Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KASUS MANDIRI

KOASISTENSI PATOLOGI VETERINER


GAMBARAN PATOLOGI ANATOMI AYAM LOKAL
SUSPECT HELMINTHIASIS
KELOMPOK F5

8 April 2019 s/d 3 Mei 2019

Oleh :

EDWIN KRISNANDAR NDAWA LU, S.KH

NIM. 1409010002

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2019
1. Keadaan Umum Pasien
 Signalement
 Jenis Unggas : Ayam Kampung
 BB/Umur : < 1 kg/ 3 bulan
 Jenis Kelamin : Betina
 Nama Peternak : Tino
 Alamat Peternak : Oepura
 Anamnesa dan Gejala Klinis
Ayam tampak lemas dan nafsu makannya menurun serta mencret berlendir. Ayam
dipelihara secara ekstensif dan tidak pernah di vaksin maupun diberikan obat cacing.
Populasi ayam dilingkungan sekitar ada 6 ekor ayam.
.
2. Hasil Pengamatan Nekropsi Pada Ayam

No Gambar Incisi Keterangan


1 Trakea Bentuk : Normal
Warna : Putih Pucat (normal)
Tidak terdapat cairan ataupun
mucus ( tampak kering)

pengamatan makroskopik Setelah disayat hasilnya


bentuk dan ukuran trakea tidak ada perubahan
masih normal patologi yang terjadi.

2 Paru-Paru Bentuk paru-paru normal


dengan konsistensinya lunak,
ukurannya normal dan berwarna
merah pucat (kearah pink).
Ketika di sayat tidak ditemukan
adanya congesti.
3 Jantung  Bentuk : Normal
 Ukuran : Normal
 Warna : pink
 Kosistensi : kenyal
 Terdapat bekuan darah
pada atrium kiri

5 Hepar  Bentuk : Normal


 Ukuran : Normal
 Warna : normal
 Konsistensi : kenyal

6  Warna: coklat
 Ukuran : Normal
 Bentuk : normal
 Konsistensi : kenyal

7 Proventrikulus  Lambung kelenjar


 tidak ditemukannya adanya
pendarahan
 terdapat mucus
 bentuk masih normal
terdapat sisa sisa makanan
8 Ventrikulus
 bentuknya normal (
biconcave)
 terdapat karet pada
ventrikulus
 ukurannya normal terdapat
2 masa otot tebal

9 Ileum  warna : normal


 bagian lumen terdapat
mucus
 terdapat cacing

10 Ceca (sekum)  terdapat feses sedikit kental


yang berwarna kuning
terdapat infestasi cacing
Heterakis gallinarum.

