Anda di halaman 1dari 44

MODUL 1

BEDAH MINOR DAN KELAINAN KONGENITAL

Skenario 1

Kok banyak banget ya penyakitku ?

Pasien laki-laki usia 20 tahun datang ke RSGM Unand dengan keluhan ingin dioperasi langit-
langitnya yang bolong. Pasien datang bersama orang tua dan adek pasien. Orang tua pasien mengaku
bahwa pasien pernah dioperasi labioplasty saat usia 1 tahun, dan pernah didiagnosis kelainan jantung
bawaan, serta mempunyai riwayat pernah terkena penyakit bells palsy. Pada pemeriksaan klinis
ditemukan cleft pada gnatus dan palatum sinistra, impacted gigi 38 dan 48. Dokter gigi menjelaskan
bahwa akan dilaksanakan operasi palatoplasty oleh tim dokter di kamar operasi. Pasien harus puasa
dan melakukan pemeriksaan lab darah serta prosedur aseptic sebagai bagian dari patient safety.
Dokter gigi membuatkan surat konsul terlebih dahulu kepada dokter kardiologist / internist terkait
dengan jantung bawaan. Dokter gigi juga menyampaikan rencana operasi odontektomi jika operasi
palatoplasty sudah selesai dan sembuh, karena gigi yang impaksi bisa menjadi focus infeksi.

Orang tua pasien juga memeriksakan gigi adek pasien ( laki-laki usia 7 tahun ) ke dokter gigi. Pada
pemeriksaan klinis terlihat sisa akar gigi 51, sementara gigi 11 sudah keluar. Dokter gigi
menyarankan agar sisa akar tersebut dicabut. Dokter gigi menjelaskan prosedur pencabutan kepada
orang tua pasien yang harus didahului dengan anastesi supaya pasien tidak sakit.

Bagaimana saudara menjelaskan kasus di atas?


Langkah 1. Mengklarifikasi terminology yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang
dapat menimbulkan kesalahan interpretasi

Labioplasty : prosedur bedah untuk memperbaiki kondisi mulut dan hidung untuk memperbaiki fungsi
dan bentuk

Bedah minor : bedah ringan dengan anastesi lokal

Bells palsy : kelumpuhan pada salah satu sisi wajah sehingga menyebabkan wajah asimetris yang
menyerang N.Facialis

Palatoplasty : prosedur bedah untuk memperbaiki celah bibir dan langit-langit mulut

Aseptic : prosedur sebelum dan sesudah bedah untuk mencegah mikroorganisme masuk agar tidak
infeksi

Odontektomi : suatu tindakan bedah atau operasi yang dilakukan untuk mengeluarkan gigi yang
impaksi

Cleft : suatu celah karena kelainan congenital pada bibir atas, alveolus atau langit-langit

Patient safety : upaya untuk mencegah bahaya pada pasien sebelum dan sesudah bedah

Langkah 2. Menentukan masalah

1. Kenapa langit-langit pasien bercelah ?


2. Bagaimana teknik palatoplasty dan labioplasty ?
3. Berapa usia yang tepat untuk melakukan palatoplasty ?
4. Apa gejala dan penyebab bells palsy ?
5. Apa saja kelainan congenital oral dan maksilofasial ?
6. Apa penyebab gigi impaksi ?
7. Kenapa gigi yang impaksi bisa menjadi focus infeksi ?
8. Apa saja indikasi dan kontraindikasi odontektomi ?
9. Komplikasi paska odontektomi dan ekstraksi ?
10. Mengapa harus konsul ke kardiologist sebelum bedah ?
11. Kenapa harus puasa sebelum operasi ?
12. Bagaimana prosedur aseptic sebelum bedah ?
13. Bagaimana penatalaksanaan pasien kompromis medis ?
14. Apa saja macam-macam anastesi ?
15. Bagaimana mekanisme anastesi ?
16. Apa saja jenis bedah minor di kedokteran gigi ?
17. Apa tindakan untuk adik pasien sesuai kasus di scenario ?

Langkah 3. Menganalisis masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge

1. Penyebab langit-langit pasien bercelah yaitu


- Kelainan kongenital
- Herediter
- Defisiensi nutrisi
- Trauma

2. Teknik palatoplasty
- Teknik double flap : membutuhkan 2 flap periosteal ( palatum durum ) dan dijahit (
palatum molle ) .
Bisa dengan 2 cara yaitu Palatum durum pertama lalu palaum molle atau palatum molle
pertama dan palatum durum ditunda
-
Teknik 3 flap
-
Double z plasty
-
Von Langenbeck

Teknik labioplasty

- Bilateral
- Unilateral
3. Syarat pembedahan mengacu pada “The Rule of Tens”, yaitu berat bayi mencapai 10 pound (
4,5 kg ), jumlah leukosit dibawah 10.000 per milimeter kubik, HB di atas 10 gr%, dan umur
di atas 10 minggu. Sedangakan menurut Fisher, rekonstruksi celah bibir sebaiknya dikerjakan
sedini mungkin

4. Tanda :
- Asimetris pada salah satu sisi wajah
- Mata berair
- Mengeces karena peradangan N.Facialis sehingga otot lemah

Gejala : Sakit pada telinga, kepala, rahang. Penyebab karena trauma, genetic atau virus

5. Kelainan :
- Cleft palate
- Cleft lip
- Kombinasi cleft palate dan cleft lip
- Cleft hingga uvula
- Perlekatan frenulum tinggi
- Bentuk rahang
- Anodontia

6. Penyebab gigi impaksi yaitu


- Karena pada saat gigi erupsi terhalan karena gigi disebelahnya, persistensi dan jaringan
mukosa tebal
- Gigi abnormal
- Malnutrisi
- Kekurangan ruang

7. Gigi yang impaksi bisa menjadi focus infeksi karena dapat menyebabkan impaksi makanan
yang akan menyebabkan infeksi dan lokasi yang sulit untuk dibersihkan

8. Indikasi
- Pencegahan karies
- Gigi impaksi dibawah protesa
- Pencegahan penyakit periodontal

Kontraindikasi

- Usia lanjut
- Radang akut
- Kelainan sistemik

9. Komplikasi paska odontektomi dan ekstraksi yaitu


- Jahitan terbuka
- Fraktur
- Gigi tetangga mobility
- Perforasi pada sinus
- Ngilu pada rahang
- Pendarahan
- Oedema
- Paraestesi
10. Konsul ke kardiologist sebelum bedah untuk mengetahui kelainan bawaan, bisa dilakukan
operasi atau tidak dan untuk mencegah komplikasi paska bedah

11. Harus puasa sebelum operasi karena jika mengkonsumsi makanan dan minuman akan
meningkatkan kadar glukosa, lemak dan zat besi yang akan menyebabkan perubahan hasil
pemeriksaan sebenarnya

12. Operator :
- Memakai masker dan penutup kepala
- Mencuci tangan
- Memakai jubah dan handscoon

Pasien :

- Sterilisasi daerah operasi


- Teknik operasi aman
- Sterilisasi ruangan, alat dan pakaian
- Menggunakan antiseptic

13. Penatalaksanaan pasien kompromis medis


- Antibiotic profilaksis : amoxicilin peroral, clindamicin 600 mg 1 jam sebelum bedah
- Anastesi umum : amoxicillin IV dan amoxicillin peroral 1 gr pd induksi dan 0,5 gr 6 jam
kemudian

14. Macam-macam anastesi


- Anastesi local : topical dan injeksi
- Anastesi regional
- Anastesi umum
- Sedation anastesi

15. Mekanisme anastesi yaitu blok potensial aksi pada saraf sehingga tidak sampai ke system
saraf pusat

16. Bedah minor di kedokteran gigi

- Prepostetik
- Odontektomi
- Bedah sebelum konservasi
- Bedah sebelum tindakan orthodonti

17. tindakan untuk adik pasien sesuai kasus di scenario yaitu ekstraksi sisa akar dengan
pemberian anastesi local
Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan
mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara
terintegrasi.
Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan congenital


2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang anastesi
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang aseptic dan patient safety
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penatalaksanaan pasien dengan
kompromis medis
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan N.V dan N.VII
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang bedah minor

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain.

Langkah 7. Sintesis dan uji informasi yang telah diperoleh

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan congenital

Definisi Kelainan Kongenital


Kelainan kongenital atau bawaan adalah kelainan yang sudah ada sejak lahir yang dapat
disebabkan oleh faktor genetik maupun non genetik. Kadang-kadang suatu kelainan kongenital
belum ditemukan atau belum terlihat pada waktu bayi lahir, tetapi baru ditemukan beberapa saat
setelah kelahiran bayi. Selain itu, pengertian lain tentang kelainan sejak lahir adalah defek lahir,
yang dapat berwujud dalam bentuk berbagai gangguan tumbuh-kembang bayi baru lahir, yang
mencakup aspek fisis, intelektual dan kepribadian.

Patifisiologi
Berdasarkan patogenesis, kelainan kongenital dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Malformasi
Malformasi adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh kegagalan atau ketidaksempurnaan
dari satu atau lebih proses embriogenesis. Perkembangan awal dari suatu jaringan atau organ
tersebut berhenti, melambat atau menyimpang sehingga menyebabkan terjadinya suatu
kelainan struktur yang menetap. Beberapa contoh malformasi misalnya bibir sumbing dengan
atau tanpa celah langit-langit, defek penutupan tuba neural, stenosis pylorus, spina bifida, dan
defek sekat jantung.

Malformasi dapat digolongkan menjadi malformasi mayor dan minor. Malformasi mayor
adalah suatu kelainan yang apabila tidak dikoreksi akan menyebabkan gangguan fungsi
tubuh serta mengurangi angka harapan hidup. Sedangkan malformasi minor tidak akan
menyebabkan problem kesehatan yang serius dan mungkin hanya berpengaruh pada segi
kosmetik. Malformasi pada otak, jantung, ginjal, ekstrimitas, saluran cerna termasuk
malformasi mayor, sedangkan kelainan daun telinga, lipatan pada kelopak mata, kelainan
pada jari, lekukan pada kulit (dimple), ekstra putting susu adalah contoh dari malformasi
minor.

2. Deformasi
Deformasi didefinisikan sebagai bentuk, kondisi, atau posisi abnormal bagian tubuh yang
disebabkan oleh gaya mekanik sesudah pembentukan normal terjadi, misalnya kaki bengkok
atau mikrognatia (mandibula yang kecil). Tekanan ini dapat disebabkan oleh keterbatasan
ruang dalam uterus ataupun faktor ibu yang lain seperti primigravida, panggul sempit,
abnormalitas uterus seperti uterus bikornus, kehamilan kembar.
3. Disrupsi
Disrupsi adalah defek morfologik satu bagian tubuh atau lebih yang disebabkan oleh gangguan
pada proses perkembangan yang mulanya normal. Ini biasanya terjadi sesudah embriogenesis.
Berbeda dengan deformasi yang hanya disebabkan oleh tekanan mekanik, disrupsi dapat
disebabkan oleh iskemia, perdarahan atau perlekatan. Misalnya helaian-helaian membran
amnion, yang disebut pita amnion, dapat terlepas dan melekat ke berbagai bagian tubuh,
termasuk ekstrimitas, jari-jari, tengkorak, serta muka.
4. Displasia
Patogenesis lain yang penting dalam terjadinya kelainan kongenital adalah displasia. Istilah
displasia dimaksudkan dengan kerusakan (kelainan struktur) akibat fungsi atau organisasi sel
abnormal, mengenai satu macam jaringan di seluruh tubuh. Sebagian kecil dari kelainan ini
terdapat penyimpangan biokimia di dalam sel, biasanya mengenai kelainan produksi enzim
atau sintesis protein. Sebagian besar disebabkan oleh mutasi gen. Karena jaringan itu sendiri
abnormal secara intrinsik, efek klinisnya menetap atau semakin buruk. Ini berbeda dengan
ketiga patogenesis terdahulu. Malformasi, deformasi, dan disrupsi menyebabkan efek dalam
kurun waktu yang jelas, meskipun kelainan yang ditimbulkannya mungkin berlangsung lama,
tetapi penyebabnya relatif berlangsung singkat. Displasia dapat terus-menerus menimbulkan
perubahan kelainan seumur hidup.

