Anda di halaman 1dari 8

 Jual beli

 Disyariatkannya jual beli dan keutamaannya


 Perintah mencari nafkah: 2:282, 17:12
 Perdagangan di darat: 106:2
 Perdagangan di laut: 2:164, 16:14, 17:66, 30:46, 35:12
 Etika jual beli
 Menjauhkan yang haram dalam jual beli: 6:152, 26:181, 26:182, 26:183, 55:8, 55:9
 Syarat-syarat jual beli
 Ridha: 4:29
 Riba
 Hukum riba: 2:275, 2:276, 2:278, 3:130, 30:39
 Sanksi riba: 2:276, 2:279
 Sewa-menyewa
 Barang sewaan
 Menyewa buruh untuk suatu pekerjaan yang akan datang: 28:27
 Masa sewa
 Pembatasan masa sewa: 28:27
 Dibolehkannya sewa menyewa: 18:94, 28:27
 Hutang-pinjaman
 Memberi tempo untuk orang yang susah: 2:280
 Penghapusan hutang: 2:280
 Hilangnya orang yang belum mebayar hutang: 42:41
 Hutang si mayit: 4:11, 4:12
 Berhutang untuk jangka waktu terbatas: 2:282
 Pencatatan hutang: 2:282, 2:283
 Akuntansi: 24:33
* Sumbangan
 Wasiat
 Disyariatkannya wasiat: 2:180, 4:11, 4:12, 5:106
 Menarik kembali wasiatnya: 2:182, 5:107
 Kesaksian terhadaap wasiat: 2:181, 5:106
 Sedekah
 Perintah bersedekah: 2:195, 2:254, 2:261, 2:267, 4:39, 8:3, 9:104, 12:88, 13:22, 16:75, 16:90,
35:29, 57:7, 57:10, 63:10, 93:10
 Keutamaan sedekah
 Pahala sedekah: 2:245, 2:261, 2:262, 2:268, 2:274, 13:22
 Menyuburkan harta dengan sedekah: 2:268, 2:276, 9:103, 34:39
 Sedekah untuk berjuang di jalan Allah: 2:195, 2:261, 2:262, 8:60, 9:20, 61:11
 Minta sedekah
 Memaksa dalam minta sedekah: 2:273
 Menahan diri dari minta sedekah: 2:273
 Memberi kepada peminta
 Ramah terhadap yang minta: 2:263, 17:28
 Bersedekah dengan cara jahat dan kasar: 2:263, 2:264
 Syarat-syarat sedekah
 Niat dalam sedekah: 2:261, 2:262, 2:264, 2:265, 2:272, 4:114, 9:98, 9:99, 76:9, 92:20
 Harta yang baik dalam sedekah: 2:267
 Orang yang lebih baik untuk diberi sedekah
 Sedekah kepada kerabat: 2:215, 4:8, 16:90, 17:26
 Sedekah kepada orang susah: 2:280
 Menyembunyikan sedekah: 2:271, 2:274, 14:31, 35:29
* Pembebasan
 Mewasiatkan-wasiat
 Wasiat untuk memelihara anak yatim: 2:220, 4:3, 4:6, 4:127
 Yang diberi wasiat makan harta anak yatim: 4:6, 4:10, 4:127, 6:152, 17:34
* Pembatasan
 Hajru (mengawasi dan mengatur urusan jual beli)
 Hukum menyia-nyiakan harta: 4:5
 Orang yang diawasi
 Mengawasi anak kecil
 Melepas pengawasan terhadap anak kecil: 4:6, 17:34
 Mengawasi orang bodoh/boros: 2:282, 4:5
* Pengukuhan
 Gadai-boreh
 Disyariatkannya boreh: 2:283
 Kafalah (menanggung)
 Disyariatkannya kafalah: 12:72
* Ganti-rugi
 Ghashab (mengambil tanpa izin)
 Sanksi ghashab: 4:30
PRINSIP DAN PRAKTIK EKONOMI ISLAM
Allah Swt. menjadikan kita sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya tidak bisa dilakukan tanpa bantuan orang lain. Ini artinya kita harus melakukan
interaksi atau hubungan dengan sesama. Oleh karena itu, agama memberi peraturan yang sebaik-
baiknya tentang bagaimana kita melakukan interaksi dengan manusia yang lainnya. Tujuannya
adalah agar tatanan kehidupan masyarakat berjalan dengan baik dan saling menguntungkan

