Anda di halaman 1dari 17

1.

Pengertian Satelit Gravimetri


Salah satu tujuan dari ilmu geodesi adalah menentukan bentuk dan ukuran bumi
termasuk didalamnya menentukan medan gaya berat bumi dalam dimensi ruang dan
waktu. Bentuk bumi didekati melalui beberapa model diantaranya ellipsoida yang
merupakan bentuk ideal dengan asumsi bahwa densitas (kerapatan) bumi homogen.
Sementara itu kenyataan sebenarnya, densitas massa bumi yang heterogen dengan
adanya gunung, lautan, cekungan, dataran akan membuat ellipsoid berubah menjadi
Geoid. (Geodesy ITB, 2007)
Geoid disebut sebagai model bumi yang sesungguhnya. Lebih jauh geoid dapat
didefinisikan sebagai bidang ekipotensial yang berimpit dengan permukaan laut
pada keadaan tenang dan tanpa gangguan , karena itu secara praktis geoid dianggap
sama dengan permukaan laut rata-rata (Mean sea level-MSL). (Geodesy ITB, 2007)
Jarak geoid terhadap ellipsoid disebut Undulasi geoid. Undulasi geoid tidak
sama di semua tempat, hal ini disebabkan ketidakseragaman sebaran densitas masa
bumi. Geoid sendiri dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa metode
diantaranya ; defleksi vertikal, studi permukaan air laut dari data satelit altimetri,
airborne gravimetri dan Satelit Gravimetri. (Geodesy ITB, 2007)
Metode penentuan gravity field dan geoid menggunakan misi-misi dari Satelit
Gravimetri mulai banyak dikembangkan saat ini. Jika bumi dianggap sebagai
ellipsoid dengan massa yang homogen, maka medan gaya beratnya akan memiliki
suatu medan massa tertentu dan orbit satelit akan berbentuk ellips yang sempurna.
Dengan melakukan penjejakan terhadap satelit, maka kita dapat menentukan
seberapa besar penyimpangan orbit satelit dan kemudian dapat dihitung seberapa
besar perbedaan medan gaya berat bumi dibandingkan dengan massa sebuah titik.
Ini merupakan cara yang baik untuk mendapatkan kenampakan gelombang panjang
(long wavelength) dari medan gaya berat. Untuk menentukan derajat (degree) yang
lebih tinggi maka kita memerlukan data gaya berat terestris. (Geodesy ITB, 2007)
2. Jenis-Jenis Misi Satelit Gravimetri
Misi Satelit Gravimetri diantaranya bernama GRACE (Gravity Recovery And
Climat Experiment), GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation
Explorer), dan CHAMP (Challenging Minisatellite Payload).

1
2.1 GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer)
GOCE (Gravity field and steady-state Ocean Circulation Explorer) adalah misi
satelit dari ESA dalam bidang geodesi dan geodinamik berupa kombinasi dari SGG
(Satellite Gravity Gradiometry) dan SST (Satellite-to-Satellite Tracking). Misi ini
merupakan salah satu misi utama dari ESA Earth Explorer Programe yang
dicanangkan di pertemuan Granada pada tanggal 12-14 oktober 1999. Kontrak misi
dimulai pada bulan november tahun 2001. (ESA, akses 26 April 2019)

Gambar 1: Satelit GOCE


(Sumber : https://earth.esa.int/web/guest/missions/esa-operational-eo-
missions/goce)
Misi GOCE yang dilakukan merupakan misi yang melengkapi misi-misi satelit
lainnya dalam bidang yang sama yaitu CHAMP (diluncurkan 15 juli 2000) dan
GRACE (diluncurkan pada tanggal 17 maret 2002). Misi GOCE ini diharapkan
dapat membantu Earth Science (ilmu kebumian) untuk memahami lebih baik dari
proses dinamika bumi yang terjadi dalam interior bumi dan permukaan
bumi. Contohnya, pengetahuan akan geoid yang baik akan bermanfaat bagi studi
distribusi masa di bumi padat, intepretasi perubahan muka laut (sea level change),
studi arus laut, perpindahan panas air laut, studi iklim, dan prediksi dari dinamika
bumi. (ESA, akses 26 April 2019)

2
2.1.1 Tujuan Misi GOCE
Obyektif dari misi GOCE diantaranya :
1) Untuk menentukan anomali medan gravitasi dengan akurasi 1 mGal (di
mana 1 mGal = 10–5 ms – 2).
2) Untuk menentukan geoid dengan akurasi 1-2 cm.
3) Untuk mencapai hal di atas dengan resolusi spasial yang lebih baik dari
100 km.

