Anda di halaman 1dari 14

PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG

LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG


JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada dasarnya maksud dan tujuan dari industri pertambangan yaitu untuk
mengambil dan memanfaatkan sumber daya energi dan mineral yang terdapat di
dalam kulit bumi demi kesejahteraan manusia dan di alam, material yang ditemukan
pada umumnya tidak homogen tetapi merupakan material campuran. Material yang
terdapat di tempat asalnya di sebut material asli atau bank material. Bila sebagian
material dipindahkan tersebut akan menjadi lebih besar daripada volume material
tempat asalnya. Material yang dipindahkan tersebut dikenal sebagai material lepas
atau loose material dan jika material lepas tersebut dipadatkan maka volume material
akan menyusut, material ini di sebut sebagai material padat atau compacted material,
dan persentase yang terpadatkan lebih besar daripada persentase material asalnya hal
ini disebabkan karena pemadatan dapat menghilangkan atau memperkecil ruang auat
pori di antara butiran material, dan karna hal tersebut maka alat yang dipergunakan
juga beraneka ragam dan yang di maksud dengan material dalam bidang pemindahan
tanah atau earth moving meliputi tanah, batuan, vegetasi ( pohon, semak belukar, dan
alang-alang ) yang harus dipindahkan terlebih dahulu untuk melakukan pengambilan
bahan galian yang memiliki nilai ekonomis.
Sistem penambangan yang digunakan pada dunia pertambangan tentu tidak
lepas dari yang namanya alat-alat berat dan besar yang di pakai pada saat melakukan
produktifitas baik itu tambang terbuka yaitu sistem penambangan yang kegiatan
kerjanya berhubungan langsung dengan atmosfir atau udara luar yang berada pada
dekat permukaan bumi dan maupun tambang bawah tanah yaitu sistem penambangan
yang kegiatan kerjanya tidak berhubungan langsung dengan atmosfir atau udara luar
yang berada di bawah permukaan tanah. Secara umum, tambang terbuka dinilai lebih
menguntungkan dibanding metode tambang bawah tanah dalam hal recovery, proses
penambanganya dilakukan dengan cara yang bertahap sesuai dengan kondisi batuan
pada lokasi penambangan yaitu loosening atau pemberaian, loading atau pemuatan
dan hauling atau pengangkutan yang dalam tahap pertambangan proses tersebut

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
termasuk ke dalam tahap eksploitasi atau proses penambangan yang merupakan
puncak pekerjaan dalam suatu pertambangan.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
a. Mampu menentukan produktifitas pada alat muat.
b. Mampu menentukan produktifitas pada alat angkut.
c. Menjelaskan Faktor Pemilihan Alat.
1.2.2 Tujuan
a. Memahami parameter-parameter yang digunakan pada persamaan
produktifitas alat muat.
b. Memahami parameter-parameter yang digunakan pada persamaan
produktifitas alat angkut.
c. Memahami salah satu faktor yang mempengaruhi faktor pemilihan alat.
1.3 Alat dan Bahan
1.3.1 Alat
a. Kalkulator.
b. Alat tulis menulis.
1.3.2 Bahan
a. Kertas HVS.

