Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN

SISTEM HYDRANT

KELOMPOK : 06
NAMA : MILKA SUCI ICHA PUTRI
NRP : 0516040050

KELAS : K3-4B

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, keselamatan dan
kesehatan di tempat kerja menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan kerugian yang
dialami apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Walaupun perkembangan
teknologi semakin pesat, kejadian kebakaran tetap meningkat dan tidaklah berkurang
(Depnaker, 1987). Fenomena Kebakaran sering sekali terjadi dan fenomena ini sangat
berlangsung sangat cepat tanpa diketahui asal muasal sumber kebakaran tersebut.
Kebakaran dapat terjadi dimana saja, api yang menyambar tidak pandang bulu. Entah
itu bangunan beton yang kokoh ataupun bangunan yang hanya terbuat dari bambu.
Berdasarkan Situs Masyarakat Profesi Proteksi Kebakaran Indonesia (MP2KI),
kebakaran yang terjadi di DKI Jakarta dari Tahun 1998-2008 sebanyak 8243 kasus
dengan kerugian mencapai kurang lebih 1,2 triliun rupiah.
Tabel 1.1 Data dan Kerugian Kejadian Kebakaran

Dalam menanggulangi kebakaran banyak alat yang dapat digunakan. Pasir,


karung goni, air, dan sebagainya adalah jenis alat pemadaman tradisional. Selain itu
juga terdapat alat pemadam modern. Salah satunya adalah dengan menggunakan
hydrant. Hydrant adalah system perlindungan api aktif yang disediakan di sebagian
wilayah perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan yang memiliki pasokan air cukup yang
memungkinkan petugas pemadam kebakaran menggunakan pasokan air tersebut untuk
memadamkan kebakaran.
Sumber air hydrant berasal dari tempat penampungan air tersendiri atau saluran
air lainya yangdialirkan melalui pompa dan didistribusikan menggunakan pipa.
Sebagai Mahasiswa Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pengetahuan
tentang hydrant ini sangat penting yang nantinya akan diaplikasikan di dunia kerja.
Untuk itu perlu diadakannya praktikum hydrant dengan baik dan sesuai prosedur.

1.2. Tujuan
TIU : Mampu mengaplikasikan teori pemadaman
TIK : Mampu memahami tentang prosedur pemakaian Hydrant system dan dapat
memadamkan kebakaran dengan hydrant system

1.3. Manfaat
1.3.1. Manfaat Subyektif
Sebagai salah satu syarat untuk melakukan praktikum Sistem Pencegahan dan
Penanggulangan Kebakaran dengan judul Hydrant di Politeknik Perkapalan
Negeri Surabaya.
1.3.2. Manfaat Obyektif
Sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan khususnya dalam usaha
penggunaan system pemadam kebakaran yakni system hydrant
BAB 2
DASAR TEORI

2.1. Definisi Hydrant


Definisi hydrant adalah suatu alat yang dilengkapi dengan selang (fire house) dan
mulut pancar (noozle) untuk mengalirkan air bertekanan yang digunakan untuk
keperluan pemadaman kebakaran. (KepMen.PU no.12/KPTS/1985).

Instalasi hydrant kebakaran adalah suatu system pemadam kebakaran tetap yang
mengggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa- pipa dan
selang kebakran. System ini terdiri dri persediaan air, pompa, perpipaan, coupling
outlet dan inlet serta selang dan nozzle.

Menurut Departemen Tenaga Kerja dalam bukunya yang berjudul Training


Materi K3 Bidang Penanggulangan Kebakaran tahun 1996, Hyrant adalah suatu system
pemadam kebakaran tetap yang menggunakan media pemadaman air bertekanan yang
dialirkan melalui pipa-pipa dan selang kebakaran.

System hydrant adalah suatu system/rangkaian/jaringan perpipaan untuk


menyalurkan air yang digunakan sebagai sarana pemadam kebakaran

Gambar 2.1 Peralatan Hydrant


(Sumber: https://firehydrant.id/hydrant-gedung/)
A. Macam-macam Hydrant
Berdasarkan tempat/lokasinya system hydrant kebakaran dibagi menjadi tiga
macam yaitu:
1. Sistem hydrant gedung
Hydrant gedung merupakan hydrant yang terletak atau dipasang di dalam
bangunan dan system serta peraatannya disediakan atau dipasang oleh pihak
pengelola bangunan/gedung terebut.

