Anda di halaman 1dari 34

Konsep Dasar Metrologi, Kalibrasi

dan Ketertelusuran

Oleh Irwan Purnama

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia


UPT Balai Pengembangan Instrumentasi
v. 1.1.6
Definisi Metrologi [3]

Metrologi didefinisikan sebagai Ilmu yang berhubungan dengan pengukuran


(measurement)

Pengukuran (measurement) adalah kumpulan operasi yang dilakukan oleh instrumen


ukur untuk menghasilkan nilai numerik dari sebuah besaran yang menjelaskan objek
pengukuran.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Klasifikasi Metrologi [4]

Metrologi Ilmiah (Scientific Metrology)

Metrologi Metrologi Industri (Industrial Metrology)

Metrologi Legal(Legal Metrology)


Sumber: indagkop.kaltimprov.go.id

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Ruang Lingkup Metrologi [4]

Definisi Satuan Pengukuran yang dapat


diterima secara Internasional

Realisasi Satuan Pengukuran dengan Metoda


Metrologi Ilmiah

Menentukan Rantai Ketertelusuran

Sumber: Amazon
Sumber: HighFinesse

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Organisasi Metrologi Internasional

International Bureau of Weight and Measures (BIPM)

International Organization of OIML

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Satuan Standar (Standard Unit) [3]

Satuan Dasar Satuan Turunan

Meter (Panjang) Hertz (Frekuensi)


Second (Waktu) Meter persegi (Luas bidang)
Mole (Jumlah zat) Meter kubik (Volume)
Candela (Intensitas cahaya) Newton (Gaya)
Ampere (Arus listrik)  Pascal (Tekanan)
Kelvin (Suhu Termodinamika)  dan lain-lain
Kilogram (Masa)

Aturan-aturan pemakaian satuan standar (SI) ditetapkan pada General Conference on


Weight and Measure (CGPM) ke 11 tahun 1960.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Satuan Standar (Standard Unit) [3]

Definisi Satuan SI [4]

Meter

panjangnya jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa dalam waktu 1/299 792 458
sekon

Sumber: HighFinesse

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Satuan Standar (Standard Unit) [3]

Evolusi Definisi Satuan SI [4]

Meter

1889 – didasarkan pada prototipe internasional platina-iridium yang ada di Paris.

1960 – didefinisikan ulang sebagai 1 650 763,73 panjang gelombang dari garis
spektral tertentu krypton-86.

1983 – didefinisikan sebagai panjangnya jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam
ruang hampa dalam waktu 1/299 792 458 sekon

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Measurand [2]

Measurand merupakan besaran tertentu yang didapat dari sebuah proses pengukuran.

Penyebutan measurand yang kumplit membutuhkan spesifikasi besaran lainnya seperti


temperatur, tekanan, kelembaban dll. Besaran-besaran tersebut merupakan besaran
pengaruh (influence quantities)

Contoh:
“Panjang sebuah mistar baja
pada suhu 25oC” merupakan
measurand dan 20oC
merupakan“influence quantity”
.
.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Nilai Besaran Sebenarnya (True Value) [2]

True value didefinisikan sebagai nilai yang konsisten terhadap definisinya.

Tidak ada kesalahan (error) pengukuran dalam realisasi definisi.

Pada prakteknya, nilai sebenarnya (true value) dari sebuah besaran tidak bisa didapat
tanpa kesalahan experimen sehingga sebuah true value tidak bisa didapat dari hasil
sebuah eksperimen.

Sumber: Starrett

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Nilai Nominal & Nilai Sebenarnya Konvensional [2]

Nominal value merupakan nilai pendekatan (approximation) sebuah material ukur atau
karakteristik sebuah instrumen ukur .
Exact value atau conventional true value diketahui dengan membandingkan UUT
dengan sebuah standar pengukuran pada level yang lebih tinggi di bawah kondisi yang
ditentukan/didefinisikan.

Contoh:
Untuk gauge block dengan nilai 100 mm,
maka yang digunakan adalah nilai
nominal. Maka nilai pastinya bisa jadi
9.9997 mm atau 10.0003 mm
Sumber: Diesella

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Akurasi & Presisi (Accuracy & Precision) [2]

Keakurasian dalam sebuah


pengukuran merupakan derajat
kedekatan nilai hasil pengukuran
(actual value) dengan nilai
sebenarnya (true value)

Kepresisian dalam sebuah


pengukuran merupakan derajat
sebaran hasil pengukuran ketika
pengukuran dilakukan secara
berulang dalam kondisi tertentu.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Akurasi & Presisi (Accuracy & Precision)

Akurasi rendah, presisi rendah Akurasi tinggi, presisi rendah

Akurasi rendah, presisi tinggi Akurasi tinggi, presisi tinggi

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Kesalahan Pengukuran (Error)

Error merupakan perbedaan hasil sebuah pengukuran dan true value.