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Fisik Material


Setiap macam material pada dasarnya memiliki sifat fisik yang berbeda-beda.
Oleh karena itu jenis material yang terdapat di suatu daerah tertentu dengan sifat
fisik tertentu harus diperhatikan agar tidak terjadi ketidak sesuaian dalam
penggunaan alat mekanis (Prodjosumanto, 1993).
2.1.1 Pengembangan dan Penyusutan Material
Pengembangan dan penyusutan material adalah perubahan berupa
penambahan dan pengurangan volume material yang diganggu dari bentuk aslinya,
sedangkan berat material tetap. Berdasarkan perubahan tersebut, pengukuran
volume atau bobot isi material dibedakan atas (Prodjosumanto, 1993).
a. Keadaan Asli ( Bank condition )
Keadaan material yang masih alami dan belum mengalami ganguan teknologi,
butiran-butiran material yang dikandungnya masih terkonsolidasi dengan baik.
Satuan volume material dalam keadaan asli disebut meter kubik dalam keadaan asli
(Bank Cubic Meter / BCM).
b. Keadaan terberai ( Loose condition )
Material yang telah tergali dari tempat aslinya akan mengalami perubahan
volume yaitu mengembang. Hal ini disebabkan adanya penambahan rongga udara
diantara butiran-butiran material,dengan demikian volumenya menjadi lebih besar.
Satuan volume material dalam keadaan terberai disebut meter kubik dalam keadaan
terberai (Loose Cubic Meter / LCM).
c. Keadaan Padat ( Compacted condition )
Keadaan padat akan dialami oleh material yang mengalami proses pemadatan.
Perubahan volume terjadi karena adanya penyusutan rongga udara diantara butiran-
butiran material tersebut, dengan demikian volumenya akan berkurang tetapi
beratnya akan tetap sama. Satuan volume material dalam keadaan padat disebut
meter kubik dalam keadaan padat (Compact Cubic Meter / CCM).

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

Gambar 2.1 Ilustrasi Perubahan kondisi material.

2.1.2 Massa Jenis material


Massa jenis (density) material adalah suatu sifat yang dimiliki oleh setiap
material. Dimana kemampuan suatu alat untuk mendorong, mengangkat, dan
melakukan pekerjaan lainnya, akan sangat dipengaruhi oleh berat jenis material
tersebut (Prodjosumanto, 1993).

2.1.3 Kohesi Material


Merupakan daya lekat atau kemampuan saling mengikat diantara butir-butir
material itu sendiri. Material dengan nilai kohesivitas tinggi akan mudah
menggunung atau munjung (heaped). Contoh material dengan nilai kohesivitas tinggi
adalah tanah liat. Sedangkan material dengan nilai kohesivitas rendah apabila
menempati suatu ruangan akan sukar untuk munjung, melainkan akan cenderung rata
(struck). Contoh material dengan nilai kohesivitas rendah adalah pasir
(Prodjosumanto, 1993).

2.1.4 Bentuk Material

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
Bentuk material akan mempengaruhi produksi alat mekanis. Bentuk
material yang cenderung bulat akan memiliki gaya gesek lebih kecil dibandingkan
material dengan bentuk segi banyak (poligon). Hal ini akan berpengaruh pada

kecepatan material dalam menempati ruangan pada alat muat maupun alat angkut
(Prodjosumanto, 1993).

2.1.5 Kekerasan Material


Merupakan suatu sifat material yang menentukan sukar atau mudahnya
material tersebut untuk dikoyak (ripped), digali (dig) atau dikupas (stripped). Nilai
kekerasan material biasanya diukur dengan mempergunakan rippermeter atau
seismic testmeter dengan satuan m/detik, yaitu sesuai dengan satuan untuk kecepatan
gelombang seismik pada batuan (Prodjosumanto, 1993).

2.1.6 Daya dukung Material


Daya dukung material (bearing capacity) merupakan kemampuan material
untuk mendukung alat yang terletak diatasnya. Apabila suatu alat berada diatas tanah
atau batuan, maka alat tersebut akan menyebabkan terjadinya daya tekan (ground
pressure), sedangkan tanah atau batuan itu akan memberikan reaksi atau perlawanan
yang disebut daya dukung (load capacity). Bila daya tekan lebih besar dari daya
dukung materialnya, maka alat tersebut akan terbenam. Nilai daya dukung material
dapat diketahui dengan cara pengukuran langsung dilapangan. Alat yang biasa
digunakan untuk menentukan dan mengukur daya dukung material disebut
conepenetrometer ( Prodjosumanto, 1993).

2.2 Kondisi Permukaan Kerja

Kondisi permukaan kerja akan sangat berpengaruh pada unjuk kerja alat.
Kondisi permukaan kerja yang baik akan menyebabkan alat muat dan alat angkut
bekerja secara maksimal, sehingga akan diperoleh cycle time yang cukup efektif.
kondisi permukaan kerja yang baik adalah (Prodjosumanto, 1993).
Kondisi dimana akan selalu tersedia material untuk diambil oleh alat muat.
Untuk mencapai kondisi demikian diperlukan alat pendukung seperti dozer agar
dapat selalu menyuplai material ke alat muat.

