Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPOSPADIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Seminar Kelompok Dua


Pada Mata Kuliah Blok Sistem Perkemihan Semester Enam
Yang Diampu Oleh Ns.

OLEH:

DINDA SETYANINGSIH

DENI PURNASARI (G2A016061)


BENNY KAESHA ADDAMAGHANY (G2A016062)
AZKIYA FALIHAH (G2A016063)
NISA ANI SAPUTRI (G2A016064)
FRISCHA AYUDYA FILIANI (G2A016065)
PRAMESWARI AYU
ROFIQOH HIDAYANA

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2019
KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkankepada Allah SWT karenarahmat dan hidayah-


Nya kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Sistem Perkemihan yang
berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hipospadia”.

Adapun makalah ini tentunya dengan bantuan dari berbagai pihak dalam proses
pembuatan makalah ini, sehingga tidak lupa kami mengucapkan terimakasih yang
sebesar-besarnya yang telah membantu dalam penyelesaian makalah.

Tak ada gading yang takretak, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan
dalam pembuatan makalah ini mulai dari penyusunan maupun materi tersebut.
Untuk itu diperlukan kritik dan saran agar dapat memperbaiki makalah ini lebih
baik lagi.

Akhirnya penyusun mengharapkan dari makalah ini agar dapat menambah


wawasan mengenai Hipospadia yang berkaitan dengan Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Hipospadia.

Semarang, April 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........……………..…………………….……………

DAFTAR ISI………………....……………..……………………...………....

BAB I PENDAHULUAN……....…………..……………………....………...

A. Latar Belakang……………....………...……………………….….…..
B. Tujuan Penulisan..…………….....……...…………………….....….....
C. Metode Penulisan……………………...………………………...........
D. Sistematila Penulisan..............................................................................

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………......

BAB III PENUTUP………………………………………………….....…......

A. Kesimpulan…………………………………………………….……...

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Hipospadia merupakan suatu kelainan congenital yang dapat dideteksi
ketika atau segera setelah bayi lahir, istilah hipospadia menjelaskan adanya
kelainan pada muara uretra pria. Kelainan hipospadia lebih sering terjadi pada
muara uretra, biasanya tampak disisi ventral batang penis. Seringkali, kendati
tidak selalu, kelainan tersebut diasosiasikan sebagai suatu chordee, yaitu
istilah untuk penis yang melengkuk kebawah.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan pada anak laki-laki yang ditinjau
dari posisi anatomi tampak berupa pembukaan saluran kemih di bagian ventral
atau bagian anterior penis. Bentuk penis biasanya melengkung dan ukurannya
lebih pendek daripada laki-laki normal. Kelainan ini apabila tidak dikoreksi
dapat mengakibatkan terganggunya fertilisasi dikemudian hari.
Pada beberapa penelitian menyatakan adanya hubungan hipospadia
dengan bayi berat badan lahir rendah (BBLR), bayi prematur dan riwayat
hipertensi pada ibu karena fungsi dari plasenta yang terganggu mengakibatkan
regulasi hormonal dan penyediaan nutrisi pada janin terganggu sehingga
mempengaruhi pembentukan saluran uretra. Pada beberapa literatur
menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara 2 kejadian hipospadia dengan
paparan lingkungan dalam hal ini adalah hubungannya dengan bahan kimiawi
yaitu pestisida, progestin dan juga dari pola diit vegetarian yang secara tidak
langsung mempengaruhi proses pembentukan urogenetalia saat perkembangan
janin di dalam rahim sehingga mempengaruhi fungsi plasenta dan risiko
kekurangan mikronutrien, vitamin B 12 yang terjadi pada ibu yang menjalani
diit vegetarian saat kehamilan. Ibu yang sedang hamil dan menjalani diit
vegetarian memiliki faktor risiko terjadinya hipospadia 4 kali lebih banyak
bila dibandingkan dengan ibu yang tidak menjalani diit vegetarian, hal ini
disebabkan phytoestrogen sebagai reseptor modulator estrogen dapat
mempengaruhi perkembangan alamiah urogenital.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan Hipospadia
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian hipospadia
b. Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi hipospadia
c. Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi hipospadia
d. Mahasiswa dapat menjelaskanklasifikasi hipospadia
e. Mahasiswa dapat menjelaskan manifestasi klinis hipospadia
f. Mahasiswa dapat menjelaskan penatalaksanaan hipospadia
g. Mahasiswa dapat menjelaskankomplikasi hipospadia
h. Mahasiswa dapat menjelaskan pengkajian fokus hipospadia
i. Mahasiswa dapat menjelaskan pathways keperawatan hipospadia
j. Mahasiswa dapat menjelaskan diagnosa keperawatan hipospadia
k. Mahasiswa dapat menjelaskan intervensi dan rasional hipospadia

