Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang universal dan
kejadian yang sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup
seseorang. Kehilangan dan berduka merupakan istilah yang dalam pandangan
umum berarti sesuatu kurang enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat
disebabkan karena kondisi ini lebih banyak melibatkan emosi dari yang
bersangkutan atau disekitarnya.
Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan
berduka sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses
ini ada keinginan untuk mencari bantuan kepada orang lain. Pandangan-
pandangan tersebut dapat menjadi dasar bagi seorang perawat apabila menghadapi
kondisi yang demikian. Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan
diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kurang
memperhatikan perbedaan persepsi menjurus pada informasi yang salah, sehingga
intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno, 2004).
Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe
kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
menghadapi dan menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk
memahami dan menerima kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga
kehidupan mereka dapat berlanjut. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan
klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi
perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga,
parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan klien-kelurga-
perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau kematian.
Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi seberapa jauh
perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama kehilangan dan kematian
(Potter & Perry, 2005).

1
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian berduka ?
2. Apa saja jenis-jenis berduka ?
3. Apa saja teori dan proses berduka ?
4. Bagaimana karakteristik berduka ?
5. Bagaimana proses berduka ?
6. Bagaimana implikasi keperawatan saat berduka ?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada berduka ?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian berduka
2. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis berduka
3. Untuk mengetahui apa saja teori dan proses berduka
4. Untuk mengetahui bagaimana karakteristik berduka
5. Untuk mengetahui bagaimana proses berduka
6. Untuk mengetahui bagaimana implikasi keperawatan saat berduka
7. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada berduka

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian
Berduka adalah reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respons
emosional yang normal. Berduka merupakan suatu proses untuk memecahkan
masalah, dan secara normal berhubungan erat dengan kematian. Hal ini sangat
penting dan menentukan kesehatan jiwa yang baik bagi individu karena memberi
kesempatan individu untuk melakukan koping dengan kehilangan secara bertahap
sehingga dapat menerima kehilangan sebagian bagian dari kehidupan nyata.
Berduka sebagai proses sosial dapat diselesaikan dengan bantuan orang lain.
Individu yang berduka kadang-kadang tidak mampu untuk menjalani
perasaan berduka secara normal, biasanya intensitas dan lamanya berduka lebih
panjang dari respons normal. Sebagai contoh individu yang berduka akan
mengalami depresi yang berat dari yang biasa. Depresi adalah suatu kondisi
emosional yang dialami oleh individu secara umum pada waktu mengalami
kehilangan baik secara nyata maupun yang dipersepsikan atau dibayangkan yang
mencakup suatu fungsi penting, kemampuan, objek, impian, orang, keyakinan
atau nilai yang dimiliki individu secara normal. Penyimpangan dari suatu ukuran
yang normal akan berakibat pada suatu perasaan berduka yang menunjukkan
respons depresi yang lebih berathal ini terjadi bila kehilangan berhubungan erat
dengan ambisi, pengharapan, harga diri, kemampuan atau rasa aman yang dialami
oleh individu dengan konsep diri yang miskin, atau harga diri rendah mudah
terjatuh pada kondisi depresi.
Sumber gangguan atau kehilangan dapat berupa eksternal maupun internal
seperti pikiran, sikap, tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai individu,
keyakinan atau moral dan konflik interpersonal yang mengancam konsistensi diri
individu, harga diri, dan rasa aman. Sumber-sumber eksternal mencakup kematian
orang yang disayangi, penghentian kerja (PHK), penyakit atau kehilangan bagian
tubuh tertentu.

3
Terdapat 6 tingkatan berduka yaitu syok, tidak yakin, mengembangkan
kesadaran diri, restitusi, mengatasi kehilangan, idealisasi dan hasil.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan
seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum
terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual
maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini
kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan

2.2. Jenis Berduka


1) Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal
terhadap kehilangan. Misalnya, kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian,
dan menari diri dari aktivitas untuk sementara.
2) Berduka antisipatif, yaitu proses melepaskan diri yang muncul sebelum
kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika
menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai proses perpisahan
dan menyesuaikan beragai urusan didunia sebelum ajalnya tiba.
3) Berduka yang rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ke tahap
berikutnya. Masa berkabung seolah-olah tidak kunjung berakhir dan dapat
mengancam hubungan orang yang bersangkutan dengan orang lain.
4) Berduka tertutup, yaitu kedudukan akibat kehilangan yang tidak dapat
diakui secara terbuka. Contohnya: kehilangan pasangan karena AIDS, anak
mengalami kematian orang tua tiri, atau ibu yang kehilangan anaknya di
kandungan atau ketika bersalin

2.3. Teori dari Proses Berduka


Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka.
Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk
mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya dan juga rencana
4
intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan
mengatasinya. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang
perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan
dukungan dalam bentuk empati.
1. Teori Engels
Menurut Engels proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat
diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
 Fase I (shock dan tidak percaya)
Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik
diri, duduk malas, atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik
termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak
bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.
 Fase II (berkembangnya kesadaran)
Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan
mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah,
frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.
 Fase III (restitusi)
Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang
hampa/kosong, karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima
perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan
kehilangan seseorang.
 Fase IV
Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap
almarhum. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang
perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum.
 Fase V
Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari.
Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima
kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.