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
a. Kondisi dimana lokasi pemuatan diatur sedemikian rupa sehingga alat angkut dapat
secara efektif keluar masuk dan mengambil posisi yang tepat untuk dimuat di
lokasi pemuatan. Untuk mencapai maksud tersebut lokasi pemuatan harus terus-
menerus dipantau, bahkan bila perlu dilakukan perbaikan.

b. Kondisi dimana tinggi bench pada area pemuatan sejajar dengan tinggi bak truk
alat angkut.

2.3 Pola Pemuatan


Pola pemuatan sangat berpengaruh dalam produksi alat-alat mekanis yang
digunakan baik secara teknis maupun ekomomis. Pada umumnya operasi
penambangan dimulai dari jenjang paling atas kemudian berurutan ke jenjang di
bawahnya, dengan maksud :
a. Memudahkan dalam mengontrol kemajuan operasi penambangan.
b. Pelaksanaan penambangan dapat dilakukan dengan lebih mudah tanpa ada
pekerjaan lain yang mengganggu.
Sedangkan pola pemuatan yang digunakan tergantung pada kondisi lapangan
operasi penambangan serta alat-alat mekanis yang digunakan dengan asumsi bahwa
setiap alat angkut yang datang, mangkuk alat muat sudah terisi penuh dan siap
ditumpahkan.Setelah alat angkut terisi penuh segera keluar dan dilanjutkan dengan
alat angkut lainnya sehingga tidak terjadi waktu tunggu pada alat angkut maupun alat
muatnya. Pola pemuatan dapat dilihat dari beberapa keadaan yang ditunjukkan alat
muat dan alat angkut, yaitu (Yanto, 2012).

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

Gambar 2.2 Posisi Top loading dan Bottom loading alat gali-muat.

Pola Pemuatan Berdasarkan Posisi Excavator Terhadap Dump Truck


1. Top Loading, yaitu backhoe melakukan pemuatan dengan menempatkan dirinya di
atas jenjang atau truk berada di bawah alat muat.
2. Bottom Loading, yaitu backhoe melakukan pemuatan dengan menempatkan
dirinya di jenjang yang sama dengan posisi alat angkut.

Pola Pemuatan Berdasarkan Jumlah Penempatan Truk


1. Single Back Up, yaitu truk memposisikan diri untuk dimuati pada satu tempat,
sedangkan truk berikutnya menunggu truk pertama dimuati sampai penuh, setelah
truk pertama berangkat truk kedua memposisikan diri untuk dimuati, sedangkan
truk ketiga menunggu dan begitu seterusnya.
2. Double Back Up, yaitu truk memposisikan diri untuk dimuati pada dua tempat,
kemudian backhoe mengisi salah satu truk sampai penuh, setelah itu mengisi truk
kedua yang sudah memposisikan diri di sisi lain, sementara truk kedua diisi truk
ketiga, memposisikan diri di tempat yang sama dengan truk pertama dan
seterusnya.

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Prosedur kerja


Perhitungan pada peralatan tambang memiliki semua perhitungan yang akan
saling berkaitan sehingga memerlukan parameter yang tepat untuk mendapatkan
hasil yang diinginkan. Pertama-tama menghitung produktifitas alat muat dengan
parameter lengkap yang akan dihasilkan jumlah material yang di gali dalam waktu
satu jam, kemudian produktifitas yang telah didapatkan perjam dikonversi menjadi
perhari dengan cara mengalikan jumlah jam kerja dalam satu hari dengan
produktifitas alat muat tersebut, lalu menentukan alat muat yang akan di pakai untuk
mencapai target material yang digali dalam satu hari. Selanjutnya menghitung
produktifitas alat angkut dengan parameter yang sedikit namun untuk menetukan
kapasitas bak pada alat angkut parameternya cukup lengkap dan hasilnya sama
seperti pada hasil produktifitas alat muat yaitu jumlah material yang diangkut
perjam, kemudian menentukan jumlah alat angkut yaitu dengan cara
membangdingkan atara hasil pruduktifitas alat gali muat dengan produktifitas alat
angkut. Dan terakhir menentukan keserasian kerja kedua alat tersebut untuk
mengetahui alat yang menunggu dan alat yang mengantri atau kedua alat tersebut
sudah memiliki faktor keserasian kerja.

