Anda di halaman 1dari 22

Referat

Oleh : dr. Fitria Sholihah


Pembimbing : dr. Hasrayati Agustina, SpPA(K)., MKes
Opponent : dr. Sri Suryanti MS.,Sp.PA (K)

KARSINOMA NASOFARING

I. PENDAHULUAN
Karsinoma nasofaringeal atau nasopharyngeal carcinoma (NPC) merupakan

suatu karsinoma yang tumbuh di dalam mukosa nasofaring, yang memperlihatkan

gambaran diferensiasi skuamosa. Banyak jenis neoplasma dapat berkembang dari

nasofaring, mulai dari epithelial, mesenkimal, limfoid dan neuroektodermal tetapi

karsinoma nasofaring merupakan tumor pada daerah nasofaring yang paling sering

dan menarik minat onkolog, patolog, scientist, dan epidemiolog selama bergenerasi.
1,2

Karsinoma nasofaring memperlihatkan perbedaan secara geografis. Karsinoma

nasofaring merupakan endemik dan epidemik di daerah selatan Cina, Asia Tenggara

(Thailand, Vietnam, Filipina), Afrika Utara, dan di Antartika. Pada beberapa daerah

endemik, insidensi karsinoma nasofaring mengalami penurunan sekitar 30% dalam

dua dekade terakhir. Hal ini diperkirakan karena pengaruh lingkungan dan gaya hidup

mempunyai peranan yang penting dalam perjalanan penyakit karsinoma nasofaring

1
dan oleh karena itu, maka karsinoma nasofaring diharapkan merupakan penyakit yang

dapat dicegah. 1,2

Diantara berbagai jenis keganasan pada kepala dan leher karsinoma nasofaring

merupakan salah satu jenis yang memiliki prognosis buruk dikarenakan posisi tumor

yang berdekatan dengan dasar tengkorak dan berbagai struktur penting lain. Ciri dari

karsinoma nasofaring dalah pertumbuhan tumor yang invasive, kesulitan mendeteksi

tumor, sehingga menghambat diagnosis dini. Namun demikian karsinoma nasofaring

merupakan suatu jenis tumor yang radiosensitif dan kemosensitif. 1

Pada referat ini akan dibahas mengenai epidemiologi, etiologi, patogenesis,

klasifikasi, patologi, diagnosis banding, terapi dan prognosis dari karsinoma

nasofaring.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi

Nasofaring adalah suatu struktur berbentuk tabung yang terletak di

belakang kavum nasi. Pada bagian atap dan superior dari nasofaring terdapat

basi-sfenoid, basi-occiput dan vertebrae cervikalis pertama. Pada bagian

anterior berhubungan dengan kavum nasi melalui koana. Pada bagian lateral

terdapat orificium tuba eustachius yang dilengkapi oleh torus tubarius di bagian

lateral dan posterior. Pada bagian superior dan posterior torus tubarius terdapat

lekukan yang bernama fossa Rusenmuller. Pada bagian inferior menyempit

2
membentuk orofaring mulai level palatum mole. Nasofaring merupakan bagian

dari cincin Waldeyer.1,3

Nasofaring merupakan conducting portion pada sistem respiratori

manusia selain cavum nasi, laring, bronkus, bronkiolus, dan bronkiolus

terminal.4

Secara histologi, nasofaring terdiri atas mukosa yang dilapisi epitel

respirasi (pseudostratified ciliated epithelium), dilapisi pula oleh epitel

gepeng berlapis dalam jumlah yang beragam, yaitu pada bagian yang

menempel pada palatum mole. Lapisan mukosa berinvaginasi membentuk

kripta-kripta yang kadang-kadang diinfiltrasi oleh sel-sel limfoid. Pada

lapisan ini terdapat folikel reaktif. Terdapat pula kelenjer seromukosa tetapi

tidak sebanyak pada kavum nasi.5

2.2 Epidemiologi

Karsinoma nasofaring merupakan karsinoma yang muncul di mukosa

nasofaring yang memperlihatkan struktur diferensiasi skuamosa. Karsinoma

nasofaring merupakan tumor yang jarang diantara ras Kaukasia dengan insidensi

kurang dari 1 : 100.000 populasi. Insidensi karsinoma nasofaring di Amerika Selatan

adalah 0,3 – 0,7 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Karsinoma nasofaring lebih

banyak ditemukan pada etnis tertentu seperti Inuilt, Afrika Utara, dan Cina dari Asia

