Anda di halaman 1dari 19

PERCOBAAN V

RUMUS EMPIRIS SENYAWA DAN HIDRASI AIR

I. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya percobaan atau praktikum ini adalah sebagai
berikut
1. Mencari rumus empiris dari suatu senyawa dan menetapkan rumus
molekul senyawa tersebut.
2. Mempelajari cara mendapatkan data percobaan dan cara memakai data
untuk menghitung rumus empiris.
3. Mempelajari sifat-sifat senyawa berhidrat.
4. Mepelajari reaksi bolak-balik hidrasi.
5. Menentukan persentase air didalam suatu berhidrat

II. Landasan Teori


Rumus kimia adalah rumus kimia yang menyatakan rasio perbandingan
terkecil dari atom pembentuk sebuah senyawa. Sedangkan rumus kimia yang
sebenarnya untuk semua unsur dalam senyawa dinamakan rumus molekul.
Sebagai contoh karbondioksida terdiri dari 1 atom C dan 2 atom O memiliki
unsur molekul H2O2 dan rumus empirinya HO. Secara sederhana penentuan
rumus empiris dapat dilakukan dengan eksperimen, dengan menentukan
persentase jumlah-jumlah unsur yang terdapat dalam zat tersebut, memakai
metode analisis kimia kuantitas. Disamping itu ditentukan pada massa molekul
relatif tersebut. Untuk menyatakan rumus senyawa diketahui dapat
disimpulkan sifat-sifat fisik dan kimia dari zat tersebut. Yaitu pertama, dari
rumus empiris ini dapat dilihat unsur apa yang terkandung pada senyawa
tersebut dan berapa banyak atom dari masing-masing unsur membentuk
molekul senyawa tersebut. Kedua, massa molekul relatif dapat ditentukan
dengan menjumlahkan massa atom relatif dari unsur-unsur yang membentuk
senyawa. Ketiga, berdasarkan rumus empiris dapat dilihat jumlah relatif unsur-
unsur yang terdapat dalam senyawa atau komposisi persentase dari suatu zat
tersebut (Saraswati, 2016).
Rumus kimia menunjukan jenis atom unsur dan jumlah relatif masing-
masing unsur yang terdapat dalam zat ditunjukan angka indeks. Rumus kimia
dapat berupa berupa rumus empiris dan molekul, rumus empiris adalah rumus
perbandingan jumlah mol unsur-unsur dalam suatu senyawa, sedangkan
rumus molekul merupakan rumus kimia yang menggambarkan jumlah atom
dan unsur yang menyusun suatu senyawa. Zat yang mempunyai rumus
molekul menetapkan rumus empiris dari percobaan penentuan susunan
senyawa dengan melakukan perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu
senyawa, sedangkan rumus molekul merupakan rumus kimia yang
menggambarkan jumlah atom dan unsur yang menyusun suatu senyawa. Zat
yang mempunyai rumus molekul adalah unsur atau senyawa yang partikel
terkecil nya adalah molekul.
Rumus molekul suatu zat menjelaskan menjelaskan jumlah atom setiap
unsur dalam suatu molekul zat itu. Jadi rumus molekul zat itu yaitu molekul
karbon dioksida adalah CO2 disetiap molekul karbondioksida mengandung
suatu atom karbon dan dua atom hidrogen. Setiap molekul glukosa
mengandung 6 atom karbon, 6 oksigen, dan 12 hidrogen. Rumus molekul dapat
ditentukan untuk semua zat berwujud gas dari cairan serta padatan. Seperti
glukosa dengan suberit molekul yang terdefinisikan dengan baik. Sebaiknya,
rumus empiris suatu senyawa ialah rumus paling sederhana sederhana yang
memberikan jumlah atom rodatif yang betul untuk setiap jenis atom yang ada
didalam senyawa itu. Rumus empiris H2O menyatakan bahwa untuk setiap
atom oksigen dalam air. Ada dua atom hidrogen, rumus empiris dari suatu
senyawa dan persentase komposisi berdasarkan massa dari unsur-unsur
penyusun hanya dihubungkan dari konsep mol semata. Hidrokarbon
merupakan senyawa yang hanya mengandung karbon dan hidrogen. Rumus
molekul hidrogen proksida terdiri atas suatu zat yang digunakan sebagai zat
anti septik dan zat pemutih untuk tekstil dan rambut adalah H2O2. Rumus ini
menandakan setiap molekul hidrogen proksida terdiri atas dua atom hidrogen
dan dua atom oksigen. Rumus empiris adalah rumus kimia yang paling
sederhana ini ditulis dengan memperkecil yang mungkin. Rumus molekul
