Anda di halaman 1dari 28

MODUL 4

PERAWATAN PADA PERIODE GIGI PERMANEN

SKENARIO 4:

Kenapa Gigiku

Johan (15 tahun) datang bersama ibunya ke klinik gigi Medika untuk konsultasi
karena merasa terganggu dengan gigi depan bawah kurang rapi.

Hasil pemeriksaan klinis, gigi permanen telah erupsi kecuali molar tiga. Gigi 12 dan
22 palatoversi, relasi molar pertama kiri dan kanan neutroklusi. Jarak gigit 6,5mm, tumpang
gigit 3mm. pemeriksaan ekstra oral menunjukkan profil wajah simetris, bentuk kepala
brachisefalik, bentuk wajah euryprosop. Analisa sefalometri SNA = 86˚, SNB = 81˚, angle
convexity = 8˚, sudut interincisal = 120˚, diskrepansi ruang untuk koreksi gigi 3,5mm.

Bagaimana saudara menjelaskan kasus Johan dan tatalaksana selanjutnya?

1
Langkah Seven Jumps :

1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang


dapat menimbulkan kesalahan interpretasi
2. Menentukan masalah
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge
4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan mencari
korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara
terintegrasi
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran/ learning objectives
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh
URAIAN

Langkah I

Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang dapat
menimbulkan kesalahan interpretasi.

1. Diskrepansi : Disharmoni gigi & rahang (antero-posterior atau lateral)

2. Angle convexity : Derajat perpotongan dari titik Nation ke A, dan Pogonion ke A.


Untuk ukuran normal 0±2˚

3. Sudut interinsisal : Sumbu insisal atas dan bawah, normalnya 135˚-137˚

Langkah II

Menentukan masalah

1. Apa penyebab tidak rapi pada gigi rahang bawah pada Johan?
2. Apa diagnosis kerja pada Johan?
3. Apa metode perhitungan diskrepansi rahang atas?
4. Bagaimana penatalaksanaan pada rahang bawah Johan?
5. Apa rencana perawatan rahang atas Johan?
6. Apa teori pergerakan gigi permanen?
7. Bagaimana prognosis Johan?

2
Langkah III

Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge

1. Apa penyebab tidak rapi pada gigi rahang bawah pada Johan?
-Premature Loss
-Bad habbit
-Tidak dicegah pada saat periode gigi bercampur
2. Apa diagnosis kerja pada Johan?
Maloklusi Klass I Angle, Tipe 2 Dewey,Skeletal Klass II
3. Apa metode perhitungan diskrepansi rahang atas?
-Pont
∑𝐼𝑛𝑠𝑖𝑠𝑖𝑣𝑢𝑠 𝑥 100
Lebar Lengkung RA = = distal pit Premolar kanan-kiri
64
∑𝐼𝑛𝑠𝑖𝑠𝑖𝑣𝑢𝑠 𝑥 100
Lebar Lengkung RB = = mesial pit Molar kanan-kiri
84

Indeks P dan M ada pada tabel


-Kesling
 Potong gigi dan susun menurut rencana perawatan
4. Bagaimana penatalaksanaan pada rahang bawah Johan?
Rencana Perawatan :
- Slicing tiap gigi
- Ekstraksi P2 untuk penjangkaran maksimum
- Ekspansi rahang
5. Apa rencana perawatan rahang atas Johan?
Rencana Perawatan :
- Labial bow
- Z spring dari palatal
- Ekstraksi gigi P1 atas
6. Apa teori pergerakan gigi permanen?
Gerakan:
- Tipping
- Torque
- Intrusi
- Ekstrusi
- Bodily

3
Teori :

- Tegangan
- Blood pressure
- Piezo elektrik
7. Bagaimana prognosis Johan?
Prognosis Johan baik karena masih dalam usia pertumbuhan dan kasus yang tidak
terlalu rumit

4
Langkah IV

Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan mencari korelasi
dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara terintegrasi.

SKEMA

Johan (15 tahun)

Ke Dokter Gigi

Model Subjektif Cephalo Objektif


Diskrepansi 3,5mm Anterior RB tidak rapi -SNA = 86˚ Intraoral
-SNB = 81˚ -M3 Unerrupted
-Angle Convexity = 8˚ -12 dan 22 palatoversi
-Sudut interinsisal = -Relasi molar
120˚ neutroklusi
-Overjet 6,5mm
-Overbite 3mm

Ekstraoral
-Profil simetris
- Kepala Brachisefalik
-Wajah Euryprosop

DK maloklusi Klas I
Angle tipe 2 Dewey
Skeletal Klass III

Analisa Perhitungan
Ruang

Rencana Perawatan Biomekanikal pergerakan


gigi pada perawatan ortho
lepasan

Prognosis

5
Langkah V

Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang analisa perhitungan ruang


pada gigi permanen.
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang biomekanikal pergerakan
gigi pada orthodonti lepasan.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang rencana perawatan pada
orthodonti lepasan.
Langkah VI

Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain


Langkah VII

Sintesa dan uji informasi yang diperoleh


1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang analisa perhitungan ruang
pada gigi permanen.

