Anda di halaman 1dari 21

Makalah

Electroencephalogram(EEG)

Disusun oleh:
Ketua: Novil iqbal habibi 1411011005

Anggota :
Linda Andayani 1411011019

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
2015-2016
Kata Pengantar

Segala puji dan rasa syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
dan rahmat-Nya serta hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah
yang berjudul EEG (ELEKTROENSEFALOGRAM). Makalah ini disusun untuk memenuhi
saah satu tugas mata kuliah fisika kesehatan.

Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan
kesalahan karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang peulis kami miliki. Oleh
karena itu, saya mengharapkan kritik dan saranyang bersifat membangun untuk
kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga kebaikan yang telah diberikan dapat menjadi amal soleg dan
ibadah bagi kita semua dan mendapatkan balasan dari ALLAH SWT. Amin.

Kamis, 12 November 2015

Penyusun
Daftar Isi

Halaman Judul..................................................................................................................

Kata Pengantar.................................................................................................................

Daftar Isi...........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................

BAB II EEG(ELECTROENCEPHALOGRAPH)………………………………………

2.1 Sejarah EEG

2.2 Pengertiann EEG

2.3 Tujuan EEG

2.4 Fungsi EEG

2.5 Persiapan sebelum pemasangan

2.6 Prosedur Kerja dari EEG

2.7 Prinsip Kerja EEG

2.8 Pembacaan Hasil

2.9 Sinyal EEG

3.0 Hasil Pemeriksaan EEG

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

Dalam melakukan fungsinya sehari-hari, neuron-neuron yang ada diotak


menghantarkan impuls saraf satu dengan yang lain, baik dari korteks serebri ke perifer
maupun sebaliknya. Aktifitas listrik ini bersifat ritmik, terus menerus dan diduga berasal dari
talamus yang berfungsi semacam pacemaker, yang dipancarkan ke korteks serebri melalui
neuron dan sinaps-sinapsnya. Intensitas kegiatan listrik ini berubah sesuai dengan tingkat
aktivitas otak, tetapi selalu terdapat aktivitas listrik dasar yang bersumber dari talamus tadi.
Untuk merekam aktivitas listrik tersebut, dipakai alat Elektroensefalografi (EEG) yang dapat
merekam aktivitas listrik setelah sampai di korteks.

Otak manusia merupakan sumber dari segala pikiran, emosi, persepsi dan tingkah
laku. Otak terdiri dari jutaan elemen mikroskopik yang disebut saraf yang menggunakan
bahan kimia dalam mengatur aktivitas listrik di dalam otak. Tahapan embrional yang penting
dalam perkembangan otak adalah neurulasi, proliferasi, migrasi, mielinisasi dan
sinatogenesis. Keadaan mulai lahir sampai usia 5 tahun akan terjadi pertumbuhan fisik yang
cepat diikuti dengan perkembangan otak. Maturitas dari otak yang paling tinggi pada batang
otak dan terakhir pada kortek serebri. Setelah usia 5 tahun maka pertumbuhan otak berjalan
lambat, dan progresivitasnya untuk mencapai usia pertengahan masa kanak-kanak biasanya
antara usia 6-8 tahun. Sinaptogenesis terjadi secara cepat pada kortek serebri saat 2 tahun
dari kehidupan. Myelinisai paling cepat saat usia 2 tahun pertama kemudian berlangsung
lebih lambat setelah itu.

Neuron- neuron yang berhubungan (fungsi motorik, sensorik dan kognitif) mengalami
mielinisasi yang besar dimulai saat usia anak masuk sekolah (6 tahun) dan sel saraf area ini
terjadi mielinisasi yang lengkap antara usia 6-12 tahun. Lebih jauh lagi hal ini dekat sekali
hubungannya dengan maturasi hipokampus di mana terjadi mielinisasi pada anak-anak.
BAB II

EEG (ElECTROENCEPHALOGRAPH)

2.1 Sejarah EEG

Richard Caton (1842-1926), seorang dokter yang bekerja di Liverpool,


memperkenalkan temuan tentang fenomena listrik dari belahan otak kelinci dan monyet
dalam British Medical Journal pada 1875. Pada tahun 1890, Adolf Beck, seorang ahli
fisiologi,menerbitkan penelitiannya mengenai aktivitas listrik spontan dari otak kelinci dan
anjing termasuk tentang perubahan osilasi ritmik dengan bantuan cahaya.

