Anda di halaman 1dari 11

St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ...

| 107

PENETAPAN HUKUM BAGI PELAKU DOSA BESAR, IMAN


DAN KUFUR DALAM ALIRAN TEOLOGI

St. Jamilah Amin

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Parepare


Email: amin_jamilah76@yahoo.co.id

Abstract: This Article discusses how the legal determination commit major sins in the
study of Islamic theology, is still said to be a believer or an infidel. The three principal
problems is a major issue in this article. Even very surprisingly, the issue first appeared
and debate is not a matter of theology, but political problems at the start with the death of
the caliph Utsman ibn Affan to the three who were later replaced by the Caliph Ali ibn
Abi Talib became Caliph to four. In the reign of Ali ibn Abi Talib these political
upheavals began to appear. At the start the challenge and rebellion of the companions of
the Prophet himself that Talha and Zubair with the Prophet's wife, Aisha ra., Who refused
Ali as caliph, Ali ibn abi Talib but can cripple the pemberontaka. Then the uprising
Mu'awiya ibn abi Sufyan ended with the Siffin war , then do tahkim (arbitration) that led
to the outbreak of Muslims into three groups at the time , namely Ali ibn abi Talib group,
Mu'awiyah groups and groups Khawarij. Of events tahkim (arbitration) then this is a
debate about the commit major sins, faith and kufr.

Kata Kunci: Pelaku dosa besar. Iman dan Kufur

I. PENDAHULUAN pengertian membenarkan (tasdiq), dan


iman dalam pengertian amal atau ber-
Perkataan dosa besar berasal dari
iltizam dengan amal.1
bahasa Sangsakerta, yang dalam bahasa
Term-term kufur disebut sebanyak
Arabnya disebut az-zanbu, al-ismu atau
525 kali dalam al-Qur’an,2 istilah kufur
al-jurmu. Yang menurut istilah para
tidak saja membentuk lingkaran poros
fuqaha, dosa adalah akibat tidak melak-
yang memuat semua sifat negatif, tetapi
sanakan perintah Allah Swt yang hukum-
juga menempati tempat yang sangat
nya wajib, dan mengerjakan larangan
penting pada seluruh sistem etika al-
Allah yang hukumnya haram. Para fuqaha
Qur’an, sehingga pemahaman terhadap
sepakat bahwa dosa besar adalah dosa
bagaimana kata kufur terstruktur secara
yang pelakunya diancam dengan hukuman
semantik hampir-hampir sebagai prasyarat
dunia, azab di akhirat dan dilaknat oleh
bagi sebuah penilaian yang tepat terhadap
Allah Swt dan Rasulullah Saw.
sebahagian besar sifat positif.3 Bahkan
Kata iman merupakan bentuk kata
kelahiran aliran teologi berawalal dari
yang tidak harus ditafsirkan kecuali sesuai
perdebatan konotasi kafir secara aplikatif,4
dengan penafsiran yang dikehendaki oleh
sehingga peranan yang dimainkan konsep
Allah dan rasul-Nya. Apabila diperhatikan
kufur sangat berpengaruh terhadap seluruh
penggunaan kata iman dalam al-Qur’an,
aspek perbuatan atau sifat manusia. Untuk
maka akan di dapati kata iman dalam dua
itu konsep tentang keimanan atau keper-
pengerian dasar, yaitu; iman dalam
cayaan sebagai nilai etika religius ter-
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 108

tinggi dalam Islam, sangat efektif Persoalan yang pertama muncul


dianalisis melalui pengertian kufur atau dalam teologi Islam adalah masalah iman
dari segi negatif. dan kufur, persoalan ini dimunculkan
Teologi membahas ajaran dasar pertama kali oleh kaum Khawarij yang
agama. Teologi Islam bukan hanya menganggap kafir sejumlah tokoh sahabat
membahas soal ketuhanan saja, tetapi juga nabi Muhammad Saw., yang dipandang
membahas soal iman dan kufur; siapa telah berbuat dosa besar. Mereka tidak
yang sebenarnya kafir dan telah keluar menerima kebijaksanaan Ali bin Abi
dari Islam. Iman dan kufur adalah masalah Thalib yang menerima tahkim (Arbitrase)
iman dengan pengertian amal (ber- sebagai penyelesaian persengketaan khila-
iltizam),5 hal tersebut merupakan per- fah dengan Mu’awiyah ibn Abi Sofyan.
soalan mendasar yang dibahas di dalam Pada mulanya kaum Khawarij adalah
aliran pemikiran Islam.6 Para Mutakalli- pendukung setia Ali bin Abi Thalib, akan
min memberikan pengertian yang tetapi kemudian mereka keluar dan
mempunyai persamaan dan perbedaan membentuk golongan tersendiri yang
mengenai iman dan kufur. Tentang menentang Ali, Mu’awiyah dan orang-
persamaan dan perbedaan tentang iman orang yang terlibat dalam penerimaan dan
dan kufur dapat di lihat dalam pendapat pelaksanaan tahkim itu. Mereka meman-
lima aliran kalam yaitu: Khawarij, dang bahwa Ali, Mu’awiyah, Amr bin
Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ary dan Ash, Abu Musa al-Asy’ary dan lain-lain,
Maturidi. yang menerima tahkim (arbitrase) di nilai
Kekalahan politik Ali bin Abi kafir. Sebagaimana firman Allah QS. Al-
Thalib dalam perang Shiffin merupakan Maaidah (5):44
awal munculnya aliran-aliran teologi
Islam. Sejarah menyebutkan bahwa pada
mulanya aliran-aliran tersebut lahir di
        
