Anda di halaman 1dari 14

JURNAL PRAKTIKUM

Identifikasi Senyawa Golongan Glikosida Saponin, Triterpenoid Dan


Steroid (Ekstrak Sapindus rarak DC)

Disusun Oleh
Nama : Bagus Hariyanto S.u
NIM : 201510410311175
Kelas : Farmasi B
Tanggal : 13 Maret 2019
Kelompok : 1 (Satu)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
I. TUJUAN
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan glikosida saponin,
triterpenoid dan steroid dalam tanaman.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Tanaman Buah lerak (Sapindus rarak DC)
Menurut taksonominya, Sapindus rarak dikalsifikasikan dalam :
 Divisi : Spermatophyta
 Subdivisi : Angiospermae
 Kelas : Dycotyledonae
 Bangsa : Sapindales
 Suku : Sapindaceae
 Marga : Sapindus
 Spesies : Sapindus rarak

Nama umumnya adalah lerak. Masyarakat Sunda menyebutnya dengan nama


Rerek, penduduk Jambi menyebutnya Kalikea, masyarakat Minang menyebutnya
Kanikia. Di Palembang tanaman ini dikenal dengan nama Lamuran, di Jawa tanaman
ini dikenal dengan nama Lerak atau Werak dan Tapanuli Selatan dikenal dengan nama
buah sabun. Sapindus rarak merupakan tanaman rimba yang tingginya mencapai 42
meter dan batangnya 1 meter. Tanaman ini tumbuh liar di Jawa pada ketinggian antara
450 dan 1500 meter diatas permukaan laut. Tanaman ini mempunyai batang berwarna
putih kotor. Daun tanaman ini majemuk menyirip ganjil dan anak daun berbentuk
lanset. Bunga tanaman ini melekat di pangkal, kuning, dan daun mahkotanya empat.
Tanaman ini mempunyai buah yang keras, bulat, diameter ± 1,5 cm dan berwarna
kuning kecoklatan. Biji tanaman ini tunggang dan kuning kecoklatan. Buah lerak terdiri
dari 73% daging buah dan 27% biji. Secara tradisional, lerak juga digunakan sebagai
sabun wajah untuk mengurangi jerawat, obat eksim dan kudis. Sementara khasiat
farmakologiknya antara lain adalah sebagai antijamur, bakterisid, anti radang, anti
spasmodinamik, peluruh dahak, dan diuretik. Pada penelitian Nunik SA disebutkan
bahwa senyawa saponin, alkaloid, steroid, dan triterpen yang dikandung oleh buah
lerak secara berurutan adalah 12%, 1%, 0,036%, dan 0,029%. Berbagai khasiat
farmakologik dari saponin adalah antiinflamasi, antimikroba, antijamur, antivirus,
ekspektoran, antiulser, perbaikan sintesa protein, stimulasi dan depresi susunan saraf
pusat dan molusida serta sebagai ekspektoran. Disamping itu, ekstrak lerak mempunyai
efek antibakteri dan dan antifungal yang telah dibuktikan dengan beberapa penelitian.
Penelitian Fadhilna I membuktikan bahwa ekstrak lerak komersil dan ekstrak lerak
0,01% mempunyai efek antibakteri terhadap Streptococcus mutans lebih baik dari
NaOCl 5%, Sementara pada penelitian Sanny dibuktikan bahwa 0,25% ekstrak buah
lerak dan 0,01% saponin buah lerak mempunyai efek antibakteri terhadap F.Nucleatum.
Selain itu pada penelitian Juni F dibuktikan ekstrak lerak 0,01% mempunyai efek
antifungal terhadap Candida albicans lebih baik dari NaOCl 5%.
2. Golongan Senyawa Glikosida Saponin, Triterpenoid dan Steroid
Saponin merupakan senyawa glikosida triterpenoida ataupun glikosida steroida
yang merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun serta dapat
dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisa sel darah
merah. Pola glikosida saponin kadang-kadang rumit, banyak saponin yang mempunyai
satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukuronat (Harborne,
1996).
Glikosida saponin adalah glikosida yang aglikonnya berupa sapogenin. Saponin
tersebar luas di antara tanaman tinggi, keberadan saponin sangat mudah ditandai
dengan pembentukan larutan koloidal dengan air yang apabila dikocok menimbulkan
