Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PERCOBAAN I

KEKUATAN MEDAN LIGAN

OLEH

NAMA : RAHMIN

STAMBUK : F1C117085

KELOMPOK : V (LIMA)

ASISTEN : YAYUK SUFANDY

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut ilmu kimia, kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada

molekul atau entitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dan ion logam.

Dulunya, sebuah kompleks artinya asosiasi reversibel dari molekul, atom, atau ion

melalui ikatan kimia yang lemah. Pengertian ini sekarang telah berubah. Beberapa

kompleks logam terbentuk secara irreversible, dan banyak diantara mereka yang

memiliki ikatan yang cukup kuat

Salah satu sifat unsur transisi adalah mempunyai kecenderungan untuk

membentuk ion kompleks atau senyawa kompleks. Ion-ion dari unsur logam

transisi memiliki orbital-orbital kosong yang dapat menerima pasangan elektron

pada pembentukan ikatan dengan molekul atau anion tertentu membentuk ion

kompleks. Ion kompleks terdiri atas ion logam pusat dikelilingi anion-anion atau

molekul-molekul membentuk ikatan koordinasi. Ion logam pusat disebut ion pusat

atau atom pusat. Anion atau molekul yang mengelilingi ion pusat disebut ligan. Ion

pusat merupakan ion unsur transisi, dapat menerima pasangan elektron bebas dari

ligan. Pengaruh ligan ini dapat membentuk warna pada ion kompleks.

Sifat magnetik dari ion kompleks yang mengandung ligan monodentat ini

tergantung dari kuat lemahnya ligan yang terdapat dalam ion kompleks tersebut.

Kuat lemahnya ligan ini ditentukan dari jenis ligannya yang diurutkan

berdasarkan deret spektrokimianya. Deret spektrokimia adalah daftar-daftar ligan

yang disusun berdasarkan kemampuannya membelah tingkat energi orbital d kecil


ke besar. Berdasarkan uraian diatas maka maka dilakukan percobaan tentang

kekuatan medan ligan.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari percobaan kekuatan medan ligan adalah bagaimana

cara mengetahui perbedaan kekuatan medan antara ligan ammonium klorida dan

air?

C. Tujuan

Tujuan dari percobaan kekuatan medan ligan adalah untuk mengetahui

perbedaan kekuatan medan antara ligan ammonium klorida dan air.

D. Manfaat

Manfaat dari percobaan Kekuatan Medan Ligan adalah dapat mengetahui

perbedaan kekuatan medan antara ligan ammonium klorida dan air.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa kompleks merupakan susunan antara ion logam dan satu atau

lebih ligan yang mendonorkan pasangan elektron bebasnya kepada ion logam

sehingga membentuk ikatan kovalen koordinasi. Senyawa kompleks sangat

berhubungan dengan konsep asam basa Lewis. Senyawa kompleks dapat diuraikan

menjadi ion kompleks yang bermuatan positif ataupun negatif. Logam pusat

biasanya memiliki bilangan oksida nol dan positif, sedangkan ligannya memiliki

bilangan oksida netral maupun anion. Logam pusat pada umumnya merupakan

logam-logam transisi yang memiliki orbital kosong sehingga dapat menerima

pasangan elektron bebas dari ligan (Wijaya dkk., 2015).

Senyawa kompleks juga dapat diartikan sebagai suatu senyawa yang

tersusun dari suatu ion logam pusat dengan satu atau lebih ligan yang

menyumbangkan pasangan elektron bebasnya kepada ion logam pusat. Senyawa

kompleks dapat disintesis dengan cara pencampuran larutan ion logam dan ligan

dalam pelarut tertentu yang dapat melarutkan ion logam dan ligan, baik disertai

pemanasan maupun tanpa pemanasan pada suhu tertentu (Izzah dkk., 2015).

Atom pusat bisa berupa logam transisi, alkali atau alkali tanah. Ion atau

molekul netral yang memiliki atom - atom donor yang dikoordi nasikan dengan

atom pusat disebut dengan ligan. Senyawa kompleks terbentuk akibat terjadinya

ikatan kovalen koordinasi antara ion logam atom pusat dengan suatu ligan. sintesis

senyawa kompleks melibatkan reaksi antara larutan yang mengandung molekul

atau ion negatif sebagai ligan ( Lestari dkk., 2014).


Teori medan ligan telah digunakan dengan sukses untuk menggambarkan

keadaan elektronik tanah dan tereksitasi yang berasal dari elemen dn atau fn dalam

kompleksnya. Baik teori medan kristal / ligan (LFT) dan pengembangan - model

tumpang tindih sudut (AOM) parameterisasi Hamiltonian dalam hal parameter

satuelektron (medan ligan) dan integral penolak dua elektron dalam manifold

delectron. Yang terakhir diperlakukan seperti atom, sehingga menjaga simetri bola,

sedangkan yang pertama memperhitungkan penuh untuk menurunkan simetri

ketika atom logam atau ion bola dimasukkan dalam kompleks (Daul, 2014).