Tenggara. Insidensi kasus yang tinggi ditemukan di Hongkong, Cina pada tahun 2012

dengan insidensi 12,5 kasus per 100.000 penduduk laki-laki dan 4,1 kasus per

100.000 penduduk perempuan. Insidensi di Cina Utara adalah 15 – 40 kasus per

3
100.000 penduduk per tahun. Angka kejadiannya lebih tinggi 2 sampai 3 kali lipat

pada laki-laki dibanding perempuan, biasanya mengenai orang dewasa walaupun

kasus yang jarang dapat ditemukan pada anak-anak. 1,2,6

Pada populasi dengan resiko tinggi, karsinoma nasofaring dapat muncul pada

usia 30 tahun dan puncaknya adalah usia 40-60 tahun. Pada etnis Cina yang

bermigrasi ke Amerika Selatan, angka insidensinya menurun, akan tetapi tetap lebih

tinggi bila dibandingkan dengan insidensi pada keseluruhan populasi di Amerika

Selatan.1,2

2.3 Etiologi dan Patogenesis

Agen karsinogen karsinoma nasofaring belum teridentifikasi sepenuhnya, akan

tetapi rokok tembakau dan konsumsi alcohol merupakan faktor yang berkontribusi

dalam berkembangnya keratinizing squamuous cell carcinoma, sedangkan konsumsi

yang tinggi terhadap makanan yang diasinkan dan makanan yang difermentasi

dengan kandungan nitrosamine yang tinggi telah berpengaruh terhadap non

keratinizing squamuous cell carcinoma pada populasi dimana tipe ini menjadi

endemik. Non keratinizing squamuous cell carcinoma dari nasofaring mempunyai

etiologi yang multifaktor termasuk faktor kerentanan genetik, infeksi Epstein Barr

Virus (EBV) dan juga kecenderungan untuk mengkonsumsi ikan yang diasinkan.1,2,7

Ikan yang diasinkan mengandung nitrosamine yang bersifat karsinogenik sebagai

prekursornya sebagaimana juga pada substansi EBV. Walaupun demikian, terdapat

faktor lingkungan lain seperti paparan terhadap debu kayu, formaldehyde, panas,

4
rokok, debu dan uap kimia yang dicurigai sebagai faktor yang dapat berkontribusi

terhadap karsinoma nasofaring.2,6

2.4 Lokasi

Karsinoma nasofaring paling umum ditemukan pada reses faringeal (fossa

Rosenmuller) dan dinding posterior superior dari nasofaring. 1,8

2.5 Klasifikasi1

WHO-Hystological Classification of Head and Neck Tumours 2017 membagi

tumor nasofaring menjadi :

Carcinomas

Nasopharingeal carcinoma

Non-keratinizing squamuous cell carcinoma 8072/3

Keratinizing squamous cell carcinoma 8071/3

Basaloid squamous cell carcinoma 8083/3

Nasopharyngeal papillary adenocarcionoma 8260/3

Salivary gland tumours

Adenoid cystic carcinoma 8200/3

Salivary gland anlage tumour

Benign and borderline lesions

Hairy polyp

Ectopic pituitary adenoma 8272/0

5
Craniopharyngioma 9350/1

Soft tissue tumor

Nasopharyngeal angiofibroma 9160/0

Haematolymphoid tumours

Diffuse large B-cell lymphoma 9680/3

Extraosseous plasmacytoma 9734/3

Extramedullary myeloid sarcoma 9930/3

Notochordal tumours

Chondroma 9370/3

Sumber : WHO-Hystological Classification of Head and Neck Tumours. 2017

2.6 Patologi

2.6.1 Makroskopis

Karsinoma nasofaring dapat muncul sebagai tonjolan yang halus pada mukosa,

nodul dapat berkembang dengan atau tanpa ulserasi, atau sebagai masa infiltratif yang

jelas terlihat. Pada beberapa kasus, tidak terdapat lesi gross yang terlihat.1

Blind biopsy dari area nasofaring harus dilakukan ketika ada kecurigaan,

terutama biopsy pada area fossa Rosenmuler.7

2.6.2 Mikroskopis

Non-keratinizing Squamuous Cell Carcinoma (NK-NPC)