Beberapa Macam Pengelompokkan Kelainan Kongenital

Menurut Gejala Klinis

Kelainan kongenital dikelompokkan berdasarkan hal-hal berikut:


a. Kelainan tunggal (single-system defects)
Porsi terbesar dari kelainan kongenital terdiri dari kelainan yang hanya mengenai satu regio dari satu
organ (isolated). Contoh kelainan ini yang juga merupakan kelainan kongenital yang tersering
adalah celah bibir, club foot, stenosis pilorus, dislokasi sendi panggul kongenital dan penyakit
jantung bawaan. Sebagian besar kelainan pada kelompok ini penyebabnya adalah multifaktorial.
b. Asosiasi (Association)
Asosiasi adalah kombinasi kelainan kongenital yang sering terjadi bersama-sama. Istilah asosiasi
untuk menekankan kurangnya keseragaman dalam gejala klinik antara satu kasus dengan kasus yang
lain. Sebagai contoh “Asosiasi VACTERL” (vertebral anomalies, anal atresia, cardiac
malformation, tracheoesophageal fistula, renal anomalies, limbs defects). Sebagian besar anak
dengan diagnosis ini tidak mempunyai keseluruhan anomali tersebut, tetapi lebih sering mempunyai
variasi dari kelainan di atas.
c. Sekuensial (Sequences)
Sekuensial adalah suatu pola dari kelainan multiple dimana kelainan utamanya diketahui. Sebagai
contoh, pada “Potter Sequence” kelainan utamanya adalah aplasia ginjal. Tidak adanya produksi
urin mengakibatkan jumlah cairan amnion setelah kehamilan pertengahan akan berkurang dan
menyebabkan tekanan intrauterine dan akan menimbulkan deformitas seperti tungkai bengkok dan
kontraktur pada sendi serta menekan wajah (Potter Facies). Oligoamnion juga berefek pada
pematangan paru sehingga pematangan paru terhambat. Oleh sebab itu bayi baru lahir dengan
“Potter Sequence” biasanya lebih banyak meninggal karena distress respirasi dibandingkan karena
gagal ginjal.
d. Kompleks (Complexes)
Istilah ini menggambarkan adanya pengaruh berbahaya yang mengenai bagian utama dari suatu
regio perkembangan embrio, yang mengakibatkan kelainan pada berbagai struktur berdekatan yang
mungkin sangat berbeda asal embriologinya tetapi mempunyai letak yang sama pada titik tertentu
saat perkembangan embrio. Beberapa kompleks disebabkan oleh kelainan vaskuler. Penyimpangan
pembentukan pembuluh darah pada saat embriogenesis awal, dapat menyebabkan kelainan
pembentukan struktur yang diperdarahi oleh pembuluh darah tersebut. Sebagai contoh, absennya
sebuah arteri secara total dapat menyebabkan tidak terbentuknya sebagian atau seluruh tungkai yang
sedang berkembang. Penyimpangan arteri pada masa embrio mungkin akan mengakibatkan
hipoplasia dari tulang dan otot yang diperdarahinya. Contoh dari kompleks, termasuk hemifacial
microsomia, sacral agenesis, sirenomelia, Poland Anomaly, dan Moebius Syndrome.
e. Sindrom
Kelainan kongenital dapat timbul secara tunggal (single), atau dalam kombinasi tertentu. Bila
kombinasi tertentu dari berbagai kelainan ini terjadi berulang-ulang dalam pola yang tetap, pola ini
disebut dengan sindrom. Istilah “syndrome” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “berjalan
bersama”. Pada pengertian yang lebih sempit, sindrom bukanlah suatu diagnosis, tetapi hanya
sebuah label yang tepat. Apabila penyebab dari suatu sindrom diketahui, sebaiknya dinyatakan
dengan nama yang lebih pasti, seperti “Hurler syndrome” menjadi “Mucopolysaccharidosis type I”.
Sindrom biasanya dikenal setelah laporan oleh beberapa penulis tentang berbagai kasus yang
mempunyai banyak persamaan. Sampai tahun 1992 dikenal lebih dari 1.000 sindrom dan hampir
100 diantaranya merupakan kelainan kongenital kromosom. Sedangkan 50% kelainan kongenital
multipel belum dapat digolongkan ke dalam sindrom tertentu.

Jenis-Jenis Kelainan Kongenital Facio-Oral

1.Choanal Atresia

Obstruksi total hidung pada bayi baru lahir yang dapat menyebabkan kematian akibat asfiksia.
Selama mencoba inspirasi, lidah ditarik ke palatum mulut dan terjadi obstruksi dari hasil jalan
napas oral. Upaya pernapasan kuat menghasilkan retraksi dinding dada. Angka kejadian sianosis
dan kematian dapat meningkat jika pengobatan yang sesuai tidak tersedia. Choanal atresia dapat
diketahui jika bayi menangis dan mengambil napas melalui mulut. Kemudian saat berhenti
menangis, mulut tertutup dan siklus obstruksi akan berulang. Choanal atresia dapat didiagnosis
dengan menggunakan pemeriksaan posterior rhinoscopy, Rhinography dan CT-scan) yang dapat
pula digunakan sebagai radiografi pilihan dalam evaluasi atresia choanal.22

Gambar . . Pasien dengan choanal atresia pada pemeriksaan rhinography.


rhinoscopy. Pencitraan dengan menggunakan CT-scan pada choanal atresia.

2.Nasal Dermoid

Nasal dermoid adalah neoplasma jinak yang berasal dari mesodermal dan ektodermal Rongga
nasal dermoid yang terbentuk berasal dari epitel squamosa atau berupa saluran sinus yang terdapat
folikel rambut, kelenjar sabasea dan kelenjar eccrine. Dermoid diasumsikan timbul sebagai hasil
dari beberapa sel totipotent yang terjebak saat proses ektodermal berlangsung atau disebabkan
karena kegagalan ekstensi ektodermal ke septum hidung janin dan menghilang sebagai penyatuan
septum dan mengeras. Nasal dermoid dapat didiagnosis dengan studi pencitraan seperti radiografi,
CT-scan dan MRI sangat membantu dalam membuat diagnosis diferensial yang benar dari kista
dermoid.

Gambar A. Bayi dengan nasal dermoid daerah pangkal hidung. B. Nasal dermoid
menggunakan CT-scan untuk membedakan encephalocele.28

Nasal dermoid merupakan salah satu kelainan kongenital pada daerah nasal yang sering terjadi.
Nasal dermoid memiliki persentase sebesar 12% dari angka kejadian dermoid di daerah kepala-
leher. Sekitar sebesar 1,1% dari angka kejadian dermoid di seluruh tubuh. Paling sering terjdi di
garis tengah nasi dan dorsum nasi. Sebesar 75% didiagnosis pada awal-awal tahun kehidupan.

3.Anophthalmos

True anophthalmos atau primary anophthalmos sangat jarang terjadi. Kondisi tersebut terjadi bila
terdapat absensi dari jaringan okular di dalam rongga orbita. Anophthalmos sekunder diakibatkan
dari kegagalan di berbagai tahap pada perkembangan mata dalam pertumbuhan vesikula optika.
Anopthtalmos dapat menyebabkan masalah yang serius pada anak karena tidak hanya
ketidakadanya bola mata untuk melihat tetapi juga kecacatan sekunder dari orbita, kelopak mata
dan rongga mata.

Gambar 7. Pasien dengan anophtalmos.


Anophthalmos dapat didiagnosis dengan melalui pencitraan seperti CT-scan dan MRI kepala dan
bagian orbita serta dapat menggunakan ultrasound sebagai penegakan diagnosis. Misalnya untuk
B-scan ultrasound (brightness-scan ultrasound) akan menunjukkan tidak adanya jaringan yang
lengkap pada okular di anophthalmos. Pemeriksaan USG transvaginal dapat mendeteksi kelainan
mata setelah usia kehamilan 22 minggu.

Kelainan kongenital anophthalmos terjadi di USA merupakan kelainan kongenital yang sangat
jarang

4.Coloboma

Coloboma dapat terjadi jika fisura koroidea gagal menutup. Secara normal, fisura ini menutup
pada minggu ketujuh perkembangan janin. Jika tidak menutup, akan terbentuk celah. Meskipun
biasanya hanya terdapat di iris atau coloboma iridis. Coloboma sendiri adalah kelainan mata umum
yang sering berkaitan dengan cacat mata lainnya. Coloboma pada kelopak mata juga dapat terjadi
dan dapat meluas ke korpus silare, retina, koroid dan nervus optikus. Coloboma dapat didiagnosis
dengan direct atau indirect ophtahalmoskopi atau dengan pemeriksaan lebih lanjut dengan
menggunakan CT-scan dan MRI. Penggunaan optical coherence tomography untuk
memperlihatkan celah optik dan coloboma pada retinokoroidalis. CT-scan juga dapat
membuktikan adanya syndrome lain seperti Treachers Collins Syndrome.

Sebuah literatur mengatakan bahwa prevalensi kelahiran untuk coloboma 2-14 per 100.000
kelahiran bayi hidup (terutama mengenai daerah iris atau coloboma iridis).35 Studi lain mengatakan
bahwa 33 anak terdiagnosis memiliki coloboma okular (kejadian tahunan, 2,4 per 100.000
penduduk dengan usia kurang dari 19 tahun; dengan angka prevalensi, 1:2.077 kelahiran bayi
hidup). Dari 33 penderita 22 pasien penderita coloboma (67%) memiliki unilateral coloboma. Dari
33 pasien, 12 pasien (36%) memiliki coloboma pada bagian segmen anterior bola mata, 13 pasien
coloboma (39%) mengenai segmen posterior saja dan 8 pasien coloboma (24%) terdapat di
keduanya.