METODE PONT
(DR.Pont, drg. Perancis, 1909)
● Dasar : dalam lengkung gigi (dental arch) dengan susunan gigi teratur terdapat hubungan
antara jumlah lebar mesiodistal keempat gigi insisivus atas dengan lebar lengkung inter
premolar pertama dan inter molar pertama.
● Susunan normal :
Ideal : -gigi -gigi yang lebar membutuhkan suatu lengkung yang lebar -gigi-gigi yang kecil
membutuhkan suatu lengkung yang kecil -ada keseimbangan antara besar gigi dengan
lengkung gigi
● Tujuan : untuk mengetahui apakah suatu lengkung gigi dalam keadaan kontraksi atau
distraksi atau normal.
Kontraksi = kompresi = intraversion : sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih mendekati
bidang midsagital.
Distraksi = ekstraversion : sebagian atau seluruh lengkung gigi lebih menjauhi bidang
midsagital.
Derajat kontraksi/distraksi :
● Mild degree : hanya 5 mm
● Medium degree : antara 5-10 mm
● Extreem degree : >10 mm

6
Hubungan dirumuskan:
1. Untuk lengkung gigi yang normal jumlah lebar mesiodistal 4 insisivus atas tetap kali 100,
kemudian dibagi jarak transversal interpremolar pertama atas merupakan indeks premolar.
Indeks Premolar = 80
∑I x 100
Indeks Premolar = Jarak P1−P1

= 80
∑I x 100
Jarak Pi-P1 = 80

Jumlah lebar mesiodistal 4 insisivus tetap atas kali 100, kemudian dibagi jarak transversal
intermolar pertama tetap atas merupakan indeks molar.
Indeks Molar = 64
∑I x 100
Indeks Molar = Jarak M1−M1

= 64
∑I x 100
Jarak M1-M1 = 64

Pengukuran lebar mesiodistal I:


● diameter paling lebar dari masing-masing gigi insisivus
● alat: jangka sorong.
Pengukuran jarak inter P1 :
● jarak antara tepi paling distal dari cekung mesial pada permukaan oklusal P1.
● sudut distobukal pada tonjol bukal P1
Pengukuran jarak inter M1 :
● jarak antara cekung mesial pada permukaan oklusal M1
● titik tertinggi tonjol tengah pada tonjol bukal M1
Menentukan jarak inter P1 & inter M1
1. Mengukur langsung dari model (yang sesungguhnya)
2. Dan perhitungan rumus (yang seharusnya)
3. Dari tabel Pont (sebagai bandingan). Cara memakai tabel Pont :
1. Jumlahkan lebar mesiodistal 4 insisivus atas tetap, masing-masing diukur dengan jangka
sorong (dari model).
2. Cari ukuran tersebut dalam tabel.

7
∑ Incisivus Indeks P Indeks M
27 33,5 42,5
27,5 34 42,95
28 35 44
28,5 35,5 44,5
29 36 45,3
29,5 37 46
30 37,5 46,8
30,5 38 47,6
31 39 48,4
31,5 39,5 49,2
32 40 50
32,5 40,5 50,8
33 41 51,5
33,5 42 52,3
34 43 53
34,5 43,5 53,9
35 44 54,5
35,5 44,5 55,5
36 45 56,2

Pont
Permanen

Gigi pedoman

8
METODE KORKHAUS
Jarak insisivus tetap atas dan premolar adalah jarak pada garis sagital antara titik pertemuan
insisivus tetap sentral dan titik dimana garis sagital tersebut memotong garis transversal yang
menghubungkan premolar pertama atas pada palatum.

METODE HOWES
(Ashley E. Howes, 1947)
Dasar:
1. Ada hubungan lebar lengkung gigi dengan panjang perimeter lengkung gigi.
2. Ada hubungan basal arch dengan coronal arch.
- Keseimbangan basal arch dengan lebar mesiodistal gigi.
1. Bila gigi dipertahankan dalam lengkung seharusnya lebar inter P1 sekurang-kurangnya =
43 % dari ukuran mesiodistal M1-M1.
● lebar inter P1: dari titik bagian dalam puncak tonjol bukal P1.
● ukuran lengkung gigi: distal M1 kanan — distal M1 kiri (mesiodistal 654321 I 123456)
Indeks Howes:
(P1−P1)
= 43%
(M1−M1)

2. Seharusnya lebar interfossa canina sekurang-kurangnya = 44% lebar mesiodistal gigi


anterior sampai molar kedua.
Fossa canina terletak pada apeks premolar pertama.
Indeks Howes:
Interfossa canina
Interfossa Canina
= = 44%
Jumlah M1−M1

9
Kasus-kasus dengan lebar interfossa canina antara 37% - 44% lebar mesiodistal M1-M1,
keadaan ini dikategorikan dalam kasus yang meragukan. Mungkin dilakukan pencabutan gigi
atau pelebaran.
Bila lebar interfossa canina : jumlah M1-M1 < 37%, hal ini sebagai indikasi suatu basal arch
defisiensi sehingga pencabutan hams dilakukan.
Interfossa Canina
Indeks Howes: = 44%
Jumlah M1−M1

METODE THOMPSON & BRODIE


● Menentukan lokasi (daerah) sebab-sebab terjadinya deep overbite.
● Deep overbite: suatu kelainan gigi dimana tutup menutup (over lapping) gigi-gigi depan
atas bawah sangat dalam menurut arah bidang vertikal.
● Normal overbite:
rata-rata tutup menutup = 1/3 panjang mahkota 1 .
normalnya adalah = 2 - 4 mm
● Dapat terjadi pada ketiga klas maloklusi Angle: kelas I, II, III
● Keadaan ini sangat tidak menguntungkan untuk kesehatan di kemudian hari serta keawetan
gigi geligi tersebut.dan melihat bagaimana pengaruhnya pada gigi anak-anak.