latar belakangi oleh masalah politik, baik
secara langsung maupun tidak langsung. 7  
Tentunya agak aneh kalau dikatakan
bahwa dalam Islam (sebagai suatu Terjemahnya:
agama), persoalan yang pertama-tama ‘Barang siapa yang tidak memutuskan
timbul adalah dalam bidang politik dan menurut apa yang diturunkan Allah,
bukan dalam bidang teologi. Akan tetapi, maka mereka itu adalah orang-orang
persoalan politik ini segera meningkat yang kafir’9
menjadi persoalan teologi.8 Sedangkan Dari ayat inilah kaum Khawarij
kufur berarti keluar dan menyimpang dari mengambil semboyang “La hukma Illa li
landasan iman. Argumentasi yang Allah”. Kemudian persoalan politik
menguatkan hal tersebut karena seseorang sebagaimana tergambar di atas, akhirnya
melihat dali-dalil tauhid, lalu men- membawa kepada timbulnya persoalan
dorongnya untuk beriman kepada Allah, teologi seperti siapa yang kafir dan siapa
namun tetap berbuat kebathilan dan yang bukan kafir.
kekufuran, seolah-olah tidak memper- Berdasarkan uraian di atas, maka
hatikan dalil tersebut. Nampaknya dapat yang menjadi fokus dalam tulisan ini
disimpulkan bahwa iman itu mempunyai adalah: 1) Bagaimana sejarah ringkas
tiga unsur, yaitu: tasdiq bi al-qalb, ikrar timbulnya konsep iman dan kafir? 2)
bi al-lisan, dan amal bi al-arkan. Bagaimana penetapan hukum pelaku dosa
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 109

besar, iman dan kufur dalam pemikiran hanyalah sebagai gubernur daerah
aliran teologi? yang tidak mau tunduk kepada Ali
II. PEMBAHASAN sebagai khalifah. Dengan adanya
arbitrase ini kedudukannya telah naik
A. Sejarah Ringkas Timbulnya menjadi khalifah yang tidak resmi,
Konsep Iman dan Kufur tidak mengherankan kalau keputusan
Perbincangan tentang iman dan tersebut ditolak oleh Ali dan tidak
kufur ini muncul pada masa pemerin- mau meletakkan jabatannya, sampai
tahan Ali bin Abi AbdThalib. Wafat- mati terbunuh di tahun 661 M. 11
nya khalifah Utsman bin Affan men- Sikap Ali yang menerima tipu
jadikan Ali bin Abi Thalib sebagai muslihat Amr bin Ash untuk meng-
calon terkuat menjadi khalifah yang adakan arbitrase, walau dalam ke-
ke empat. Tetapi mendapat tantangan adaan terpaksa, tidak di terima oleh
dari beberapa sahabat nabi yang juga sebahagian tentaranya. Mereka meng-
ternyata berkeinginan menjadi khali- anggap Ali telah berbuat salah, oleh
fah, terutama Talhah dan Zubaer dari karena itu, mereka meninggalkan
Mekkah dan mendapat dukungan dari barisannya. Golongan mereka inilah
Aisyah ra, yang berakhir dengan per- dalam sejarah Islam terkenal dengan
tempuran yang dilakukan oleh ke dua nama Khawarij.12 Gambaran dari per-
sahabat Nabi tersebut beserta Aisyah soalan politik inilah yang akhirnya
ra. Pertempuran tersebut terjadi di Irak membawa kepada persoalan teologi.
tahun 656, dan dapat dipatahkan oleh Golongan Khawarij memandang
Ali dan pasukannya. Talhah dan bahwa Ali, Mu’awiyah Amr bin Ash
Zubaer mati terbunuh, sedangkan dan Abu Musa al-Asy’ary serta yang
Aisyah ra dikirim kembali ke Mekkah. menerima arbitrase itu adalah kafir,
Persoalan lain yang di hadapi mereka mesti di bunuh. Kemudian
oleh Ali bin Abi Thalib ketika menjadi persoalan tersebut meningkat menjadi
khalifah, adalah menghadapi pembe- masihkah mereka di sebut mukmin
rontakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. karena telah melakukan dosa besar.
Mu’awiyah adalah gubernur Damas- Kemudian persoalan tersebut melahir-
kus yang tidak setuju dengan pemerin- kan aliran-aliran baru dalam pemiki-
tahan Ali, pertempuran ini dikenal ran kalam disamping Khawarij.
dengan sebutan perang Shiffin 659 Aliran-aliran tersebut adalah Murjiah,
M.10 Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Maturidi-
Ketika pasukan Ali bin Abi yah.
Thalib hampir memenangkan pertem- B. Pelaku Dosa Besar, Iman dan
puran tersebut, tangan kanan Mu’awi- Kufur dalam Pemikiran Aliran
yah, Amr bin Ash yang terkenal Teologi
sebagai orang licik, meminta berdamai
1. Aliran Khawarij
dengan mengangkat al-Qur’an ke atas.
Qurra yang ada di pihak Ali men- Ciri yang menonjol dalam aliran
desak Ali supaya menerima tawaran Khawarij adalah watak ekstrimitas
itu, dengan demikian dilakukan per- dalam memutuskan persoalan-per-
damaian dengan mengadakan arbit- soalan kalam. Tidak mengherankan
rase. kalau aliran ini memiliki pandangan
Peristiwa tersebut jelas merugi- ekstim pula tentang pelaku dosa besar,
kan bagi Ali, dan menguntungkan bagi
dan penetapan siapa yang kafir dan
Mu’awiyah. Yang legal menjadi
beriman. Mereka memnandang bahwa
khalifah adalah Ali, sedangkan
Mu’awiyah kedudukannya tidak lebih orang-orang yang terlibat dalam
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 110