A. Pengertian Mu’āmalah

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya hal-hal yang termasuk urusan
kemasyarakatan (pergaulan, perdata, dsb).
 Menurut fiqh Islam berarti tukar-menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat
dengan cara yang ditempuhnya, seperti jual-beli, sewa-menyewa, upah-mengupah, pinjam-
meminjam, urusan bercocok tanam, berserikat, dan usaha lainnya.

 Dalam melakukan transaksi ekonomi, Islam melarang umatnya melakukan :

1. Cara-cara yang batil.


2. Cara-cara ẓālim (aniaya).
3. Permainan takaran, timbangan, kualitas, dan kehalalan.
4. Kegiatan riba.
5. Cara-cara spekulasi/berjudi.
6. Transaksi jual-beli barang haram.

B. Macam-Macam Mu’āmalah
1) Jual-Beli → kesepakatan tukar-menukar benda untuk memiliki benda tersebut selamanya.

a. Syarat-Syarat Jual-Beli
1. Penjual dan pembelinya haruslah:
a) Ballig,
b) Berakal sehat,
c) Atas kehendak sendiri.

2. Uang dan barangnya haruslah:


a) Halal dan suci.
b) Bermanfaat.
c) Keadaan barang dapat diserahterimakan.
d) Keadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli.
e) Milik sendiri.

3. Ijab Qobul → pernyataan jual-beli agar jual-beli berlangsung dengan dasar suka sama suka.

b. Khiyār
1. Pengertian Khiyār → bebas memutuskan antara meneruskan jual-beli atau membatalkannya.
Penjual berhak mempertahankan harga barang dagangannya, sebaliknya pembeli berhak menawar
atas dasar kualitas barang yang diyakininya.

2. Macam-macam Khiyar
a) Khiyār Majelis → selama penjual dan pembeli masih berada di tempat berlangsungnya
transaksi/tawar-menawar, keduanya berhak memutuskan meneruskan atau membatalkan jual-beli.

b) Khiyār Syarat → dijadikan syarat dalam jual-beli. Penjual boleh memberi batas waktu kepada
pembeli untuk memutuskan jadi tidaknya pembelian. Jika pembeli mengiyakan, status barang
tersebut sementara waktu tidak ada pemiliknya dan penjual tidak berhak menawarkan kepada orang
lain lagi. Namun, jika akhirnya pembeli memutuskan tidak jadi, barang tersebut menjadi hak penjual
kembali.

c) Khiyār Aibi (cacat) → pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya jika terdapat cacat yang
dapat mengurangi kualitas atau nilai barang tersebut, namun hendaknya dilakukan sesegera
mungkin.

c. Ribā
1. Pengertian Ribā → bunga uang atau nilai lebih atas penukaran barang. Ribā apa pun bentuknya,
dalam syariat Islam hukumnya haram. Sanksi hukumnya juga sangat berat. Semua orang yang
terlibat dalam riba sekalipun hanya sebagai saksi, terkena dosanya juga.

 Guna menghindari riba, jika mengadakan jual-beli barang sejenis harus ditetapkan
syarat, yakni sama timbangan ukurannya, dilakukan serah terima saat itu juga dan
secara tunai.
 Jika tidak sama jenisnya, harus tetap secara tunai dan diserahterimakan saat itu juga.
Kecuali barang yang berlainan jenis, dapat berlaku ketentuan jual-beli sebagaimana
barang-barang yang lain.

2. Macam-Macam Ribā
a) Ribā Faḍli → pertukaran barang sejenis yang tidak sama timbangannya. Kelebihannya itulah yang
termasuk riba.
b) Ribā Qorḍi → pinjam-meminjam dengan syarat harus memberi kelebihan saat mengembalikan.
Bunga pinjaman itulah yang disebut riba.
c) Ribā Yādi → akad jual-beli barang sejenis dan sama timbangannya, namun penjual dan pembeli
berpisah sebelum melakukan serah terima.
d) Ribā Nasi’ah → akad jual-beli dengan penyerahan barang beberapa waktu kemudian.

