Anda di halaman 1dari 6

5.

6 Sarana Prasarana Penunjang Pertanian


5.6.1 Sarana Pemasaran Hasil Pertanian
Pemasaran hasil pertanian pada wilayah kajian rata-rata melalui perantara hingga produk
sampai ke konsumen. Pendistribusian produk memiliki lingkup desa maupun kecamatan. Hal
ini menunjukkan bahwa pemasaran hasil pertanian pada kawasan kajian masih dalam skala
kecil. Kecilnya skala pemasaran disebabkan oleh rendahnya produksi pada komoditi padi dan
tanaman holtikultura, serta jarak pasar pada komoditi karet dan kelapa sawit.
Jalur tata niaga dengan perantara mengakibatkan mata rantai tata niaga menjadi semakin
panjang. Akibatnya tingkat harga yang diterima petani relatif sangat rendah dibanding dengan
harga yang harus dibayar oleh konsumen. Perlu adanya penyediaan sarana pasar yang dapat
memotong alur tata niaga. Jalur tata niaga yang lebih efisien diharapkan dapat menstabilkan
harga hasil pertanian yang diterima petani saat panen.
A. Sarana Pasar Pertanian
Sarana pasar adalah bangunan dan peralatan yang dipergunakan dalam kegiatan
pemasaran. Tempat petani menjual langsung produknya kepada konsumen dengan
kondisi pasar permanen maupun tidak permanen, disebut pasar tani. Pasar terdiri dari
pasar lelang, pasar tradisional, dan pasar modern. Jenis dan definisi pasar dijelaskan
pada tabel berikut:
Tabel Jenis dan Pengertian Sarana Pasar
No. Jenis Pasar Definisi
Sistem perdagangan di mana para pembeli bersaing
Pasar
1. dengan pembeli lain dan penjual bersaing dengan penjual
Lelang
lain untuk mencapai harga yang paling menguntungkan
Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai
dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara
Pasar
2. langsung, ada proses tawar menawar, dengan bangunan
Tradisional
yang terdiri dari kios/gerai/los/dasaran terbuka yang
disediakan oleh penjual maupun pengelola pasar.
Tempat bertemunya penjual dan pembeli tidak melalui
transaksi langsung, pembeli melihat label harga yang
Pasar
3. tercantum pada barang, berada dalam bangunan dan
Modern
pelayanannya dilakukan secara mandiri atau dilayani oleh
pramuniaga.
Sumber: Permentan No.49 tahun 2013 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Jabatan Fungsional Analis Pasar Hasil Pertanian Dan Angka Kreditnya
Wilayah kajian hanya memiliki jenis sarana pasar berupa pasar tradisional, berdasarkan
pedoman teknis Permentan No.49 Tahun 2013. Pasar utama yang juga dijadikan tempat
mejual hasil pertanian berupa kawasan ekonomi dan terdapat pula pasar tradisional di
Desa Darit, Kecamatan Menyuke. Hal ini menunjukkan bahwa minimnya penggunaan
sarana pasar, karena keadaan pasar yang minim.
Keadaan pasar wilayah kajian disebabkan oleh belum meratanya kesediaan sarana pasar
serta kebutuhan akan sarana pasar yang minim. Pasar yang disediakan oleh Pemerintah
di Desa Sebangki, Desa Senakin, dan Desa Menjalin baru akan beroperasi pada tahun
ini, menunjukkan telah berkembangnya sarana pasar tradisional pada wilayah kajian.
Pasar tradisonal Senakin dan Sebangki harus memiliki pengelolaan pasar yang baik,
terutama untuk menarik perhatian petani dan UMKM agar mengisi los-los pasar yang
ada.
Perlu adanya program pengadaan pasar tradisional dari Pemerintah Daerah terutama
bagi kecamatan yang memiliki peluang pasar. Pengadaan dapat ditambahkan pada
wilayah yang memiliki kawasan ekonomi tinggi dan menjadi pusat pemasaran hasil
pertanian. Kecamatan yang perlu ditambahkan sarana pasar tradisional adalah Desa
Pahuman, Desa Jelimpo, dan Desa Sompak. Desa-desa tersebut memiliki kawasan
ekonomi yang menjadi pasar hasil tani bagi desa-desa disekitarnya.
