Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENGKAJIAN DRAMA

“UNSUR-UNSUR DRAMA SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN”

Di susun oleh:

Hani Arifah (A310160179/5D)

Maulana Reza Palevi (A310160180/5D)

Riski Andriansah (A310160181/5D)

Arum Lathifah O (A310160183/5D)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

SURAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan segala rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah pengkajian drama dengan judul “unsur-
unsur drama sebagai seni pertunjukan” hingga selesai untuk memenuhi tugas mata kuliah
pengkajian drama. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak atau
teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan informasi dan materi maupun
pikirannya dan harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca.

Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah ini agar
menjadi lebih baik lagi karena keterbatasan pengetahuan,waktu, maupun pengalaman, kami
yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh sebab itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah
ini.

Surakarta, 25 November 2018

ii
DAFTAR ISI

A. HALAMAN SAMPUL .......................................................................................... i


B. KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
C. DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
D. BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
a. Latar Belakang .......................................................................................... 1
b. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
c. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
d. Manfaat Penulisan ..................................................................................... 2
E. BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 3
a. Hakikat Drama .......................................................................................... 3
b. Drama Sebagai Seni Pertunjukan.............................................................. 4
c. Unsur Drama Sebagai Seni Pertunjukan ................................................... 5
d. Fungsi Pertunjukan Drama ....................................................................... 9
F. BAB II PENUTUP .............................................................................................. 11
a. Simpulan ........................................................................................... 11
b. Saran ................................................................................................. 12
G. DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 13

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Drama berasal dari bahasa yunani yang berarti perbuatan atau gerakan. Enjen
mengatakan bahwa Drama (Yunani Kuno: δρᾶμα) adalah satu bentuk karya sastra yang
memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani
yang berarti "aksi", "perbuatan". Seperti yang kita ketahui bahwa antara teks drama
dengan pertunjukkan itu sendiri bukanlah sesuatu yang identik. Istilah untuk drama pada
masa penjajahan Belanda di Indonesia disebut dengan istilah tonil. Tonil kemudian
berkembang diganti dengan istilah sandiwara oleh P.K.G Mangkunegara VII. Sandiwara
berasal dari kata dalam bahasa Jawa sandi dan wara. Sandi artinya rahasia, sedangkan
wara (warah) artinya pengajaran. Maka istilah sandiwara mengandung makna pengajaran
yang dilakukan dengan perlambang.
Drama sebagai teks sastra dibentuk melalui penulisan bahasa yang memikat dan
mengesankan sebagaimana sebuah sajak, penuh irama dan karya akan bunyi yang indah,
namun sekaligus menggambarkan watak-watak manusia secara tajam. Sedangkan drama
sebagai pertunjukkan paling tidak ada tiga unsur utama yang saling berkaitan guna
mewujudkan suatu pertunjukkan, yakni teks drama, laku pentas dengan sarana
pendukungnya dan adanya penonton.
Dalam bahasa Inggris, seni pertunjukan dikenal dengan istilah perfomance art. Seni
pertunjukan merupakan bentuk seni yang cukup kompleks karena merupakan gabungan
antara berbagai bidang seni. Jika kamu perhatikan, sebuah pertunjukan kesenian seperti
teater atau sendratari biasanya terdiri atas seni musik, dialog, kostum, panggung,
pencahayaan, dan seni rias. Seni pertunjukan sangat menonjolkan manusia sebagai aktor
atau aktrisnya. Dalam perkembangan selanjutnya yang dimaksud drama adalah bentuk
karya sastra yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak
percakapan di atas panggung ataupun suatu karangan yang disusun dalam bentuk
percakapan dan dapat dipentaskan. Oleh karena itu, seni pertunjukan dalam naskah drama
selain percakapan pelaku berisi pula penjelasan mengenai gerak-gerik dan tindakan
pelaku, peralatan yang dibutuhkan, penataan pentas atau panggung, music pengiring dan
lain-lain. Seni pertunjukan dibagi dua yaitu seni pertunjukan tradisional dan seni

1
pertunjukan modern atau yang muncul belakangan ini. Drama sebagai seni pertunjukan
dan sangat kompleks, memerlukan banyak persiapan serta unsur-unsur lainnya yang belum
diketahui oleh penikmat karya sastra drama. Oleh karena hal mendasar itulah
melatarbelakangi penyusun mengkaji Drama sebagai seni pertunjukan ini.