adalah rumus yang sederhana untuk suatu molekul (Chang, 2005).
Rumus empiris memberikan jumlah mol (bukan saja perbandingan) setiap
jenis atom dalam satu mol molekul senyawa. Menentukan rumus molekul
senyawa yang tidak diketahui memerlukan percobaan dilaboratorium dengan
langkah umum yaitu analisis kualitatif adalah menentukan unsur yang
terdapat. Penentuan rumus empiris melalui percobaan. Diketahui bahwa untuk
menentukan rumus empiris senyawa maka persen komposisinya kemungkinan
untuk mengidentifikasi senyawa (Chang, 2001).
Rumus empiris dari percobaan menentukan susunan (komposisi). Senyawa
dari rumus yang telah dipelajari dapat diperoleh banyak informasi, tetapi
bagaimana rumus ini diperoleh. Caranya dilakukan oleh Dalton yaitu
menyimpulkan rumus tersebut dari percobaan penentuan komposisis suatu
senyawa. Rumus yang paling sederhana mungkin disebut rumus empiris dapat
digunakan uga untuk menghitung bobot rumus senyaw (Sumardjo, 2006).
Dalam kimia rumus empiris dari suatu senyawa kimia merupakan ekspresisi
sederhana jumlah relatif setiap jenis atom unsur kimia yang dikandungan
istilah ketelitian berkaitan dengan pengelompokan nilai-nilai hasil pengamatan
disekitar nilai rata-rata ketelitian digambarkan oleh sejauh mana kedalam nilai
atau kedekatan nilai pengukuran terhadap nilai rata-ratanya. Suatu selang nilai
dimana hasil pengukuran bisa masuk kedalam nya dan suatu nilai peluang
dimana akan dalam suatu selang waktu, selang kepercayaan dan interval
toleransi. Simpangan pendugaan volume untuk setip rumus pada tingkat
keyakinan digunakan untuk membandingkan ketelitian dengan volume logaritas
rumus (Muhdin, 1999).
Proses pelunakan air dalam jumlah besar dengan cara pemanasan atau
penambahan larutan karbonat sulit dilakukan yang lebih praktis dan
sederhana, proses dilalui melalui penyaringan menggunakan resin pengikat ion
dan zeolit. Resin pengikat ion berupa butiran seperti pasir bening kation yang
terdapat dalam air akan diarsip oleh resin sehingga air tersebut bebas dari
kation. Zeolit adalah sejenis tanah yang mengandung alumunium, silikon, dan
oksigen. Atom ini berkaitan membuat struktur 3 dimensi yang memiliki banyak
muatan negatif. Seluruh muatan negatif ini harus di netralkan dengan
kandungan muatan positif umumnya zeolit berikatan dengan ion Na+
membentuk senyawa natrium zeolit atau Na- zeolit (Oxtoby et al., 2001).
Reaksi hidrogen peroksida dengan iodida merupakan salah satu reaksi
kompleks yang sering ditambahkan dalam buku-buku kimia. Hidrasi air
merupakan proses berkurangnya dan terkaitnya ion dari molekul zat terlarut
dalam molekul-molekul air. Molekul air pada hidrat dapat terlepas misalnya
melalui proses pemanasan yang akan berubah menjadi senyawa hidrat. Selain
dikatakan berordo satu juga dikatakan sebagai brntuk penjumlahan pada
susunan mendekati netral produksi teramat, juga beupa gas O 2 (Rosalia et al.,
2015).
Jika suatu zat melelh artinya terjadi perubahan tingkat wujud dari fasa
padat uap ke fasa cair. Perubahan ini bersifat reversible (bolak-balik) artinya es
yang telah menjadi air itu dapat membeku kembali menjadi es seperti keadaan
semula. Perubahan atau proses yang tidak bisa kembali lagi pada susunan
semula (versible) seperti lilin terbakar dan seperti pada reaksi kimia susunan
senyawa tertentu (Hiskia, 1986).
III. Prosedur Kerja
3.1 Alat Dan Bahan
A Alat
- Cawan Krus
- Neraca Analitik
- Kaki Tiga
- Bunsen
- Penjepit Krus
- Tutup Krus
- Pipet Tetes
- Grlas Arloji
- Cawan Porselin
- Kaca Arloj
B Bahan
- Pita Megnesium (Mg)
- Kertas Tisu
- Logam Tembaga (Cu)
- Larutan Asam Nitrat 4M
- Detergen
- Air
- Akuades
- Larutan HNO3 6M
- Tembaga (II) Sulfat Pentahidrat
3.2 Skema Kerja
Adapun skema dari prosedur kerja yang dilakukan dalam percobaan ini
sebagai berikut :
A. Rumus Empiris Senyawa
- Menggunakan Magnesium (Mg)