5
2. Teori Kubler-Ross
Kerja Elisabeth Kubler-Ross membantu menetapkan tahap untuk memahami
bagaimana kehilangan memengaruhi kehidupan manusia. Ketika ia
memerhatikan kliennya yang menderita penyakit terminal, ia dapat melihat
proses menjelang kematian. Melalui observasi dan menangani klien yang
menjelang kematian dan keluarga mereka, ia mengembangkan suatu model
untuk memahami apa yang klien alami ketika mereka berduka atau
berkabung akibat kehilangan seseorang. Ia mendeskripsikan tahap
penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan
(Kubler-Ross, 1969) :
a) Penyangkalan (Denial)
Penyangkalan adalah syok dan ketidakpercayaan tentang kehilangan.
Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat
menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan.
Pernyataan seperti “Tidak, tidak mungkin seperti itu,” atau “Tidak
akan terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien.
b) Kemarahan (Anger)
Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali
tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping individu untuk
menutupi rasa kecewa dan merupakan manifestasi dari kecemasannya
menghadapi kehilangan. Kemarahan dapat diekspresikan kepada
Tuhan, keluarga, teman, atau pemberi perawatan kesehatan.
c) Penawaran (Bargaining)
Tawar menawar terjadi ketika individu menawar untuk mendapat
lebih banyak waktu dalam upaya memperlama kehilangan yang tidak
dapat dihindari.
d) Depresi (Depression)
Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari
makna kehilangan tersebut. Tahap depresi ini memberi kesempatan
untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah.

6
e) Penerimaan (Acceptance)
Penerimaan terjadi ketika individu memperlihatkan tanda-tanda bahwa
ia menerima kematian.
3. Teori Martocchio
Martocchio, menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup
yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan
bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon
kesedihan itu sendiri. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya
reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut
sampai 3-5 tahun.
4. Teori Rando
Rando, mendefinisikan respon berduka menjadi 3 kategori yaitu :
a) Penghindaran
Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.
b) Konfrontasi
Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien
secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan
mereka paling dalam dan dirasakan paling akut.
c) Akomodasi
Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan
mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-
hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan
mereka.

2.4. Karakteristik Berduka


1. Berduka yang menunjukkan reaksi syok dan ketidakyakinan
2. Berduka yang menunjukkan perasaan sedih dan hampa bila teringat tentang
kehilangan orang yang disayangi
3. Berduka yang menunjukkan perasaan tidak nyaman dan sering disertai
dengan menangis, serta keluhan-keluhan sesak pada dada, rasa tercekik,
napas pendek
7
4. Mengenang almarhum terus menerus
5. Memperoleh pengalaman perasaan berduka
6. Cenderung menjadi mudah tersinggung dan marah

2.5. Fase Proses Berduka


Bowlby (1980) mendeskripsikan tentang berduka akibat suatu kehilangan
meliputi empat fase :
1. Mati rasa dan penyangkalan terhadap kehilangan
2. Kerinduan emosional akibat kehilangan orang yang dicintai dan memprotes
kehilangan yang tetap ada
3. Kekacauan kognitif dan keputusan emosional, mendapatkan dirinya sulit
melakukan fungsi dalam kehidupan sehari-hari
4. Reorganisasi dan reintegrasi kesadaran diri sehingga dapat mengembalikan
hidupnya.
Schulz membagi proses berduka ke dalam tiga fase yaitu :
1. Fase awal. Fase ini dimulai dengan adanya kehilangan seperti kematian,
fase ini berlangsung untuk beberapa minggu. Pada fase ini orang
menunjukkan reaksi syok, tidak yakin atau tidak percaya, perasaan dingin,
perasaan kebal (mati rasa) dan bingung. Reaksi ini biasanya akan berakhir
setelah beberapa hari, kemudian akan kembali pada perasaan berduka yang
berlebihan dan individu akan memperoleh pengalaman konflik diantara
ekspresi perasaan melalui menangis dan ketakutan.
2. Fase pertengahan. Fase ini dimulai kira-kira tiga minggu sesudah kematian
dan berakhir sampai kurang lebih satu tahun lamanya. Ada tiga pola
perilaku yang ditunjukkan pada fase ini yaitu perilaku obsesif, suatu
pencarian arti dari kematian. Perilaku obsesif sering meliputi pengulangan
pikiran tentang peristiwa kematian.
3. Fase pemulihan. Sesudah kurang lebih satu tahun orang yang mengalami
berduka mulai memasuki fase pemulihan. Individu sering memutuskan
untuk tidak mengenang masa lalu dan hidup harus berjalan terus. Hal ini
ditunjukkan dengan meningkatkan partisipasi pada kegiatan sosial.
8
Ahli teori yang lain, John Harvey (1998), mendeskripsikan fase berduka yang
sama sebagai berikut :
1. Syok, menangis dengan keras, dan menyangkal
2. Intrusi pikiran, distraksi, dan meninjau kembali kehilangan secara obsesif
3. Menceritakan kepada orang lain sebagai cara meluapkan emosi dan secara
kognitif menyusun kembali peristiwa kehilangan.
Rodebaugh et al. (1999) memandang proses berduka cita sebagai suatu proses
melalui empat tahap :
1. Reeling : klien mengalami syok, tidak percaya, atau menyangkal
2. Merasa (feeling) : klien mengekspresikan penderitaan yang berat, rasa
bersalah, kesedihan yang mendalam, kemarahan, kurang konsentrasi,
gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, dan ketidaknyamanan
fisik yang umum
3. Menghadpai (dealing) : klien mulai beradaptasi terhadap kehilangan dengan
melibatkan diri dalam kelompok pendukung, terapi dukacita, membaca dan
bimbingan spiritual
4. Pemulihan (healing) : klien mengintegrasikan kehilangan sebagai bagian
kehidupan dan penderitaan yang akut berkurang. Pemulihan tidak berarti
bahwa kehilangan tersebut dilupakan atau diterima.
Para ahli teori yakin bahwa interaksi yang dinamis terjadi pada banyak ekspresi
berduka. Perawat harus mendengar dan mengobservasi adanya fluidity (emosi
yang terjadi bersamaan atau dengan mudah berubah dari satu emosi ke emosi
yang lain) ketika individu melalui fase proses tersebut.
Perawat tidak boleh mengharapkan klien mengikuti langkah-langkah yang dapat
diprediksikan dalam proses berduka. Pada kenyataannya, harapan tersebut dapat
menambah tekanan atau stress pada klien ketika ia sangat membutuhkan
penerimaan, refleksi, dan dukungan dari pemberi perawatan untuk mempermudah
proses berduka (Weisman, 1974).