Beberapa hubungan yang mungkin terjadi :


1. Deep overbite
2. Palatal bite / Closed bite
3. Shallow bite
4. Edge to edge bite

10
5. Cross bite = reversed bite
6. Open bite

Deep overbite dapat disebabkan:


1. Dental:
a. Supra oklusi gigi-gigi anterior.
b. Infra oklusi gigi-gigi posterior.
c. Kombinasi a dan b.
d. Inklinasi lingual gigi-gigi P dan M.

2. Skeletal:
a. Ramus mandibulae yang panjang
b. Sudut gonion yang tajam
c. Pertumbuhan procesus alveolaris yang berlebihan.

3. Kombinasi
● Pada keadaan normal dalam keadaan physiologic rest position (istirahat) proporsi muka
pada ukuran vertikal : Nasion ke Spina Nasalis Anterior (SNA) = 43% dari jumlah panjang
Nasion ke Mentum (Gnathion).
● Ukuran ini sangat penting untuk mengetahui prognosis dari deep overbite yaitu koreksinya
ditujukan pada elevasi (ekstrusi) gigi-gigi bukal dan atau depresi (intrusi) gigi-gigi anterior.
Analisis deep overbite dapat dipelajari dari: 1. Cetakan model gigi-gigi penderita
2. Foto profil penderita
3. Langsung dari penderita
4. Dengan sefalometri radiografik

1. Mempelajari model gigi-gigi penderita :


- Sempurna tidaknya kalsifikasi dilihat adanya benjolan yang tidak sempuma rata pada
model, pada palatum, prosesus alveolaris, dan lain-lain.
- Adanya benjolan berarti kalsifikasi tidak sempuma.

11
- Adanya gingiva tebal.
- Kurva Von Spee yang tajam.

2. Dari foto profil penderita


a. Jika Nasion — SNA > 43%, maka SNA ke Mentum lebih pendek, berarti ada infraklusi
gigi-gigi posterior.
b. Jika NA — SNA < 43% maka SNA ke Mentum lebih panjang, berarti ada supraoklusi gigi-
gigi anterior.

3. Langsung dari penderita


Mempelajari pada penderita, jika ada keragu-raguan deep overbite disebabkan oleh karena
infraoklusi gigi-gigi bukal (P dan M) saja atau bersama-sama dengan supraoklusi gigi-gigi
anterior.

Cara Thompson & Brodie:


a. Ambil sepotong stenz (wax) dilunakkan.
b. Letakkan stenz tersebut di atas permukaan oklusal P dan M salah satu rahang atau kanan
dan kiri.
c. Penderita disuruh menggigit stenz sehingga kedudukan profil muka penderita pada
keseimbangan: NA - SNA = 43% NA — Mentum
d. Setelah stenz keras dilihat pada regio anteriornya:
● Jika deep overbite sama sekali hilang, sedang stenz masih tebal berarti ada infraoklusi gigi-
gigi P & M.
● Jika deep overbite masih, sedang stenz tergigit habis berarti adanya supraoklusi gigigigi
anterior
● Jika deep overbite masih, sedang stenz masih ada ketebalan; hal ini berarti ada kombinasi
keadaan tersebut di atas.

4. Dari mempelajari sefalometri radiografik :


- Cara yang baik untuk menentukan deep overbite yang bersifat skeletal type, dimana akan
terlihat:
a. Frankfurt Mandibulair Plane Angle kecil.
b. Panjang Ramus Mandibulae lebih panjang.
c. Sudut gonion tajam

12
d. Pertumbuhan ke arah vertikal dan bagian muka kurang.

Prognosa:
1. Dental baik.
2. Skeletal tidak menguntungkan.
3. Deep overbite karena kalsifikasi yang jelek dari alveolaris dan basal bone biasanya jelek.

Alat: Bite plate anterior Perawatan:


● Perlu over correction
● Periode bertahap.

Bite Raiser
1 . Dasar pemakaian :
● siang malam
● makan/tidak
● aktif/tidak

2. Periode pemakaian :
● permulaan
● selang antara tahap 1— selesai
● akhir perawatanlretainer
● kombinasi

3. Manipulasi:
a. Mat belum dipakai, dilihat bagian:
● anterior : gigi RA & RB saling kontak.
● posterior : gigi RA & RB saling kontak. Tekanan ke seluruh gigi.