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.2.1 Diketahui : Kapasitas bucket back hoe ( Kb) 5,1 m3
Fill factor (FF) 62 % 0,62
Swell factor (SF) 52% 0,52
Efisiensi Kerja (Eff) 73% 0,73
Cycle time 1.7 menit
Target penggalian 10.000 m3
1 shift yaitu 8 jam kerja per hari.

Ditanyakan : - Produktifitas Alat muat (Pm) ..... ?


- Jumlah Alat muat (Nm) ...... ?
Kb × SF × FF × Eff ×60 menit
Penyelesaian : Pm = CT menit
5,1 m3 × 0,52 × 0,62 × 0,73 ×60 menit
= 1,7 menit
72,017
= 1,7

= 𝟒𝟐, 𝟑𝟔 𝐦𝟑 ⁄
𝐣𝐚𝐦
1 shift = 8 × 42,36
3
= 338,88 m ⁄hari
10.000 m3
Nm = 338,88

= 𝟑𝟎 𝐛𝐮𝐚𝐡 .
4.2.2 Diketahui : Efisiensi Kerja (Eff) 62 % 0,62
Cycle time 43 menit
Kapasitas Bak dump truck ( KB) = ( Kb × SF FF ). n
= ( 5,1 × 0,52 × 0,62 ). 62
= 1,64424 . 62
= 101,9 m3 .
Ditanyakan : - Produktifitas Alat angkut (Pa) ..... ?

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
- Jumlah Alat angkut (Na) ...... ?

Kb × Eff ×60 menit


Penyelesaian : Pa = CT menit
101,9 m3 0,62 × 60 menit
= 43 menit
3790,68
= 43
𝟑
= 𝟖𝟖, 𝟏𝟔 𝐦 ⁄𝐣𝐚𝐦
Produktifitas alat muat (Pm)
Na =
Produktifitas lat angkut (Pa)
42,36
= 88,16

= 0,48
= 𝟏 𝐛𝐮𝐚𝐡 .
4.2.3 Diketahui nA = 1 buah
nM = 30 buah
tM = n × CT alat muat
= 62 × 1,7
= 105,4 menit.
CTA = 43 menit.
Ditanyakan Match factor (MF) ...... ?
nA ×tM
Penyelesaian MF = nM ×CT alat angkut
1 ×105,4
= 30 ×43
105,4
= 1290

= 𝟎, 𝟎𝟖𝟏
= < 1.

4.2 Pembahasan
DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA
093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
4.2.1 Alat Muat
Pada produktifitas alat muat target penggalian yang ingin dicapai yaitu sebesar
10.000 m3 dengan jumlah jam kerja berdasarkan SOP yaitu 8 jam kerja. Dan
didapatkan 42,36 m3 per jam yang artinya dalam waktu 1 jam, jumlah material yang
dapat di gali dan di muat kedalam alat angkut yaitu 42,36 m3 sedangkan dalam waktu
1 hari, jumlah material yang dapat di gali dan di muat kedalam alat angkut yaitu
338.88 m3 per hari. Untuk mendukung semua kegiatan tersebut sampai mencapai
target penggalian maka diperlukan alat gali muat sebanyak 30 buah.

4.2.2 Alat Angkut


Pada alat angkut memiliki jumlah pengisian 62 kali dengan kapasitas bak
bersih sebanyak 101,9 m3 dan kemampuan produksi alat tersebut dalam waktu 1 jam
yaitu dapat mengangkut atau memindahkan material sebanyak 75,60 m3. Dan untuk
mecapai target produktifitas dari alat muat harus memerlukan 1 buah alat angkut.