6
NK-NPC memperlihatkan pola arsitektur yang bervariasi, sering bercampur

dengan masa tumor yang sama, mulai dari lembaran yang solid sampai pulau-pulau

yang tidak beraturan, trabecular, dan gambaran diskohesif dari sel-sel ganas disertai

dengan sel limfosit dan plasma sel dengan jumlah yang bervariasi.8

Pada subtipe undifferentiated, dimana subtype ini merupakan yang tersering,

ditandai dengan sel-sel tumor yang besar dengan tampilan sinsitial, dengan inti yang

bulat sampai vesicular, dan nucleoli sentral yang besar dan eosinofilik. Pada inti

mengandung banyak kromatin dibandingkan vesicular, dan sel-sel neoplastik

biasanya mempunyai sitoplasma yang lebih amfofilik atau eosinofilik, batas sel tidak

jelas. Sel-sel ganas dapat terlihat sebagai gambaran spindle sel dalam rangkaian

fasikuler.1,2

Dua pola pertumbuhan dari undifferentiated non keratinizing nasopharyngeal

carcinoma dapat terlihat, kadang-kadang dalam bentuk kombinasi. Yang pertama

adalah tipe Regaud, terdiri dari agregrat dari sel epithelial yang dikelilingi

olehjaringan fibrosa dan sel-sel limfoid. Yang kedua adalah tipe Schmincke, sel-sel

epithelial neoplastic tumbuh difus dan berbaur dengan sel-sel inflamasi. 1,9,10

Pada subtipe differentiated memperlihatkan gambaran yang bertahap, sering

dengan pertumbuhan flexiform, kadang-kadang dapat terlihat sel-sel berkeratin.

Dibandingkan dengan subtype undifferentiated, sel-sel neoplastik pada subtype

differentiated biasanya lebih kecil, perbandingan nucleus dan sitoplasma (N:C ratio)

lebih rendah, inti sering terlihat kaya akan kromatin, dan anak inti biasanya kurang

menonjol. Jembatan interseluller dapat terlihat. 1,9,10

7
Walaupun demikian, subklasifikasi carcinoma nasofaring menjadi

undifferentiated dan differentiated tidak bernilai secara klinis maupun prognosis.1

Kepadatan dari sel-sel limfosit dan plasma sel dengan agregrat tumor sangat

bervariasi. Ketika banyak, sel-sel inflamasi memecah tumor menjadi klaster kecil

atau sel-sel tunggal, membuatnya sulit untuk mengenali asal epitel dari neoplasma.

Beberapa kasus memperlihatkan gambaran eosinophil, neutrophil, dan granuloma

epitheloid yang berlimpah. Sekumpulan sel-sel tumor yang terisolasi dapat terlihat

menciut, inti yang berantakan dan sitoplasma yang ampofilik atau eosinofilik. Pada

10% kasus, dapat diselingi oleh globul-globul amyloid kecil berbentuk speris, baik

pada intraselular maupun ekstraselullar.8

Pada metastasis di kelenjar getah bening leher, sel-sel ganas dengan lymph

nodes dapat terangkai dengan pola yang bervariasi. Pada pola tertentu, sel-sel ganas

dapat tampak seperti gambaran sel Reed-Sternberg dengan latar sel-sel inflamatori

sehingga menyerupai Hodgkin Lymphoma. Tampilan kistik dari metastasis NK-NPC

ke lymph nodes dapat menstimulasi metastasis dari orofaring.7

Keratinizing squamuous cell carcinoma (K-NPC)