Gambar 2.2 Instalasi Hidran Gedung


(Sumber: https://egsean.com/prinsip-kerja-pompa-hydrant-pada-gedung/)
Berdasarkan penggunaanya hydrant jenis ini diklasifikasikan kedalam tiga
kelompok, yaitu:
a. Hydrant kelas I
Merupakan hydrant yang dilengkapi dengan selang berdiameter 2,5 “yang
penggunaanya diperuntukkan secara khusus bagi petugas pemadam kebakaran
atau orang yang lebih terlatih.

Gambar 2.3 hydrant kelas I


(Sumber: https://www.slideshare.net/ekokiswantoslide/materi-pelatihan-
hydrant-1)
b. Hydrant kelas II
Merupakan hydrant yang dilengkapi dengan selang berdiameter 1.5” 5yang
penggunaanya diperuntukkan bagi penghuni gedung atau para petugas yang
belum terlatih.

Gambar 2.4 Hydrant kelas II


(Sumber: https://www.slideshare.net/ekokiswantoslide/materi-pelatihan-
hydrant-1)

c. Hydrant kelas III


Merupakan hydrant yang dilengkapi dengan selang
berdiameter gabungan antara hydrant kelas I dan Hydrant Kelas II.

Gambar 2.5 Hydrant Kelas III


(Sumber: https://www.slideshare.net/ekokiswantoslide/materi-pelatihan-
hydrant-1)

2. System Hydrant Halaman


Hydrant halaman merupakan hydrant yang terletak di luar / lingungan
bangunan instalasi dan peralatan serta sumber air disediakan oleh pihak
pemilik/pengelola bangunan atau gedung
Gambar 2.6 Hidran Halaman
(Sumber: https://firesystem.id/t/manfaat-hydrant/)
3. System Hydrant Kota
Hydrant kota merupakan hydrant yang terpasang di tepi atau sepanjang
jalan daerah perkotaan yang dipersiapkan sebagai prasarana kota oleh
pemerintah Daerah setempat guna menanggulangi bahaya kebakaran. Persediaan
air untuk hydrant jenis ini dipasok oleh Perusahaan Air Minum setempat.

Gambar 2.5 Hydrant kota

(Sumber: http://wartakota.tribunnews.com/2014/10/02/200-hidran-di-kota-bogor-tak-
berfungsi)
2.2. Komponen-komponen Hydrant System
a.Hydrant Pilar
Merupakan bagian peralatan dari instalasi pipa hydrant yang terletak diluar
bangunan yang dapat dihubungkan dengan selang kebakaran.

Gambar 2.6 Pilar hydrant


(Sumber: https://en.indotrading.com/product/fire-hydrant-p324165.aspx)
b. Selang Hydrant
Merupakan alat yang digunakan untuk mengalirkan air yang bersifat flexible.
Gambar 2.7 Selang hydrant

(Sumber: http://www.tekadjaya.com/fire-hose-hooseiki-surabaya/78.html)
c.Siamese connection
Merupakan bagian peralatan dari instalasi pipa hydrant yang terletak di luar
bangunan dan digunakan untuk menyuplai air dari mobil kebakaran.

Gambar 2.8 Siamese connection


(Sumber: https://patigeni.com/project-view/fire-hydrant-siamese-connection-
guardall/

d. Nozzle
Merupakan suatu alat penyemprot yang terletak pada bagian ujung dari selang
yang digunakan untuk pengaturan pengeluaran air.

Gambar 2.8 Nozzle


(Sumber: https://patigeni.com/fire-hydrant-nozzle/)
e.Hydrant box
Ialah bagian peralatan dari sistem hydrant yg berisi kran, slang dan nozle.
Gambar 2.9 Hydrant Box

(Sumber: https://www.bromindo.com/portfolio/hydrant-box/)
f. Hose reel
Ialah slang yg digunakan utk mengalirkan air yang pada bagian ujungnya
selalu terpasang nozle secara tetap dihubungkan secara permanen dengan sumber
air bertekanan

Gambar 2.10 Hose reel


(Sumber: https://patigeni.com/hydrant-hose-reel/)