2) Utang-piutang → menyerahkan harta atau benda kepada seseorang dengan catatan akan
dikembalikan pada waktu nanti dan tidak mengubah keadaannya. Memberi utang berarti
menolongnya dan sangat dianjurkan oleh agama.

a. Rukun Utang-piutang
1. Ada yang berpiutang dan yang berutang
2. Ada harta atau barang
3. Ada lafadz kesepakatan.
 Untuk menghindari keributan di belakang hari, Allah Swt. menyarankan agar mencatat
dengan baik utang-piutang yang kita lakukan. Jika orang yang berutang tidak dapat
melunasi tepat pada waktunya karena kesulitan, Allah Swt. menganjurkan memberinya
kelonggaran.
 Jika orang membayar utangnya dengan memberikan kelebihan atas kemauannya sendiri
tanpa perjanjian sebelumnya, kelebihan tersebut halal bagi yang berpiutang, dan
merupakan suatu kebaikan bagi yang berutang.
 Jika orang yang berpiutang meminta tambahan pengembalian dari orang yang melunasi
utang dan telah disepakati bersama sebelumnya, hukumnya tidak boleh. Tambahan
pelunasan tersebut tidak halal sebab termasuk riba.

3) Sewa-menyewa → dalam fiqh Islam disebut ijārah, artinya imbalan yang harus diterima oleh
seseorang atas jasa yang diberikannya, berupa penyediaan tenaga dan pikiran, tempat tinggal, atau
hewan.

a. Syarat dan Rukun Sewa-menyewa


1. Yang menyewakan dan menyewa harus sudah ballig dan berakal sehat.
2. Dilangsungkan atas kemauan masing-masing, bukan karena dipaksa
3. Barang menjadi hak sepenuhnya orang yang menyewakan, atau walinya.
4. Ditentukan barangnya serta keadaan dan sifat-sifatnya.
5. Manfaat harus diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak
6. Berapa lama memanfaatkan barang tersebut harus disebutkan dengan jelas.
7. Harga sewa dan cara pembayarannya harus ditentukan dengan jelas serta disepakati bersama.

 Dalam hal sewa-menyewa atau kontrak tenaga kerja, haruslah diketahui secara jelas dan
disepakati bersama sebelumnya hal-hal berikut.

1) Jenis pekerjaan dan jam kerjanya.


2) Berapa lama masa kerja.
3) Berapa gaji dan bagaimana sistem pembayarannya
4) Tunjangan-tunjangan seperti transpor, kesehatan, dan lain-lain, kalau ada.

C. Syirkah

 Secara bahasa, berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sehingga tidak dapat lagi
dibedakan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.
 Menurut istilah, artinya suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang
bersepakat untuk melakukan usaha untuk memperoleh keuntungan.

a. Rukun dan Syarat Syirkah


1. Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani) harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan taṡarruf
(pengelolaan harta).
2. Objek akad yang disebut juga ma’qud ‘alaihi mencakup pekerjaan atau modal yang harus halal dan
diperbolehkan dalam agama dan pengelolaannya dapat diwakilkan.
3. Akad atau yang disebut juga dengan istilah ṡigat dan harus berupa taṡarruf, yaitu adanya aktivitas
pengelolaan.
b. Macam-Macam Syirkah
1) Syirkah ‘inān → antara dua pihak atau lebih yang masing-masing memberi kontribusi kerja (amal) dan
modal (mal). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil sunah dan ijma’ sahabat.

2) Syirkah ‘abdān → antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan kontribusi
kerja (amal), tanpa kontribusi modal (amal). Dapat berupa kerja pikiran maupun fisik. Syirkah ini juga
disebut syirkah ‘amal.