Pita Mg

Dipotong 10-15 cm.


Dibersihkan dengan tisu.
Digulung dan dimasukan kedalam krus serta ditimbang.
Dipanaskan dengan bunsen hingga dasar krus berpijar.
Dibuka tutup krus agar udara dapat masuk.
Diteteskan 40 tetes air ke dalam cawan krus yang telah
didinginkan.
Dipanaskan kembali.
Ditimbang krus beserta isinya.

Hasil

- Menggunakan Logam Tembaga (Cu)

Logam Cu
Dipanaskan 0,5 gr dan dicampur dengan 10 ml asam
nitrat kedalam cawan serta ditutup dengan gelas arloji.
Dipanaskan hingga terbentuk kristal berwarna hitam.
Dipanaskan kembali hingga terbentuk kristal kekuning-
kuningan.
Ditimbang cawan penguap beserta isinya.

Hasil
B. Hidrasi
- Penetuan kuantitatif persentase air dalam senyawa hidrat

Sampel
Dimasukkan 1 gr kedalam cawan.
Ditimbang beserta tutupnya.
Dipanaskan selama satu menit.
Dihentikan pemansan, dibuka tutup cawan dan kemudian
ditimbang.
Diulangi pemanasan hingga didapat bobot perbedaan 2-3
mg.

Hasil

- Reaksi bolak-balik hidrat

Tembaga (II) Sulfat Pentahidrat

Dimasukan ½ sepatula ke cawan porselen.


Ditutup cawan dengan arloji.
Dipanaskan hingga terjadi perubahan warna.
Dihentikan pemanasan dan diteteskan air yang terkumpul
pada kaca arloji kedalam cawan.

Hasil
IV. Hasil Dan Pembahasan
Setelah dilakukannya percobaan yang berjudul rumus empiris senyawa
dan hidrasi air ini didapatkan hasil beserta pembahasannya sebaga berikut :
4.1 Rumus Empiris Senyawa Tembaga (Cu)
Perlakuan Cara didapatkan Ulangan I

Bobot cawan penguap Ditimbang 71,6649 gr

Bobot cawan penguap +


Ditimbang 71,6798 gr
tembaga

Bobot cawan penguap +


Ditimbang 72,4937 gr
oksida tembaga

Bobot cawan penguap


Bobot oksida tembaga
oksida tembaga – bobot 0,8139 gr
yang diperoleh
cawan penguap tembaga