9
2.6. Implikasi Keperawatan
Pengkajian
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengkajian :
a. Perawat mengkaji pasien berduka dan anggota keluarga yang mengalami
kehilangan untuk menentukan tingkatan berduka.
b. Pengkajian terhadap gejala klinis berduka yang mencakup; sesak di dada,
napas pendek, berkeluh kesah, perasaan penuh di perut, kehilangan kekuatan
otot, distres perasaan yang hebat.
c. Enam karakteristik berduka juga dikaji; respon fisiologis respons tubuh
terhadap kehilangan atau mengetahui lebih dulu kehilangan dengan suatu
reaksi stres. Perawat dapat mengkaji tanda klinis respons tersebut.
d. Faktor yang mempengaruhi suatu reaksi kehilangan yang bermakna
bergantung pada persepsi individu terhadap pengalaman kehilangan, umur,
kultur, keyakinan spiritual, peran seks, status sosial-ekonomi.
e. Faktor predisposisi yang memengaruhi reaksi kehilangan yang mencakup
genetik, kesehatan fisik, kesehatan mental, pengalaman kehilangan di masa
lalu.
f. Faktor pencetus mencakup perilaku yang ditunjukkan oleh individu yang
mengalami kehilangan dan mekanisme koping yang sering digunakan oleh
individu.

Diagnosis dan Intervensi Keperawatan


Diagnosis Keperawatan
1. Berduka yang berhubungan dengan kehilangan aktual atau yang dipersepsi
2. Berduka adaptif
3. Berduka maladaptif

Intervensi Keperawatan
Tujuan keperawatan agar individu yang mengalami proses berduka secara normal,
melakukan koping terhadap kehilangan secara bertahap dan menerima kehilangan
sebagai bagian dari kehidupan yang nyata dan harus dilalui.
10
a. Prinsip tindakan keperawatan pada tahap penyangkalan adalah memberikan
kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
Tindakan keperawatan :
 Doronglah pasien untuk mengungkapkan perasaan dukanya
 Tingkatkan kesadaran pasien secara bertahap tentang kenyataan,
kehilangan, apabila oa sudah siap secara emosional
 Dengarkan pasien dengan penuh pengertian dan jangan menghukum
atau menghakimi
 Jelaskan kepada pasien bahwa sikapnya itu wajar terjadi pada orang
yang mengalami kehilangan
 Beri dukungan kepada pasien secara nonverbal, seperti memegang
tangan, menepuk bahu, merangkul
 Jawab pertanyaan pasien dengan bahasa sederhana, jelas dan singkat
 Amati dengan cermat respons pasien selama berbicara
 Tingkatkan secara bertahap kesadaran pasien terhadap kenyataan
b. Prinsip tindakan keperawatan pada tahap marah adalah memberi dorongan,
memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan rasa marahnya
secara verbal, tanpa melawan dengan kemarahan. Perawat harus menyadari
bahwa perasaan marah adalah ekspresi dari perasaan frustasi dan
ketidakberdayaan.
Tindakan keperawatan :
 Terima semua perilaku keluarga akibat kesedihannya (misalnya;
marah, menangis)
 Dengarkan dengan empati, jangan memberi respon yang mencela
 Bantu pasien memanfaatkan sistem pendukung
c. Prinsip tindakan keperawatan pada tahap tawar menawar adalah membantu
pasien mengidentifikasi rasa bersalah dan perasaan takutnya.
Tindakan keperawatan :
 Amati perilaku pasien