B. Rumusan Masalah
Kami mengambil permasalahan dengan beberapa pokok pembahasan sebagai berikut:
1. Apa saja hakikat drama?
2. Apakah yang dimaksud dengan drama sebagai seni pertunjukan?
3. Apa saja unsur dari drama sebagai seni pertunjukan?
4. Apa saja fungsi pertunjukan drama?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa hakikat dari drama.
2. Untuk mengetahui apakah yang dimaksud dengan drama sebagai seni pertunjukan.
3. Untuk mengetahui apa saja unsur-unsur drama sebagai seni pertunjukan.
4. Untuk mengetahui apa saja fungsi pertunjukan drama.

D. Manfaat Penulisan
1. Memberikan pengetahuan mengenai hakikat drama.
2. Memberikan pengetahuan mengenai pengertian drama sebagai seni pertunjukan.
3. Memberikan pengetahuan mengenai unsur-unsur drama sebagai seni pertunjukan.
4. Memberikan pengetahuan mengenai fungsi pertunjukan drama.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Drama
Sihabudin dkk (2009:7) mengatakan bahwa drama adalah karya sastra yang berisikan
tentang berita konflik manusia yang dikemas dalam bentuk dialog dengan gerak gerik
yang disusun dengan tujuan untuk ditampilkan di pentas sebagai pertunjukan. Rendra
(1993 :97) mengatakan drama atau sandiwara adalah seni yang mengungkapkan pikiran
atas perasaan orang dengan mempergunakan gerakan tubuh dan ucapan kata-kata.
Harymawan, (1988 :2) menyampaikan bahwa kata drama berasal dari bahasa Yunani
‘draomai’ yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Berbeda
dengan pendapat Suharianto (2005) menyebutkan bahwa drama mempunyai nama lain,
diantaranya yaitu sandiwara, komedi bangsawan, komedi stambul, dan teater.
Sandiwara merupakan pelajaran yang disampaikan secara rahasia atau tersamrkan.
Komedi bangsawan merupakan komedi yang pementasan atau pertunjukan khusus untuk
hiburan kaum bangsawan atau kerabat kraton. Komedi stambul adalah komedi yang
semula dipentaskan dari cerita-cerita negara istambul. Dalam bahasa Inggris, seni
pertunjukan dikenal dengan istilah performance art yaitu bentuk seni pertunjukan yang
cukup kompleks karena merupakan gabungan dari berbagai bidang seni. Oleh karena itu,
banyak memerlukan persiapan yang mendasar yang belum banyak di ketahui oleh
penikmat karya sastra. Pertunjukan biasanya melibatkan waktu, ruang, pemain, dan
hubungan pemain dengan penonton. Jika kita perhatikan, sebuah pertunjukan kesenian
seperti teater atau sendratari biasanya terdiri atas seni musik, dialog, kostum, panggung,
pencahayaan, dan seni rias. Seni pertunjukan sangat menonjolkan manusia sebagai aktor
atau aktrisnya.
Seni pertunjukan di bagi menjadi dua bagian, yaitu : seni pertunjukan tradisional dan
seni pertunjukan modern. Di lihat dari perkembangannya, seni drama tradisional saat ini
sudah hampir punah. Karena kurang nya keterkaitan masyarakat terhadap seni tradisional
termasuk generasi muda saat ini. Karena saat ini seni tradisional sudah kalah dengan seni
yang lebih bercorak modern. Karena seni ini menarik perhatian banyak masyakat di era
yang semakin maju ini. Dan apabila kita tidak menjaga seni tradisional dengan baik,
mungkin secara perlahan-lahan seni itu akan hilang.