2.3. Bagian-bagian dari system hydrant


A. Persediaan Air
System persediaan air untuk system hydrant adalah sebagai berikut:
1. Sumber air untuk memasok kebutuhan system hydrant kebakaran dapat berasal
dari PAM, sumur dalam, atau kedua-duanya
2. Volume reservoir, sesuai yang diatur dengan ketentuan yang berlaku, harus
diperkirakan berdasarkan waktu pemakaian yang disesuaikan dengan klasifikasi
ancaman bahaya kebakaran bagi bangunan yang diproteksi.
3. Berdasarkan ancaman bahaya kebakaran, maka banyaknya
dapat digunakan untuk lama waktu seperti ditentukan sebagai berikut:
a. Kelas ancaman bahaya kebakaran ringan: 45 menit
b. Kelas ancaman bahaya kebakaran sedang: 60 menit
c. Kelas ancaman bahaya kebakaran berat: 90 menit
4. Bak penampung 9reservoir) untuk perediaan air pada system hydrant dapat
berupa reservoir bawah tanah (ground tank), tangki bertekanan (pressure tank)
atau reservoir atas (gravity tank)
B. Pompa
Merupakan alat yang berfungsi untuk memindahkan air dari bak penampung
(reservoir) ke ujung pengeluaran (pipa/nozzle). Pompa-pompa pada hydrant
setidaknya terdiri atas 1 pompa jockey, 1 unti pompa utama dengan sumber daya
listrik dan generator serta 1 unit pompa cadangan dengan sumber daya diesel.
Spesifikasi pompa untuk kebutuhan hydrant:

a. Kemampuan pompa dalam liter per menit


b. Tempar dimana pompa akan terpasang
c. Temperature dan berat jenis zat cair
d. Panjang pemipaan, banyaknya belokan, dan banyaknya penutup atau kaca
e. Tekanan air pada titik tertinggi/terjauh tidak kurang 4-6 kg/cm
f. Bekerja secara otomatis dan stop secara otomatis
g. Sumber tenaga listrik haryus ada dari generator daryrat dapat bekerja secara
otomatis dalam waktu kurang dari 10 detik bila sumber utama padam.

C. Pemipaan
Rangkaian jaringan pemipaan pada system hydrant terdiri atas:
a. Pipa hisap (suction)
Ialah hydrant yang dilengkapi dengan selang berdiameter 2,5” yang
pengunaanya diperuntukkan secara khusus bagi petugas pemadam kebakaran
atau orang yang terlatih
b. Pipa penyalur
Merupakan pipa yang terentang dari pipa header sampai pipa tegak yang
mmeiliki diameter antara 4,6-8 inchi sesuai dengan besar kecilnya system
hydrant yang dipasang
c. Pipa Header
Pipa ini merupakan tempat bertemunya pipa pengeluaran (discharge) dari pompa
jockey, pompa utama maupun pompa cadangansebelum kemudian ke pompa
penyalur. Diameter pipa ini sekitar antara 6,8-10 inchi.
d. Pipa tegak (riset)
Merupakan pipa yang di[asang vertical dari lantai terbawah sampai dengan lantai
teratas bangunan yang dihubungkan dari pipa penyalur, diameternya bervariasi
sekitar 3,4-6 inchi. Dalam system pada pipa tegak terdapat pipa tega basah (wet
riser), pipa tegak kering (dry riser), dan pipa tegak kering dengan system remote
control.
e. Pipa Cabang
Merupakan pipa yang dihubungkan dari pipa tegak sampai ke titik pengeluaran /
outlet hydrant pada lantai-lantai bangunan. Diameternya sekitar 3-4 inchi.
Dalam merencanakan system perpipaan harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Diameter pipa induk (pipa suction) minimum 15 cm (6 inchi) dan diameter pipa
cabang (pipa discharge ) minimum 10 cm (4 inchi) atau dihitung secara hydrolis
2. Tidak boleh digabungkan dengan instalasi lainnya
3. Pipa berdiameter sampai 6,25 cm (2, 5 inchi) harus menggunakan ulir
4. Pipa berdiameter lebih besar 6,25 cm (2, 5 inchi) harus menggunakan sambungan
las
5. Memasang pipa horizontal
6. Pipa yang menembus beton bangunan harus disediakan selongsong dari besi tuang /
pipa baja dengan kelonggaran minimum 25 mm diluar pipa.
7. Pipa yang dipasang didalam tanah harus memenuhi persyaratan.