5.Cleft Lip, Cleft Palate, Cleft Lip-Palate

Bibir sumbing dengan atau tanpa sumbing palatum adalah cacat bawaan kraniofasial yang paling
banyak ditemukan (lihat gambar 10). Penyebab sumbing cukup kompleks dan melibatkan banyak
faktor genetik dan lingkungan. Derajat dan kompleksitas sumbing sangat bervariasi yang nantinya
akan menentukan tata laksana dan hasil akhir rekonstruksi untuk tiap individu. Sumbing dibentuk
saat bagian kanan dan kiri bibir atau palatum tidak berfusi secara sempurna saat pertumbuhan
intrauterin. Sehingga menghasilkan gap atau celah diantaranya. Sumbing bibir dengan atau tanpa
sumbing palatum menitik beratkan pada fungsi, struktur dan estetika organ tersebut. Sumbing
dapat didiagnosis dengan menggunakan USG dan MRI pada saat masa kehamilan. Biasanya
terdeteksi saat kunjungan rutin antenatal care.

Gambar 10. Pasien dengan oral cleft.

Cleft lip atau cleft palate adalah salah satu kelainan kongenital pada manusia yang sering sekali
ditemukan. Kelainan kongenital ini diperkirakan terjadi pada 1 dari setiap 700 hingga 1000
kelahiran bayi. Paling sering terjadi pada orang-orang di Asia dan Amerika Latin (1:500 kelahiran),
ditemukan beberapa kasus terjadi pada ras Kaukasia (1:1000 kelahiran) dan sangat jarang
ditemukan pada ras Amerika-Afrika (1:2000 kelahiran).Dalam jurnal lain dikatakan bahwa
diperkirakan di Amerika Serikat angka kejadian kelainan kongenital sumbing (termasuk bibir
sumbing tanpa atau dengan sumbing pada palatum dan sumbing pada palatum terisolasi) mencapai
angka 7500 bayi baru lahir tiap tahunnya.

Kelainan kongenital bibir sumbing tanpa atau dengan sumbing palatum serta sumbing pada langit-
langit dapat berupa suatu syndromic misalnya sumbing yang terjadi merupakan bagian dari
sekumpulan beberapa anomali organ-organ tubuh, namun yang sering sekali terjadi adalah kelainan
sumbing terisolasi atau sering disebut dengan nonsyndromic. Literatur lain menyebutkan bahwa
angka kejadian sumbing juga bervariasi dimana sumbing bibir lebih sering terjadi pada anak laki-
laki, sementara sumbing palatum lebih sering pada anak perempuan.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kejadian Kelainan Kongenital

Penyebab langsung kelainan kongenital sering kali sukar diketahui. Pertumbuhan embrional dan fetal
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik, faktor lingkungan atau kedua faktor secara
bersamaan. Beberapa faktor yang diduga dapat memengaruhi terjadinya kelainan kongenital antara
lain:

a. Kelainan Genetik dan Kromosom.


Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan besar akan berpengaruh atas kelainan kongenital
pada anaknya. Di antara kelainan-kelainan ini ada yang mengikuti hukum Mendel biasa, tetapi dapat
pula diwarisi oleh bayi yang bersangkutan sebagai unsur dominan (dominant traits) atau kadang-
kadang sebagai unsur resesif. Penyelidikan daIam hal ini sering sukar, tetapi adanya kelainan
kongenital yang sama dalam satu keturunan dapat membantu langkah-langkah selanjutnya.
Dengan adanya kemajuan dalam bidang teknologi kedokteran, maka telah dapat diperiksa
kemungkinan adanya kelainan kromosom selama kehidupan fetal serta telah dapat dipertimbangkan
tindakan-tindakan selanjutnya. Beberapa contoh kelainan kromosom autosomal trisomi 21 sebagai
sindrom Down (mongolisme), kelainan pada kromosom kelamin sebagai sindroma Turner.

b. Mekanik
Tekanan mekanik pada janin selama kehidupan intrauterin dapat menyebabkan kelainan bentuk organ
tubuh hingga menimbulkan deformitas organ tersebut. Faktor predisposisi dalam pertumbuhan organ
itu sendiri akan mempermudah terjadinya deformitas suatu organ. Sebagai contoh deformitas organ
tubuh ialah kelainan talipes pada kaki seperti talipes varus, talipes valgus, talipes equinus dan talipes
equinovarus (club foot).

c. Infeksi.
Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah infeksi yang terjadi pada periode
organogenesis yakni dalam trimester pertama kehamilan. Adanya infeksi tertentu dalam periode
organogenesis ini dapat menimbulkan gangguan dalam pertumbuhan suatu organ tubuh. Infeksi pada
trimester pertama di samping dapat menimbulkan kelainan kongenital dapat pula meningkatkan
kemungkinan terjadinya abortus.
d. Obat
Beberapa jenis obat tertentu yang diminum wanita hamil pada trimester pertama kehamilan diduga
sangat erat hubungannya dengan terjadinya kelainan kongenital pada bayinya. Salah satu jenis obat
yang telah diketahui dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah thalidomide yang dapat
mengakibatkan terjadinya fokomelia atau mikromelia. Beberapa jenis jamu-jamuan yang diminum
wanita hamil muda dengan tujuan yang kurang baik diduga erat pula hubungannya dengan terjadinya
kelainan kongenital, walaupun hal ini secara laboratorik belum banyak diketahui secara pasti.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang anastesi

Anestesi
Istilah anestesi dimunculkan pertama kali oleh dokter Oliver Wendell Holmes (1809-1894)
berkebangsaan Amerika, diturunkan dari dua kata Yunani : An berarti tidak, dan Aesthesis berarti rasa
atau sensasi nyeri. Secara harfiah berarti ketiadaan rasa atau sensasi nyeri. Dalam arti yang lebih luas,
anestesi berarti suatu keadaan hilangnya rasa terhadap suatu rangsangan. Pemberian anestetikum
dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri baik disertai atau tanpa disertai hilangnya
kesadaran. Seringkali anestesi dibutuhkan pada tindakan yang berkaitan dengan pembedahan.
Anestetikum yang diberikan pada hewan akan membuat hewan tidak peka terhadap rasa nyeri
sehingga hewan menjadi tenang, dengan demikian tindakan diagnostik, terapeutik, atau pembedahan
dapat dilaksanakan lebih aman dan lancar (Tranquilli et al. 2007; Miller 2010).

Klasifikasi Anestesi
Keadaan teranestesi dapat dihasilkan secara kimia dengan obat-obatan dan secara fisik melalui
penekanan sensori pada syaraf. Obat-obatan anestetika umumnya diklasifikasikan berdasarkan rute
penggunaannya, yaitu:

1). Topikal misalnya melalui kutaneus atau membrana mukosa;


2). Injeksi seperti intravena, subkutan, intramuskular, dan intraperitoneal;
3). Gastrointestinal secara oral atau rektal; dan
4). Respirasi atau inhalasi melalui saluran nafas (Tranquilli et al. 2007).
Anestetetikum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan daerah atau luasan pada tubuh yang
dipengaruhinya, yaitu :

1). Anestesi lokal, terbatas pada tempat penggunaan dengan pemberian secara topikal, spray, salep
atau tetes, dan infiltrasi.

2). Anestesi regional, mempengaruhi pada daerah atau regio tertentu dengan pemberian secara
perineural, epidural, dan intratekal atau subaraknoid.

3). Anestesi umum, mempengaruhi seluruh sistem tubuh secara umum dengan pemberian secara
injeksi, inhalasi, atau gabungan (balanced anaesthesia) (Adams 2001; McKelvey dan Hollingshead
2003).

Anestesi Lokal
Anestetikum lokal adalah suatu bahan kimia yang mampu menghambat konduksi syaraf perifer tanpa
menimbulkan kerusakan permanen pada syaraf tersebut. Mekanisme kerja anestetikum lokal dengan
cara menghambat (blok) saluran ion sodium (Na) pada syaraf perifer, konduksi atau aksi potensial
pada syaraf terhambat sehingga respon nyeri secara lokal hilang. Anestetikum lokal mencegah proses
depolarisasi membran syaraf secara lokal melalui penghambatan saluran ion Na, sehingga membran
akson tidak dapat bereaksi dengan neurotransmitter acetilkolin dan membran akan tetap dalam
keadaan semipermiabel serta tidak terjadi perubahan potensial. Keadaan tersebut menyebabkan aliran
inpuls yang melewati syaraf berhenti, sehingga semua rangsangan tidak sampai ke SSP. Sifat
hambatan syaraf umumnya bersifat lokal, selektif, dan tergantung pada dosis atau jumlah obat yang
diberikan (Tranquilli et al. 2007; Miller 2010).
Sifat sifat yang harus dimiliki oleh obat anestetikum lokal adalah poten, artinya efektif dalam dosis
rendah, daya penetrasinya baik, mula kerjanya cepat, masa kerjanya lama, toksisitas sistemik rendah,
tidak mengiritasi jaringan, pengaruhnya reversibel, dan mudah dikeluarkan dari tubuh (Adams 2001;
Tranquilli et al. 2007). Penggunaan anestetikum lokal bisa dilakukan dengan meneteskan pada
permukaan daerah yang akan dianestesi (surface aflication), dengan melakukan injeksi secara sub-
kutan pada daerah yang akan dianestesi (subdermal, intradermal), serta dengan melakukan
pemblokiran pada daerah tertentu (field block anestesi). Anestetikum yang sering digunakan sebagai
anestetikum lokal adalah procaine HCI 2% - 4%, Lidocaine 0,5 - 2%, Lidocaine 4%, Tetracaine,
bupivacaine 0,25% atau 0,5%, Dibucain, Pehacaine, Lidonest, dan Chlor buthanol dengan dosis
pemberian secukupnya (Quantum statis, QS). Lidocaine dan bupivacaine dapat diencerkan dengan
larutan salin (bukan air) untuk menurunkan konsentrasinya. Bupivacaine mempunyai onset lebih
lambat (20 menit) dan durasi lebih panjang (6 jam) dibandingkan lidocaine (onset lebih cepat dan
durasi 1-2 jam) (Adams 2001; Sudisma 2006; Tranquilli et al. 2007).

Anestesi Regional
Anestesi regional adalah tindakan menghilangnya nyeri yang dilakukan dengan cara
menyuntikkan anestetikum lokal pada lokasi syaraf yang menginervasi regio atau daerah tertentu
sehingga menyebabkan hambatan konduksi inpuls yang reversibel. Anestetikum regional dapat
menghilangkan rasa nyeri pada suatu daerah atau regio tertentu secera reversibel tanpa disertai
hilangnya kesadaran. Mekanisme kerja dan jenis anestetikum yang digunakan sama dengan
anestetikum lokal, tetapi daerah atau luasan pada tubuh yang dipengaruhi adalah daerah atau regio
tertentu. Anestesi regional dibedakan berdasarkan rute pemberiannya, yaitu secara epidural, spinal
atau intrathekal atau subaraknoid, dan blok pleksus brakhialis (Adams 2001; McKelvey dan
Hollingshead 2003).
Anestesi epidural dihasilkan dengan cara menginjeksikan anestetikum lokal diantara duramater dan
periosteum dari canalis spinalis (epidural space). Anestetikum tidak langsung mengenai medula
spinalis, sehingga efek anestesi terjadi setelah 15-20 menit pemberian. Anestesi epidural menghambat
sensasi dan kontrol motorik daerah abdominal, pelvis, ekor, dan kaki belakang. Anestesi ini biasanya
digunakan untuk laparotomi, amputasi ekor, urethrostomi, pembedahan cesar, pembedahan daerah
pelvis, dan amputasi daeran kaki belakang. Pada hewan kecil dilakukan antara tulang lumbar terakhir
dan tulang sakral 1. Sedangkan pada hewan besar dilakukan antara tulang coccigia 1 dan 2.
Anestetikum yang digunakan sama dengan anestetikum lokal, seperti lidocaine 2%, bupivacain 0,5%,
ropivacain 0,75% atau mepivacaine 2% dengan dosis pemberian 1ml/5kg BB. Lidocain menghasilkan
durasi sekitar 1-2 jam dan bupivacain sekitar 6 jam (McKelvey dan Hollingshead 2003).
Spinal atau intrathekal atau subaraknoid anestesi sama dengan anestesi epidural tetapi dilakukan
melalui duramater dan subaraknoid dimana jarum menembus duramater dan subaraknoid sehingga
anestetikum masuk ke dalam dan langsung mengenai syaraf spinal, menghasilkan anestesi yang
segera dan lebih cepat. Anestesi ini mengakibatkan resiko berontak dan rasa sakit yang memerlukan
kesembuhan lebih lama. Anestetikum yang digunakan sama dengan anestetikum lokal. Sedangkan
blok pleksus brakhialis adalah anestesi regional dengan cara menyuntikkan anestetikum lokal di
daerah perjalanan fleksus brakhialis yang menginervasi daerah kaki depan (Adams 2001; McKelvey
dan Hollingshead 2003; Sudisma 2006; Tranquilli et al. 2007).

