Anda di halaman 1dari 39

BAB IV

IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI

4.1. Entitas Akuntansi dan Pelaporan

Entitas akuntansi adalah OPD (Organisasi Perangkat Daerah) pada Pemerintah


Kabupaten Siak yang mengelola anggaran, kekayaan, dan kewajiban yang
menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan keuangan atas dasar akuntansi
yang diselenggarakan.

Entitas pelaporan adalah Pemerintah Kabupaten Siak yang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggung-jawaban berupa laporan
keuangan.

Laporan keuangan yang dibuat oleh OPD sebagai entitas akuntansi terdiri dari LRA,
Neraca, Laporan Operasional (LO), laporan perubahan Ekuitas ( LPE ), dan Catatan atas
Laporan Keuangan (CALK).

Laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) merupakan laporan keuangan gabungan


dari seluruh OPD dan laporan PPKD sebagai BUD yang dilakukan oleh entitas pelaporan
pemerintah daerah, dalam hal ini dilaksanakan oleh SKPKD. Produk dari entitas
pelaporan terdiri dari LRA, Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan
Perubahan SAL), Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Arus Kas (LAK), Laporan
Perubahan Ekuitas (LPE) dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

4.2. Basis Akuntansi

Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Siak
adalah basis akrual untuk pengakuan pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban dan
ekuitas. Dalam hal peraturan perundangan-undangan mewajibkan disajikannya laporan
keuangan dengan basis kas, maka entitas wajib menyajikan laporan demikian.

Basis akrual untuk LO berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh
pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di Rekening Kas Umum Daerah
atau oleh entitas pelaporan dan beban diakui pada saat kewajiban yang mengakibatkan
penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun kas belum dikeluarkan dari
Rekening Kas Umum Daerah atau entitas pelaporan. Pendapatan seperti bantuan pihak
luar/asing dalam bentuk jasa disajikan pula pada LO.
Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasarkan basis kas, maka LRA disusun
berdasarkan basis kas, berarti bahwa pendapatan dan penerimaan pembiayaan diakui
pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh entitas pelaporan, serta
belanja, transfer dan pengeluaran pembiayaan diakui pada saat kas dikeluarkan dari
Rekening Kas Umum Daerah. Namun demikian, bilamana anggaran disusun dan
dilaksanakan berdasarkan basis akrual, maka LRA disusun berdasarkan basis akrual.

Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas diakui dan dicatat
pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan
berpengaruh pada keuangan Pemerintah Kabupaten Siak, tanpa memperhatikan saat kas
atau setara kas diterima atau dibayar.

4.3. Pengakuan Unsur Laporan Keuangan

Pengakuan dalam akuntansi adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan


suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan menjadi bagian
yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan-LRA, belanja, dan
pembiayaan, pendapatan-LO, dan beban sebagaimana akan termuat pada laporan
keuangan entitas pelaporan yang bersangkutan. Pengakuan diwujudkan dalam
pencatatan jumlah uang terhadap pos-pos laporan keuangan yang terpengaruh oleh
kejadian atau peristiwa terkait.

Kriteria minimum yang perlu dipenuhi oleh suatu kejadian atau peristiwa untuk diakui
yaitu:

 terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan kejadian atau
peristiwa tersebut akan mengalir keluar dari atau masuk ke dalam entitas pelaporan
yang bersangkutan;
 kejadian atau peristiwa tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur atau
dapat diestimasi dengan andal.

Dalam menentukan apakah suatu kejadian/peristiwa memenuhi kriteria pengakuan, perlu


dipertimbangkan aspek materialitas.

1. Pengakuan Aset
Aset diakui pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh oleh
Pemerintah Kabupaten Siak dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur
dengan andal.

Aset diakui pada saat diterima atau kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya


berpindah.

Sejalan dengan penerapan basis akrual, aset dalam bentuk piutang atau beban
dibayar dimuka diakui ketika hak untuk mendapatkan arus kas masuk atau manfaat
ekonomi lainnya dari entitas lain telah atau tetap masih terpenuhi, dan nilai klaim
tersebut dapat diukur atau diestimasi.

Aset dalam bentuk kas yang diperoleh Pemerintah Kabupaten Siak antara lain
bersumber dari pajak, penerimaan bukan pajak, retribusi, pungutan hasil pemanfaatan
kekayaan daerah, dan setoran lain-lain, serta penerimaan pembiayaan, seperti hasil
pinjaman. Proses pemungutan setiap unsur penerimaan tersebut sangat beragam dan
melibatkan banyak pihak atau instansi. Dengan demikian, titik pengakuan penerimaan
kas oleh Pemerintah Kabupaten Siak untuk mendapatkan pengakuan akuntansi
memerlukan pengaturan yang lebih rinci, termasuk pengaturan mengenai batasan
waktu sejak uang diterima sampai penyetorannya ke Rekening Kas Umum Daerah.
Aset tidak diakui jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya

dipandang tidak mungkin diperoleh Pemerintah Kabupaten Siak setelah periode


akuntansi berjalan.

2. Pengakuan Kewajiban

Kewajiban diakui jika besar kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya ekonomi
akan dilakukan atau telah dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai
saat pelaporan, dan perubahan atas kewajiban tersebut mempunyai nilai penyelesaian
yang dapat diukur dengan andal.

Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat kewajiban timbul.

Sejalan dengan penerapan basis akrual, kewajiban diakui pada saat dana pinjaman
diterima atau pada saat kewajiban timbul.

3. Ekuitas

Ekuitas adalah kekayaan bersih Pemerintah Kabupaten Siak yang merupakan selisih
antara aset dan kewajiban Pemerintah Kabupaten Siak pada tanggal laporan.
Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo akhir ekuitas pada Laporan Perubahan
Ekuitas.

4. Pengakuan Pendapatan-LO dan Pendapatan-LRA

Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada
aliran amsuk sumberdaya ekonomi.

Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima di Rekening Kas Umum Daerah atau oleh
entitas pelaporan.

5. Pengakuan Beban dan Belanja

Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi aset, atau terjadinya
penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.

Belanja diakui berdasarkan terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah
atau entitas pelaporan. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran
pengakuannya terjadi pada saat

pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai


fungsi perbendaharaan.

4.4. Pengukuran Unsur Laporan Keuangan

Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap
pos dalam laporan keuangan. Pengukuran pos-pos dalam laporan keuangan
menggunakan nilai perolehan historis.

Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi yang
menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata
uang rupiah.

Pengukuran Aset

Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai
wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut.

Pengukuran aset adalah sebagai berikut:

- Kas dicatat sebesar nilai nominal;


- Investasi jangka pendek dicatat sebesar nilai perolehan;
- Piutang dicatat sebesar nilai nominal;
- Persediaan dicatat sebesar:
- Biaya Perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;
- Biaya Standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
- Nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi/rampasan.
- Investasi jangka panjang dicatat sebesar biaya perolehan termasuk biaya tambahan
lainnya yang terjadi untuk memperoleh kepemilikan yang sah atas investasi tersebut;
- Aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan
menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan
pada nilai wajar pada saat perolehan.
- Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset tetap dapat disusutkan
sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut
- Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya
langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya
perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan
semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan aset tetap
tersebut.
- Aset moneter dalam mata uang asing dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang
rupiah. Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs tengah bank sentral pada
tanggal neraca.

Pengukuran Kewajiban

Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan
dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang asing menggunakan kurs
tengah bank sentral pada tanggal neraca.

4.5. Penerapan Kebijakan Akuntansi Berkaitan dengan Ketentuan yang Ada dalam
Standar Akuntansi Pemerintahan.

Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Siak disusun berdasarkan Peraturan


Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan Buletin
Teknis yang ditetapkan oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) serta
Peraturan Bupati Siak Nomor 173 tahun 2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan
Bupati Nomor 43 Tahun 2015 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kabupaten Siak.

Ikhtisar kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan


Pemerintah Kabupaten Siak Tahun 2018 adalah sebagai berikut:

1. Laporan Realisasi Anggaran

Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi pendapatan menurut jenis pendapatan


dalam Laporan Realisasi Anggaran, dan rincian lebih lanjut jenis pendapatan-LRA
disajikan pada Catatan atas Laporan Keuangan.

Entitas pelaporan menyajikan klasifikasi belanja menurut jenis belanja dalam Laporan
Realisasi Anggaran. Klasifikasi belanja menurut organisasi disajikan dalam Laporan
Realisasi Anggaran atau di Catatan atas Laporan Keuangan. Klasifikasi belanja
menurut fungsi/urusan disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

a. Akuntansi Anggaran

Akuntansi anggaran merupakan teknik pertanggungjawaban dan pengendalian


manajemen yang digunakan untuk membantu pengelolaan pendapatan-LRA,
belanja, transfer dan pembiayaan.

Akuntansi anggaran diselenggarakan sesuai dengan struktur anggaran yang


terdiri dari anggaran pendapatan-LRA, belanja, transfer dan pembiayaan.

Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat anggaran dilaksanakan.

