Anda di halaman 1dari 4

TUGAS RUTIN II PENGANTAR GEOGRAFI

ANALISIS SEJARAH PERKEMBANGAN GEOGRAFI


GEOGRAFI KLASIK, GEOGRAFI ABAD PERTENGAHAN,
DAN GEOGRAFI MODERN

DOSEN PENGAMPU :
Prof. Darmono, M.Ed
ROHANI TANJUNG, S.Pd., M.Si.

DISUSUN OLEH :
AYU NOVIANA SIMATUPANG
3183331010

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
A. GEOGRAFI KLASIK
Perkembangan geografi telah dimulai sejak zaman dahulu jauh
sebelum ilmu pengetahuan berkembang. Pada masa Herodotus dan
Hesodius sebagian orang menganggap bawa pengetahuan tentang bumi
masih sangat dipengaruhi oleh mitologi. Lambat laun pengaruh
mitologi ini semaking menurun seiring berkembangnya pengaruh ilmu
alam di abad ke 6 sebelum Masehi. Dengan begitu corak pengetahuan
tentang bumi di abad ini memiliki dasar ilm alam dan ilmu pasti. Sejak
itu penyelidikan tentang bumi dilaukan dengan memakai logika bukan
mitos.

Pandangan Thales (640-548 SM) menganggap bahwa bumi ini memiliki


bentuk kepingan silinder yang terapung di atas air dengan separuh bola
hampa di atasnya. Pendapat ini telah hilang seabad kemudian setelah
Parmenides mengemukakan pandangan bahwa bumi ini berbentuk
bulat. Kemudian Heraclides (320 SM) berpandangan bahwa bumi
berputar pada sumbunya dari barat ke timur. Selain itu diketahui pula
adanya zonasi iklim meskipun belum diketahui bahwa sumbernya dari
kemiringan sumbu rotasi bumi.

Seabad sebelum Masehi, geografi sangat dipengaruhi oleh astronomi


dan matematika. Pada masa itu selain geografi ada juga logografi.
Pelopor logografi adalah Hecataeus, Herodotus dan Strabo. Ahli
logografi ini menceritakan tentang apa yang didengar dan dilihat dari
pelancong di negara lain. Di era geografi modern ini logografi
disamakan dengan volkenkunde.

Ptolomeus menulis buku berjudul Geographike Unphegesis. Buku itu


beredar di pertengahan abad ke 2 dan menjelaskan bahwa geografi
adalah suatu penyajian dengan peta dari sebagian permukaan bumi
yang menunjukkan kenampakan umum di dalamnya. Selanjutnya
diterangkan bahwa geografi berbeda dengan chorografi karena ia lebih
membicarakan wilayah atau region tertentu dan menyajikan secara
mendalam. Chorografi lebih mengutamakan pada kenampakan asli
wilayah dan bukan ukurannya. Sementara geografi lebih
mengutamakan hal-hal yang bersifat kuantitatif bukan kualitatif.

Berbeda dengan Ptolomeus, Strabo dalam bukunya yang berjudul


Geographica sebanyak 17 jilid dan diterbitkan seabad sebelum Masehi
telah membuat sintesa antara geografi, chorografi dan topografi.
Menurutnya, dalam studi geografi kita tidak hanya mempelajari
tentang bentuk dan dimensi suatu daerah tapi juga tentang lokasinya.
Selain itu dalam buku tersebut sudah nampak adanya korelasi antara
lingkungan dengan manusia. Itulah kilas pandangan geografi klasik.
Geografi dimulai dari observe atau mengamati semua hal yang
tertangkap dari panca indera mengenai lokasi.
B. GOGRAFI ABAD PERTENGAHAN
Setelah geografi era klasik berakhir maka selanjutnya geografi masuk
di era abad pertengahan. Banyak pemuka agama yang menaruh
perhatian di bidang geografi pada awal abad pertengahan demik
kepentingan agama, perdagangan dan perang yang dilakukan oleh
penyebar agama. Orang yang merasakan perlu adanya pengaturan
kembali tentang geografi adalah Bernhardus Veranius (1662-1650 SM)
dengan menerbitkan buku Geographia Generalis di Amsterdam tahun
1650. Ia berpandangan bahwa terdapat dualisme dalam geografi.