Seorang fisiolog dan psikiater dari Jerman yang bernama Hans Berger (1873-1941),
yang bekerja di kota Jena, memulai studinya mengenai EEG pada manusia di tahun
1920. Hans melanjutkan penelitian sebelumnya oleh Richard Caton, Hans Berger kemudian ,
mengumumkan bahwa sangatlah mungkin untuk merekam arus listrik yang lemah yang
dihasilkan oleh otak, tanpa membuka tengkorak, dan hasilnya dapat dilihat di kertas. Hans
menamakan format perekaman penemuannya dengan nama elektroensefalogram. Karyanya
kemudian dikembangkan oleh Edgar Douglas Adrian. Pada tahun 1934. Fisher dan
Lowenbackmerupakan orang pertama yang menunjukkan gambaran lonjakan epileptiform.
Selanjutnya, pada tahun 1936, Jasper Gibbs melaporkan lonjakan interiktal sebagai tanda
fokus epilepsi. Pada tahun yang sama, laboratorium EEG pertama dibuka di Massachusetts
General Hospital. 2,3

Offner Franklin (1911-1999), profesor biofisika di Northwestern University


mengembangkan sebuah prototipe dari EEG yang tergabung dalam inkwriter piezoelektrik
yang disebutCrystograph (seluruh perangkat ini biasanya dikenal sebagaiDynograph
Offner). Pada tahun 1947, society EEG Amerika didirikan dan kongres pertama EEG
Internasional diadakan. Pada tahun 1953 Aserinsky dan Kleitmean menjelaskan mengenai
gelombang REM saat tidur.

Terkesan dengan berbagai kemungkinan untuk membangun peta bidimensional


menyangkut aktivitas EEG di atas permukaan otak maka pada tahun 1950, William Grey
Walter mengembangkan topografi otak dengan nama toposkop. Alat ini memungkinkan
untuk melakukan pemetaan aktivitas listrik di permukaan otak. Toposcope adalah suatu alat
yang kompleks. Toposcope mempunyai 22 tabung sinar katoda (yang serupa dengan tabung
TV), masing-masing di antara tabung sinar katoda itu dihubungkan ke sepasang elektroda
yang dipasang ke tengkorak.. Elektroda diatur di dalam suatu susunan geometri, sehingga
masing-masing tabung bisa melukiskan intensitas dari beberapa irama yang menyusun EEG
di dalam area otak tertentu. Susunan tabung CRT ini, sedemikian rupa sehingga display
phosphorescent spiral menunjukkan secara serempak irama yang menunjukkan bagian
tertentu dari otak.

2.2 Pengertian EEG

Pengertian Electroencephalogram ( EEG) adalah suatu test untuk mendeteksi kelainan


aktivitas elektrik otak (Campellone, 2006). Sedangkan menurut dr. Darmo Sugondo
membedakan antara Electroencephalogram dan Electroencephalografi. Electroencephalografi
adalah prosedur pencatatan aktifitas listrik otak dengan alat pencatatan yang peka sedangkan
grafik yang dihasilkannya disebut Electroencephalogram. Jadi Aktivitas otak berupa
gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut Elektro-Ensefalografi
(EEG). Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan
aktivitas otak saat perekaman. Elektroenchelpalograph/Elektro Enselo Grafi (EEG) adalah
suatu alat yang mempelajari gambar dari rekaman aktifitas listrik di otak, termasuk teknik
perekaman EEG dan interpretasinya. Neuron-neuron di korteks otak mengeluarkan
gelombang-gelombang listrik dengan voltase yang sangat kecil (mV), yang kemudian
dialirkan ke mesin EEG untuk diamplifikasi sehingga terekamlah elektroenselogram yang
ukurannya cukup untuk dapat ditangkap oleh mata pembaca EEG sebagai gelombang alfa,
beta, tetha dan sebagainya.

Electroencephalogram atau EEG merupakan alat yang telah digunakan sejak tahun
1924 untuk mendeteksi kebohongan seorang criminal dari seluruh dunia. Sebuah EEG
digunakan untuk mengetes dan merekam aktivitas elektrik dari otak manusia. Terdapat sensor
khusus (elektroda) yang dipasang di kepala dan dikaitkan dengan kabel ke sebuah computer.
Kemudian computer akan merekam aktivitas elektrik otak ke layar atau kertas dalam bentuk
garis-garis bergelombang. Dalam kondisi tertentu, seperti keterkejutan, dapat dilihat
perubahan hasilnya dalam pola normal aktivitas elektrik otak di layar. Yang tujuannya untuk
mengetahui ada tidaknya abnormalitas fungsi maupun struktur lapisan otak bagian luar.
2.3 Tujuan EEG

Kalangan kedokteran menggunakan sinyal EEG untuk diagnosa penyakit yang


berhubungan dengan kelainan otak dan kejiwaan. Walaupun penggunaan teknik modern
seperti CT Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memeriksa otak, namun EEG
tetap berguna mengingat sifatnya yang non-destruktif, dapat digunakan secara on line dan
sangat murah harganya dibandingkan kedua metoda. Disamping keunggulan lain, sinyal EEG
dapat mengidentifikasi kondisi mental dan pikiran, serta menangkap persepsi seseorang
terhadap rangsangan luar.

