Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

Dengue Haemorrhagic Fever

Oleh :
Putu Pradipta Shiva Darrashcytha
H1A013052

Pembimbing:
dr. Titi Pambudi K, M.Sc, Sp.A

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan
rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas laporan kasus yang berjudul “Dengue
Haemorrhagic Fever”. Laporan kasus ini saya susun dalam rangka memenuhi tugas dalam
proses mengikuti kepaniteraan klinik di bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit
Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.

Saya menyadari bahwa laporan kasus ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saya
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan laporan ini. Semoga
Tuhan selalu memberikan petunjuk-Nya kepada kita semua di dalam melaksanakan tugas dan
menerima segala amal ibadah kita.

Mataram, April 2019

Penyusun

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Demam berdarah dengue muncul
sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga mengakibatkan kepanikan di masyarakat
karena berisiko meyebabkan kematian serta penyebarannya sangat cepat. Demam
berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang masih
bersifat endemik dan penyebab kematian pada anak-anak berusia <15 tahun.1,2
DBD adalah penyakit yang dominan menyerang anak-anak di bawah usia 15 tahun
dan ditandai dengan timbulnya demam, trombositopenia, dan sindrom kebocoran plasma.
DBD terjadi karena infeksi oleh virus dengue, yang merupakan bagian dari keluarga
Flaviviridae. Infeksi ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dengue
(DENV): DENV-1, DENV-2, DENV3, dan DENV-4.1,2
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 50 hingga 100 juta
infeksi virus dengue terjadi setiap tahun. Dari kasus-kasus ini, 500.000 berkembang
menjadi DBD yang mengakibatkan 22.000 kematian, dan terbanyak pada anak-anak.
WHO menyimpulkan bahwa insiden terjadinya DBD di dunia mengalami perkembangan
yang sangat pesat karena diperkirakan 390 juta terinfeksi oleh virus dengue per tahun.
Kasus di Amerika, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat diperkirakan lebih dari 3,2 juta
orang terjangkit DBD pada tahun 2015. Indonesia merupakan salah satu wilayah
endemik terhadap insiden DBD. Pada bulan Desember 2012, ada 90.245 orang yang
menerima DBD, sedangkan 816 jiwa meninggal dunia.1,2
Penyebaran DBD yang tinggi karena berpengaruhnya faktor cuaca dan iklim serta
musim pancaroba yang cenderung menambah jumlah habitat vector DBD, sanitasi
lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang
berisi air jernih (bak mandi, kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya).
Penatalaksanaan DBD pada dasarnya ditentukan oleh derajat keparahan penyakitnya
dimana prinsipnya merupakan pengobatan supportif-simtomatis dengan elemen utama
berupa terapi cairan (volume replacement) dan antipiretik (penurun panas).2,3 Berikut
merupakan salah satu contoh kasus DBD yang ditemukan di RSUP NTB.

3
BAB II
LAPORAN KASUS

Identitas

- Identitas Pasien
Nama Lengkap : An.A
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal Lahir : 4 April 2011
Berat Badan : 23 kg
Alamat : Kediri, Lombok Barat
Tanggal Pemeriksaan : 23 April 2019
No. RM : 028465

- Identitas Orang Tua


Nama Ayah : Tn. MZ
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 35 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Kediri, Lombok Barat

Nama Ibu : Ny. NL


Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 33 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Kediri, Lombok Barat
Anamnesis:
- Keluhan Utama: Demam
- Riwayat penyakit sekarang: Pasien datang ke IGD RSUP NTB dengan keluhan
demam. Pasien merasakan demam sejak 4 hari sebelumnya. Awalnya pasien bermain
dirumah neneknya semalaman dan mulai merasakan badannya panas saat hari Sbatu
jam 3 pagi. Demam dirasakan naik turun. Demam dikatakan turun saat pasien
mengonsumsi obat penurun panas dan kembali naik panasnya saat sore hari menjelang