3) Syirkah wujūh → kerja sama berdasarkan kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di
tengah masyarakat, yakni antara dua pihak yang sama-sama memberikan kontribusi kerja (amal)
dengan pihak ketiga yang memberikan konstribusi modal (mal).

4) Syirkah mufāwaḍah → antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas
dan boleh dipraktikkan. Keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian
ditanggung sesuai dengan jenis syirkahnya.

5) Muḍārabah → akad kerja sama usaha antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan semua
modal (ṡāhibul māl), pihak lainnya menjadi pengelola atau pengusaha (muḍarrib). Keuntungan
dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, jika mengalami kerugian, ditanggung
oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian si pengelola karena pengelola
harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut jika itu disebabkan olehnya.

6) Musāqah, Muzāra’ah, dan Mukhābarah


a) Musāqah → kerja sama antara pemilik kebun dan petani. Pemilik kebun menyerahkan lahannya
kepada petani agar dipelihara dan hasil panennya akan dibagi dua menurut persentase yang
ditentukan pada waktu akad.
b) Muzāra’ah dan Mukhābarah
Muzāra’ah → kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani di mana benih
tanamannya berasal dari petani.
Mukhābarah → kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani di mana benih
tanamannya berasal dari pemilik lahan.

 Muzāra’ah dan mukhābarah merupakan bentuk kerja sama pengolahan pertanian antara
pemilik lahan dan penggarap yang sudah dikenal sejak masa Rasulullah saw. Dalam
hal ini, pemilik lahan memberikan lahan pertanian kepada penggarap untuk ditanami
dan dipelihara dengan pembagian persentase tertentu dari hasil panen.

D. Perbankan
1. Pengertian → sebuah lembaga keuangan yang bergerak dalam menghimpun dana masyarakat
dan disalurkan kembali dengan menggunakan sistem bunga.

2. Hakikat dan tujuan → membantu masyarakat yang memerlukan, baik dalam menyimpan maupun
meminjamkan, baik berupa uang atau barang berharga dengan imbalan bunga yang harus dibayar
oleh pengguna jasa bank.

3. Macam-macam → dilihat dari segi penerapan bunganya


a. Bank Konvensional → fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada yang
memerlukan, baik perorangan maupun badan usaha, guna mengembangkan usahanya dengan
menggunakan sistem bunga.

b. Bank Islam atau Bank Syari’ ah → menjalankan operasinya menurut syariat Islam. Istilah bunga
tidak ada dalam bank Islam. Bank syariah menggunakan beberapa cara yang bersih dari riba,
misalnya :

1) Muḍārabah → kerja sama antara pemilik modal dan pelaku usaha dengan perjanjian bagi hasil dan
sama-sama menanggung kerugian dengan persentase sesuai perjanjian. Pihak bank sama sekali
tidak mengintervensi manajemen perusahaan.

2) Musyārakah → kerja sama antara pihak bank dan pengusaha di mana masing-masing memiliki
saham. Kedua belah pihak mengelola usahanya secara bersama dan menanggung untung ruginya
secara bersama juga.

3) Wadi’ah → jasa penitipan uang, barang, deposito, maupun surat berharga. Amanah dari pihak
nasabah berupa uang atau barang titipan dipelihara dengan baik oleh pihak bank. Pihak bank juga
memiliki hak untuk menggunakan dana yang dititipkan dan menjamin bisa mengembalikan dana
tersebut sewaktu-waktu pemiliknya memerlukan.

4) Qarḍul hasān → pembiayaan lunak yang diberikan kepada nasabah yang baik dalam keadaan
darurat. Nasabah hanya diwajibkan mengembalikan simpanan pokok pada saat jatuh tempo.
Biasanya layanan ini hanya diberikan untuk nasabah yang memiliki deposito di bank tersebut
sehingga menjadi wujud penghargaan bank kepada nasabahnya.