2.4. Komponen Sistem Hydrant


Komponen yang merupakan kelengkapan system Hydrant terdiri dari:
1. katup-katup (valve)
2. saklar tekanan (pressure switch)
3. tangki tekanan (pressure tank)
4. Tangki emancing (priming tank)
5.Manometer
6.Kotak hydrant isi1 set selang dan pipa pemancar (nozzle)
7.katup petugas pemadam kebakarn
8.sambungan Dinas Pemadam
Yang harus diperhatikan dalam hydrant system:
a. Perhitungan Hyddraulic Calculation yaitu perhitungan untuk menentukan kapasitas
pompa yang dibutuhkan dalam mensuplai air sesuai dengan design yang ditentukan
b. Suplay air harus mencukupi (NFPA=30 menit, Indonesia= 90 menit)
c. Pompa hydrant harus mempunyai Jokey pump untuk menjaga tekanan selalu ada
dalam pipa, dan pompa utama memakai rangkaian automatis bila tekanan turun,
pompa utama akan jalan secara automatis.
d. Back up engine pimp, bila terjadi kebakaran dan listrik padam.

2.5. Teknik Penggunaan Media Pemadam Kebakaran (Media Pemadam Air)


A. Pancaran Jet
 Pancaran jet utuh (solid stream) adalah pancaran yang berasal dari nozzle-
nozzle yang dari masukan sampai moncongnya tidak ada penghalang kecuali
penyempitan diameter (play-pipe nozzle)
 Pancaran jet lurus (straight stream) adalah ancaran yang berasal dari nozzle yang
antara lubang masukan dengan keluarannya terdapat penghalang, umumnya
pancaran ini berasal dari nozzle yang bisa diatur dari spray sampai dengan jet.

Gambar 2.11 semprotan jet

(Sumber: https://abunajmu.wordpress.com/2013/11/10/pancaran-nozzle-
hydrant/)
Ciri semprotan jet:
1. Jumlah air besar
2. Jangkuan semprotan jauh
3. Untuk kebakaran kelas A seperti pada pemadam kebakaran, rumah, hutan, dll
4. Untuk kelas B secara tidak langsung untuk pendingin tangki
5. Pancaran utuh mempunyai jumlah air yang lebih banyak dibanding dengan
pancaran lurus.
B. Pancaran Tirai (Spray)
1. Jumlah air besar
2. Jangkauan semprotan dekat/pendek
3. Untuk kebakaran kelas A seperti untuk sprinkler
4. Kelas B untuk pendinginan dan dilusi
5. Juga dipakai sebagai perisai air untuk radiasi panas dari api dalam usaha menutup
kerangan, menutup bocoran maupun tugas-tugas penyelamatan
(Sumber: https://abunajmu.wordpress.com/2013/11/10/pancaran-nozzle-hydrant/)
C. Pancaran Kabut (fog)
1. Jumlah air relative sedikit
2. Jangkauan semprotan deket pendek
3. Untuk kebakaran kelas A, B, dan C juga bisa dipakai sebagai perisai air
pecahan/pengurang radiasi pans dari api walaupun tidak sebaik pancaran tirai.

2.6. Pemadaman Kebakaran Hydrant System


A. Aba-aba dalam pelaksanaan pemadam kebakaran

Aba-aba
No Aba-aba peringatan Tindakan
pelaksanaan
Semua berkumpul
1 Satu baris bersap Kumpul membentuk satu baris
bersap
Bersikap tegak (sikap
2 Siap Gerak
sempurna)
Dengan tangan kanan
diskusikan kekanan dan
Setengah lengan lencang
3 Gerak tengok ke knan guna
kanan
meluruskan
Barisan
Semua kembali
4 Tegak Gerak
bersikap siap
Berhitung dari nomor
5 Hitung Mulai
satu sampai habis
6 Kepala Instruktur Gerak Semua anggota
hormat hormat