11
 Diskusikan bersama pasien mengenai perasaannya
 Tingkatkan harga diri pasien
d. Prinsip tindakan keperawatan pada tahap depresi adalah mengidentifikasi
tingkat depresi, risiko merusak diri, dan membantu pasien mengurangi rasa
bersalah.
Tindakan keperawatan :
 Amati perilaku pasien
 Diskusikan bersama pasien mengenai perasaannya
 Cegah tindakan merusak diri
 Hargai perasaan pasien
 Bantu pasien mengidentifikasikan dukungan positif yang terkait
dengan kenyataan
 Beri kesempatan pada pasien mengungkapkan perasaannya, bila pelu
biarkan ia menangis sambil tetap didampingi
 Bahas pikiran yang selalu timbul bersama dengan pasien
e. Prinsip tindakan perawatan pada tahap penerimaan adalah membantu pasien
untuk menerima kehilangan yang tidak bisa dielakan.
Tindakan keperawatan :
 Sediakan waktu untuk mengunjungi pasien secara teratur
 Bantu pasien/keluarga untuk berbagi rasa, karena biasanya setiap
anggota keluarga tidak berada pada tahap yang sama pada saat yang
bersamaan.

Implementasi
Sensitivitas terhadap klien adalah yang paling penting agar perawat dapat
berfungsi secara efektif. Perawat juga harus sensitive terhadap budaya, etnisitas,
gaya hidup atau kelas social klien dan keluarganya. Mereka harus sensitive
terhadap keterbatasan dan sifat peran mereka sendiri. Mereka harus
mengintervensi secara sensitive dan mahir ketika di perlukan. JIka klien ingin
menghindari perasaan emosional yang dapat di ekspresikan ketika seseorang

12
membentuk ikatan denga klien yang sedang melawan hidup dan mati, maka
perawat harus juga sensitive terhadap kebutuhan mereka sendiri.
Merawat klien menjelang ajal dan keluarganya :
 Peningkatkan kenyamanan
 Pemeliharaan kemandirian
 Pencegahan kesepian dan isolasi
 Peningkatan ketenangan spiritual
 Dukungan untuk keluarga yang berduka.

Evaluasi
Meskipun penyelesaian proses dukacita membutuhkan waktu beberapa bulan atau
tahun, sebagian besar klien berada di bawah perawatan perawat hanya dalam
waktu singkat. Perawat mungkin menjadi frustasi ketika klien atau keluarganya
mulai mengekspresikan dukacita, klien meninggalkan institusi perawatan
kesehatan atau meninggal.
Perawatan klien menjelang ajal mengharuskan perawat mengevaluasi tingkat
kenyamanan klien dengan penyakit dan kwalitas hidupnya. Keberhasilan evaluasi
tergantung sebagian pada ikatan yang terbentuk denganklien kecuali klien
mempercayai perawat, pengekspresian dari perasaan dan kekuatiran yang
sebenarnya tidak mungkin terjadi. Tingkat kenyamanan klien di evaluasi dengan
dasar hasil seperti penurunan nyeri, control gejala, pemeliharaan fungsi system
tubuh, penyelesaian tugas yang belum terselesaikan dan ketenangan emosional.

13
BAB III
LAPORAN KASUS

Di sebuah desa dikota A ada sepasang suami istri yang baru 1 bulan
menikah, sang suami bernama Tn.A dan sang istri bernama Ny.N. Mereka satu
sama lain sangat mencintai. Apabila Tn.A sakit sang istri pun ikut merasakan
sakit, begitu pula sebaliknya. Ketika itu Ny.N baru saja di ketahui positif hamil.
Tn.A dan Ny.N pun sangat senang dan berusaha semaksimal mungkin melindungi
dan menjaga calon anak mereka itu. Pada suatu hari Tn.A mengalami kecelakaan
yang mengakibatkan Tn.A meninggal. Ny.N mengatakan hal ini membuat Ny.N
merasa sangat terpukul dia sering melamun, tidak mau makan dan keluar kamar
dia mengurung diri dan memandang foto Tn.A dia menjadi jarang berbicara dan
terkadang sering teriak memanggil nama Tn.A. Dia sering berkata bahwa tidak
percaya Tn.A telah pergi, selain itu dia sering terbangun dan menangis keras
memanggil Tn.A. Saat pengkajian Ny.N tampak lemas, wajah tampak kusut.
Klien tampak putus asa dan sedih, klien susah berkosentrasi ketika perawat
bertanya. Tampak kantung mata, tanda-tanda vital N: 75x/mnt , S: 370C , TD:
120/80 mmHg RR: 24x/mnt

Analisa Data
Nama Klien : Ny.N
No.RM : 007123
Data Fokus Masalah keperawatan
Data Subyektif : Berduka disfungsional
 Ibu klien mengatakan klien merasa sangat
terpukul, sering melamun, tidak mau
makan dan keluar kamar
 Ibu klien mengatakan klien sering
mengurung diri dan memandang foto Tn.A

14
 Ibu klien mengatakan klien menjadi jarang
berbicara dan terkadang sering teriak
memanggil nama Tn.A.
 Klien mengatakan bahwa tidak percaya
Tn.A telah pergi.
 Klien mengatakan sering terbangun dan
menangis keras memanggil Tn.A