peristiwa tahkim terutama Ali, mengeluarkan orang yang tidak ikut


Mu’awiyah, Amr bin Ash dan Abu bertempur dari jajaran kaum musli-
Musa al-Asy’ary adalah kafir. Semua min. Sekalipun masih melaksanakan
pelaku dosa besar (mutab al-Kabilah), ajaran Islam. Mereka memperboleh-
menurut sekte-sekte Khawarij, kecuali kan membunuh anak-anak dan
an-Najdah adalah kafir dan akan perempuan. Mereka tidak mengakui
disiksa di neraka selamanya. Berikut hukuman rajam terhadap para pezina,
pandangan beberapa sekte dalam dengan alasan bahwa hukuman
aliran Khawarij tentang pelaku dosa tersebut tidak tercantum dalam al-
besar, iman dan kufur: Qur’an. Dan mereka membebaskan
hukuman cambuk dari orang yang
a. Al-Muhakkimah
menuduh lelaki berbuat zina, huku-
Golongan Khawarij asli dan awal- man tersebut hanya dikenakan kepada
nya adalah pengikut Ali bin Abi penuduh yang menuduh perempuan
Thalib, mereka beranggapan bahwa berbuat zina.16
semua orang yang menyetujui arbit- Pendapat mereka yang lain
rase pada perang Shiffin, bersalah dan adalah anak orang musyrik bersama
menjadi kafir. Selanjutnya hukum orang tuanya tempatnya di dalam
kafir ini mereka luaskan artinya Neraka. Allah boleh saja mengangkat
sehingga termasuk didalamnya orang seorang nabi yang Allah telah
yang berbuat dosa besar.13 mengetahuinya akan menjadi orang
Berbuat zina di pandang salah yang kafir sesudah diangkat menjadi
satu dosa besar, maka menurut paham nabi. Dosa besar dan dosa kecil
golongan ini orang yang mengerjakan sekalipun tampaknya mendatangkan
zina telah menjadi kafir dan keluar kebaikan terhitung perbuatan kufur.
dari Islam. Begitu pula membunuh Orang yang berpendapat dosa besar
sesama manusia tanpa sebab yang sah dan dosa kecil dapat berlaku pada diri
adalah dosa besar. Maka perbuatan para nabi termasuk orang kafir.17
membunuh manusia menjadikan si Inti dari ajaran al-Azariqah
pembunuh keluar dari Islam dan adalah orang yang melakukan dosa
menjadi kafir.14 besar atau salah satu dosa besar
b. Al-Azariqah hukumnya kafir, karenya di anggap
keluar dari agama Islam dan kekal
Paham mereka lebih ekstrim dalam Neraka bersama-sama orang
daripada paham sebelumnya, mereka kafir. Alasannya bahwa Iblis hanya
meninggalkan term kafir menuju sekali melakukan dosa besar, yakni
musyrik yang notabene dalam Islam ketika diperintahkan untuk sujud
lebih besar hukumnya daripada kafir. kepada Adam, dan Iblis enggan
Hukum musyrik mereka terapkan melakukannya.
kepada orang-orang yang tidak sepa-
ham dengannya, bahkan yang sepa- c. Al-Najdat
ham sekalipun tapi enggan untuk Pemahaman mereka di bangun
berhijrah ditempat mereka, dihukum dari asumsi bahwa kafir (yang tidak
dengan penghukuman yang sama. 15 sepaham dengan mereka) tempatnya
Mereka mengkafirkan setiap di neraka dan mereka kekal didalam-
orang yang tidak bertempur. Mereka nya. Sementara pengikut mereka yang
adalah kelompok pertama yang melakukan dosa besar betul akan
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 111