Gambar 2 : Model gaya berat pertama dari GOCE


(Sumber : https://earth.esa.int/web/guest/missions/esa-operational-eo-
missions/goce)
2.1.2 Misi Orbit Satelit
Detail dari misi orbit Satelit GOCE, antara lain :
1) Orbit : Sun-synchronus, mendekati lingkaran, fajar-senja, low-earth.
Kemiringan: 96,7 °
2) Ketinggian pengukuran: sekitar 250 km
3) Ketinggian Hibernasi : di atas 270 km
(ESA, akses 26 April 2019)

2.1.3 Konfigurasi Satelit


GOCE adalah pesawat ruang angkasa segi delapan yang ramping dengan
panjang sekitar 5 m dan berdiameter 1 m dengan berat sekitar 1050 kg. Ini adalah

3
struktur kaku tanpa bagian yang bergerak - satelit, sistem sensor, dan elemen
kontrol membentuk satu 'alat pengukur gravitasi'. Penampang diminimalkan ke arah
penerbangan untuk mengurangi hambatan. Sirip ekor bertindak sebagai penstabil
pasif. (ESA, akses 26 April 2019)

2.1.4 Komponen Peralatan Satelit


Satelit GOCE terdiri dari komponen-komponen diantaranya :
1) Gradiometer : 3 pasang akselerometer kapasitif 3 sumbu, servo yang
terkontrol, dan kapasitif (masing-masing pasangan dipisahkan sekitar 0,5
m).
2) Penerima GPS dual-frekuensi 12-channel dengan kualitas geodetik.
3) laser retoreflektor memungkinkan pelacakan dengan laser berbasis darat.
(ESA, akses 26 April 2019)

2.1.5 Kontrol Attitude Satelit


Upaya dalam kontrol Attitude Satelit diantaranya :
1) 3-axis distabilkan
2) Sistem bebas hambatan dan attitude-control (DFACS) yang terdiri dari:
- Aktuator : perakitan ion thruster (bahan bakar xenon) dan
magnetotorquers.
- Sensor : pelacak bintang, magnetometer 3-sumbu, sensor Matahari
digital dan sensor Bumi dan Matahari kasar.
(ESA, akses 26 April 2019)

2.1.6 Operasi Penerbangan dan Produk Data Satelit


Misi GOCE terutama menggunakan stasiun bumi di Kiruna, Swedia untuk
bertukar perintah dan data dengan tanah. Selain itu, misi juga memanfaatkan stasiun
bumi di Svalbard, Norwegia. Satelit dipantau dan dikendalikan oleh Segmen
Operasi Penerbangan (FOS) di ESA-ESOC, Darmstadt, Jerman melalui Kiruna.
Produk level-1b dihasilkan oleh Payload Data Ground Segment (PDGS) di ESA-
ESRIN, Frascati, Italia, yang juga menerima data sains GOCE melalui FOS. Produk
level-2, termasuk model medan gravitasi dan orbit GOCE yang tepat, dihasilkan
oleh Fasilitas Pemrosesan Tingkat Tinggi (HPF), yang merupakan konsorsium

4
Eropa dari sepuluh lembaga ilmiah yang khusus ditujukan untuk tugas kompleks
pemrosesan level GOCE-1b data. Produk akhir didistribusikan ke komunitas
pengguna GOCE global. (ESA, akses 26 April 2019).

2.1.7 Kontraktor Satelit


Berikut ini merupakan Tim Inti Industri satelit GOCE, antara lain :
1. Thales Alenia Space (Italia) - kontraktor utama satelit
2. EADS Astrium GmbH (Jerman) - kontraktor platform
3. Thales Alenia Space (Prancis) - gradiometer
4. ONERA (Prancis) - akselerometer & dukungan sistem
5. Tim Inti memimpin konsorsium 41 perusahaan yang didistribusikan di 13
negara Eropa. (ESA, akses 26 April 2019).