Data Obyektif :
 Wajah tampak kusut,
 Klien tampak putus asa dan sedih,
 Klien susah berkosentrasi ketika perawat
bertanya.
 Tanda-tanda vital
N: 75x/mnt
S: 370C
· TD: 120/80 mmHg
· RR: 24x/mnt

Diagnosa Keperawatan
Berduka disfungsional

Intervensi Keperawatan
Dx Perencanaan
Hari/Tgl
Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
Jum,at Berduka Klien mampu Setelah 1. Bina
28-Juli- disfungsional membina dilakukannya hubungan
2017 hubungan tindakan saling
saling keperawatan selama percaya
percaya, dan 3x24 jam

15
mampu diharapkan klien : 2. Melibatkan
mengungkapk - Mampu membina partisipasi
an pikiran dan hubungan saling klien dalam
perasaannya. percaya hubungan
- Mampu terapeutik
mengungkapkan 3. Dorong klien
pikiran dan untuk
perasaannya mengungkap
kan pikiran
dan
perasaannya
4. Ajarkan
teknik
relaksasi

16
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

STRATEGI PELAKSANAAN 1 (SP1) PADA KLIEN DENGAN


KEHILANGAN DAN BERDUKA
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Ny. N, usia 22 tahun mempunyai seorang suami yang bekerja di suatu
perusahaan sebagai tulang punggung keluarga. Seminggu yang lalu,
suami Ny.N meninggal karena kecelakaan. Sejak kejadian tersebut,
Ny.N sering melamun dan selalu mengatakan jika suaminya belum
meninggal. Ibu M terlihat sering mengingkari kehilangan, dan
menangis. Selain itu, Ny.N juga tidak mau berinteraksi dengan orang
lain dan merasa gelisah sehingga susah tidur.
2. Diagnosa Keperawatan
Berduka disfungsional
3. Tujuan Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
dan klien dapat merasa aman dan nyaman saat berinteraksi
dengan perawat
b. Klien mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya
c. Klien merasa lebih tenang
4. Tindakan Keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan cara
mengucapkan salam terapeutik, memperkenalkan diri perawat
sambil berjabat tangan dengan klien
b. Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Dengarkan setiap perkataan klien. Beri respon, tetapi tidak
bersifat menghakimi
c. Ajarkan klien teknik relaksasi

17
B. Strategi Pelaksanaan
1. Tahap Orientasi
a. Salam Terapeutik :
“Assalamu’alaikum, selamat pagi Ibu N. Saya Mardhiah, Ibu
bisa memanggil saya suster diah. Saya perawat yang dinas pagi
ini dari pukul 07.00 sampai 14.00 nanti dan saya yang akan
merawat Ibu. Nama Ibu siapa? Ibu senangnya dipanggil apa?”
b. Evaluasi/validasi :
“Baiklah bu, bagaimana keadaan Ibu N hari ini?”
c. Kontrak :
1) Topik :
“Kalau begitu, bagaimana jika kita berbincang-bincang
sebentar tentang keadaan ibu? Tujuannya supaya ibu bisa
lebih tenang bu dalam menghadapi keadaan ini, dengan
ibu mau berbagi cerita dengan saya, kesedihan ibu
mungkin bisa berkurang”
2) Waktu :
“Ibu maunya berapa lama kita berbincang-bincang?”
3) Tempat :
“Ibu mau kita berbincang-bincang dimana? Di sini saja?
Baiklah.”
2. Tahap Kerja
 “Baiklah Ibu N, bisa Ibu jelaskan kepada saya bagaimana
perasaan Ibu N saat ini?”
 “Saya mengerti Ibu sangat sulit menerima kenyataan ini. Tapi
kondisi sebenarnya memang suami Ibu telah meninggal. Sabar
ya, Bu ”
 “Saya tidak bermaksud untuk tidak mendukung Ibu. Tapi coba
Ibu pikir, jika Ibu pulang ke rumah nanti, Ibu tidak akan
bertemu dengan suami Ibu karena beliau memang sudah

18
meninggal. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan, Bu. Ibu harus
berusaha menerima kenyataan ini.”
 “Ibu, hidup matinya seseorang semua sudah diatur oleh Tuhan.
Meninggalnya suami Ibu juga merupakan kehendak-Nya. Tidak
ada satu orang pun yang dapat mencegahnya, termasuk saya
ataupun Ibu sendiri.”
 “Ibu sudah bisa memahaminya?”
 “Ibu tidak perlu cemas. Umur Ibu masih muda, Ibu bisa
mencoba mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga Ibu. Saya percaya Ibu mempunyai keahlian yang bisa
digunakan. Ibu juga tidak akan hidup sendiri. Ibu masih punya
saudara-saudara, dan orang lain yang sayang dan peduli sama
Ibu.”
 “Untuk mengurangi rasa cemas Ibu, sekarang Ibu ikuti teknik
relaksasi yang saya lakukan. Coba sekarang Ibu tarik napas
yang dalam, tahan sebentar, kemudian hembuskan
perlahanlahan.”
 “Ya, bagus sekali Bu, seperti itu.”
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi :
(Subjektif): “Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa Ibu
sudah mulai memahami kondisi yang sebenarnya terjadi?”
(Objektif) : “Kalau begitu, coba Ibu jelaskan lagi, hal-hal yang
Ibu dapatkan dari perbincangan kita tadi dan coba Ibu ulangi
teknik relaksasi yang telah kita lakukan.”
b. Tindak Lanjut :
“Ya, bagus sekali Bu. Nah, setiap kali Ibu merasa cemas, Ibu
dapat melakukan teknik tersebut. Dan setiap kali Ibu merasa Ibu
tidak terima dengan kenyataan ini, Ibu dapat mengingat kembali
perbincangan kita hari ini.”