melalui penyiksaan dalam neraka f. Aliran Murjiah


tetapi akan keluar dari neraka dan Aliran ini muncul sebagai reaksi
akan ditempatkan kelak di surga. Dosa terhadap paham teologi Khawarij.
kecil yang dikerjakan secara terus Pendapat tentang pelaku dosa besar tetap
menerus akan menjadi dosa besar, dan di hukum mukmin yang penyelesaiannya
pelakunya layak dihukum musyrik. 18 di tunda pada hari kiamat. Jadi, tampak
Yang dimaksud dengan orang-orang bahwa pandangannya bertolak belakang
Islam di sini adalah pengikut-pengikut dengan Khawarij. Jika Khawarij mene-
Najdah, selain mereka adalah kafir. kankan pada persolan siapa di antara
Jika mereka mengerjakan sesuatu orang Islam yang menjadi kafir, maka
yang haram dan tidak mengetahui Murji’ah sebaliknya. Diskursus teologis
bahwa hal tersebut haram, maka mereka lebih terfokus pada masalah iman,
mereka dapat dimaafkan. yaitu siapa orang Islam yang masih
d. Al-Sufriah mukmin dan tidak keluar dari Islam.
Pada umumnya kaum Murji’ah di
Sekte ini berpendapat, tidak
bagi dalam dua golongan besar, golongan
boleh membunuh anak-anak kaum
moderat dan golongan ekstrim. Golongan
musyrik. Mereka membagi dosa besar
moderat berpendapat bahwa orang yang
pada dua bahagian, yaitu yang ada
berdosa besar bukanlah kafir dan tidak
sangsinya di dunia dan yang tidak
kekal dalam neraka, tetapi akan di hukum
tetapi nanti di akhirat. Dosa besar
dalam Neraka sesuai dengan besarnya
yang ada sanksinya di dunia ialah
dosa yang dilakukannya, dan kemungki-
membunuh dan berzina, sedangkan
nan Tuhan akan mengampuni dosanya,
meningglakan shalat atau puasa masuk
oleh karena itu tidak akan masuk Neraka
kategori ke dua, dan tidak di pandang
sama sekali.21
kafir. Persoalan kufur di bagi menjadi
Golongan ekstrim berpendapat
dua, yaitu kufr bi inkar al-ni’mah
bahwa orang Islam yang percaya pada
(memngingkari nikmat Tuhan) dan
Tuhan dan kemudian menyatakan
ingkar alrububiyah (Mengingkari
kekufurannya secara lisan tidaklah men-
Tuhan). Dengan demikian kafir tidak
jadi kafir, karena iman dan kufur
harus di asosiasikan dengan istilah
tempatnya hanya dalam hati. Bahkan tidak
keluar dari Islam.19
menjadikannya kafir, sungguhpun mereka
e. Al-Ibadah menyembah berhala, menjalankan ajaran-
Orang Islam yang tidak sepaham ajaran agama Yahudi atau agama Kristen,
dengan mereka tidak di hukum mukmin dengan menyembah salib, menyatakan
atau musyrik, tetapi kafir. Kepada yang percaya pada Trinitas, dan kemudian mati,
demikian bisa di bangun relasi, termasuk orang yang demikian bagi Allah tetap
perkawinan dan warisan, dan membunuh merupakan seorang mukmin yang
mereka adalah haram. Pelaku dosa besar sempurna imannya.22
di hukum muwahhid (meng-esa-kan Pendapat-pendapat ekstrim seperti
Tuhan) tetapi tidak layak di katakan di uraikan di atas timbul dari pengertian
mukmin, karenanya perbuatan dosa bahwa perbuatan atau amal tidaklah
besarnyapun tidak membuatnya keluar sepenting iman, yang kemudian mening-
dari Islam.20 Walaupun kafir hanya kat pada pengertian bahwa hanya imanlah
merupakan kafir al-ni’mah dan bukan yang penting dan yang menentukan
kafir al-millah, yaitu kafir agama. mukmin atau tidak mukminnya seseorang.
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 112

Perbuatan-perbuatan tidak mempunyai benar-benar mengetahui adanya Tuhan


pengaruh dalam hal ini. Iman letaknya melalui pembuktian akalnya. Oleh karena
dalam hati dan apa yang ada di dalam hati itu, iman bagi Mu’tazilah tidak sekedar
seseorang tidak diketahui manusia lain. menyatakan bahwa wahyu yang di bawa
Selanjutnya perbuatan-perbuatan manusia Rasul benar (tasdiq). Mayoritas kaum
tidak selamanya menggambarkan apa Mu’tazilah berpandangan bahwa iman itu
yang ada dalam hatinya. Oleh karena itu mencakup ketaatan lahir dan bathin
ucapan-ucapan yang perbuatan-perbuatan dengan mengerjakan semua yang wajib
seseorang tidak mesti mengandung arti dan sunnat.26 Sementara sebahagian kecil
bahwa seseorang tidak mempunyai iman. dari kaum Mu’tazilah berpandangan
Yang penting ialah iman yang ada di bahwa iman itu hanya terbatas pada
dalam hatinya. Dengan demikian ucapan- perbutan yang wajib-wajib saja. Posisi
ucapan dan perbuatan-perbuatan tidak amal menjadi sangat sentral dalam akidah
merusak iman seseorang. mereka. Sehubungan dengan itu kaum
Mu’tazilah tidak memandang pelaku dosa
g. Aliran Mu’tazilah
besar sebagai tetap mukmin, dalam arti
Munculnya aliran Mu’tazilah dalam iman menjauhi dosa besar.
kancah pemikiran teologi Islam juga Selanjutnya dalam pemikiran
berkaitan dengan status pelaku dosa besar, Mu’tazilah memandang iman adalah
apakah masih beriman atau telah menjadi ma’rifat yang dibarengi dengan amal
kafir. Yang membedakannya, Khawarij shaleh dalam bentuk melaksanakan semua
mengkafirkan pelaku dosa besar, Murji’ah perintah-Nya dan menjauhi semua
cenderung menunda dan diserahkan pada larangan-Nya. Amal bagi Mu’tazilah
yaumil hisab, Mu’tazilah tidak menen- merupakan syarat sahnya iman. Sementara
tukan status dan predikat yang pasti bagi kaum Murji’ah berpendapat bahwa iman
pelaku dosa besar apakah tetap mukmin itu hanyalah tasdiq bi al-lisan, sedangkan
atau telah kafir, mereka menyebut dalam amal tidak merupakan bagian dan bukan
paham mereka al-manzilah bain al- cabang dari iman. Oleh karena itu, dalam
manzilahtain.23 pandangan Murji’ah orang yang
Menurut Mu’tazilah, iman bukan mengucapkan syahadat saja, seperti orang
hanya tasdiq dalam arti menerima sebagai munafik, tanpa disertai amal sudah
suatu yang benar apa yang disampaikan sempurna imannya, atau ketika kaum
oleh orang lain. Akan tetapi, iman adalah Murji’ah telah mengucapkan syahadat,
pelaksanaan kewajiban-kewajiban kepada kemudian melakukan perzinahan, makan
Tiuhan. Dengan kata lain, orang yang babi dan melakukan dosa besar lainnya,
membenarkan (tasdiq) bahwa tidak ada mereka itu tetap mukmin, karena
Tuhan selain Allah dan Muhammad perbuatan tidak menyebabkan iman dan
adalah rasul-Nya, tetapi tidak melaksana- kekufuran seseorang dapat bertambah dan
kan kewajiban-kewajibannya, maka tidak berkurang.
dapat dikatakan mukmin.24 Tegasnya Dengan demikian, golongan
iman di sini tidak bermakna pasif yang Mu’tazilah tidak sependapat dengan
hanya menerima apa yang dikatakan Murji’ah yang menekankan iman kepada
orang lain, akan tetapi iman mesti aktif tasdiq. Akan tetapi, mereka sependapat
karena akal mampu mengetahui dengan Khawarij yang memandang amal
kewajiban-kewajibannya kepada Tuhan.25 berperan dalam menentukan mukmin atau
Akal dan iman bagi Mu’tazilah tidak kafirnya seseorang. Meskipun demikian,
dapat dipisahkan. Seorang mukmin harus mereka berbeda dalam menetapkan posisi
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 113

