Anda di halaman 1dari 28

KOLEKSI HAMA FILUM MOLLUSCA DAN KELAS MAMALIA DI

INDONESIA

ILMU HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

DISUSUN OLEH :
1. Khansa Satya A. 17025010018
2. Arifa Bingar M. 17025010019
3. Anissa Us Sholikah 17025010020
4. Rizky Ika N. 17025010021
5. Erista Wahyu N. 17025010022
6. Zulfikar Alvin N. 17025010023

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAWA TIMUR
SURABAYA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan flora dan fauna. Kekayaan
sumber daya alam hayati itu baru sebagian yang sudah dimanfaatkan. Sejak
mengenal bercocok tanam, masyarakat sering mengalami gangguan yang
bersifat menghambat, merusak, menghancurkan, atau menggagalkan panen.
Di beberapa lokasi, adanya gangguan hama menyebabkan masyarakat tidak
dapat melakukan budidaya tanaman.
Hama merupakan suatu organisme penyebab kerusakan pada tanaman.
Hama tersebut dapat berupa binatang misalnya molusca sawah, wereng, tikus,
ulat, tungau, ganjur dan belalang. Pengendalian hama secara kimia terus
menerus mengakibatkan adanya biomagnifikasi yang berdampak pada
kesehatan baik bagi organisme terutama manusia maupun bagi lingkungan.
Oleh karena itu pengetahuan mengenai biologi, siklus hidup, gejala serangan,
dan kerusakan tentang hama diperlukan guna memilih opsi yang tepat dalam
pengendalian, tentunya yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang tidak
membahayakan makhluk hidup dan lingkungan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah kami sampaikan, adapun
rumusan masalah kami buat yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan hama?
2. Apa saja hama filum Mollusca dan kelas Mamalia yang ada di
Indonesia?
3. Bagaimana siklus hidup dari hama filum Mollusca dan kelas
Mamalia ?
4. Bagaimana gejala serangan dari hama filum Mollusca dan kelas
Mamalia ?
5. Bagaimana kerusakan yang ditimbulkan oleh hama filum Mollusca
dan kelas Mamalia?
6. Bagaimana pengendalian yang tepat untuk hama-hama tersebut?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hama
Hama dalam arti luas adalah semua bentuk gangguan baik manusia,
ternak dan tanaman. Pengertian hama dalam arti sempit yang berkaitan
dengan kegiatan budidaya tanaman adalah semua hewan yang merusak
tanaman atau hasilnya yang mana aktivitas hidupnya ini dapat menimbulkan
kerugian secara ekonomis. Adanya suatu hewan dalam satu pertanaman
sebelum menimbulkan kerugian secara ekonomis maka dalam pengertian ini
belum termasuk hama. Namun demikian potensi mereka sebagai hama
nantinya perlu dimonitor dalam suatu kegiatan yang disebut pemantauan
(monitoring). Secara garis besar hewan yang dapat menjadi hama dapat dari