2.4 Fungsi EEG

Berikut fungsi EEG :

A. Mendiagnosis epilepsi dan tanda-tandanya.

B. Mengecek permasalahan pada orang yang mengalami kehilangan kesadaran.

C. Mempelajari penyebab susah tidur.

D. Melihat aktivitas otak ketika seseorang menerima obat anestesi selama operasi otak.

E. Membantu orang yang memiliki masalah psikis, seperti rasa gugup, dan kesehatan mental.

F. Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, Infeksi otak, perdarahan otak, parkinson

H.Mendiagnosa Lesi desak ruang lain dan untuk mengetahui kelainan metabolik dan
elektrolit B.

(Jan Nissl, 2006)

2.5 Persiapan Sebelum Pemeriksaan

Sebelum melakukan tindakan EEG, maka pasien ada beberapa hal yang harus dipersiapkan,
diantaranya yaitu :

A. Identitas penderita harus dicatat lengkap

B. Tingkat kesadaran penderita harus dicatat, untuk menghindari salah interpretasi EEG

C. Obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien harus diidentifikasi, oleh karena beberapa obat-
obatan tertentu yang dapat mempengaruhi frekuensi maupun bentuk gelombang otak. -Saat
terbaik perekaman adalah pada saat bebas obat sehingga gelombang otak yang didapat adalah
gelombang otak yang bebas dari pengaruh obat
D. Premedikasi, dosis dan berapa lama sebelum perekaman harus diidentifikasi dengan jelas.

E. Pasien dalam keadaan tenang dan rileks

F. Kulit kepala dalam keadaan bersih, bebas kotoran, debu, minyak dan kulit yang mati.
sampolah rambut serta membilas dengan air bersih saat mandi sore atau pagi hari sebelum di
lakukan test

G. Perhatikan adanya bekas luka, bekas kraniotomi

H. Hindari makanan yang mengandung kafein ( seperti kopi, teh, cola, dan coklat) sedikitnya
8 jam sebelum test. Makanlah dalam porsi kecil sebelum test, sebab gula darah rendah (
hypoglycemia) dapat menghasilkan test abnormal

I. Tidur dapat mempengaruhi hasil EEG maka ushakan agar pasien tidak tertidur saat
dilakukan test, jika anak-anak akan di EEG coba untuk tidur sebentar tepat sebelum
dilakukan test

J. Penyuluhan penderita sebelum perekaman tentang tujuan dilakukannya EEG, apa yang
dilakukan teknisi terhadap dirinya sebelum dan saat perekaman, apa yang harus dilakukan
penderita saat perekaman dan apa yang akan dirasakan oleh penderita saat perekaman.

K. Identifikasi hasil neuroimaging yang sudah dilakukan.

Gambar 1. Pemeriksaan Elektroenchepalograph (EEG

Transformasi sinyal EEG menjadi suatu model, merupakan suatu cara yang sangat
efektif dalam membantu klasifikasi sinyal EEG, mengidentifikasi serta mengestimasi
spektrum sinyal EEG. Sinyal EEG mengandung komponen-komponen tertentu, yang dikenal
sebagai gelombang alfa (8-13 Hz), beta (14-30 Hz), teta (4-7 Hz), dan delta (0.5-3 Hz),
sehingga transformasi sinyal EEG menjadi daerah-daerah frekuensi merupakan hal yang
sangat berguna, terutama dalam identifikasi gelombang-gelombang di otak.

Alfa 8 – 13 Hz Relaks, mata tertutup

Beta > 14 Hz Aktifitas/ berfikir


Teta 4 – 7 Hz Tidur ringan/ stres emosional
Delta 0,5 – 3 Hz Tidur nyenyak

Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai karakteristik empat jenis gelombang otak
yang umumnya muncul pada setiap orang :

Gelombang Beta: Waspada, Konsentrasi. Kondisi gelombang otak Beta (13-30 Hz) menjaga
pikiran kita tetap tajam dan terfokus. Dalam kondisi Beta, otak Anda akan mudah melakukan
analisis dan penyusunan informasi, membuat koneksi, dan menghasilkan solusi-solusi serta
ide-ide baru. Beta sangat bermanfaat untuk produktivitas kerja, belajar untuk ujian, persiapan
presentasi, atau aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan tinggi.