3
B. Drama Sebagai Seni Pertunjukan
Sama halnya dengan drama, teater juga berasal dari kata bahasa Yunani “theatron”
yang berarti tempat. Ada juga yang menyatakan teater sebagai panggung. Akan tetapi, jika
disandarkan secara etimologi, teater adalah gedung pertunjukan. Dalam arti luas, teater
merupakan kisah kehidupan manusia dan kemanusiaanya yang di pertunjukan di depan
orang banyak, misalnya: wayang orang, ludruk, lenong, reog dan dulmuluk, sedangkan
dalam arti sempit, teater merupakan kisah kehidupan manusia dan kemanusianya yang di
tuangkan dalam bentuk pementasan untuk di saksikan orang banyak melalui media gerak,
percakapan, dan laku dengan atau tanpa dekorasi serta di dasarkan pada naskah tertulis
yang di iringi atau tanpa musik. Sehubungan dengan itu, drama dan teater memiliki bentuk
dan makna yang sama, tetapi berbeda acuanya. Kecenderungan drama memiliki pengertian
pada seni sastra dimana drama setaraf dengan genre lainnya yaitu puisi dan prosa/esai.
Mengingat drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang kehidupan manusia
dan kemanusiaan yang di tampilkan pada suatu pentas sebagai bentuk pertunjukan, maka
drama menjadi sebuah peristiwa teater. Dengan kata lain, teater dapat tercipta karena ada
drama.
Dalam dimensi drama sebagai seni pertunjukan, drama dapat memberi pengaruh
emosional yang lebih besar dan terarah kepada penikmat jika dibandingkan dengan genre
sastra lainnya. Dengan menyaksikan secara langsung peristiwa di atas pentas, unsur
emosional penikmat lebih mudah digugah atau tergugah. Kepandaian para aktor
menafsirkan hidup dan kehidupan secara pas, ekspresif dan estetik di atas pentas membuat
lakon drama itu jadi aktual mirip kehidupan manusia yang sebenarnya yang pernah akan
dan mungkin dialami para penonton. Keterkaitan dimensi sastra dengan dimensi seni
pertunjukan mengharuskan para aktor dan pemain menghidupkan tokoh yang di
gambarkan pengarangnya lewat apa-apa yang diucapkan tokoh-tokoh tersebut bentuk
dialog-dialog.
· Unsur panggung membatasi pengarang menuangkan imajinasinya. Namun demikian,
panggung juga dapat memberi kesempatan sepenuhnya kepada pengarang untuk dapat
mempergunakannya agar menarik dan memusatkan perhatian penikmat dan penonton pada
suatu situasi tertentu, yaitu situasi panggung. Bentuk yang khusus dari drama adalah
keseluruhan peristiwa disampaikan melalui dialog. Konflik kemanusian menjadi syarat
mutlak. Tanpa konflik peristiwa tidak akan bergerak satuan-satuan peristiwa dapat
berjalan dan menciptakan alur atau plot dalam bentuk dialog jika satuan-satuan peristiwa
itu dikontroversikan melalui konflik-konflik.

4
· Dimensi seni pertunjukan pada drama, disamping memiliki nilai keunggulan memiliki
pula segi kelemahan. Keunggulan adanya dimensi seni pertunjukan pada derama adalah
peristiwa dapat disaksikan langsung secara konkret, sedangkan kelemahannya dibanding
dengan fiksi dan puisi pertunjukan derama tidak dapat dinikmati untuk yang kedua kalinya
dengan suasana dan situasi emosi yang sama. Sutradara, aktor, dan pendukung pementasan
harus secara arif menafsirkan dan berusaha setuntas mungkin untuk memvisualisasikan
tuntutan teks derama.

C. Unsur Drama Sebagai Seni Pertunjukan


Sebagai pertunjukan, unsur-unsur pementasan drama adalah sebagai berikut:
1. Sutradara
Sutradara adalah orang yang mengatur jalannya drama dalam pentas seni.
a. Jenis sutradara dlihat dari cara melatih
1) Sutradara Interpretator
Berpegang teguh pada interpretasinya paad naskah.
2) Sutradara Kreator
Kreatif dengan variasi baru. Improvisasi fleksibel dengan prinsip keseimbangan
dan kesesuaian.
3) Gabungan (interpretasi-kreator)
Pengabungan secara profesional, kreasi, variasi, sesuai dan proporsional.
b. Tugas sutradara yaitu merencanakan produksi pementasan
1) Merencanakan produksi pementasan.
a) Memahami naskah sec mendalam.
b) Memahami segala aspek pementasan.
c) Menghadirkan suasana yang mendekati kenyataan (mimetis).
d) Mempersiapkan calon aktor.
e) Memahami calon penonton.
f) Memiliki catatan khusus.
2) Memimpin latihan

Empat periode latihan:

a) Latihan pembacaan teks drama.


b) Latihan blocking (crossing pemain, penyesuain dengan teknik pentas,
musik,dan sound system).