Reaksi antara logam


Cu + NHO3 → 3Cu(NO3)2
tembaga dengan asam
+ 2NO + 4H2O
nitrat

Rumus empiris CuO

Rumus empiris merupakan perbandingan jumlah mol unsur0unsur yang


menyusun suatu senyawa. Menentkan rumus empiris berati menghitung
jumlah mol unsur-unsur yang menyusun suatu senyawa. Menentukan rumus
empiris juga diperlukan data, yaitu massa unsur, persentase dan massa atom
relative (Ar) unsur tersebut. Adapun rumus molekul merupakan rumus kimia
yang menggambarkan jumlah atom dan unsur penyusun senyawa. Dalam
penentuan rumus molekul ditentukan terlebih dahulu empirisnya, selanjutnya
dengan menggunakan data massa molekul relative (Mr) senyawa dapat
ditentukan rumus molekulnya.
Rumus empiris menunjukkan perbandingan jumlah atom unsur-unsur yang
terdapat dalam satu senyawa, dimana perbandingan itu dinyatakan dalam
bilangan bulat yang terkecil. Bilangan bulat ini bisa didapatkan dari analisis
terhadap senyawa tersebut, yaitu dengan mengkonversikan hasil analisis
menjadi kuantitas masing-masing unsur yang terdapat dalam suatu bobot
tertentu senyawa tersebut, yang dinyatakan dalam mol atom-atom tersebut.
Dalam percobaan pertama ini praktikan dihimbau atau dianjurkan untuk
mampu menentukan rumus empiris dari suatu senyawa. Karena pada
laboratorium praktikan melaksanakan praktikum ini tidak terdapat pita Mg
(Magnesium) maka digunakanlah senyawa lain, dimana didalam percobaan ini
praktikan menggunakan logam Cu. Pada penentuan rumus empiris ini mulanya
perlu diketahui terlebih dahulu bobot dan Ar dari unsur-unsurnya hal ini pun
sama dengan literatur yang praktikan baca bahwa untuk menentukan rumus
empiris suatu senyawa diperlukan data bobot dan juga Ar tiap unsur-unsur
yang berhubungan. Dalam percobaan ini bobot cawan penguap + oksida
tembaga ditentukan dengan cara ditimbang, sedangkan untuk mengetahui
bobot sebenarnya oksida tembaga dapat ditentukan dalam mengurangi massa
cawan penguap + oksida tembaga dikurang dengan massa cawan penguap +
tembaga maka diperolehlah massa oksida tembaga yang khususnya massa
oksigen.
Dari perhitungan yang dilakukan praktikan menemukan rumus empiris
dari tembaga oksida ialah CuO, hal inipun sama dengan litelatur yang
praktikan baca bahwasannya rumus empiris dari oksida tembaga (Lazimnya
ditulis tembaga (II) oksida) adalah CuO, karena itulah percobaan ini dapat
dikatakan berhasil.
4.2 Hidrat
Perlakuan Ulangan 1