Karakterisasi senyawa kompleks hasil sintesis dilakukan dengan

Spektrofotometer Infrared Tranformasi Fourier (FTIR), Spektrofotometer Serapan

Atom (SSA), dan spektrofotometer UV-VIS. Spektrofotometer FTIR digunakan

untuk mengukur atau mengetahui adanya gugus fungsional pada senyawa

kompleks, serta karakterisasi pada ikatan koordinasi ligan dan ion pusat. Analisis

dengan AAS untuk mengetahui berapa banyak atom logam yang terikat dengan

ligan dan spektrofotometer UV-VIS untuk mengetahui pergeseran bilangan

gelombang karena pengaruh pelarut (Mintari, 2015).


III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Kekuatan Medan Ligan berlangsung pada hari Kamis, tanggal

4 April 2019, pukul 13.00-15.30 WITA dan bertempat di laboratorium Kimia

Anorganik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,

Universitas Halu Oleo, Kendari.

B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan pada percobaan Kekuatan Medan Ligan adalah

spektrofotometer UV-Vis, labu ukur, gelas ukur, gelas kimia, batang pengaduk,

corong dan pipet tetes

2. Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan Kekuatan Medan Ligan adalah

larutan Ammonium Klorida (NH4Cl) 25% , terusi (CuSO4.5H2O) dan akuades.


C. Prosedur Kerja

NH4Cl 0.01 M CuSO4 0.1 M CuSO4 0.01 M

- dimasukkan - dimasukkan - dimasukkan


sebanyak 75 mL sebanyak 25 mL sebanyak 5 mL
dalam gelas ukur dalam gelas ukur dalam gelas ukur
- dimasukkan - ditambahkan 5 - ditambahkan 25
dalam labu ukur mL NH4Cl NH4Cl
100 mL - ditambahkan - dimasukkan
- ditambahkan aquades sampai dalam gelas ukur
aquades sampai tana tera - ditambahkan
tanda tera - dihomogenkan aquades sampai
- dihomogenkan tanda tera
- dihomogenkan

- diamati serapan keempat larutan dengan


spektrofotometer dengan panjang gelombang 510-
700 nm

- dibandingkan panjang gelombang maksimumnya


Larutan I = 510 nm
Larutan II = 530 nm
Larutan III = 550 nm
NH4Cl NH4Cl

- dimasukkan sebanyak 75 - dimasukkan sebanyak 50


mL dalam labu ukur mL dalam labu ukur
- ditambahkan 25 mL aquades - ditambahkan 50 akuades
- dihomogenkan - dihomogenkan

- diamati serapan keempat larutan dengan


spektrofotometer dengan panjang gelombang 510-
700 nm

- dibandingkan panjang gelombang maksimumnya


Larutan VI = 550 nm
Larutan V = 570 nm
C. Prosedur Kerja

1. Pembuatan larutan Amonia 1 M

NH3 25%

- dipipet sebanyak 18,7 mL


-dimasukkan dalam labu ukur 250 mL
-dilarutkan dalam aquades hingga volume
250 mL
-dihomogenkan

Hasil pengamatan

2. Pembuatan larutan ion Cu2+ 0,1 M

CuSO4.5H2O

- ditimbang sebanyak 6,242 gram


- dilarutkan dalam air
- dimasukkan dalam labu ukur 250 mL
- dilarutkan dalam aquades hingga
volume 250 mL
- dihomogenkan

Hasil pengamatan
3. Pembuatan dan pengukuran larutan

Larutan ion Larutan NH4Cl Larutan ion Larutan ion


Cu2+ 0,02 M 1M Cu2+ 0,02 Cu2+ 0,02 M

 dipipet  dipipetsebanya  dipipetsebanyak - dipipetsebanya


sebanyak 1 mL k 1 mL 5 mL k 4,5 mL
 dimasukkan  dimasukkan  dimasukkan  dimasukkan
dalamlabuukur dalam labu ukur dalam labu ukur dalam labu
25 mL 25 mL 25 mL ukur 25 mL
 ditambahkan  ditambahkan  ditambahkan  ditambahkan
denganair dengan 25 mL dengan 25 mL dengan larutan
hinggatanda larutan amonia larutan HCl 1 M amonia 1M
tera 1M  ditambahkan hingga tanda
 dihomogenkan  ditambahkan dengan air tera
dengan air hingga tanda tera  dihomogenkan
hingga  dihomogenkan
tandatera
 dihomogenkan
Larutan I Larutan III Larutan IV
Larutan II