5
c) Latihan action
d) Latihan pengulangan menyeluruh.
3) Mengorganisasi produksi
a) Mulai dari penyutradaraan.
b) Asisten sutradara.
c) Penata artistik.
d) Penata panggung/setting.
e) Penata kostum.
f) Penata rias.
g) Penata properti.
h) Penata lampu/ lighting.
i) Penata suara/sound.
j) Sampai penata gerak.
2. Produser/Pimpro
Produser adalah pembuat keputusan pada sebuah pembuatan atau produksi dalam
drama.
a. Produser/Pimpro/Ketua panitia.
b. Sekretaris.
c. Bendahara.
d. Seksi publikasi.
e. Seksi transportasi.
f. Seksi konsumsi.
g. Seksi tempat pertunjukan.
3. Pemain
Pemain merupakan pemeran dalam pementasan drama. Berikut sikap yang harus
dimiliki oleh seorang pemain drama:
a. Menerima peran secara ikhlas lahir batin, tidak menggerutu, tidak protes.
b. Berlatih dengan serius, penuh dedikasi, penghayatan secara mendalam, tidak
mempermasalahkan sebagai pemain utama/figuran.
c. Mendalami naskah dengan penghayatan, keterlibatan jiwa, mengembangkan diri,
mengisi kekosongan naskah, jangan melakukan regresi.
d. Tidak mematahkan dialog pemain tetapi justru memancing., memberi umpan
tangkas menguasai clue, kata-kata kunci.

6
e. Siap menerima kritik dan saran saat gladibersih maupun pementasan dengan lapang
dada.
Ada beberapa teknik casting sebelum memilih para pemain. Berikut 5 teknik
casting menurut (Herman.J. Waluyo)
a. Casting By Abilit
Berdasarkan kecakapan/kecerdasan, mampu peran sulit dan dialog panjang, daya
khayal dan daya tangkap cepat.
b. Casting To Type
Berdasarkan kecocokan fisik pemain.
c. Anti Type Casting/Educational Casting
Pemeran bertentangan watak dan fisik yag diperankan.
d. Casting to Emotional Temperament:
Berdasarkan obervasi kehidupan pribadi calon pemeran yang mempunyai
kecocokan dengan peran yang dibawakan.
e. Therapeutic Casting:
Uuntuk penyembuhan ketidakseimbangan psikologis dalam diri seseorang.
Biasanya watak dan tempramen pemeran bertentangan dengan tokoh yang
dibawakan.
4. Tata Pentas
Tata pentas terdiri atas:
a. Tata busana/costum
Fungsi tata busana yaitu membantu aktor dan aktris membawakan perananya sesuai
dengan tuntutan lakon. Adapun juga tujuan dari pemakaian kostum yaitu antara lain:
1) Membantu mengidentifikasiki lakon.
2) Membantu mengindividualisasikan pemain (secara visual tokoh satu dengan
tokoh lain).
3) Menunjukan asal-usul status sosial pemain.
4) Menunjukkan waktu peristiwa itu terjadi.
5) Mengekpresikan usia orang itu.
6) Mengekspresikan gaya (humor/serius).
7) Kostum membantu gerak-gerik dan ekpresi pemain meskipun rumit.
b. Tata rias
Tata rias (make up) wajah haruslah mendukung dan menguatkan karakter tokoh
yang diperankan. Make up tidak bertujuan untuk membuat aktor/aktris menjadi lebih