Massa cawan + tutup 43,2892 gr

Massa cawan + tutup + sampel 44,3412 gr

Massa cawan + tutup + sampel


44,3337 gr
pemanasan 1

Massa cawan + tutup + sampel


44,1169 gr
pemanasan 2

Massa cawan + tutup + sampel


44,0573 gr
pemanasan 3

Massa air yang hilang dari sampel O,48634 gr

Persentase air yang hilang dari sampel 46,23 %

Rumus hidrat CuSO4 . 5H2O


Massa molar senyawa anhidrat (159,5 + 118,51) = 249,5

Jumlah sampel 1 (CuSO4 . 5H2O) sampel

Menurut literatur hidrat merupakan istilah yang dipergunakan dalam


senyawa penting baik senyawa anorganik maupun senyawa organik, untuk
mengindikasikan bahwa senyawa tersebut mengandung air.Hidrat dalam
senyawa organik dibentuk dengan penambahan H2O pada molekul organik.
Hidrat dalam senyawa anorganik adalah garam yang mengandung molekul air
dalam perbandingan tertentu yang terikat baik pada atom pusat atau
terkristalisasi dengan senyawa kompleks.
Pada percobaan Kedua ini sampel yang praktikan gunakan adalah
CuSO4.5H2O. Dalam Percobaan ini hal yang sangat diperhatikan adalah
ketelitian dalam penimbangan, serta kehati-hatian dalam menimbang cawan
karena sifatnya yang panas. Pemanasan dan penimbangan pada percobaan ini
dilakukan berulang-ulang hingga didapatkan bobot tetap.Bobot tetap adalah
posisi dimana bobot/massa dari sampel tidak berubah/sama dengan
bobotpemanasan sebelumnya.Ketika bobot tetap telah dicapai, pemanasan
harus dihentikan agar sampel tidak hangus.Apabila ketika bobot tetap telah
dicapai namun pemanasan tetap dilanjutkan maka bobot dari sampel akan
berubah (massanya berkurang) karena beberapa persen bagian sampel akan
hangus karena dalam sampel sudah tidak ada lagi senyawa air.
Persentase air pada beberapa sampel dapat ditentukan secara tidak
langsung. Pemanasan akan menguapkan air dan jika ditimbang ulang terjadi
penyusutan bobot contoh. Besarnya penyusutan merupakan bobot air yang ada,
dan hal ini dianggap tak ada gas lain yang dihasilkan dlam proses ini. Jika
dilakukan pada senyawa yang diketahui, rumus hidrat pun dapat diketahui.
Tujuan utama dalam percobaan kedua ini yakni menetukan persentase air
dalam sampel yang nantinya dikenakan untuk menentukan senyawa hidrat
dalam keadaan rumusnya. Pada percobaan kedua ini praktikan menggunakan
sampel yang massanya 1,052 gram. Dalam percobaan kedua ini massa air
ditentukan secara tidak lansung melainkan dengan dikurangnya massa cawan
+ tutup + sampel pada pemanasan terakhir dengan massa cawan + tutup +
sampel sehingga dapat ditemukanlah massa air yang hilang dari sampel yang
dipakai saat usai pemanasan.
Dari percobaan ini terbukti bahwa sampel yang dikenakan dalam
percobaan ini (CuSO4.5H2O) memanglah memiliki rumus hidrat yang sesuai
dengan labelnya yakni CuSO4.5H2O. Pada percobaan ini juga terbukti bahwa
literatur yang menyatakan bahwa senyawa hidrat adalah zat padat yang
memiliki kemampuan untuk mengikat air sebagai bagian dari struktur
kristalnya, adalah benar. Karena dalam percobaan ini terlihat bahwa air yang
ada pada kristal senyawa hidrat CuSO 4.5H2O mengalami pelepasan air ketika
dipanaskan sehingga bobotnya berkurang dan terbentuklah CuSO4 + 5H2O yang
sama pula dengan literatur yang mengutarakan persamaan reaksi anhidrat dari
senyawa yang dipakai adalah CuSO4.5H2O yang mana tertilis dalam reaksi
bolak balik CuSO4.5H2O ⇋ CuSO4 + 5H2O
4.3 Reaksi Bolak-Balik hidrasi
Perlakuan Ulangan 1

Warna CuSO4.5H2O Biru

Terdapat atau tidaknya air pada kaca


Terdapat air
arloji setelah pemanasan

Warna sampel setelah pemanasan Putih

Warna sampel setelah ditambahkan


Kembali biru
kedalam air

Persamaan reaksi :