Di satu pihak geografi mempelajari tentang proses dan fenomena yang


bersifat alamiah seperti gempa, erupsi dan hujan. Namun ia juga
mempelajari tentang hubungan matahari dengan bumi. Di lain pihak
lain geografi mempelajari tentang gejala sosial dan kebudayaan. Oleh
karena adanya dualisme ini Veranius membedakan antara geografi
umum atau geographia generalis dan geografi khusus atau geographia
spesialis. Geografi umum berkaitan dengan gejala alamiah sementara
geografi khusus mempelajari daerah atau wilayah yang sifatnya
diperoleh dari hasil interaksi antra manusia dengan proses alamiah.

Meski bukunya itu hanya membicarakan tentang geografi umum saja


namun pada kata pengantar buku ia merencanakan menulis buku
berikutnya tentang geografi regional yaitu suatu istilah yang akan
diberikan pada geografi khusus. Namun sayangnya setelah penerbitan
bukunya yang petama, Veranius meninggal dunia pada usia 28 tahun.
Geografi abad pertengahan atau geografi zaman Veranius ini ditandai
dengan dualisme ganda yaitu: geografi umum dan geografi khusus lalu
geografi fisika dan geografi manusia. Meskipun demikian dualisme ini
adalah sejalan. Untuk menyederhanakannya namanya Veranius
mengusulkan agar geografi umum dan geografi topikal mempelajari
unsur-unsur fisikal yang dapat diterangkan dengan "hukum atau
metode" seperti gravitasi, kepler dll, sementara geografi khusus yang
mengkaji manusia yang sulit diramalkan sebelumnya harus bersifat
deskriptif.
C. GEOGRAFI MODERN
Geografi modern berkembang di abad ke 18 saar revolusi industri mulai
bergema. Seperti halnya Veranius, Immanuel Kant menganggap
geografi sebagai suatu disiplin ilmu ilmiah. Menurutnya, ilmu
pengetahuan dapat dibagi menjadi 3 pandangan. Pertama ilmu
pengetahuan yang menggolongkan fakta berdasarkan jenis objek yang
diselidiki. Disiplin yang mempelajari kategori ini seperti adanya
disebut "ilmu pengetahuan sistematik", contohnya botani
mempelajari tumbuhan, geologi mempelajari kulit bumi dan sosiologi
mempelajari golongan sosial.

Selanjutnya Kant berpendapat bahwa pendekatan yang digunakan


dalam ilmu pengetahuan sistematik ini adalah suatu studi tentang
suatu kenyataan. Kedua adalah ilmu pengetahuan yang memandang
hubungan fakta-fatra sepanjang masa. Ilmu pengetahuan yang
mempelajari fakta-fakta yang berasosiasi dalam ruang dan ini
merupakan bidang ilmu geografi.

Alexander von Humboldt menaruh minat pada kenampakan fisikal dan


biologikal. Ia yang mengembara ke benua Amerika membuat profil
benua dan menggambarkan hubungan antara vegetasi dengan
ketinggian tempat. Meskipun demikian ia tidak melupakan faktor
manusia. Contohnya Humboldt memerhatikan tidak adanya lagi
pastoral nomads diantara orang-orang Amerika dan ini berarti bahwa
cara hidup ini adalah evolusi sosial yang terjadi di seluruh dunia. Selain
itu ia juga memberikan tanggapan terhadap kesamaan antara budaya
Asia dengan orang Amerika asli dan mencoba melihat korelasinya. Dari
hasil pengembaraannya ini Humboldt menulis geografi regional dari
Cuba dan Meksiko.

Karya Karl Ritter juga sejalan dengan Humboldt terutama dalam


menjelaskan kegiatan manusia di suatu wilayah. Meskipun ia hanya
melakukan perjalanan di Eropa saja namun Ritter telah menggunakan
hasil observasi orang lain untuk membuat karyanya. Hasil karyanya
yang terbesar adalah Die Erkunde yang merupakan suatu deskripsi
regional dari seluruh dunia meskipun jilid yang paling lengkap adalah
tentang Asia dan Eropa. Ritter memandang permukaan bumi sebagai
habitat manusia dan menggolongkan permukaan bumi menjadi wilayah
alamiah terutama berdasarkan bentang alamnya dan mempelajari unit
wilayah alamiah ini bagi masyarakat yang menempatinya. Era geografi
modern ini membuat geografi sudah dipandang menjadi sebuah ilmu
sistematis meskipun belum sempurna pendekatannya seperti sekarang.