orang yang melakukan dosa besar, berpegang teguh pada sunnah sebagai
Khawarij menganggapnya kafir atau tidak antitesis dari ajaran Mu’tazilah.
lagi mukmin. Sedangkan bagi Mu’tazilah Selanjutnya pahamn Asy’ary yang
kafir ditujukan bagi orang-orang yang dikembangkan adalah perbuatan-per-
berhak menerima siksa berat di Neraka. buatan manusia, bagi Asy’ary bukan
Oleh karena itu, pelaku dosa besar diwujudkan oleh manusia itu sendiri,
tidaklah kafir, mereka tidak mendapat sebagaimana pendapat kaum Mu’tazilah,
siksa berat di Neraka. Namun, karena tetapi diciptakan oleh Tuhan. Perbuatan
bukan mukmin, juga tidak dapat kufur adalah buruk, tetapi orang kafir
dimasukkan ke Surga. Jadi tempatnya ingin supaya perbuatan kufur itu
adalah di Neraka atas dasar keadilan, sebenarnya bersifat baik. Apa yang
tetapi di dalam Neraka yang siksaannya dikehendaki orang kafir itu tidak dapat
lebih ringan. diwujudkannya. Perbuatan iman bersifat
baik, tetapi berat dan sulit. Orang mukmin
h. Aliran Ahlu Sunnah wal Jama’ah
ingin supaya perbuatan iman itu janganlah
Term Ahlu Sunnah wal Jama’ah berat dan sulit, tetapi apa yang dikehen-
timbul sebagai reaksi terhadap faham dakinya itu tidak dapat diwujudkannya.28
golongan Mu’tazilah seperti telah di- Dengan demikian yang mewujudkan
uraikan sebelumnya. Aliran ini di bawah perbuatan kufur itu bukanlah orang kafir
oleh Abu Hasan al-Asy’ary27 yang pada yang tidak sanggup membuat kufur
mulanya adalah penganut paham bersifat baik, tetapi Tuhanlah yang
Mu’tazilah. Kemudian berbalik menen- mewujudkannya dan Tuhan memang
tang ajaran Mu’tazilah karena memandang berkehendak supaya kufur bersifat buruk.
ajaran teologi Mu’tazilah tidak sejalan Asy’aryah berpendapat bahwa akal
dengan karakteristik dan intelektuan manusia tidak bisa merupakan ma’rifah
mayoritas umat Islam pada saat itu. Oleh dan amal. Manusia dapat mengetahui
karena itu, dalam masalah iman dan kufur, kewajiban hanya melalui wahyu bahwa
Asy’ary sangat berbeda secara diametal manusia berkewajiban mengetahui Tuhan
dengan Mu’tazilah. dab manusia harus menerimanya sebagai
Di samping itu, kaum Mu’tazilah suatu kebenaran. Oleh karena itu, iman
tidak begitu banyak berpegang pada bagi mereka adalah tasdiq.29 Pendapat Ini
sunnah atau tradisi, bukan disebabkan berbeda dengan kaum Khawarij dan
karena kaum Mu’tazilah tidak percaya Mu’tazilah, tetapi dekat dengan kaum
pada tradisi nabi dan para sahabat, akan Jabariyah. Tasdiq menurut Asy’aryah di
tetapi mereka ragu akan keaslian hadis- batasi pada Tuhan dan apa yang di bawha
hadis yang mengandung sunnah atau oleh Rasul-Nya. Tasdiq merupakan
tradisi. Sehingga mereka dimasukkan pengakuan dalam hati yang mengandung
pada golongan yang tidak berprgang teguh ma’rifah Allah.30
pada sunnah. Sehingga kaum Mu’tazilah Adapun ajaran al-Manzilah baina
selain sebagai golongan yang minoritas, al-Manzilahtain di tolak oleh al-Asy’ary.
juga merupakan golongan yang tidak Bagi al-Asy’ary orang yang berdosa besar
berpegang teguh pada sunnah. Kaum tetap mukmin, karena imannya masih ada,
Mu’tazilah juga sangat mengangungkan tetapi karena dosa besar yang dilakukan-
akal pikiran atau rasionalitas manusia. nya menjadikannya fasiq. Sekiranya orang
Sehingga hal tersebut yang mungkin yang berdosa besar bukanlah mukmin
menyebabkan lahirnya term Ahlu Sunnah bukan pula kafir, maka dalam dirinya
wal Jama’ah, yaitu golongan yang akan tidak di dapati kufur atau iman;
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 114