C. Metode Penulisan
Pada penulisan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Hipospadia”
ini, penulis hanya menggunakan metode penulisan dengan literatur saja.
Dengan metode literatur ini penulis mencari berbagai sumber pada buku yang
bersangkutan dengan judul

D. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode
Penulisan, Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORI pengertian hipospadia, etiologi hipospadia,
patofisiologi hipospadia, klasifikasi
hipospadia, manifestasi klinik hipospadia,
penatalaksanaan hipospadia, komplikasi
hipospadia, pengkajian fokus hipospadia,
pathways keperawatan hipospadia, diagnosa
keperawatan hipospadia, intervensi dan
rasional hipospadia.
BAB III PENUTUP Kesimpulan
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Hipospadia merupakan suatu kelainan kongenital yang dapat
dideteksi ketika atau segera setelah bayi lahir, istilah hipospadia
menjelaskan adanya kelainan pada muara uretra pria. Kelainan hipospadia
lebih sering terjadi pada muara uretra, biasanya tampak disisi ventral
batang penis. Seringkali, kendati tidak selalu, kelainan tersebut
diasosiasikan sebagai suatu chordee, yaitu istilah untuk penis yang
melengkuk kebawah. (Speer,2008)
Hipospadia adalah suatu keadaan dengan lubang uretra terdapat
pada penis bagian bawah, bukan diujung penis. Kondisi hipospadia
bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak didekat ujung penis yaitu
pada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika luubang
uretra terdapat ditengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang
pada skrotum atau dibawah skrotum. Kelainan ini sering berhubungan
dengan kordi, yaitu suatu jaringan vibrosa yang kencang yang
menyebabkan penis melengkung kebawah saat ereksi. (Muslihatum, 2010)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
Hypospadia adalah suatu kelainan bawaan dari lahir atau kongenital
dimana letak lubang urethra tidak pada tempat yang semestinya,
melainkan ada dibagian bawah penis.
B. ETIOLOGI
Etiologi hipospadia sangat bervariasi dan multifaktorial, namun
belum ditemukan penyebab pasti dari kelainan ini. Beberapa penelitian
mengemukakan semakin berat derajat hipospadia, semakin besar terdapat
kelainan yang mendasari.
Menurut Krisna (2017), terdapat beberapa kemungkinan yang
dikemukakan oleh para ahli mengenai etiologi hipospadia adalah sebagai
berikut :
1. Terjadinya defekasi pada produksi hormon testosterone oleh testis dan
kelenjar adrenal, terjadinya kegagalan konversi hormon testosteron
menjadi dihidrotestoteron, defisiensi reseptor androgen di penis, maupun
penurunan ikatan antara dihidrostestoteron dengan reseptor androgen
dapat menyebabkan hipospadia.
2. Adanya paparan estrogen atau progestin pada ibu hamil di awal
kehamilan dicurigai dapat meningkatkan resiko terjadinya hipospadia.
3. Lingkungan yang tinggi terhadap aktivitas estrogen sering ditemukan
pada pestisida di sayuran dan buah, susu sapi, beberapa tanaman, dan
obat-obatan.
4. Ibu hamil yang melakukan diet vegetarian diperkirakan terjadi
peningkatan resiko terjadinya hipospadia. Hal ini dapat disebabkan
adanya kandungan yang tinggi dari fitoestrogen pada sayuran.
5. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat-obatan anti epilepsy seperti asam
valproat juga diduga meningkatkan resiko hipospadia.

Sedangkan menurut Tangkudung (2016), menambahkan bahwa


diet vegetarian yang dilakukan selama masa kehamilan atau ibu hamil
yang hanya mengonsumsi sayuran hijau saja atau sedang menjalani pola
makan vegetarian dapat terjadi penurunan vitamin B12, choline,
methionine yang akan memengaruhi sintesis estrogen dengan
pembentukan efek phytoestrogen. Diet vegetarian memberikan pengaruh
terhadap kejadian hipospadia 4,6 kali lipat dibandingkan dengan ibu hamil
yang menjalani diet normal.