13
b. Alat dipakai:
● anterior : gigi bawah kontak dengan pelat.
● posterior : gigi atas & bawah

Saling terpisah dan tidak berkontak. Tekanan hanya pada pelat di bagian anterior.
● Bagaimana ketebalan bite plane?
Tebal jarak besar
- alat goncang
- gigi tekanan besar
- tidak dapat makan
- fungsi kurang efektif

METODE KESLING
Adalah suatu cara yang dipakai sebagai pedoman untuk menentukan atau menyusun suatu
lengkung gigi dari model aslinya dengan membelah atau memisahkan gigi-giginya, kemudian
disusun kembali pada basal archnya baik mandibula atau maksila dalam bentuk lengkung
yang dikehendaki sesuai posisi aksisnya.
Cara ini berguna sebagai suatu pertolongan praktis yang dapat dipakai untuk menentukan
diagnosis, rencana perawatan maupun prognosis perawatan suatu kasus secara individual.
● Karena cara ini mampu untuk mendiagnosis maka disebut : DIAGNOSTIC SET UP
MODEL
● Karena model yang telah disusun kembali dalam lengkung gigi tersebut merupakan
gambaran suatu hasil perawatan maka disebut : PROGNOSIS SET UP MODEL

Prosedur:
1. Siapkan model kasus RA & RB.
2. Fiksasi pada okludator yang sesuai, dengan dibuat kedudukan basis dari model sejajar
dengan bidang oklusal (model RB).

14
Seharusnya bidang okiusal dengan bidang mandibula (mandibulair plane) membentuk sudut
rata-rata 15°.
3. Kemudian dimulai memotong/memisahkan gigi-gigi dari model tersebut pada aproksimal
kontaknya dengan suatu pisau/gergaji.
Cara:
a. Buat lubang dengan gergaji ± 3 mm di atas gingival margin (fornix) antara 1 1.

b. Dari lubang ini buat irisan arah horisontal kanan kiri misalnya sampai M1 .

c. Kemudian dari sini buat irisan vertikal pada aproksimal M2-M1, terjadi irisan:

d. Beri tanda masing-masing gigi agar tidak keliru.

e. Buat pada setiap aproksimal irisan arah vertikal.

f. Pisahkan masing-masing gigi.

15
g. Susun kembali gigi-gigi tersebut dalam lengkung yang dikehendaki dengan perantaraan
pelekatan wax. Perlu diperhatikan:

Akan terlihat:
● cukup ruang
● kurang ruang, maka dilakukan pengurangan gigi (pencabutan 1 / 2 gigi P1/P2).
Rahang Atas:
1. cara sama
2. mengikuti Rahang Bawah
3. overjet, overbite dipertimbangkan.

Kasus:
1. Rahang Bawah normal
Rahang Atas mengikuti Rahang Bawah
2. Rahang Atas normal
Rahang Bawah mengikuti Rahang Atas
3. Rahang Atas & Rahang Bawah tidak normal Tentukan Rahang Bawah lebih dulu

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang biomekanikal pergerakan


gigi pada orthodonti lepasan.

Teori pergerakan gigi

Ada 3 mekanisme yang mempengaruhi pergerakan gigi secara ortodontik:

1. Teori tegangan tekanan oleh Schwarz

Ketika gigi diberikan kekuatan ortodonsi, menghasilkan area tekanan dan tegangan. Area
periodonsium pada arah pergerakan gigi di bawah tekanan sementara area periodonsium pada
daerah yang berlawanan di bawah regangan.Area tekanan menunjukkan resorpsi tulang
sedangkan area tegangan menunjukkan deposisi tulang.

16
2. Teori aliran darah oleh Bien

Pergerakan gigi terjadi akibat perubahan dinamik cairan dalam PDL. PDL menempati ruang
periodontal yang dibatasi antara 2 jaringan keras gigi dan soket alveolar. Ruang periodontal
teridir dari sistem cairan . Isi PDL membuat kondisi hidrodinamik yang unik menyerupai
mekanisme hidraulik dan shock absorber.

3. Teori piezoelektrik-elektrisitas biologis

Berhubungan dengan perubahan metabolisme pada tulang yang dikontrol sinyal elektrik yang
terjadi ketika tulang alveolar berubah bentuk karena tekanan. Sinyal elektrik memengaruhi
reseptor membran sel atau permeabilitas membran(atau mungkin keduanya) dan keadaan ini
memengaruhi aktivitas sel. Tulang adalah massa atau bahan piezoelektrik, yaitu menghasilkan
loncatan elektrik permukaan bila dikenai tekanan. Proses piezoelektrik menjembatani
remodeling yang disebabkan kekuatan ortondontik. Pada suatu penelitian didapatkan
kenyataan bahwa tulang mempunyai efek piezoelektrik kurang lebih delapan kali dentin dan
sementum. Kekuatan efek piezoelektrik berkorelasi dengan kemampuan jaringan untuk
mengadakan remodeling. Karena tulang mempunyai efek piezoelektrik yang besar maka
tulang paling mudah melakukan remodeling.

Mekanika Pergerakan Gigi

Force

Force didefinisikan sebagai aksi yang sedang berlangsung yang dapat merubah atau
memelihara perubahan bagian dari keadaan istirahat atau gerakan seluruh bodi. Force
memiliki jarak yang pasti, memiliki suatu yang spesifik dan titik pengaplikasian dalam
praktek klinis antara ”pull-tarikan” atau ”push-tekanan” dalam sistem metrik satuan dari
kekuatan dijelaskan dalam gram.