buih yang stabil. Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan dapat
menyebabkan bersin dan bersifat racun bagi hewan berdarah dingin, banyak di
antaranya digunakan sebagai racun ikan (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Saponin memiliki berat molekul tinggi, dan berdasarkan struktur aglikonnya,
saponin dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tipe steroida dan tipe triterpenoida.
Kedua senyawa ini memiliki hubungan glikosidik pada atom C- 3 dan memiliki asal
usul biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid
(Gunawan dan Mulyani, 2004).
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu
skualena, senyawa ini tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi dan
bersifat optis aktif (Harborne,1987). Menurut Harborne (1987) senyawa triterpenoid
dapat dibagi menjadi empat golongan,yaitu: triterpen sebenarnya, saponin, steroid, dan
glikosida jantung.
Steroid adalah suatu golongan senyawa triterpenoid yang mengandung inti
siklopentana perhidrofenantren yaitu dari tiga cincin sikloheksana dan sebuah cincin
Universitas Sumatera Utara siklopentana. Dahulu sering digunakan sebagai hormon
kelamin, asam empedu, dll. Tetapi pada tahun-tahun terakhir ini makin banyak senyawa
steroid yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan .Tiga senyawa yang biasa disebut
fitosterol terdapat pada hampir setiap tumbuhan tinggi yaitu: sitosterol, stigmasterol,
dan kampesterol.(Harborne, 1987; Robinson, 1995).
Menurut asalnya senyawa steroid dibagi atas:
 Zoosterol, yaitu steroid yang berasal dari hewan misalnya kolesterol.
 Fitosterol, yaitu steroid yang berasal dari tumbuhan misalnya sitosterol dan
stigmasterol.
 Mycosterol, yaitu steroid yang berasal dari fungi misalnya ergosterol.
 Marinesterol, yaitu steroid yang berasal dari organisme laut misalnya spongesterol.
Berdasarkan jumlah atom karbonnya, steroid terbagi atas:
 Steroid dengan jumlah atom karbon 27, misalnya zimasterol.
 Steroid dengan jumlah atom karbon 28, misalnya ergosterol.
 Steroida dengan jumlah atom karbon 29, misalnya stigmasterol.
3. Cara Identifikasi Golongan Senyawa Glikosida Saponin, Triterpenoid, dan Steroid
Golongan kandungan kimia yang akan diperiksa adalah: glikosida saponin,
steroid dan triterpen Pada identifikasi terpenoid/saponin meliputi uji buih, Liebermann-
Burchard, Salkowski, dan KLT (Fong, 1973; Zaini et al., 1978).
Uji buih dilakukan untuk melihat ada tidaknya senyawa saponin pada sampel
yang akan diuji. Keberadan saponin sangat mudah ditandai dengan pembentukan
larutan koloidal dengan air yang apabila dikocok menimbulkan buih yang stabil
(Gunawan dan Mulyani, 2004).
Senyawa saponin dapat pula diidentifikasi dari warna yang dihasilkannya dengan
pereaksi Liebermann-Burchard. Warna biru-hijau menunjukkan saponin steroida, dan
warna merah, merah muda, atau ungu menunjukkan saponin triterpenoida (Farnsworth,
1966).
Pada uji salkoswki, apabila sterol dengan konfigurasi tidak jenuh di dalam
molekulnya direaksikan dengan asam kuat dalam kondisi bebas air, maka akan
memberikan reaksi warna.
Uji salkowski dilakukan dengan menggunakan ekstrak dari sampel yang akan
diuji lalu ditambahkan dengan H2SO4, terbentuknya warna merah mengindikasikan
adanya steroid. Penambahan H2SO4 bertujuan untuk memutuskan ikatan gula pada
senyawa. Sehingga akan terbentuk cincin yang berwarna merah, selain itu gugus sulfat
akan menggantikan gugus OH sehingga terbentuk kompleks warna merah.
Kromatografi lapis tipis adalah kromatografi serapan, dimana sebagai fasa tetap
(diam) berupa zat padat yang disebut adsorben (penyerap) dan fasa gerak adalah zat
cair yang disebut larutan pengembang (Gritter, 1991).