B. Pembagian Regu dan Tugas

Persiapan Pemadaman
No. Jabatan Pembenahan
Pemadaman kebakaran

1. Memimpin
regunya
1. Membawa/mengum
Membawa 2. Mengecek
pulkan nozzle dan
nozzle dan persiapan
1 Kepala regu connection cabang
connecti on pemadaman
2. Membantu membenahi
cabang 3.Memerintah kan
peralatan
membuka dan
menutup hydrant

1. M
emasng selang ke 1. Melepaskan selang
Membawa hydrant atau dari hydrant atau
Operator kunci hydrant pompa pompa
2
pompa hydrant dan membuka 2. Membuka 2. Mengumpulkan kunci
tutup hydrant atau menutup hydrant dan
kerangan hydrant mentutup hydrant
atau fire pump
1. Menggelar
Membawa selang 1. 5 m 1. Melepas nozzle
3 Nozzle Man selang 1,5 2. Memasang nozzle 2. Mengosongkan selang
inchi 3. Melaksanakan 3. Mengulung selang
pemadaman

1. Menggelang
selang 2. 5 m
2. Meny 1. Melepaskan
sambungan 2. 5 inch
Membawa ambung selang
2. Mengosongkan selang
4 Helper selang 2.5 dengan selang
2, 5 inch
inchi berikutnya
3. Menggulung selang 2.
3.Meneruskan
5 inch
perintah kepala
regu
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN

3.1. Alat dan Bahan


a.Instalasi hydrant kebakaran
b. Selang pemadam kebakaran
c.Nozzle
d. Kunci Pas
e.Bahan bakar
f. Pematik

3.2. Diagram Alir Praktikum


Diagram alir praktikum pemadam kebakaran menggunakan hydrant adalah sebagai
berikut:
Mempelajari dan memahami
prosedur penggunaan hydrant
Melakukan praktikum
sesuai dengan prosedur

Mempersiapkan alat
yang digunakan
untuk praktik
Analisa hasil praktikum

Baris sesuai aba-aba


Gambar 3.1 Diagram alir langkah kerja system
3.3. Prosedur Kerja hydrant
Kepala regu melapor
kepada instruktur atau
dosen

Instruktur/ dosen
memberikan aba-aba
“kerjakan”

setelah aba-aba selesai, jawab perintah


instruktur, regu serempak mengulangi
perintah instruktur “kerjakan” dan
langsung bertindak
1. Mempelajari dan memahami prosedur kerja sistem hidran. Diantaranya
terdapat pada BAB 2 Laporan ini
2. Mempersiapkan alat untuk praktik, diantaranya; instalasi hydrant, selang
pemadam kebakaran, nozzle, kunci pas, bahan bakar, dan pematik
3. Berbaris sesuai aba-aba dari komandan apel atau kepala regu
4. Kepala regu melapor kepada instruktur atau dosen
5. Instruktur/ dosen memberikan aba-aba “kerjakan”
6. Setelah aba-aba selesai, jawab perintah instruktur, regu serempak mengulangi
perintah instruktur “kerjakan” dan langsung bertindak
7. Memulai praktikum sesuai dengan prosedur
8. Menganalisa hasil praktikum

BAB 4
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisa Hasil Praktikum


Pada praktikum pemadaman kebakaran menggunakan sistem hidran yang
bertempat di depan gedung CNC PPNS dilakukan secara beregu dengan
pembagian tugas diantaranya; ketua regu, operator hidran, helper, dan nozzle-man.
Proses dan pembagian tugas diuraikan pada dokumentasi dan penjelasan berikut:
1. Satu Baris Bersap dengan Mengikuti Aba-aba Ketua Regu
Berbaris sebelum melakukan ekseskusi pemadaman bertujuan sebagai
persiapan bahwa baik alat maupun pemadam dalam keadaan lengkap. Adapun
langkah aba-aba dalam berbaris terlampir pada bab 2, dan bab 3 diagram alir.
Dalam kegiatan ini pastikan peralatan sistem hidran telah siap dan diletakkan
di depan peran atau pembagian tugas oleh pemadam, diantaranya; selang
hidran di depan helper, tang untuk membuka pilar hidran di depan operator,
dan nozzle di depan nozzle-man.