K-NPC merupakan sebuah kelompok dari karsinoma yang invasif yang

memperlihatkan diferensiasi skuamosa melalui pembentukan jembatan interseluler

dan atau keratinisasi dalam tingkatan yang bervariasi, disertai dengan stroma yang

desmofilik. K-NPC dapat muncul sekunder terhadap radioterapi walaupun kasusnya

sangat jarang.1

Basaloid squamuous cell carcinoma

8
Tumor ini secara morfologis identik terhadap tumor analog yang muncul di

area lain pada kepala dan leher, dan sangat jarang dilaporkan sebagai tumor primer

dari nasofaring. 1,9

2.7 Gejala Klinis

Sekitar setengah dari penderta biasanya mempunyai gejala klinis yang multiple,

tetapi 10% diantaranya merupakan asimptomatik. Pada 70% pasien biasanya ditandai

dengan adanya masa pada daerah servikal yang asimptomatik, biasanya berlokasi di

posterior cervical triangle atau pada superior jugular nodal chain. Gejala klinis

tambahan berupa obstruksi nasal, nasal discharge, epistaksis, nyeri, otitis media

serosa, otalgia, kehilangan pendengaran, dan sakit kepala. Gejala dan tanda sering

bersifat samar dan tidak khas, dan oleh karenanya dapat menyebabkan keterlambatan

dalam temuan diagnosis, menghasilkan gambaran klinis pada stadium tinggi dari

penyakit.1,2,8

Sekitar 25% dari pasien dapat mengalami keterlibatan pada saraf kranialnya.

Terkenanya saraf kranial disebabkan oleh penyebaran tumor ke lateral melalui sinus

cavernosus, dan mengenai saraf kranial III, IV, cabang ophthalmic dari nervus Vdan

VI. Juga dapat disebabkan oleh ekstensi langsung dari tumor sehingga mengenai saraf

kranial IX, X, XI, XII, dan divisi ke tiga dari saraf V melalui parapharyngeal space

karena berdekatan dengan dinding lateral nasofaring.2,8

2.8 Pemeriksaan Penunjang

9
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan menggunakan CT Scan dan

MRI. Keduanya mempunyai nilai yang sama dalam menunjang diagnosis dari

karsinoma nasofaring. Walaupun demikian, pemeriksaan dengan MRI lebih

bermanfaat dengan hasil yang dapat membedakan antara karsinoma nasofaring

dengan jaringan yang jinak.2

Secara serologis dapat dilakukan pemeriksaan IgG atau IGA antigen terhadap EBS,

atau IgA terhadap viral capsid antigen (VCAs). EBER-1 atau EBNA-1 (EBV Nuclear

Antigens) dapat ditemukan dalam serum atau plasma penderita dengan menggunakan

polymerase chain reaction (PCR).2

2.9 Differensial Diagnosis

Diagnosis histologi dari karsinoma nasofaring merupakan hal yang cukup

sulit dan menantang dikarenakan ukuran biopsi jaringan yang kecil dan kemungkinan

artefak.2

Differensial diagnosis dari karsinoma nasofaring adalah Hodgkin lymphoma,

oropharyngeal nonkeratinizing carcinoma, sinonasal undifferentiated carcinoma,

melanoma.2

2.10 Imunohistokimia

NK-NPC positif dengan EBER, p63, pancytokreatin, high molecular

cytokeratin seperti CK5/6, sedangkan dengan CK7, CK20, p16 adalah negatif.1,2

10
2.11 Stadium1

Klasifikasi TNM karsinoma nasofaring menurut WHO tahun 2017 :

TNM Classification of Carcinoma of The Nasopharynx

T – Primary Tumour

TX Primary tumour cannot assessed

T0 No evidence of primary tumour

Tis Carcinoma in situ

T1 Tumour confined to nasopharynx, or extends to oropharynx and/or

nasal cavity

T2 Tumour with parapharyngeal extension (which denotes

posteroinfiltration of tumour)

T3 Tumour invades bony structures of skull base and/or paranasal

sinuses

T4 Tumour with intracranial extension and/or involvement of cranial

nerves, infratemporal fossa, hypopharynx, orbit, or masticator space

N – Regional Lypmh Nodes (i.e The Cervical Nodes)