Sejak true value tidak mungkin untuk didapat dalam experimen maka conventional true
value di digunakan dalam praktek pengukuran.

Relative error dihasilkan dengan membagi error dengan rata-rata nilai hasil
pengukuran.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Kesalahan Acak (Random Error)

Random Error muncul dari satu atau lebih variasi tidak bisa diprediksi yang
mempengaruhi besaran. Efek dari variasi tersebut disebut dengan random effects.

Variasi suhu lingkungan dalam sebuah pengukuran mengakibatkan sebuah error dalam
nilai yang diukur. Error yang diakibatkan oleh random effect di namakan variasi suhu
lingkungan tidak terprediksi.

Ketidakpastian dari random effects bisa dihitung dengan melakukan beberapa kali
experimen pengukuran.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Konsep Dasar

Kesalahan Sistematis (Systematic Error)

Error yang terjadi akibat constant effect.

Error ini dihasilkan karena ketidaksempurnaan sistem pengukuran.

Terkontrol dalam besarannya, maka jenis kesalahan bisa disebut dengan controllable
error.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Kalibrasi

Definisi Kalibrasi

“Kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui kebenaran konvensional nilai penunjukan


suatu alat ukur dengan cara membandingkan alat ukur tersebut terhadap standar ukur
yang lebih tinggi tingkat akurasinya dan terterlusur ke standar yang lebih tinggi.”

Sumber: jaking.com

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Kalibrasi

Manfaat Kalibrasi[4]

Memastikan bahwa alat ukur tersebutsesuai dengan hasil pengukuran alat ukur lain.

Menentukan akurasi penunjukan alat.

Mengetahui kehandalan alat, yaitu alat tersebut dapat dipercaya.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Kalibrasi

Hasil Pengukuran [1]

Kumpulam dari nilai-nilai besaran yang


dilekatkan pada measurand dan
informasi lainnya yang tersedia

Istilah nilai besaran yang diukur (measured quantity value) didefinisikan sebagai nilai
besaran yang merepresentasikan sebuah hasil pengukuran, juga sebagai catatan bahwa
dalam GUM, istilah “hasil pengukuran” digunakan untuk nilai besaran yang diukur.

Note:
GUM – Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Kalibrasi

Kalibrasi atau Verifikasi?

Verifikasi dilakukan oleh sebuah badan layanan metrologi untuk mengetahui


kesesuaian alat ukur yang digunakan, berdasarkan pada analisa kesalahan (error)
hasil tes.

Technical Procedure--Evaluasi kesalahan (error) alat ukur secara


eksperimen

Directional Procedure --terdiri dari pengambilan keputusan


terkait dengan kesesuaian alat ukur yang diverifikasi dengan
sejumlah persyaratan, yang dinyatakan dalam bentuk batasan
kesalahan (error) yang diperbolehkan dan dokumen formulasi
untuk mengizinkan atau tidak penggunaan lebih lanjut dari alat
ukur tersebut.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Kalibrasi

Kalibrasi atau Verifikasi?

Sumber: http://jateng.news/berita/detail/1492664686/78158/tera-timbangan-sementara-masih-gratis

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Prosedur Acuan [4]

Prosedur untuk melakukan pengujian, pengukuran atau analisis yang ditelaah dengan
seksama dan dikontrol dengan ketat.

Tujuan prosedur acuan adalah untuk mengkaji prosedur lain untuk pekerjaan yang
serupa atau untuk menentukan sifat-sifat bahan acuan (termasuk objek acuan), atau untuk
menentukan suatu nilai acuan.

Memvalidasi pengukuran lain, yang digunakan


untuk pekerjaan yang serupa, dan menentukan
ketidakpastiannya.

Menentukan nilai acuan siafat-sifat dari suatu


bahan yang dapat disusun dalam buku panduan
atau pangkalan data, atau nilai acuan yang
terkandung dalam bahan acuan atau objek
acuan.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Ketidakpastian (Uncertainty) [2]

Nilai measurand tidak bisa didapat secara pasti karena kesalahan-kesalahan yang muncul
pada saat proses pengukuran.

Yang bisa dilakukan adalah meng-estimasi nilai measurand yang dihasilkan dari proses
pengukuran. Estimasi dilakukan dengan menambahkan nilai yang tidak pasti atau
ketidakpastian (uncertainty).