Penyerap untuk KLT ialah silika gel, alumina, kiselgur, dan selulosa. Penyerap
biasanya mengandung pengikat atau mengandung zat tambahan lain. Silika gel Silika
gel merupakan penyerap yang paling banyak dipakai dalam KLT. Senyawa netral yang
mempunyai gugusan sampai tiga pasti dapat dipisahkan pada lapisan yang diaktifkan
dengan memakai pelarut organik atau campuran pelarut yang normal. Karena sebagian
besar silika gel bersifar sedikit asam, maka asam sering agak mudah dipisahkan, jadi
meminimumkan reaksi asam-basa antara penyerap dengan senyawa yang dipisahkan.
Alumina berbeda dengan silika gel, alumina bersifat sedikit basa dan sering dipakai
untuk pemisahan basa. KLT pada alumina sering dipakai sebagai cara kualitatif cepat.
Kiselgur dan selulosa merupakan bahan penyangga lapisan zat cair yang dipakai dalam
sistem KCC, dan lapisan tipis selulosa berkaitan erat dengan kromatografi kertas klasik.
Kromatografi jenis ini selalu dipakai untuk pemisahan senyawa polar seperti asam
amino, karbohidrat, nukleotida, dan berbagai senyawa hidrofil alam lainnya.
4. Fase Gerak
Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat
bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya elusi
dan resolusi ini ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan
sifat komponen-komponen sampel (Johnson, 1991).
Dalam kromatografi cair komposisi pelarut atau fase gerak adalah satu
variabel yang mempengaruhi pemisahan. Terdapat keragaman yang luas dari fase gerak
yang digunakan dalam semua mode KLT, tetapi ada beberapa sifat-sifat yang
diinginkan yang mana umumnya harus dipenuhi oleh semua fase gerak.
Fase gerak harus:
• Murni; tidak ada pencemar/kontaminan
• Tidak bereaksi dengan pengemas
• Sesuai dengan detektor
• Melarutkan cuplikan
• Mempunyai viskositas rendah
• Mudah rekoveri cuplikan, bila diinginkan
• Tersedia diperdagangan dengan harga yang pantas
Umumnya, pelarut-pelarut dibuang setelah digunakan karena prosedur pemurnian
kembali membosankan dan mahal. Dari semua persyaratan di atas, 4 persyaratan
pertama adalah yang paling penting. Gelembung udara (degassing) yang ada harus
dihilangkan dari pelarut, karena udara yang terlarut keluar melewati detektor dapat
menghasilkan banyak noise sehingga data tidak dapat digunakan (Johnson, 1991).
Elusi Gradien dan Isokratik Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik
(komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase
gerak berubah – ubah selama elusi). Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan
resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas
yang luas (Rohman, 2007).
5. Polaritas
Polaritas sering diartikan sebagai adanya pemisahan kutub bermuatan positif dan
negatif dari suatu molekul sebagai akibat terbentuknya konfigurasi tertentu dari atom-
atom penyusunnya. Dengan demikian, molekul tersebut dapat tertarik oleh molekul
yang lain yang juga mempunyai polaritas yang kurang lebih sama. Besarnya polaritas
dari suatu pelarut proporsional dengan besarnya konstanta dielektriknya (Adnan 1997).
Menurut Stahl (1985), konstanta dielektrik (ε) merupakan salah satu ukuran
kepolaran pelarut yang mengukur kemampuan pelarut untuk menyaring daya tarik
elektrostatik antara isi yang berbeda.
Ekstraksi berkesinambungan dilakukan secara berturut-turut dimulai dengan
pelarut nonpolar (misalnya n-heksan atau kloroform) dilanjutkan dengan pelarut
semipolar (etil asetat atau dietil eter) kemudian dilanjutkan dengan pelarut polar
(metanol atau etanol). Pada proses ekstraksi akan diperoleh ekstrak awal (crude extract)
yang mengandung berturutturut senyawa nonpolar, semipolar, dan polar (Hostettmann
et al. 1997).

