Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)

DI PT. MEGA ANDALAN KALASAN (MAK) BIDANG MEKANIK,


PESAWAT ANGKAT ANGKUT, PESAWAT UAP
DAN BEJANA TEKAN

PEMBINAAN CALON AHLI K3 UMUM


ANGKATAN KE VIII

KELOMPOK 4

1. AGUS SUTANTO, S.T


2. MUHAMMAD IRFAN REZA, S.T
3. PRIYANI IDA NUROHMAH, S.KM
4. DESTIARA HESRIANTICA ZAENURROHMAH, S.KM
5. NOVAN CANDRAUTAMA, S.T
6. LUTFI ATQURBI AGUNG ROHADI, S.KM
7. RIO ALDO, S.T

PENYELENGGARA
PT. AJISAKA NUSA ILMU
YOGYAKARTA, 11 JULI 2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... 1

DAFTAR ISI.................................................................................................................... 2

DAFTAR TABEL........................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 4

A. Latar Belakang .......................................................................................................... 4

B. Maksud dan Tujuan .................................................................................................. 5

C. Ruang Lingkup .......................................................................................................... 5

D. Dasar Hukum ............................................................................................................. 6

BAB II KONDISI PERUSAHAAN ............................................................................ 7

A. Gambaran Umum Perusahaan ................................................................................. 7

B. Temuan Hasil Observasi .......................................................................................... 8

BAB III ANALISA ....................................................................................................... 10

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................26

A. Kesimpulan ..............................................................................................................26

B. Saran .........................................................................................................................26

REFERENSI ..................................................................................................................27

2
DAFTAR TABEL

TABEL 3.1 Temuan Positif .......................................................................................... 10

TABEL 3.2 Temuan Negatif ........................................................................................ 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

PT. Mega Andalan Kalasan merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang

pembuatan alat-alat kesehatan. Perushaan ini didirikan pada tanggal 18 Agustus 1997. Selain

itu perusahaan ini tersebar pada 7 lokasi yaitu Hospital Equipment (HE), Export Oriented

Production (EOP), Sentra Pengembangan Industri Kecil Mega Andalan (SPIKMA), Training

Center (TC), PT Kimak Prambanan Agung (KPA), Mega Andalan Motor Industri (MAMI),

Mega Andalan Komponen Logam (MAKL), Mega Andalan Komponen Plastik (MAKP),

Mega Andalan Roda dan Kastor (MARK).

Pada PT. Mega Andalan Kalasan memproduksi peralatan rumah sakit, diantaranya

beds, examination, operation, cabinet dan locker, room accesoris, transfer solution, trolley

dan waiting room. Selain peralatan rumah sakit PT. Mega Andalan Kalasan juga

memproduksi sepeda motor. Proses produksi PT. Mega Andalan Kalasan menggunakan

peralatan mekanik, bejana tekan, pesawat angkat dan angkut. Contohnya forklift, crane

tower overhead, tabung gas untuk pengelasan, mesin press, mesin potong, mesin injection,

mesin bor duduk, mesin bubut. Setiap alat tersebut tentunya mempunyai unsur bahaya bagi

pekerja maupun orang lain yang berada di tempat kerja.

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 27 Ayat 2 dimana “tiap-tiap

warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” dan

Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, bahwa setiap tenaga kerja

berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan,

4
Undang-Undang Uap tahun 1930, Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No

38 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Tenaga dan Produksi,

Permenaker No. Per. 05/MEN/1985 tentang Pesawat angkat dan angkut, Permenaker No.

Per. 09/MEN/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat angkat dan Angkut, Permenaker

No, Per. 02/MEN/1982 Tentang Klasifikasi Juru Las, Permenaker RI No. Per. 36/MEN/2016

tentang K3 Bejana Tekan dan Tangki Timbun, Permenaker No. Per. 01/MEN/1988 tentang

Klasifikasi dan Syarat-syarat Operator Pesawat Uap. Terutama jika perusahaan yang

memiliki potensi bahaya tinggi. Oleh karena itu, produksi akan berjalan dengan lancar

karena alat yang digunakan adalah alat kerja yang aman baik itu bagi pekerja maupun bagi

lingkungan sekitarnya.