NX Regional lymph nodes cannot assessed

N0 No regional lymph node metastasis

N1 Unilateral metastasis in cervical lymph nodes(s), and/or unilateral or

metastasis in retropharyngeal lymph nodes, ≤ 6 cm in greatest

dimension, above the supraclavicular fossa

N2 Bilateral metastasis in cervical lypm node(s), <6 cm in greatest

dimension, above the supraclavicular fossa

11
N3 Metastasis in cervical lymph node(s), > 6 cm and/or in the

supraclavicular fossa

N3a > 6 cm in greatest dimension

N3b In the supraclavicular fossa

M – Distant Metastasis

M0 No distant metastasis

M1 Distant metastasis

Stage Grouping

Stage 0 Tis N0 M0

Stage I T1 N0 M0

Stage II T1 N0 M0

T2 N0-1 M0

Stage III T1-2 N2 M0

T3 N0-2 M0

Stage IVA T4 N0-2 M0

Stage IVB Any T N3 M0

Stage IVC Any T Any N M1

2.12 Therapi

Pilihan terapi untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi, dan juga

kombinasi dengan kemoterapi. Pada lebih dari 5000 kasus di Hogkong, 83%

penderita mengalami remisi sempurna dengan 10 year survival rate adalah 43%. .2

12
Pada subtype undifferentiated non-keratinizing pharyngeal squamuous cell

carcinoma lebih radiosensitive dibandingkan type keratinizing squamuous cell

carcinoma.11

2.13 Prognosis

Faktor prognosis terkuat dari NPC adalah stadium saat ditemukan. Sebuah

penelitian dengan menggunakan TNM staging sytem memperlihatkan bahwa 5 years

survival rate untuk stadium 1 adalah 98%, untuk stadium IIA-B adalah 95%, stadium

III adalah 86%, dan untuk stadium IVA-B adalah 73%.1 Prognosis juga dipengaruhi

oleh faktor lain yaitu umur saat terkena, lokasi atau region metastasis dimana

prognosis untuk metastasis pada region homolateral lebih baik dibandingkan

kontralateral, dan prognosis untuk metastasis di leher atas lebih baik dibandingkan

pada leher bawah2,8.

Peningkatan volume tumor merupakan faktor prognosis yang negatif, dimana

diperkirakan terdapat peningkatan kegagalan lokal sebesar 1% untuk setiap

penambahan volume tumor sebanyak 1 cm3. 1

Pada tingkat mikroskopik, prognosis untuk keratinizing squamuous cell

nasopharyngeal carcinoma lebih buruk dibandingkan non keratinizing squamuous

cell nasopharyngeal carcinoma.2

Pada non keratinizing squamuous cell nasopharyngeal carcinoma prognosisnya

akan lebih buruk jika ditemukan satu atau lebih dari tampilan berikut7 :

1. Ditandai adanya anaplasia dan atau pleomorfism

13
2. Rasio proliferasi sel yang tinggi, diukur dengan jumlah sel yang bermitosis atau

proliferasi yang berhubungan dengan immunomarkers

3. Kurangnya infiltrasi limfositik

4. Densitas yang tinggi dari sel-sel dendritik S-100 protein positif

III. PEMBAHASAN
Karsinoma nasofaring merupakan keganasan yang biasanya terjadi pada orang

dewasa pada usia 40 – 60 tahun,walaupun tumor ini bisa muncul pada anak-anak.

Gejala umum yang muncul adalah otitis media serosa, epistaksis, obstruksi nasal, dan

masa asimptomatik pada daerah servikal.12

Terdapat perubahan klasifikasi karsinoma nasofaring dari WHO, yaitu11,12 :

Table Classification of Nasopharyngeal Carcinoma

World Health Organization (1978)

1. Squamuous cell carcinoma

2. Non-keratinizing carcinoma

3. Undifferrentiated carcinoma

World Health Organization (1991)

1. Squamuous cell carcinoma

2. Non-keratinizing carcinoma

A. Differentiated non-keratinizing carcinoma

B. Undifferentiated carcinoma

World Health Organization (2005)