Akuntansi anggaran dilaksanakan dengan cara langsung mensaldokan/


membukukan jumlah anggaran pendapatan-LRA, belanja, transfer dan
pembiayaan pada masing-masing saldo buku besar pos anggaran tanpa
melakukan proses estimasi atas pendapatan dan penerimaan pembiayaan serta
otorisasi kredit anggaran (allotment) atas belanja dan pengeluaran pembiayaan.

b. Akuntansi Pendapatan-LRA

Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Daerah.

Pendapatan-LRA diklasifikasikan menurut jenis pendapatan.

Transfer masuk adalah penerimaan uang dari entitas pelaporan lain, misalnya
penerimaan dana perimbangan dari pemerintah pusat.
Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).

Pengembalian yang sifatnya sistemik (normal) dan berulang (recurring) atas


penerimaan pendapatan-LRA pada periode penerimaan maupun pada periode
sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan-LRA.

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas


penerimaan pendapatan-LRA yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan-
LRA dibukukan sebagai pengurang pendapatan-LRA pada periode yang sama.

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas


penerimaan pendapatan-LRA yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan
sebagai pengurang Saldo Anggaran Lebih pada periode ditemukannya koreksi
dan pengembalian tersebut.

c. Akuntansi Belanja

Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum
Daerah.

Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya terjadi pada


saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan.

Dalam hal badan layanan umum, belanja diakui dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.

Koreksi atas pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada
periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode
yang sama. Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas pengeluaran
belanja dibukukan dalam pendapatan-LRA dalam pos pendapatan lain-lain-LRA.

d. Akuntansi Surplus/Defisit
Selisih antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan
dicatat dalam pos Surplus/defisit-LRA.
Surplus-LRA adalah selisih lebih antara pendapatan-LRA dan belanja selama
satu periode pelaporan.
Defisit-LRA adalah selisih kurang antara pendapatan-LRA dan belanja selama
satu periode pelaporan.
e. Akuntansi Penerimaan Pembiayaan
Penerimaan pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Daerah.
Akuntansi penerimaan pembiayaan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu
dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya
(setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
Pencairan Dana Cadangan mengurangi Dana Cadangan yang bersangkutan.
f. Akuntansi Pengeluaran Pembiayaan
Pengeluaran pembiayaan adalah semua pengeluaran Rekening Kas Umum
Daerah antara lain pemberian pinjaman kepada pihak ketiga, penyertaan modal
Pemerintah Kabupaten Siak, pembayaran kembali pokok pinjaman dalam periode
tahun anggaran tertentu, dan pembentukan dana cadangan.
Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan dari Rekening Kas Umum
Daerah.
g. Akuntansi Pembiayaan Neto
Selisih lebih/kurang antara penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama
satu periode pelaporan dicatat dalam Pembiayaan Neto.
h. Akuntansi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/ SiKPA)
Selisih lebih/kurang antara realisasi pendapatan-LRA dan belanja serta
penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama satu periode pelaporan dicatat
dalam pos SiLPA/SiKPA.
Sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran pada akhir periode pelaporan
dipindahkan ke Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih.

2. Penyajian Laporan Arus Kas


Laporan arus kas adalah bagian dari laporan finansial yang menyajikan informasi
penerimaan dan pengeluaran kas selama periode tertentu yang diklasifikasikan
berdasarkan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris.
Entitas pelaporan mengungkapkan komponen kas dan setara kas dalam Laporan
Arus Kas yang jumlahnya sama dengan pos terkait di Neraca.
Entitas pelaporan mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan
yang tidak boleh digunakan oleh entitas. Hal ini dijelaskan dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
Contoh kas dan setara kas yang tidak boleh digunakan oleh entitas adalah kas yang
ditempatkan sebagai jaminan dan kas yang dikhususkan penggunaan untuk kegiatan
tertentu.

3. Laporan Operasional
Entitas pelaporan menyajikan pendapatan-LO yang diklasifikasikan menurut sumber
pendapatan.

Entitas pelaporan menyajikan beban yang diklasifikasikan menurut klasifikasi jenis


beban.

Klasifikasi pendapatan-LO menurut sumber pendapatan maupun klasifikasi beban


menurut ekonomi, pada prinsipnya merupakan klasifikasi yang menggunakan dasar
klasifikasi yang sama yaitu berdasarkan jenis.

a. Akuntansi Pendapatan-LO
Pendapatan-LO diakui pada saat:
- Timbulnya hak atas pendapatan;
- Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.

Pendapatan-LO yang diperoleh berdasarkan peraturan perundang-undangan


diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih pendapatan.

Pendapatan-LO yang diperoleh sebagai imbalan atas suatu pelayanan yang telah
selesai diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan, diakui pada saat
timbulnya hak untuk menagih imbalan.

Pendapatan-LO yang diakui pada saat direalisasi adalah hak yang telah diterima
oleh Pemerintah Kabupaten Siak tanpa terlebih dahulu adanya penagihan.

Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan


membukukan pendapatan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).

Dalam hal badan layanan umum, pendapatan diakui dengan mengacu pada
peraturan perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas pendapatan-LO
pada periode penerimaan maupun pada periode sebelumnya dibukukan sebagai
pengurang pendapatan.

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (nonrecurring) atas


pendapatan-LO yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan
sebagai pengurang pendapatan pada periode yang sama.

Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (nonrecurring) atas


pendapatan-LO yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai
pengurang ekuitas pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian
tersebut.

Akuntansi pendapatan-LO meliputi kebijakan akuntansi pendapatan-LO untuk


PPKD dan kebijakan akuntansi pendapatan-LO untuk OPD.

Pengakuan Pendapatan-LO pada PPKD


Pendapatan Asli Daerah:
Merupakan pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan
Peraturan Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan. Pendapatan
tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu PAD Melalui
Penetapan, PAD Tanpa Penetapan, dan PAD dari Hasil Eksekusi Jaminan.

Pendapatan Transfer
Pendapatan transfer diakui pada saat terbitnya peraturan mengenai penetapan
alokasi definitif dana yang akan ditransfer.
Apabila tidak terdapat alokasi definitif maka pendapatan transfer diakui pada
saat diterima di kas daerah.
Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
Lain-lain pendapatan yang sah diakui pada saat diterima di kas daerah.
Merupakan kelompok pendapatan lain yang tidak termasuk dalam kategori
pendapatan sebelumnya. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah pada PPKD,
antara lain meliputi Pendapatan Hibah baik dari Pemerintah Pemerintah
Kabupaten Siak Lainnya, Badan/Lembaga/ Organisasi Swasta Dalam Negeri,
maupun Kelompok Masyarakat/ Perorangan. Naskah Perjanjian Hibah yang
ditandatangani belum dapat dijadikan dasar pengakuan pendapatan LO
mengingat adanya proses dan persyaratan untuk realisasi pendapatan hibah
tersebut.
Pendapatan Non Operasional:

Pendapatan Non Operasional mencakup antara lain Surplus Penjualan Aset


Nonlancar, Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang, Surplus dari
Kegiatan Non Operasional Lainnya. Pendapatan Non Operasional diakui ketika
dokumen sumber berupa Berita Acara kegiatan (misal: Berita Acara Penjualan
untuk mengakui Surplus Penjualan Aset Non lancar) telah diterima.

Pendapatan-LO dari Kegiatan Non Operasional

Pendapatan-LO yang sifatnya tidak rutin perlu dikelompokkan tersendiri dalam


kegiatan non operasional.

Termasuk dalam pendapatan-LO dari kegiatan non operasional antara lain


pendapatan-LO penjualan aset non lancar, dan pendapatan-LO dari kegiatan non
operasional lainnya.

Transaksi pendapatan-LO dalam bentuk barang/jasa


Transaksi pendapatan-LO dalam bentuk barang/jasa harus dilaporkan dalam
Laporan Operasional dengan cara menaksir nilai wajar barang/jasa tersebut pada
tanggal transaksi. Di samping itu, transaksi semacam ini juga harus diungkapkan
sedemikian rupa pada Catatan atas Laporan Keuangan sehingga dapat
memberikan semua informasi yang relevan mengenai bentuk dari pendapatan-
LO.
Transaksi pendapatan-LO dalam bentuk barang/jasa antara lain hibah dalam
wujud barang, barang rampasan, dan jasa konsultansi.
b. Akuntansi Beban
Beban diakui pada saat:
- timbulnya kewajiban;
- terjadinya konsumsi aset; dan
- terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.

Saat timbulnya kewajiban adalah saat terjadinya peralihan hak dari pihak lain ke
Pemerintah Kabupaten Siak tanpa diikuti keluarnya kas dari kas umum daerah.
Contohnya tagihan rekening telepon dan rekening listrik yang belum dibayar
Pemerintah Kabupaten Siak.

Yang dimaksud dengan terjadinya konsumsi aset adalah saat pengeluaran kas
kepada pihak lain yang tidak didahului timbulnya kewajiban dan/atau konsumsi
aset non kas dalam kegiatan operasional Pemerintah Kabupaten Siak.

Terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa terjadi pada saat
penurunan nilai aset sehubungan dengan penggunaan aset
bersangkutan/berlalunya waktu. Contoh penurunan manfaat ekonomi atau potensi
jasa adalah penyusutan atau amortisasi.

Dalam hal badan layanan umum, beban diakui dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.

Beban diklasifikasikan menurut klasifikasi ekonomi.

Penyusutan/amortisasi dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus


(straight line method).

Beban Transfer adalah beban berupa pengeluaran uang atau kewajiban untuk
mengeluarkan uang dari entitas pelaporan kepada suatu entitas pelaporan lain
yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.

Koreksi atas beban, termasuk penerimaan kembali beban, yang terjadi pada
periode beban dibukukan sebagai pengurang beban pada periode yang sama.
Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas beban dibukukan dalam
pendapatan lain-lain. Dalam hal mengakibatkan penambahan beban dilakukan
dengan pembetulan pada akun ekuitas.

4. Perubahan Ekuitas
Laporan perubahan ekuitas menyediakan informasi mengenai saldo awal ekuitas,
perubahan ekuitas dan saldo akhir ekuitas dari suatu entitas pelaporan. Informasi
tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan
mengenai akuntabilitas dan ketaatan entitas pelaporan.
5. Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL)
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL) menyediakan informasi mengenai
saldo anggaran lebih awal, mutasi perubahan saldo anggaran lebih, dan saldo
anggaran lebih akhir suatu entitas pelaporan. Informasi tersebut berguna bagi para
pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai akuntabilitas dan
ketaatan entitas pelaporan.
6. Neraca
a. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas adalah uang tunai dan saldo simpanan di bank yang setiap
saat dapat digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan yang sangat likuid
yang siap dijabarkan/dicairkan menjadi kas serta bebas dari risiko perubahan nilai
yang signifikan.

Kas juga meliputi seluruh Uang Yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD)


yang wajib dipertanggungjawabkan dan dilaporkan dalam neraca.

Saldo simpanan di bank yang setiap saat dapat ditarik atau digunakan untuk
melakukan pembayaran.

Dalam pengertian kas ini juga termasuk setara kas. Setara kas Pemerintah
Kabupaten Siak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kas jangka pendek atau
untuk tujuan lainnya. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi jangka
pendek harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang dapat
diketahui tanpa ada risiko perubahan nilai yang signifikan. Oleh karena itu, suatu
investasi disebut setara kas kalau investasi dimaksud mempunyai masa jatuh
tempo kurang 3 (tiga) bulan dari tanggal perolehannya.

Kas Pemerintah Kabupaten Siak mencakup kas yang dikuasai, dikelola dan
dibawah tanggung jawab bendahara umum daerah (BUD) dan kas yang dikuasai,
dikelola dan di bawah tanggung jawab selain bendahara umum daerah.

Kas Pemerintah Kabupaten Siak yang dikuasai dan dibawah tanggung jawab
bendahara umum daerah terdiri dari:

- saldo rekening kas daerah, yaitu saldo rekening-rekening pada bank yang
ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung penerimaan dan
pengeluaran.
- setara kas, antara lain berupa surat utang negara (SUN)/obligasi dan deposito
kurang dari 3 bulan, yang dikelola oleh bendahara umum daerah.

Kas dicatat sebesar nilai nominal. Nilai nominal artinya disajikan sebesar nilai
rupiahnya. Apabila terdapat kas dalam bentuk valuta asing, dikonversi menjadi
rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.
Kas dan setara kas harus disajikan dalam Neraca dan Laporan Arus Kas.

Mutasi antar pos-pos kas dan setara kas tidak diinformasikan dalam laporan
keuangan karena kegiatan tersebut merupakan bagian dari manajemen kas dan
bukan merupakan bagian dari

aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris pada Laporan Arus Kas.

b. Piutang
Piuatang adalah
Piutang diklasifikasikan menjadi:
1. Bagian Lancar Piutang, antara lain:
- Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran;
- Bagian Lancar Pinjaman kepada BUMD dan Lembaga Lainnya;
- Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi;
2. Piutang dari Pungutan Pendapatan Daerah;
3. Piutang dari Perikatan;
4. Piutang dari Transfer Antar Pemerintahan;
5. Piutang dari Kerugian Daerah; dan
6. Piutang Lainnya.

Pengakuan Piutang dari Pungutan Pendapatan Daerah


Piutang pajak, piutang retribusi, dan piutang pendapatan asli daerah lainnya yang
berasal dari pungutan pendapatan daerah untuk dapat diakui sebagai piutang
harus memenuhi kriteria:
- telah diterbitkan surat ketetapan; dan/atau
- telah diterbitkan surat penagihan dan telah dilaksanakan penagihan.
Terdapat dua cara yang digunakan untuk pemungutan pajak, yaitu:
- self assessment, dimana wajib pajak menaksir serta menghitung pajaknya
sendiri; dan
- penetapan oleh dinas pelayanan pajak.

Piutang Pendapatan Daerah Selain Pajak

Piutang yang timbul dari pungutan pendapatan daerah selain pajak banyak sekali
jenisnya. Di lingkup Pemerintah Kabupaten Siak antara lain terdapat piutang
retribusi, yaitu imbalan yang dipungut oleh Pemerintah Kabupaten Siak dari
masyarakat sehubungan dengan pelayanan yang diberikan, misalnya retribusi
kesehatan dan izin trayek.

Piutang selain pajak ini baru dapat diproses dalam sistem akuntansi apabila telah
ditetapkan jumlahnya, yang ditandai dengan terbitnya surat penagihan atau
ketetapan. Disamping itu apabila pada akhir periode pelaporan masih ada tagihan
pendapatan yang belum ada surat penagihannya, satuan kerja dimaksud wajib
menghitung besarnya piutang tersebut dan selanjutnya menyiapkan dokumen
sebagai dasar untuk menagih. Dokumen inilah yang menjadi dokumen sumber
untuk mengakui piutang, untuk disajikan dineraca.

Piutang Retribusi diakui apabila satuan kerja telah memberikan pelayanan sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

Piutang atas bagian laba BUMD timbul apabila pada suatu tahun buku telah
diselenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan dalam RUPS
tersebut telah ditetapkan besarnya bagian laba yang harus disetor ke kas daerah.
Apabila persyaratan dokumen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan telah dipenuhi, namun sampai dengan tanggal 31 Desember belum
diterima pembayarannya, maka pada akhir tahun buku diakui adanya piutang atas
bagian laba BUMN/D.

Terhadap piutang-piutang yang telah lama dan sulit untuk ditagih akan
dilimpahkan ke institusi yang ditunjuk untuk melakukan proses penagihan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Terhadap piutang yang telah dilimpahkan ini,
satuan kerja yang mempunyai piutang tetap mengakui piutang tersebut sebagai
asetnya di Neraca satuan kerja yang bersangkutan dan harus mengungkapkan
mengenai piutang yang dilimpahkan penagihannya ke institusi yang ditunjuk
untuk melakukan proses penagihan pada Catatan atas Laporan Keuangan.

Penghapusan piutang dilakukan dengan mekanisme sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan yang berlaku. Piutang yang telah dihapus
bukukan tersebut, tetap harus dipelihara pencatatannya secara ekstra komptabel.

Pengukuran Piutang dari Pungutan Pendapatan Daerah


Piutang yang timbul karena ketentuan perundang-undangan diakui setelah
diterbitkan surat tagihan dan dicatat sebesar nilai nominal yang tercantum dalam
tagihan.

Pengukuran piutang pendapatan yang berasal dari peraturan perundang-


undangan adalah sebagai berikut:

a. Disajikan sebesar nilai yang belum dilunasi sampai dengan tanggal pelaporan
dari setiap tagihan yang ditetapkan berdasarkan surat ketetapan kurang bayar
yang diterbitkan;
b. Disajikan sebesar nilai yang belum dilunasi sampai dengan tanggal pelaporan
dari setiap tagihan yang telah ditetapkan terutang oleh Pengadilan Pajak
untuk WP yang mengajukan banding;
c. Disajikan sebesar nilai yang belum dilunasi sampai dengan tanggal pelaporan
dari setiap tagihan yang masih proses banding atas keberatan dan belum
ditetapkan oleh lembaga yang menangani peradilan pajak;
d. Disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value)
untuk piutang yang tidak diatur dalam undang-undang tersendiri dan kebijakan
penyisihan piutang tidak tertagih telah diatur oleh Pemerintah Kabupaten Siak.