III. ALAT DAN BAHAN


a. Alat b. Bahan
 Pipet  Ekstrak Sapindus rarak DC
 Tisu dan kain lap  Etanol
 Sudip  Aquadest
 Label  Asam asetat anhidrat
 Penjepit kayu  H2SO4 pekat
 Aluminium foil  HCl 2N
 Pinset  Ammonia
 Vial 10ml  n-heksana
 KLT  Kiesel gel GF 254
 Plat Kaca
 Tabung reaksi
 Rak kayu
 Timbangan gram balance
 Corong
 Kapas

IV. PROSEDUR KERJA


a. Uji Buih
1. Ekstrak sebanyak 0.2 gram dimasukkan tabung reaksi, kemudian ditambah air
suling 10 ml, dikocok kuat-kuat selama kira-kira 30 detik.
2. Tes Buih positif mengandung saponin bila terjadi buih yang stabil Selama lebih
dari 30 menit dengan tinggi 3 cm diatas permukaan cairan.
b. Reaksi Warna
1. Preparasi sampel :
0.5 gram ekstrak di larutkan dalam 15 ml etanol, lalu dibagi menjadi tiga bagian
masing-masing 5 ml, disebut sebagai larutan IIA, IIB, dan IIC
2. Uji Liebermann-Burchard
1. Larutan IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIB sebanyak 5 ml ditambah 3
tetes asam asetat anhidrat dan 1 tetes H2SO4 pekat, amati perubahan warna
yang terjadi. Kemudian kocok perlahan dan diamati terjadinya perubahan
warna.
2. Terjadinya perubahan warna hijau biru menunjukkan adanya saponin steroid,
warna merah menunjukkan adanya saponin triterpenoid dan warna kuning
muda menunjukkan adanya saponin triterpenoid / steroid jenuh.
3. Uji Salkowski
1. larutan IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIC sebanyak 5 ml ditambah 1-2
ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi.
2. Adanya steroid tak jenuh ditandai dengan timbulnya cincin warna merah.
c. Kromatografi Lapis Tipis
a. Identifikasi Sapogenin steraoid / triterpenoid
1. Ekstrak sebanyak 0.5 gram ditambah 5 ml HCl 2N, dididihkan dan tutup
dengan corong berisi kapas basah selama 50 menit.untuk menghidrolisis
saponin.
2. Setelah dingin, tambahkan ammonia sampai basa, kemudian ekstraksi dengan
4-5 ml n-heksana sebanyak 2x, lalu uapkan sampai tinggal 0.5 ml, totolkan
pada plat KLT.
Fase diam : Kiesel Gel 254
Fase gerak : n-heksana-etil asetat (4:1)
Penampak noda : - Anisal dehida asam sulfat (dengan pemanasan)
3. Adanya sapogennin ditunjukkan dengan terjadinya warna merah ungu (ungu)
untuk anesaldehida asam sulfat.
b. Identifikasi terpenoid / steroid bebas KLT
1. Sedikit ekstrak ditambah beberapa tetes etano, diaduk sampai larut, totolkan
pada fase diam.
2. Uji kromatografi lapis tipis ini menggunakan :
Fase diam : Kiesel Gel 254
Fase gerak : n-heksana-etil asetat (4:1)
Penampak Noda : - Anisal dehida asam sulfat (dengan pemanasan)
3. Adanya tepenoid / steroid ditunjukkan dengan terjadinya warna merah ungu
atau ungu.
V. BAGAN ALIR
a. Uji Buih

Ekstrak sebanyak 0,2 gram dimasukkan tabung reaksi

Tambahkan air suling 10 ml

Kocok kuat-kuat selama ± 30 detik

Tes buih positif mengandung saponin bila buih stabil selama lebih dari 30
menit dengan tinggi 3 cm diatas permukaan cairan

b. Reaksi Warna
1. Preparasi Sampel:
Timbang 0,5 gram ekstrak

Larutkan dalam etanol 15 ml

Bagi menjadi 3 bagian masing-masing 5 ml

Larutan IIA, IIB, IIC

2. Uji Liebermann-Burchard
Larutan IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIB sebanyak 5 ml + 3 tetes
asam asetat anhidrat dan 5 tetes H2SO4 pekat, amati perubahan
warna yang terjadi

Kocok perlahan dan amati perubahan warna

Terjadi warna hijau biru menunjukkan adanya saponin steroid, warna


merah ungu menunjukkan adanya saponin triterpenoid dan warna kuning
muda menunjukkan adanya saponin triterpenoid/ steroid jenuh

3. Uji Salkowski
Larutan IIA digunakan sebagai blanko, larutan IIC sebanyak 5 ml +
1-2 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi
c. Kromatografi Lapis Tipis
1. Identifikasi sapogenin steroid/ triterpenoid
Timbang ekstrak 0,5 gram + 5 ml HCl 2N, didihkan dan tutup dengan
corong berisi kapas basah selama 50 menit untuk menghidrolisis saponin