Anestesi Umum
Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaran yang
bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat karena adanya induksi
secara farmakologi atau penekanan sensori pada syaraf. Agen anestesi umum bekerja dengan cara
menekan sistem syaraf pusat (SSP) secara reversibel (Adams 2001). Anestesi umum merupakan
kondisi yang dikendalikan dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui penggunaan obat-
obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai dengan hilangnya respon rasa nyeri (analgesia),
hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya respon terhadap rangsangan atau refleks dan hilangnya gerak
spontan (immobility), serta hilangnya kesadaran (unconsciousness) (McKelvey dan Hollingshead
2003).

Penggunaan anestetikum lokal bisa dilakukan dengan meneteskan pada permukaan daerah yang akan
dianestesi (surface aflication), dengan melakukan injeksi secara sub-kutan pada daerah yang akan
dianestesi (subdermal, intradermal), serta dengan melakukan pemblokiran pada daerah tertentu (field
block anestesi). Anestetikum yang sering digunakan sebagai anestetikum lokal adalah procaine HCI
2% - 4%, Lidocaine 0,5 - 2%, Lidocaine 4%, Tetracaine, bupivacaine 0,25% atau 0,5%, Dibucain,
Pehacaine, Lidonest, dan Chlor buthanol dengan dosis pemberian secukupnya (Quantum statis, QS).
Lidocaine dan bupivacaine dapat diencerkan dengan larutan salin (bukan air) untuk menurunkan
konsentrasinya. Bupivacaine mempunyai onset lebih lambat (20 menit) dan durasi lebih panjang (6
jam) dibandingkan lidocaine (onset lebih cepat dan durasi 1-2 jam) (Adams 2001; Sudisma 2006;
Tranquilli et al. 2007).

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang aseptic dan patient safety

ASEPSIS

Asepsis merupakan suatu tindakan untuk mengurangi jumlah mikroba semaksimal mungkin. Hal ini
perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran mikroba dari orang yang satu terhadap yang lainnya.
Usaha dilakukan untuk menjaga agar lingkungan dari pasien dibebaskan dari kontaminasi dan juga
pasien dibebaskan dari koloni mikroba.

Asepsis merupakan keadaan yang bebas dari infkesi, karena itu teknik aseptik digunakan untuk
menggambarkan langkah-langkah yang perlu diambil guna mencegah infeksi yang timbul dari
kontaminasi luka selama pembedahan, yang dapat menyebabkan penyembuhan yang terlambat setelah
pembedahan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam asepsis medis adalah sebagai berikut :

1. Mengevaluasi setiap pasien untuk menentukan apakah terjadi proses infeksi, melihat dan
menentukan kemungkinan barrier tepat yang terlibat dalam proses infeksi. Isolasi penyakitnya dan
bukan pasiennya.
2. Ketika terjadi penetrasi pada tubuh, kulit sebagai barrier ditembus, maka kondisi pasien menjadi
rentan terhadap mikroba yang masuk ke dalam tubuh. Meskipun kulit yang merupakan barrier
yang baik untuk melawan kontaminasi mikroba, tetap saja mikroba dapat berkoloni jika tidak
dilakukan tindakan pencegahan secepat mungkin.
3. Seluruh cairan tubuh dari pasien dipertimbangkan terkontaminasi. Team pemberi layanan
kesehatan dan lingkungan dapat menjadi sumber kontaminasi bagi pasien.
4. Agen antiseptik digunakan untuk membunuh atau mencegah mikroba kulit, kulit tidak dapat
disterilkan tetapi jumlah mikroba dapat dikurangi, sedangkan agen desinfektan digunakan untuk
membunuh atau mencegah mikroba lingkungan. Antiseptik bukan merupakan desinfektan.
5. Karakteristik antiseptik meliputi kemampuan yang cepat untuk mengurangi flora, memiliki
spektrum yang luas dalam kemampuan membunuh, tidak dapat diabsorbsi melalui kulit dan
membran mukosa, dan harus dengan konsentrasi yang tepat.

Asepsis Pasca Bedah

Terdapat 2 hal yang perlu diperhatikan dalam tindakan asepsis setelah pembedahan, yaitu penanganan
luka dan penanganan benda tajam.

Beberapa prinsip perawatan setelah pembedahan berguna dalam mencegah penyebaran dari pathogen.
Luka sebaiknya diinspeksi atau ditutup dengan tangan operator yang dilindungi oleh sarung tangan
yang bersih. Ketika akan memeriksa beberapa pasien, maka pasien tanpa masalah infeksi sebaiknya
dilihat terlebih dahulu, dan yang meliliki masalah seperti abses yang didrain, dilihat sesudahnya.

Selama dan setelah pembedahan, bahan-bahan yang terkontaminasi sebaiknya di tangani dengan cara
dimana staff dan pasien lainnya tidak akan terinfeksi. Resiko yang paling umum dalam penyebaran
penyakit dari pasien terinfeksi terhadap staff adalah dengan tusukan jarum atau laserasi akibat scalpel.
Oleh karena itu maka jarum, blade scalpel, dan instrument tajam lainnya perlu ditangani secara hati-
hati untuk mencegah terjadinya luka.

Luka tajam dapat dicegah dengan penggunaan jarum anestesi lokal yang dimasukkan kembali ke
dalam tutupnya setelah digunakan. Jika pasien membutuhkan suntikan yang multiple dengan
menggunakan satu syringe, maka jarum sebaiknya ditempatkan kembali diantara waktu pakai untuk
menghindari kemungkinan tertusuk oleh jarum suntik.

Jarum dapat dengan aman ditutup kembali dengan menempatkan tutupnya pada holder, dengan forcep
atau instrument lainnya untuk memegang penutupnya, atau dengan mengarahkan jarum ke
penutupnya yang terletak di atas tray sampai jarum secara keseluruhan berada dalam penutupnya.
Karena itu, sewaktu menutupkan, penutupnya sebaiknya tidak dipegang oleh tangan operator, karena
posisi ini memiliki resiko yang tinggi untuk tertusuk oleh jarum.

Jarum disopable tidak boleh dibengkokkan atau dihancurkan setelah digunakan, dan jarum sebaiknya
tidak dilepaskan secara manual dari disposable syringe atau ditangani secara manual. Forcep atau
instrument lainnya dapat digunakan untuk menangani benda tajam. Berhati-hati untuk tidak
menempatkan atau melepaskan blade dari pegangan scalpel tanpa menggunakan instrument.
Disposable syringe, blade, jarum, dan benda tajam lainnya sebaiknya dibuang ke dalam suatu wadah
yang kaku, yang telah didesain khusus untuk benda tajam yang terkontaminasi, dan juga mudah
diakses.

PATIENT SAFETY

Patient safety (keselamatan pasien) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan
pasien lebih aman. Patient safety merupakan assement resiko, identifikasi yang berhubungan dengan
resiko pasien, pelaporan dan analisa insiden. Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Sistem ini mencegah terjadinya cedera
yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya dilakukan (Permenkes RI No 1691, 2011).

Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang perlu ditangani segera di rumah
sakit, maka dibuatlah standar keselamatan pasien yang terdiri dari tujuh standar, yaitu :

a. Hak Pasien.
b. Mendidik pasien dan keluarga.
c. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.
d. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan
keselamatan pasien.
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien.
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien.
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Tujuan Keselamatan Pasien

Ada beberapa tujuan keselamatan pasien yang dapat dijabarkan sebagai berikut :

a. Terciptaya budaya keselamatan pasien rumah sakit.


b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
c. Terlaksananya program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian yang tidak
diharapkan.
d.
Untuk mencapai tujuan keselamatan pasien, perlu dibuat langkah-langkah menuju keselamatan pasien
rumah sakit, yaitu :

a. Bangun Kesadaran akan nilai keselamatan pasien


b. Pimpin dan dukung staf anda
c. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko
d. Kembangkan sistem pelaporan
e. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
g. Cegah cedera mealui implementasi sistem keselamatan pasien

Sasaran Keselamatan Pasien (SKP)

Sasaran keselamatan pasien diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia Nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit BAB


IV pasal 8. Dalam pelaksanaannya, Keselamatan Pasien di Rumah Sakit mengacu pada enam
sasaran ( Six Goals Patient Safety ) yaitu :

a. Ketepatan identifikasi pai efektif


b. Meningkatkatkan komunikasi efektif
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
d. Kepastian tepat lokasi-tepat prosedur-tepat pasien operasi
e. Pengurangan resiko infeksi terkai pelayanan kesehatan
f. Pengurangan pasien jatuh

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang penatalaksanaan pasien dengan


kompromis medis

Pasien kompromis medis adalah pasien yang memiliki suatu kondisi kesehatan umum tertentu (fisik,
mental dan atau emosional) yang memiliki implikasi bagi ketetapan prosedur-prosedur dental
sehingga memerlukan beberapa modifikasi dalam perawatan dental. Dengan berkembangnya
teknologi di bidang kesehatan, semakin mudahnya akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,
dan keadaan sosioekonomi yang semakin baik memungkinkan seseorang untuk bisa hidup lebih lama,
oleh karena itu, dokter gigi mungkin akan menghadapi variasi kesehatan pasien yang akan ditangani
karena akan ada pasien yang menderita penyakit lain yang diderita selain masalah kesehatan giginya.
Inilah yang disebut dengan pasien kompromis medis.3 Pada saat dokter gigi sedang merawat pasien
tersebut, ada banyak hal yang harus diwaspadai oleh dokter gigi, seperti masalah dental dan jaringan
lunak rongga mulut yang mungkin meningkat pada pasien tersebut, serta tindakan perawatan yang
justru akan memperparah penyakit yang diderita oleh pasien.