jenis serangga, moluska, tungau, tikus, burung, atau mamalia besar. Mungkin
di suatu daerah hewan tersebut menjadi hama, namun di daerah lain belum
tentu menjadi hama (Dadang, 2006).
2.2 Babi Hutan
Hewan ini dapat ditemukan diseluruh hutan di Indonesia. Babi hutan
adalah Hewan nokturnal yaitu hewan yang aktif pada malam hari. Babi hutan
termasuk hewan omnivora jika digolongkan menurut jenis makanannya dan
termasuk hewan mamalia jika digolongkan menurut cara
perkembangbiakannya. Perkembangbiakan babi hutan terbilang cepat dengan
satu induk betina dapat melahirkan banyak anakan bai hutan. Berat babi hutan
berkisar 50 kilogram-300 kilogram dengan panjang badan 1-1,8 meter. Babi
hutan berada di areal yang berbatasan dengan hutan, semak belukar, hutan
sekunder, dan hutan payau primer. Babi hutan memiliki klasifikasi sebagai
berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Suidae
Genus : Sus
Spesies : Sus scrofa Linnaeus (Lekagul dan McNeely, 1988).
2.3 Kera Hitam
Monyet hitam (Dare) endemik sulawesi selatan ini tergolong hewan
mamalia yang berkembangbiak dengan cara melahirkan. Monyet ini dianggap
sebagai hama dikarenakan sering memakan buah-buahan hasil pertanian
masyarakat setempat. Namun populasi monyet ini sudah berkurang
dikarenakan perburuan dan tempat tinggal atau habitat alami yang mulai
berkurang sehingga termasuk satwa yang dilindungi. Monyet ini memiliki
klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Famili : Cercipithecidae
Genus : Macaca
Spesies : Macaca maura
Panjang tubuh Monyet Hitam Dare sekitar 500 – 690 mm, panjang ekor
30 – 35 mm, dengan berat berkisar antara 5-6 kg. Warna rambut dari jenis ini
bervariasi dari coklat muda hingga coklat kehitaman, dengan warna pucat di
bagian tunggingnya. Terkadang terdapat individu yang berwarna putih atau
abu-abu karena umur yang tua. Salah satu ciri untuk membedakan monyet-
monyet di Sulawesi adalah bantalan pada tunggingnya (Ischial callocity).
Bantalan tungging berbentuk oval ini berguna sebagai bantalan pada waktu
duduk di pohon atau tempat-tempat yang keras lainnya. (Supriatna, 2000)
2.4 Musang
Musang merupakan memalia ( menyusui) yang termasuk kedalam
suku musang dan Viverridae (garangan). Nama ilmiah musang
adalah Paradoxurus hermaphroditus, yang dikenal oleh masyarakat
Indonesia adalah luwak dan di Malaysia dikenal sebagai musang pulut.
Hewan musang ini sangat beragam panggilan tergantung dengan daerah
masing-masing, seperti caereuh bulan bahasa dari sunda, common palm
civet, common musang, haouse musang atau toddy cat berasal
dalam Bahasa Inggris.
Berdasarkan tingkatan taksonomi musang dapat diklasifikasikan dan
morfologikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Mammalia