Pengakuan Piutang dari Perikatan


Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan hak tagih akibat dari perikatan
sebagaimana dikemukakan di atas, yaitu peristiwa yang timbul dari pemberian
pinjaman, penjualan, kemitraan, dan pemberian fasilitas/jasa, dapat diakui
sebagai piutang dan dicatat sebagai aset di neraca, apabila memenuhi kriteria:
a. Harus didukung dengan naskah perjanjian yang menyatakan hak dan
kewajiban secara jelas;
b. Jumlah piutang dapat diukur;
c. Telah diterbitkan surat penagihan dan telah dilaksanakan penagihan;
d. Belum dilunasi sampai dengan akhir periode pelaporan;
Pengukuran Piutang dari Perikatan
Piutang pemberian pinjaman dinilai dengan jumlah yang dikeluarkan dari kas
daerah dan/atau apabila berupa barang/jasa harus dinilai dengan nilai wajar pada
tanggal pelaporan atas barang/jasa tersebut. Apabila dalam naskah perjanjian
pinjaman diatur mengenai kewajiban bunga, denda, commitment fee dan atau
biaya-biaya pinjaman lainnya, maka pada akhir periode pelaporan harus diakui
adanya bunga, denda, commitment fee dan/atau biaya lainnya pada periode
berjalan yang terutang (belum dibayar) pada akhir periode pelaporan.

Piutang dari penjualan diakui sebesar nilai sesuai naskah perjanjian


penjualan yang terutang (belum dibayar) pada akhir periode pelaporan. Apabila
dalam perjanjian dipersyaratkan adanya potongan pembayaran maka nilai piutang
harus dicatat sebesar nilai bersihnya.

Piutang yang timbul diakui berdasarkan ketentuan-ketentuan yang


dipersyaratkan dalam naskah perjanjian kemitraan.

Piutang yang timbul diakui berdasarkan pemberian fasilitas atau jasa yang telah
diberikan oleh pemerintah pada akhir periode pelaporan, dikurangi dengan
pembayaran atau uang muka yang telah diterima.

Pengakuan Piutang dari Transfer antar Pemerintah


Piutang Dana Bagi Hasil (DBH), Piutang DBH dihitung berdasarkan realisasi
penerimaan pajak dan penerimaan hasil sumber daya alam yang menjadi hak
daerah yang belum ditransfer. Nilai definitif jumlah yang menjadi hak Pemerintah
Kabupaten Siak pada umumnya ditetapkan menjelang berakhirnya suatu tahun
anggaran. Apabila alokasi definitif menurut Surat Keputusan Menteri Keuangan
telah ditetapkan, tetapi masih ada hak daerah yang belum dibayarkan sampai
dengan akhir tahun anggaran, maka jumlah tersebut dicatat sebagai piutang DBH
oleh Pemerintah Kabupaten Siak dengan catatan adanya surat pemberitahuan
yang dikirim setelah ada kepastian bahwa entitas penyalur punya kewajiban untuk
menyalurkannya.
Piutang Dana Alokasi Umum (DAU), diakui sebesar jumlah yang belum ditransfer
oleh pemerintah pusat ke Pemerintah Kabupaten Siak atau jumlah yang belum
ditransfer dari perbedaan antara total alokasi DAU menurut Peraturan Presiden
dengan realisasi pembayarannya dalam satu tahun anggaran dengan catatan
adanya surat pemberitahuan yang dikirim setelah ada kepastian bahwa entitas
penyalur punya kewajiban untuk menyalurkannya.
Piutang Dana Alokasi Khusus (DAK), diakui sebesar jumlah yang belum ditransfer
oleh pemerintah pusat ke Pemerintah Kabupaten Siak atau jumlah yang belum
ditransfer dari perbedaan antara total alokasi DAK menurut Peraturan Presiden
dengan realisasi pembayarannya dalam satu tahun anggaran dengan catatan
adanya surat pemberitahuan yang dikirim setelah ada kepastian bahwa entitas
penyalur punya kewajiban untuk menyalurkannya.
Piutang Transfer lainnya diakui sebesar sisa yang belum ditransfer akan menjadi
hak tagih atau piutang bagi Pemerintah Kabupaten Siak penerima. Apabila dalam
pencairan dana diperlukan persyaratan, misalnya tingkat penyelesaian pekerjaan
tertentu, maka timbulnya hak tagih pada saat persyaratan sudah dipenuhi, tetapi
belum dilaksanakan pembayarannya dengan catatan adanya surat
pemberitahuan yang dikirim setelah ada kepastian bahwa entitas penyalur punya
kewajiban untuk menyalurkannya.
Piutang transfer antar daerah diakui dan dihitung berdasarkan hasil realisasi
pendapatan yang bersangkutan yang menjadi hak/bagian Pemerintah Kabupaten
Siak penerima yang belum dibayar dengan catatan adanya surat pemberitahuan
yang dikirim setelah ada kepastian bahwa entitas penyalur punya kewajiban untuk
menyalurkannya. Jika dari laporan keuangan entitas pemberi transfer terdapat
nilai utang transfer yang diestimasi untuk pemerintah Kabupaten Siak, maka nilai
dimaksud tidak dapat dijadikan dasar pencatatan piutang bagi pemerintah
Kabupaten Siak.

Pengukuran Piutang dari Transfer antar Pemerintah


Pengukuran piutang transfer adalah sebagai berikut:
a. Dana Bagi Hasil (DBH) disajikan sebesar nilai yang belum diterima sampai
dengan tanggal pelaporan dari setiap tagihan yang ditetapkan
berdasarkan ketentuan transfer yang berlaku;
b. Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar jumlah yang belum diterima, dalam hal
terdapat kekurangan transfer DAU dari pemerintah pusat ke Pemerintah
Kabupaten Siak;
c. Dana Alokasi Khusus (DAK), disajikan sebesar klaim yang telah diverifikasi
dan disetujui oleh Pemerintah Pusat.

Pengakuan Piutang dari Kerugian Daerah


Peristiwa yang menimbulkan hak tagih berkaitan dengan TP/TGR, harus
didukung dengan bukti Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTM), yang
menunjukkan bahwa penyelesaian atas TP/TGR dilakukan dengan cara damai (di
luar pengadilan). SKTM merupakan surat keterangan tentang pengakuan bahwa
kerugian tersebut menjadi tanggung jawab seseorang dan bersedia mengganti
kerugian tersebut. Apabila penyelesaian TP/TGR tersebut dilaksanakan melalui
jalur pengadilan, pengakuan piutang baru dilakukan setelah ada surat ketetapan
yang telah diterbitkan oleh instansi yang berwenang.
Pengukuran Piutang dari Kerugian Daerah
Pengukuran piutang ganti rugi dilakukan sebagai berikut:
a. Disajikan sebagai aset lancar sebesar nilai yang jatuh tempo dalam tahun
berjalan dan yang akan ditagih dalam 12 (dua belas) bulan ke depan
berdasarkan surat ketentuan penyelesaian yang telah ditetapkan;
b. Disajikan sebagai aset lainnya terhadap nilai yang akan dilunasi di atas 12
(dua belas) bulan berikutnya.
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih dan Kualitas Piutang

Aset berupa piutang di neraca harus terjaga agar nilainya sama dengan nilai
bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value).

Alat untuk menyesuaikan adalah dengan melakukan penyisihan piutang tidak


tertagih. Kebijakan penyisihan piutang tidak tertagih harus dirumuskan dengan
sikap penuh hati-hati. Sikap kehati-hatian ini sangat diperlukan agar kebijakan ini
mampu menghasilkan nilai yang diharapkan dapat ditagih atas piutang yang ada
pertanggal neraca.

Penyisihan piutang tak tertagih bukan merupakan penghapusan piutang.


Dengan demikian, nilai penyisihan piutang tak tertagih akan selalu dimunculkan
dalam laporan keuangan, paling tidak dalam CaLK, selama piutang pokok masih
tercantum atau belum dihapuskan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Penyisihan Piutang Tidak Tertagih adalah cadangan yang harus dibentuk sebesar
persentase tertentu dari akun piutang berdasarkan penggolongan kualitas
piutang.

Kualitas Piutang adalah kriteria atas ketertagihan piutang yang diukur


berdasarkan kepatuhan membayar kewajiban oleh debitor.

Penyisihan piutang diperhitungkan dan dibukukan dengan periode yang sama


timbulnya piutang, sehingga dapat menggambarkan nilai yang betul-betul
diharapkan dapat ditagih. Penyisihan piutang yang kemungkinan tidak tertagih
dapat diprediksi berdasarkan pengalaman masa lalu dengan melakukan analisa
terhadap saldo-saldo piutang yang masih outstanding.

Penyisihan Piutang Tidak Tertagih pada Pemerintah Kabupaten Siak wajib


dilaksanakan berdasarkan prinsip kehati-hatian.

Dalam rangka melaksanakan prinsip kehati-hatian Pemerintah Kabupaten Siak


wajib:

a. menilai Kualitas Piutang;


b. memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar hasil
penagihan piutang yang telah disisihkan senantiasa dapat direalisasikan.
Penilaian Kualitas Piutang dilakukan dengan mempertimbangkan sekurang-
kurangnya:
a. jatuh tempo Piutang; dan
b. upaya penagihan.
Kualitas Piutang ditetapkan dalam 4 (empat) golongan, yaitu:
a. kualitas lancar,
b. kualitas kurang lancar,
c. kualitas diragukan, dan
d. kualitas macet.