4
malam. Demam yang dirasakan oleh pasien tidak menimbulkan perubahan kesadaran
ataupun kejang. Selain itu pasien juga mengeluhkan mual muntah sejak 4 hari lalu
yang dirasakan sejak pagi hari. Pasien dikatakan muntah sebanyak 3 kali dalam sehari.
Muntahan yang keluar berupa makanan yang dikonsumsi oleh pasien. Semenjak
pasien mengalami mual muntah, pasien menjadi susah makan dan minum. Makanan
dan minuman yang dikonsumsi pasien akan keluar lagi setelahnya. Pasien tidak ada
mengeluhkan nyeri kepala maupun pusing berputar. Pasien juga tidak mengeluhkan
adanya nyeri sendi maupun nyeri otot. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut sejak 1
hari yang lalu. Nyeri perut yang dirasakan di bagian perut kiri atas. Pasien tidak ada
keluhan BAK. Ibu pasie mengatakan BAK pasien lancer dan banyak. Pasien
mengeluhkan belum BAB sejak 3 hari lalu.

- Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami keluhan serupa yaitu demam
saat 3 bulan lalu. Pasien demam dan dirawat di PKM Kediri selama 5 hari. Disana
pasien dikatakan gejala tipes. Tidak ada riwayat asma maupun penyakit lain pada
pasien.
Kesimpulan : tidak ada riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit
sekarang

- Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan
demam seperti yang dirasakan oleh pasien. Tidak ada keluarga yang mengalami
demam berdarah sebelumnya. Tidak ada riwayat hipertensi, DM, asma maupun
penyakit lain pada keluarga.
Kesimpulan : tidak ada riwayat keluarga yang berhubungan dengan peyakit sekarang

- Riwayat kehamilan dan persalinan:


KEHAMILAN G1A0P1 Kehamilan ke-1, Riwayat Abortus 0 kali,
Persalinan ke-1
Usia ibu saat hamil Ibu hamil saat usia 24 tahun

Penyakit Tidak pernah mengalami sakit, tidak pernah


mengonsumsi obat-obatan selama hamil

5
Nutrisi Makan teratur 3x sehari, 1 piring/ hari, nasi,
ikan, daging, sayur, buah-buahan, dan susu.
Ibu rutin konsumsi tablet penambah darah dan
vitamin.
Perawatan Antenatal Teratur 1 bulan sekali ke Puskesmas. Dimulai
dari bulan ke 2,3,4,5,6,7,8 dan 9. Berat badan
ibu selalu naik tiap bulan. Dikatakan total
kenaikan BB ibu saat hamil adalah 10kg
hingga bulan ke-9. Tekanan darah normal.
PERSALINAN Tempat Kelahiran Puskesmas Kediri
Usia kehamilan 37-38 minggu
Penolong Persalinan Bidan
Cara Persalinan Normal
Masa Gestasi Cukup Bulan
Keadaan Bayi - Berat lahir: 2.600 gr
- Panjang: 48 cm
Riwayat Perawatan -

Kesimpulan : Riwayat kehamilan dan kelahiran baik

- Riwayat Perkembangan:
Motorik Kasar
 Mengangkat kepala : 1 bulan
 Duduk dengan tegak : 3 bulan
 Tengkurap membalik badan : 6 bulan
 Berdiri : 10 bulan
 Berjalan : 12 bulan
 Berlari : 18 bulan
Motorik Halus
 Memegang benda : 4 bulan
 Meraih benda : 5 bulan
 Mencoret-coret : 15 bulan
Komunikasi Bicara
 Bersuara : 1 bulan
 Tertawa : 3 bulan
 Berbicara mama papa : 10 bulan
 Bicara yang dapat dimengerti : 30 bulan
Sosial/kemandirian
 Menatap wajah : 1 bulan
 Tersenyum : 2 bulan
 Bertepuk tangan : 10 bulan