Ordo : Carnivora

Famili : Viverridae

Genus : Paradoxurus

Spesies : Paradoxurus hermaphroditus

Musang memiliki panjang tubuh sekitar 50 cm dengan ekor mencapai


panjang 45 cm dan berat rata-rata 3,2 kg. Tubuh ditutupi rambut berwarna
kecoklatan dengan moncong dan ekor berwarna kehitaman. Bagian sisi atas
tubuh berwarna abu-abu kecoklatan, dengan berbagai variasi warna dari
coklat merah tua sampai kehijauan. Dahi dan sisi samping wajah hingga di
bawah telinga berwarna keputih-putihan, seperti beruban. Satu garis hitam
samar-samar terlihat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala. Ciri khas
dari spesies ini adalah ekor yang tidak memiliki pola belang sampai diujung
ekor, dan terdapat warna putih diwajah menyerupai topeng. Musang jantan
dan betina memiliki kelenjar anal yang terletak di bawah ekor. Musang juga
mempunyai tanda berwarna putih atau abu pucat di bawah mata, di dahi, dan
di dasar telinga. Tanda ini dapat digunakan untuk membedakan musang
dengan musang spesies lain. Pada spesies lain, kelenjar ini hanya berkembang
pada jantan, sedangkan pada musang kelenjar ini berkembang pada jantan
maupun betina. Oleh sebab itu, nama spesies musang adalah Paradoxurus
hermaphroditus.
Musang termasuk hewan yang bersifat soliter dengan berbagai gaya
hidup dan adaptasi, sebagai contoh mereka sangat pandai memanjat pohon
untuk mencari makan. Sebagaimana berbagai kerabat dari Viverridae,
musang mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat anus.
Kemungkinan bau ini digunakan untuk menandai batas-batas teritori dan
mengumumkan kehadiran musang baik pada pasangan maupun musuh.
Musang merupakan hewan arboreal yang sebagian besar menghabiskan
waktu hidup di atas pepohonan (Vaughan et al., 2011). Hewan ini memilih
pohon tertinggi dan terbesar (>10 m) untuk aktivitas seperti beristirahat dan
makan. Luwak merupakan hewan nokturnal dengan kebiasaan hidup yang
unik dalam proses adaptasi yaitu hewan yang aktif di malam hari untuk
mencari makan dan beristirahat di siang hari. Jotish (2011) mengemukakan
pula bahwa ketika musang tersebut berada di dekat pemukiman manusia,
maka feses musang mengandung nasi dan protein hewani. Pernyataan Jotish
(2011) mengindikasikan apabila Musang tinggal di dekat pemukiman
masyarakat, maka musang juga memungut sisa-sisa makanan manusia.
2.5 Landak
Secara umum, klasifikasi landak dalam taksonomi adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub fillum : Vertebrata
Superkelas : Tetrapoda
Kelas : Mamalia
Sub Kelas : Theria
Infra kelas : Rhodentia
Ordo : Rodentia
Sub Ordo : Ystricomorpha
Infra Ordo : Phiomorpha
Famili : Hystricidae
Genus : Hystrix
Species : Hystrix Brachyura
Landak merupakan hewan mamalia yang bersifat soliter dan nokturnal.
Landak memiliki ciri khas pada rambutnya. Secara umum, landak memiliki
dua macam rambut, yaitu rambut halus dan rambut yang mengeras atau duri.
Seekor landak mempunyai kurang lebih 30.000 duri di tubuhnya (Roze 1989)
Duri-duri landak merupakan alat pertahanan utama dari predator.
Landak mempunyai panjang badan antara 40 sampai dengan 91 cm dan
panjang ekor berkisar antara 6 sampai dengan 25 cm. Bobot badan landak
secara normal berada di antara 5.4 sampai dengan 16 kg (tergantung spesies).
Landak memiliki bentuk tubuh lonjong dan cenderung untuk bergerak secara
lambat. Landak memiliki berbagai macam corak rambut dan duri, yaitu
coklat, hitam, abuabu, dan putih (Parker 1990). Kebanyakan orang mengira
landak berhubungan dengan hedgehogs (Erinaceomorph) karena tubuh
mereka sama-sama ditutupi oleh duri. Padahal, landak dan hedgehogs
mempunyai hubungan kekerabatan filogenetik yang jauh (Vaughn et al.
2000).
2.6 Kelelawar