19
 “Bu, ini ada buku kegiatan untuk ibu, bagaimana kalau
kegiatan teknik rileksasi ibu masukkan kedalam jadwal kegiatan
ibu? Ibu setuju? Nah, Disini ada kolom kegiatan, tanggal, waktu
dan keterangan. Ibu bisa mengisi kegiatan tenik rileksasi pada
kolom kegiatan”
 “Kira-kira jam berapa ibu nanti melakukan teknik rileksasi
bu?”
 “Cara mengisi buku kegiatan ini: jika ibu melakukannya tanpa
dibantu atau diingatkan oleh orang lain ibu tulis “M” disini,
jika ibu di bantu atau diingatkan ibu tulis “B” dan jika ibu tidak
melakukannya ibu tulis “T”
 “Bagaimana ibu, paham Bu?”
 “Nanti ibu jangan lupa mengisi buku kegiatannya ya”
c. Kontrak yang akan datang :
 “Sesuai dengan kontrak kita tadi kita berbincang-bincang
selama 30 menit dan sekarang sudah 30 menit bu..”
 Bu, kapan ibu mau kita melanjutkan perbincangan kita?
Bagaimana kalau kita besok membicarakan tentang hobi ibu?”
 “Ibu mau kita melanjutkan perbincangan jam berapa dan
dimana?”
 “Sebelum saya permisi apa ada yang mau ibu tanyakan?
Baiklah, kalau tidak ada, saya permisi dulu ya Bu.
Assalamu’alaikum.”

20
STRATEGI PELAKSANAAN 2 (SP2) PADA KLIEN DENGAN
KEHILANGAN DAN BERDUKA

A. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pada pertemuan kedua, Ibu N sudah mulai menunjukkan rasa
penerimaan terhadap kehilangan. Namun, ia masih menarik diri dari
lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Ia juga masih melamun dan
merasa gelisah sehingga tidurnya tidak nyenyak.
2. Diagnosa keperawatan
Berduka disfungsional
3. Tujuan Khusus
Klien tidak menarik diri lagi dan dapat membina hubungan baik
kembali dengan lingkungannya maupun dengan orang-orang di
sekitarnya
4. Tindakan Keperawatan
a. Libatkan klien dalam setiap aktivitas kelompok, terutama
aktivitas yang ia sukai
b. Berikan klien pujian setiap kali klien melakukan kegiatan
dengan benar

B. Strategi Pelaksanaan
1. Tahap Orientasi
a. Salam terapeutik:
“Assalamu’alaikum, selamat pagi Ibu N. Masih ingat dengan
saya Bu? Ya, betul sekali. Saya suster diah, Bu. Seperti kemarin,
pagi ini dari pukul 07.00 sampai 14.00 nanti dan saya yang
akan merawat Ibu.”

21
b. Evaluasi validasi :
“Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa sudah lebih baik dari
kemarin? Bagus kalau begitu”
“Nah apa saja yang ibu lakukan kemarin?
“Coba saya lihat buku kegiatan ibu?
“Wah bagus bu, ibu sudah melakukan teknik rileksasi secara
mandiri”
“Sekarang coba ibu praktekkan lagi cara teknik rileksasi
tersebut”
“Bagus sekali bu”
c. Kontrak :
1) Topik :
“Sesuai janji yang kita sepakati kemarin ya, Bu. Hari ini
kita bertemu untuk membicarakan hobi Ibu tujuannya
supaya ibu dapat melakukan aktifitas yang sukai dan ibu
dapat berinteraksi dengan orang-orang disekeliling ibu
2) Waktu :
“Ibu maunya berapa lama kita berbincang-bincang?
3) Tempat :
“Ibu maunya dimana? Bagaimana ditaman depan, ibu
setuju?
2. Tahap Kerja
 “Nah, Bu. Apakah Ibu sudah memikirkan hobi yang Ibu
senangi?”
 “Ternyata Ibu hobi bermain voli ya? Tidak semua orang bisa
bermain voli lho, Bu.”
 “Selain bermain voli, apa Ibu mempunyai hobi yang lain lagi?”
 “Wah, ternyata Ibu juga hobi menyanyi, pasti suara Ibu bagus.
Bisa Ibu menunjukkan sedikit bakat menyanyi Ibu pada saya?”
 “Wah ternyata Ibu memang berbakat menyanyi, suara Ibu juga
cukup bagus.”
22
 “Ngomong-ngomong tentang hobi Ibu bermain voli, berapa
sering Ibu biasanya bermain voli dalam seminggu?”
 “Cukup sering juga ya Bu. Pasti kemampuan Ibu dalam
bermain voli sudah terlatih.”
 “Apa Ibu pernah mengikuti lomba voli? Wah, ternyata Ibu
hebat juga ya dalam bermain voli. Buktinya, Ibu pernah
memenangi lomba voli antarwarga di daerah rumah Ibu.”
 “Nah, bagaimana kalau sekarang Ibu saya ajak bergabung
dengan yang lain untuk bermain voli? Tampaknya di sana
banyak orang yang juga ingin bermain voli. Ibu bisa melakukan
hobi Ibu ini bersama-sama dengan yang lain.”
 “Ibu-ibu, kenalkan, ini Ibu N. Ibu N juga akan bermain voli
bersama-sama. Ibu N ini jago bermain voli, lho.”
 “Nah, sekarang bisa Ibu tunjukkan teknik-teknik yang baik
dalam bermain bola voli?”
 “Wah, bagus sekali Bu. Ibu hebat.”
 “Ibu N, saat Ibu sedang merasa emosi tapi tidak mampu
meluapkannya, Ibu bisa melakukan kegiatan ini bersama-sama
yang lain. Selain itu, kegiatan ini juga dapat membuat Ibu
berhubungan lebih baik dengan yang lainnya dan Ibu tidak
merasa kesepian lagi.”
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi:
(Subjektif): “Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa sudah
lebih baik dibandingkan kemarin?”
(Objektif): “Sekarang coba Ibu ulangi lagi apa saja manfaat
yang dapat Ibu dapatkan dengan melakukan kegiatan yang Ibu
senangi.”