Managemen yang mempunyai fungsi serta tugas khusus dalam menjalankan kegiatan

sistem management keselamatan dan kesehatan kerja diperlukan agar kegiatan keselamatan

dan kesehatan kerja dapat terlaksana. Maka dari itulah perusahaan wajib memiliki alat dan

pekerja (operator) yang memenuhi standarisasi yang berlandaskan undang-undang dalam

proses kerja ataupun proses produksi perusahaan tersebut.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Tujuan dilaksanakannya praktek kerja lapangan ini adalah untuk:

1. Mengidentifikasi penerapan K3 bidang mekanik, pesawat angkat dan angkut,

pesawat uap dan bidang bejana tekan di tempat kerja sesuai dengan perundang-

undangan K3 yang berlaku.

2. Mengidentifikasi kondisi kerja yang berpotensi mengakibatkan bahaya kerja.

C. RUANG LINGKUP

1. Bidang mekanik dan pesawat angkat angkut

5
2. Bidang pesawat uap dan bejana tekan

D. DASAR HUKUM

1. Undang-Undang Uap Tahun 1930

2. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

3. Permenaker No. Per. 02/MEN/1982 Tentang Klasifikasi Juru Las

4. Permenaker No. Per. 05/MEN/1985 tentang Pesawat angkat dan Angkut

5. Permenaker No. Per. 01/MEN/1988 tentang Klasifikasi dan Syarat-syarat Operator

Pesawat Uap

6. Permenaker RI No. Per. 08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri

7. Permenaker No. Per. 09/MEN/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat angkat

dan Angkut

8. Permenaker RI No. Per. 37/MEN/2016 tentang K3 Bejana Tekan dan Tangki Timbun

9. Permenaker RI No. Per. 38/MEN/2016 tentang K3 Peswat Tenaga dan Produksi

6
BAB II

KONDISI PERUSAHAAN

A. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

PT. Mega Andalan Kalasan merupakan salah satu perusahaan yang bergerak

di bidang pembuatan alat-alat kesehatan. Berdiri di Kalasan, Sleman, Yogyakarta sejak

tahun 1997. PT. Mega Andalan Kalasan ini telah melakukan kegiatan pemasaran

sampai keluar negeri yang mana 40 % pemasaran produk yaitu negera Japan, UEA dan

ASEAN dan 60 % untuk dalam negeri. Perusahaan ini memiliki 7 cabang yaitu

Hospital Equipment (HE), Export Oriented Production (EOP), Sentra Pengembangan

Industri Kecil Mega Andalan (SPIKMA), Training Center (TC), PT Kimak Prambanan

Agung (KPA), Mega Andalan Motor Industri (MAMI), Mega Andalan Komponen

Logam (MAKL), Mega Andalan Komponen Plastik (MAKP), Mega Andalan Roda

dan Kastor (MARK).

PT MAK yang telah mengimplementasikan standar ISO 9001, 14001,

EN 13485 dan OHSAS 18001. Sebagai induk yang juga Role Model, HE diupayakan

untuk melahirkan industri-industri pendukung yang nantinya bisa mendorong lahirnya

industi baru. PT MAK juga memiliki yaitu Sentra Pengembangan Industri Kecil Mega

Andalan sebagai wadah belajar para usahawan skala industri kecil. Difasilitasi oleh PT

MAK mereka akan menghasilkan produk yang sederhana dengan kualitas yang

memenuhi standar.

PT MAK juga memiliki training center baik tentang Teknologi Mekanik

maupun pendalaman Visi Misi dan Kredo. Agar menghasilkan Sumber Daya Manusia

7
yang berintegritas, beretos kerja tinggi dan bekerja sama dalam tim. TC juga menjadi

penghubung antara dunia pedidikan dan dunia industri melalui kegiatan pembelajaran.