7
ganteng atau cantik, tetapi lebih menekankan pada penegasan karakter tokoh. Make
up semacam ini dikenal dengan istilah make up karakter.
Fungsi utama tata rias yaitu mengubah watak dan memperjelas kepribadian
pemain dari segi fisik, psikis, sosial.
Bedasarkan jenisnya menurut (Herman J Waluyo)
1) Rias jenis dengan mengubah peran laki-laki menjadi perempuan.
2) Rias bangsa dengan mengubah kebangsaan seseorang Jawa menjadi Belanda.
3) Rias tokoh, membentuk tokoh gatotkaca.
4) Rias watak, penjahat, pelacur secara fisik.
5) Rias usia, mengubah kebangsaan seseorang.
6) Rias temporal, yaitu rias berdasar waktu\saat tertentu: bangun tidur, pesta,
sekolah dll.
7) Rias aksen, memberi tekanan pada pemain yang sama dengan tokoh.
8) Rias lokal, berdasar tempat/hal yang menimpa peran: di penjara, disawah dll.
Berikut klasifikasi tata rias berdasarkan sifatnya
1) Base (dasar) melindungi kulit, memudahkan merias dan penghapusan.
2) Foundation, meratakan kulit.
3) Lines, membentuk anatomi wajah: eyebrow pensil, , pelengkung bulu mata,
4) Rouge, menghidupkan bagian pipi dekat mata tulang pipi dagu kelopak mata.
5) Cleansing dan kapas, membersihkan rias wajah.
c. Tata lighting/lampu
Tujuan penggunaan lampu antara lain:
1) Menerangi dan menyinari pentas dan aktor.
2) Mengingatkan efek lighting alamiah (menentukan keadaan jam, musim, cuaca).
3) Membantu menambah nilai warna dekor/scenery mmbentuk sinar bayangan.
4) Membantu permainan lakon dalam memperkuat kejiwaan.
5) Mengekspresikan mood dan atmosphere dari lakon guna mengungkapkan gaya
dan tema.
6) Memberikan variasi-variasi, sehingga adegan tidak statis (lampu tiga dimensi).
Adapun beberapa alat lighting antara lain:
1) Strip light (berderet): - footlight (bwh) dan borderlight (atas).
2) Spotlight (sinar pada satu titik/clous up).
3) Floodlight: lampu dengan kekuatan besar untuk menerangi daerah permainan).
d. Tata musik dan efek suara/musik (sound effect)

8
Musik bergabung dengan sound effect untuk membentuk efek tertentu
sehingga menghidupkan suasana. Misalnya dalam memberi efek: terkejut, panik,
tegang, sedih, gembira, meluap-luap, perkelahian dsb. Suasana kalut: angin kencang,
hujan, petir, guruh kilat. Kegunaan dari tata musik ilustrasi yaitu pembuka seluruh
lakon, pembuka adegan, efek lakon, penutup lakon. Efek suara pad lakon adalah
efek suara yang diperlukan lakon: bunyi kereta kuda, kereta api, mobil, kicauan
burung, tangisan, kaki kuda, dsb.
Berikut fungsi tata musik ilstrasi:
1) Memberikan ilusrtasi yang memperindah.
2) Memberikan latar belakang. (Karakter, budaya, sosial, agama).
3) Memberikan warna psikologis (perang, pertengkaran).
4) Membantu dalam penanjakan lakon, penonjolan, dan progresif.
5) Memberi tekanan pada keadaan yang mendesak (dramatic plot menuju titik
klimaks).
6) Memberikan selingan agar pennton tidak bosan.
7) Memberi tekanan kepada nada dasar drama (membentuk suasana
batin/mengungkapkan isi jiwa dari drama).
5. Naskah
Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa
dan puisi. Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri
yaitu ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai
kemungkinan dipentaskan (Waluyo, 2003: 2). Jadi naskah adalah dialog/percakapan
drama di dalam bentuk tulisan yang harus dihafal oleh para pemain drama.
6. Penonton
Penonton adalah seseorang yang melihat atau menikmati sebuah acara atau
pertunjukan drama.

D. Fungsi Pertunjukan Drama


Dalam setiap pementasannya, beberapa bentuk drama selalu membawa misi yang
ingin disampaikan kepada penonton. Sebenarnya dalam setiap pertunjukan seni drama ada
beberapa nilai tertentu yang dikandungnya. Seni pertunjukan drama (tradisional) secara
umum mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi ritual, seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih berpijak pada
aturan-aturan tradisi. Misalnya sesaji sebelum pementasan wayang, ritual-ritual

9
bersih desa dengan seni pertunjukan dan sesaji tertentu, pantangan-pantangan yang
tidak boleh dilanggar selama pertunjukan dan lainlain. Sebagai media pendidikan,
pertunjukan tradisional mentransformasikan nilai-nilai budaya yang ada dalam seni
pertunjukan drama tersebut.
2. Media pendidikan, Seni pertunjukan drama (tradisional) (wayang kulit, wayang
orang, ketoprak) sebenarnya sudah mengandung pada hakikat seni pertunjukan itu
sendiri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya dan juga dalam ceritanya. Misalnya
pertentangan yang baik dan yang buruk akan dimenangkan yang baik, kerukunan
Pandawa, nilai-nilai kesetiaan dan lain-lain.
3. Media penerangan ataupun kritik sosial, baik Misalnya pesan-pesan pembangunan,
penyampaian informasi dan lain-lain. Rakyat dapat mengkritik pimpinan atau
pemerintah secara tidak langsung misalnya lewat adegan goro-goro pada wayang
atau dagelan pada ketoprak. Hal ini disebabkan adanya anggapan mengkritik
(lebih-lebih) pimpinan atau atasan adalah “tabu”. Melalui sindiran atau guyonan
dapat diungkap tentang berbagai ketidakberesan yang ada, tanpa menyakiti orang
lain.
4. Menghibur penonton, seni pertunjukan drama dapat pula berfungsi untuk
menghilangkan stres dan menyenangkan hati. Sebagai tontonan atau hiburan seni
pertunjukan drama Pertunjukan ini diselenggarakan benar-benar hanya untuk
hiburan.