B. Rumah Potong Hewan Ayam
Wilayah kajian memiliki Rumah Potong Hewan Ayam (RPH-A) skala kecil hingga
menengah dengan penggunaan alat potong semi modern. Standarisasi rumah potong
potong ayam terdiri dari: persyaratan lokasi, persyaratan sarana, persyaratan
bangunan, dan persyaratan peralatan (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca
Panen Pertanian tentang Standardisasi Rumah Potong Ayam (RPA) “Tradisional” dan
Penerapan HACCP Dalam Proses Pemotongan Ayam Di Indonesia, 2009). HACCP
merupakan sistem untuk mencegah terjadinya bahaya yang disebabkan oleh pangan dan
bertujuan untuk dapat menjamin keamanan pangan.
Rumah potong ayam yang ada di Desa Senakin menggambarkan keadaan rumah potong
pada wilayah kajian. Rumah potong tersebut telah memenuhi persyaratan lokasi,
persyaratan sarana, persyaratan peralatan. Lokasi RPH-A terletak di permukiman
dengan kepadatan rendah dan berada di kawasan perdagangan, sehingga limbah
pemotongan tidak mengganggu permukiman warga. Rumah potong ayam memiliki
kelengkapan alat potong ayam yang cukup lengkap, namun kurang memadai pada
pembagian bangunan.
Pembagian bangunan seharusnya terdiri dari bangunan bersih dan bangunan kotor,
namun pada wilayah kajian rumah potong tidak memiliki bagian yang terpisah.
Bagunan yang terpisah akan meningkatkan tingkat sanitasi bangunan yang berpangurh
terhadap tingkat higienis daging. Pencegahan penyakit pada rumah potong Sebakin
dengan penyemprotan sebelum pengisian kandang masih bergantung pada kesediaan
obat di Kota Pontianak.
Perlu adanya usaha-usaha peningkatan sanitasi dan kebersihan rumah potong hewan
dengan cara penyediaan pemeriksaan hewan ternak sebelum dipasarkan, pembagian
ruangan sesuai standar, serta penyediaan perlengkapan sanitasi. Untuk meningkatkan
produksi RPH-A pada wilayah kajian dapat dilakukan dengan pemberian bantuan
modal usaha bagi peternak ayam tersebut.
5.6.2 Sarana Prasarana Penelitian Pertanian
Pedoman Standar Minimal Dan Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Penyuluhan Pertanian
tercantum dalam Permentan N0. 51 tahun 2009. Standar tersebut menjadi acuan bagi para
penyelenggara penyuluhan pertanian baik di Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota. Menurut
peraturan bupati Landak No.18 Tahun 2012 Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan
dan Kehutanan Kabupaten Landak terdiri dari : Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia
dan Kelembagaan, Bidang Penyuluhan Pertanian, Bidang Penyuluhan Perikanan dan
Peternakan, Bidang Penyuluhan Kehutanan dan Perkebunan, Balai Penyuluhan dan Kelompok
Jabatan Fungsional.
A. Balai Penyuluh Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (BP3K)
Standar minimal prasarana dan sarana yang harus tersedia di BPK/BP3K meliputi : 1)
bangunan fisik dan 2) peralatan yang digunakan untuk penyelenggaraan penyuluhan
pertanian (Pedoman Pelaksanaan Klasifikasi Balai Penyuluhan Kecamatan, Badan
Penyuluhan Dan Pengembangan SDM Pertanian Tahun 2014). Prasarana minimal di
BPK/BP3K meliputi : prasarana perkantoran, prasarana lingkungan, dan prasarana
penunjang. Sarana minimal penyuluhan, meliputi: 1) sarana keinformasian, 2) alat
bantu penyuluhan, 3) peralatan administrasi, 4) alat transportasi, 5) sarana perpustakaan
(buku serta hasil publikasi), dan 6) perlengkapan ruangan.
BP3K pada wilayah kajian memiliki keaktifan yang baik dan telah sesuai dengan tugas
dan fungsi Lembaga tersebut. Hal ini ditandai dengan tersedianya Penyuluh Pertanian
Lapangan (PPL) yang aktif bertugas pada setiap BP3K wilayah kajian memilik. PPL
pengarahan, pembinaan, dan penyuluhan pertanian bagi petani pada lingkup kecamatan.