B. TEMUAN HASIL OBSERVASI

Berdasarkan hasil observasi lapangan, diperoleh temuan sebagai berikut:

1. Temuan Positif

A. Bejana tekan (tabung gas)

1) Peletakan tabung gas sudah sesuai ketentuan

2) Operator juru las memiliki sertifikat

3) Tersedia alat perlindungan diri untuk juru las

B. Pesawat Tenaga Produksi

1) Sudah ada pelindung pada bagian yang berputar

2) Saat perbaikan, mesin dimatikan

3) Jarak antar mesin cukup lebar

4) Pengelasan menggunakan alat pelindung diri

C. Pesawat Angkat dan Angkut

1. Forklift

1) Peralatan angkut forklip ada atap pengaman

2) Garpu pengangkat berjarak 15 cm dari permukaan jalan

3) Pemeriksaan dilakukan setiap hari sebelum bekerja

2. Takel

1) Operator telah diberi pelatihan

3. Crane Travel Overhead

1) Tali baja overhead crane sudah baik.

8
2. Temuan Negatif

A. Bejana Tekan

1) Tidak memiliki katup penutup pada tabung gas hydrogen

2) Tidak memiliki tanda pengenal pada tabung gas hydrogen

3) Warna bahu bejana penyimpanan gas tidak sesuai ketentuan

B. Pesawat Tenaga Produksi

1) Tidak ada pengaman yang sesuai untuk mesin press

2) Operator belum memiliki SIO

C. Pesawat angkat dan angkut

1. Forklift

1) Tidak memiliki jalur khusus

2) Operator tidak memiliki SIO dan buku kerja

3) Tidak dilakukan reksa uji

2. Overhead Travel Crane

1) Operator tidak memiliki SIO dan buku kerja

2) Tidak dilakukan pengujian secara teratur

3) Operator tidak aman dalam mengoprasikan alat

4) Pengoprasian alat tidak memperhatikan kondisi sekitar.

9
BAB III

ANALISA

Hasil observasi Kelompok 4 saat kunjungan industri di PT. Mega Andalan Kalasan pada tanggal 11 Juli 2018 ditemukan

beberapa temuan positif. Beberapa temuan positif digambarkan pada table 3.1 sebagai berikut:

Tabel 3.1 TEMUAN POSITIF

DASAR
NO LOKASI GAMBAR TEMUAN HUKUM/ PASAL
PERATURAN
BEJANA TEKAN

Pasal 43 ayat (2)


“bejana tekanan dilarang
Peletakan tabung Permennaker No. ditempatkan atau disimpan dekat
Ruang
1. gas sudah sesuai tangga, gang, di depan lubang
Produksi 37 tahun 2016
ketentuan angina, alat pengangkat, atau benda
bergerak yang dapat menyentuh
atau menimpa.”

PESAWAT TENAGA DAN PRODUKSI


Permennaker
No.Per- Pasal 8 ayat (2)
Sudah ada 38/MEN/2016
Ruang pelindung pada tentang “semua bagian yang bergerak dan
2. berbahaya dari pesawat tenaga dan
produksi bagian yang keselamatan dan
berputar kesehatan kerja produksi harus dilengkapi alat
pesawat tenaga perlindungan.”
dan produksi

Permennaker 1. Pasal 27 ayat (1)


No.Per- 2. “pada pesawat tenaga dan produksi
Saat perbaikan alat 38/MEN/2016 yang sedang diperbaiki, tenaga
Ruang produksi, mesin tentang penggerak harus dimatikan dan alat
3. dimatikan
produksi keselamatan dan pengontrol harus segera dikunci
kesehatan kerja serta diberi tanda larangan
pesawat tenaga pengoperasian.”
dan produksi

Permennaker
No.Per- Pasal 12 ayat (2)
38/MEN/2016 “jarak pemasangan sebagaimana
Ruang Jarak antar mesin tentang dimakdud pada ayat (1) harus cukup
4.
produksi sudah cukup lebar keselamatan dan lebar dan bebas sehingga tidak
kesehatan kerja membahayakan lalu lintas barang
pesawat tenaga dan orang.”
dan produksi