Kelelawar diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Animalia,
Phylum Chordata, Subphylum Vertebrata, Class Mammalia, Ordo
Chiroptera, Sub Ordo Megachiroptera dan Microchiroptera (Feldhamer 1990)
Jenis kelelawar yang telah diketahui di Indonesia sekitar 205 jenis, yang
terbagi ke dalam 9 suku dan 52 marga. Kesembilan famili tersebut adalah
Pteropodidae, Megadermatidae,Nycteridae, Vespertilionidae, Rhinolophidae,
Hipposideridae, Embllonuridae, Rhinopomatidae dan Molossidae (Suyanto
2001). Namun kelelawar pemakan buah yang menjadi hama utama di
Indonesia adalah kalong kapuk (Pteropus vampyrus). Berikut adalah
klasifikasi dari kalong kapuk :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Chiroptera
Sub ordo : Megachiroptera
Famili : Pteropodidae
Genus : Pteropus
Spesies : Pteropus vampyrus
Perbedaan ukuran tubuh dan morfologi kelelawar dapat diketahui
berdasarkan jenis pakannya. Kelelawar pemakan buah umumnya memiliki
ukuran tubuh yang besar, bola mata besar dan memiliki moncong seperti
anjing. Kalong kapuk (Pteropus vampyrus) yang terdapat di Asia Tenggara,
termasuk Indonesia, merupakan kelelawar pemakan buah terbesar di dunia.
Ukuran sayap P. vampyrus mencapai 1.700 mm dengan bobot tubuh
mencapai lebih dari 1.500 gram; sedangkan ukuran lengan bawahnya 36–228
mm. Kelelawar pemakan serangga yang berukuran paling kecil memiliki
bobot 2 gram dan paling besar 196 gram dengan ukuran lengan bawah
sayapnya 22–115 mm (Suyanto 2001). Sayap kelelawar berbeda dengan
sayap burung yang merupakan susunan bulu yang menempel pada dada.
Sayap kelelawar terdiri atas lapisan kulit yang sangat tipis dan melekat
pada ruas-ruas tulang jari tangan yang mengalami perpanjangan dan
berfungsi sebagai kerangka sayap. Selaput kulit yang melekat pada kerangka
sayap membentang hingga jari kaki depan, kaki belakang dan ekor. Selaput
kulit yang berfungsi sebagai sayap ini memiliki jaringan ikat yang lentur
sehingga selaput sayap dapat dilipat dan tidak menjadi penghalang pada saat
berjalan. Selama terbang, selaput sayap ini juga berfungsi sebagai radiator
(pendingin) karena selaput terbang yang berisi jaringan ikat urat yang lentur
dan serabut otot merupakan tempat mendinginkan darah (Ensiklopedi
Indonesia 2003).
2.7 Keong Mas
Keong mas atau golden apple snail (GAS) merupakan salah satu jenis
moluska air tawar yang berasal dari dataran hujan di sepanjang Sungai
Paraguay dan Parana yang memotong Paraguay, Brazil, Bolivia dan
Argentina. Di Asia, keong mas pertama kali dikenal di Taiwan pada tahun
1979 dan saat ini telah tersebar luas di seluruh penjuru benua Asia. Seiring
dengan proses penyebarannya, keong mas kini telah menjadi salah satu hama
padi yang paling berbahaya di negara-negara penghasil beras di Asia, seperti
Filipina, Vietnam, Thailand dan Indonesia (Joshi 2005).
Klasifikasi keong mas (Pomacea canaliculata) menurut Lamarck (1822)
adalah sebagai berikut (Pennak 1989; Cazzaniga 2002):
Filum : Molusca
Kelas : Gastropoda
Subkelas : Prosobranchiata
Ordo : Mesogastropoda
Famili : Ampullariidae
Genus : Pomacea
Spesies : Pomacea canaliculata
Keong mas memiliki karakteristik khusus yang dapat digunakan untuk
membedakan antara keong mas dengan keong-keong jenis lain yang hidup
pada habitat yang sama. Keong mas dewasa memiliki cangkang berwarna
coklat dan daging berwarna putih krem hingga emas kemerah-merahan atau
oranye. Ukuran tubuhnya sangat beragam dan bergantung pada ketersediaan
makanan. Ukuran diameter cangkang keong mas dapat mencapai 4 cm
dengan berat 10-20 gram (Ardhi 2008). Tahap keong mas memiliki sifat
destruktif adalah ketika ukuran cangkangnya sebesar 10 mm (sebesar biji
jagung) hingga 40 mm (sebesar bola ping pong) (DA-PhilRice 2001). Keong