6
 Meniru kegiatan : 15 bulan
Kesimpulan : riwayat perkembangan normal sesuai usia

- Riwayat imunisasi
Waktu Pemberian
Imunisasi Bulan Tahun
0 1 2 3 4 5 6 9 15 18 5 6 12
BCG I
I II III IV
DPT-HiB
I II III IV
Polio (OPV)
I II III IV
Hepatitis B
Campak I II
MMR
BCG : 1 kali usia 1 bulan di posyandu
Hep B : 4 kali usia 0,2,4,6 bulan di posyandu
DPT : 4 kali usia 2,4,6 bulan di posyandu dengan
ulangan usia 18 bulan

HiB : 4 kali usia 2,4,6 bulan di posyandu dengan


ulangan usia 18 bulan

Polio : 4 kali usia 1,2,4,6 bulan di posyandu


Campak : 2 kali usia 9 bulan di posyandu dengan ulangan usia 6 tahun

Kesimpulan : riwayat imunisasi dasar dan ulangan lengkap sesuai usia

- Riwayat Makan
Pasien minum ASI sejak lahir hingga usia 2 tahun dengan frekuensi pemberian setiap
3 jam sekali. Pasien mulai diberikan bubur tim pada saat usia 8 bulan hingga 1 tahun.
Untuk makanan yang lebih padat pasien diberikan pada saat usia 1 tahun hingga saat
ini. Pasien biasanya diberikan makan berupa nasi beserta lauk pauk dan buah-buahan.
Nafsu makan pasien baik. Sebelum sakit frekuensi makan pasien 3x sehari.
Kesimpulan : riwayat makan pasien baik (kualitas dan kuantitas)

- Riwayat sosial ekonomi: Saat ini pasien tinggal dalam 1 rumah bersama ayah dan ibu
pasien. Pasien berasal dari keluarga dengan status ekonomi menengah kebawah. Ayah
pasien bekerja sebagai pegawai swasta dan ibu pasien juga bekerja sebagai pedagang.
Penghasilan orang tua pasien yaitu 2.500.000 – 4.500.000 perbulan.

7
Kesimpulan : Sosial ekonomi pasien baik, status ekonomi menengah kebawah

- Kondisi lingkungan : Rumah pasien berada diwilayah padat penduduk, dimana jarak

antar rumah sangat dekat yaitu < 1 meter. Rumah pasien dikatakan memiliki ventilasi

yang   cukup,   memiliki   jamban   pribadi.   Sumber   air   rumah   berasal   dari   PDAM.

Lingkungan rumah dikatakan sedang tidak ada musim demam berdarah.
Kesimpulan : kondisi lingkungan rumah cukup baik

8
- Genogram keluarga :

61 th 57 66 th 63
th th

37 th 35 th 32 41 36 th 28 th 33
th 38 thth
th

8 th

Keterangan : 

: Laki­laki 

  : Perempuan 

  : Meninggal 

: Pasien

: Tinggal Serumah

9
10
Pemeriksaan fisik (23 April 2019)

Status generalis
- Keadaan Umum : Lemah
- Kesadaran : Compos mentis, GCS : E4V5M6
- TD : 100/70 mmHg
- N : 108x/m
- RR : 22x/m
- T : 36.2oC
- Spo2 : 99% udara ruangan
Status Nutrisi
- Berat Badan : 23 kg
- Tinggi Badan : 112 cm
- BMI : 18,33 kg/m2
- BB/U : - 2 SD s/d + 2 SD (Berat Badan Normal)
- TB/U : < - 3 SD (Severly Stunted)
- BMI/U : - 2 SD s/d + 2 SD (Gizi Baik)
Pemeriksaan Fisik Umum
Kepala
Inspeksi: Normocephali, massa (-), rambut hitam merata
Palpasi: Nyeri tekan (-), massa (-)