Pengungkapan
Setelah disajikan di neraca, informasi mengenai akun piutang sekurang-kurang
harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi dimaksud
dapat berupa:
a. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penilaian, pengakuan dan
pengukuran piutang;
b. Rincian jenis piutang dan saldo menurut umur;
c. Penjelasan atas penyelesaian piutang, misalnya informasi mengenai piutang
TP/TGR yang masih dalam proses penyelesaian baik secara damai maupun
pengadilan; dan
d. Informasi lainnya yang dianggap penting.
c. Persediaan
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-
barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan merupakan aset yang berwujud yang berupa:


a. Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan
operasional Pemerintah Kabupaten Siak;
b. Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi;
c. Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat.
d. Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam
rangka kegiatan pemerintahan;

Persediaan mencakup barang atau perlengkapan yang dibeli dan disimpan untuk
digunakan, misalnya barang habis pakai seperti alat tulis kantor, barang tak habis
pakai seperti komponen peralatan dan pipa, dan barang bekas pakai seperti
komponen bekas tidak termasuk didalamnya penggandaan/fotocopy dokumen.

Dalam hal Pemerintah Kabupaten Siak memproduksi sendiri, persediaan juga


meliputi barang yang digunakan dalam proses produksi seperti bahan baku
pembuatan alat-alat pertanian.

Dalam hal pemerintah menyimpan barang untuk tujuan cadangan strategis seperti
cadangan energi (misalnya minyak) atau untuk tujuan berjaga-jaga seperti pupuk,
cadangan pangan (misalnya beras), barang-barang dimaksud diakui sebagai
persediaan.

Persediaan hewan dan tanaman untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat
sebagaimana dimaksud pada paragraf sebelumnya misalnya sapi,
kerbau,kambing, kuda, ikan, benih padi dan bibit tanaman.

Persediaan dalam kondisi rusak, usang atau kadaluarsa tidak dilaporkan dalam
neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Termasuk
dalam kategori usang adalah barang kuasi yang sudah tidak berlaku lagi.

Pengadaan/pembelian/perolehan lainnya yang sah atas barang yang tidak masuk


kategori aset tetap dianggarkan pada kode rekening jenis belanja barang dan jasa
dengan objek belanja barang non aset tetap.
Pengadaan/pembelian/perolehan lainnya yang sah atas barang yang tidak masuk
kategori asset tetap dianggarkan pada kode rekening jenis belanja barang dan
jasa dengan objek belanja barang non kapitalisasi/non aset tetap.

Belanja barang peralatan dapur yang tidak memenuhi nilai kapitalisasi dan barang
yang memiliki criteria ”barang pecah belah” diperlakukan sebagai persediaan
pakai habis, dengan pertimbangan barang tersebut relatif mudah tidak berfungsi
karena mudah pecah atau rusak dan hilang.

Barang berupa tirai/gorden/vertical atau horizontal blind/sejenisnya


karpet/wallpaper dan barang sejenis diperlakukan sebagai persediaan.

Belanja barang berupa flashdisk/usb/sejenis diperlakukan sebagai persediaan


pakai habis, dengan pertimbangan bahwa barang tersebut relatif mudah hilang.

Perlengkapan tidur dan perlengkapan lainnya (misal: sarung bantal guling, Sprey,
selimut, bedcover, handuk, dan sejenisnya) diperlakukan sebagai persediaan
pakai habis.

Pengakuan Persediaan
Persediaan diakui pada saat:
a. Potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh Pemerintah Kabupaten Siak
dan mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
b. Diterima atau hak kepemilikannya dan/atau kepenguasaannya berpindah.
Pada akhir periode akuntansi, persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi
fisik (stock opname).

Pengukuran Persediaan
Persediaan disajikan sebesar:
a. Biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian;
b. Harga pokok produksi apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
c. Nilai wajar, apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti
donasi/rampasan, hasil pengembangbiakan hewan atau tanaman yang akan
dijual atau diserahkan kepada masyarakat.
Persediaan dinilai dengan menggunakan harga pembelian terakhir.
Harga pembelian terakhir adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir
diperoleh.
Beban Persediaan
Beban persediaan dicatat sebesar pemakaian persediaan (use of goods).

Penghitungan beban persediaan dilakukan dalam rangka penyajian Laporan


Operasional.

Dalam hal persediaan dicatat secara periodik, maka pengukuran pemakaian


persediaan dihitung berdasarkan inventarisasi fisik, yaitu dengan cara saldo awal
persediaan ditambah pembelian atau perolehan persediaan dikurangi dengan
saldo akhir persediaan dikalikan nilai per unit sesuai dengan metode penilaian
yang digunakan.

Kebijakan akuntansi ini mencatat persediaan secara periodik.

Khusus untuk OPD/BLUD Rumah Sakit/Puskesmas yang mengelola persediaan


obat-obatan/alat medis/alat kedokteran kebijakan akuntansi persediaan
menerapkan pencatatan perpetual dan penilaian dengan metode masuk pertama
keluar pertama (FIFO).

Pengungkapan

Laporan keuangan mengungkapkan:


a. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan;
b. Penjelasan lebih lanjut persediaan seperti barang atau perlengkapan yang
digunakan dalam pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang
digunakan dalam proses produksi, barang yang disimpan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih dalam proses
produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat;
c. Jenis, jumlah, dan nilai persediaan dalam kondisi rusak atau usang.
d. Investasi
Suatu pengeluaran kas atau aset dapat diakui sebagai investasi apabila
memenuhi salah satu kriteria:
a. Kemungkinan manfaat ekonomik dan manfaat sosial atau jasa pontensial di
masa yang akan datang atas suatu investasi tersebut dapat diperoleh
Pemerintah Kabupaten Siak;
b. Nilai perolehan atau nilai wajar investasi dapat diukur secara memadai
(reliable).
Pengeluaran untuk perolehan investasi jangka pendek diakui sebagai
pengeluaran kas Pemerintah Kabupaten Siak dan tidak dilaporkan sebagai
belanja dalam laporan realisasi anggaran, sedangkan pengeluaran untuk
memperoleh investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran pembiayaan.

Pengukuran Investasi

Untuk beberapa jenis investasi, terdapat pasar aktif yang dapat membentuk nilai
pasar, dalam hal investasi yang demikian nilai pasar dipergunakan sebagai dasar
penerapan nilai wajar. Sedangkan untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang
aktif dapat dipergunakan nilai nominal, nilai tercatat atau nilai wajar lainnya.

Investasi jangka pendek dalam bentuk surat berharga, misalnya saham dan
obligasi jangka pendek, dicatat sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan
investasi meliputi harga transaksi investasi itu sendiri ditambah komisi perantara
jual beli, jasa bank dan biaya lainnya yang timbul dalam rangka perolehan
tersebut.

Apabila investasi dalam bentuk surat berharga diperoleh tanpa biaya perolehan,
maka investasi dinilai berdasar nilai wajar investasi pada tanggal perolehannya
yaitu sebesar harga pasar. Apabila tidak ada nilai wajar, biaya perolehan setara
kas yang diserahkan atau nilai wajar aset lain yang diserahkan untuk memperoleh
investasi tersebut.

Investasi jangka pendek dalam bentuk non saham, misalnya dalam bentuk
deposito jangka pendek dicatat sebesar nilai nominal deposito tersebut.

Investasi jangka panjang yang bersifat permanen misalnya penyertaan modal


Pemerintah Kabupaten Siak, dicatat sebesar biaya perolehannya meliputi harga
transaksi investasi itu sendiri ditambah biaya lain yang timbul dalam rangka
perolehan investasi tersebut.

Investasi non permanen misalnya dalam bentuk pembelian obligasi jangka


panjang dan investasi yang dimaksudkan tidak untuk dimiliki berkelanjutan, dinilai
sebesar nilai perolehannya. Sedangkan investasi dalam bentuk dana talangan
untuk penyehatan perbankan yang akan segera dicairkan dinilai sebesar nilai
bersih yang dapat direalisasikan.
Investasi non permanen dalam bentuk penanaman modal di proyek-proyek
pembangunan Pemerintah Kabupaten Siak (seperti Proyek PIR, Inkubator) dinilai
sebesar biaya pembangunan termasuk biaya yang dikeluarkan untuk
perencanaan dan biaya lain yang dikeluarkan dalam rangka penyelesaian proyek
sampai proyek tersebut diserahkan ke pihak ketiga.

Apabila investasi jangka panjang diperoleh dari pertukaran aset Pemerintah


Kabupaten Siak, maka nilai investasi yang diperoleh Pemerintah Kabupaten Siak
adalah sebesar biaya perolehan, atau nilai wajar investasi tersebut jika harga
perolehannya tidak ada.

Harga perolehan investasi dalam valuta asing harus dinyatakan dalam rupiah
dengan menggunakan nilai tukar (kurs tengah bank sentral) yang berlaku pada
tanggal transaksi.

Diskonto atau premi pada pembelian investasi diamortisasi selama periode dari
pembelian sampai saat jatuh tempo sehingga hasil yang konstan diperoleh dari
investasi tersebut.