mas memiliki umbilicus terbuka. Operkulum yang menutupi lubang aperture
terbuat dari kitin dan merupakan operkulum tipe konsentris (Pennak 1989).
2.8 Bekicot
Bekicot (Achatina Fulica) memiliki sebuah cangkang yang sempit
berbentuk kerucut yang panjangnya dua kali lebar tubuhnya dan terdiri dari
tujuh sampai sembilan ruas lingkaran ketika umurnya telah dewasa.
Cangkang bekicot umumnya memiliki warna coklat kemerahan dengan corak
vertikal berwarna kuning tetapi pewarnaan dari spesies tersebut tergantung
pada keadaan lingkunagan dan jenis makanan yang di konsumsi. Bekicot
dewasa panjangnya dapat melampaui 20 cm tetapi rata-rata panjangnya
sekitar 5-10 cm. Sedangkan berat rata-rata bekicot kurang lebih adalah 32
gram (Dewi, 2010). Bekicot lebih memilih memakan tumbuh-tumbuhan yang
busuk, hewan, jamur dan alga. Bekicot juga dapat menyebabkan kerusakan
yang serius pada tanaman pangan dan tanaman hias (Dewi, 2010). Berikut
adalah penggolongan taksonomi bekicot menurut Dewi (2010) :
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Stylommatophora
Famili : Achatinidae
Sub famili : Achatininae
Genus : Achatina
Sub genus : Lissachatina
Spesies : Achatina fulica
2.9 Siput Setengah/Tanpa Cangkang(Slugs)
Menurut Hoong (1995), klasifikasi siput setengah cangkang adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Pulmonata
Family : Helicarionidae
Genus : Parmarion
Spesies : Parmarion pupillaris
Parmarion pupillaris termasuk siput setengah telanjang karena masih
terlihat adanya cangkang kecil yang tereduksi. Mantel dan cangkang
membentuk tonjolan di bagian punggung, menutupi dari bagian kepala hingga
separuh bagian tubuhnya. Cangkang tipis berwarna kuning kecoklatan,
mengkilat, berbentuk seperti kuku. Panjang tubuhnya 3–5 cm, berwarna
coklat kekuningan atau coklat keabuan dan semakin gelap pada tubuh bagian
belakang. Terdapat dua garis lateral yang sejajar berwarna hitam. Garis ini
memanjang mulai dari pangkal antena di kepala hingga bagian ujung
belakang tubuhnya (Isnaningsih, 2008). Parmarion pupillaris. adalah siput
tanpa cangkang yang termasuk binatang berkaki perut atau Gastropoda. Siput
ini pada saat berjalan mengeluarkan lendir yang bersifat toksik terhadap
tanaman dan siput tersebut merusak tanaman dengan memakan daun
(Kalshoven, 1981).
2.10 Tikus Sawah
Tikus sawah mempunyai klasifikasi sebagai berikut Kelas Mammalia,
Subkelas Theria, Infra Kelas Eutheria, Ordo Rodentia, Subordo Mymorpha,
Famili Muridae, dan Subfamili Murinae, Genus Rattus, Spesies R.
argentiventer (CPC 2002).
Tikus sawah mempunyai ciri morfologi yaitu tekstur rambut agak kasar,
bentuk hidung kerucut, bentuk badan silindris, warna badan dorsal coklat
kelabu kehitaman, warna badan ventral kelabu pucat atau putih kotor, warna
ekor ventral coklat gelap, bobot badan 70-300 g, panjang badan 130-210 mm,
panjang ekor 110-160 mm, panjang secara keseluruhan dari kepala sampai
ekor 240-370 mm, lebar daun telinga 19-22 mm, panjang telapak kaki
belakang 32-39 mm, lebar sepasang gigi seri pengerat pada rahang atas 3 mm,
formula puting susu 3 + 3 pasang (Priyambodo, 2003).
2.11 Tikus Pohon
Tikus pohon mempunyai klasifikasi sebagai berikut Kelas Mammalia,
Subkelas Theria, Infra Kelas Eutheria, Ordo Rodentia, Subordo Mymorpha,
Famili Muridae, dan Subfamili Murinae, Genus Rattus, Spesies R.
tiomanicus (CPC 2002).
Tikus pohon termasuk sebagai spesies tikus yang berukuran kecil
hingga menengah. Ciri khas yang dapat membedakan tikus pohon dengan
spesies tikus yang lainnya yaitu mempunyai ekor yang lebih panjang dari
pada kepala dan badan, tubuh bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dan
bagian ventralnya berwarna putih, putih kekuningan, atau krem (Aplin,