Gambar 4.1 Baris bersap


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
2. Menempati Posisi/Tempat Peran Masing-masing
Setelah ketua regu memberikan aba-aba bubar barisan, pemadam berlari
menuju tempat penugasan dengan membawa alat yang telah dipersiapkan di
depannya pada saat berbaris. Nozzle-man berlari menuju dekat titik api di mana
ia akan melakukan penyemprotan, helper dan operator menuju pilar hidran,
serta ketua regu yang berada di antara titik api dan pilar hidran, yang bertujuan
untuk mengkoordinasi tugas semua peran pemadam.
Gambar 4.2 pemadam menuju tempat penugasan
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

3. Pelaksanaan Peran
a. Operator
Hal pertama yang dilakukan oleh operator ialah menghubungkan kopling
female selang dengan pilar hidran. Kemudian operator stand-by menunggu
aba-aba dari ketua regu untuk pembukaan valve hidran,
menaikkan/menurunkan tekanan air melalui perputaran buka-tutup valve,
menghentikan pasokan air yang masuk ke selang atau menutup valve, serta
melepas kopling female selang dari pilar hidran ketika pemadaman telah
selesai dilakukan.

Gambar 4.3 Operator Stand-by


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
b. Helper
Tugas helper yang pertama dilakukan ialah membawa selang yang telah
terhubung dengan pilar menuju ke nozzle-man (menggelar selang).
Kemudian setelahnya memasang kopling male selang dengan nozzle
bersama dengan nozzle-man. Helper juga membantu apabila baik operator
maupun nozzle-man mengalami kesusahan dalam teknis dan pengoperasian
alat hidran.

Gambar 4.4 Helper menuju ke nozzle-man


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
c. Ketua Regu
Ketika selang telah terpasang dengan nozzle, dan posisi nozzle-man telah
siap untuk menyemprotkan air, maka ketua regu memberikan aba-aba
menghadap kepada operator guna membuka valve. Ketua regu juga nantinya
yang memberikan aba-aba kepada operator untuk menambah/mengurangi
tekanan air yang keluar kepada operator, memberikan aba-aba untuk
menutup valve agar pasokan air berhenti mengalir karena pemadaman telah
selesai, serta memberikan arahan pula kepada nozzle-man, karena tugas
ketua regu ialah pusat koordinasi.

Gambar 4.5 Ketua Regu Memberikan Aba-aba untuk Membuka valve


kepada Operator
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
d. Nozzle-man
Bersama helper, nozzle-man memasang kopling male selang dengan nozzle.
Nozzle-man pula yang nantinya akan melepaskan hubungan antara
keduanya. Selanjutnya, nozzle-man akan memainkan peran ketika air yang
berasal dari pilar hidran telah keluar dari nozzle yang dibawanya. Nozzle-
man harus menepatkan sasaran pancaran air kepada titik api kebakaran.
Selanjutnya ia bertugas merubah jenis pancaran air menjadi jet atau spray
sesuai aba-aba dari ketua regu. Dimana spray untuk perisai diri ketika
berpindah menuju sumber api dan jet untuk medamkan langsung ke sumber
api. Posisi spray yang benar adalah ketika air sepenuhnya melindungi
pemadam sehingga benar-benar menjadi perisai, posisi jet yang tepat adalah
ketika tekanan tinggi dan nozzle mengarah ke atas dan tepat mengenai
sumber api. Nozzle-man pula yang bertugas maju atau mundur dalam
pengoperasian selang yang dipegangnya. Apabila nozzle-man mengalami
kesusahan, dapat memanggil helper.

Gambar 4.6 Nozzle-man menyemprotkan air dengan pancaran jet


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

4. Pasca Pemadaman
a. Pengeluaran Air Sisa
Setelah api padam dan valve tertutup sehingga tidak ada lagi air yang
mengalir serta kopling female selang telah terlepas dari pilar hidran,
pemadam harus memastikan bahwa kondisi di dalam selang tidak ada air
yang tersisa sebelum melakukan penggulungan. Akan tetapi pada
kenyataannya akan selalu ada sisa air, oleh karena itu perlu dilakukan
pengeluaran. Pengeluaran air sisa bertujuan sebagai salah satu tindakan
preventive maintenance pada peralatan sistem hidran, juga agar tidak
memberatkan ketika proses penggulungan selang.