2.2 GRACE (Gravity Recovery And Climate Experiment)


GRACE (Gravity Recovery And Climate Experiment) merupakan sistem satelit
gravimetri hasil kerjasama antara NASA (National Aeronautics and Space
Administration) dengan DLR (Deutsches Zentrum fur Luft-und Raumfahrt). Misi
ini terdiri dari satelit kembar yang diluncurkan tahun 2002. Satelit-satelit tersebut
berada dalam orbit yang sama di sekeliling bumi, jarak satelit satu ke satelit kedua
sekitar 220 kilometer (137 mil) di ketinggian 460 kilometer (286 mil) di atas
permukaan bumi. Tujuan pertama dari misi satelit GRACE ini yaitu, untuk
menyediakan informasi model medan gaya berat bumi selama 5 tahun dengan
variasi temporalnya. Sedangkan tujuan kedua dari misi satelit GRACE yaitu,
menyediakan informasi mengenai besaran bias ionosfer dan troposfer yang dapat
memperlambat sinyal pengukuran GPS dan memprediksi perubahan iklim secara
global. (Geodesy ITB, 2007)

2.2.1 Sistem Satelit


Teknik dari GRACE ini yaitu mendeteksi perubahan medan gaya berat bumi
dengan cara memonitor perubahan jarak yang terjadi antara pasangan 2 satelit
GRACE pada orbitnya. Kedua satelit ini terkoneksi oleh K-band microwave link
untuk menghitung perbedaan jaraknya secara pasti, dan seberapa besar

5
perubahannya dengan akurasi lebih baik dari 1um/s. Untuk melihat letak dan
pergerakan akibat gaya non gravitasi dari satelit secara presisi, untuk itu kedua
satelit dilengkapi dengan star camera dan akselerometer. Sementara itu posisi dan
kecepatan satelit ditentukan dari sistem GPS yang ikut terpasang di kedua
pasangan satelit GRACE tersebut. (Geodesy ITB, 2007)

Gambar 3 : Satelit GRACE.


(sumber : http://www.csr.utexas.edu/grace/)

Teknik dari satelit GRACE mendeteksi medan gaya berat bumi dengan cara
memonitor perubahan jarak yang terjadi antara 2 buah pasang satelit GRACE pada
orbitnya. Kedua satelit ini saling melaju pada lintasan orbit dengan jarak sekitar 220
km yang terkoneksi oleh K-band microwave. Untuk melihat precise attitude dan
pergerakan akibat gaya non-gravitasi dari satelit, keduanya dilengkapi dengan
starcamera yang digunakan untuk mempertahankan posisi kedua satelit pada posisi
orbitnya dan akselerometer untuk menghilangkan efek dari gaya-gaya lain selain
gaya berat. Posisi satelit GRACE ditentukan dari satelit GPS, dimana GRACE juga
dilengkapi dengan antena receiver GPS. Ilustrasi satelit GRACE dan satelit GPS
dapat dilihat pada gambar 4. (Geodesy ITB, 2007)

6
Gambar 4 : Sistem satelit GRACE dan GPS.
(sumber : http://www.csr.utexas.edu/grace/)

Kedua satelit ini melucur pada tanggal 17 maret 2002 di Plesetsk Russia dan
akan berakhir pada tahun 2007. Gambar proses peluncuran dapat dilihat pada
gambar dibawah.

Gambar 5 : Peluncuran satelit GRACE


(sumber : http://www.csr.utexas.edu/grace/)

2.2.2 Komponen Peralatan Satelit


GRACE sangat berbeda diantara kebanyakan misi satelit di bumi, sebagai
contoh Terra dan Aqua, karena satelit GRACE ini tidak membawa perlengkapan
ilmuwan pada badan satelit dan juga tidak melakukan pengukuran balik energi
elektromagnetik yang dipantulkan ke badan satelit itu dari permukaan bumi.