C. PATOFISIOLOGI
Menurut Yudianto (2014), embrio yang berumur 2 minggu baru
terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu mesoderm yang kemudian
bermigrasi ke perifer, sehingga dapat memisahkan ektoderm dan
endoderm, sedangkan di bagian kaudalnya tetap bersatu 2 lapisan yaitu
ektoderm dan endoderm. Baru kemudian terbentuk membentuk membran
kloaka.Permulaan di minggu ke-6, terbentuk tonjolan
antaraumbilicalcord dan tail yang disebut genital tubercle. Di bawahnya
pada garis tengah terbenuk lekukan dimana di bagian lateralnya ada 2
lipatan memanjang yang disebut genital fold. Selama minggu ke-7, genital
tubercle akan memanjang dan membentuk glans. Bila terjadi agenesis dari
mesoderm, maka genital tubercletak terbentuk, sehingga penis juga tak
terbentuk.
Bagian anterior dari membrana kloaka, yaitu membrana
urogenitalia akan ruptur dan membentuk sinus. Sementara itu genital
fold akan membentuk sisi-sisi dari sinus urogenitalia. Bila genital
fold gagal bersatu di atas sinus urogenitalia, maka akan terjadi hipospadia.
Sedangkan menurut Sakti (2018), dalam jurnalnya menyebutkan
bahwa terjadinya hipospadia terjadi pada saat perkembangan embrio
(pembentukan saluran kemih) pada minggu ke-7 sampai minggu ke-16
usia kehamilan yang dipengaruhioleh kadar hormon androgen dan
esterogen. Faktorresiko terjadinya hipospadia masih belum
diketahuisecara pasti, namun peranan genetik, endokrin, danlingkungan
luar dapat mempengaruhi esterogen.
Faktor lingkungan yang dapatmenyebabkan hipospadia dengan
cara mempengaruhiestrogen adalah paparan pestisida. Pestisida
merupakan zat kimiawi yangmengganggu sistem endokrin (endocrine
disruptors). Jenis pestisida yang sering dipakai adatiga yaitu organofosfat,
organoklorin, dan karbamat.Zat tersebut yang memiliki efek esterogenik
adalah organoklorin. Organoklorin dapatmasuk ke dalam tubuh melalui
kulit, inhalasi, daningesti. Dampak lain paparan pestisida di
antaranyadisfungsi tiroid, berat badan lahir rendah, kelainanjantung,
micropenis, dan talapes.
Indonesia merupakan sebuah negara agrarisatau negara yang
memiliki masyarakat dengan mata pencaharian sebagian besar sebagai
petani atauagroindustri. Maka dari itu para petani tersebut sangatmundah
terkontaminasi oleh pestisida secara langsung maupun tidak langsung.
Mayoritaspara petani yang ada di Indonesia adalah berjeniskelamin
perempuan. Hal tersebut sangat berbahayabagi ibu yang sedang hamil
bekerja dekat denganpestisida. Pestisida sendiri dapat meningkatkan
kadarandrogen dan esterogen yang memacu kejadian bayi lahir dengan
hipospadia.
Kontaminasi pestisida dapat juga melalui pemakaiandan
penyimpanan pestisida yang salah. Makan buahdan sayur tanpa dicuci
terlebih dahulu dapatmeningkatkan resiko keracunan pestisida dan
bahayabagi janin ibu yang sedang hamil.

D. KLASIFIKASI
Menurut Krisna (2017), klasifikasi hipospadia terbagi berdasarkan
lokasinya. Klasifikasi yang paling sering digunakan adalah klasifikasi
Duckett yang membagi hipospadia menjadi 3 lokasi, yaitu anterior
(Glandular, coronal, dan distal penile), middle (midshaft dan proximal
penile), dan posterior (Penoscrotal, scrotal, dan perineal). Lokasi yang
paling sering ditemukan adalah di subcoronal.
Klasifikasi hipospadia berdasarkan derajat sangat subyektif
tergantung dari ahli bedah masingmasing. Beberapa ahli membagi
menjadi:
1. Mild hypospadia/ Grade 1, yaitu muara urethra dekat dengan lokasi
normal dan berada pada ujung tengah glans (glanular, coronal,
subcoronal),
2. Moderate hypospadia/ Grade 2, muara urethra berada ditengah-tengah
lokasi normal dan scrotal (Distal penile, Midshaft),
3. Severe hypospadia/ Grade 3&4, yaitu muara urethra berada jauh dari
lokasi yang seharusnya (Perineal, Scrotal, Penoscrotal).
E. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran klinik hipospadia meliputi:
1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan
posisi berdiri.
2. Chordee (melengkungnya penis) dapat menyertai hipospadia.
3. Hernia inguinalis (testis tidak turun) dapat menyertai hipospadia.
4. Lokasi meatus urine yang tidak tepat dapat terlihat pada saat lahir
(Noordisti, 2018).