Wajah dan Leher


Wajah: edema (-)
Mata: Inspeksi: Konjungtiva anemis (-/-),sklera 11ematoc (-/-), edema palpebra (+/+)
11emato pupil (+/+), isokor,
Palpasi: Nyeri tekan (-/-), edema palpebra (+/+).
Telinga Inspeksi: Bentuk normal, deformitas (-), serumen (-/-).
Palpasi: Nyeri tekan (-/-), pembesaran kelenjar (-/-).
Hidung Inspeksi: Bentuk normal, rhinorrhea (-), perdarahan (-) mukosa normal, hiperemis
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Mulut Inspeksi: Sianosis sentral (-), mukosa lembab (+).
Leher Inspeksi: Massa (-),peningkatan JVP (-)
Palpasi: Pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thoraks
Inspeksi: Pergerakan dinding dada simetris (+/+)
Retraksi (-/-)
Palpasi: Pengembangan dinding dada simetris (+/+)
Perkusi: Cor :
- Kanan Atas : ICS II line parasternal dextra

11
- Kanan Bawah : ICS IV linea parasternal dextra
- Kiri Atas : ICS II linea parasternal sinistra
- Kiri Bawah : ICS V linea 12ematocrit12y12 sinistra
Pulmo  sonor
Auskultasi: Cor: S1 tunggal 12ematoc, S2 split tak konstan, regular, murmur
(-), gallop (-)
Pulmo: vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen
Inspeksi: Ascites (-), massa (-)
Palpasi: Nyeri tekan (-), turgor kulit normal, ascites (-), 12ematocrit12y
(+)
Perkusi: Timpani (+)
Auskultasi: Bising usus (+) normal

Ekstremitas
Atas: Akral hangat (+/+), CRT < 2 detik, ptekie (-)

Bawah: Akral hangat (+/+),CRT < 2 detik, ptekie (-)

Status neurologis :
 Motorik
Lengan Tungkai
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Kekuatan 5 5 5 5
Tonus Normal Normal Normal Normal
Trofi Normal Normal Normal Normal
Clonus - - - -
Sensibilitas Normal Normal Normal Normal
Edema - - - -

 Refleks fisiologis
- Biceps (+2/+2)
- Triceps (+2/+2)
- Patella (+2/+2)
- Aschiles (+2/+2)
 Reflex patologis
- Babinski (-)

12
- Chadox (-)
- Gordon (-)
- Gonda (-)
- Schuffer (-)
- Offenheim (-)
 Rangsang meningeal
- Kaku kuduk (-)
- Brudzinki I (-)
- Brudzinki II (-)
- Brudzinki III (-)
- Kernig (-)
Pemeriksaan penunjang :
Tanggal 23/04/2019 24/04/2019 25/04/2019
Hb 13,8 13,6 12,2
WBC 2690 5090 6450
RBC 5,35 5,10 4,76
PLT 49000 46000 43000
HCT 40 38 35
IgG -
dengue
IgM -
dengue
GDS 68
Natrium 133
Kalium 4,0
Klorida 103

Resume
Pasien perempuan berusia 8 tahun  13emato ke IGD RSUP NTB dengan keluhan

demam   mendadak   disertai   mual   muntah.   Demam   yang   dirasakan   sampai   membuat

menggigil dan dirasakan demam naik turun. Pasien sudah dibawa ke dokter namun tidak

ada   perubahan   kondisi.   Pasien   tidak   bias   makan   dan   minum.   Tidak   ada   riwayat

perdarahan spontan. Tidak ada keluhan nyeri kepala, nyeri sendi maupun yang lainnya.

BAK pasien lancer. BAB terakhir 4 hari SMRS.

13
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital baik, tampak adanya edema palpebra
(+), rhonki dan wheezing (-/-), hepatomegaly (+), akral hangat, CRT < 2 detik, ptekie (-).