7
2.2.3 Informasi Umum Badan Pesawat
Berikut ini merupakan data badan pesawat Satelit GRACE :
1. Lebar satelit : 1942 mm
2. Panjang satelit : 3123 mm
3. Tinggi satelit : 720 mm
4. Massa satelit : 487 kg untuk satu buah satelit
5. Waktu satelit beroperasi : 5 tahun

2.2.4 Komponen Utama Peralatan Satelit


Satelit GRACE terdiri dari berbagai komponen. Komponen-komponen utama
peralatan Satelit GRACE diantaranya :
1. K-band Ranging System (KBR) : mengukur perubahan jarak antara dua
buah satelit GRACE (dengan tingkat ketelitian sampai 10 µm) yang
digunakan untuk mengukur nilai medan berat bumi yang berubah-ubah.
2. Ultra Stable Oscillator (USO) : membangkitkan frekuensi yang digunakan
pada K-band Ranging System.
3. SuperSTAR Accelorometer (ACC) : untuk mengukur secara presisi
percepatan non-gravitational yang bekerja pada dua buah satelit GRACE.
4. Star Camera Assembly (SCA) : menentukan secara presisi dengan tepat
kedua buah satelit GRACE yang berorientasi dengan cara mengikuti posisi
mereka relatif terhadap bintang.
5. Coarse Earth and Sun Sensor (CES) : digunakan untuk menjaga satelit
GRACE beroperasi dalam keadaan Safe Mode.
6. Center of Mass Trim Assembly (MTA) : untuk mengukur secara tepat jarak
antara kedua buah satelit GRACE dengan pusat massanya dan juga
percepatan selama terbang serta menyesuaikan badan satelit GRACE
dengan pusat massanya.
7. Black-Jack GPS Receiver and Instrument Processing Unit (GPS) : untuk
mengukur perubahan jarak relatif satelit GRACE terhadap konstelasi
satelit GPS yang berhubungan langsung dengan efek bias atmosfir.
8. Globalstar Silicon Solar Cell Arrays (GSA): sumber tenaga satelit dari
matahari (menyelimuti seluruh badan bagian luar satelit GRACE)

8
sekaligus sebagai pelindung bagian dalam komponen peralatan satelit
GRACE.
9. Three-axis Stabilized Attitude Control System : untuk mengkoreksi posisi
keadaan orbit satelit GRACE yang dilengkapi dengan star camera dan
sensor gyro dan juga sistem gas dingin nitrogen dengan kumparan magnet.
10. 1750-A Microprocessor for Flight Computer : untuk perhitungan
keadaan satelit GRACE saat terbang dan telemetry processing.

Gambar 6 : Tampilan dalam, atas, dan bawah peralatan satelit GRACE


(sumber : http://www.csr.utexas.edu/grace/ )

Selain GRACE, terdapat pula misi satelit lain yang bertugas mengamati
medan gaya berat bumi, yaitu CHAMP dan GOCE. Meskipun demikian, kedua misi
satelit tersebut tidak berdedikasi untuk memantau variasi temporal geoid,
melainkan untuk menentukan geoid yang sifatnya statik.

9
Gambar 7 : Model gaya berat bumi yang dibuat dengan data dari GRACE
Pusat Riset Ruang Angkasa dan NASA University of Texas

2.3 GRACE-FO (Gravity Recovery and Climate Experiment Follow-on)


GRACE-FO (Gravity Recovery and Climate Experiment Follow-on)
merupakan penerus misi GRACE sebelumnya. GRACE-FO diluncurkan pada 22
Mei 2018 di California. Misi GRACE-FO sendiri merupakan kemitraan antara
NASA dan German Research Center for Geoscience (GFZ). GRACE-FO akan
melanjutkan pendahulunya yang sukses menjalankan misinya sembari menguji
teknologi baru yang dirancang secara dramatis untuk meningkatkan presisi sistem
pengukuran yang ada.
Misi GRACE dan GRACE-FO adalah untuk mengukur variasi gravitasi di
permukaan Bumi, menghasilkan peta baru medan gravitasi setiap 30 hari. Jadi,
GRACE dan GRACE-FO menunjukkan bagaimana gravitasi planet tidak hanya
berbeda dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi juga dari satu periode waktu ke periode
lainnya. (NASA, akses 27 April 2019)

