Anda di halaman 1dari 4

OSILOSKOP

Rosaldi Pratama* (140310170014), Muhamaad Andreansyah (140310170016)


Program Studi Fisika FMIPA Universitas Padjadjaran
Jum’at, 19 April 2019

Asisten: Ida Farida Antika

Abstrak

Pada percobaan osiloskop ini yang bertujuan untuk menentukan besar tegangan power supply,
menghitung frekuensi power supply, mengetahui beda sudut fase sinyal input dan output
pada rangkaian RC, menghitung frekuensi resonansi pada rangkaian RLC, dan mengetahui
sejauh mana pengaruh resistor terhadap peredaman tegangan pada rangkaian
RLC. Osiloskop adalah alat yang digunakan untuk mengamati sinyal masukan ke sistem
osiloskop dalam bentuk grafik atau kurva. Osiloskop dapat memberikan informasi berupa
amplitudo, perioda, beda sudut fasa pada rangkaian listrik dan periodik. Dalam praktikum ini
dilakukan 7 kali percobaan berbeda yaitu mempelajari tombol dalam osiloskop, kalibrasi
osiloskop, pengukuran tegangan dan frekuensi power supply, frekuensi dengan lissajous,
beda sudut fasa dari sinyal input dan output rangkaian RC, beda sudut fasa dan frekuensi
resonansi pada rangkaian RLC dan tahanan sebagai peredam. Dari hasil percobaan didapat
tegangan power supply sebesar 5 V dan 5,93 V diukur dengan osiloskop untuk input masing
masing 4 V dan 6 V dari trafo. Frekuensi power supply didapat sebesar 46,52 Hz dengan KSR
sebesar 7,46 %. Adapun beda sudut fasa untuk untuk rangkaian RC mendekati presisi dengan
nilai sudutnya sebesar 15,3°. Pada rangkaian RLC didapatkan frekuensi resonansi sebesar
7.268,08 Hz. Dan hubungan antara redaman (hambatan) dengan tegangan osiloskop adalah
berbanding terbalik.
Kata kunci: Osiloskop, lissajous, frekuensi resonansi.

I. Pendahuluan Terdapat dua jenis osiloskop berdasarkan


pengolahan sinyalnya yaitu osiloskop analog dan
Osiloskop adalah alat yang digunakan untuk osiloskop digital.
mengamati bentuk sinyal yang masuk ke sistem Osiloskop analog memakai Cathode Ray
osiloskop dalam bentuk gambar atau kurva. Sinyal Tube yang memanfaatkan pelepasan elektron
yang diamati dapat berasal dari suatu rangkaian catoda yang akan ditembakan ke layar untuk
tertentu yang memiliki karakteristik tersendiri dijadikan sebagai sebuah grafik.
terhadap sinyal input dan outputnya. Hal ini sangat
penting mengingat penggunaan rangkaian atau
komponen ini sangat bergantung pada
karakteristiknya. Hasil gambar atau kurva sinyal ini
dapat digunakan untuk menentukan atau
menghitung besaran besaran gelombang.
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan besar
tegangan power supply, menghitung frekuensi
power supply, mengetahui beda sudut fase
Gambar 1.1 Cathode ray tube
sinyal input dan output pada rangkaian RC,
menghitung frekuensi resonansi pada rangkaian
Elektron akan lepas dari katoda karena
RLC, dan mengetahui sejauh mana pengaruh
pemanasan filamen dan akan menuju anoda yang
resistor terhadap peredaman tegangan pada
akan mempercepat pergerakannya. Elektron
rangkaian RLC. Osiloskop adalah alat ukur
masuk ke daerah defleksi yang akan mengatur titik
elektronika yang dapat memetakan atau
elektron yang akan dituju di layar yang akan
memproyeksi sinyal listrik dan frekuensi menjadi
menjadi sebuah bentuk grafik.
gambar grafik agar dapat dibaca dengan mudah[1].
Lissajous adalah sebuah penampakan pada
layar osiloskop yang mencitrakan perbedaan atau
perbandingan beda fasa, frekuensi, dan amplitudo
dari dua buah gelombang input pada probe
osiloskop[2].
Jika terdapat dua buah input sinyal, X dan Y
maka hubungan frekuensi keduanya dalam 2.2 Prosedur
lissajous adalah
𝑓𝑥 𝑛
= (2.1)
𝑓𝑦 𝑚
Dimana 𝑓𝑥 adalah frekuensi sinyal X, 𝑓𝑦 adalah
frekuensi sinyal Y, n adalah jumlah loop arah
vertikal, dan m adalah jumlah loop arah horizontal.
Apabila terdapat arus bolak balik yang dialirkan
pada rangkaian RC maka output rangkaian tersebut
memiliki pergeseran sudut fasa terhadap inputnya.

Gambar 1.2 Rangkaian RC


Beda sudut fasa ini dapat dihitung dengan
persamaan[3]
1
𝑡𝑎𝑛∅ = ( 2.2)
𝜔𝑅𝐶
Selain itu beda fasa dapat ditentukan dengan
menggunakan lissajous dengan menginputkan dua
sinyal X dan Y seperti gambar 1.2 dan akan
membentuk sebuah ellipse.