Sedangkan menurut Krisna (2017), Gejala yang timbul bervariasi


sesuai dengan derajat kelainan. Secara umum jarang ditemukan adanya
gangguan fungsi, pada pemeriksaan fisik ditemukan muara uretra pada
bagian ventral penis. Biasanya kulit luar dibagian ventral lebih tipis atau
bahkan tidak ada, dimana kulit luar di bagian dorsal menebal bahkan
terkadang membentuk seperti sebuah tudung. Pada hipospadia sering
ditemukan adanya chorda. Chorda adalah adanya pembengkokan menuju
arah ventral dari penis. Hal ini disebabkan oleh karena adanya atrofi dari
corpusspongiosum, fibrosis dari tunicaalbuginea dan fasia di atas
tunica,pengencangan kulit ventral dan fasia Buck, perlengketan Antara
kulit penis ke struktur disekitarnya, atau perlengketan Antara urethral plate
ke corpus cavernosa. Keluhan yang mungkin ditimbulkan adalah adanya
pancaran urin yang lemah ketika berkemih, nyeri ketika ereksi, dan
gangguan dalam berhubungan seksual.

F. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan cara pembedahan, tujuan
prosedur pembedahan pada hipospadia adalah:
a. Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee.
b. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis
(uretroplasti).
c. Untuk mengembangkan aspek normal dari genetalia eksterna.
2. Jika hipospadia terdapat dipangkal penis, mungkin perlu dilakukan
pemeriksaan radiologis untuk memeriksa kelainan bawaan lainnya
(Noordiati, 2018).
Sedangkan menurut Muttaqin(2011)Penatalaksaan Medisnya meliputi:
1. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah
merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra di
tempat yang normal sehingga aliran kencing arahnya kedepan dan
dapat melakukan coitus dengan normal.
2. Operasi harus dilakukan sejak dini dam sebelum operasi dilakukan
bayi atau anak tidak boleh disirkumsisi karena kulit depan penis
digunakan untuk pembedahan nanti.
3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari
beberapa tahap yaitu: ada banyak variasi teknik, yang populer adalah
tunneling Sidiq Chaula, teknik Horton dan Device. (Muttaqin, 2011)
a. Teknik tunneling Sidiq-Chaula, dilakukan operasi 2 tahap :
1) Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan
terowongan yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada
usia 1,5-2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih
pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi
menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis.
2) Tahap kedua dilakukan uretoplasti, 6 bulan pasca operasi, saat
parut sudah lunak. Dibuat insisi pararel pada tiap sisi uretra
(saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit
dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan
flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah
dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan
setelah tahap pertama dengan harapan bekas luka operasi
pertama telah matang.
b. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada
anak lebih besar dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan
kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung
penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung
dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian di pindah ke
bawah. Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar
perbaikan hipospadia, maka sebaiknya tindakan penyunatan
ditunda dan dilakukan
G. KOMPLIKASI
Menurut Widjajana (2017), komplikasi awal (immadiate
complication) terjadi dalam kurun waktu 6 bulan pasca oprasi atau 6 bulan
pertama follow up komplikasi awal yang dapat terjadi sebagai berikut :
1. Perdarahan pasca operasi jarang terjadi dan biasanya dapat diatasi
dengan bebat tekan. Jika terjadi perdarahan maka harus ditinjau ulang
untuk mengeluarkan hematoma dan mengidentifikasi serta mengatasi
sumber perdarahan.
2. Infeksi, jika dicurigai terjadi infeksi segera lakukan debridement,
insisi, drainase, dan kultur. Kemudian berikan antibiotik sesuai kuman
yang menyebabkan infeksi. Infeksi yang berat dapat menyebabkan
kegagalan secara menyeluruh dari operasi perbaikan hipospadia.
3. Edema lokal dan tintik perdarahan umumnya dapat terjadi segera pasca
operasi tetapi biasanya tidak menimbulkan gangguan yang berarti.
4. Jahitan yang terlepas dan Nekrosis flap.