5) Murābahah → istilah dalam fiqh Islam yang menggambarkan suatu jenis penjualan di mana penjual
sepakat dengan pembeli untuk menyediakan suatu produk dengan ditambah jumlah keuntungan
tertentu di atas biaya produksi. Penjual mengungkapkan biaya sesungguhnya yang dikeluarkan dan
berapa keuntungan yang hendak diambilnya. Pembayaran dapat dilakukan saat penyerahan barang
atau ditetapkan pada tanggal tertentu yang disepakati. Bank membelikan atau menyediakan barang
yang diperlukan pengusaha untuk dijual lagi dan bank meminta tambahan harga atas harga
pembeliannya. Namun pihak bank harus secara jujur menginformasikan harga pembelian yang
sebenarnya.

E. Asuransi Syari’ah
1. Prinsip-Prinsip Asuransi Syari’ ah
Asuransi berasal dari bahasa Belanda, assurantie yang artinya pertanggungan. Dalam
bahasa Arab dikenal dengan at-Ta’min yang berarti pertanggungan, perlindungan, keamanan,
ketenangan atau bebas dari perasaan takut. Si penanggung (assuradeur) disebut mu’ammin dan
tertanggung (geasrurrerde) disebut musta’min.

Dalam Islam, asuransi merupakan bagian dari muāmalah. Kaitan dengan dasar hukum
asuransi menurut fiqh Islam adalah boleh (jaiz) dengan suatu ketentuan produk asuransi tersebut
harus sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Pada umumnya, para ulama berpendapat asuransi
yang berdasarkan syari’ah dibolehkan dan asuransi konvensional haram hukumnya.

Asuransi dalam ajaran Islam merupakan salah satu upaya seorang muslim yang
didasarkan nilai tauhid. Setiap manusia menyadari bahwa sesungguhnya setiap jiwa tidak memiliki
daya apa pun ketika menerima musibah dari Allah Swt., baik berupa kematian, kecelakaan, bencana
alam maupun takdir buruk yang lain. Untuk menghadapi berbagai musibah tersebut, ada beberapa
cara untuk menghadapinya. Pertama, menanggungnya sendiri. Kedua, mengalihkan risiko ke pihak
lain. Ketiga, mengelolanya bersama-sama.

Berdasarkan ayat al-Qur’ān dan riwayat hadis, dapat dipahami bahwa musibah ataupun
risiko kerugian akibat musibah wajib ditanggung bersama. Bukan setiap individu menanggungnya
sendiri-sendiri dan tidak pula dialihkan ke pihak lain. Prinsip menanggung musibah secara bersama-
sama inilah yang sesungguhnya esensi dari asuransi syari’ah.

2. Perbedaan Asuransi Syari’ ah dan Asuransi Konvensional


Tentu saja prinsip tersebut berbeda dengan yang berlaku di sistem asuransi konvensional,
yang menggunakan prinsip transfer risiko. Seseorang membayar sejumlah premi untuk mengalihkan
risiko yang tidak mampu dia pikul kepada perusahaan asuransi. Dengan kata lain, telah terjadi ‘jual-
beli’ atas risiko kerugian yang belum pasti terjadi. Di sinilah cacat perjanjian asuransi konvensional.
Sebab akad dalam Islam mensyaratkan adanya sesuatu yang bersifat pasti, apakah itu berbentuk
barang ataupun jasa.

Perbedaan yang lain, pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, di mana peserta tidak dapat
melanjutkan pembayaran premi ketika ingin mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Dalam
konsep asuransi syari’ah, mekanismenya tidak mengenal dana hangus. Peserta yang baru masuk
sekalipun, lantas karena satu dan lain hal ingin mengundurkan diri, dana atau premi yang
sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali, kecuali sebagian kecil saja yang sudah
diniatkan untuk dana tabarru’ (sumbangan) yang tidak dapat diambil.

Manfaat yang bisa diambil kaum muslimin dengan terlibat dalam asuransi syari’ah adalah
bisa menjadi alternatif perlindungan yang sesuai dengan hukum Islam. Produk ini juga bisa menjadi
pilihan bagi pemeluk agama lain yang memandang konsep syariah lebih adil bagi mereka karena
syariah merupakan sebuah prinsip yang bersifat universal. Untuk pengaturan asuransi di Indonesia
dapat dipedomani Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman
Umum Asuransi Syari’ah.