14
1. Keratinizing squamuous cell carcinoma

2. Non-keratinizing carcinoma

A. Differentiated type

B. Undifferentiated type

3. Basaloid squamuous cell carcinoma

World Health Organization (2017)

1. Non-Keratinizing squamuous cell carcinoma

2. Keratinizing squamuous cell carcinoma

3. Basaloid squamuous cell carcinoma

Pada masa lampau istilah lymphoephitelioma dan lymphoephitelial carcinoma

digunakan untuk menggambarkan karsinoma nasofaring, akan tetapi pendekatan

anatomik dan histologis dalam mengklasifikasikan karsinoma nasofaring merupakan

klasifikasi paling berguna untuk kebanyakan pathologis, dokter bedah dan

onkologis7. Subklasifikasi carcinoma nasofaring menjadi undifferentiated dan

differentiated tidak bernilai secara klinis maupun prognosis.1

Istilah squamuous cell carcinoma mengacu pada gambaran diferensiasi

skuamosa dengan mikroskop cahaya memperlihatkan adanya intercellular bridge dan

keratinisasi. Tumor tumbuh dalam daerah-daerah yang irregular dipisahkan dengan

stroma desmoplastic dengan sel limfosit, plasma sel, neutrophil, dan eosinophil

dalam jumlah yang beragam. Batas sel tegas, dipisahkan oleh intercellular bridges.

Dapat terlihat area keratinisasi. Inti biasanya hiperkromatis1,7.

Non-keratinizing carcinoma merupakan NPC klasik. Terdapat dua tipe yaitu :

15
differentiated dan undifferentiated. Berupa lembaran solid dengan gambaran sinsitial,

sel-sel tumor besar berkelompok di daerah-daerah yang tampak irregular yang

berbaur dengan elemen inflamasi. Sel sering terlihat tumpang tindih. Kromatin inti

biasanya vesicular, memperlihatkan anak inti yang menonjol. Terdapat rasio yang

tinggi dari inti dan sitoplasma dengan sitoplasma yang amphofilic. Kadang-kadang

didapatkan daerah dengan gambaran epithel transisional. Stroma yang desmoplastik

jarang terlihat. Ketika komponen limfoid tampak dominan, maka akan terbayang

seperti konsep “lymphoepithelioma”. Jika didapatkan gambaran pulau-pulau

epithelial yang terdefinisikan baik, maka didapatkan gambaran pola Regaud.

Sedangkan pada pola Schmincke didapatkan gambaran individual cell in ill-defined

sheets1,7.

Respon granulomatosa pada tumor dapat memperlihatkan gambaran seperti

Hodgkin Lymphoma. Untuk membedakan klasifikasi non-keratinizing menjadi tipe

differentiated dan undifferentiated merupakan hal yang cukup sulit dan tidak

signifikan baik secara klinis maupun prognosis7.

Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi karsinoma nasofaring, yaitu

faktor infeksi EBV, predisposisi genetik, dan pengaruh lingkungan.13

Terdapat bukti kuat keterlibatan EBV pada pathogenesis karsinoma nasofaring,

yaitu 8:

 Peningkatan titer IgA EBV, terutama viral capsid antigen (VCAs) dan early

antigen, dimana titer ini terdeteksi pada lebih dari 93% pasien karsinoma

nasofaring.

16
 Titer IgA anti EBV sangat meningkat pada pasien dengan ukuran tumor

yang lebih besar.

 Adanya DNA atau RNA EBV pada semua sel tumor karsinoma nasofaring.

 Adanya EBV pada lesi prekursor karsinoma nasofaring, tetapi tidak pada

epitel yang normal. Lesi prekursor ini akan berkembang menjadi karsinoma

invasif dalam waktu 1 tahun.

 Adanya EBV pada clonal episomal form, menandakan bahwa EBV telah

masuk ke dalam sel tumor sebelum ekspansi klonal.

 Infeksi EBV memerankan pola type II laten, yaitu ekspresi pada EBV

nuclear antigen-1 (EBNA-1), dan latent membrane protein-1 (LMP-1). EBV

encoded early RNAs (EBER) terekspresikan dengan baik.