dengan demikian bukan atheis dan bukan yang duduk di atas ‘arasy. Kedua: kafir
pula monotheis. Tidak mungkin bahwa fi’li, seperti melemparkan al-Qur’an
orang yang berdosa besar bukan mukmin kedalam kotoran. Ketiga: kafir qauli,
dan bukan pula kafir.31 seperti menyerupakan Allah dengan
Berbeda dengan tokoh lain dari makhluk-Nya, baik zat, sifat, maupun
Ahlu Sunnah wal Jama’ah yakni al- perbuatan.34
Baqilani, Al-Baqilani membedakan antara Termasuk juga dalam golongan ini
iman dan Islam dengan mengatakan adalah orang-orang yang mendustakan isi
bahwa setiap mukmin adalah muslim kandungan al-Qur’an, atau ajaran nabi
tetapi tidak setiap muslim berarti Muhammad, seperti mengatakan Surga
mukmin.32 Sebagaimana firman Allah QS. dan Neraka itu lenyap, surga bukan
Al-Hujurat (49): 14: kesenangan jasmaniah dan Neraka adalah
siksaan ma’nawiyah atau abstrak.
        Demikian juga orang yang mengingkari
kebangkitan jasad dan roh di akhirat,
        mengingkari kewajiban shalat, puasa dan
zakat, mengharamkan talak dan meng-
        halalkan khamar. Kafir yang paling berat
adalah orang yang mengingkari Allah.
       Pembagian kafir di atas menunjukkan
bahwa dalam konsep iman yang
Terjemahnya: dikemukakan al-Baqilani, amal tetap
Orang-orang Badui itu berkata: dipentingkan sebab menurutnya perbua-
“kami telah beriman’, katakanlah tan dapat membawa kepada kekafiran.
(kepada mereka): “kamu belum Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa
beriman” tetapi katakanlah “kami amal tidak lepas dari iman. Dan orang
telah tunduk” , karena iman itu belum yang termasuk dalam ketiga macam kafir
masuk kedalam hatimu, dan jika tersebut di atas adalah orang-orang yang
kamu taat kepada Allah dan rasul- sia-sia kebaikannya.
Nya, Dia tidak akan mengurangi Senada dengan pendapat al-Asy’ary,
sedikitpun (pahala) amalanmu,
al-Maturidi (tokoh lain dari Ahlu Sunnah
sesungguhnya Allah Maha pengam-
pun lagi Maha penyayang’.33 wal Jama’ah) juga menolak paham
Mu’tazilah tentang dosa besar. Al-
Iman adalah manifestasi dari Islam.
Maturidi berpendapat bahwa orang yang
Sebagaimana telah diisyaratkan pada ayat
berdosa besar masih tetap mukmin, dan
tersebutAllah tidak memandang orang-
soal dosa besarnya akan ditentukan Tuhan
orang Badui beriman, meskipun mereka
kelak di akhirat. Al-Maturidi juga
telah mengaku beriman, padahal sesung-
menolak ajaran al-Manzilah baina al-
guhnya mereka baru Islam.
Manzilahtain.35
Al-Baqilani menjelaskan pembagian
Sesungguhnya orang Mukmin tidak
iman dan kafir dengan membagi kafir
akan kekal di Neraka. Akan tetapi, mereka
kepada tiga macam, pertama:kafir
berbeda pendapat mengenai siapa orang
I’tiqadi, kafir semacam itu tempatnya
mukmin yang tidak akan kekal di Neraka.
dihati. Seperti meniadakan sifat-sifat
Khawarij menganggap orang yang ber-
Allah, dan orang yang berkeyakinan
dosa besar dan dosa kecil sebagai orang
bahwa Allah itu nur dalam pengertian
kafir. Dalam pandangan mereka, tidak di
cahaya atau sinar, atau roh, atau Jism,
akui muslim maupun mukmin. Mu’tazilah
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 115