10
Gambar 8 : Satelit GRACE-FO
(Sumber : https://www.nasa.gov/missions/grace-fo)

2.4 CHAMP (Challenging Minisatellite Payload)


CHAMP (Challenging Minisatellite Payload) diluncurkan pada tahun 2000.
Satelit tersebut merupakan misi pertama tracking yang mengkombinasi secara
global dan berkelanjutan, sebuah satelit dengan GPS dan pengukuran terhadap
keseluruhan gaya non gravitasi yang terjadi pada satelit dengan akselerometri
presisi. Namun, keterbatasan intrinsik dari satelit gravimetri tetap menjadi
pelemahan eksponensial kekuatan medan dengan ketinggian tertentu, seperti halnya
yang dijelaskan pada hukum newton mengenai gravitasi. Keterbatasan tersebut
menunjukkan bahwa peningkatan resolusi pada data produk memerlukan lintasan
orbit yang dekat dengan Bumi, itulah mengapa CHAMP berada di ketinggian
berkisar 400 km. Pada lintasan terbang yang lebih dekat pun, gesekan atmosfir
dapat menghambat satelit yang dapat berimplikasi pada jatuh dan hancurnya satelit
ke Bumi dalam jangka waktu mingguan hingga bulanan apabila tersebut tidak
diatasi (Bouman, 2013).

11
Gambar 9 : Satelit CHAMP
(Sumber : https://www.gfz-
potsdam.de/en/section/geomagnetism/infrastructure/champ)
CHAMP mengakhiri masa operasinya pada 19 September 2010. Selama
misinya, CHAMP sudah menghasilkan pengukuran gravitasi dan medan magnet
secara simultan yang presisi untuk pertama kalinya. Pengukuran ini memungkinkan
para ilmuwan untuk mendeteksi variasi spesial dari kedua bidang serta variabilitas
mereka terhadap waktu. Misi CHAMP adalah 1) membuaka era baru dalam
penelitian geopotensial, 2) Pemetaan medan gravitasi gelombang panjang dan
menengah global serta variasi temporal, 3) Pemetaan medan magnet global serta
variasi temporal, 4) Sounding pada atmosfer/ionosfer. Oleh karena itu, data
CHAMP dapat diaplikasikan pada studi iklim global, oseanografi, perkiraan cuaca,
penelitian bencana, navigasi, geofisika, geodesi, dan fisika terestrial tata surya
(GFZ-Postdam, akses 27 April 2019)
Satelit ini dirancang dan dibangun atas nama GFZ oleh Daimler Chrysler
Aerospace Jena Optronics GmBH (DJO), bekerja sama dengan Dornier
Satelitensystem GmBH (sebelumnya DSS, sekarang Astrium) serta Space and
Enviromental Technology GmBH (RST). (GFZ-Postdam, akses 27 April 2019)
Data turunan CHAMP berfungsi sebagai dasar yang ideal untuk
penyempurnaan lebih lanjut metode survei satelit modern. Data-data tersebut juga
dapat dimanfaatkan dalam aplikasi penginderaan jauh dan kartografi, seperti dalam
pembangunan model medan digital yang mencakup wilayah daratan dan es yang

12
luas. Evaluasi ketiga jenis sinyal diamati oleh CHAMP memungkinkan permodelan
struktur dan dinamika inti serta mantel Bumi yang lengkap dan terintegrasi.
Peningkatan tersebut dapat berimplikasi positif terhadap peningkatan studi
mengenai struktur dan komposisi interior Bumi serta akan membuka aplikasi baru
dalam geodesi, fisika bumi yang solid dan oseanografi. (GFZ-Postdam, akses 27
April 2019)

Gambar 10 : Model gaya berat bumi yang dibuat dengan data dari CHAMP
(Sumber : https://www.gfz-
potsdam.de/en/section/geomagnetism/infrastructure/champ)