Semua BP3K pada wilayah kajian telah memenuhi standar minimal. Sarana penunjang
kolam hanya terdapat pada BP3K Sompak, seharusnya dapat disediakan pada
Kecamtan lain yang memiliki potensi perikanan. Penyediaan lahan kolam sebaiknya
ditambah pada BP3K Sengah Temila karena memiliki potensi perikanan yang besar
dibandingkan kecamatan lainnya.
B. Unit Pembinaan Perlindungan Tanaman (UPPT)
UPPT Senakin tidak memiliki sarana khusus penelitian penyakit pada tanaman. Perlu
adanya pengadaan sarana penlitian berupa labolatorium yang dipisahkan dengan
bangunan utama. Hal ini bertujuan untuk peningkatan penelitian penyakit tanaman
perkebunan yang menjadi sektor unggulan pada wilayah kajian.
C. Balai Benih Tanaman Pangan
Standar minimal srana UPTD Balai Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura terdiri
dari: Sumberdaya Manusia, Prasarana Fisik, Sarana Kerja, Wilayah Pelayanan,
Pembiayaan (Kpts No,347, Tahun 2003 tentang Pedoman Pengelolaan Balai Benih
Tanaman Pangan dan atau Holtikultura). Prasarana fisik meliputi: lahan produksi dan
kantor yang memadai, dilengkapi ruang pertemuan, laboratorium benih, rumah
kaca, ruang prosesing benih, gudang sarana, gudang benih dan lantai jemur, pengairan,
dan jalan untuk prasarana transportasi. Sarana kerja antara lain berupa peralatan
laboraturium, pengolah tanah, produksi benih, panen, pengolahan, penyimpanan,
alat dan mesin pertanian, transportasi dan peralatan kantor.
UPTD Balai Benih Tanaman Pangan Sengah Temila berlokasi di Desa Senakin
memiliki tugas dan fungsi yang seharusnya. Sarana dan prasarana UPTD sudah sesuai
dengan standar yang berlaku. Proses sertifikasi dan penyaluran benih pada petani
berlangsung secara berkala.
Balai benih ini juga memiliki keaktifan yang baik dengan terdapatnya kegiatan
sertifikasi dan pendistribusian benih, serta pengolahan padi. Tersedianya gudang
pengolahan padi yang dikelola oleh pihak swasta dapat menjadi peluang bagi produksi
pasar padi di Kecamatan Sengah Temila.
D. UPTD Balai Benih Tanaman Holtikultura
Standar minimal sarana UPTD Balai Benih Tanaman Holtikultura tercantum dalam
Kpts No,347, Tahun 2003. UPTD Balai Benih Tanama Holtikultura Kecamatan
Jelimpo memiliki keaktifan dan kelengkapan sarana prasarana yang cukup baik. Hal ini
ditandai dengan aktifnya kegiatan pembuatan benih tanaman lokal dan pendistribusian
benih setiap tahunnya.
Kegiatan pendistribusian benih berupa bantuan bagi petani, pameran, penghijauan,
maupun penjualan, sebaiknya terus dilakukan. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat
meningkatkan eksistensi tanaman lokal yang ada di Kabupaten Landak. Untuk
menigkatkan produksi benih perlu dilakukan perbaikan sarana greenhouse (rumah
kaca) pada UPTD tersebut.
E. UPTD Perikanan Budidaya Air Tawar
UPTD BBI Jelimpo telah memiliki fungsi dan sarana prasaran minimal sesuai dengan
Keputusan Direktur Jendral Perikanan Budidaya No 116, Tahun 2006 Tentang Petunjuk
Teknis Balai Benih Ikan (Bbi). Pendistribusian benih ikan yang terus berlangsung
hingga tahun 2019 menunjukkan keaktifan UPDT tersebut. Tersedianya UPR aktif
dibawah naungan UPTD.PBAT juga menunjukkan keaktifan kegiatan perikanan di
Kecamatan Jelimpo.
Berdasarkan laporah tahun 2018 UPTD.PBAT Kecamatan Jelimpo yang masih
mengalami permasalahan pada produksi benih. Pada bulan januari hingga februari
produksi benih kosong, karena terjadi kebocoran pipa. Masalah tersebut telah diatasi
dengan memperbaiki pipa yang mengalami kebocoran. Berdasarkan hal tersebut perlu
adanya pengecekkan dan perbaikan berkala pada sarana dan prasarana yang tersedia.