Kondisi pasien kompromis medis ada bermacam – macam. Kondisi tersebut antara lain adalah
penyakit kardiovaskular, gangguan endokrin, gangguan pernafasan, gangguan pembuluh darah,
penyakit ginjal, dan lain-lain.
1. Penyakit Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat,
salah satunya adalah hipertensi. Dari hasil penelitian sebelumnya, prevalensi penyakit
kardiovaskular tertinggi adalah hipertensi.
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten di mana tekanan sistoliknya di atas 140
mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko
yang paling berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung dan pembuluh darah.10 Hipertensi
sering tidak menunjukkan gejala, sehingga baru disadari bila telah menyebabkan gangguan organ
seperti gangguan fungsi jantung atau stroke. Tidak jarang hipertensi ditemukan secara tidak
sengaja pada waktu pemeriksaan kesehatan rutin atau datang dengan keluhan lain

Tanda dan Gejala


Hipertensi jarang menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui skrining, atau saat
mencari penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak berkaitan. Beberapa orang
dengan tekanan darah tinggi melaporkan sakit kepala (terutama di bagian kepala belakang dan
pada pagi hari), serta pusing, vertigo, tinitus (dengung atau desis di dalam telinga), gangguan
penglihatan atau pingsan.
Pada pemeriksaan fisik, hipertensi juga dicurigai ketika terdeteksi adanya retinopati hipertensi
pada pemeriksaan fundus optik di belakang mata dengan menggunakan oftalmoskop. Biasanya
beratnya perubahan retinopati hipertensi dibagi atas tingkat I-IV, walaupun jenis yang lebih
ringan mungkin sulit dibedakan antara satu dan lainnya. Hasil oftalmoskopi juga dapat memberi
petunjuk berapa lama seseorang telah mengalami hipertensi

Pertimbangan Dental Pasien Hipertensi


Sebelum melakukan tindakan invasif, perlu bagi dokter gigi untuk mengukur tekanan darah
pasien untuk mengidentifikasi apakah pasien menderita hipertensi atau tidak. Pasien dengan
tekanan darah normal (< 120 sistolik dan < 80 diastol) dan pasien pra-hipertensi (120-139/80-89
mmHg) dapat menerima semua tindakan perawatan dental serta dapat diberikan anastesi lokal
dengan kandungan epineprin 1:100.000.
Pasien dengan hipertensi derajat 1 serta 2, perlu menjadi pertimbangan bagi dokter gigi. Tekanan
darah mereka akan semakin meningkat apabila tingkat kecemasan mereka terhadap perawatan
yang akan dilakukan meningkat. Dokter gigi bisa menunda perawatan sampai tekanan darah nya
normal. Untuk pasien yang memiliki tekanan darah > 180/110, tidak ada perawatan invasif yang
bisadilakukan sampai tekanan darahnya normal. Walaupun ada perawatan emergensi,
konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu untuk mengontrol tekanan darah pasien tersebut.14
Perlu untuk memberikan antibiotik profilaksis sebelum melakukan perawatan untuk mencegah
terjadinya bakterimia

2. Gangguan Endokrin
Salah satu penyakit gangguan endokrin adalah diabetes melitus. Diabetes melitus adalah keadaan
hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai
lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron

Pertimbangan Dental Pasien Gangguan Endokrin


Pasien yang memiliki gangguan endokrin akan mengalami waktu penyembuhan luka yang lama
apabila menerima tindakan invasif oleh dokter gigi. Pasien harus melakukan diet diabetes agar
kondisi gula normal saat dilakukan pencabutan, setidaknya turun sagar penyembuhan lebih cepat.
Selain itu, pasien tersebut juga harus meminum obat anti diabetes yang ia konsumsi. Dan
dianjurkan untuk melakukan perawatan di pagi hari karena biasanya saat itu pasien sudah
melaksanakan anjuran dokter dan diabetesnya terkontrol.
Dokter gigi harus hati-hati terhadap masalah periodontal, candidiasis, xerostomia, respon yang
buruk terhadap perawatan, penyembuhan luka yang cukup lama, serta apabila ada infeksi dental
bisa diberikan antibiotik profilaksis. Penyembuhan luka yang lama diakibatkan tingginya kadar
gula pada daerah luka sehingga terjadi gangguan aliran darah ke tempat terjadinya luka

3. Gangguan Pernafasan
Sistem pernafasan pada dasarnya bertanggung jawab terhadap pertukaran O2 dan CO2 antara
darah dan lingkungan luar. Kalau sistem pertukaran gas tersebuttidak berjalan normal, maka akan
bisa menimbulkan dampak terhadap tubuh.
Beberapa penyakit gangguan pernafasan adalah asma dan penyakit paru obstruktif kronik.

Pertimbangan Dental Pasien Gangguan Pernafasan


Pasien yang menderita gangguan pernafasan yang datang ke dokter gigi biasanya sudah memiliki
riwayat pengobatan yang dilakukan oleh dokter spesialis. Perlu bagi seorang dokter gigi untuk
berhati-hati dalam merawat pasien yang memiliki gangguan pernafasan.18
Posisikan pasien di posisi yang nyaman serta sirkulasi udara yang diterima juga baik. Untuk
melakukan tindakan anastesi, gunakan larutan anastesi yang tidak mengandung adrenalin.
Hindari kondisi stres pada pasien karena bisa menstimulasi untuk terjadinya gangguan
pernafasan saat perawatan sedang dilakukan

4. Gangguan Pembuluh Darah


Prosedur dental, seperti ekstraksi gigi dan bedah periodontal, adalah contoh dari tindakan invasif
di bidang kedokteran gigi. Tindakan invasif tersebut tentu saja bisa menyebabkan perdarahan.
Pasien yang memiliki gangguan pembuluh darah tentu akan memiliki masalah dalam tindakan
invasif tersebut. Beberapa penyakit dari gangguan pembuluh darah meliputi anemia,
trombositopenik purpura, dan leukemia.

Pertimbangan Dental Pasien Gangguan Pembuluh Darah


Dokter gigi harus berhati-hati terhadap dampak dari gangguan pembuluh darah saat melakukan
perawatan dental. Metode pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi saat
mengidentifikasi pasien dengan kelainan perdarahan adalah membuat riwayat penyakit secara
lengkap, pemeriksaan fisik, skrining laboratoris, dan observasi terjadinya perdarahan yang luas
setelah tindakan pembedahan. Pada saat melakukan anastesi lokal dengan cara infiltrasi pada
daerah bukal, intrapapilari dan intraligamen tidak perlu menambahkan obat anti hemostatik,
sedangkan anastesi dengan cara blok mandibula dan infiltrasi lingual harus diberikan anti
hemostatik.
5. Penyakit Ginjal
Gangguan fungsi ginjal dapat menggambarkan kondisi sistem vaskuler sehingga dapat membantu
upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum pasien mengalami komplikasi yang lebih parah
seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal ginjal, dan penyakit pembuluh darah perifer.

Pertimbangan Dental Pasien Penyakit Ginjal


Pasien yang menderita penyakit ginjal kronis memerlukan perawatan gigi khusus, bukan hanya
karena adanya hubungan antara sistemik dan rongga mulut tetapi karena efek samping dan
karakteristik dari perawatan yang diterima harus diperhatikan agar tidak menambah beban dan
rasa sakit pada penderita. Perawatan yang diindikasikan untuk pasien yang menderita penyakit
ginjal adalah perawatan non bedah.
Infeksi rongga mulut harus dieliminasi dan antibiotik profilaksis harus dipertimbangkan apabila
risiko bakterial endokarditis (pada penderita yang menjalani hemodialisis) dan septimia
meningkat. Contohnya, saat pencabutan gigi dan tindakan bedah. Demi mengurangi risiko
perdarahan, perawatan dapat dijadwalkan pada hari setelah hemodialisis supaya heparin dalam
darah berada pada tingkat paling minimal. Sebelum perawatan dimulai, tekanan darah penderita
harus diperhatikan dan disarankan untuk mengurangi perasaan cemas pada penderita dengan
sedasi

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan N.V dan N.VII

Nervus Trigeminus ( N.V )


Nervus Trigeminus adalah saraf kranial terbesar dan merupakan saraf otak motorik dan sensorik.
Serabut motoriknya mempersarafi muskulus maseter, temporalis, pterigoideus internus dan
eksternus, tensor timpani, omohioideus dan bagian anterior dari muskulus digastrikus. Inti
motoriknya terletak di pons. Serabut-serabut motoriknya bergabung dengan serabut-serabut
sensorik nervus trigeminus yang berasal dari ganglion Gasseri. Serabut-serabut sensoriknya
menghantarkan impuls nyeri, suhu, raba, dan perasaan proprioseptif. Kawasannya ialah wajah,
dan selaput lendir lidah dan rongga mulut serta gusi dan rongga hidung. Impuls proprioseptif,
terutama berasal dari otot-otot yang disarafi oleh cabang mandibular, dihantarkan oleh serabut
sensorik cabang mandibular sampai ke ganglion Gasseri.

Jika ditinjau dari cabang-cabang perifernya, maka nervus trigeminus memiliki 3 cabang, yaitu:
1. Cabang Optalmik
Cabang ini menghantarkan impuls protopatik dari bola mata serta ruang orbita, kulit dahi sampai
verteks. Impuls sekretomotorik dihantarkannya ke glandula lakriminalis. Serabut-serabut dari
dahi menyusun nervus frontalis masuk ke ruang orbita melalui foramen supraorbital.
Adanya lesi pada cabang ini seperti tumor, multipel sklerosis, dll menyebabkan hilangnya reflek
kornea dan sensasi pada daerah dermatome. Perubahan pada kornea (neuropatik keratitis) juga
mungkin terjadi.

2. Cabang maksilaris
Cabang ini tersusun oleh serabut-serabut somatosensorik yang menghantarkan impuls protopatik
dari wajah bagian pipi, kelopak mata bawah, bibir atas, hidung dan sebagian rongga hidung, gigi-
geligi rahang atas, ruang nasofaring, sinus maksilaris, palatum mole dan atap rongga mulut.
Serabut-serabut yang berasal dari kulit wajah masuk ke dalam tulang maksilar melalui foramen
infraorbital. Berkas saraf ini dinamakan nervus infraorbital. Saraf-saraf dari mukosa cavum nasi
dan rahang atas serta gigi-geligi atas juga bergabung dalam saraf ini dan setelahnya disebut
nervus maksilaris, cabang II N.V. Ia masuk ke dalam rongga tengkorak melalui foramen
rotundum kemudian menembus durameter untuk berjalan di dalam dinding sinus cavernous dan
berakhir pada ganglion Gasseri. Cabang maksila nervus V juga menerima serabut-serabut
sensorik yang berasal dari dura fossa krania media dan fosa pterigopalatinum. 16 Adanya lesi
menyebabkan kehilangan sensasi reflek palatal.