mengatakan bahwa pelaku dosa besar kafir, padahal mereka beriman, niscaya
tidak di akui sebagai seorang mukmin, hukumannya itu melebihi kadar dosanya.
sekalipun masih di akui sebagai seorang
III. PENUTUP
muslim. Hanya saja, akan kekal dalam
Neraka selama belum bertaubat dengan Berdasarkan pemaparan sebelum-
taubat yang sebenarnya, dan siksanya nya, maka dapat disimpulkan bahwa;
lebih ringan dibandingkan dengan siksa
1. Sejarah penetapan hukum pelaku dosa
orang yang tidak beriman kepada Allah
besar dan timbulnya konsep iman dan
dan Rasu-Nya.
kufur di awali dari pertentangan politik
Kelihatannya, kaum Khawarij dan
antara Ali bin abi Thalib dengan
Mu’tazilah memasukkan amal sebagai
Muáwiyah bin abi Sufyan, kemudian
salah satu komponen iman. Sedangkan
berakhir dengan peristiwa tahkim, yang
Asy’aryah dan Maturidiyah tidak meng-
menyebabkan pecahnya 3 kelompok
anggap amal sebagai salah satu kom-
pada saat itu. Berawal dari peristiwa
ponennya. Oleh karena itu, orang yang
tersebut mulailah dibicarakan pelaku
melakukan tidak keluar dari iman, sekali-
dosa besar dan hukum yang mengenai
pun amalnya tetap dihisab dan tetap akan
mereka apakah masih beriman ataukah
mendapat siksa, dan Allah dapat saja
telah kufur.
memberikan Syafaat kepadanya.36 Hal
2. Pandangan aliran teologi terhadap
inilah yang menyebabkan al-Maturidi
pelaku dosa besar iman dan kufur dapat
berpendapat bahwa pelaku dosa besar
dilihat pada; Khawarij memandang
tidak kekal di Neraka, sekalipun
bahwa orang mukmin yang melakukan
meninggal dunia tanpa bertaubat. Firman
dosa besar padanya dihukum kafir,
Allah QS. Al-An’am (6):160
kaum Murjiah cenderung menunda
hukum yang mengenai orang mukmin
         yang melakukan dosa besar tersebut
pada hari perhitungan, bagi mereka
        perbuatan seseorang tidak menyebab-
kan iman dan kekafiran seseorang
Terjemahnya:
‘Barangsiapa membawa amal yang bertambah dan berkurang. Kelompok
baik, Maka baginya (pahala) sepuluh Mu’tazilah menempatkan orang
kali lipat amalnya; dan Barangsiapa mukmin yang melakukan dosa besar
yang membawa perbuatan jahat Maka berada diantara dua tempat atau al-
Dia tidak diberi pembalasan melainkan manzilah baina al-Manzilahtain.
seimbang dengan kejahatannya, sedang Sementara pada kelompok Ahlu
mereka sedikitpun tidak dianiaya Sunnah wal Jamaán terpecah menjadi
(dirugikan)’.37 dua kelompok yaitu kelompok Asy’ary
Ayat di atas menjelaskan bahwa dan kelompok Maturidiyah yang
orang yang tidak mengingkari Allah dan pemikirannya merupakan anti thesis
tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, dari pemikiran kaum Mu’tazilah.
dosanya berada di bawah dosa orang kafir
dan orang musyrik. Allah telah menetap- Catatan Akhir:
kan kekekalan dalam neraka sebagai 1
Hasan Hanafi. Min al-‘Aqidah ilaas-Saurah
siksaan bagi kemusyrikan dan kekufuran. (terj) (ttp: Maktabah al-Madbulah, tth), h. 11
Maka sekiranya pelaku dosa besar disiksa 2
Harifuddin Cawidu. Konsep Kufr dalam al-
sebagai mana siksaan terhadap orang Qur’an, Suatu Kajian Teologis dengan Pendekatan
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 116

Tafsir Tematik (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), h. Khawarij ekstrim dan radikal, sungguhpun sebagai
30 golongan telah hilang dalam sejarah, ajaran-ajaran
3 ekstrim golongan tersebut masih mempunyai
Toshihiko Izutsu. Relasi Tuhan dan Mnusia,
pengaruh, walaupun tidak banyak, dalam
Pendekatan Semantik terhadap al-Qur’an, Terj.
masyarakat Islam sekarang. Harun Nasution.
(Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997), h. 143
op.cit., h, 15-16
4
Pertentangan mendasar terhadap seorang 19
Muhammad Amri. op.cit., h. 12-13
melakukan dosa besar apakah sebagai mukmin
20
atau masuk dalam kategori kafir menjadi Ibid., h. 13
perdebatan awal munculnya aliran-aliran teologi. 21
Khawarij menganggap kafir, Asy’ary mukmin Harun Nasution. op.cit, h. 25
fasiq, Murji’ah tetap mukmin, sementara golongan 22
Ibid., h. 26
Mu’tazilah mengambil posisi tengah antara 23
mukmin dan kafir. ‘Abd al-Karim-al-Shahrastani. Al-Manzilah Baina al-Manziahtain adalah
al-Milal wa al-Nihal, Terj (Beirut: Dar al-Fikr, salah satu paham dalam al-Ushul al-Khamzah
1979), h. 114-117 yang dikembangkan Mu’tazilah yang
menempatkan posisi menengah bagi pelaku dosa
5
Abdurrahman Abdul Khalid. Garis Pemisah besar, yang juga erat hubungannya dengan paham
Antara Kufur dan Iman (Jakarta: Bumi Aksara, keadilan yang dikembangkan oleh aliran ini.
1996), h. 1 Pelaku dosa besar bukanlah kafir, karena masih
6
Harun Nasution. Teology Islam: Aliran- percaya kepada Tuhan dan nabi Muhammad; tetapi
aliran Sejarah Analisis Perbandingan (Jakarta: UI bukan pula mukmin, karena imannya tidak lagi
Press, 1986), h. 1 sempurna oleh karena itu posisinya berada diantara
dua tempat, yakni antara kafir dan mukmin,
7
A. Rahman Ritonga. Perbandingan antara mereka menamainya dengan sebutan fasik. Lihat
Aliran: Iman dan Kufur dalam Sejarah Pemikirn juga, Murtada Mutahhari. Introduction to Kalam.
dalam Islam (Jakarta: Pustaka Antara, 1996), h. Diterjemahkan oleh Ilyas Hasan dengan Judul
105 Mengenal Ilmu Kalam (Jakarta: Pustaka Zahra,
8 2002), h. 35
Bahkan pada gilirannya persoalan teologi ini
24
lebih ramai dibicarakan dibanding persoalan Ahmad Amin. Duha al-Islam. (Cet. VIII;
politik. Harun Nasution. op. cit., h. 1 Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, tth), h.
9 318
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan
25
Terjemahnya (Semarang: Toha Putera, 1995), h. Harun Nasution. op.cit., h. 147
167 26
Ilhamuddin. Pemikiran Kalam al-Baqilani:
10
Harun Nasution. op.cit., h. 5 Studi tentang Persamaan dan Perbedaannya
11 dengan al-Asy”ary. (Cet. I; Yogyakarta: Tiara
Ibid.
Wacana Yogya, 1997), h. 126-127
12
Nama Khawarij berasal dari kata Kharaja 27
Asy’ary pada mulanya adalah pengikut setia
yang berarti keluar. Nama ini di berikan kepada
aliran Mu’tazilah, kemudian meninggalkan aliran
mereka, karena mereka keluar dari barisan Ali.
Mu’tazilah pada fase kemunduran, ketika
Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa
golongan Mu’tazilah berada dalam fase
pemberian nama itu didasarkan atas ayat 100 dari
kemunduran dan kelemahan. Setelah al-
surah an-Nisa. Selanjutnya mereka menyebut diri
Mutawakkil membatalkan putusan al-Makmun
mereka Syurah, yang berasal dari kata yasri
tentang penerimaan aliran Mu’tazilah sebagai
(menjual), sebagai mana disebut dalam QS al-
mazhab negara, kedudukan kaum Mu’tazilah mulai
Baqarah ayat 207. Ibid., h. 11.
menurun, apalagi setelah al-Mutawakkil
13
Aswadie Syukur. Al-Milal wa al-Nihal: menunjukkan sikap penghargaan dan
Aliran-aliran Teologi dalamSejarah Umat Islam penghormatan terhadap diri ibn Hambal, lawan
(terj). (Surabaya: Bina Ilmu, tth), h. 104 terbesar Mu’tazilah ketika itu. Harun Nasution.
14 op.cit., h. 68
Harun Nasution. op.cit., h. 14
28
15 Ibid., h. 70
Muhammad Amri. Khazanah Pemikiran
29
Ilmu Kalam. (Cet. I; Solo: Zadahaniva, 2011), h. 9 Ibid., h. 147-148
16 30
Aswadie Syukur. op.cit., h. 107 Jalal Muhammad Musa. Nasy’ah al-
17 Asy’ariy (Kairo: Dar al-Kitab, tth), h. 248
Ibid., h. 108
31
18 Harun Nasution. op.cit., h. 71
Golongan al-Ibadah ini masih ada samapai
32
sekarang dan terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, Al-Qadi Abu Bakar Muhammad ibn al-
Umman dan Arabia Selatan. Adapun golongan Tayyib al-Baqilani. Kitab Tamhid al-Awal wa
St. Jamilah Amin, Penetapan Hukum Bagi Pelaku Dosa ... | 117