Diskonto atau premi yang diamortisasi tersebut dikreditkan atau didebitkan pada
pendapatan bunga, sehingga merupakan penambahan atau pengurangan dari
nilai tercatat investasi (carriying value) tersebut.

Pengakuan Hasil Investasi

Hasil investasi yang diperoleh dari investasi jangka pendek, antara lain berupa
bunga deposito, bunga obligasi dan deviden tunai (cash dividend) diakui pada
saat diperoleh dan dicatat sebagai pendapatan.

Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal
Pemerintah Kabupaten Siak yang pencatatannya menggunakan metode biaya,
dicatat sebagai pendapatan hasil investasi. Sedangkan apabila menggunakan
metode ekuitas, bagian laba berupa deviden tunai yang diperoleh oleh Pemerintah
Kabupaten Siak akan dicatat sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi
nilai investasi Pemerintah Kabupaten Siak. Dividen dalam bentuk saham yang
diterima tidak akan menambah nilai investasi Pemerintah Kabupaten Siak.

Hasil investasi berupa bunga dari bagi hasil investasi non permanen dana
bergulir dicatat sebagai pendapatan.
Pelepasan dan Pemindahan Investasi

Pelepasan investasi Pemerintah Kabupaten Siak dapat terjadi karena penjualan,


dan pelepasan hak karena peraturan Pemerintah Kabupaten Siak dan lain
sebagainya.

Penerimaan dari penjualan investasi jangka pendek diakui sebagai penerimaan


kas Pemerintah Kabupaten Siak dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan dalam
laporan realisasi anggaran, sedangkan penerimaan dari pelepasan investasi
jangka panjang diakui sebagai penerimaan pembiayaan. Pelepasan sebagian dari
investasi tertentu yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Siak dinilai dengan
menggunakan nilai rata-rata.

Pemindahan pos investasi dapat berupa reklasifikasi investasi permanen menjadi


investasi jangka pendek, aset tetap, aset lain-lain dan sebaliknya.

Penyisihan Investasi Non Permanen yang Tidak Dapat Tertagih

Penyisihan investasi non permanen tidak tertagih adalah cadangan yang dibentuk
sebesar persentase (%) tertentu dari akun investasi non permanen berdasarkan
penggolongan kualitas investasi non permanen.

Kualitas investasi non permanen adalah hampiran atas ketertagihan investasi non
permanen yang diukur berdasarkan kepatuhan membayar kewajiban oleh pihak
ketiga penerima invetasi non permanen/debitor.

Kualitas investasi non permanen ditetapkan dalam 4 (empat) golongan, yaitu:


a. kualitas lancar,
b. kualitas kurang lancar,
c. kualitas diragukan, dan
d. kualitas macet.

Penilaian kualitas investasi nonpermanen dilakukan berdasarkan kondisi investasi


non permanen pada tanggal laporan keuangan.

Pengungkapan

Hal-hal lain yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan Pemerintah


Kabupaten Siak berkaitan dengan investasi Pemerintah Kabupaten Siak, antara
lain:
a. Kebijakan akuntansi untuk penentuan nilai investasi;
b. Jenis-jenis investasi, investasi permanen dan non permanen;
c. Perubahan harga pasar baik investasi jangka pendek maupun investasi
jangka panjang;
d. Penurunan nilai investasi yang signifikan dan penyebab penurunan tersebut;
e. Investasi yang dinilai dengan nilai wajar dan alasan penerapannya;
f. Perubahan pos investasi.
Perlakuan Akuntansi atas Pembiayaan Dana Bergulir

Bantuan yang diberikan kepada kelompok masyarakat yang diniatkan akan


dipungut/ditarik kembali oleh Pemerintah Kabupaten Siak apabila kegiatannya
telah berhasil dan selanjutnya akan digulirkan kembali kepada kelompok
masyarakat lainnya sebagai dana bergulir. Rencana pemberian bantuan untuk
kelompok masyarakat di atas dicantumkan di APBD dan dikelompokkan pada
Pengeluaran Pembiayaan yaitu pengeluaran investasi jangka panjang. Terhadap
realisasi penerimaan kembali pembiayaan juga dicatat dan disajikan sebagai
Penerimaan Pembiayaan - Investasi Jangka Panjang. Dengan demikian, dana
bergulir atau bantuan tersebut tidak dimasukkan sebagai Belanja Bantuan Sosial
karena Pemerintah Kabupaten Siak mempunyai niat untuk menarik kembali dana
tersebut dan menggulirkannya kembali kepada kelompok masyarakat lainnya.
Pengeluaran dana tersebut mengakibatkan timbulnya investasi jangka panjang
yang bersifat non permanen dan disajikan di neraca sebagai Investasi Jangka
Panjang.

Bantuan yang diberikan kepada kelompok masyarakat dengan maksud agar


kehidupan kelompok masyarakat tersebut lebih baik tidak dimaksudkan untuk
diminta kembali lagi oleh Pemerintah Kabupaten Siak maka rencana pemberian
bantuan untuk kelompok masyarakat tersebut dianggarkan di APBD sebagai
belanja bantuan sosial. Demikian juga realisasi pembayaran dana tersebut
kepada kelompok masyarakat tersebut dibukukan dan disajikan sebagai Belanja
Bantuan Sosial.

Pengukuran

Pengukuran pembiayaan menggunakan mata uang rupiah berdasarkan nilai


sekarang kas yang diterima atau yang akan diterima oleh nilai sekarang kas yang
dikeluarkan atau yang akan dikeluarkan.
Pembiayaan yang diukur dengan mata uang asing dikonversi ke mata uang
rupiah berdasarkan nilai tukar (kurs tengan Bank Indonesia) pada tanggal
transaksi pembiayaan.

Pengungkapan

Hal-hal yang perlu diungkapkan sehubungan dengan pembiayaan, antara lain:

- Penerimaan dan pengeluaran pembiayaan tahun berkenaan setelah tanggal


berakhirnya tahun anggaran.
- Penjelasan landasan hukum berkenaan dengan penerimaan/pemberian
pinjaman, pembentukan/pencairan dana cadangan, penjualan aset daerah
yang dipisahkan, penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Siak.
- Informasi lainnya yang diangggap perlu.
e. Aset Tetap
Untuk dapat diakui sebagai aset tetap, suatu aset harus berwujud dan memenuhi
seluruh kriteria sebagai berikut:
- Umur pemakaian (manfaat ekonomis) barang yang dibeli lebih dari 12 (dua
belas) bulan;
- Barang yang dibeli merupakan objek pemeliharaan atau barang tersebut
memerlukan biaya/ongkos untuk dipelihara;
- Perolehan barang tersebut untuk digunakan dan dimaksudkan untuk
digunakan serta tidak untuk dijual/ dihibahkan/ disumbangkan/ diserahkan
kepada pihak ketiga; dan
- Nilai rupiah pembelian barang material atau pengeluaran untuk pembelian
barang tersebut memenuhi batasan minimal kapitalisasi aset tetap yang telah
ditetapkan. Namun untuk aset tetap berupa jalan, irigasi, dan jaringan
berapapun nilai perolehannya seluruhnya dikapitalisasi sebagai nilai jalan,
irigasi, dan jaringan.

Jumlah Harga
No. Uraian
Lusin/Set/Satuan (Rp)
1 Tanah 1

2 Peralatan dan Mesin, terdiri atas:


Jumlah Harga
No. Uraian
Lusin/Set/Satuan (Rp)
2.1 Alat-alat Berat 12.500.000
2.2 Alat-alat Angkutan 2.200.000
2.3 Alat-alat Bengkel dan Alat Ukur 950.000
2.4 Alat-alat Pertanian/Peternakan 1.250.000
2.5 Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga
- Alat-alat Kantor 950.000
- Alat-alat Rumah Tangga 500.000
2.6 Alat Studio dan Alat Komunikasi 1.250.000
2.7 Alat-alat Kedokteran 6.250.000
2.8 Alat-alat Laboratorium 3.125.000
2.9 Alat Keamanan 1.250.000

3 Gedung dan Bangunan, yang terdiri atas:


3.1 Bangunan Gedung 18.750.000
3.2 Bangunan Monumen 18.750.000

4 Jalan, Irigasi dan Jaringan, yg terdiri atas:


4.1 Jalan dan Jembatan 1
4.2 Bangunan Air/Irigasi 1
4.3 Instalasi 1
4.4 Jaringan 1

5 Aset Tetap Lainnya, yang terdiri atas:


5.1 Buku dan Perpustakaan *) 125.000
5.2 Barang Bercorak Kesenian/ 315.000
Kebudayaan/Olahraga
5.3 Hewan/Ternak dan Tumbuhan
a. Hewan 375.000
b. Ternak 375.000
c. Tumbuhan Pohon 375.000
d. Tumbuhan Tanaman Hias ekstra komtabel
Jumlah Harga
No. Uraian
Lusin/Set/Satuan (Rp)
6 Konstruksi Dalam Pengerjaan 1

*) Khusus pengadaan buku yang menjadi koleksi pada Badan Perpustakaan dan
Arsip Daerah serta buku materi ajar pada SD/SMTP/SLTA batas kapitalisasi
ditetapkan sebesar Rp. 20.000 (dua puluh ribu rupiah).
Dalam menentukan apakah suatu pos mempunyai manfaat lebih dari 12 (dua
belas) bulan, suatu entitas harus menilai manfaat ekonomik masa depan yang
dapat diberikan oleh pos tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, bagi
kegiatan operasional Pemerintah Kabupaten Siak.
Pengeluaran belanja barang yang tidak memenuhi kriteria belanja modal akan
diperlakukan sebagai ekstra komtabel.