3. Cabang Mandibular
Cabang ini tersusun oleh serabut somatomotorik dan sensorik serta sekremotorik
(parasimpatetik). Serabut-serabut somatomotorik muncul pada daerah lateral pons
menggabungkan diri dengan berkas serabut sensorik yang dinamakan cabang mandibular
ganglion Gasseri. Secara eferen, cabang mandibular keluar dari ruang intrakranial melalui
foramen ovale dan tiba di fossa infratemporal. Disitu nervus meningea media (sensorik) yang
mempersarafi selaput meningen menggabungkan diri pada pangkal cabang mandibular. Di
bagian depan fossa infratemporal, cabang III N.V bercabang dua. Lesi pada cabang ini
menyebabkan kekurangan sekresi saliva, kehilangan rasa kecap di 2/3 anterior lidah, kelemahan
pada otot pengunyahan adalah ciri yang menonjol

Trigeminal neuralgia
Trigeminal neuralgia pertama kali dikemukakan oleh John Fothergill pada tahun 1773. Ia
mendeskripsikan secara jelas gambaran klinis yang khas pada Trigeminal neuralgia seperti nyeri
paroksismal pada sebagian sisi wajah dan dipicu oleh aktivitas seperti makan, berbicara, adanya
sentuhan ringan, dimulai serta berhenti secara tiba-tiba dan berhubungan dengan kecemasan.
Dalam bahasa Yunani kuno Roma, Trigeminal Neuralgia disebut juga dengan “Cephalgia”.
Disebut juga dengan “Tic doulourex” oleh Nicholas Andre (1756). “Forthergill’s disease” oleh
John Fothergill (1773). “Epileptiform neuralgia” oleh Trousseau (1853).
International Association for the Study of Pain (IASP) dan International Headache Society (IHS)
memiliki kriteria diagnostik sendiri tentang Trigeminal Neuralgia. International Association for
the Study of Pain (IASP) mendefinisikan Trigeminal neuralgia sebagai nyeri yang tiba-tiba,
biasanya unilateral, tajam, hebat, singkat, dan berulang yang berdistribusi pada satu atau lebih
cabang dari saraf trigeminal atau saraf kranial kelima.Sementara menurut International
Headache Society (IHS), Trigeminal neuralgia adalah nyeri wajah yang tajam seperti tersengat
listrik, terbatas pada satu atau lebih cabang nervus trigeminus.

Klasifikasi
Trigeminal neuralgia menurut The International Headache Society dibagi menjadi dua tipe yaitu
:
1. Trigeminal neuralgia klasikal : Jika dalam pemeriksaan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
neurologik serta pemeriksaan penunjang tidak ditemukan penyebab dari nyeri wajah.
2. Trigeminal neuralgia simptomatik : penyebab nyeri wajahnya dapat diketahui dari
pemeriksaan penunjang tertentu atau pada eksplorasi fossa posterior. Dapat diakibatkan oleh
tumor, multiple sklerosis atau kelainan pada basis kranii.

Etiologi
Sebagian besar kasus Trigeminal neuralgia merupakan kasus yang klasik (idiopatik) dan
sebanyak 15% pasien yang mengalami tipe simptomatik. Pada Trigeminal neuralgia, etiologinya
tidak diketahui dengan pasti (idiopatik). Beberapa teori menyebutkan Trigeminal neuralgia
terjadi akibat adanya kompresi vaskular pada saraf menyebabkan kerusakan saraf trigeminal.21
Kompresi vaskular ini terjadi di daerah dorsal root entry zone pada fosa posterior yaitu pada
ganglion trigeminal. Dorsal root entry zone merupakan daerah tempat keluarnya saraf trigeminal
dari batang otak.12 Daerah ini menunjukkan hubungan antara mielin yang berasal dari sistem
saraf pusat dan sistem saraf perifer pada sel Schwann dan astrocytes.22 Akan tetapi akson yang
terdapat pada Dorsal root entry zone lebih banyak dilapisi oleh mielin yang berasal dari sistem
saraf pusat.21 Semua keadaan yang terjadi pada daerah ini, secara potensial dapat mempengaruhi
fungsi dari seluruh neuron di saraf trigeminal. Trigeminal neuralgia simptomatik disebabkan oleh
adanya lesi yang mempengaruhi saraf trigeminal seperti multipel sklerosis dan cerebellopontine-
angle tumour.

Tingkat Kerusakan Saraf


Tingkat kerusakan pada saraf di klasifikasikan masing-masing oleh Seddon dan Sunderland.
Seddon mengklasifikasikan cedera saraf menjadi 3 kelompok yaitu neuropraksia, aksonotmesis,
dan neurotmesis. Klasifikasi ini lebih sering digunakan dibandingkan dengan klasifikasi oleh
Sunderland. Sunderland membuat klasifikasi cedera saraf menjadi 5 tipe. Tipe 1 yaitu
neuropraksia. Kemudian ia membagi aksonotmesis menjadi tipe 2, 3, dan 4 berdasarkan ada
tidaknya kerusakan pada jaringan ikat saraf, sedangkan tipe 5 adalah neurometsis
Pada Trigeminal neuralgia, jenis kerusakan yang terjadi adalah neuropraksia, dimana adanya
cedera saraf saraf yang menyebabkan kerusakan pada mielin saraf Trigeminal. Pada
neuropraksia, penyembuhan pada saraf dapat terjadi setelah faktor penyebab cedera saraf
dihilangkan. Penyembuhan dapat terjadi sekitar beberapa minggu sampai beberapa bulan.

Berikut ini beberapa deskripsi pasien yang biasanya dikemukakan oleh pasien tentang neuralgia
trigeminal :4
1. Rasa nyeri yang tajam, menusuk, seperti tersengat listrik didaerah hidung dan pipi sebelah kiri.

2. Serangan nyeri lebih dari 100 kali dalam sehari. Serangan nyeri kebanyakan terjadi selama 20
detik sampai 2 menit. Terkadang rasa nyeri tumpul diikuti dengan rasa nyeri tajam selama 20
menit atau lebih dan rasa nyeri bisa hilang tiba-tiba.

3. Terkadang rasa nyeri mengalami periode remisi atau tidak hadir sama sekali.
4. Rasa nyerinya sangat kuat sehingga saya merasa ingin mati.

5. Faktor pemicu timbulnya nyeri biasanya seperti makan, menggosok gigi, berbicara, tetapi rasa
nyeri bisa terjadi secara tiba-tiba.

6. Rasa nyeri dapat membuat saya dehidrasi dan mengalami penurunan berat badan.

Nervus Facialis ( N.VII )


Kelumpuhan nervus fasialis (N VII) merupakan kelumpuhan otot-otot wajah, tidak atau kurang
dapat menggerakkan otot wajah, sehingga wajah pasien tidak simetris. Hal ini tampak sekali
ketika pasien diminta untuk menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi.

Etiologi

Penyebab kelumpuhan nervus fasialis bisa disebabkan oleh kelainan congenital, infeksi, tumor,
trauma, gangguan pembuluh darah, idiopatik, dan penyakit-penyakit tertentu.

1. Kongenital
Kelumpuhan yang didapat sejak lahir ( kongenital ) bersifat irreversible dan terdapat
bersamaan dengan anomaly pada telinga dan tulang pendengaran. Pada parese nervus fasialis
bilateral dapat terjadi karena adanya gangguan perkembangan nervus fasialis dan seringkali
bersamaan dengan kelemahan okular (sindrom Moibeus).
2. Infeksi
Proses infeksi di intracranial atau infeksi telinga tengah dapat menyebabkan kelumpuhan
nervus fasialis. Infeksi intracranial yang menyebabkan kelumpuhan ini seperti pada Sindrom
Ramsay-Hunt, Herpes otikus.

Gambar. Sindrom Ramsay-Hunt.

Infeksi Telinga tengah yang dapat menimbulkan parese nervus fasialis adalah otitis media
supuratif kronik ( OMSK ) yang telah merusak Kanal Fallopi. Otitis media akut dan kronik
dapat menyebabkan terjadinya paresis nervus fasialis. Terdapat dua mekanisme yang dapat
menyebabkan paralisis nervus fasialis yaitu : 1. Hasil toksin bakteri di daerah tersebut 2. Dari
tekanan langsung terhadap saraf oleh kolesteatoma atau jaringan granulasi. Pada otitis media
akut, penyebaran infeksi langsung ke kanalis fasialis khususnya pada anak terjadi ketika
kanalis nervus fasialis pada telinga tengah mengalami congenital dehiscent atau saraf terkena
akibat kontak langsung dengan materi purulen sehingga dapat menimbulkan inflamasi dan
edema pada saraf dan menyebabkan paresis.
Pada otitis media kronik bisa mengikis kanal nervus fasialis atau sarafnya dapat dilibatkan
dengan osteitis, kolesteatom dan jaringan granulasi, disusul oleh infeksi ke dalam kanalis
fasialis. Manifestasi klinik yang tampak yaitu paralisis nervus fasialis bagian bawah,
ipsilateral terhadap telinga yang sakit

3. Tumor
Tumor yang bermetastasis ke tulang temporal merupakan penyebab yang paling sering
ditemukan. Biasanya berasal dari tumor payudara, paru-paru, dan prostat. Juga dilaporkan bahwa
penyebaran langsung dari tumor regional dan sel schwann, kista dan tumor ganas maupun jinak
dari kelenjar parotis bisa menginvasi cabang akhir dari nervus fasialis yang berdampak sebagai
bermacam-macam tingkat kelumpuhan. Pada kasus yang sangat jarang, karena pelebaran
aneurisma arteri karotis dapat mengganggu fungsi motorik nervus fasialis secara ipsilateral
4. Trauma
Parese nervus fasialis bisa terjadi karena trauma kepala, terutama jika terjadi fraktur basis cranii,
khususnya bila terjadi fraktur longitudinal. Selain itu luka tusuk, luka tembak serta penekanan
forsep saat lahir juga bisa menjadi penyebab. Nervus fasialis pun dapat cedera pada operasi
mastoid, operasi neuroma akustik/neuralgia trigeminal dan operasi kelenjar parotis.
5. Gangguan Pembuluh Darah
Gangguan pembuluh darah yang dapat menyebabkan parese nervus fasialis diantaranya
thrombosis arteri karotis, arteri maksilaris dan arteri serebri media.
6. Idiopatik ( Bell’s Palsy )
Parese Bell merupakan lesi nervus fasialis yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak
menyertai penyakit lain.Pada parese Bell terjadi edema nervus fasialis. Karena terjepit di dalam
foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai Bell’s
Palsy.
7. Penyakti-penyakit tertentu
Parese fasialis perifer dapat terjadi pada penyakit-penyakit tertentu, misalnya DM, hepertensi
berat, anestesi local pada pencabutan gigi, infeksi telinga tengah, sindrom Guillian Barre

6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang bedah minor


Tindakan pencabutan gigi merupakan salah satu prosedur bedah minor dalam bidang kedokteran
gigi yang bertujuan untuk mengeluarkan gigi dari soketnya. Tindakan ini dilakukan karena adanya
beberapa indikasi, antara lain penyakit periodontal parah, karies gigi dan kegagalan perawatan
saluran akar, trauma pada gigi yang mengakibatkan dislokasi, impaksi gigi, atau untuk kebutuhan
perawatan ortodontik (Ghosh, 2006).

Gigi Impaksi

Definisi gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat erupsi keposisi fungsional normalnya, karena itu
dikategorikan sebagai patologik dan membutuhkan perawatan.7 Tidak semua gigi yang tidak erupsi
adalah gigi impaksi, gigi yang disebut impaksi apabila gigi tersebut gagal untuk bererupsi secara
keseluruhan kedalam kavitas oral dalam jangka waktu perkembangan yang diharapkan. Penyebab
impaksi ini biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi tersebut tidak
keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal didalam deretan susunan gigi geligi lain
yang sudah erupsi.