Gelombang Alpha: Kreativitas, Relaksasi, Visualisasi Gelombang otak Alpha (8-13 Hz)
sangat kontras dibandingkan dengan kondisi Beta. Kondisi relaks mendorong aliran energi
kreativitas dan perasaan segar, sehat. Kondisi gelombang otak Alpha ideal untuk perenungan,
memecahkan masalah, dan visualisasi, bertindak sebagai gerbang kreativitas kita.

Gelombang Theta: Relaksasi mendalam, Meditasi, Peningkatan Memori Lebih lambat dari
Beta, kondisi gelombang otak Theta (4-8 Hz) muncul saat kita bermimpi pada tidur ringan.
Atau juga sering dinamakan sebagai mengalami mimpi secara sadar. Frekuensi Theta ini
dihubungkan dengan pelepasan stress dan pengingatan kembali memori yang telah lama.
Kondisi “senjakala” (twilight) dapat digunakan untuk menuju meditasi yang lebih dalam,
menghasilkan peningkatan kesehatan secara keseluruhan, kebutuhan kurang tidur,
meningkatkan kreativitas dan pembelajaran.

Gelombang Delta: Penyembuhan, Tidur Sangat Nyenyak. Kondisi Delta (0.5-4 Hz), saat
gelombang otak semakin melambat, sering dihubungkan dengan kondisi tidur yang sangat
dalam. Beberapa frekuensi dalam jangkauan Delta ini diiringi dengan pelepasan hormon
pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone), yang bermanfaat dalam penyembuhan.
Kondisi Delta, jika dihasilkan dalam kondisi terjaga, akan menyediakan peluang
untuk mengakses aktivitas bawah sadar, mendorong alirannya ke pikiran sadar. Kondisi Delta
juga sering dihubungkan dengan manusia-manusia yang memiliki perasaan kuat terhadap
empati dan intuisi.
Pandangan keliru yang selama ini ada dalam benak banyak orang adalah otak hanya
menghasilkan satu jenis gelombang pada suatu saat. Saat kita aktif berpikir kita berada pada
gelombang beta. Kalau kita rileks kita berada di alfa. Kalau sedang melamun, kita di theta.
Dan, kalau tidur lelap kita berada di delta. Pandangan itu salah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pada suatu saat, pada umumnya, otak kita menghasilkan empat jenis gelombang
secara bersamaan, namun dengan kadar yang berbeda. Misalnya dalam kondisi tidur, otak
kita lebih banyak memproduksi gelombang delta, tapi tetap memproduksi theta, alpha dan
beta walaupun kadarnya sedikit.

Setiap orang punya pola gelombang otak yang unik dan selalu konsisten. Keunikan itu
tampak pada komposisi jenis gelombang pada saat tertentu. Komposisi gelombang otak itu
menentukan tingkat kesadaran seseorang. Meditasi adalah salah satu cara paling kuno untuk
mengatur pola gelombang otak. Sedangkan bagi masyarakat modern yang sibuk,
teknologi Brainwave Entrainment menjadi salah satu cara favorit untuk mengatur pola
gelombang otak agar sesuai dengan kebutuhan.

Sebenarnya, selain 4 jenis gelombang yang kami sebutkan diatas (Delta, Theta, Alpha
dan Beta) masih ada gelombang otak yang lebih tinggi yaitu Gamma dengan frekuensi 40-99
Hz, HyperGamma dengan frekuensi tepat 100 Hz dan gelombang Lambda dengan frekuensi
tepat 200 Hz. Menurut Dr. Jeffrey. D. Thompson, dari Center for Acoustic Research,
gelombang HyperGamma dan Lambda berhubungan dengan kemampuan supranatural,
metafisika atau paranormal.

Sedangkan Gelombang Gamma terjadi ketika seseorang mengalami aktifitas mental


yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan, perebutan kejuaraan,
tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, terburu-buru karena dikejar deadline
pekerjaan atau keadaan lain yang sangat menegangkan bagi orang tersebut.
2.6 Prosedur Cara Penggunaan EEG

Gambar 2. Peletakan Elektroda Pencatat

A. Sebelum melakukan prosedur perekaman EEG sebaiknya diketahui Standard Minimal.

B. Perekaman EEG yaitu memakai minimal 16 channel yang bekerja secara simultan.
Setiap area di otak bisa memberikan pola yang sama atau berbeda pada waktu yang
bersamaan, dan menurut pengalaman diperlukan perekaman pada minimal 8 area di otak
secara simultan untuk mendapatkan distribusi pola EEG. Perekaman dengan 8 channel secara
simultan diperkirakan cukup mencakup permukaan otak untuk menghindari misinterpretasi.