Types of Force

1. Countinous Force

Menunjukkan pada tekanan berangsur-angsur dari membran pericdontal pada sisi tegangan
gigi (pressure side). Jika suatu tekanan terdapat dalam batas-batas dimana dapat terjadi reaksi
jaringan, dapat terjadi perubahan rekonstrkutional elemen fibrosa seperti juga resorpsi
langsung dinding tulang alveolar. Jika tidak dibutuhkan tekanan pengaktifan kembali, maka
suplai pembuluh darah dapat diperoleh dengan mudah dan dapat menghasilkan suatu efek
”Damage-repair”.

Eliminasi zona hyalinized terjadi antara 1 dan 4 minggu, dan jika dilakukan pengaktifan
kembali sebelum waktu ini, maka masalah-masalah terhadap jaringan dapat terjadi dengan
mudah.

Countinous force merupakan suatu tekanan aktif ortodonfik yang dapat sedikit mengurangi
jarak antara periode yang penetapan suatu komponen alat ini harus bersifat fleksibel dan
aktifasi harus dilakukan secara relative dengan level tekanan yang ringan, karena continous
force ditujukan untuk membawa imenggiring resorpsi langsung soket gigi.

17
Selain itu continous force tidak meliputi ”periode istirahat” dan gangguan kecil dengan fungsi
biologi normal dalam jaringan lunak dapat ditoleransi.

2. Interupted – continous force

Berarti bahwa continous force yang diaplikasikan pada gigi lebih efektif hanya pada sejumlah
kecil pergerakan / pergeseran gigi, setelah tekanan dihentikan dan membutuhkan untuk
diaktifkan kembali. Walaupun telah terbentuk zona hyalinized, irgamen periodontal dapat
direkonstruksi kembali sehingga terjadi suatu peningkatan dalam proliferasi sel yang cocok /
sesuai untuk perubahan jaringan berikutnya mengikuti tekanan reaktifasi.

3. Intermittent Force

Suatu tekanan ortodontik aktif yang mempengaruhi gigi secara berkala atau setiap saat ketika
terjadi banyak gangguan dari tekanan. Tipe tekanan ini terjadi ketika digunakan suatu alat
removable.

Komponen alat ini harus memiliki tingkat kekakuan yang tinggi (high stiffness) dan aktifasi
awal harus dua kali, diharapkan deformasi jaringan lunak cocok.

Stress And Strain

Stress adalah aplikasi kekuatan perunit daerah yang mendapat tegangan dan dapat
didefinisikan sebagai perubahan internal perunit area. Stress dan strain adalah hubungan antar
massa stress yang merupakan kekuatan eksternal yang berlangsung pada bodi tersebut. Strain
dapat dibentuk dari perubahan dalam dimensi eksternal atau energi eksternal bodi.

Couple

Couple adalah pasangan kekuatan inti yang memiliki besar yang sama dan berlawanan dengan
paralel tetapi garis aksinya collinear. Couple saat bergerak di bodi membawa rotasi murni.

Centre of Resistance

Setiap bodi atau objek bebas, berjalan jika massa inti pada single pointnya bisa seimbang
dengan sempurna. Untuk pemeriksaan perhitungannya, point ini bisa diambil dimana sebagian
berat bodinya berkonsentrasi dan dan dapat dinamakan ’pusat gravitasi’. Bagaimanapun, gigi
tidak dapat bergeser dengan bebas didalam rahang, karena dibatasi oleh jaringan sekitar gigi.
Pada keadaan ini analog point pada pusat gaya gravitasi yang terbuat disebut ’centre of
resistance.

Secara umum, pusat resisten pada gigi adalah konstan pada gigi berakar tunggal terletak
diantara 1/3 dan 1/2 bagian akar, dari apikal ke alveolar crest, sedangkan pada gigi berakar
banyak pusat resistennya terletak diantara 1-2 mm apikal ke furkasi. Pusat resisten berada
pada gigi berakar tunggal setiap satuan gigi dan pada seluruh lengkung rahang. Mengetahui
pusat resisten ini sangat penting dalam merencanakan ketepatan Mechanoterapi.

Ada 2 faktor yang dapat merubah posisi pusat resisten yaitu, panjang akar dan tinggi tulang
alveolar. Makin panjang akar pusat resisten bisa lebih ke apikal, seperti alveolar crest yang
tinggi, pusat resisten bisa terletak lebih ke korona. Sama dengan morfologi dan jumlah akar
juga bisa mempengaruhi pusat resistensi.

18
Moment

Momen dapat didefinisikan sebagai ukuran potensial rotasi pada kekuatan dengan respek
terhadap sumbu porosnya. Kekuatan ortodontik yang paling sering diaplikasikan pada
mahkota gigi. Oleh karena itu, kekuatan jarang diaplikasikan melalui pusay resistensi pada
mahkota. Jadi, kekuatan ini tidak hanya menghasilkan gerakan linear tapi juga bisa berotasi.
Momen bagaimanapun cenderung menghasilkan rotasi.