5.6.3 Prasarana Pertanian
 Irigasi
Pada sawah tadah hujan wilayah kajian tidak berpengaruh terhadap musim. Air tetap
tersedia pada musim kemarau dan petani tetap menaman 2 kali satu tahun. Hal ini
menandakan bahwa sawah tadah hujan tidak mengalami masalah di wilayah kajian,
sehingga dapat dipertahankan.
Irigasi pada wilayah kajian pengadaan dan perawatannya dilakukan oleh Pemerintah
(APBD Daerah) dan swadaya masyarakat. Hal ini sudah sesuai dengan Keputusan
Menteri Pertanian No.02.2 Tahun 2019 tentang Pedoman Rehabilitasi Jaringan Irigasi.
Jaringan irigasi pada wilayah kajian secara umum memiliki kondisi baik, namun
terdapat jaringan irigasi yang mengalami kondisi buruk.
Salah satu wilayah yang mengalami penyumbatan saluran irigasi adalah Desa Sebangki,
Kecamatan Sebangki. Saluran tersumbat oleh sedimentasi seperti kayu dan ranting.
Kurangnya kegiatan perawatan dan rehabilitasi jaringan irigasi membuat saluran irigasi
tersumbat. Hal ini menyebabkan lahan persawahan tidak teraliri air dengan cukup,
sehingga menjadi lahan sawah menjadi tidak produktif.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 12 Tahun
2015 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pemeliharaan Jaringan Irigasi, ruang lingkup
pemeliharaan jaringan irigasi meliputi: inventarisasi kondisi jaringan irigasi,
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Semua ruuang lingkup tersebut
harus diterapkan pada wilayah kajian. Permasalah jaringan irigasi di Desa Sebangki
dapat diatasi dengan melakukan normalisasi jaringan irigasi dan dilanjutkan dengan
kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi secara rutin maupun berkala.
Pemeliharaan secara rutin dapat mempertahankan kondisi jaringan irigasi, sedangkan
perawatan secara berkala dapat meningkatkan kondisi jaringan irigasi. Pemeliharaan
dilakukan oleh petugas Dinas yang membidangi irigasi. Masyarakat berperan dalam
perawatan jaringan tersier tanpa melakukan perubahan konstruksi jaringan. Dengan
perawatan yang baik maka saluran irigasi akan tetap terjaga dan air terdistribusi dengan
baik.
B. Transportasi Pertanian
 Transportasi Darat
Pendistribusian bahan baku dan hasil pertanian pada wilayah kajian dipengaruhi
oleh kondisi Jalan Usaha Tani (JUT) pada wilayah tersebut. JUT pada wilayah
kajian rata-rata sudah memiliki kondisi yang baik dan sesuai dengan kebutuhan
pergerakkan petani. Lebar jalan utama dan jalan dalan lahan pertanian sudah sesuai
dengan kebutuhan moda transportasi yang digunakan.
Adanya JUT yang mengalami kondisi buruk memerlukan perbaikan dengan
memberi perkerasan berupa aspal maupun semen. Dengan melakukan perbaikan
diharapkan pendistribusian bahan baku dan hasil pertanian dapat berjalan dengan
baik.
 Transportasi Air
Pendistribusian hasil pertanian melalui jalur air di Desa Sebangki, Kecamatan
Sebangki sudah difasilitasi oleh dermaga. Waktu tempuh menuju Kota Pontianak
menggunakan transportasi air lebih cepat dibandingkan dengan transportasi darat.
Menandakan transportasi tersebut dapat dipertahankan.
4.6.4 Koperasi Mitra Petani
Adanya kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Landak dan koperasi simpan pinjam CU
Banuri Harapan Kita (CU BHK), menunjukkan usaha Pemerintah untuk meningkatkan kualitas
tani dan produksi padi di Desa Nangka. Kemitraan ini sebaiknya diadakan pula di desa-desa
yang memiliki potensi produksi padi. Dengan adanya kemitraan di desa-desa lain diharapkan
produksi tani pada wilayah kajian memiliki kualitas yang baik. Kegiatan promosi brand beras
lokal yang telah dipasarkan diluar daerah juga dibutuhkan untuk menarik perhatian konsumen.