C. Memakai minimal 17 elektrode pencatat. Semua elektroda ini harus mencakup area
frontal, central, parietal, oksipital, temporal, auricular atau mastoid, vorteks dan elektroda
ground.

D. Kedua system monopolar (referensial) dan bipolar (diferensial) harus digunakan secara
rutin. Setiap system montage mempunyai keunggulan dan kekurangan, sehingga penggunaan
kedua system sekaligus adalah esensial untuk mendapatkan informasi yang akurat.

E. Harus ada prosedur buka tutup mata. Aktifitas alfa dapat memberi informasi tentang
fungsi abnormal otak. Aktifitas paroksismal dapat pula dicetuskan oleh prosedur ini.

F. Mesin EEG harus dikalibrasi di awal dan di akhir rekaman. Perubahan setting alat
selama perekaman harus dicatat.
G. Lama perekaman minimal 15-20 menit pada penderita sadar. Bila ada prosedur
stimulasi fotik, hiperventilasi dan tidur maka lama perekaman harus ditambah. EEG adalah
sample waktu dari kehidupan seseorang, dan waktu 20 menit adalah waktu yang sangat
singkat untuk menarik suatu kesimpulan dari suatu kerja atau suatu fungsi otak seseorang.
Oleh karena itu semakin lama perekaman maka semakin besar kemungkinan kita untuk
menemukan abnormalitasnya.

2.7 Prinsip Kerja dari EEG

Elektroda EEG ukurannya lebih kecil daripada elektroda ECG. Elektroda EEG dapat
diletakkan secara terpisah pada kulit kepala atau dapat dipasang pada penutup khusus yang
dapat diletakan pada kepala pasien.

Gambar 3. Elektroda EEG

Untuk meningkatkan kontak listrik antara elektroda dan kulit kepala digunakan elektroda
jelly atau pasta. Bahan elektroda yang umumnya digunakan adalah perak klorida. EEG
direkam dengan cara membandingkan tegangan antara elektroda aktif pada kulit kepala
dengan elektroda referensi pada daun telinga atau bagian lain dari tubuh. Tipe merekam ini
disebut monopolar. Tetapi tipe merekam bipolar lebih populer dimana tegangan
dibandingkan antara dua elektroda pada kulit kepala. Berikut ini diperlihatkan blok diagram
dari peralatan EEG.
Gambar 4. Blok Diagram Peralatan EEG

A. Amplifier

Amplifier digunakan karena EEG harus memiliki penguatan yang tinggi dan karakteristik
noise yang rendah sebab amplitudo tegangan EEG sangat rendah. Amplifier yang digunakan
harus bebas dari interferensi sinyal dari kabel listrik atau dari peralatan elektronik yang lain.
Noise sangat berbahaya di dalam kerja EEG karena gelombang elektroda yang dilekatkan
pada kulit kepala hanya beberapa mikrovolt ke amplifier. Amplifier digunakan untuk
meningkatkan amplitudo hingga beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali dari sinyal yang lemah
yang hanya beberapa mikrovolt. Rangkaian dalam sederhana dari amplifier EEG
diperlihatkan pada Gambar 3.

B. Kontrol Sensitivitas

Keseluruhan sensitivitas dari sebuah alat EEG adalah penguatan dari amplifier dikalikan
dengan sensitivitas dari alat penulisan. Jika sensitivitas alat penulisan adalah 1 cm/V,
amplifier harus mempunyai keseluruhan penguatan 20.000 untuk 50 μV sinyal untuk
memantulkan untuk menghasilkan nilai penguatan diatas.

Langkah-langkahnya adalah kapasitor digabungkan. Sebuah alat EEG mempunyai dua tipe
dari kontrol penguatan. Pertama adalah variabel kontinu dan digunakan untuk menyamakan
sensitivitas semua channel. Kedua adalah kontrol beroperasi sejalan dan dimaksudkan untuk
meningkatkan atau mengurangi sensitivitas dari suatu channel oleh sesuatu yang dikenal.
Kontrol ini biasanya dikalibrasi dalam desibel. Penguatan amplifier normalnya diset
sehingga sinyalnya sekitar 200 μV dipantulkan pena diatas daerah linearnya.