Setelah dingin, tambahkan ammonia sampai basah, kemudian ekstraksi


dengan 4-5 ml n-heksana sebanyak 2x, lalu uapkan sampai tinggal 0,5 ml,
totolkan pada plat KLT

Fase diam: Kiesel Gel 254


Fase gerak: n-heksana-etil asetat (4:1)
Penampak noda: Anisaldehida asam sulfat (dengan pemanasan)

Adanya sapogenin ditunjukkan dengan terjadinya warna merah


ungu (ungu) untuk anisaldehida asam sulfat

2. Identifikasi terpenoid/ steroid bebas secara KLT


Sedikit ekstrak + beberapa tetes n-heksana 0,5-1 ml, aduk

Totolkan pada fase diam

Fase diam: Kiesel Gel 254


Fase gerak: n-heksana-etil asetat (4:1)
Penampak noda: Anisaldehida asam sulfat (dengan pemanasan)

Adanya terpenoid/ streroid ditunjukkan dengan terjadinya


warna merah ungu atau ungu
VI. SKEMA KERJA

Uji Buih

Dikocok kuat sampai


dengan 30 detik

Ekstrak sebanyak 0,2 g Dimasukkan


kedalam tabung
reaksi dan
ditambah air suling
10 ml

Nb : Tes buih positif mengandung saponin bila terjadi buih yang stabil selama lebih dari 30 menit dengan
tinggi 3 cm diatas permukaan cairan.

Reaksi Warna
1.) Preparasi Sampel
Dibagi menjadi tiga bagian
masing-masing 5ml

Ekstrak sebanyak 0,5 g


Dilarutkan dalam
15 ml etanol

II A II B II C
Blanko
2.) Uji Liebermann-Burchard

Diamati perubahan yang terjadi.


Kemudian dikocok perlahan dan
diamati perubahan warna yang
terjadi lagi
Larutan II B Ditambahkan 3 Ditambahkan
tetes as. Asetat 1 tetes
anhidrat H2SO4 pekat

3.) Uji Salkowski

Larutan II C Larutan II C sebanyak 5


ml ditambahkan 1-2 ml
H2SO4 pekat melalui
dinding tabung reaksi

Ekstrak
Ditambahkan 5 ml Dimasukkan
sebanyak 0,5 g
HCl 2 N kedalam tabung
reaksi

Didihkan diatas penangas air dan telah


ditutup dengan corong berisi kapas
basah selama 50 menit
Setelah dingin ditambahkan
ammonia sampai basa

Ekstraksi dengan 5 ml n-heksana sebanyak


2x (disertai pengocokan pelan-pelan)

Dipipet fase kloroform (cairan yang berada diatas) dan diuapkan di lemari
asam, lalu diuapkan sampai dengan tinggal 0,5 ml

Ditotolkan pada plat KLT


Dilakukan eluasi dan dilihat pada Sinar UV
254 nm dan 365 nm

4.) Identifikasi terpenoid/ steroid bebas secara KLT

Sedikit ekstrak ditambahkan dengan n-heksan ½ -


1 ml dilarutkan dalam vial. Apabila belum larut
harus di ultrasonik

Ditotolkan pada fase diam


(Plat KLT)
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III.
Jakarta : Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV.
Jakarta : Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan.
Sarker, S.D, Latif, Z. and Gray, A, I. 2006. Natural Products Isolation Second Edition.
Humana Press, New Jersey.
Suharto, Agung Pratama. 2012. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Saponin dari Ekstrak
Metanol Batang Pisang Ambon
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/pharmacon/article/view/914 (diakses pada
tanggal 4 Maret 2018)
Widyowati, Retno. 2010. Kandungan Kimia dan Aktivitas Antimikroba Ekstrak Garcinia Celebica l.
terhadap Staphylococcus Aureus, Shigella Dysenteriae dan Candida Albicans.
https://www.researchgate.net/profile/Retno_Widyowati/publication/277741546_Kandu
ngan_Kimia_dan_Aktivitas_Antimikroba_Ekstrak_Garcinia_Celebica_l_terhadap_Stap
hylococcus_Aureus_Shigella_Dysenteriae_dan_Candida_Albicans/links/55bc2ea308ae
9289a0957ba6.pdf (diakses pada tanggal 4 Maret 2018)