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Definisi Ketidakpastian (Uncertainty) [2]

“Ukuran kuantitatif mutu dari hasil sebuah pengukuran, sehingga hasil pengukuran
tersebut dapat dibandingkan dengan hasil pengukuran lain, acuan, spesifikasi dan
standar.”

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Evaluasi Ketidakpastian (Uncertainty) [2]

Ketidakpastian Tipe A Ketidakpastian Tipe B

Ketidakpastian Gabungan

Expanded Uncertainty

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Test Uncertainty Ratio (TUR) [2]

Kalibrasi peralatan pengukuran selalu dilakukan oleh standar pengukuran pada level
yang lebih tinggi, biasanya sebuah standar kerja (working standard).

Rasio ketidakpastian dari unit under test (UUT) terhadap standar yang digunakan dalam
kalibrasi dikenal dengan test unceratinty ratio (TUR). Pada umumnya, TUR dengan nilai
Setidak-tidaknya 1:4 digunakan.

Jika UUT mempunyai ketidakpastian yang relativ kecil, nilai TUR yang lebih kecil (1:2
atau bahkan 1:1) harus digunakan.

TUR sebagai rasio hasil ketidakpastian gabungan (uncertainty budget) yang didapat oleh
standar pengukuran terhadap yang didapat oleh UUT.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Hirarki Standar Pengukuran[2]

Standar Primer Standar Internasional

Standar Sekunder Standar Nasional

Standar Kerja Standar Negara Bagian Standar Negara Bagian

Instrument Instrument

Hirarki berdasarkan tingkatan metrologi Hirarki berdasarkan lokasi geografis

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Hirarki Standar Pengukuran [2]

Standar Primer (Primary Standard) mempunyai kualitas metrolgi paling tinggi dan
nilainya di-referensikan kepada standar besaran yang sama lainnya.

Standar Sekunder (Secondary Standard) adalah sebuah standar yang nilainya


ditentukan melalui perbandingan dengan standar primer besaran yang sama.

Standar kerja (Working Standard) merupakan sebuah standar yamg digunakan secara
rutin untuk mengkalibrasi instrumen pengukuran.

Sumber: Mitutoyo Sumber: Long Island Indicator Sumber: Swiss Instruments


Sumber: Winters Electro-Optics, Inc Sumber: length.kriss.re.kr

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Hirarki Standar Pengukuran [2]

(Sumber: Basic Metrology for ISO 9000 Certification, BH, 2002)

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Keseragaman (Uniformity)[2]

Keseragaman Pengukuran (Measurement Uniformity)

Hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan yang diakui

Semua kesalahan yang diketahui beserta probabilitas tertentu

Semua sistem pengukuran besaran yang sama harus mempertahankan ukuran satuan
yang sama.

Ketertelusuran Pengukuran

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Ketelusuran (Traceability) [2]

Konsep ketelusuran berhubungan dengan hirarki standar.

Untuk sebuah standar pengukuran atau instrumen pengukuran, ketelusuran berarti


nilainya dihasilkan oleh rantai perbandingan yang tidak terputus (unbroken chain of
comparisons) dengan sebuah rangkaian standar-standar dengan level yang lebih tinggi
berserta ketidakpastian yang ditetapkan.
Standar pada tingkat yang lebih tinggi bisa merupakan standar nasional yang dipelihara
di sebuah negara atau standar Internasional yang dipelihara oleh International Beurau
of Weights and Measure (BIPM) dan laboratorium lainnya.

Persyaratan waktu untuk perbandingan merupakan bagian dari ketelusuran.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Ketelusuran (Traceability) [2]
(Sumber: Basic Metrology for ISO 9000 Certification, BH, 2002)

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
Referensi

[1] R.Buccianti, M.Cibien, L.Mari, B.I.Rebaglia,” Measurement and calibration:


considerations based on the International Vocabulary of Metrology (VIM, 3rd Ed.)
and related standards”, XIX IMEKO World Congress Fundamental and Applied
Metrology , September 6-11, 2009, Lisbon, Portugal.

[2] De Silva, G.M.S.,”Basic Metrology for ISO 9000 Certification,” Butterworth-


Heinemann, 2002.

[3]______________,”Calibration: Philosophy in Practice,” Second Edition, Fluke


Coorporation, 1994.

[4]Preben Howarth, Fiona Redgrave,”Metrologi-Sebuah Pengantar (Terj. Metrology-in


Shorth 2nd Edition),” Puslit KIM, Februari 2005.

©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI


v. 1.1.6
©UPT Balai Pengembangan Instrumentasi-LIPI
v. 1.1.6