Momen = besarnya kekuatan x jarak (jarak yang tegak lurus dari pusat resistensi pada bodi
hingga aksi kekuatan), satuan ukuran momen adalah gram milimeter, dua variable yang
ditetapkan oleh kekuatan momen, besarnya jarak dari pusat resisten, salah satu dari dua
variable ini bisa dimanipulasi untuk menghasilkan sistem kekuatan.

Centre of Rotation

Centre of rotation merupakan titik, dimana bodi terlihat rotasi, dari posisi awal dan posisi
final. Centre of rotation adalah variabel titik dan perubahan menurut tipe pergerakan gigi.

Types of Tooth Movement

Pergerakan gigi didalam mulut terdiri dari:

Tipping

Tipping adalah jenis pergerakan yang sederhana dimana kekuatan utama diaplikasikan ke
mahkota yang meengakibatkan pergerakan mahkota dalam arah tekanan, sedangkan akar
dalam arah yang berlawanan.

Tipping terbagi menjadi dua:

Controlled Tipping: terjadi bila ujung gigi berada ditengah dari rotasi apeksnya, dimana akan
terjadi suatu pergerakan lingual dari mahkota dengan pergerakan minimal akar ke direksi
labial.

Uncontrolled Tipping: menggambarkan pergerakan gigi yang terjadi disekitar bagian tengah
rotasi apikal dan cukup dekat terhadap daya resistensinya, dikarakteristikkan sebagai
pergerakan mahkota dalam satu arah dimana akar bergerak dalam arah berlawanan.

19
Pergerakan tipping. Tekanan diaplikasikan pada titik tunggal mahkota gigi yang
menyebabkan resorpsi tulang dan aposisi, membuat gigi bergerak tipping. Tekanan pada
jaringan periodontal lebih besar didekat apeks dan tepi servikal gigi. ( Foster T.D. Buku Ajar
Ortodonsia, alih Bahasa, Lilian Yuwono, 1997 : 175 )

Pergerakan Rotasi

Pergerakan rotasi adalah gerakan gigi berputar di sekeliling sumbu panjangnya. Rotasi
merupakan suatu penjangkaran gigi yang paling rumit dilakukan dan sukar untuk
dipertahankan. Rotasi gigi dalam soketnya membutuhkan aplikasi tekanan ganda. Pergerakan
rotasi ini dapat diperoleh dengan memberikan kekuatan pada satu titik dari mahkota dan stop
untuk mencegah bergeraknya bagian mahkota yang lain .
Pada pergerakan rotasi kecendrungan untuk relaps lebih besar, ini disebabkan karena serat-
serat yang melekatkan gigi ke tulang menjadi sangat mudah terorganisasi kembali selama dan
sesudah pergerakan gigi, serat-serat yang menyatukan gigi dengan jaringan gingival masih
utuh, hanya mengalami distorsi selama pergerakan gigi dan kebanyakan serat-serat gingival
tersebut meregang.

Pergerakan Bodily

20
Jika garis dari tekanan yang diaplikasikan melewati hingga bagian tengah resistensi gigi,
semua titik dari gigi akan bergerak dalam arah yang sama serta jarak yang sama yang
menandai pergerakan bodily. Pergerakan ini juga dinamakan translasi. Pergerakan bodily.
Tekanan harus diaplikasikan pada daerah mahkota gigi yang lebar dan harus ada alat untuk
mencegah miringnya gigi. Tekanan yang mengenai jaringan periodontal akan didistribusikan
secara merata. ( Foster T.D Buku Ajar Ortodonti, Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997; 177 )

Intrusi

Pergerakan secara bodily gigi sepanjang sumbu axisnya dalam arah apikal.

Melibatkan resorpsi dari tulang, khususnya disekitar apeks gigi. Pada gerakan ini, seluruh
struktur pendukung berada dibawah tekanan, sama sekali tanpa daerah tegangan.

Intrusi. Tekanan yang mengenai struktur pendukung didistribusikan secara merata dan
resorpsi tulang dibutuhkan, khususnya pada daerah apikal dan pada puncak alveolar. ( Foster
T.D Buku Ajar Ortodonti, Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997 : 179 )

Ekstrusi

Pergerakan bodily gigi sepanjang sumbu axisnya dalam arah oklusal.

ekstrusi. Peregangan timbul pada strutur pendukung dan aposisi tulang untuk
mempertahankan dukungan gigi. ( Foster T.D Buku Ajar Ortodonti, Alih Bahasa Lilian
Yuwono, 1997 : 179 )

21
Torquing

Torquing dianggap sebagai karakteristik gerak tipping terbalik dengan ciri khas pergerakan
akar ke lingual.

Sebuah tekanan couple diaplikasikan pada daerah mahkota gigi yang luas atau tekanan
berlawanan diaplikasikan untuk mencegah pergerakan mahkota. Tekanan yang mengenai
strutur periodontal adalah yang paling besar pada daerah didekat apeks gigi.