Pengukuran Aset Tetap

Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan
menggunakan biaya perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap
didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.

Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya
langsung untuk tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk
biaya perencanaan dan pengawasan, perlengkapan, tenaga listrik, sewa
peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan pembangunan
aset tetap tersebut.

Komponen Biaya Aset Tetap


Biaya perolehan suatu aset tetap terdiri dari harga belinya atau konstruksinya,
termasuk bea impor dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
dalam membawa aset tersebut ke kondisi yang membuat aset tersebut dapat
bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan.
Penyusutan
Metode penyusutan yang digunakan adalah metode garis lurus (straight line
method);
Penyusutan dihitung 1 (satu) tahun penuh meskipun baru diperoleh 1 (satu) atau 2
(dua) bulan atau bahkan 2 (hari), misalnya: Suatu mesin diperoleh/dibeli/diadakan
pada April 2015 maka penyusutannya dihitung pada tahun 2015.
Akuntansi Aset Lainnya
Aset lainnya adalah aset yang tidak termasuk dalam kategori aset lancar dan aset
non lancar lainnya. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tidak berwujud,
tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan, dan
aset kerjasama dengan pihak ketiga (kemitraan).
Akuntansi Aset Tidak Berwujud
Aset Tidak Berwujud selanjutnya disebut dengan ATB adalah aset non-moneter
yang tidak mempunyai wujud fisik, dan merupakan salah satu jenis aset yang
dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Siak. Aset ini sering dihubungkan dengan hasil
kegiatan entitas dalam menjalankan tugas dan fungsi penelitian dan
pengembangan serta sebagian diperoleh dari proses pengadaan dari luar entitas
Pemerintah Kabupaten Siak.

Definisi ATB mensyaratkan bahwa ATB harus memenuhi kriteria dapat


diidentifikasi, dikendalikan oleh entitas, dan mempunyai potensi manfaat ekonomi
masa depan.

Pengakuan Aset Tidak Berwujud

Pengakuan awal ATB sebesar biaya perolehan untuk ATB yang berasal dari
transaksi pertukaran atau untuk ATB yang dihasilkan dari internal entitas Pemerintah
Kabupaten Siak.

Nilai wajar digunakan untuk ATB yang diperoleh melalui transaksi bukan pertukaran.

Pengakuan Aset Tidak Berwujud

Secara umum, ATB pada awalnya diukur dengan harga perolehan, kecuali ketika
ATB diperoleh dengan cara selain pertukaran diukur dengan nilai wajar.

Perlakuan Khusus Untuk Software Komputer


Dalam pengakuan software komputer sebagai ATB, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan:
a. Untuk software yang diperoleh atau dibangun oleh internal instansi Pemerintah
Kabupaten Siak dapat dibagi menjadi dua, yaitu dikembangkan oleh instansi
pemerintah sendiri atau oleh pihak ketiga. Dalam hal dikembangkan oleh instansi
pemerintah sendiri dimana biasanya sulit untuk mengidentifikasi nilai perolehan
dari software tersebut maka untuk software seperti ini tidak perlu diakui sebagai
ATB, selain itu software seperti ini biasanya bersifat terbuka dan tidak ada
perlindungan hukum hingga dapat dipergunakan siapa saja, maka salah satu
kriteria dari pengakuan ATB yaitu pengendalian atas suatu aset menjadi tidak
terpenuhi. Oleh karena itu untuk software yang dibangun sendiri yang dapat
diakui sebagai ATB adalah yang dikontrakkan kepada pihak ketiga.
b. Dalam kasus perolehan software secara pembelian, harus dilihat secara kasus
per kasus. Untuk pembelian software yang diniatkan untuk dijual atau
diserahkan kepada masyarakat oleh pemerintah maka software seperti ini harus
dicatat sebagai persediaan. Dilain pihak apabila ada software yang dibeli oleh
pemerintah untuk digunakan sendiri namun merupakan bagian integral dari
suatu hardware (tanpa software tersebut hardware tidak dapat dioperasikan),
maka software tersebut diakui sebagai bagian harga perolehan hardware dan
dikapitalisasi sebagai peralatan dan mesin. Biaya perolehan untuk software
program yang dibeli tersendiri dan tidak terkait dengan hardware harus
dikapitalisasi sebagai ATB setelah memenuhi kriteria perolehan aset secara
umum.
Pengeluaran Berikutnya Setelah Perolehan
Sifat alamiah ATB adalah tidak adanya penambahan nilai ATB atau penggantian
dari bagian ATB dimaksud setelah perolehan awal.

Kapitalisasi terhadap pengeluaran setelah perolehan terhadap software komputer


harus memenuhi salah satu kriteria ini:

a. Meningkatkan fungsi software; atau


b. Meningkatkan efisiensi software.

Apabila perubahan yang dilakukan tidak memenuhi salah satu kriteria di atas maka
pengeluaran harus dianggap sebagai beban pemeliharaan pada saat terjadinya.

Amortisasi
Amortisasi adalah penyusutan terhadap ATB yang dialokasikan secara sistematis
dan rasional selama masa manfaatnya.
Amortisasi dilakukan untuk ATB yang memiliki masa manfaat terbatas.
Amortisasi dilakukan dengan berbagai metode seperti metode garis lurus.
f. Kewajiban
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang asing
dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang asing
menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.

Nilai nominal atas kewajiban mencerminkan nilai kewajiban Pemerintah Kabupaten


Siak pada saat pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada
lembar surat utang Pemerintah Kabupaten Siak. Aliran ekonomi setelahnya,
seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian dikarenakan perubahan kurs
valuta asing, dan perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan
dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.

Penggunaan nilai nominal dalam menilai kewajiban mengikuti karakteristik dari


masing-masing pos. Paragraf berikut menguraikan penerapan nilai nominal untuk
masing-masing pos kewajiban pada laporan keuangan.

Utang kepada Pihak Ketiga (Account Payable)

Pada saat Pemerintah Kabupaten Siak menerima hak atas barang, termasuk
barang dalam perjalanan yang telah menjadi haknya, Pemerintah Kabupaten Siak
harus mengakui kewajiban atas jumlah yang belum dibayarkan untuk barang
tersebut

Bila kontraktor membangun fasilitas atau peralatan sesuai dengan spesifikasi yang
ada pada kontrak perjanjian dengan Pemerintah Kabupaten Siak, jumlah yang
dicatat harus berdasarkan realisasi fisik kemajuan pekerjaan sesuai dengan berita
acara kemajuan pekerjaan.

Jumlah kewajiban yang disebabkan transaksi antar unit pemerintahan harus


dipisahkan dengan kewajiban kepada unit non pemerintahan.

Utang Bunga (Accrued Interest)

Utang bunga atas utang Pemerintah Kabupaten Siak harus dicatat sebesar biaya
bunga yang telah terjadi dan belum dibayar. Bunga dimaksud dapat berasal dari
utang Pemerintah Kabupaten Siak baik dari dalam maupun luar negeri. Utang
bunga atas utang Pemerintah Kabupaten Siak yang belum dibayar harus diakui
pada setiap akhir periode pelaporan sebagai bagian dari kewajiban yang berkaitan.
Pengukuran dan penyajian utang bunga di atas juga berlaku untuk sekuritas
Pemerintah Kabupaten Siak yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Siak pusat
dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan yang diterbitkan oleh Pemerintah
Kabupaten Siak daerah (provinsi, kota, dan kabupaten) dalam bentuk dan
substansi yang sama dengan SUN.

Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK)

Pada akhir periode pelaporan, saldo pungutan/potongan berupa PFK yang belum
disetorkan kepada pihak lain harus dicatat pada laporan keuangan sebesar jumlah
yang masih harus disetorkan.

Jumlah pungutan/potongan PFK yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Siak harus


diserahkan kepada pihak lain sejumlah yang sama dengan jumlah yang
dipungut/dipotong. Pada akhir periode pelaporan biasanya masih terdapat saldo
pungutan/potongan yang belum disetorkan kepada pihak lain. Jumlah saldo
pungutan/potongan tersebut harus dicatat pada laporan keuangan sebesar jumlah
yang masih harus disetorkan.

Bagian Lancar Utang Jangka Panjang

Nilai yang dicantumkan dalam laporan keuangan untuk bagian lancar utang
jangka panjang adalah jumlah yang akan jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas)
bulan setelah tanggal pelaporan.