Sedangkan komplikasi lanjutan (late complication) terjadi lebih


dari 6 bulan pasca operasi atau setelah 6 bulan pertama follow up.
Komplikasi lain meliputi fistula uretroktaneus, meatal stenosis, glans
dehischence, dan urethral stenosis.

H. KASUS SEKENARIO
An. P Laki-laki umur 3th dirawat di ruang bedah anak karena mengalami
kelainan saat berkemih dan akan menjalani proses pembedahan untuk
memperbaiki kelaianan yang terjadi (urethroplasty). Ibu klien mengatakan
sejak lahir anaknya mengalami kelainan pada alat kelaminya. Saat kencing
pasti merembes didaerah pangkal penisnya. Klien diagnosis menderita
hypospadia.
I. PENGKAJIAN
identitas pasien
1. Nama : An. P
2. Umur : 3th
3. Jenis kelamin : Laki- laki
4. Diagnosa medis : Hypospadia
5. Keluhan utama :
Saat kencing pasti merembes didaerah pangkal penisnya
6. Riwayat penyakit sekarang :
dirawat diruang bedah anak dan akan menjalani proses
pembedahan (urethroplasty).
7. Riwayat penyakit sebelumnya :
ps mengalami kelainan pada alat kelaminnya.

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan genetalia
Saat dilakukan inspeksi bentuk penis lebih datar dan ada
lekukan yang dangkal dibagian bawah penis yang menyerupai
meatus uretra eksternus, pada kebanyakan penderita penis
melengkung ke bawah(chordee) yang tampak jelas pada saat
ereksi, preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis tetapi
menumpuk dibagian punggung penis,testis tidak turun ke
kantong skrotum. Letak meatus uretra berada sebelah ventral
penis dan sebelah proximal ujung penis
2. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria
atau pembesaran pada ginjal, karena kebanyakan penderita
hypospadia sering disertai dengan kelainan pada ginjal.
3. Perhatikan kekuatan dan kelancaran aliran urin
Pemeriksaan Lab

Darah Lengkap

1. Hb (N: 14-18 g/dL)


2. Ht (N: 40-48 vol%)
3. Leukosit (N: 5000-10000/mm3)
4. Trombosit (N: 200000-500000/mm3)

Kimia Klinik

1. BSS : 80 mg/dL

Pemeriksaan Penunjang

1. Excretory urograph
Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya
abnormalitas congenital pada ginjal dan ureter.
2. Pemeriksaan penunjang lain yang cukup berguna meskipun
jarang dilakukan adalah pemeriksaan radiologis urografi
(IVP,sistouretrografi) untuk menilai gambaran
3. saluran kemih secara keseluruhan dengan bantuan kontras.
Pemeriksaan ini biasanya baru dilakukan bila penderita
mengeluh sulit berkemih. Selain itu juga dilakukan
pemeriksaan USG untuk mengetahui keadaan ginjal,mengingat
hypospadia sering disertai dengan kelainan pada ginjal.
J. PATHWAYS

kongenital

Lingkungan :polutanpestisida
(organofosfat, orgaroklorin, 2 minggu
karbomat) pertama Embrio
membentuk

Endokrin distruptor
Lapisan Lapisan
Endoderm Eksoderm
Mempengaruhi
estrogen
mesoderm Terbentuk tonjolan

Genital tuberkel
Pembentukan Struktur genitalia
Genital Fold
terganggu ( minggu ke-6)

Hormon Androgen Terbentuk PENIS


berkurang sempurna

Hormon Testosteron NORMAL


berkurang

Kekurangan Enzim
Urin
5-αreduktase
merembas
didaerah Tindakan
Pembentukan genitalia Fold
pangkal penis pembedahan
terganggu (minggu ke-7)
(urethroplasty).
Pemasangan Perkembangan
penis terganggu Kurang pengetahuan akan
kateter
prosedur pembedahan

Lateks kateter Terbentuk Chordaee


ANSIETAS
bergesekan atau
D. 0080
dengan
mukosa penis HIPOSPADIA

Rasa malu GANGGUAN


RESIKO INFEKSI
dengan teman CITRA TUBUH
D. 0142
D. 0083

AL
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Infeksi (D.0142) b.d tindakan infasif pemasangan kateter urin
dan gesekan lateks kateter pada mukosa penis, (resiko mengalami
peningkatan terserang organisme patogenik akibat tindakan
invasifkateter lateks)
2. Gangguan Citra Tubuh (D.0083) b.d rasa malu akibat perkembangan
genitalia penis terganggu, (perubahan persepsi tentang penampilan,
struktur dan fungsi fisik individu)
3. Ansietas (D.0080) b.d kurang pengetahuan tentang prosedur
permbedahan yang akan dilakukan