CuSO4.5H2O → CuSO4 + 5H2O

CuSO4 + 5H2O → CuSO4.5H2O

Persamaan reaksi bolak balik: CuSO4.5H2O ⇋ CuSO4+5H2O

Reaksi bolak-balik (reversible) atau reaksi dapat balik adalah reaksi yang
terjadi pada dua arah yang berlawanan dalam waktu bersamaan. dalam reaksi
bolak-balik, produk dapat berubah menjadi reaktan, dan reaktan dapat
berubah menjadi produk (menjadi reaksi yang berlawanan).
Sedangkan hidrasi adalah gambaran mekanika kuantum sebagai tentang
hal yang berkaitan dengan ilmu kimia.Orbital atom terhibridisasi atau
bercampur, untuk membentuk orbital hibrida. Orbital-orbital ini kemudian
berinteraksi dengan orbital atom yang lain untuk membentuk ikatan kimia.
Berbagai geometri molekul dapat dihasilkan dari hibridasi yang berbeda, konsep
hibridasi menjelaskan pengecualian aturan outer dan juga menjelaskan
pembentukan ikatan rangkap dan ikatan rangkap tiga. Hidrasi merupakan
proses bergabungnya molekul air disertai dengan bergabungnya molekul-
molekul tersebut membentuk solut. Secara termodinamika, kalor hidrasi selalu
bernilai negatif karena energi yang dibutuhkan untuk memisahkan molekul air
tersebut jauh melampaui energi yang dilepas ketika ion bergabung dengan
molekul air. Reaksi yang terjadi antara ion dan pelarut air ini akan
menghasilkan ion hidrat. Ion hidrat ini merupakan hasil konsekuensi dari sifat
polar molekul air. Karena atom oksigen pada molekul air lebih elektronegatif
dibanding dengan atom hidrogen maka tiap ikatan H-O akan lebih kovalen polar
dimana ikatan elektron yang terlibat menjadi lebih dekat ke arah atom oksigen
daripada atom hidrogen sehingga atom oksigen akan sangat negatif oleh awan
elektron yang mendekat sedangkan atom hidrogen sebaliknya akan sangat
positif. Hal inilah yang menyebabkan mengapa bentuk molekul air tidak linear
karena disebabkan adanya tarikan elektron (muatan parsial) ke arah oksigen
dan ke arah hidrogen.
Pada percobaan yang ketiga ini sebenarnya lebih bertujuan untuk
membuktikan adanya hal yang disebut reaksi bolak-balik melalui senyawa
anhidrat CuSO4.5H2O yang dipanaskan guna mengetahui bahwa CuSO4.5H2O
yang dipanaskan dapat menunjukkan bahwa CuSO4 dan 5H2O memisah. Hal ini
dibuktikan dengan berubahnya senyawa tadi (CuSO 4.5H2O) menjadi berwarna
putih serta pada kaca arloji terdapat air. Dan setelah air dimasukkan kembali
ke cawan warna senyawa tadi (CuSO4.5H2O)berubah menjadi biru kembali atau
menurut persamaan reaksi dapat ditulis CuSO 4 (putih) + 5.H2O  CuSO4.5H2O
(biru). Hal ini juga didukung dengan literatur yang praktikan baca bahwa
keadaan tersebut merupakan ekspresi atau contoh nyata dari reaksi bolak-
balik. Reaksi bolak-balik berdasarkan literatur yang praktikan baca produk dari
reaksi bolak-balik dapat menjadi reaktan kembali dan reaktan dapat menjadi
produk. Berdasarkan literatur beserta percobaan yang dilakukan keadaan
dalam percobaan ketiga ini dapat dinyataklan dalam persamaan berikut:
CuSO4.5H2O ⇋ CuSO4+5H2O
Hidrasi yang terkandung dalam air struktur Kristal dari senyawa organic
adalah diukur dari segi jumlah molekul air yang terkait dengan setiap molekul
senyawa.senyawa kristalin dengan air hidrasi yang terkait dengan mereka,
sebagian besar kompleks dimana air tidak langsung berhubungan dengan ion
logam utama yang membentuk pusat. Air terkait dengan atom sekitarnya
karena tidak dapat dikaitkan dengan Kristal tanpa beberapa jenis ikatan
kovalen. Hubungan dengan air tidak mempengaruhi beberapa sifat fisik
senyawa termasuk senyawa termaksud karakteristik optic.
V. Kesimpulan Dan Saran
5.1 Kesimpulan
Setelah dilaksanakannya percobaan yang berjudul rumus empiris
senyawa dan hidrasi air ini dapat disimpulkan bahwa
1. Rumus empiris senyawa dari suatu senyawa dapat ditentukan dengan
ditetapkannya perbandingan mol dari unsur-unsurnya dari bobot
atau massa yang diketahui. Untuk mendapatkan rumus molekul
terlebih dahulu harus mengetahui rumus empirisnya dan Mr senyawa
tersebut.
2. Data-data hasil percobaan dapat digunakan untuk menentukan
rumus empirs suatu senyawa yang utamanya data bobot atau massa
dari senyawa beserta unsurnya.
3. Sifat dari senyawa berhidrat yakni berbentuk kristal, mengandung
molekul air, dan mengalami reaksi bolak-balik.
4. Pada reaksi bolak-balik hidarasi senyawa hidrat, senyawa hidrat akan
menjadi senyawa anhidrat ketika dilakukan pemanasan dan kemabli
laghi menjadi senyawa hidrat ketika ditambahkan air.
5. Persentase air dalam suatu senyawa berhidrat dapat ditentukan
dengan membagi mssa air yang hilang dengan massa sebelum
dilakukannya pemanasan dan kemudian dikalikan dengan 100%.
5.2 Saran
Pada saat praktikum cobalah gunakan lebih banyak sampel pada
percobaan penentuan persentase air dalam senyawa hidrat, dan Lebih
berhati-hati lagi dalam percobaan ni karena cawan yang digunakannya
nantinya akan sangat panas.
DAFTAR PUSTAKA

Chang,R. 2004. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.