Diagnosis kerja
- DHF grade I
Diagnosis banding
- Malaria
Planning
Planning Diagnostik:
 Periksa darah lengkap tiap hari
 Periksa urinalisis
Planning terapi:
Non medikamentosa
 Monitor suhu
 Tirah baring
Medikamentosa
 IVFD RL 20 tpm
 Paracetamol 10-15mg/kgBB
Rencana diet :
 Kalori : 70kkal/kgBB/hari = 1610kkal/hari
 Protein : 1gr/kgBB/hari = 23gr/hari
 Cairan : 1575ml/hari
 Jalur pemberian : oral
 Frekuensi pemberian : 3x nasi lauk sayur buah, 1x kue kering/pudding, 1x susu

Follow Up
Tanggal S O P
23 April Demam (+), KU: lemah Planning Terapi:
2019 batuk (-), pilek TD: 100/70 mmHg - Tirah baring
(-), nyeri perut N: 108 x/menit - Pemberian IVFD RL 20 tpm
(+), BAK dalam RR: 22 x/ menit - Paracetamol 250mg 3x1
batas normal, T: 36,2 0C - Pemeriksaan urinalisis
BAB belum ada - Pemeriksaan DL besok pagi
Hasil Laboraturium :
Hb: 13,8
Ht: 40
Wbc: 2690
Plt: 49000

24 April Demam (-), KU: sedang Planning Terapi:


2019 batuk (-), pilek TD: 110/70 mmHg - Terapi lanjut
(-), nyeri perut N: 96 x/menit - Pemeriksaan DL besok pagi
(-), BAK dalam RR: 22x/ menit

14
batas normal, T: 36,4 0C
BAB 1x
Hasil Laboratorium :
Hb: 13,6
Ht: 38
Wbc: 5090
Plt: 46000

25 April Demam (-), KU: baik Planning Terapi:


2019 batuk (-), pilek TD: 110/80 mmHg - Terapi lanjut
(-), nyeri perut N: 96 x/menit - Pemeriksaan DL besok pagi
(-), BAK dalam RR: 20x/menit
batas normal, T: 36,3 0C
BAB 3x
Hasil Laboratorium:
Hb: 12,2
Ht: 35
Wbc: 6450
Plt: 43000

15
BAB III
PEMBAHASAN
Pasien masuk dengan keluhan utama demam yang dialami ± 4 hari sebelum masuk
rumah sakit, terus-menerus, menggigil, mual (+), muntah (+), nafsu makan berkurang, nyeri
perut (+), batuk (-), pilek (-), perdarahan (-), sakit kepala (-), lemas (+), tidak tampak bintik-
bintik kemerahan pada tubuh, BAK lancar, belum BAB selama 3 hari.
Dari anamsesis diketahui bahwa pasien mengalami demam ± 4 hari sebelum masuk
rumah sakit. Hal ini sesuai dengan teori pada demam berdarah dengue (DHF) dimana pada
fase febris terjadi demam mendadak selama 2-7 hari. Kurva demam pada demam berdarah
dengue terjadi saat pelepasan sitokin karena reaksi imun terhadap serangan virus dengue.
Sitokin yang menyebabkan demam seperti IL-1 dan IL-6, TNF-α, IFN-γ. Virus dengue
merupakan pirogen eksogen. Pada saat virus sudah menginfeksi dan berada di dalam darah,
ada 2 respon imun yang bekerja. Yaitu respon imun nonspesifik yang bekerja di awal dan
cepat serta respon imun spesifik yang bekerja lebih lambat. Makrofag akan segera bereaksi
dengan memfagositosis virus dan memprosesnya sehingga makrofag menjadi APC (antigen
presenting cell). Makrofag juga akan mensekresi sitokin yang merangsang inflamasi, sitokin
utama yang disekresi oleh makrofag adalah IL-1 yang merupakan pirogen endogen. Pirogen
adalah bahan yang menginduksi demam yang dipicu baik faktor eksogen atau endogen seperti
IL-1.
IL-1,TNF-α, IFN-γ dikenal sebagai pirogen endogen sehingga timbul demam. IL-1
bekerja pada termoregulator. IL-1 masuk ke dalam corpus callosum lamina terminalis melalui
kapiler dan merangsang sel memproduksi serta melepaskan PGE2, selain itu, IL-1 juga dapat
memfasilitasi perubahan asam arakhidonat menjadi PGE2. Selanjutnya PGE2 yang terbentuk
akan berdifusi ke dalam hipotalamus atau bereaksi dengan cold sensitive neurons. Hasil akhir
mekanisme tersebut adalah peningkatan thermostatic set point yang menyebabkan aktivasi
sistem saraf simpatis untuk menahan panas (vasokonstriksi) dan memproduksi panas dengan
menggigil.
Dari pemeriksaan darah rutin yang dilakukan didapatkan penurunan kadar trombosit
(trombositopenia), yaitu 46.000. Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui
mekanisme supresi sumsum tulang atau destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.
Tatalaksana yang diberikan pada pasien ini yang paling utama adalah terapi suportif.
Pemberian IVFD RL 20 tpm untuk pengobatan dan pencegahan 16ematocrit16. Pemeliharaan
volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting. Asupan cairan pasien harus
tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan,