- dimasukkan larutan sampel kedalam


kuvet secara bergantian
- diamati serapan keempat larutan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis
dengan air sebagai blangkonya pada
panjang gelombang antara 510-710 nm
dengan interval 20 nm
- dibandingkan panjang gelombang
maksimumnya

Adsorbans masing-masing larutan


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Tabel Data Pengamatan

No. Perlakuan HasilPengamatan

1. Larutan I (Larutan Cu2+ 1 mL + akuades sampai


Larutan biru bening
tanda tera) dihomogenkan

2. Larutan II (NH4Cl 1 mL + H2O sampai tanda tera)


Larutan biru bening
dihomogenkan

3. Larutan III (Larutan CNH4Cl 2 mL + H2O sampai


Larutan biru tua
tanda tera) dihomogenkan

4. Larutan IV (Larutan Cu2+ 1 mL + NH4Cl 2 mL +


Larutan biru tua
H2O sampai tanda tera) dihomogenkan

5. Larutan V (Larutan Cu2+ 1 mL+ NH4Cl 1 mL +


Larutan biru tua
H2O sampai tanda tera) dihomogenkan
2. Tabel Data Panjang Gelombang

No Perlakuan Absorbansi Panjang Gelombang (nm)

1 Larutan I 0,597 510-700

2 Larutan II 0,028 530-700

3 Larutan III 0,164 550-700

4 Larutan IV 0,060 570-700

5 Larutan V 0,014 590-700

3. Reaksi

-
Cu2+ + 6H2O → [Cu(H2O)6]2+

4. Analisis Data

a. Untuk Larutan I

λ maks = 510 nm A = 0,597


= 510 × 10-9 m
= 510 × 10-7 cm
= 5,10 × 10-5 cm
1
v=λ
1
= 5.10 × 10−5 cm

= 19607,8431 cm-1
10 Dq = 394,75 kkal/mol
1 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙
μ = 19607,8431 cm-1 × 394,75 cm−1 = 49,67 kkal/mol
b. Untuk Larutan II
λ maks = 530 nm A = 0,028
= 530 × 10-9 m
= 530 × 10-7 cm
= 5,30 × 10-5 cm
1
v =λ
1
=
5,30 × 10−5 cm

= 18867,92 cm-1
10 Dq = 394,75 kkal/mol
1 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙
μ = 18867,92 cm-1 × 394,75 cm−1 = 47, 7971 kkal/mol

c. Untuk Larutan III


λ maks = 550 nm A = 0,164
= 550 × 10-9 m
= 550 × 10-7 cm
= 5.50 × 10-5 cm
1
v =λ
1
= 5,50 × 10−5 cm

= 18181,81 cm-1
10 Dq = 394,75 kkal/mol
1 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙
v = 18181,81 cm-1 × 394,75 cm−1 = 46,05 kkal/mol

d. Untuk Larutan IV

λ maks = 570 nm A = 0.060


= 570 × 10-9 m
= 570 × 10-7 cm
= 5,70 × 10-5 cm
1
v =λ
1
= 5,70 × 10−5 cm

= 17543,8596 cm-1
10 Dq = 394,75 kkal/mol
1 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙
μ = 17543,8596 cm-1 × 394,75 cm−1 = 44,44 kkal/mol

e. Larutan V

λ maks = 590 nm A = 0.060


= 590 × 10-9 m
= 590 × 10-7 cm
= 5,90 × 10-5 cm
1
v =λ
1
= 5,90 × 10−5 cm

= 16949,1525 cm-1
10 Dq = 16949,1525 kkal/mol
1 𝑘𝑘𝑎𝑙/𝑚𝑜𝑙
μ = 16949,1525 cm-1 × = 42,93 kkal/mol
394,75 cm−1

5. Grafik

Grafik Hubungan Panjang


Gelombang Terhadap Absorbans
0.8 y = -0.0057x + 3.2911
R² = 0.5382
0.6
Absorbans

0.4
0.2
0
500 510 520 530 540 550 560 570 580 590 600
-0.2
Panjang Gelombang
B. Pembahasan

Spektrofotometri UV-Vis adalah pengukuran serapan cahaya di daerah

ultraviolet (200-400 nm) dan sinar tampak (400-800 nm) oleh suatu senyawa.

Serapan cahaya UV atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu

promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke

orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang UV atau

cahaya tampak bergantung pada mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul

yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada

panjang gelombang yang lebih pendek.