L. INTERVESNSI dan RASIONAL

Diagnosis : Resiko Infeksi (D. 0142) b.d tindakan infasif pemasangan kateter urin dan
gesekan lateks kateter pada mukosa penis. (resiko mengalami peningkatan
terserang organisme patogenik akibat tindakan invasifkateter lateks)

7-an & Kriteria Hasil Intervensi Rasional


NOC NIC

Kriteria Hasil :setelah O : kaji tanda-tanda Untuk memantau adakah


dilakukan tindakan 1x24 terjadinya infeksi tanda terjadinya infeksi
jam menunjukan hasil : (Kemerahan atau gatal),
- Tidak ada kaji penyebab terjadinya Mengkaji penyebab
kemerahan infeksi terjadinya infeksi penting
- Tidak ada gatal untuk menentukan
- Integritas kulit baik N : - jika alergi latek tindakan keperawatan
- TTV dalam rentang hentikan paparan selanjutnya
normal alergen.
- Lakukan tes alergen Menghentikan paparan
sebelum pemberian alergi untuk mengurangi
obat terjadinya infeksi
berkepanjangan
E : - jelaskan tanda dan
gejala infeksi Tes alergen penting
- Ajarkan cuci tangan 7 sebelum pemberian obat
langkah antibiotik ke pasien
- Anjurkan
meningkatkan asupan Edukasi ke pasien dan
nutrisi dan cairan keluarga pasien akan tanda
infeksi penting untuk
K : kolaborasi dengan mendukung proses
Dokter untuk pemberian intervensi keperawatan
obat antibiotik dan obat
topikal jika Pemberian nutrisi yang
memungkinkan adekuat membantu proses
alami tubuh melawan
infeksi

Kolaborasi suatu bentuk


kerjasama antar tenaga
kesehatan untuk
kesembuhan pasien

Diagnosis : Gangguan Citra Tubuh (D. 0083) b.d rasa malu akibat perkembangan
genitalia penis terganggu (perubahan persepsi tentang penampilan, struktur
dan fungsi fisik individu)

7-an & Kriteria Hasil Intervensi Rasional


NOC NIC

Kriteria Hasil :setelah O : kaji TTV, bina TTV untuk mengetahui


dilakukan tindakan 3x24 hubungan saling kondisi pasien
jam menunjukan hasil : percaya, tingkatkan trust
- Pasien bisa Rasa saling percaya dapat
menerima N : bantu klien untuk meningkatkan tercapainya
keadaandan kondisi mengenali dirinya intervensi keperawatan
fisik tubuhnya yang diharapkan
- Mulai bergaul E : edukasi kepada keluarga
dengan lingkungan pasien untuk selalu Dukungan keluarga sangat
- Tidak malu mendampingi dan dibutuhkan utuk
- Respon verbal dan memberikan dukungan kesembuhan pasien
nonverbal normal
K : kolaborasi dengan Kolaborasi untuk prosedur
Dokter untuk tindakan tindakan post. oprasi
pembedahan
Diagnosis : Ansietas (D.0080) b.d kurang pengetahuan tentang prosedur permbedahan
yang akan dilakukan

7-an & Kriteria Hasil Intervensi Rasional


NOC NIC

Kriteria Hasil :setelah O : Jelaskan pada anak dan Menjelaskan rencana


dilakukan tindakan 1x24 orang tua tentang prosedur pembedahan dan pasca
jam menunjukan hasil : bedah dan perawatan pasca operasi membantu
- Frekuensi nadi operasi yang diharapkan meredakan rasa cemas dan
dalam batas normal takut
- Frekuensi napas N : Jelaskan bahwa
pembedahan dilakukan Stimulasi dengan
dalam batas normal
dengan cara memperbaiki mempergunakan gambar dan
- Pasien tampak rileks boneka untuk menjelaskan
letak muara uretra
prosedur dapat membuat
Gunakan gambar dan dan anak memahami konsep yang
boneka ketika menjelaskan rumit
prosedur kepada anak
Meningkatkan pengetahuan
E : anjurkan untuk keluarga orang tua dan anak tentang
pasien selalu pembedahan yang akan
mendampingi sampai dilakukan
prosedur operasi selesai
Untuk mengurangi
K : kolaborasi dengan kecemasan pasien
Dokter untuk prosedur Dukungan keluarga sangat
operasi yang akan dibutuhkan utuk
dilakukan kesembuhan pasien