23
b. Tindak Lanjut :
 “Baiklah Bu, kalau begitu Ibu dapat bermain voli saat Ibu
sedang merasa emosi.
 “Bu, ibu sudah mempunyai buku kegiatan harian kan?”
 “Bagaimana jika kegiatan bermain voli ini juga
dimasukkan menjadi kegiatan sehari-hari
 Ibu maunya berapa kali main voli dalam satu minggu?
 Kira-kira jam berapa ibu nanti mau main voli?
 “Nah nanti kalau ibu melakukan kegiatan ini, ibu jangan
lupa mengisi buku kegiatan”
 “Caranya sama dengan sebelumnya, jika ibu melakukan
sendiri, tanpa diingatkan dan dibantu oleh perawat atau
orang lain ibu tulis “M”, dan jika ibu di bantu dalam
melakukan kegiatan , ibu tulis “B”, dan jika ibu malas
atau lupa mengerjakannya ibu tulis “T”.
 “Bagaimana ibu paham, bu?”
c. Kontrak yang akan datang :
 “Sesuai dengan kontrak kita tadi kita berbincang-bincang
selama 30 menit dan sekarang sudah 30 menit bu..”
 “Nah bu bagaimana kalau besok jam 08.00 setelah makan
pagi, saya akan kembali lagi untuk mengajarkan Ibu cara
meminum obat dengan benar.
 Kita ketemu di ruangan Ibu saja, ya?
 Apa ada yang ingin Ibu tanyakan? Baiklah, kalau tidak,
saya permisi dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum.”

24
STRATEGI PELAKSANAAN (SP 3) PADA KLIEN KEHILANGAN DAN
BERDUKA
A. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pada pertemuan ketiga, Ibu N sudah mulai tidak banyak melamun dan
mulai membuka dirinya kepada orang-orang sekitarnya. Ibu N juga
mau membalas sapaan ataupun senyuman jika ada perawat ataupun
orang lain yang menyapanya ataupun tersenyum padanya. Namun, Ibu
N mengaku ia masih terbayang akan suaminya saat ia akan tidur. Hal
tersebut membuat Ibu N merasa gelisah, tidur tidak nyenyak, bahkan
sulit tidur.
2. Diagnosa keperawatan
Berduka disfungsional
3. Tujuan khusus
a. Klien dapat mengetahui aturan yang benar dalam meminum obat
b. Ansietas klien berkurang sehingga klien dapat tidur dengan
nyenyak
4. Tindakan Keperawatan
a. Ajarkan klien cara meminum obat dengan benar
b. Awasi klien saat minum obat
B. Strategi Pelaksanaan
1. Tahap Orientasi
a. Salam terapeutik :
“Assalamu’alaikum, selamat pagi Ibu N.”
b. Evaluasi validasi :
“Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa semalam Ibu bisa tidur
dengan nyenyak?”
“Apa boleh saya lihat buku kegiatan ibu? “Wah bagus bu”
“Nampaknya ibu sudah lebih bersemangat dari yang kemaren”

