Anda di halaman 1dari 3

B.

PERMASALAHAN KLIEN DENGAN KUSTA

Kusta merupakn penyakit yang memiliki beban tinggi di masyarakat atau disebut dengan triple
burden disease. Hal ini dikarenakan penyakit kusta merupakan : penyakit lama yang agenda
programnya belum selesai sampai saat ini (unfinished agenda); penyakit menular di masyarakat
(emerging disease); penyakit menular yang timbul kembali (re-emerging disease) (Azwar, 2000).
Jumlah penderita kusta tiap tahunnya masih banyak ditemukan. WHO melaporkan pada awal tahun
2008, jumlah penderita kusta diunia sebanyak 212.802 orang dan jumlah kasus baru yang terdeteksi
pada tahun 2007 sebanyak 254.525 orang. Survey WHO tahun 2008 secara global tentang kasus baru
kusta jumlahnya menurun lebih dari 11.100kasus (4%) selama tahun 2007 dibandingkan dengan tahun
2006. Negara Asia Tenggara menempati urutan pertama dengan jumlah kasus 171.552 penderita pada
tahun 2007 (Weekly Epidemological Report WHO,2008). Penyakit kusta pada umumnya banyak
ditemukan dibeberapa Negara berkembang dan merupakan masalah kesehatan yang bisa menyebabkan
kecatatan yang berakibat terganggunya kualitas sumber daya manusia (Nurjanti,2002).
Permasalahan penyakit kusta yang sangat komplek terkait dengan kehidupan klien kusta yang
terjadi secara fisik, fisikologis dan sosial di komunitas membutuhkan penanganan yang menyeluruh.
Permasalahan fisik penyakit kusta terkait dengan lesi pada kulit dan kecatatan fisik. Permasalahan
fisikologis kusta akan mengakibatkan gangguan interaksi sosial pada penderitanya akibat pandangan
yang negatif dari masyarakat terkait penyakit kusta. Permasalahan sosial muncul akibat ketakutan pada
klien kusta dikomunitas (leprophobia), kurangnya pengetahuan, sosialisasi ke[pada masyarakat dan
adanya stikma sehuingga menyebabkan rendahnya serta masyarakat dalam pemberantasan kusta dan
setiap tahunnya masih terus ditemukan penderita baru (Suryanda, 2007). Penemuan penderita baru
terkait dengan deteksi penyakit kusta di komunitas masih sangat sulit. Penemuan penderita kusta
dikomunitas biasanya sudah terlambat dan tertunda. Penemuan klien kusta yang terlambat dan tertunda
berhubungan dengan anggapan masyarakat yang negatif terhadap klien kusta, rendahnya keseadaran
mengenai awal gajala kusta, dan kondisi cacat yang dialami oleh klien kusta. Kondisi kecacatan klien
kusta umunya juga diakibatkan oleh usaha pencarian pelayanan kesehatan oleh klien kusta dan
keluarga yang salah seperti penggunaan pengobatan tradisional dan interaksi dengan interfensi
pelayanan kesehatan khususnya puskesmas yang menjadi alternative terakhir dalam penanganan kusta
(Nicholls,2002).
Pengobatan tradisional yang salah pengurangi pentingnya pengenalan awal gejala kusta
sehingga akan berakibat kondisi cacat pada klien kusta. Kondisi cacat tersebut juga diakibatkan oleh
pengambilan keputusan untuk mencari bantuan yang terlambat dari intervensi pelayanan kesehatan .
pengobatan tradisional, misalnya pencarian dukun atau berbau mistis yang dijalani oleh klien kusta
umunnya kurang efektif dalam penyembuhan penyakit kusta dan bertentangan dengan intervensi
kesehatan sehingga menambah kondisi keparahan klien kusta(Nichills,2002). Pengobatan tradisional
dan pencarian dukun yang dilakukan oleh klien tersebut menggambarkan pola kehidupan spiritual
klien kusta di masyarakat.
Pengobatan tradisional yang dilakukan klien kusta kurang mengacu pada intervensi pelayanan
kessehatan sehingga akan berdampak negatif pada klien kusta. Pengenalan klien kusta kepada
intervensi pelayanan kesehatan yang terlambat akan berakibat pada keterlambatan penetapan diagnosis
dan pemulaan perawatan (Nicholls,2002). Permasalahan penanganan perawatan klien kusta
dikomunitas diantanyan terikat dengan presepsi masyarakat yang masih salah tentang penyakit kusta.
Masyakat umunya beranggapan bahwa penyakit kusta merupakan penyakit kutukan yang diakibatakan
oleh perbuatan dosa oleh klien kusta dan tidak dapat disembuhkan (Suryanda,2007). Permasalahan-
permasalahan tersebut membutuhkan penanganan khusus dari petugas kesehatan.
Perawatan komunitas sebagai salah satu petugas kesehatan di masyarakat sebaiknya mampu
memahami penanganan klien kusta di masyarakat melalui pendekatan asuhan keperawatan komunitas
population at risk (Swanson,1997). Asuhan keperawatan komunitas tersebut dapat diaplikasikan dalam
suatu program khusus untuk menangani permasalahan kusta. Salah satu cara yang dapat perawat
komunitas lakukan untuk menjamin keberlanjutan suatu program atau pelayanan kesehatan dalam