11
BEJANA TEKAN

Permennaker
No.Per- Pasal 20
38/MEN/2016
Pengelasan sudah “pekerjaan yang menimbulkan
Ruang tentang
5. menggunakan serbuk, serpih, debu, gas, dan bunga
produksi keselamatan dan
pengaman (APD) api harus dipasang alat pengaman
kesehatan kerja
pesawat tenaga dan perlindungan.”
dan produksi

PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Permennaker Pasal 112


Peralatan angkut No.05/MEN/1985 “forklift harus dengan atap
6. Di area pabrik forklip sudah ada pelindung operator dan bagian yang
tentang Pesawat
atap pengaman bergerak atau berputar diberi tutup
Angkat Angkut pengaman.”

12
Garpu pengangkat
Permennaker
forklift berjarak 15 Pasal 113
No.05/MEN/1985 “dalam keadaan jalan, garpu harus
7. Di area pabrik cm dari permukaan
tentang Pesawat berjarak setinggi-tingginya 15 cm
jalan dari permukaan jalan.”
Angakat Angkut

Permennaker Pasal 138 ayat (1)


Pemeriksaan “setiap pesawat angkat dan angkut
forklift dilakukan No.05/MEN/1985 setiap sebelum dipakai harus
8. Di area pabrik
setiap hari sebelum tentang Pesawat diperiksa dan diuji terlebih dahulu
memulai pekerjaan Angkat Angkut dengan standar uji yang telah
ditentukan.”

Permennaker
No.09/MEN/2010 Pasal 6 ayat (3)
“pengklasifikasian sebagaimana
Operator takel tentang operator
Ruang dimaksud pada ayat (2) tidak
9. sudah diberi
produksi dan petugas berlaku bagi operator gondola,
pelatihan
pesawat angkat dongkrak mekanik, takal, dan mesin
pancang.”
dan angkut

13
Pasal 9 ayat (1)
“tali baja yang digunakan untuk
Permenaker No. mengangkat harus :
05/MEN/ 1985 a. Terbuat dari bahan baja yang
kuat dan berkualitas tinggi
Ruang Tali baja overhead tentang Pesawat
10. b. Mempunyai faktor keamanan
produksi crane sudah baik sekurang-kurangnya 3,5 kali
Angkat Angkut
beban maksimum
c. Tidak boleh ada sambungan
d. Tidak boleh ada simpul,
belitan, kusut, berjumbai, dan
terkupas

14
Selain ditemukan beberapa temuan positif diatas, terdapat pula beberapa temuan negatif yang di gambarkan pada tabel 3.2

sebagai berikut :

Tabel 3.2 Temuan Negatif


ANALISA
REKOMEN DASAR HUKUM/
NO. LOKASI GAMBAR TEMUAN POTENSI
DASI PERATURAN
BAHAYA
BEJANA TEKAN
1. Ruang Tidak memiliki Potensi: Dilengkapi Permenaker RI No. 37
produksi katup penutup tabung gas katup tahun 2016 Ps. 14 (1)
pada tabung Resiko: penutup Bejana penyimpanan
gas hydrogen ledakan, gas, campuran gas, dan/
kebakaran atau bejana transport
harus dilengkapi dengan
katup penutup.

15
2. Ruang Tidak memiliki Potensi: Dilengkapi Permenaker RI No. 37
tahun 2016 Ps. 9
produksi tanda pengenal tabung gas tanda
Setiap bejana tekan
pada tabung Resiko: pengenal.
dilengkapi tanda
gas hydrogen kesalahan Minta vendor
pengenal berupa: nama
penggunaan, untuk
pemilik, nama dan no
kesalahan melengkapi
urut pabrik pembuat,
pengisian kelengkapan
nama gas/ bahan yang
data pengenal
diisikan beserta symbol
kimia, berat kosong
tanpa kran dan tutup,
tekanan pengisian yang
diijinkan, berat
maksimum dari bejana,
volume air untuk bejana
berisi gas yang
dikempa, nama bahan
pengisi porous mass
kusus untuk bejana
penyimpan gas, bulan
dan tahun pengujian
hidrostatik pertama dan
berikutnya