C. Filter

Ketika direkam oleh elektroda, EEG mungkin berisi kerusakan otot dalam kaitannya dengan
kontraksi dari kulit kepala dan otot leher. kerusakannya besar dan tajam sehingga
menyebabkan kesulitan besar dalam klinik dan interpretasi otomatis EEG. Cara paling
efektif untuk mengurangi kerusakan otot adalah dengan menyarankan pasien untuk rileks,
tapi ini tidak selalu berhasil. Kerusakan ini umumnya dihilangkan menggunakan low pass
filter. Filter pada alat EEG mempunyai beberapa pilihan posisi yang biasanya ditandai
dengan tetapan waktu. Suatu nilai satuan tetapan waktu yang diset untuk kontrol frekuensi
rendah adalah 0,03; 0,1; 0,3; dan 1,0 detik. Tetapan waktu ini sesuai dengan 3 dB menunjuk
pada frekuensi 5,3; 1,6; 0,53; dan 0,16 Hz. Di atas frekuensi cut-off dan dikontrol dengan
filter high- frekuensi. Beberapa nilai dapat dipilih, diantaranya adalah 15, 30, 70, dan 300 Hz.

D. Sistem Penulisan

Sistem penulisan pada EEG umumnya menggunakan sistem ink writing tipe direct-writing ac
recorder yang menyediakan respon frekuensi hingga 60 Hz pada 40 mm puncak ke puncak.
Tipe umum dari direct-recorder adalah tipe stylus yang langsung menulis pada kertas yang
digerakkan di bawahnya. Pada umumnya di dalamsistem direct-writing recorder, digunakan
galvanometer yang mengaktifkan lengan penulis yang disebut pen atau stylus.

Mekanismenya dimodifikasi dari pergerakan D’Arsonval meter. Sebuah kumparan dari kawat
tipis berputar pada suatu bingkai aluminium segi-empat dengan ruang udara antara kutub
suatu magnet permanen. Poros baja yang dikeraskan dikaitkan dengan bingkai kumparan
sedemikian sehingga kumparan berputar dengan friksi minimum. Paling sering, jewel dan
poros digantikan oleh taut- band sistem. Suatu pen ringan terikat dengan kumparan. Spring
berkait dengan bingkai mengembalikan pen dan kumparan selalu ke suatu titik acuan. Ketika
listrik mengalir sepanjang kumparan, suatu medan magnet timbul yang saling berhubungan
dengan medan magnet dari magnet permanen. Hal itu menyebabkan kumparan mengubah
sudut posisinya seperti pada suatu motor listrik. Arah perputaran tergantung dari arah aliran
arus di dalam kumparan. Besar defleksi dari pen adalah sebanding dengan arus yang mengalir
melalui kumparan.

Penulisan stylus dapat mempunyai tinta di ujungnya atau dapat mempunyai suatu ujung yang
menjadi kontak dengan suatu sensitif elektro, tekanan yang sensitif atau panas kertas sensitif.
Jika suatu penulisan lengan dari panjang yang ditetapkan digunakan, sumbu koordinat akan
menjadi kurva. Dalam rangka mengkonversi kurva linier dari ujung penulisan ke dalam kurva
gerak lurus, berbagai mekanisme telah dipikirkan untuk mengubah panjang efektif dari
lengan penulisan sehingga bergerak ke tabel perekaman.
Instrumen taut-band lebih disukai dibandingkan dengan instrumen poros dan jewel karena
lebih menguntungkan untuk meningkatkan sensitivitas listrik, mengeliminasi friksi, lebih
baik pengulangannya dan meningkatkan daya tahannya.

E. Noise

Amplifier EEG dipilih untuk level minimum derau yang dinyatakan dalam kaitan dengan
ekuivalen tegangan masuk. Dua mikrovolt sering dinyatakan dapat diterima oleh perekam
EEG. Noise berisi komponen dari semua frekuensi dan perekaman noise dapat meningkatkan
bandwith dari sistem. Oleh karena itu, penting untuk membatasi bandwith yang dibutuhkan
untuk menghasilkan sinyal.

F. Penggerak Kertas

Hal ini disediakan oleh suatu motor sinkron. Sebuah mekanisme penggerak kertas yang stabil
dan akurat perlu dan normal untuk mempunyai beberapa kecepatan kertas yang tersedia untuk
dipilih. Kecepatan pada 15, 30, dan 60 mm/s penting. Beberapa mesin juga menyediakan
kecepatan di luar daerah ini.