4.2.3 Keserasian Kerja


Keserasian kerja kedua alat berat yang digunakan untuk melakukan eksploitasi
pada tambang yaitu kurang dari 1 ( < 1 ) dalam hal ini kerja alat muat tidak
maksimal atau menunggu. Solusinya adalah memperpendek jarak pengangkutan
antara tempat penambangan dengan tempat penimbunan sehingga waktu edar dari
alat angkut dapat berkurang dan juga bisa dengan memperbesar kapasitas bak pada
alat angkut sehingga diperlukan alat angkut dengan kapasitas bak yang besar.

BAB V
DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA
093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Produktifitas alat muat yaitu dalam waktu 1 jam dapat memuat 42,36 m3
material ke dalam alat angkut sedangkan produktifitas alat angkut yaitu dalam waktu
1 jam dapat mengangkut atau memindahkan material sebanyak 75,60 m3. Dari
produktifitas tersebut untuk pemilihan alatnya memiliki beberapa faktor yaitu :
a. Kapasitas Alat
Kapasitas alat adalah jumlah material yang di isi, dimuat atau diangkut oleh
suatu alat berat. Pabrik pembuat alat berat akan memberikan spesifikasi unit alat
termasuk kapasitas teoritisnya.
b. Volume Material
Dikenal ada tiga bentuk volume material yang mempengaruhi perhitungan
pemindahannya, yaitu dinyatakan dalam Bank Cubic Meter (BCM), Loose Cubic
Meter (LCM) dan Compacted Cubic Meter (CCM).
c. Pemberaian (Swell)
Adalah persentase perubahan volume material dari volume asli yang dapat
mengakibatkan bertambahnya jumlah material yang harus dipindahkan dari
kedudukan aslinya.
d. Densitas Material (Materials Density)
Densitas adalah berat per unit volume dari suatu material, yang nilainya
berbeda karena dipengaruhi oleh sifat-sifat fisiknya, antara lain; ukuran partikel,
kandungan air, pori-pori dan kondisi fisik lainnya.
e. Faktor Isi (Fill Factor)
Adalah persentase volume yang sesuai atau sesungguhnya dapat diisikan ke
dalam bak truk atau mangkok dibandingkan dengan kapasitas teoritisnya.
f. Pola pemuatan
Cara pemuatan material oleh alat muat ke dalam bak alat angkut ditentukan oleh
kedudukan alat muat terhadap material dan alat angkut, apakah kedudukan alat muat
tersebut berada lebih tinggi atau kedudukan kedua-duanya sama.

g. Efisiensi Kerja

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG
Waktu kerja efektif adalah waktu yang benar-benar digunakan oleh operator
bersama alat mekanis yang digunakan untuk kegiatan produksi.

5.2 Saran
5.2.1 Saran Asisten
Buat praktikum kali ini untuk kakak asisten yaitu agar kiranya dapat
medampingi praktikan dalam pengolahan data karena saat ada kendala yang
menghambat, praktikan dapat diberitahu langkah apa yang harus dipilih untuk
pengambilan data yang lebih akurat.
5.2.1 Saran Laboratorium
laboratorium perencanaan kali ini agar kiranya kakak asisten telah
mempersiapkan alat perencanaan yang hendak digunakan dalam praktek di
Laboratorium agar tidak menghambat jalannya praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA
093 2014 0020 093 2015 0062
PRAKTIKUM PERENCANAAN TAMBANG
LABORATORIUM PERENCANAAN TAMBANG
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
PERENCANAAN PERALATAN TAMBANG

Korps Asisten ,2018, Modul II Perencanaan peralatan pertambangan, Jurusan


Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Industri UMI, Makassar.
Nurhakim, 2004, Buku Panduan Kuliah Lapangan II edisi ke-2, Program studi teknik
pertambangan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Nurwaskito, Arif , Pengantar perhitungan alat berat 1-15, Universitas Muslim
Indonesia, Makassar.

DIAN DWI APRILIYANI ARSDIN ALFI REZHA


093 2014 0020 093 2015 0062