Kolaborasi dengan tim


kesehatan
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULA
Hipospadia adalah suatu keadaan dengan lubang uretra terdapat
pada penis bagian bawah, bukan diujung penis. Kondisi hipospadia
bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak didekat ujung penis yaitu
pada glans penis. Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika luubang
uretra terdapat ditengah batang penis atau pada pangkal penis, dan kadang
pada skrotum atau dibawah skrotum. Kelainan ini sering berhubungan
dengan kordi, yaitu suatu jaringan vibrosa yang kencang yang
menyebabkan penis melengkung kebawah saat ereksi. (Muslihatum, 2010)
Menurut Krisna (2017), terdapat beberapa kemungkinan yang
dikemukakan oleh para ahli mengenai etiologi hipospadia adalah sebagai
berikut :
1. Terjadinya defekasi pada produksi hormon testosterone oleh testis dan
kelenjar adrenal, terjadinya kegagalan konversi hormon testosteron
menjadi dihidrotestoteron, defisiensi reseptor androgen di penis,
maupun penurunan ikatan antara dihidrostestoteron dengan reseptor
androgen dapat menyebabkan hipospadia.
2. Adanya paparan estrogen atau progestin pada ibu hamil di awal
kehamilan dicurigai dapat meningkatkan resiko terjadinya hipospadia.
3. Lingkungan yang tinggi terhadap aktivitas estrogen sering ditemukan
pada pestisida di sayuran dan buah, susu sapi, beberapa tanaman, dan
obat-obatan.
4. Ibu hamil yang melakukan diet vegetarian diperkirakan terjadi
peningkatan resiko terjadinya hipospadia. Hal ini dapat disebabkan
adanya kandungan yang tinggi dari fitoestrogen pada sayuran.
5. Ibu hamil yang mengkonsumsi obat-obatan anti epilepsy seperti asam
valproat juga diduga meningkatkan resiko hipospadia.
DAFTAR PUSTAKA

Speer, Kathleen Morgan. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik.


Jakarta:EGC

Muslihatun, WafiNur. (2010). Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita.


Yogyakarta:Fitramaya

Krisna, Daniel Mahendra, dkk. 2017. HIPOSPADIA : BAGAIMANA


KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA. Junal Berkala Ilmiah Kedokteran
Duta Wacana. Vol 2. No 2. ISSN : 2460-9684. Diakses dari :
https://bikdw.ukdw.ac.id

Noordiati. 2018. Asuhan Kebidanan, Neonatus, Bayi, Balita & Anak Pra Sekolah.

Malang:Wineka Media

Muttaqin, Arief. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.

Jakarta: SalembaMedika

Tangkudung FJ, Patria SY, dan Arguni E. 2016. Faktor Risiko Hipospadia Pada

Anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.Jurnal Sari Pediatri, Vol. 17, No.
05. Diakses dari : https://www.researchgate.net/

Yudianto, Andi. 2014. Asuhan Keperawatan Hipospadia dan Epispadia. Fakultas

Ilmu Kesehatan: Program Studi S1 Ilmu Keperawatan Universitas


Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang.

Sakti, Sri Weli. Supangat. Dan Septa Surya. 2018. THE ASSOCIATION

BETWEEN HYPOSPADIAS OCCURRENCE WITH EXPOSURE OF


PESTICIDES IN AGROINDUSTRY ENVIROMENT. NurseLine Journal.
Vol 3. No 2. [60-64]. Diakses dari :
https://jurnal.unej.ac.id/index.php/NLJ/article/download/6615/6039/

Widjajana, Desy Pratiwi. 2017. Hubungan Tipe Hipospadia, Usia, dan

Teknik Operasi Terhadap Komplikasi Fistula Uretrokuteneus pada Kasus


Hipospadia Anak. Skripsi Fakultas Kedokteran Universetas Jember.
Diakses dari :

http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/85037/Desy%20P
ratiwi%20Widjajana%20-%20142010101015_.pdf?sequence=1

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia

Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : PPNI

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta : PPNI

Anda mungkin juga menyukai