10
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Suharianto (2005) menyebutkan bahwa drama mempunyai nama lain, diantaranya
yaitu sandiwara, komedi bangsawan, komedi stambul, dan teater. Sandiwara merupakan
pelajaran yang disampaikan secara rahasia atau tersamrkan. Komedi bangsawan
merupakan komedi yang pementasan atau pertunjukan khusus untuk hiburan kaum
bangsawan atau kerabat kraton. Dalam bahasa Inggris, seni pertunjukan dikenal dengan
istilah performance art yaitu bentuk seni pertunjukan yang cukup kompleks karena
merupakan gabungan dari berbagai bidang seni.
Dalam dimensi drama sebagai seni pertunjukan, drama dapat memberi pengaruh
emosional yang lebih besar dan terarah kepada penikmat jika dibandingkan dengan genre
sastra lainnya. Dengan menyaksikan secara langsung peristiwa di atas pentas, unsur
emosional penikmat lebih mudah digugah atau tergugah.
Sebagai pertunjukan, unsur-unsur pementasan drama sebagai berikut:
Sutradara adalah orang yang mengatur jalannya drama dalam pentas seni. Produser
adalah pembuat keputusan pada sebuah pembuatan atau produksi dalam drama. Pemain
merupakan pemeran dalam pementasan drama. Berikut sikap yang harus dimiliki oleh
seorang pemain drama. Tata pentas terdiri atas: tata busana dan tata rias. Naskah drama
adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi. Penonton adalah
seseorang yang melihat atau menikmati sebuah acara atau pertunjukan drama.

Fungsi ritual, seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih berpijak pada aturan-
aturan tradisi. Media pendidikan, Seni pertunjukan drama sebenarnya sudah mengandung
pada hakikat seni pertunjukan itu sendiri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya dan juga
dalam ceritanya. Media penerangan ataupun kritik sosial, baik Misalnya pesan-pesan
pembangunan, penyampaian informasi dan lain-lain. Menghibur penonton, seni
pertunjukan drama dapat pula berfungsi untuk menghilangkan stres dan menyenangkan
hati.

11
B. Saran
Demi terciptanya sebuah masyarakat yang memiliki aroma seni yang pekat di mata
internasional, disini Penulis mengharapkan agar seni drama mendapatkan perhatian yang
tinggi, baik di kalangan biasa, pendidikan, pebisnis maupun pemerintah. Drama yang
termuat dalam karya sastra Indonesia ini memuat banyak unsur maupun tahapn
pementasan lainnya. untuk itu kita sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesa harus
mempelajari unsusr-unsur yang terkadung dalam drama, supaya kita mampu menganalisa
maupun mengetahui bentuk-bentuk drama dan lainnya yang berkaitan dengan drama serta
dapat mementaskan sebuah drama yang bisa diterima di kalangan masyarakat.
Hal yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa Pendidikan bahasa Indonesia adalah
menambah kecintaan kita terhadap karya seni sastra, termasuk drama dengan tetap
melestarikannya. Karena drama dapat memupuk kerja sama yang baik dalam pergaulan
sosial, mengembangkan emosi yang sehat pada diri masing-masing,menghilangkan sifat
malu, gugup, tegang, takut, dan lain lain, mengembangkan apresiasi dan sikap yang
baikserta menghargai pendapat dan pikiran yang baik.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://adnandoang.blogspot.com/2011/02/drama-pak-enjen.html
(http://id.wikipedia.org/wiki/Drama)
http://www.lintasjari.com/2013/07/pengertian-seni-pertunjukan-dan-jenisnya.html
http://ernihalawa.blogspot.com/2014/10/drama-sebagai-seni-pertunjukkan.html
http://fayzaaveiroo.blogspot.com/2013/09/hakikat-drama.html
http://kardiwanto.blogspot.com/2009/11/drama.html

13