Gambar 4.7 Proses pengeluaran air sisa pada selang


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

b. Penggulungan Selang
Penggulungan selang dilakukan sesuai metode flaking dengan penempatan di
atas pundak helper agar efektif dan langsung bisa di bopong kembali ke
tempat semula.

Gambar 4.8 Penggulungan selang di atas pundak helper


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

c. Baris Bersap Pembubaran


Setelah semua pemadam tuntas melakukan tugasnya masing-masing, maka
dilakukan baris bersap kembali dengan membawa dan meletakkan peralatan
yang telah ditanggungjawabi oleh tiap peran pemadam di depan barisan
seperti halnya baris pertama sebelum dilakukan pemadaman. Baris bersap
kedua ini guna melakukan pelaporan kepada instruktur bahwa api telah
berhasil dipadamkan, anggota pemadam lengkap, dan peralatan dalam
keadaan aman.
Gambar 4.9 Baris bersap pembubaran
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
4.2. Pembahasan
Terdapat beberapa kesalahan umum dalam proses pemadaman kebakaran
menggunakan sistem hidran, sehingga hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain
sebagai berikut:
1. Ketika penggelaran selang dilakukan oleh helper, sebaiknya digelar dengan
arah berkelok (tidak lurus) untuk memudahkan pergerakan maju dan mundur
nozzle-man, karena apabila digelar dengan arah lurus pergerakannya akan
terbatas mengingat selang telah berisi air bertekanan yang terus mengalir.
2. Baiknya helper menggelar selang yang ada di pundaknya dengan berlari ke
arah depan (tidak berlari mundur) sembari melepaskan atau menjatuhkan
gulungan demi gulungan selang. Cara ini dinilai lebih efektif dan efisien waktu
daripada selang harus ditempatkan di tanah sehingga helper menggelarnya
dalam kondisi membungkuk.
3. Pada saat setelah selesai memadamkan, setiap anggota pemadam harus
memastikan bahwa peralatan yang telah ditanggungjawabi sebelumnya tidak
boleh ditinggalkan di tempat penugasan begitu saja, atau dengan kata lain
harus selalu dibawa.
4. Ketika pasokan air telah berhenti mengalir, semua anggota harus memastikan
bahwa tidak ada air sisa di dalam selang, sehingga perlu dilakukan pengeluaran
air sisa. Hal ini sebagai salah satu tindakan dari preventive maintenance yang
bertujuan menjaga keandalan dan kualitas alat dari pelapukan.
5. Dalam seluruh proses mengoperasikan selang, hindari terjadinya gesekan
antara selang dengan tanah. Hal ini juga sebagai salah satu tindakan dari
preventive maintenance yang bertujuan menjaga keandalan dan kualitas alat
dari sobekan dan kebocoran akibat gesekan.
6. Dalam proses pemadaman api ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu
arah angin dan medan yang ditempuh. APD yang sesuai dengan safety
induction untuk praktikum ini adalah seperangkat baju praktik, helm safety,
dan sepatu safety. Namun bila pemadaman kebakaran yang dilakukan oleh
pemadam kebakaran tenaga ahli yang terlatih, maka APD yang digunakan
adalah seperangkat baju tahan api, helm safety, masker atau respirator, sepatu
boot safety dan sarung tangan untuk melindungi diri dari bahaya api.

4.3. Keuntungan, dan Kelemahan Sistem Hidran


A. Hydrant digunakan pada saat:
1. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) sudah tidak bisa memadamkan api,
sehingga dapat dikatakan hidran digunakan pada pemadaman kebakaran
besar.
2. Aliran listrik sudah dimatikan/dipadamkan.
3. Jumlah personil sesuai dengan peralatan yang digunakan.
B. Keuntungan menggunakan Hydrant:
1. Mudah didapat dalam jumlah banyak.
2. Mudah diangkut dan dialirkan.
3. Daya serap terhadap panas besar.
4. Daya mengembang menjadi uap besar.
C. Kelemahan menggunakan Hydrant:
1. Tidak bisa untuk kebakaran listrik.
2. Untuk kebakaran minyak harus dengan cara spray dan teknik yang benar.
BAB 5
KESIMPULAN