11 Colon ( usus besar)  lumen terdapat mucus


kental
 masi terdapat sisa-sisa feses
3. Pembahasan
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis ayam mengalami penurunan nafsu
makan sehingga ayam tampak lemas, Turunnya nafsu makan pada ayam dapat disebabkan
oleh adanya infeksi agen patogen penyebab penyakit seperti virus, bakteri, dan parasit
mengingat ayam ini tidak pernah di berikan vaksin maupun obat cacing.
Hasil nekropsi pada pembukaan saluran pencernaan meliputi proventriculus,
ventriculus, usus halus, sekum dan usus besar. Pada usus halus ditemukan adanya infestasi
cacing (Ascaridia galli) dan cacing Heterakis gallinarum pada sekum ayam. Keberadaan
cacing ini tidak menimbulkan kerusakan pada mukosa usus seperti adanya eksudat ataupun
hemoragi. Menurut Prastowo dan Bambang (2015) tingkat kerusakan mukosa intestinum
bergantung pada jumlah cacing (Ascaridia galli) di dalam intestinum. Infeksi cacing A. galli
biasanya menimbulkan kerusakan yang parah pada intestinum selama bermigrasi kedalam
jaringan. Migrasi ini terjadi di lapisan mukosa intestinum dan menyebabkan terjadinya
enteritis hemoragika, gangguan proses digesti, dan penyerapan nutrisi sehingga akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan penurunan bobot badan (Tabbu, 2002). Ayam yang
terinfeksi Heterakis gallinarum akan menunjukan peradangan dan penebalan pada dinding
sekum. Tingkat keparahan lesi tergantung pada parasit. Pada kasus dengan infeksi yang berat
akan terjadi pembentukan nodul pada mukosa sekum (Riddell , 1988). Hasil penelitian
Prayoga et al (2014) melaporkan bahwa heritabilitas infeksi cacing Heterakis gallinarum
pada ayam lokal lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi Heterakis gallinarum pada ayam
ras Lohman. Penyebaran cacing terhadap hewan ternak (unggas) dapat melewati pakan, air
dan peralatan ternak (Parede et al. 2005). Ayam kampung dapat terinfeksi cacing melalui
makanan. Hal ini karena kebiasaan makan ayam kampung yang bersifat omnivora dan
makanan yang dimakan ayam kampung berasal dari makanan yang kurang bersih. Kondisi
ini sejalan dengan anamnesa dimana sistem pemeliharaan ayam ini bersifat ekstensif
sehingga sangat memungkinkan ayam dapat terinfeksi cacing. Selain itu juga pada
pembukaan ventrikulus ditemukan adanya benda asing selain makanan yaitu karet.
Pada kasus ini juga ditemukan adanya gumpalan darah pada bagian jantung yaitu
antrium kiri. Gumpalan darah ini merupakan akibat dari perubahan post mortem terjadi
karena pemisahan antara koagulasi plasma dan komponen darah biasanya dapat juga
ditemukan pada pembuluh darah besar dan jantung.
4. Patogenesis
Telur dikeluarkan melalui tinja dan berkembang di udara terbuka dan mencapai dewasa
dalam waktu 10 hari atau bahkan lebih. Telur kemudian mengandung larva kedua (L2) yang
sudah berkembang penuh dan larva ini sangat resisten terhadap kondisi lingkungan yang
jelek. Telur tersebut dapat tetap hidup selama 3 bulan di dalam tempat yang terlindung, tetapi
dapat mati segera terhadap kekeringan, air panas, juga di dalam tanah yang kedalamannya
sampai 15 cm. Infeksi terjadi bila unggas menelan telur tersebut (mengandung L2) yang
bersama makanan atau minuman. Cacing tanah dapat juga bertindak sebagai vektor mekanis
dengan cara menelan telur tersebut dan kemudian cacing tanah tersebut dimakan oleh
unggas. Telur yang mengandung L2 kemudian menetas di proventrikulus atau duodenum
unggas. Setelah menetas, larva 3 hidup bebas di dalam lumen duodenum bagian posterior
selama 8 hari. Kemudian larva 3 mengalami ekdisis menjadi larva 4, masuk ke dalam
mukosa dan menyebabkan hemoragi. Larva 4 akan mengalami ekdisis menjadi larva 5. Larva
5 atau disebut cacing muda tersebut memasuki lumen duodenum pada hari ke 17, menetap
sampai menjadi dewasa pada waktu kurang lebih 28-30 hari setelah unggas menelan telur
berembrio. Larva 4 dapat menetap di dalam jaringan mukosa usus rata-rata selama 8 hari,
akan tetapi dapat sampai 17 hari. Infeksi cacing akan menyebabkan terjadinya perdarahan
kronis karena larva yang bermigrasi menimbulkan kerusakan gastrointestinal seperti gastritis,
enteritis, dan ulcerasi tracktus digestivus yang akhirnya menyebabkan suatu keadaan yang
disebut kehilangan darah kronis (Coles, 1986). Selain itu juga migrasi yang terjadi di lapisan
mukosa intestinum akan menyebabkan terjadinya enteritis hemoragika yang dapat
mengganggu proses digesti dan penyerapan nutrisi sehingga terjadi penurunan pertumbuhan
dan penurunan bobot badan (Tabbu, 2002). Berat ringannya kerusakan mukosa intestinum
tergantung pada jumlah cacing di dalam intestinum. Ayam yang terinfeksi Heterakis
gallinarum akan menunjukan peradangan dan penebalan pada dinding sekum. Pada kasus
dengan infeksi yang berat akan terjadi pembentukan nodul pada mukosa sekum (Riddell ,
1988).
Gejala klinis yang terjadi pada infeksi cacing tergantung pada tingkat infeksi. Pada
infeksi berat akan terjadi mencret berlendir, selaput lendir pucat, pertumbuhan terhambat,
kekurusan, kelemahan umum, anemia, diare dan penurunan produksi telur. Cacing dewasa
hidup di saluran pencernaan, apabila dalam jumlah besar maka dapat menyebabkan sumbatan
dalam usus dan cacing akan menghisap sari makanan dalam usus ayam yang terinfestasi
sehingga ayam akan menderita kekurangan gizi.

5. Diagnosa Banding
Ascariasis dan heterakis dapat menyebabkan gejala klinis umum berupa anemia, diare,
lesu sehingga beberapa penyakit yang dapat menjadi diferensial diagnosanya seperti infeksi
cacing Capillaria sp, Dyspharynx, Tetrameres, Cestodosis dan Plasmodiosis.

6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil anamnesa dimana ayam tampak lemas dan terjadinya penurunan nafsu
makan serta mencret berlendir. Kemudian hasil nekropsi juga ditemukannya adanya infestasi
cacing Ascaridia galli dan Heterakis gallinarum maka dapat disimpulkan bahwa ayam kasus
ini didiagnosis suspect helmintiasis
DAFTAR PUSTAKA

Coles, E.H. 1986, Veterinary Clinical Pathology. 4th ed. W.B. Saunders Company, Philadelphia.

Prastowo, Joko dan Arlyadi, Bambang. 2015, Pengaruh Infeksi Cacing Ascaridia Galli Terhadap
Gambaran Darah dan Elektrolit Ayam Kampung (Gallus Domesticus), Jurnal Medika
Veteriner, 9(1) : 12-17

Parede L, Zainuddin D dan Huminto H. 2005. Penyakit Menular pada Intensifikasi Unggas
Lokal dan Cara Penanggulangannya. Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan
Ayam Lokal. Bogor.

Prayoga, I Made Angga., Suratman, Nyoman Adi., dan Damriyasa, I Made. 2014, Perbedaan
Heritabilitas Infeksi Heterakis gallinarum pada Ayam Lokal dan Ras Lohman, Jurnal
Buletin Veteriner Udayana, 6(2) : 105-111

Riddell, C. U. A. Gajadhar. 1988. Cecal and hepatic granulomas in chickens associated with
Heterakis gallinarum infection. Avian Diseases 32: 836-838.
Tabbu, C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.