G. Saluran

EEG direkam secara serempak dari sebuah susunan yang terdiri atas banyak elektroda.
Elektroda dihubungkan untuk memisahkan amplifier dan sistem penulisan. Mesin EEG
komersial dapat memiliki sampai 32 saluran, walaupun 8 atau 16 saluran lebih umum.

2.8 Pembacaan Hasil

Mendapatkan rekaman EEG yang baik dan benar adalah salah satu dari tujuan utama
dari pemeriksaan EEG selain interpretasi yang benar. EEG adalah alat untuk menunjang
tegaknya diagnosa, selama kita dapat memperoleh rekaman yang baik dan benar. Rekaman
yang tidak baik justru akan menyesatkan tegaknya diagnosa.

Gambar 6. Hasil Pemeriksaan EEG


2.9 Sinyal Electroencephalogram (EEG)

Pada pembacaan hasil EEG perlu diperhatikan :

A. Lokasi / distribusi
B. Frekuensi
C. Pola / gambaran khas
D. Usia
E. Bangun
F. Tidur
Sinyal EEG dapat diketahui dengan menggunakan elektroda yang dilekatkan pada kepala.
Tegangan sinyalnya berkisar 2 sampai 200 μV, tetapi umumnya 50 μV. Frekuensinya
bervariasi tergantung pada tingkah laku. Daerah frekuensi EEG yang normal rata-rata dari 0,1
Hz hingga 100 Hz, tetapi biasanya antara 0,5 Hz hingga 70 Hz. Variasi dari sinyal EEG yang
terkait dengan frekuensi dan amplitudo mempengaruhi diagnostik. Daerah frekuensi EEG
dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian untuk analisis EEG, yaitu

1. Gelombang di posterior :

a. Gelombang Alpha

Gelombang alfa mempunyai frekwensi 8-12 siklus per detik. Gelombang alfa terlihat normal
pada saat bangun dan mata tertutup (tidak tertidur)

Distribusi : bagian posterior kepala (oksipital, parietal dan temporal posterior) dapat meluas
ke sentral, verteks dan midtemporal

Karakteristik : sinusoidal, waxes and wanes, Amplitudo : 20 – 70 uV ( Ka>Ki)

Reaktivitas : Amplitudo berkurang saat buka mata, aktivitas mental sedangkan frekuensi
berkurang saat mengantuk

Anak : Frekuensi tergantung usia

3-4 bln : 3.5 – 4.5 Hz 3 thn : 8 Hz

12 bln : 5 – 6 Hz 9 thn : 9 Hz

24 bln : 7 Hz 15 thn: 10 Hz

Gelombang Alpha

b. Gelombang lambda,Karakteristik : dapat terlihat saat bangun, buka mata, polaritas


positif, asimetri (normal), di daerah oksipital, jelas terlihat usia 2 – 15 thn, dan jarang terlihat
pada usia tua . Gelombang Lambda mempunyai amplitudo : 20 – 50 uV .
Reaktivitas : gelombang ini tampak jika melihat suatu objek,dan menghilang saat tutup
mata.

2. Gelombang Mu

Gelombang ini sering disebut juga comb rhythm, rolandic alpha. Frekuensi seperti Alpha (8-
10 Hz) terdapat pada 20 % orang dewasa, sering pada usia 8 – 16 tahun dan lokasinya di
daerah sentral, dapat tampak unilateral atau bilateral.

Karakteristik : Bentuk lengkung, amplitudonya 20 – 60 uV, gelombang ini akan menurun


frekuensinya atau hilang dengan gerakan aktif, pasif atau stimulus taktil kontralateral,
maupun berpikir tentang gerakan. Gelombang ini berasal dari korteks sensorimotor.

3. Gelombang Beta

Gelombang Beta mempunyai suatu frekwensi 13-30 siklus per detik. Gelombang ini secara
normal ditemukan ketika siaga atau menjalani pengobatan tertentu, seperti benzodiazepines
atau pengobatan anticonvulsants. Distribusi terutama frontal dan central dengan amplitudo :
10 – 20 uV (dewasa) dan 60 uV (anak usia 12-18 bulan). Gelombang Beta dapat lebih jelas
terlihat saat mengantuk, maupun atas pengaruh obat-obatan (barbiturat,
benzodiazepin). Perbedaan amplitude kanan dan kiri lebih dari 35 % merupakan suatu
abnormalitas.