Pergerakan torque akar. Suatu tekanan kopel diaplikasikan pada daerah mahkota gigi yang
luas dan stop atau tekanan berlawanan diaplikasikan untuk mencegah pergerakan mahkota.
Tekanan yang mengenai struktur periodontal yang paling besar di sekitar apeks gigi ( Foster
T.D Buku Ajar Ortodonti Alih Bahasa Lilian Yuwono, 1997 : 178 )

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang rencana perawatan pada


orthodonti lepasan.

Perawatan Ortodontik
Berdasarkan atas ruang lingkup, perawatan ortodontik dapat berupa: (1) Perawatan
Sederhana, yaitu perawatan yang ditujukan terhadap sebagian tertentu dari maloklusi yang
ditetapkan sebagai target perawatan. (2) Perawatan Komprehensif yaitu perawatan yang
dilakukan untuk mengoreksi maloklusi secara menyeluruh. (2) Perawatan Multidisiplin, yaitu
perawatan malo-klusi yang melibatkan beberapa cabang ilmu. (3) Perawatan Interdisiplin
yaitu perawatan maloklusi yang dilaksanakan dengan kerjasama antarcabang ilmu,
perencanaan
perawatan dilakukan secara bersama-sama, misalnya seperti perawatan ortodontik bekerja
sama dengan perawatan bedah mulut dalam menangani fraktur rahang. Berdasarkan Jenis alat
yang dipakai untuk merawat maloklusi, dapat dibedakan: (1) Alat Lepasan, dapat berupa: Alat
Aktif, Alat Fungsional, atau Alat Aligner/Trainer/Clearpart/Invislign. (2) Alat Cekat, dapat
berupa: Partial braces, Full Braces (systemized), Alat cekat non braces (Non systemized
appliances), Alat Cekat-Lepas (remofixed), Alat Cekat dibantu dengan bedah ortognatikatau
Alat cekat dibantu dengan pemasangan microimplant. Alat cekat Full Braces terdiri dari
bermacammacam teknik atau sistem perawatan seperti: (1) Teknik Begg kemudian
berkembang men-jadi teknik

22
TapeEdge. (2) Teknik Edgewise berkembang menjadi teknik Straight Wire dan kemudian
berkembang lagi menjadi teknik Self Ligating, salah satu diantaranya adalah Damon system
dan yang lain adalah (3) Lingual Teknik. Alat cekat full braces merupakan suatu piranti
perawatan yang sekarang ini menjadi trand perawatan yang sangat digemari oleh pasien
sehingga banyak para dokter gigi umum bahkan para tukang gigi mencoba menggunakan alat
ini dalam melakukan perawatan pasien tanpa di bekali ilmu dan keterampilan yang memadai.
Kolegium Ortodonsia Indonesia mene-tapkan alat cekat full braces sebagai piranti perawatan
yang bersifat spesialistik karena beberapa alasan: (1) Perawatan bersifat komprehensif,
bertujuan untuk merawat maloklusi secara menyeluruh (2) Kesalahan perawatan
menimbulkan kerusakan gigi yang sangat sukar untuk diperbaiki (3) Diperlukan pemahaman
secara utuh tentang preskripsi braket yang akan dipakai, sistem kerja kekuatan (diferensial
forces), biomekanika, penjangkaran dan tahapan perawatan untuk masing-masing teknik yang
berbeda. (4) Membutuhkan penguasaan skill melalui bimbingan merawat beberapa pasien
(kasus), pada pendidikan progaram studi spesialis ortodonsia dibutuhkan tiga tahun
pendidikan merawat sekurang-kurangnya
20 pasien dalam pelbagai kasus. (5) Setelah luluspun masih dibutuhkan pengalaman kerja
klinik menerapkan satu sistem perawatan cekat agar dapat menghasilkan perawatan yang
memuaskan.

Tingkatan perawatan ortodonti dapat dibagi dalam tiga tingkat, yaitu :


Ortodonti Preventif adalah tingkat perawatan untuk mencegah terjadinya maloklusi,
seperti : memelihara kebersihan gigi dan mulut untuk mencegah terjadinya karies gigi,
pemberian fluor pada gigi sulung agar tidak mudah karies, penambalan gigi sulung
harus baik dan tidak mengubah ukuran mesio-distal gigi dan titik kontaknya,
menghilangkan kebiasaan buruk : bernafas melalui mulut, menghisap jari, mendorong
lidah, menggigit bibir, pemakaian space maintainer pada kasus premature loss gigi
sulung untuk mencegah terjadinya pergeseran gigi.

Ortodonti Interseptik adalah Perawatan ortodonti yang dilakukan jika sudah terjadi
maloklusi ringan dan sudah dapat terlihat maloklusi yang berkembang akibat adanya
faktor keturunan, intrinsik dan ekstrinsik, seperti : pemakaian space regainer untuk
mengembalikan gigi molar yang mengalami mesial drifting, serial ekstraksi.

Ortodonti korektif adalah maloklusi yang terjadi sudah cukup parah bahkan sudah
mencacat wajah. Diperlukan tindakan perawatan ortodonti yang kompleks.
Perawatan maloklusi kelas I Angle tipe 2 termasuk perawatan ortodonti
korektif, tetapi tergantung berat ringannya maloklusi dan penyebab maloklusi
tersebut.