Termasuk dalam kategori Bagian Lancar Utang Jangka Panjang adalah jumlah
bagian utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dan harus dibayarkan dalam
waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.

Kewajiban Lancar Lainnya (Other Current Liabilities)

Kewajiban lancar lainnya merupakan kewajiban lancar yang tidak termasuk dalam
kategori yang ada. Termasuk dalam kewajiban lancar lainnya tersebut adalah
biaya yang masih harus dibayar pada saat laporan keuangan disusun.
Pengukuran untuk masing-masing item disesuaikan dengan karakteristik masing-
masing pos tersebut, misalnya utang pembayaran gaji kepada pegawai dinilai
berdasarkan jumlah gaji yang masih harus dibayarkan atas jasa yang telah
diserahkan oleh pegawai tersebut. Contoh lainnya adalah penerimaan
pembayaran di muka atas penyerahan barang atau jasa oleh Pemerintah
Kabupaten Siak kepada pihak lain.

Utang Pemerintah Kabupaten Siak yang tidak Diperjualbelikan dan yang


Diperjualbelikan

Penilaian utang Pemerintah Kabupaten Siak disesuaikan dengan karakteristik


utang tersebut yang dapat berbentuk:

Utang Pemerintah Kabupaten Siak yang tidak diperjualbelikan (Non-traded Debt)

Utang Pemerintah Kabupaten Siak yang diperjualbelikan (Traded Debt)

Utang Pemerintah Kabupaten Siak yang tidak Diperjualbelikan (Non-Traded


Debt)

Nilai nominal atas utang Pemerintah Kabupaten Siak yang tidak diperjualbelikan
(non-traded debt) merupakan kewajiban entitas kepada pemberi utang sebesar
pokok utang dan bunga sesuai yang diatur dalam kontrak perjanjian dan belum
diselesaikan pada tanggal pelaporan.

Contoh dari utang Pemerintah Kabupaten Siak yang tidak dapat diperjualbelikan
adalah pinjamankepada lembaga keuangan international. Bentuk hukum dari
pinjaman ini biasanya dalam bentuk perjanjian pinjaman (loan agreement).

Untuk utang Pemerintah Kabupaten Siak dengan tarif bunga tetap, penilaian
dapat menggunakan skedul pembayaran (payment schedule) menggunakan tarif
bunga tetap. Untuk utang Pemerintah Kabupaten Siak dengan tarif bunga
variabel, misalnya tarif bunga dihubungkan dengan satu instrumen keuangan atau
dengan satu indeks lainnya, penilaian utang Pemerintah Kabupaten Siak
menggunakan prinsip yang sama dengan tarif bunga tetap, kecuali tarif bunganya
diestimasikan secara wajar berdasarkan data-data sebelumnya dan observasi
atas instrumen keuangan yang ada.

Utang Pemerintah Kabupaten Siak yang Diperjualbelikan (Traded Debt)

Akuntansi untuk utang Pemerintah Kabupaten Siak dalam bentuk yang dapat
diperjualbelikan seharusnya dapat mengidentifikasi jumlah sisa kewajiban dari
Pemerintah Kabupaten Siak pada suatu waktu tertentu beserta bunganya untuk
setiap periode akuntansi. Hal ini membutuhkan penilaian awal sekuritas pada
harga jual atau hasil penjualan, dan penilaian pada saat jatuh tempo atas jumlah
yang akan dibayarkan ke pemegangnya dan pada periode diantaranya untuk
menggambarkan secara wajar kewajiban Pemerintah Kabupaten Siak.

Utang Pemerintah Kabupaten Siak yang dapat diperjualbelikan biasanya dalam


bentuk sekuritas utang Pemerintah Kabupaten Siak (government debt securities)
yang dapat memuat ketentuan mengenai nilai utang pada saat jatuh tempo.

Jenis sekuritas utang Pemerintah Kabupaten Siak harus dinilai sebesar nilai pari
(original face value) dengan memperhitungkan diskonto atau premium yang
belum diamortisasi. Sekuritas utang Pemerintah Kabupaten Siak yang dijual
sebesar nilai pari (face) tanpa diskonto ataupun premium harus dinilaisebesar
nilai pari (face). Sekuritas yang dijual dengan harga diskonto akan bertambah
nilainya selama periode penjualan dan jatuh tempo; sedangkan sekuritas yang
dijual dengan harga premium nilainya akan berkurang.

Sekuritas utang Pemerintah Kabupaten Siak yang mempunyai nilai pada saat
jatuh tempo atau pelunasan, misalnya Surat Utang Negara (SUN) baik dalam
bentuk Surat Perbendaharaan Negara maupun Obligasi Negara, harus dinilai
berdasarkan nilai yang harus dibayarkan pada saat jatuh tempo (face value) bila
dijual dengan nilai pari. Bila pada saat transaksi awal, instrumen pinjaman
Pemerintah Kabupaten Siak yang dapat diperjualbelikan tersebut dijual diatas
atau dibawah pari, maka penilaian selanjutnya memperhitungkan amortisasi atas
diskonto atau premium yang ada.

Amortisasi atas diskonto atau premium dapat menggunakan metode garis lurus.

Perubahan Valuta Asing

Utang Pemerintah Kabupaten Siak dalam mata uang asing dicatat dengan
menggunakan kurs tengah bank sentral saat terjadinya transaksi.

Kurs tunai yang berlaku pada tanggal transaksi sering disebut kurs spot (spot
rate). Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati kurs tanggal transaksi
sering digunakan, misalnya rata-rata kurs tengah bank sentral selama seminggu
atau sebulan digunakan untuk seluruh transaksi pada periode tersebut. Namun,
jika kurs berfluktuasi secara signifikan, penggunaan kurs rata-rata untuk suatu
periode tidak dapat diandalkan.
Pada setiap tanggal neraca pos kewajiban moneter dalam mata uang asing
dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank
sentral pada tanggal neraca.

Selisih penjabaran pos kewajiban moneter dalam mata uang asing antara tanggal
transaksi dan tanggal neraca dicatat sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas
dana periode berjalan.

Konsekuensi atas pencatatan dan pelaporan kewajiban dalam mata uang asing
akan mempengaruhi pos pada Neraca untuk kewajiban yang berhubungan dan
ekuitas dana pada entitas pelaporan.

Apabila suatu transaksi dalam mata uang asing timbul dan diselesaikan dalam
periode yang sama, maka seluruh selisih kurs tersebut diakui pada periode
tersebut. Namun jika timbul dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam
beberapa periode akuntansi yang berbeda, maka selisih kurs harus diakui untuk
setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk
masing-masing periode.

Penyelesaian Kewajiban Sebelum Jatuh Tempo


Untuk sekuritas utang Pemerintah Kabupaten Siak yang diselesaikan sebelum
jatuh tempo karena adanya fitur untuk ditarik oleh penerbit (call feature) dari
sekuritas tersebut atau karena memenuhi persyaratan untuk penyelesaian oleh
permintaan pemegangnya maka perbedaan antara harga perolehan kembali dan
nilai tercatat netonya harus diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan
sebagai bagian dari pos kewajiban yang berkaitan.
a. Apabila harga perolehan kembali adalah sama dengan nilai tercatat (carrying
value) maka penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo dianggap sebagai
penyelesaian utang secara normal, yaitu dengan menyesuaikan jumlah
kewajiban dan ekuitas dana yang berhubungan.
b. Apabila harga perolehan kembali tidak sama dengan nilai tercatat (carrying
value) maka, selain penyesuaian jumlah kewajiban dan ekuitas dana yang
terkait, jumlah perbedaan yang ada juga diungkapkan pada Catatan atas
Laporan Keuangan.

Tunggakan
Jumlah tunggakan atas pinjaman Pemerintah Kabupaten Siak harus disajikan
dalam bentuk Daftar Umur (aging schedule) Kreditur pada Catatan atas Laporan
Keuangan sebagai bagian pengungkapan kewajiban. a

Tunggakan didefinisikan sebagai jumlah tagihan yang telah jatuh tempo namun
Pemerintah Kabupaten Siak tidak mampu untuk membayar jumlah pokok
dan/atau bunganya sesuai jadwal. Beberapa jenis utang Pemerintah Kabupaten
Siak mungkin mempunyai saat jatuh tempo sesuai jadwal pada satu tanggal atau
serial tanggal saat debitur diwajibkan untuk melakukan pembayaran kepada
kreditur.

Praktik akuntansi biasanya tidak memisahkan jumlah tunggakan dari jumlah utang
yang terkait dalam lembar muka (face) laporan keuangan. Namun informasi
tunggakan Pemerintah Kabupaten Siak menjadi salah satu informasi yang
menarik perhatian pembaca laporan keuangan sebagai bahan analisis kebijakan
dan solvabilitas satu entitas.

Untuk keperluan tersebut, informasi tunggakan harus diungkapkan didalam


Catatan atas Laporan Keuangan dalam bentuk Daftar Umur Utang.