4. Gelombang Theta

Gelombang Theta mempunyai frekuensi : 4 – 7 Hz, di daerah frontal atau fronto-central


(tutup mata) , dan Temporal (4 – 7 Hz) biasanya pada orang tua .Gelombang theta jelas
terlihat saat hiperventilasi,mengantuk dan tidur. Amplitudo : 30 – 80 uV

5. Gelombang Delta

Gelombang delta mempunyai suatu frekwensi kurang dari 3 siklus per detik. Gelombang
secara normal ditemukan hanya pada saat sedang tidur dan anak-anak muda
3.0 Hasil Pemeriksaan EEG

Normal A. Hasil dua sisi otak menunjukkan pola serupa dari


aktivitas elektrik
B. Tidak ada gambaran gelombang abnormal dari aktivitas
elektrik dan tidak ada gelombang yang lambat
C. Jika pasien dirangsang dengan cahaya (photic) selama
test maka hasil gelombang tetap normal.

A. Abnormal B. Hasil dua sisi otak menunjukkan pola tidak serupa dari
aktivitas elektrik
C. EEG menunjukkan gambaran gelombang abnormal yang
cepat atau lambat, hal ini mungkin disebabkan oleh tumor otak,
infeksi/peradangan, injuri, strok, atau epilepsi. Ketika seseorang
mempunyai epilepsi dengan pemeriksaan EEG ini bisa
diketahui daerah otak bagian mana yang aktivitas listriknya
tidak normal. Namun pemeriksaan EEG saja tidak cukup, sebab
EEG diambil selalu pada saat tidak ada serangan kejang bukan
pada saat serangan, karena tidak mungkin orang yang sedang
mengalami serangan epilepsi dibawa ke rumah sakit untuk
diperiksa EEG. Maka, pemeriksaan EEG harus ditunjang oleh
pemeriksaan otak itu sendiri, yaitu melihat gambaran otaknya
dengan teknik foto Magnetic Resonance Imaging (MRI). Jadi
EEG dengan sendirinya tidak cukup untuk mendiagnosa
penyakit neurology tetapi perlu dengan pemeriksaan yang lain
D. Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG.
EEG yang abnormal dapat disebabkan kelainan di dalam otak
yang tidak hanya terbatas pada satu area khusus di otak,
misalnya intoksikasi obat, infeksi otak (ensefalitis), atau
penyakit metabolisme (Diabetik ketoasidosis)
E. EEG menunjukkan grlombang delta atau gelombang teta
pada orang dewasa yang terjaga. Hasil ini menandai adanya
injuri otak
F. EEG tidak menunjukkan aktivitas elektrik di dalam otak (
a “ flat/” atau “ garis lurus” ). Menandai fungsi otak telah
berhenti, yang mana pada umumnya disebabkan oleh tidak
adanya (penurunan) aliran darah atau oksigen di dalam otak.
Dalam beberapa hal, pemberian obat penenang dapat
menyebabkan gambaran EEG flat. Hal ini juga dapat dilihat di
status epilepsi setelah pengobatan diberikan.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Electroencephalografi adalah prosedur pencatatan aktifitas listrik otak dengan alat


pencatatan yang peka sedangkan grafik yang dihasilkannya disebut Electroencephalogram.
Jadi, aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut
Elektro-Ensefalografi (EEG). Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung pada
tempat perekaman dan aktivitas otak saat perekaman. Saat subyek santai, mata tertutup,
gambaran EEG nya menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron 8-14
siklus/detik, disebut gelombang alfa. Gelombang alfa dapat direkam dengan baik pada area
visual di daerah oksipital. Gelombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, jika subyek
membuka matanya yang tertutup. Gelombang yang terjadi adalah gelombang beta (> 14
siklus/detik). Gelombang beta direkam dengan baik di regio frontal, merupakan tanda bahwa
orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang EEG berasal dari
kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek.

Keadaan tidur (alamiah maupun akibat induksi obat) mengaktifkan paroksismalitas yang
umum maupun fokal. Dalam keadaan tidak tidur hanya kira-kira sepertiga individu dengan
diagnosa klinik epilepsy memperlihatkan paroksismalitas spesifik, 15 % memperlihatkan
EEG yang normal dan sisanya memperlihatkan perlambatan atau percepatan yang spesifik.
DAFTAR PUSTAKA

Pratiwi,heni.2008. EEG. http://beritanet.com/Literature/Kamus-


Jargon/Electroencephalogram-Perekam-Aktivitas-Otak.html. (Diakses pada tanggal 21
Agustus 13.00)

Merdeka, Try. 2011. Tata Cara Pelaksanaan


EEG.http://ordinaryphoo.blogspot.com/2011/08/elektroensefalografi-eeg.html. (Diakses pada
tanggal 21 Agustus 13.00)

http://dokumen.tips/documents/makalah-eeg.html