Chang, R. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta:
Erlangga.
Hiskia, A. 1986. Buku Materi Pokok Kimia I. Jakarta: Depdikbud.
Muhdin. 1999. Analisis beberpa rumus penduga volume log studi kaus pada
jenis mernadi. Manajemen Hutan Tropika. Vol.5.
Oxtoby, D. W., H. P. Gillis dan N. H. Nachtrieb. 2001. Kimia Modern. Jakarta:
Erlangga.
Rosalia, A. D., Patiha dan E. Heraldy. 2015. Kajian Empiris Mekanisme
Reaksi Hidrogen Peroksida Dengan Iodida pada Suasana Asam.
Jurnal Penelitian Kimia. Vol.1.
Saraswati, I. 2016. Panduan Praktikum Kimia. Yogyakarta: CV BUDI UTAMA.
Sumardjo, D. 2008. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran. Jakarta: EGC.
LAMPIRAN
Pertanyaan Pra Praktek

1. Definisi rumus empiris dan rumus molekul


 Rumus empiris merupakan rumus struktur kimia (senyawa) yang
paling sederhana contohnya CH
 Rumus molekul adalah rumus yang dikerjakan setelah rumus empiris
dan massa atom relatifnya (Mr)nya diketahui, contohnya adalah C 2H2
: C6H6 : C2H4.

2. Menentukan rumus empiris dari tembaga klorida (5 gr) yang terdiri dari
2,35 gr Cu dan 2,65 gr Cl (ArCu : 63,4 : ArCl = 35,4)
2,35
 Mol Cu = = 0,037 mol
63,5
2,65
Mol Cl = = 0,074 mol
35,4

Cu : Cl = 0,037 : 0,074 = 1 : 2
 Maka rumus empirisnya CuCl2

3. Definisi hidrat
 Hidrat adalah zat padat yang mampu mengikat molekul air sebagai
bagian dari struktur kristalnya

4. Jika zink sulfat (ZnSO4) 300 gram dipanaskan hingga bobotnya tetap,
bobot yang tersisa 1,629 gram. Bagaimanakah rumus garam hidrat ini ?
 Massa H2O = 300 – 1,629 = 29,83 x 101 gram = 298,3 gram
 Mol ZnSO4 : Mol H2O
300 298,3
 :
161 18
 1,86 : 16,6 = 1 : 9
 Maka ZnSO4 . 9H2O
Pertanyaan Pasca Praktek

A. Rumus Empiris Senyawa


1. Jika bobot Mg yang digunakan berbeda-beda apakah rumus
empirisnya sama ?
 Iya, karena dalam penentuan rumus empiris sangat dipengaruhi
oleh bobot (perbandinga bobot antar unsur), dan apabila bobtnya
berbeda-beda maka rumus empirisnya juga akan berbeda.

2. Hitunglah rumus empiris dari senyawa sulfur 50 gr apabila


dipanaskan senyawa sulfur oksigen berbobot 100 gr.
50
 Mol S = = 1,56 mol
32
100−50 50
 Mol O = = = 3,124 mol
16 16
 Perbandingan S : O = 1,56 : 3,125
= 1 : 2,003
=1:2
 Maka rumus empiris : SO2

3. Jika suatu senyawa mengandung 74,06% oksigen dan sisanya


nitrogen, tentukan rumus empirisnya.
74,06
 Mol O = = 4,69 mol
16
100−14,06 25,94
 Mol N = = = 1,852 mol
14 14
 Perbandingan N : O = 1,852 : 4,69
= 1 : 2,53
= 1 :2
 Maka rumus empirisnya = NO2

4. Berapa gr logam zink akan larut dalam 1,5 kg HCl 37% dan
berapakah volume gas hidrogen yang dibebaskan dalam keadaan
standar.
 Massa HCl = 37% x 1500 gram = 555 gram
555
 Mol HCl = = 15,2 mol
36,5

 Persamaan reaksi = Zn + 2HCl → ZnCl2 + H2


1
 Mol Zn = . 15,2 = 7,6 mol
2
 Massa Zn = 7,6 . 65 = 494 gram
1
 Mol H2 = . 15,2 = 7,6 mol
2
 Volume H2 (STP) = mol . 22,4
= 7,6 . 22,4
= 120,24 L

B. Jika anda memanaskan cawan dan isinya hingga bobot tetap, apa masalah
yang timbul dari percobaan ?
 Jika didinginkan setelah dipanaskan hingga cawan dan isinya hingga
bobot tSetap maka tidak akan mempengaruhi perhitungan persentase
air dalam senyawa berhidrat tersebut air sudah sepenuhnya menguap
dan memisahkan diri dengan sampel sehingga perhitungan akan
berubah (sama).