menerapkan program promosi, proteksi, prevensi adalaha dengan membentuk kemitraan untuk
menangani population at riks di komunitas (helvie, 1997).
Penganan kusta di komunitas sebagai population at risk sesuai dengan tida dari delapan tujuan
dari Millennium Deveploment Goals (MDG’s) atau tujuan pembangunan millennium, yaitu : (1)
Sebagai upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia menanggulangi kemiskinan dan
kelaparan (2) memrangi penyebara HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya, dan (3)
membangun kemitraan global dalam pembangunan (United Nations,2003).
Population at risk merupakan kumpulan oran yang memiliki kemungkinan dan telah
teridentifikasi atau ditentukan meskipun sedikit atau kecil terhadap munculnya suatu peristiwa
(Stanhope & Lancer,1996; dalam Hitchock, Schuber & Thomas,1999). Berdasarkan pendekatan
epidemologi , penyaki kusta merupakan masalah yang cukup serius karena jumlah populasi beresiko
(population at risk) dan terpapar oleh penyakit kusta sangat besar (Nurjanti,2002). Perawat komunitas
dapat berperan menangani population at risk melalui pencegahan terhadap penyakit menular.
Pencegahan tersebut dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang mengutamakan pencegahan
primer,sekunder, dan tersier (Swanson,1997).
Pelayanan kesehatan yang mengutamakan pencegahan primer antara lain peningkatan perilaku
hidup bersih dan sehat klien kusta, pengontrolan lingkungan yang sehat, dan penyebarluasan informasi
tentang penyakit kusta dimasyarakat. Pencegahan sekunder dapat dilakukan malalui perawatan secara
fisik dan psikologio dan sosial klien kusta. Pekayanan dapat diberikan melalui perawatan langsung
pada lesi kuli klien, peningkatan harga diri klien kusta, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang
keaadan penytakit kusta sehingga tidak menimbulkan stigma, labeling dan diskriminasi sosial pada
klien kusta di masyarakat. Tindakan utama perawat komunitas lebih banyak berperan pada pencegahan
tersier. Tindakan pencegahan tersebut dilakukan untuk mengurangi kondisi lesi dan derajat gangguan
fungsi atau kecatatan khususnya pada tangan, kaki, dan mata yang umumnya merupakan suatu masalah
utama pada klien kusta.
Penyakit kusta masih menjadi masalah utama di Indonesia. Data WHO tahun 2005, indonseia
menempati urutan ketiga di dunia. Pada tahun 2005, imdonesia menempati urutan ketiga di dunia. Pada
tahun 2005 penderita kusta tercatat 21.537, dan jumlah penderita baru 19.695. dengan proporsi cacat
dua sebesar 8,7%, serta proporsi penderita anak sebesar 9,1%. Penderita cacat dua merupakan klien
kusta yang telah mengalami gangguan fungsi pada tangan, kaki, dan mata serta umumnya diakibatkan
oleh penemuan penderita yang sangat terlambat sehingga berpengaruh terhadap angka kejadian
(prevalence rate) kusta.
Prevalesi kusta di Indonesia sebesar 0,98 per 10.000 penduduk berdasarkan laporan dari WHO
tahun2005 (WHO,2006). Prevalensi tersebut menunjjukan Indonesia telah berhasil melakukan program
eliminasi kusta yang ditetapkan oleh WHO yaitu 1 per 10.000 penduduk. Tetapi di beberapa provinsi
di Indonesia masih belum mencapai angka program emilinasi tersebut dan sangat berisiko terhadap
penyaki kusta. Indonesia memiliki 14 provinsi yang menjadi daerah risiko penyakit kusta dengan kasus
lebih dari 10.000 kasus yaitu, jawa timur, Iriyan Jaya bagian barat, Papua, Jawa Tengah, Jawa Barat,
Sulawasi Tenggara, Sulawasi Barat, Sulawesi Utara, Maluku Utara, NTT,NTB, Aceh, dan DKI Jakarta
(Surya Online, Januari 2007).
Penemuan penderita baru di Jawa Timur masih sangat tinggi, Provinsi Jawa Timur menempati
urutan ketujuh di Indnoseia dengan 35% jumlah penderita kusta nasional berada di Jawa Timur
(Dinkes Sumenep,2006). Pada tahun 2006 ditemukan penderita baru sebanyak 5.360 orang, drngsn
rincian jumlah, Pausi Basiler (PB) sebanyak 732 orang dan Mausi Basiler (MB) sebanyak 4.628 orang,
dan yang selesai menjalani pengobatan (RFT/ Release FromTreatment) Tahunan sebanyak 5.236
orang , dengan Case Detection Rate (CDR) per 100.000 sebesar 1,45%, sedangkan prevelensi rate
sebesar 1,7% (Dinkes Provinsi Jatim, 2006). Penemuan penderita baru rata-rata pertahun mencapai
6000-7000 penderita. Jumlah penderita usia anak sebanyak 13% yang berate masih bisa terjadi
penularan serta jumlah penderita cacat permanen 11%. Penderita terbanyak berasal dari 16
kabupaten/kota yang berada di pulau Madura dan daerah pesisir pantai seperti Kabupaten Sampang,
Sumenep, Probolinggo, Lamongan, Tuban, Lumajang, Bangkalan, Situbondo, Pamekasan, Jamber dan
Pasuruan.