Talkhis al-Dalail. (Bairut: Muassasat al-Kutub al- Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan
Tsaqafiyyat, 1987), h. 10 Terjemahnya. Semarang: Toha
33
Departemen Agama RI. op.cit., h. 848 Putera, 1995.
34
Ibid., h. 393 Hanafi, Hasan. Min al-‘Aqidah ilaas-
35
Harun Nasution. op.cit., h. 77 Saurah (terj). ttp: Maktabah al-
36
Imam Muhammad Abu Zahrah. Tarikh al- Madbulah, tth.
Madzahib al-Islamiyah. Diterjemahkan oleh Abd. Ilhamuddin. Pemikiran Kalam al-
Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib dengan Judul
Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam. (Jakarta:
Baqilani: Studi tentang Persamaan
Logos, 1996), h. 221 dan Perbedaannya dengan al-
3 Asy”ary. Cet. I; Yogyakarta: Tiara
7Departemenen Agama RI. op.cit., h. 216
Wacana Yogya, 1997.
DAFTAR PUSTAKA Izutsu, Toshihiko. Relasi Tuhan dan
Mnusia, Pendekatan Semantik
Abdul Khalid, Abdurrahman. Garis
terhadap al-Qur’an., (Terj).
Pemisah Antara Kufur dan Iman.
Yogyakarta: Tiara Wacana, 1997
Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Musa, Jalal Muhammad. Nasy’ah al-
Abu Zahrah, Imam Muhammad. Tarikh
Asy’ariy. Kairo: Dar al-Kitab, tth.
al-Madzahib al-Islamiyah.
Diterjemahkan oleh Abd. Rahman Mutahhari, Murtada. Introduction to
Dahlan dan Ahmad Qarib dengan Kalam. Diterjemahkan oleh Ilyas
Judul. Aliran Politik dan Aqidah Hasan dengan Judul Mengenal Ilmu
dalam Islam. Jakarta: Logos, 1996. Kalam. Jakarta: Pustaka Zahra,
2002.
Amin, Ahmad. Duha al-Islam. Cet. VIII;
Kairo: Maktabah al-Nahdah al- Nasution, Harun. Teology Islam: Aliran-
Misriyyah, tth. aliran Sejarah Analisis Perban-
dingan. Jakarta: UI Press, 1986.
Amri, Muhammad. Khazanah Pemikiran
Ilmu Kalam. Cet. I; Solo: Ritonga, A. Rahman. Perbandingan
Zadahaniva, 2011 antara Aliran: Iman dan Kufur
dalam Sejarah Pemikiran dalam
al-Baqilani, Al-Qadi Abu Bakar
Islam. Jakarta: Pustaka Antara, 1996
Muhammad ibn al-Tayyib. Kitab
Tamhid al-Awal wa Talkhis al- al-Shahrastani, Abd al-Karim. al-Milal wa
Dalail. Bairut: Muassasat al-Kutub al-Nihal. (Terj). Beirut: Dar al-Fikr,
al-Tsaqafiyyat, 1987. 1979
Cawidu, Harifuddin. Konsep Kufr dalam Syukur, Aswadie. Al-Milal wa al-Nihal:
al-Qur’an, Suatu Kajian Teologis Aliran-aliran Teologi dalamSejarah
dengan Pendekatan Tafsir Tematik. Umat Islam (terj). Surabaya: Bina
Jakarta: Bulan Bintang, 1991. Ilmu, tth.