Percobaan ini dilakukan untuk membedakan kekuatan medan ligan

ammonia dan air dengan logam pusat Cu. Dimana digunakan 4 jenis larutan, yaitu

larutan akuades dan larutan ion Cu2+ dalam konsentrasi yang berbeda. Hal ini

bertujuan agar bisa menjelaskan pengaruh panjang gelombang maksimum, baik

dilihat dari jenis ligan yang mengikat ataupun banyaknya ligan yang akan

disubstitusi oleh ion Cu2+ dengan masing-masing absorbans sesuai warna larutan

yang dibentuk dengan warna komplemennya. Untuk menentukan panjang

gelombangnya digunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis dengan prinsip

kerja, bila cahaya monokromatik jatuh pada suatu media (larutan) maka sebagian

cahaya akan diserap, sebagian dipantulkan dan sisanya diteruskan.

Larutan I diperoleh panjang gelombang maksimum yaitu sebesar 510 nm

dengan absorbans sebesar 0,597 A. Harga Dq diperoleh sebesar 49,67 kkal/mol,

dimana harga Dq-nya tinggi. Hal ini menandakan bahwa energi Dq larutan kedua

lebih besar karena adanya substitusi ligan NH3 sehingga menyebabkan energi Dq
menjadi lebih besar, dimana energi yang besar ini akan membuat splitting orbital eg

dan t2g semakin besar. Splitting yang besar menandakan ligan yang masuk adalah

ligan kuat. Dalam larutan ini secara otomatis ligan NH3 menggantikan ligan H2O

yang lebih lemah.

Larutan II diperoleh panjang gelombang maksimum sebesar 530 nm

dengan absorbans 0,028 A dan harga Dq adalah sebesar 41,52866 kkal/mol. Harga

Dq larutan kedua lebih kecil daripada harga Dq larutan pertama. Hal ini dipengaruhi

oleh adanya substitusi ligan H2O saja yang merupakan aquo kompleks. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa kekuatan medan ligan dari akuades (H2O) kecil, energi

yang rendah ini akan membuat spliting orbital eg dan t2g semakin kecil. Spliting

yang lebih menandakan ligan yang masuk adalah ligan yang lemah.

Larutan III juga diperoleh panjang gelombang maksimum sebesar 550 nm

dengan absorbans sebesar 0,164 A dan harga Dq yang diperoleh adalah 46,05

kkal/mol. Perbandingan untuk harga Dq larutan kedua dan larutan ketiga adalah

lebih besar harga Dq larutan ketiga. Hal ini menandakan, bahwa ligan NH3 lebih

kuat dari ligan NH3 larutan kedua. Sehingga energi yang besar akan membuat

splitting orbital eg dan t2g semakin besar.

Larutan IV memperoleh panjang gelombang maksimum sebesar 570 nm

dengan absorbans 0,060 A dan harga Dq sebesar 44,44 kkal/mol. Dibandingkan

dengan harga Dq larutan ketiga untuk harga Dq larutan keempat lebih kecil atau

menurun. Hal ini disebabkan karena kemungkinan larutan yang digunakan sudah

bereaksi dengan senyawa lain atau dengan kata lain senyawa yang digunakan tidak

murni lagi. Dengan demikian, ligan NH3 merupakan ligan lemah sehinnga untuk
membuat splitting orbital eg dan t2g memerlukan energi yang kecil. Begitupun

dengan Larutan V yang memperoleh panjang gelombang maksimum sebesar 590

nm dengan absorbans 0,014 A dan harga Dq yang semakin menurun yaitu sebesar

44,44 kkal/mol.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan dan hasil pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa

dari percobaan kekuatan medan ligan yang telah dilakukan ligan ammonium klorida

lebih kuat daripada ligan air yang dapat dihat dari absorbansi yang diperoleh dari

lima perlakukan yang telah dilakukan pada saat praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Daul C.A., 2014, Ligand Field Theory: an Ever-Modern Theory, Journal Of


Physics, doi:10.1088/1742-6596/428/1/0120.

Fa’izzah M dan Kristian H. S., 2015, Synthesis And Characterization Of Cobalt(Ii)


Complex With 1,10-Phenanthroline Ligand And
Trifluoromethanesulfonate Anion, Journal of Chemistry, 4(23).

Lestari I., Afrida dan Aulia S, 2014, Sintensis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks
Logam Kadmium (II) dengan Ligan Kufperon, Jurnal Penelitian
Universitas Jambi Seri Sains, 16 (1) ISSN:0852-8349.

Mintari N., Suhartana dan Sriatun, 2015, Pengaruh Variasi Jenis Pelarut pada
Rendemen Sintesis Senyawa Kompleks Bis-Asetilasetonatodiaquonikel
(II), Journal of Scientific and Applied Chemistry, 18(1) ISSN: 1410-8917.

Wijaya R.F. dan R. Djarot S.K.S, 2015, Analisis Pengaruh Ion Zn(II) pada
Penentuan Fe3+ dengan Pengompleks 1,10-Fenantrolin pada pH
Optimum Menggunakan Spektrofotometer UV-VIS, Jurnal Sains Dan
Seni Its, 4(2) ISSN 2337-3520.