6.1. Kesimpulan
Instalasi hydrant kebakaran adalah suatu sistem pemadam kebakaran tetap
yang menggunakan media pemadam air bertekanan yang dialirkan melalui pipa-
pipa dan slang kebakaran. Sistem ini terdiri dari sistem persediaan air, pompa,
perpipaan, coupling outlet dan inlet serta selang dan nozzle. Dalam praktikum ini
dilakukan secara beregu dengan pembagian tugas sebagai berikut; ketua regu
sebagai komando perintah dengan aba-abanya, nozzle-man sebagai pembawa dan
pengarah nozzle ke titik api, helper sebagai penggelar dan penggulung selang, serta
operator sebagai pembuka, penutup selang dan juga menaikkan/menurunkan
tekanan air yang keluar dari pilar. APD sangat diperlukan ketika menjalani
praktikum pemadaman api dengan sistem hidran, guna meminimalisir kecelakaan
yang akan terjadi, APD yang digunakan antara lain; seperangkat baju praktik, helm
safety, dan sepatu safety. Namun bila pemadaman kebakaran yang dilakukan oleh
pemadam kebakaran tenaga ahli yang terlatih, maka APD yang digunakan adalah
seperangkat baju tahan api, helm safety, masker atau respirator, sepatu boot safety
dan sarung tangan untuk melindungi diri dari bahaya api.

6.2. Saran
1. Untuk institusi PPNS, sebaiknya dilakukan inspeksi secara rutin guna
mengecek ketersediaan dan kondisi peralatan pemadaman hidran, terutama
pilar hidran seharusnya pada semua titik bisa berfungsi sebagai pasokan air.
2. Untuk praktikan hendaknya tidak bergurau saat melakukan praktikum
pemadaman
DAFTAR PUSTAKA

Pemerintah Indonesia. 2018. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum . Lembaran RI Tahun


1985 No. 12. Jakarta : Sekretariat Negara.

Departemen Tenaga Kerja. 1996. Training Materi K3 Bidang Penanggulangan


Kebakaran.

Pratama, Chalusta Yudha. 2014. Laporan Praktikum SPPK Hydrant System. Jurusan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

BSN. 2000. SNI 03-1745-2000 tentang tata cara perencanaan dan pemasangan sistem
pipa tegak dan selang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan atau
gedung.

Handoko, Lukman.2013.Modul Praktikum Sistem Pencegahan dan Penanggulangan


Kebakaran.Surabaya : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

https://firehydrant.id/hydrant-gedung/ (diakses pada tanggal 5 April 2019)

https://egsean.com/prinsip-kerja-pompa-hydrant-pada-gedung/ (diakses pada tanggal 5


April 2019)

https://www.slideshare.net/ekokiswantoslide/materi-pelatihan-hydrant-1 (diakses pada


tanggal 5 April 2019)

https://www.slideshare.net/ekokiswantoslide/materi-pelatihan-hydrant-1 (diakses pada


tanggal 5 April 2019)

https://www.slideshare.net/ekokiswantoslide/materi-pelatihan-hydrant-1 (diakses pada


tanggal 5 April 2019)

https://firesystem.id/t/manfaat-hydrant/ (diakses pada tanggal 5 April 2019)

http://wartakota.tribunnews.com/2014/10/02/200-hidran-di-kota-bogor-tak-berfungsi
(diakses pada tanggal 5 April 2019)

https://en.indotrading.com/product/fire-hydrant-p324165.aspx (diakses pada tanggal 5


April 2019)

http://www.tekadjaya.com/fire-hose-hooseiki-surabaya/78.html (diakses pada tanggal 5


April 2019)
https://patigeni.com/project-view/fire-hydrant-siamese-connection-guardall/ (diakses
pada tanggal 5 April 2019)
https://patigeni.com/fire-hydrant-nozzle/ (diakses pada tanggal 5 April 2019)
https://www.bromindo.com/portfolio/hydrant-box/ (diakses pada tanggal 5 April 2019)

https://patigeni.com/hydrant-hose-reel/ (diakses pada tanggal 5 April 2019)

https://abunajmu.wordpress.com/2013/11/10/pancaran-nozzle-hydrant/ (diakses pada


tanggal 5 April 2019)

https://abunajmu.wordpress.com/2013/11/10/pancaran-nozzle-hydrant/ (diakses pada


tanggal 5 April 2019)