16
3. Ruang Warna bahu Potensi: Perubahan Permenaker RI No. 37-
2016 Ps 21 ayat (1)
produksi bejana tabung gas warna sesuai
Penyimpanan gas harus
penyimpanan Resiko: dengan
diberi warna sesuai
gas tidak kesalahan peraturan.
kode warna RAL 840-
sesuai penggunaan,
HR
ketentuan kesalahan
pengisian
PESAWAT TENAGA PRODUKSI
4. Ruang Tidak ada Sumber: alat Pemberian Permenaker RI No. 38
produksi pengaman press alat bantu tahun 2016 Ps. 41 ayat
castor yang sesuai Potensi (1-2)
untuk mesin bahaya: (1) Mesin tempa, mesin
press terjepit, pres dan mesin pon jika
pengisian benda kerja
menggunakan sistem
manual, mekanin, dan/
atau elektrik harus
dilengkapi penghenti
darurat.
(2) Pengisisan benda
kerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (1)

17
harus menggunakan alat
bantu untuk
memastikan anggota
badan tidak masuk ke
daerah operasi
5. Ruang Operator Sumber: Perusahaan Permenaker RI 38 tahun
Produksi belum operator mengajukan 2016 tentang Pesawat
memiliki Potensi: permohonan Tenaga dan Produksi
lesensi kecelakaan ke Dirjen Ps. 125 ayat (1-2)
kerja, untuk Operator mesin
kesalahan melakukan perkakas dan produksi
pengoprasian pemeriksaan kelas 1 sebagaimana
alat dan dimaksud dalam pasal
penerbitan 116 ayat 2 huruf b
lisensi berwenang
mengoprasikan
perkakas dan produksi
komputerisasi (CNC)
(2) Operator mesin
perkakas dan produksi
kelas 2 sebagaimana
dimaksud pasal 116

18
ayat 2 huruf a
berwenang
mengoprasikan mesin
perkakas dan produksi
konvensional
FORKLIFT
6. Area Tidak memiliki Sumber: Membuat Permenaker RI No. 5
pabrik jalur khusus forklift jalur khusus tahun 1985 Ps. 105
Potensi untuk Lantai kerja yang dilalui
bahaya: transportasi pesawat angkutan
tabrakan, forklift landasan harus:
terlindas a. Dikontruksi cukup
kuat dan rata
dengan
memperhatikan
kecepatan, jenis
roda dan ban yang
digunakan
b. Tidak mempunyai
belokan dengan
sudut yang tajam,
tanjakan yang terjal

19
jalan yang bebas
dan pelataran yang
rendah
c. Mempunyai tanda-
tanda pada kedua
sisi di sepanjang
jalan
7. Area Operator tidak Sumber: Perusahaan Permenaker RI No. 9
pabrik memiliki SIO operator mengajukan tahun 2010 Ps. 12
Forklift forklift permohonan Operator forklift dan /
kapasitas 3 Potensi ke Dirjen atau lift truck dimaksud
ton. bahaya: untuk dalam pasal 11
kecelakaan melakukan diklasifikasikan sebagai
pemeriksaan berikut :
dan a. Operator klas 1
penerbitan b. Operator klas 2
SIO Pasal 30 ayat 3
Operator forklift dan /
atau lift truck klas 2
sebagimana dimaksud
dalam pasal 12 hurup d
berwenang

20
mengoperasikan forklift
dan / atau lift truck
sesuai jenisnya dengan
kapasitas maksimum 15
ton.
8. Area Tidak Terjadi Dilakukan Permenaker 5 tahun
pabrik dilakukan kecelakaan pengujian 1985 Ps. 138 ayat (4)
reksa uji setahun Pemeriksaan dan
sekali. pengujian ulang
pesawat angkat dan
angkut dilaksanakan
selambat-lambatnya 2
tahun setelah pengujian
pertama. Dan
pemeriksaan pengujian
ulang selanjutnya
dilaksakanan setahun
sekali
OVERHEAD TRAVELL CRANE