Gigi impaksi adalah gigi yang sebagian atau seluruhnya tidak erupsi dan posisinya berlawanan
dengan gigi lainya, jalan erupsi normalnya terhalang oleh tulang dan jaringan lunak, terblokir oleh
gigi tetangganya, atau dapat juga oleh karena adanya jaringan patologis. Impaksi dapat
diperkirakan secara klinis bila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir dapat dipastikan bila gigi
yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi

Etiologi Gigi Impaksi

Etiologi gigi impaksi bermacam-macam diantaranya kekurangan ruang, kista, gigi supernumeri,
infeksi, trauma, anomali dan kondisi sistemik. Faktor yang paling berpengaruh terhadap
terjadinya impaksi gigi adalah ukuran gigi. Sedangkan faktor yang paling erat hubungannya
dengan ukuran gigi adalah bentuk gigi.

Hambatan dari sekitar gigi dapat terjadi karena :

o Tulang yang tebal serta padat


o Tempat untuk gigi tersebut kurang
o Gigi tetangga menghalangi erupsi gigi tersebut
o Adanya gigi desidui yang persistensi
o Jaringan lunak yang menutupi gigi tersebut kenyal atau liat
Hambatan dari gigi itu sendiri dapat terjadi oleh karena :
o Letak benih abnormal, horizontal, vertikal, distal dan lain-lain.
o Daya erupsi gigi tersebut kurang.
Gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior.

Pada gigi posterior,yang sering mengalami impaksi adalah:

o Gigi molar tiga mandibula


o Gigi molar tiga maksila
o Gigi premolar mandibula
o Gigi premolar maksila
Sedangkan gigi anterior yang dapat ditemui mengalami impaksi adalah sebagai berikut:
o Gigi kaninus maksila dan mandibula
o Gigi insisivus maksila dan mandibula

Klasifikasi Gigi Impaksi

Klasifikasi Pell dan Gregory

Gambar 2. Klasifikasi Pell dan Gregory

Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibula


Klas I: Diameter anteroposterior gigi sama atau sebanding dengan ruang antara batas anterior
ramus mandibula dan permukaan distal gigi molar kedua. Pada klas I ada celah di sebelah distal
Molar kedua yang potensial untuk tempat erupsi Molar ketiga.
Klas II: Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan distal gigi dan ruang tidak adekuat untuk
erupsi gigi, sebagai contoh diameter mesiodistal gigi lebih besar daripada ruang yang tersedia.
Pada klas II, celah di sebelah distal Molar.

Klas III: Gigi secara utuh terletak di dalam mandibula – akses yang sulit. Pada klas III mahkota
gigi impaksi seluruhnya terletak di dalam ramus.

Komponen kedua dalam sistem klasifikasi ini didasarkan pada jumlah tulang yang menutupi gigi
impaksi. Baik gigi impaksi atas maupun bawah bisa dikelompokkan berdasarkan kedalamannya,
dalam hubungannya terhadap garis servikal Molar kedua disebelahnya.

Faktor umum dalam klasifikasi impaksi gigi rahang atas dan rahang bawah

Posisi A: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada tingkat yang sama dengan oklusal gigi molar
kedua tetangga. Mahkota Molar ketiga yang impaksi berada pada atau di atas garis oklusal.
Posisi B: Bidang oklusal gigi impaksi berada pada pertengahan garis servical dan bidang oklusal
gigi molar kedua tetangga.Mahkota Molar ketiga di bawah garis oklusal tetapi di atas garis servikal
Molar kedua.
Posisis C: Bidang oklusal gigi impaksi berada di bawah tingkat garis servikal gigi molar kedua.
Hal ini juga dapat diaplikasikan untuk gigi maksila.Mahkota gigi yang impaksi terletak di bawah
garis servikal

Menurut American Dental Association

American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons mengklasifikasikan gigi impaksi dan tidak
erupsi berdasarkan prosedur pembedahan yang dibutuhkan untuk melakukan pencabutan, daripada
posisi anatomi gigi.

1. Mereka mengklasifikasikan gigi impaksi ke dalam empat kategori: Pencabutan gigi hanya
dengan impaksi jaringan lunak
2. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara parsial
3. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang secara sempurna
4. Pencabutan gigi dengan impaksi tulang sempurna dan komplikasi pembedahan yang tidak biasa.

Odontektomi
Odontektomi adalah pengeluaran atau pencabutan gigi yang dalam keadaan tidak dapat bertumbuh
atau gigi bertumbuh sebagian dimana gigi tersebut tidak dapat dikeluarkan dengan cara pencabutan
dengan tang biasa melainkan diawali dengan pembuatan flap mukoperiostal, diikuti dengan
pengambilan tulang undercut yang menghalangi pengeluaran gigi tersebut, sehingga diperlukan
persiapan yang baik dan rencana operasi yang tepat dan benar dalam melakukan tindakan bedah
pengangkatan molar yang terpendam, untuk menghindari terjadinya komplikasi-komplikasi yang
tidak diinginkan.
Odontektomi sebaiknya dilakukan pada saat pasien masih muda yaitu pada usia 25-26 tahun
sebagai tindakan profilaktik atau pencegahan terhadap terjadinya patologi. Odontektomi dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu dikeluarkan secara utuh dan secara separasi.

Gambar. Anatomi dan pertumbuhan gigi bungsu. Pada usia 12 tahun, sebagian
mahkota benih gigi bungsu mulai terbentuk: (1a); pada usia 14 tahun, mahkota
gigi sudah terbentuk lengkap (1b). Pada usia 17 tahun, mahkota gigi dan akar gigi
mulai terbentuk sebagian (1c) akhirnya pada usia 25 tahun, mahkota dan akar gigi
terbentuk sempurna (1d). Tampak benih gigi bungsu atas dan bawah dalam
keadaan impaksi (sumber: dimodifikasi dari American Association of Oral and
Maxillofacial Surgeon /AAOMS)

Indikasi dan kontraindikasi odontektomi

Dalam pencabutan gigi impaksi, ada pertimbangan - pertimbangan yang harus diperhatikan untuk
dapat melakukan tindakan, sebaliknya dalam kondisi-kondisi tertentu juga tindakan odontektomi
sebaiknya tidak dilakukan. Adapun indikasi dan kontraindikasi tindakan odontektomi yang harus
diperhatikan yakni:
Indikasi :

a. Perikoronitis
Merupakan peradangan pada jaringan lunak disekeliling gigi yang akan erupsi, sering terjadi
pada gigi M3 bawah. Perikoronitis umum terjadi pada gigi impaksi gigi molar dan cenderung
berulang bila molar belum erupsi sempurna. Hal ini dapat menyebabkan dekstruksi antara
gigi molar dan gigi geraham di depannya. Gejala perikoronitis dapat berupa rasa sakit di
regio, pembengkakan, bau mulut, dan pembengkakan limfonodi submandibular. Odontektomi
dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya perikoronitis akibat gigi erupsi
sebagian.
b. Mencegah berkembangnya folikel menjadi kista odontegenik
Gigi impaksi mampu merangsang pembentukan kista atau bentuk patologi lainnya terutama
pada masa pembentukan gigi. Benih gigi mengalami gangguan sehingga pembentukannya
terganggu menjadi tidak sempurna dan dapat menimbulkan primordial kista dan folikel kista.
c. Pencegahan karies
Gigi impaksi berpotensi menimbulkan infeksi atau karies pada gigi didekatnya. Banyak kasus
gigi M2 mengalami karies karena gigi M3 mengalami impaksi. Gigi M3 merupakan penyebab
tersering gigi M2 mengalami karies karena retensi makanan. Posisi gigi M3 juga dapat
menyebabkan karies distal M2 karena desakannya kepada gigi M2.
d. Untuk keperluan terapi ortodontik
Pencabutan gigi impaksi juga dapat dijadikan indikasi untuk keperluan ortodontik bila
ruangan yang dibutuhkan kurang untuk ekspansi lengkung gigi atau dikhawatirkan akan
terjadi relaps setelah dilakukan perawatan ortodontik.
e. Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit
Rasa sakit dapat timbul karena gigi impaksi dapat menekan nervus alveolaris inferior pada
kanalis mandibularis. Selain itu, rasa sakit juga dapat timbul bila gigi impaksi menekan gigi
tetangga, dan tekanan tersebut juga dapat dilanjutkan ke gigi tetangga lain dalam deretan gigi.

Kontraindikasi
Dalam kondisi – kondisi tertentu, tindakan odontektomi sebaiknya tidak dilakukan. Misalnya
pada pasien - pasien compromised medis dan pasien dengan kerusakan gigi dan jaringan di
sekitarnya. Pada pasien compromised medis, bila pasien memiliki riwayat medis gangguan
fungsi kardiovaskular, gangguan pernapasan, gangguan pertahanan tubuh, atau memiliki
kongenital koagulopati, maka operator sebaiknya mempertimbangkan untuk dilakukan tindakan
pencabutan gigi impaksi. Akan tetapi jika gigi impaksi tersebut bermasalah maka operator harus
melakukannya dengan sangat hati-hati dan harus konsultasi medis terlebih dahulu. Bila pada
pasien terdapat kerusakan dari gigi atau jaringan terdekatnya, dikhawatirkan kerusakan yang
diakibatkan oleh tindakan odontektomi tidak sebanding dengan manfaat yang didapatkan, maka
sebaiknya odontektomi tidak dilakukan.

Prosedur Tindakan Odontektomi

Terdapat prosedur-prosedur yang harus dilakukan sebelum dan saat tindakan odontektomi agar
tidak terjadi keselahan dalam tindakan. Prosedur yang harus dilakukan dalam tindakan
odontektomi ialah :

1. Anamnesa
2. Pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen
Foto rontgent juga diperlukan untuk mengevaluasi dan mengetahui kepadatan dari tulang
yang mengelilingi gigi. Pemeriksaan ini sebaiknya didasarkan dengan pertimbangan usia,
hubungan antara gigi impaksi dan kanalis mandibularis , morfologi gigi impaksi, serta
keadaan jaringan yang menutupi gigi impaksi, apakah terletak pada jaringan lunak saja atau
juga terpendam didalam tulang.
3. Anestesi
Anestesi yang dapat digunakan berupa anestesi lokal dan umum.15 Anestesi lokal dapat
dilakukan pada pasien yang memiliki keadaan umum yang normal dan baik, dengan bahan
yang bersifat vasokonstriktor untuk mendapat efek anestesi yang cukup lama dan
memberikan daerah operasi yang relatif bebas darah.17 Dan pada pasien yang gelisah dapat
dilakukan anestesi umum.15
4. Teknik Operasi
Adapun teknik – teknik operasi yang digunakan dalam tindakan odontektomi, yaitu sebagai
berikut:
1. Insisi untuk pembuatan flap
Insisi dilakukan pada jaringan yang sehat dan mempunyai basis yang cukup lebar,
sehingga pengaliran darah cukup baik.
2. Pengambilan tulang yang menghalangi gigi
Dengan menggunakan alat bur dan dibantu dengan irigasi larutan saline agar gigi dapat terlihat
untuk dilakukan pemotongan atau pengambilan.
3. Pengambilan gigi
Pengambilan gigi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu intoto atau utuh dan in separasi atau
terpisah. Bila dengan cara intoto, tulang yang mengelilingi gigi diambil secukupnya, sehingga
didapatkan cukup ruangan untuk dapat melakukan elevator dibawah korona. Kemudian dengan
elevator tersebut dilakukan gerakan mengungkit gigi. Sedangkan metode in separasi,
pengambilam gigi impaksi dilakukan dengan membuang sedikit tulang. Gigi yang impaksi
diambil dengan cara dibelah terlebih dahulu lalu diambil sebagian-sebagian.
c. Pembersihan luka dan penutupan flap
Setelah pengeluaran gigi, soket dibersihkan dari sisa-sisa tulang bekas pengeboran. Folikel dan
sisa enamel organ harus dibersihkan atau diirigasi dengan air garam fisiologis 0.9% karena dapat
menyebabkan kista residual bila tertinggal. Kemudian flap dikembalikan pada tempat yang dijahit.