LMP-1 yang merupakan protein virus yang berpotensi oncogenic dengan

proporsi untuk transformasi dapat menginduksi hyperplasia epidermal, menghambat

diferensiasi skuamosa, meningkatkan regulasi adhesi molekul ICAM-1 dan CD40,

mengaktifkan nuclear factor kappa B (NF-kB) dan mempengaruhi ekspresi dari

EGFR (Epidermal Growth Factor Receptor) sehingga mempengaruhi immortilisasi

dari sel B. Sedangkan LMP-2 mempunyai peranan dalam persistensi virus pada B

cell memory.7,13

EBV memasuki sel limfosit B secara utama melalui pengikatan major viral

envelope glycoprotein gp 350/220 ke reseptor CD21 pada permukaan sel B limfosit,

dan melalui perikatan second glycoprotein gp42 ke HLA class II sebagai co-

reseptor.13

17
EBV biasanya didapatkan pada tipe non-keratinizing dibandingkan tipe

keratinizing. Hibridisasi insitu atau PCR (polymerase chain reaction) biasanya

diperlukan untuk memperlihatkan adanya EBV. Walaupun demikian EBV encoded

early RNA (EBER) merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik yang

ada pada saat ini untuk mendeteksi adanya EBV pada karsinoma nasofaring.

Inaktivasi dari tumor supressor gene p16 pada 9p21 dengan delesi dan metilasi

homozygous merupakan perubahan yang paling umum terjadi pada tahap molekular

dari tumorigenesis NPC. Pada EBER positif, potensi residual / reccurent tumor

lebih besar13.

Dari segi predisposisi genetik, terdapat hubungan antara Human Leukosit

Antigen (HLA) haplotypes dengan perkembangan NPC. Terdapat peningkatan

resiko pada individu yang memiliki tipe HLA2-A2, yaitu pada subtipe HLA-A’0207

pada etnis Cina tetapi sebaliknya, tidak terdapat peningkatan resiko pada subtipe

HLA-A’0201 yaitu pada etnis Kaukasia.13

Pengaruh lingkungan pada insidensi NPC berhubungan dengan diet, yaitu

konsumsi dari nitrosamine pada makanan yang diawetkan / diasinkan, juga terdapat

pengaruh dari paparan rokok, formaldehyde, debu kayu, dan batubara.1,7,13

Differensial diagnosis secara histologis dari karsinoma nasofaring yang

tersering diantaranya adalah oropharyngeal nonkeratinizing carcinoma, SNUC,

large cell lymphoma, and mucosal malignant melanoma. Pada non-keratinizing

undifferentiated pharyngeal carcinoma inti sel biasanya besar berbentuk bulat,

dengan anak inti yang menonjol dan eosinofilik. Sedangkan inti sel pada large cell

18
malignant lymphoma biasanya lebih ireguler, dengan kromatin kasar dan anak inti

lebih kecil. Dengan pemeriksaan imunohistokimia, oropharyngeal nonkeratinizing

carcinoma akan menghasilkan hasil tes positif untuk p16 dn negatif untuk EBER

bila dibandingkan dengan NPC, sedangkan dengan large cell lymphoma dapat

dibedakan dengan pemeriksaan cytokeratin, dimana large cell lymphoma

memberikan hasil cytokeratin negatif, tetapi positif untuk antigen leukosit CD45.

Sedangkan dengan mucosal malignant melanoma, akan memberikan hasil positif

untuk S100 dan marker melanoma seperti HMB 45 dan Melan-A.2,14

Keratinizing squamuous cell carcinoma mempunyai survival rate lebih

rendah, yaitu 20-40% dibandingkan dengan pada type undifferentiated, walaupun

survival rate terendah didapatkan pada tipe basaloid (<10%). Prognosis lebih baik

terlihat pada pasien yang lebih muda (<40 tahun) dan pada penderita wanita.