2.4.1 Sistem Satelit


Satelit CHAMP terdiri dari badan utama yang kuat dan dua panel surya tetap.
Desain utama terdiri dari lapisan panel alumunium dengan lapisan busa Kapton
tambahan pada panel luar. Bentuk luar dari satelit didesain berdasarkan
aerodinamika rudal, persyaratan fisik untuk penempatan instrumen dan subsistem,
serta karakteristik struktural peluncur.
Dua panel surya dipasang simetris ke panel peralatan dengan dua panel surya
tambahan di atas satelit. Bagian belakang dan depan badan satelit masing-masing
ditutupi dengan lapisan panel. Dibagian belakang dipasang antena okultasi GPS. Di

13
bagian depan, digital ion driftmeter (DIDM) dipasang dengan plat alumunium
konduktif untuk menghindari muatan listrik dalam plasma ambien. Antena S-band
Nadir dipasang pada boom pendek di area kompartemen depan, sedangkan antena
S-band Zenith terpasang pada struktur pendukung belakang. Persyaratan daya
untuk peralatan, serta sifat orbit, memerlukan area panel surya 7 m2 di bagian badan
utama satelit. Baterai nikel-hidrogen (NiH 2) menyangga catu daya yang sesuai
selama fase bayangan. (GFZ-Postdam, akses 27 April 2019)

Gambar 11 : Tampak Atas CHAMP

14
(Sumber : https://www.gfz-
potsdam.de/en/section/geomagnetism/infrastructure/champ)
2.4.2 Data Teknis Satelit
Adapun data teknis satelit CHAMP adalah sebagai berikut :
1) Massa total : 522 kg ( pada permulaan )
2) Tinggi : 750 mm
3) Panjang : (dengan panjang boom 4044 mm); 8333 mm
4) Lebar : 1621 mm
5) Rasio area aliran ke massa : 0,00138 m2/kg
Agar pengukuran medan magnet tidak terganggu oleh magnetik satelit,
magnetometer harus dipasang pada jarak tertentu ke satelit. Hal tersebut dilakukan
dengan memasang boom lipat ke depan satelit. Panjang boom ini sekitar 4 m. Hal
tersebut dilakukan untuk memastikan medan magnet yang mempengaruhi
manetometer Overhauser kurang dari 0,5 Nt. (GFZ-Postdam, akses 27 April 2019)

Gambar 12 : Tampak Bawah CHAMP


(Sumber : https://www.gfz-
potsdam.de/en/section/geomagnetism/infrastructure/champ)

15
2.4.3 Data Teknis Layar Satelit
Adapun data teknis layar pada satelit CHAMP adalah sebagai berikut,
1) Panjang : 4044 mm
2) Tinggi : 224 mm
3) Lebar : 224 mm
4) Massa : 20 kg
Boom terdiri dari 3 segmen : magnetometer Overhauser yang dipasang di
bagian luar, bangku optik yang dipasang di bagian tengah dengan dua sensor
bintang serta dua magnetometer fluxgate. Sedangkan pada bagian dalam dipasang
sambungan berengsel.
Akselometer di tempatkan di bagian tengah struktur utama atau bagian pusat
gravitasi. Pada sistem sekelilingnya, dua tangki gas nitrogen diposisikan
sedemikian rupa sehingga akselometer tepat pada pusat gravitasi satelit dengan
akurasi maksimum 2 mm. Laser reflekto-retro dipasang langsung di bawah pusat
gravitasi, Nosel kontrol posisi gas dingin selalu dipasang berpasangan untuk ketiga
arah spasial, sehingga satelit hanya berputar saat diaktifkan tetapi hampir tidak
berakselerasi. (GFZ-Postdam, akses 27 April 2019)

16
DAFTAR PUSTAKA

Bouman, J dkk. 2013. “More than 50 Years of Progress in Satellite Gravimetry”.


Jurnal Ilmiah: Eos, Vol. 94, No.31

http://www.csr.utexas.edu/grace/science/ (Akses 27 April 2019)

https://earth.esa.int/web/guest/missions/esa-operational-eo-missions/goce (Akses
26 April 2019)

https://www.nasa.gov/missions/grace-fo/ (Akses 27 April 2019)

https://www.gfz-postdam.de// (Akses 27 April 2019)

https://geodesy.gd.itb.ac.id/2007/01/16/satelit-gravimatri/

17