Perawatan maloklusi kelas I Angle tipe 2 ada tiga macam, yaitu :

1. Ekspansi ke lateral
Apabila kekurangan ruangan 2-4 mm dan disertai penyempitan
(kontriksi) lengkung rahang atas.
Ekspansi transversal/lateral ada 2 yaitu Ekspansi ortopedik dan Ekspansi
ortodonti.
23
Ekspansi ortopedik, yaitu :
Ekspansi ortopedik dilakukan dengan membuka sutura palatina mediana.
Dilakukan pada kasus penyempitan maksila.
Hanya dapat dilakukan pada masa pertumbuhan.
Alat yang digunakan rapid palatal ekspansion.
Ruang yang dihasilkan: setiap eskpansi sebesar 1 mm akan menghasilkan
panjang lengkung rahang sebesar 1 mm.

Ekspansi ortodonti, yaitu :


Tujuannya untuk memperlebar lengkung gigi
Pada pasien yang telah selesai tumbuh kembangnya, ekspansi yang dapat
dihasilkan hanya ekspansi lengkung gigi.

Ekspansi sagital, yaitu :


Ekspansi ini terdiri dari ekspansi ortopedik dan ortodonti.
Ekspansi ortopedik hanya dapat dilakukan pada masa pertumbuhan akan
menghasilkan ruangan 2 kali lebih besar dari hasil ruangan rata-rata pada
ekspansi transversal.
12
Setiap 1 mm ruangan hasil ekspansi sagital menghasilkan ruangan sebesar 2
mm.
Ekspansi sagital harus dilakukan dengan hati-hati dapat mempengaruhi estetik
24
wajah.

2. Ekstraksi
Dilakukan apabila kekurangan ruangan dan untuk koreksi overjet yang
memerlukan ruangan lebih dari 7mm. Pencabutan merupakan cara yang paling
mudah dan cepat untuk mendapatkan ruangan, tetapi bukan berarti pencabutan
gigi harus selalu dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan ruangan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada perawatan dengan pencabutan gigi :


Pencabutan bilateral jika keadaan berjejal yang parah/kekurangan ruangan
lebih dari 7 mm dan tidak ada pergeseran garis median
Pencabutan unilateral yaitu pada keadaan gigi berjejal unilateral atau adanya
pergeseran garis median.
13
Perhatikan profil wajah :
- profil cembung lebih memungkinkan untuk dilakukan pencabutan
- profil datar dan cekung harus hati-hati.

3. Tanggul gigitan anterior


Untuk memperbaiki deep bite karena terjadi intrusi gigi anterior rahang bawah
dan ekstrusi gigi posterior rahang atas yang disebabkan oleh kebiasaan menghisap ibu
jari.
Tanggul gigitan atau bite plane/raiser adalah suatu peninggian yang terbuat
dari akrilik dengan cara memperlebar dan mempertebal pelat landasan di bagian
anterior atau posterior setinggi 2-3mm. Tanggul gigitan anterior merupakan
modifikasi pelat landasan akrilik pada palatum yang berupa penambahan ketebalan
pelat akrilik di daerah gigi insisif rahang atas. Tanggul gigitan anterior akan
berkontak dengan gigi insisif bawah sehingga gigi-gigi posterior tidak berkontak.
Fungsi tanggul gigitan anterior adalah :
1. Memperbaiki gigitan dalam gigi anterior/ anterior deep bite.
2. Membebaskan penguncian antar bonjol untuk perawatan cross bite posterior.

SYARAT TANGGUL GIGITAN ANTERIOR

25
Bidang gigitan dibuat dengan ketinggian tertentu sehingga gigi posterior
terbuka 2-3 mm.
Dibuat cukup lebar, sehingga kontak dengan gigi insisif RB.

Macam-macam tanggul gigitan anterior :


Tanggul gigitan anterior datar (900), menghasilkan komponen daya seluruhnya
ke apikal.

Tanggul gigitan anterior sudut 300 terhadap bidang insisal/oklusal,


menghasilkan komponen daya ke antrior : ke apikal = 1 : 2.
15

Tanggul gigitan anterior sudut 450 terhadap bidang insisal/oklusal,


26
menghasilkan komponen daya ke anterior : ke apikal = 1 : 1.

Tanggul gigitan anterior sudut 600 terhadap bidang insisal/oklusal,


menghasilkan komponen daya ke antrior : ke apikal = 2 : 1
.

DAFTAR PUSTAKA
27
Robert N. Staley D.D.S., M.A., M.S. 2011. Essentials of Orthodontics - Diagnosis and
Treatment . Blackwell Publishing, Ltd.

Foster T.D. Buku Ajar Ortodonti. Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1997

William J.K. Prinsip dan Praktik Alat-alat Ortodonti Cekat. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2000 : 1-8

Van der Linden, Frans P.G.M. 1987. Diagnosis and Treatment Planning in Dentofacial
Orthopedics. London. Quintentessense Publishing Co. Ltd.

Wayan Ardhana, Identifikasi Perawatan Ortodontik Spesialistik dan Umum, Bagian


Ortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Siti Bahirrah, Pergerakan Gigi Dalam Bidang Ortodonsia Dengan Alat Cekat , Bagian
Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara

28

Anda mungkin juga menyukai