Komplikasi

Komplikasi-komplikasi di bawah ini dapat terjadi pada tindakan pembedahan odontektomi:

1) Perdarahan
Perdarahan dari alveolar merupakan perdarahan normal bila terjadi 12-24 jam pertama pasca
pembedahan. Perdarahan dapat pula disebabkan oleh adanya gangguan dalam masa
perdarahan dan masa pembekuan darah. 19
2) Perikoronitis
Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak yang mengelilingi mahkota gigi impaksi
sebagian. Kondisi yang biasa terjadi adalah inflamasi pada jaringan lunak yang sangat dekat
dengan mahkota gigi, paling sering terjadi pada molar ke tiga mandibular.

Gambar. Perikoronitis akibat gigi impaksi

3) Perforasi Sinus Maksilaris


Perforasi sinus maksilaris sering terjadi pada pencabutan gigi impaksi molar ketiga bagian
atas karena dekatnya gigi dengan cekungan alveolar dari sinus.
4) Masuknya gigi impaksi ke dalam Sinus Maksilaris
Pembedahan secara kasar atau penggunaan elevator dengan ceroboh dapat menyebabkan gigi
molar ketiga atau akar yang mengalami fraktur bergeser atau masuk ke dalam sinus. Hal ini
dapat terjadi karena akar molar tiga bagian atas dan sinus maksilaris hanya terpisah oleh
lapisan tulang yang sangat tipis, dan secara anatomi akar molar tiga bagian atas berbentuk
konus.
5) Parastesi
Parestesi akan terjadi pada seluruh daerah yang di inervasi oleh nervus yang terpotong. Pada
molar ketiga yang dikhawatirkan yaitu terkenanya atau terpotongnya nervus fasialis yang
berakibat mulut pasien bisa menjadi merot.
6) Trauma molar dua
Apabila molar kedua trauma dapat menyebabkan gigi goyah, mahkota pecah dan peradangan
pada gigi. Komplikasi ini terjadi akibat dari kuatnya tekanan pada penggunaan instrumen
yang digunakan.
7) Dry socket
Merupakan alveolus yang setelah pencabutan gigi tidak terisi dengan koagulum darah dan
terasa sangat sakit, biasanya rasa sakit terjadi pada hari ke 3-5 setelah pembedahan. Pada
pencabutan gigi molar ketiga bagian atas komplikasi dry socket jarang terjadi.22

Gambar dry socket.

Peralatan Bedah Minor

Peralatan bedah minor adalah alat-alat yang dirancang untuk digunakan pada kegiatan bedah minor.
Kegiatannya hanya terbatas pada pembedahan minor saja, alatnya sederhana dan mudah untuk
dimiliki setiap orang. Alat-alat tersebut digabung pada suatu wadah dan disebut sebagai minor
surgery set. Tabel Minor Surgery Set

Nama Alat Jumlah


Klem lurus 2 buah
Klem bengkok 2 buah
Pinset anatomis 1 buah
Pinset jaringan 1 buah
Gunting TA/TU lurus 1 buah
Gunting TA/TU bengkok 1 buah
Needle holder 1 buah
Gagang pisau 1 buah
Pisau bedah 1 buah
Sarung tangan 1 pasang
Silk atau Plain catgut 1 buah
Needle hecting 1 lusin
Bak stainless 1 buah

Gambar Minor Surgery Set

Jenis-Jenis Peralatan Bedah Minor

1. Pisau Bedah
Pisau bedah merupakan peralatan terbaik untuk memotong jaringan. Mata pisau yang tajam
memungkinkan untuk memisahkan jaringan dengan trauma sekecil mungkin terhadap
jaringan sekitarnya. Bentuk mata pisau sangat bervariasi di mana bentuk mempunyai
kegunaannya tersendiri. Yang dipakai untuk pembedahan umum berukuran atau nomor A#10,
untuk pembedahan minor ataupun kosmetik dipakai yang berukuran atau nomor A#15
(Kozol, 1999).
Gambar Pisau dan gagang pisau (scalpel)

Scalpel harus dipegang sedemikian rupa sehingga mudah dikendalikan dan pada saat yang
sama, dapat digerakkan dengan leluasa. Tangkai scalpel dipegang antara ibu jari dan jari
ketiga dan keempat, sedangkan jari telunjuk diletakkan di punggung pisau sebagai kendali.

2. Gunting
Gunting merupakan peralatan yang sering digunakan untuk memotong jaringan. Gunting juga
digunakan untuk memotong benang dan balutan luka. Gunting jaringan biasanya lebih ringan,
terbuat dari baja yang lebih baik, dan mempunyai sisi pemotong yang runcing dan ujungnya
lebih halus daripada gunting benang. Biasanya hanya bagian distal dari mata gunting yang
digunakan untuk memotong.
- Gunting Bedah
Gunting bedah yang paling terkenal adalah jenis Mayo dengan mata gunting yang
lurus atau melengkung. Selain itu, ada jenis Metzenbaum yang ukurannya lebih
panjang dan lebih banyak pemakaiannya dengan lengkungan yang halus pada
ujungnya.
- Gunting Benang
Gunting benang yang sering dipakai adalah gunting biasa, untuk kegunaan umum
dengan ujung yang tumpul.

Gambar 2.3 Gunting perban dan gunting benang

- Gunting Perban
Jenis yang paling sering dipakai adalah gunting dengan mata pisau yang datar, ujungnya tumpul
sehingga dapat disisipkan di bawah balutan luka tanpa kuatir akan melukai kulit. Jenis ini jarang
disediakan di meja operasi tetapi merupakan peralatan yang penting bagi para dokter bedah atau
residen. Jika gunting dibawa dalam kantong maka tidak steril dan jangan sampai kontak dengan
luka. Jika gunting dipakai pada balutan kotor dan basah, sebaiknya disterilkan sebelum digunakan
untuk pasien lain. Ketika menghadapi luka terbuka, harus menggunakan perangkat peralatan yang
steril.
- Gunting untuk Kegunaan secara Umum
Gunting dengan dua ujung yang tumpul biasanya digunakan sebagai gunting benang.
Gunting dengan salah satu atau kedua ujungnya runcing digunakan untuk membagi
jaringan dengan mendorong ujungnya yang runcing di bawah jaringan. Gunting dengan
ujung yang runcing tidak digunakan di dalam rongga karena dapat melubangi organ atau
pembuluh darah.

3. Pinset
- Pinset Anatomis (thumb forceps)
Pinset anatomis terdiri dari dua bilah logam yang bersatu pada salah satu ujungnya dan
digunakan untuk mengangkat jaringan atau memegang jaringan di antara permukaan yang
berhadapan. Jika pada permukaannya terdapat gerigi (teeth), pinset dapat memegang jaringan
tanpa tergelincir dan tanpa menggunakan tekanan yang berlebihan. Pinset dipegang di antara
ibu jari, jari tengah dan jari telunjuk.
- Pinset Jaringan (tissue forceps)
Pinset jaringan dilengkapi dengan gerigi agar tidak tergelincir. Karena geriginya dapat
menggigit jaringan, maka hanya diperlukan sedikit tekanan untuk memegang jaringan dengan
kuat. Bentuk spesifik dari kepala pinset tergantung dari tujuan khusus yang diharapkan. Jenis
pinset anatomis dapat digunakan untuk memegang sebagian besar jaringan tapi tidak pernah
digunakan untuk viskus yang berongga atau pembuluh darah.
- Klem Pemegang
Peralatan ini dibentuk terutama untuk memegang jaringan dan memungkinkan untuk
melakukan traksi. Permukaan yang berhadapan dari setiap kepala klem bervariasi
tergantung dari tujuan yang spesifik. Semuanya mempunyai lubang untuk jari dan sistem
pengunci.

- Klem Hemostatik (hemostatic forceps)


Peralatan ini mempunyai arti penting dalam menghentikan perdarahan selama operasi.
Terdapat sejumlah variasi. Sebagian besar dari alat ini bergerigi dengan susunannya yang
paralel terhadap arah bilah, sedangkan lainnya tegak lurus. Dalam dan lebar gerigi juga
bervariasi. Sebagian besar klem hemostatik menjepit dengan cukup kuat sehingga
jaringan-jaringan yang kecil dapat terjepit. Klem hemostatik juga dapat digunakan untuk
membantu membuat ligasi pada pembuluh darah kecil (Kozol, 1999).
4. Pemegang Jarum (Needle Holder)
Semua alat pemegang jarum mempunyai kepala yang lebar dengan berbagai macam bentuk
gerigi pada kepalanya. Alat ini dipasang pada kurang lebih seperempat panjang jarum dari
ujung tumpulnya. Biasanya jarum menonjol pada sisi kiri dari alat pemegang jarum untuk ahli
bedah yang tidak kidal.
5. Benang (Catgut)
Benang memiliki dua tipe, yang benang yang dapat menyatu dengan kulit dan benang yang
tidak dapat menyatu dengan kulit (Kozol, 1999). Benang yang dapat menyatu dibuat dari usus
kucing (Catgut), digunakan pada luka yang dalam dan untuk kegunaan kosmetik. Benang
yang tidak dapat menyatu dengan kulit digunakan untuk menjahit luka yang tidak terlalu
dalam. Pada benang yang tidak dapat menyatu dengan kulit dilakukan pelepasan benang
setelah luka kering dan ini akan menimbulkan bekas pada kulit atau disebut dengan jaringan
parut.
LAPORAN TUTORIAL

BLOK 18 MODUL 1 " BEDAH MINOR DAN KELAINAN KONGENITAL"

Kelompok 5

Tutor: drg. Fildzah Nurul Fajrin

Ketua: Syntha Mustika Y.D.

Sekretaris Papan: Shafira Aulia Fikrie

Sekretaris Meja : Velya Apro

Anggota:

- Sarah Nabila Wiguna


- Siti Hartsur Rahmy
- Syntha Mustika Y.D.
- Tatha Febilla K.
- Ulfa Rizalni
- Varen Nadya Antoni
- Vikra Prasetya

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2019

Anda mungkin juga menyukai