindak pidana demikian harus sangat teliti dalam proses penanganan nya.

Hasil penelitian kelompok studi wanita P3W (Pusat Penelitian Peranan Wanita)
menyebutkan, bahwa tindak kejahatan hampir 97% korbannya adalah wanita, baik dalam
pembunuhan, perkosaan, penganiayaan, pelecehan seksual maupun lainnya. Sementara 66%
pelakunya adalah laki-laki.12

Oleh Bagong Suyatno memaparkan bahwa anak-anak korban perkosaan (child rape) adalah
kelompok yang paling sulit pulih. Mereka cenderung akan menderita trauma akut. Masa
depannya akan hancur, dan bagi yang tidak kuat menanggung beban, maka pilihan satu-satunya
akan bunuh diri. Aib, perasaan merasa tercemar dan kejadian yang biadab itu akan terus

11
Leden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dan Masalah Prevensinya, (Jakarta, Sinar Grafika, 1996), hlm.
81
12
Abdul Wahid dan Muhammad Irfan. Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual Advokasi Atas Hak Asasi
Perempuan. Refika Aditama: Bandung. 2001. Hlm. 7
menghantui korban, sehingga tak jarang mereka memilih menempuh jalan pintas untuk
melupakan serta mengakhiri semua penderitaan nya.13

2. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana kekerasan


seksual terhadap anak dapat terjadi?
2. Bagaimanakah proses perlindungan dan penegakan hukum terhadap anak yang menjadi
korban tindak pidana perkosaan?

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada latar belakang penelitian ini maka yang menjadi
tujuan peelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis kebijakan-kebijakan hukum pidana saat ini dalam
rangka menanggulangi tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia
2. Untuk mengetahui dan mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi nya tindak
pidana kekerasan seksual terhadap anak
3. Untuk mengetahui dan menganalisis upaya-upaya hukum agar tindak pidana kekerasan
seksual terhadap anak dapat ditanggulangi di masa yang akan datang

13
Eko Prasetyo dan Suparman Marzuk (et.al), 1997, Pelecehan seksual, Fakultas Hukum, Universitas Islam
Indonesia, Yogyakarta, hlml. 78
4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian penelitian ini dan tujuan yang
ingin dicapai maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis agar dapat menambah informasi atau wawasan yang lebih konkrit bagi
aparat penegak hukum dan pemerintah serta untuk pengembangan teori ilmu hukum
khusunya hukum pidana dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan anak
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penegak hukum yang
berhadapan dengan kasus serupa, tapa mengurangi manfaatnya bagi pemerhati seperti
lembaga atau komisis yang bergerak dibidang anak yang termasuk keluarga.

Anda mungkin juga menyukai