21
9. Ruang Operator tidak Sumber: Perusahaan Permenaker RI No. 9
produksi memiliki SIO Operator mengajukan tahun 2010 Ps.6 ayat (2)
Tinggi Menara Potensi: permohonan Operator peralatan
+/- 10 meter kesalahan ke Dirjen angkat sebagimana pada
Kapasitas 10 pengoprasian, untuk ayat 1 diklarifikasikan
ton kecelakaan melakukan sebagai berikut :
penerbitan a. Operator kelas 1
SIO b. Operator kelas 2
c. Operator kelas 3
Pasal 28 ayat 3
Operator peralatan
angkat kelas 3
sebagaimana dimaksud
dalam pasal 6 ayat 2
huruf c berwenang
mengoperasikan
peralatan angkat sesuai
jenisnya dengan
kapasitas kurang dari 25
ton atau tinggi Menara
sampai 40 m.

22
10. Ruang Tidak Terjadi Dilakukan Permenaker 5 tahun
produksi dilakukan kecelakaan, pengujian 1985 Ps. 138 ayat (4)
pengujian kejatuhan alat setahun Pemeriksaan dan
secara teratur sekali. pengujian ulang
pesawat angkat dan
angkut dilaksanakan
selambat-lambatnya 2
tahun setelah pengujian
pertama. Dan
pemeriksaan pengujian
ulang selanjutnya
dilaksakanan setahun
sekali

23
11. Ruang Operator tidak Sumber: Rekayasa Permenaker 8 tahun
produksi aman dalam overhead teknis dengan 2010 Ps. 4 ayat (1)
mengoprasikan crane memperpanja huruf a
alat Potensi ng kabel APD wajib digunakan
bahaya: remote dan ditempat kerja dimana
kejatuhan penggunaan dibuat, dicoba, dipakai,
benda APD berupa atau dipergunakan
safety helmet mesin, pesawat, alat
perkakas, peralatan atau
instalasi yang
berbahaya yang dapat
menimbulkan
kecelakaan, kebakaran
atau peledakan.

24
12. Ruang Pengoprasian Sumber: Penyusunan Permenaker No. 5 tahun
produksi alat tidak overhead SOP 1985 Ps. 23
memperhatikan crane pengoprasian Operator peralatan
kondisi sekitar Potensi alat. Pelatihan angkat harus
bahaya: penggunaan menghindari
Kejatuhan alat. pengangkatan muatan
benda melalui orang-orang.

25
BAB IV

KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

1. Perusahaan Mega Andalan Kalasan (MAK) sudah menerapkan SMK 3 tetapi masih

belum menyeluruh, sehingga terdapat temuan positif maupun negatif.

2. Bejana tekan (tabung gas) tidak memenuhi standar perundang-undangan Permenaker

No. 37 tahun 2016.

3. Pengoprasian pesawat angkat dan angkut dalam hal ini overhead travel crane dan

forklift belum sesuai dengan perundang-undangan Permenker No. 09 tahun 2010 dan

Permenaker No. 5 tahun 1985.

4. Terdapat beberapa ketidaksesuain dengan perundang undagan dalam pengoprasian

pesawat tenaga produksi. Khususnya permenaker 38 tahun2016.

B. SARAN

1. Perusahaan sebaiknya memperbaiki SOP sesuai dengan perundang-undangan

keselamatan dan kesehatan kerja, SOP yang telah diperbaiki disosialisasikan pada

tenaga kerja.

2. Perusahaan melakukan usulan pada Direktur Jendral Ketenagakerjaan terkait

pembentukan SIO pada operator.

3. Sosialisasi pemakaiaan APD pada tenaga kerja saat menggunakan mesin.

26
REFERENSI

Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3). 2018.


Yogyakarta. Ajisaka Nusa Ilmu
Profil Perusahaan Mega Andalan Kalasan. 2018

27

Anda mungkin juga menyukai