25
c. Kontrak :
1) Topik :
“Ibu tidak bisa tidur dengan nyenyak ya? Baiklah, sesuai
dengan janji kita yang kemarin, saya akan memberitahu
Ibu obat yang harus Ibu minum untuk mengurangi
kecemasan Ibu dan agar Ibu dapat tidur dengan nyenyak.
2) Waktu :
“Ibu maunya berapa lama kita berbincang-bincang”
3) Tempat :
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang di kamar ini
saja.”
2. Tahap Kerja
 “Nah, kita langsung mulai saja ya Bu. Ini ada beberapa macam
obat-obatan yang harus Ibu minum.”
 “Ini obatnya ada dua macam ya Bu. Yang warna putih ini
namanya BDZ. Fungsi dari obat ini agar pikiran Ibu bisa lebih
menjadi tenang. Kalau pikiran Ibu tenang, Ibu bisa tidur dengan
nyenyak.”
 “Kemudian, yang warna kuning ini adalah HLP. Ini juga harus
Ibu minum agar perasaan Ibu bisa rileks dan Ibu tidak lagi
merasakan cemas yang berlebihan.”
 “Nah Bu, semua obat ini diminum tiga kali sehari ya Bu, jam 7
pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam. Masing-masing obat satu
butir saja. Obat-obatan ini juga harus diminum setelah Ibu
makan.”
 “Apa Ibu mempunyai keluhan dalam meminum obat?”
 “Ooh, jadi Ibu tidak tahan dengan rasa pahitnya ya? Kalau
begitu, setelah Ibu minum obat Ibu bisa memakan permen agar
rasa pahitnya dapat berkurang.”

26
 “Jika setelah minum obat ini mulut Ibu menjadi terasa kering
sekali, Ibu bisa minum banyak air untuk mengatasinya agar
mulut Ibu tidak kering.”
 “Tapi jika ada efek samping yang berlebihan seperti gatal-
gatal, pusing, atau mual, Ibu bisa panggil saya atau perawat
lain yang sedang bertugas.”
 “Nah, sebelum ibu meminum obatnya, pastikan dulu ya Bu,
obatnya sesuai atau tidak. Ibu juga jangan lupa perhatikan
waktunya agar obat tersebut dapat diminum tepat waktu.”
3. Tahap Terminasi
a. Evaluasi :
(subjektif): “Apa Ibu sudah mengerti apa saja obat yang harus
Ibu minum dan bagaimana prosedur sebelum meminumnya?”
(objektif): “Bagus. Kalau Ibu sudah mengerti, coba ulangi lagi
apa saja obat yang harus Ibu minum dan apa saja prosedur
meminum obatnya.”
b. Tindak Lanjut :
 “Seperti yang sudah saya katakan tadi ya Bu, jika setelah
minum obat mulut Ibu terasa kering, Ibu dapat meminum
air yang banyak. Dan kalau Ibu merasa gatal-gatal,
ousing, atau bahkan muntah, Ibu dapat menghubungi saya
atau perawat lain yang sedang bertugas.”
 “Bu, ibu sudah mempunyai buku kegiatan harian kan?”
 “Bagaimana jika kegiatan minum obat ini juga
dimasukkan menjadi kegiatan sehari-hari
 Jangan lupa, ibu juga membuat jam minum obatnya ya bu
 “Caranya mengisi buku kegiatan ini juga sama dengan
sebelumnya, jika ibu melakukan sendiri, tanpa diingatkan
dan dibantu oleh perawat atau orang lain ibu tulis “M”,
dan jika ibu di bantu dalam melakukan kegiatan , ibu tulis

27
“B”, dan jika ibu malas atau lupa mengerjakannya ibu
tulis “T”.
 “Ini tujuannya untuk melihat kemandirian ibu, jika ibu
sudah bisa mandiri dalam melakukan sesuatu dan ibu juga
sudah dapat memenuhi kebutuhan ibu sehari-hari, ibu
akan dapat segera di pulangkan.
 “Ibu paham Bu?”
c. Kontrak yang akan datang :
 “Sesuai dengan kontrak kita tadi kita berbincang-bincang
selama 30 menit dan sekarang sudah 30 menit bu..”
 “Baiklah Bu, nanti jam 14.00 setelah makan siang, saya
akan datang kembali untuk memantau perkembangan Ibu.
Kita bertemu di ruangan ini saja ya Bu.” “Sebelum saya
pergi apa ada yang ingin Ibu tanyakan? Baiklah Bu, kalau
tidak ada, saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.”

28
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berduka adalah reaksi terhadap kehilangan yang merupakan respons
emosional yang normal. Berduka merupakan suatu proses untuk memecahkan
masalah, dan secara normal berhubungan erat dengan kematian. Hal ini sangat
penting dan menentukan kesehatan jiwa yang baik bagi individu karena memberi
kesempatan individu untuk melakukan koping dengan kehilangan secara bertahap
sehingga dapat menerima kehilangan sebagian bagian dari kehidupan nyata.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan
seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum
terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman
individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual
maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini
kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
Jenis berduka, antara lain; berduka normal, antisipatif, rumit, tertutup. Teori
dari proses berduka diantaranya; 1) Teori Engels, Menurut Engels proses berduka
mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang
berduka maupun menjelang ajal fase I (shock dan tidak percaya), fase II
(berkembangnya kesadaran), fase III (restitusi), fase IV, fase V, 2) Teori Kubler-
Ross, kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross adalah berorientasi pada
perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut : penyangkalan (denial),
kemarahan (anger), penawaran (bargaining), depresi (depression), penerimaan
(acceptance), 3) Teori Martocchio, menggambarkan 5 fase kesedihan yang
mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan, 4) Teori
Rando, mendefinisikan respon berduka menjadi 3 kategori yaitu :penghindaran,
konfrontasi, dan akomodasi.

29