Prognosis yang buruk berhubungan dengan stadium klinik yang tinggi, keterlibatan

cranial nerve, pada type keratinizing dan tidak adanya EBV. Titer EBV

berhubungan dengan survival rate, dimana serum EBV DNA dapat digunakan untuk

memonitoring penyakit. Keratinizing squamuous cell carcinoma mempunyai

kecenderungan untuk pertumbuhan tumor lokal yang mendesak jaringan sekitarnya,

tetapi jarang bemestastasis dibandingkan non-keratinizing squamuous cell

carcinoma13.

19
IV. SIMPULAN
Karsinoma nasofaring merupakan keganasan yang paling sering terjadi pada

nasofaring diantara semua keganasan yang dapat mengenai nasofaring.

Karsinoma nasofaring jarang dijumpai pada ras kaukasia, tetapi umum terjadi pada

ras Cina terutama Cina Selatan dan Afrika Selatan, hali ini dicurigai erat

hubungannya dengan faktor genetik dan juga kebiasaaan mengkonsumsi ikan yang

diasinkan yang mengandung kadar nitrosamine yang tinggi.

Undifferentiated non keratinizing squamuous cell carcinoma merupakan type

yang tersering diantara semua klasifikasi carcinoma nasofaring, sedangkan type

keratinizing squamuous cell carcinoma mempunyai prognosis lebih buruk

dibandingkan type non keratinizing squamuous cell carcinoma.

Prognosis dari keberhasilan pengobatan karsinoma nasofaring terutama

ditentukan dari stadium saat awal karsinoma nasofaring ditemukan pada penderita,

usia saat penderita mengidap karsinoma nasofaring, type undifferentiated non-

keratinizing pharyngeal squamuous cell carcinoma, dan metastasis pada kelenjar

getah bening servikal homolateral lebih baik prognosisnya dibandingkan yang

bermetastasis ke kontralateral. Pada EBER positif, potensi residual tumor lebih besar

dibandingkan EBER negatif.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. El-Naggar AK, Chan JKC, Grandis JR, Takata T, Slootweg PJ. WHO

Classification of Head and Neck Tumours. 4th ed. Lyon: IARC; 2017.p.65 - 70.

2. Thompson LDR, Goldblum JR. Head and Neck Pathology. 2nd ed. Goldblum JR,

editor. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2013. p.70 -74

3. Van De Graaff KM. Human Anatomy. 6th ed: The McGraw-Hill Companies;

2001.

4. Mescher AL. The Respiratory System. Junqueira’s Basic Histology Text &

Atlas. 14th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2016. p. 349-52.

5. Eroschenko VP. The Respiratory System. diFiore’s Atlas of Histology with

Functional Correlations. 11th ed. Philadelphia Lippincott Williams & Wilkins;

2008. p. 333-54.

6. Barnes L. Surgical Pathology of The Head and Neck. 3rd ed. New York: Informa

Healthcare USA; 2009.

7. Rosai J. Nasopharyngeal Carcinoma. In: Rosai J, editor. Rosai and Ackerman's

Surgical Pathology. 11th ed. St. Louis Missouri: Mosby Elsevier; 2011. p.171 –

74.

8. Wenig BM. Atlas of Head and Neck Pathology 3rd ed: Elsevier Health Sciences;

2016.p.333-340

9. Wheathers. Basic Pathology A Text, Atlas and Review of Histopathology:

Elseviers Health Science. 2011. p.128 – 141

21
10. Gattuso, Reddy, David. Differential Diagnosis in Surgical Pathology 2nd ed. :

Elsevier Health Sciences; 2010. p. 172 – 173

11. Douglas R.Gneep. Diagnostic Surgical Pathology of Head and Neck 2ndEd.

Elsevier Health Sciences. 2009. p.55-58

12. Barnes L, Chiosea S, Seethala R. Head and Neck Pathology Volume 3. New

York : Demos Medical ; 2011.

13. Lu J.J, Lee AWM. Nasopharyngeal Cancer Multidisciplinary Management.

Springer; 2010.

14. Laura N. Carle, Charles C. Ko, and James T. Castle Head and Neck Pathol :
Nasopharyngeal Carcinoma. 2012.

22