C. Reaksi Bolak-Balik Hidrasi


1. Kenapa dipilih cawan porselin yang utuh/masih baik?
 Kerena dengan cawan porselin yang masih utuh akan
mempermudah senyawa untuk mengalami reaksi serta air dari
senyawa hidrat tidak hilang guna membuktikan senyawa anhidrat
bila dipanaskan menghasilkan air.

2. Apa itu bobot tetap ?


 Bobot tetap adalah bobot ketika setelah dilakukan berkali-kali
pemanasan namun bobotnya selalu sama.

3. Apa tujuan ditetapnya mulut tabung reaksi ?


 Hal ini bertujuan untuk membuktikan bahwa apabila senyawa
anhidrat dipanaskan akan menghasilkan air.

4. Kenapa pemanasan harus dihentikan saat warna berubah menjadi


cokelat atau hitam
 Karena saatwarna menjadi hitam molekul air sudah tidak ada lagi
didalam cawan atau senyawa tersebut sehingga dapat
mempengaruhi percobaan bila pemanasan dilanjutkan disebabkan
ikut terbakarnya zat.

5. Kenapa warna CuSO4 berubah menjadi putih setelah dipanaskan?


 Karena setelah dipanaskan molekul air pada senyawa CuSO4 . 5H2O
hilang dan menyebabkan CuSO4 berdiri sendiri (air berada pada
tutup cawan). Serta warna sebenarnya dari CuSO4 adalah putih dan
apabila direaksikan dengan air kristalnya akan berubah menjadi
biru.

6. Jika sebelum dipanaskan senyawa hidrat bermassa 1,632 gr dan


setelah dipanaskan menjadi 1,008 gram hitung persentase air pada
hidrat?
 Massa air yang hilang : 1,632 gr – 1,008 gr
: 0,624 gr
0,624 𝑔𝑟
 Persentase air pada hidrat : x 100%
1,632 gr

: 38,23 %

7. Tulis reaksi setimbang dari persamaan CuSO4 . 5H2O


 CuSO4 . 5H2O → CuSO4 + 5H2O
 CuSO4 + 5H2O → CuSO4 . 5H2O
 CuSO4 . 5H2O ⇋CuSO4 + 5H2O
Perhitungan

1. Rumus Empiris Senyawa Tembaga (Cu)


Untuk menetukan rumus empiris dan tembaga oksida. Praktikan
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
𝑔𝑟𝐶𝑢 0,5
 Mol Cu = = = 0,0078 𝑚𝑜𝑙
Ar Cu 63,5
𝑔𝑟𝑂 0,13
 Mol O = = = 0,0081 𝑚𝑜𝑙
Ar O 16

 Perbandingan Cu : O = 0,0078 ∶ 0,0081


=1 ∶ 1,038
=1:1
 Maka rumus empiris = CuO

2. Reaksi Bolak-Balik Hidrasi


Berikut tahap perhitungan yang dilakukan praktikan guna mengetahui
persentase air yang hilang dari sampel besertarumus hidratnya.
Massa air yang hilang
 Persentase air yang hilang = x 100%
Massa total senyawa
0,48634
= 1,052
𝑥 100%

=45,23%
Massa air
 Mol air (H2O) =
Mr air
0,48634
= 18

= 0,0270 𝑚𝑜𝑙
gr CuSO4
 Mol CuSO4 =
Mr CuSO4
1,052
= 159,4
= 0,006 𝑚𝑜𝑙

 Perbandingan mol CuSO4 : H2O = 0,0270 ∶ 0,006


 Perbandingan mol CuSO4 : H2O = 1 ∶ 0,22
 Maka rumus hidratnya adalah CuSO4.5H2O
DUKUMENTASI

Pemanasan Logam Cu Hasil Pemanasan Proses Pemanasan Cu


dalam Proses dalam Proses dalam Proses
Penentuan R. Empiris Penentuan R. Empiris Penentuan R. Empiris

Proses Pemanasan Proses Penentuan Pemanasan Senyawa


Senyawa Berhidrat Persentase Air dalam CuSO4.5H2O
Senyawa Berhidrat

Hasil Pemanasan Pembuktian Reaksi


(Senyawa CuSO4) Bolak Balik Hidrasi

Anda mungkin juga menyukai