Gambar 1.3 Lissajous dalam menentukan beda fasa


Persamaan beda fasa untuk gambar lissajous
pada adalah
𝑏
𝑠𝑖𝑛∅ = (2.3)
𝐵

II. Metode Penelitian


Gambar 2.2 Prosedur Percobaan Osiloskop
2.1 Alat dan Bahan
Pada percobaan ini terdapat tujuh percobaan
Terdapat beberapa alat dan bahan utama dalam yaitu, percobaan pertama adalah mempelajari
percobaan ini yaitu osiloskop, berfungsi sebagai alat tombol-tombol yang terdapat pada osiloskop. Yang
pengamat bentuk grafik dari sinyal; power supply, kedua adalah mempelajari bagaimana cara
sebagai sumber arus searah DC; frekuensi counter, mengkalibrasi osiloskop. Percobaan ketiga,
sebagai pengatur frekuensi sinyal input dengan arus mengukur tegangan dan frekuensi. Percobaan ini
AC; rangkaian RC, sebagai komponen yang akan dilakukan dengan menghubungkan sinyal lisrik
diamati beda fasanya; indukto, sebagai komponen keluaran dari trafo dengan osiloskop. Selanjutnya
dalam merangkai rangkaian RLC; dan variabel amplitudo serta perioda diukur. Percobaan dilakukan
resistor, sebagai tahanan bagi rangkaian RLC untuk dengan memvariasikan besar tegangan keluaran trafo
mengamati pengaruhnya terhadap peredaman (4 V dan 6 V). Dengan variasi pada masing – masing
sinyalnya. tegangan keluaran adalah variasi nilai volt/div dan
atau time/div sebanyak 5 kali. Data yang kita
dapatkan adalah amplitudo (div), T (div), v/div, dan
T/div.
Lalu, percobaan keempat adalah menentukan
nilai frekuensi dengan lissayous. Percobaan ini
dilakukan dengan dua buah input sinyal listrik, yang
berasal dari osilator dan trafo. Dengan
menggabungkan kedua sinyal ini dengan metode
lissayous, maka terbentuklah pola lissayous. Dari
pola yang terbentuk kita dapat mengetahui
perbandingan nx dan ny serta frekuensi osilator (fy).
Gambar 2.1 Osiloskop
Percobaan kelima adalah mengukur beda fasa dari Tabel 3.5 Data Pengamatan Tegangan dengan
dua sinyal. Rangkaian yang digunakan adalah redaman
rangkaian RC. Nilai frekuensi yang digunakan
divariasikan mulai 200 Hz hingga 1000 Hz. Dengan
membandingkan ketinggian elips di pusat (b) dengan
ketinggian maksimumnya (B) maka beda fasa kedua
sinyal dapat dihitung.
Percobaan keenam adalah mengenai resonansi
listrik. Rangkaian yang digunakan adalah rangkaian
RLC seri. Dari hasil penggabungan sinyal, resonansi
ditentukan dengan membandingkan b dan B
pula.Variasi yang digunakan dalam percobaan ini
adalah 3000, 4000, 5000, 6000, 7000, 8000, 9000,
dan 10000 dalam satuan Hz Untuk percobaan
terakhir adalah mengenai tahanan sebagai peredam.
Rangkaian yang digunakan adalah rangkaian RLC.
Percobaan dilakukan dengan memvariasikan nilai
Rbox yang digunakan yaitu 10 ohm, 20 ohm, dan 30
ohm.