16
maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan
hemokonsentrasi.
Demam berdarah dengue ( DBD ) menurut World Health Organization (WHO) dan
Center for Disease Control and Prevention (CDC) ditandai dengan demam selama dua sampai
tujuh hari diikuti dengan menggigil, gejala seperti flu, wajah kemerahan, perdarahan,
trombositopeni dan penumpukan cairan di rongga tubuh karena terjadi peningkatan
permeabilitas pembuluh darah kapiler dan kebocoran plasma termasuk edema palpebra,
asites, ataupun efusi pleura. Pada pasien ini didapatkan adanya tanda-tanda kebocoran plasma
berupa edema palpebra dan adanya hepatomegali.
Demam berdarah dengue ( DBD ) memiliki tiga fase yaitu fase demam, kritis dan
penyembuhan. Pada fase demam, penderita akan merasakan demam tinggi secara mendadak
selama 2-7 hari dan sering dijumpai dengan wajah kemerahan, eritema kulit, 17ematoc,
arthralgia, nyeri retroorbital, rasa sakit di seluruh tubuh, fotofobia dan sakit kepala. Gejala
umum seperti anoreksia, mual dan muntah. Tanda bahaya (warning sign) penyakit dengue
meliputi nyeri perut, muntah berkepanjangan, letargi, pembesaran hepar >2 cm, perdarahan
mukosa, trombositopeni dan penumpukan cairan di rongga tubuh karena terjadi peningkatan
permeabilitas pembuluh darah kapiler.
Pada fase kritis terjadi penurunan suhu menjadi 37.5-38°C atau kurang, ini terjadi
pada hari ke 3-8 dari penyakit. Progesivitas leukopenia yang diikuti oleh penurunan jumlah
platelet mendahului kebocoran plasma. Peningkatan 17ematocrit sebagai tanda awal yang
mengawali perubahan pada tekanan darah dan denyut nadi. Plasma leakage dapat berkurang
dengan terapi cairan.
Dan fase terakhir adalah fase penyembuhan. Setelah pasien bertahan selama 24-48
jam fase kritis, reabsorbsi kompartemen ekstravaskuler bertahap terjadi selama 48-72 jam.
Keadaan umum membaik, nafsu makan kembali, gejala gastrointestinal mereda dan status
hemodinamik stabil.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Dengue Buletin Issues. Regional Office for South­East

Asia. 2016.
2. Kemenkes RI. Infodatin: Situasi DBD di Indonesia. Kementertian Kesehatan
Indonesia. Jakarta. 2016.
3. Centers for Disease Control and Prevention. Dengue Fever and Dengue Haemorraghic
Fever. Department of Health and Human Services. Canada. 2009.
4. World Health Organization. National Guidelines for Clinical Management of Dengue
Fever. India. 2015.
5. Sanyaolu, A., dkk. Global Epidemiology of Dengue Haemorrhagic Fever. Journal of
Human Virology and Retrovirology. MedCrave. 2017. Vol 5. Hal 1-7.
6. Sumarno S, dkk. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis. IDAI. Jakarta: 2008.ed 2. Hal
155-179
7. Sudoyo, A.W, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FK-UI. Jakarta. 2006. Ed 4. (III)
Hal 1709-1713.

18