III. Hasil dan Pembahasan


3.1 Data Percobaan dan Pengolahan Data

Tabel 3.1 Data Pengamatan Tegangan dan frekuensi


power supply
Grafik 3.1 hubungan sudut dengan frekuensi

Tabel 3.2 Data Pengamatan Frekuensi Lissayous

Tabel 3.3 Data Pengamatan Beda Sudut Fasa Grafik 3.2 hubungan tegangan dengan orde
gelombang
Pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
Untuk tegangan trafo 4 volt
1. Menghitung tegangan
𝑉 = 𝑉𝑂𝐿𝑇/𝐷𝐼𝑉 × 𝐷𝐼𝑉
𝑉 = 1 × 5 = 5 𝑉𝑜𝑙𝑡
2. Menghitung periode
𝑇 = 𝑇𝐼𝑀𝐸/𝐷𝐼𝑉 × 𝐷𝐼𝑉
Tabel 3.4 Data Pengamatan Beda Sudut Fasa 𝑇 = 5 × 4 = 0,02 𝑠
resonansi 3. Menghitung frekuensi osiloskop
1 1
𝑓= = = 50 𝐻𝑧
𝑇 0,02
4. Menghitung frekuensi lissayous
𝑛 1
𝑓𝑥 = × 𝑓𝑦 = × 50 = 50 𝐻𝑧
𝑚 1
5. Menghitung KSR frekuensi lissayous
𝑓𝑦𝑙𝑖𝑡 − 𝑓𝑦ℎ𝑖𝑡
𝐾𝑆𝑅 = | | × 100%
𝑓𝑦𝑙𝑖𝑡
50 − 46,52
=| | × 100%
50
= 7,46%
6. Menghitung beda sudut fasa saat fx = 200 Hz menunjukkan hubungan saling berbanding terbalik
𝑏 0,2 anatara tegangan dengan hambatannya.
𝑠𝑖𝑛𝜃 = = = 0,0625
𝐵 3,2
𝜃 = 𝑎𝑟𝑐 sin(0,0625) = 3,583°
7. Menghitung sudut fasa frekuensi resonansi
𝑏 0,6
IV. Kesimpulan
𝑠𝑖𝑛𝜃 = = = 0,1875
𝐵 3,2 Dari percobaan yang dilakukan dapat
𝜃 = 𝑎𝑟𝑐 sin(0,1875) = 10,8069° disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
8. Menghitung frekuensi sudut 1. Osiloskop bekerja menggunakan prinsip tabung
1 1
𝜔= = = 45643,5 𝑟𝑎𝑑/𝑠 sinar katoda yang mana berkas elektron ditembakkan
√𝐿. 𝐶 √0,0048. 10−7 dan dibelokkan oleh pelat defleksi vertikal dan
9. Menghitung frekuensi horizontal dan terpendar pada layar fluorescens
𝜔 45643,5 sehingga menghasilkn citra gambar.
𝑓= = = 7.268,08 𝐻𝑧 2. Besar tegangan power supply dapat diukur melalui
2𝜋 2(3,14)
osiloskop yaitu besar amplitudo (div) dan skala
v/div. Tegangan yang diperoleh yaitu sekitar 5,93
volt.
3.2 Analisa 3. Besar frekuensi power supply yang didapat yaitu
46,52 Hz dengan KSR sebesar 7,46 %.
Pada percobaan pertama yaitu mengukur 4. Beda sudut fasa rata-rata yang dihasilkan pada
tegangan dan frekuensi dilakukan pengukuran div percobaan ini yaitu 15,3o.
untuk satu gelombang dengan tegangan trafo yang 5. Frekuensi resonansi yang dihasilkan terjadi saat
divariasikan yaitu 4 V dan 6 V. Arah horizontal beda sudut fasa paling kecil yaitu sebesar 7.268,08 Hz.
didapatkan perioda dan arah vertikal didapatkan 6. Semakin besar nilai resistor maka redaman yang
tegangan. Untuk tegangan didapatkan nilai yang dihasilkan semakin besar menyebabkan semakin
berbeda-beda antara tegangan trafo. Tegangan yang kecil tegangannya.
terukur pada osiloskop dan tegangan yang terukur
pada trafo. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh Daftar Pustaka
ketidakakuratan dalam menghitung div yang terlihat.
Tetapi perbedaan yang terjadi tidak terlalu besar. [1] Manik, Hendra. 2010. Osiloskop. Bogor: IPB
Kemudian untuk frekuensi didapatkan dari perioda [2] Baufal, Adhitia. 2014. Lissajous. URL:
yang terbaca pada osiloskop dengan nilai sebesar http://www.academia.edu/8659534/Lissajous_-
49,4 Hz. Ini_adalah [Diakses 18 April 2019]
Pada prosedur kedua, yaitu menentukan [3] Ramdhani, Mohamad. 2005. Rangkaian Listrik.
frekuensi dengan lissayous, kita menentukan Bandung : STT Telkom
frekuensi power supply dengan lissayous berupa
frekuensi sinyal masuk (fx). Jumlah loop pada arah
vertikal (m) dan jumlah loop pada arah horizontal (n).
Kemudian frekuensi power supply didapat dari
perbandingan banyak loop vertikal terhadap banyak
loop horizontal. Dimana sebanding dengan
perbandingan frekuensi sinyal input x dan frekuensi
output y. Didapatkan frekuensinya adalah sebsar 46,
52 Hz dengan KSR sebesar 7,46 %.
Pada percobaan ketiga dan keempat dilakukan
penentuan beda sudut fasa menggunakan persamaan
θ = arc sin b/B. Beda sudut fasa dapat dihitung karena
arus bolak-balik yang masuk kedalam rangkaian. Di
percobaan keempat ditentukan juga nilai frekuensi
resonanisnya yang mana didapat nilainya sebesar
7.268,08 Hz saat beda sudut fasa minimum. Grafik
yang dihasilkan adalah tidak simetris artinya
hubungan antara frekuensi dengan beda sudut fasa
adalah tidak menentu atau acak, karena adanya suatu
frekuensi resonansi pada saat beda sudut fasa
tertentu.
Pada percobaan kelima dilakukan penentuan
nilai tegangan pada saat diberi suatu redaman dari
hambatan box yang bernilai 10 ohm, 20 ohm, dan 30
ohm. Didapatkan hasil semakin besar
redaman/hambatannya, maka semakin kecil
tegangannya, terlihat juga pada grafiknya