Brown, Jacob, Krebs, Singleton 2003). Tikus pohon memiliki memiliki
bentuk rambut agak kasar, bentuk hidung kerucut, bentuk badan silindris serta
warna ekor bagian atas dan bawah coklat hitam. Tikus pohon memiliki bobot
tubuh 55-300 g, panjang kepala dan badan 130-200 mm. Tikus betina
memiliki lima pasang puting susu yaitu dua pasang di dada dan tiga pasang
di perut (Rochman 1992)
2.12 Siput Sumpil
Klasifikasi Siput Sumpil (L. Gracilis) menurut Dharma(1998) adalah
sebagai berikut :
Filum : Mollusca
Kelas : Gastropoda
Subkelas : Pulmonata
Ordo : Mesurethra
Superfamili : Achatinacea
Famili : Subulidae
Genus : Lamellaxis
Spesies : Lamellaxis gracilis
Sumpil mempunyai rumah yang bentuknya silindris dan berukuran
kecil dengan panjang 11 mm, warnanya kuning muda. Kedua jenis sumpil
ini biasanya tercampur menjadi satu populasi. Binatang ini merusak semai
tembakau, kol, sawi, dan bermacam-macam sayuran. (Pracaya, 2008: 298).
Cangkang langsing serupa gulungan benang; seluk 9-10, dindingnya
melingkar sempurna, mengkilap, dan transparan; seluk akhir dengan tinggi
lk. 2/5 dari seluruh tinggi cangkang; garis taut (sutura) jelas tetapi sedikit
mengerut. Puncaknya tumpul; dasar seluk membulat; pusar (umbilikus)
tertutup. Mulut cangkang miring, hampir lonjong, meruncing di bagian atas
dan bawah. Tepi mulut cangkang tidak menerus, tajam, tidak menebal atau
melipat. Sumbu cangkang (kolumela) terpangkas di bagian bawah (Heryanto
et al, 2003)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Babi Hutan
3.1.1 Siklus Hidup
Babi hutan jantan dewasa biasanya bergerak dan mencari makan sendiri
(soliter), sedangkan yang betina hidup bersama dengan anak-anaknya dalam
kelompok 4-50 ekor. Musim kawin ditandai dengan bergabungnya babi hutan
jantan dewasa dengan kelompok betina. Seekor babi hutan betina dapat
beranak sampai 12 ekor dengan masa bunting 110 hari. Induk babi tersebut
dapat beranak lagi setelah 7-8 bulan setelah masa beranak sebelumnya
(Sudharto dan Desmier de Chenon, 1997). Mereka menggunakan suaranya
untuk berkomunikasi, termasuk untuk memperingatkan adanya bahaya
(alarm call) yang mengancam
3.1.2 Gejala Serangan
Babi hutan terutama menyerang tanaman kelapa sawit yang masih
muda atau yang baru ditanam, karena mereka menyukai umbutnya yang
lunak. Timbulnya serangan babi hutan pada tanaman kelapa sawit tidak
semata-mata karena populasinya yang tinggi di habitatnya dalam hutan yang
berdekatan, tetapi erat hubungannya dengan sifat satwa liar ini yang rakus.
Selain memakan umbut mereka juga memakan buah sawit yang sudah
membrondol di tanah, dan tandan buah di pohon yang masih terjangkau.
(Sipayung, 1992)
3.1.3 Kerusakan
Sebagai gambaran kerusakan tanaman kelapa sawit yang diakibatkan
serangan babi hutan di beberapa daerah pengembangan kelapa sawit. Selain
itu, serangannya juga menyebabkan kerusakan pada perakaran terutama
terhadap akar-akar makan (feeding roots) di sekitar piringan pohon, sehingga
dapat menghambat penyerapan air dan hara dari tanah dan mendorong
timbulnya penyakit akar. Dilaporkan bahwa kematian tanaman muda akibat
serangan babi hutan di Aceh diperkirakan 15,8% (Sipayung, 1992)
3.1.4 Pengendalian PHT
Menurut Priyambodo (1990) beberapa metode pengendalian hama babi
hutan adalah sanitasi, kultur teknis, mekanis, hayati, dan kimia. Pengendalian
secara mekanis dapat dilaksanakan dengan usaha untuk menghalangi babi
hutan memasuki areal pertanaman dengan membuat barier fisik melalui 2
cara: (1) membuat pagar yang kuat di sekeliling pertanaman, akan lebih baik
kalau pagar tersebut berupa pagar hidup dari tumbuhan yang relatif lebih kuat
karena akarnya menghunjam ke dalam tanah dan (2) membuat parit yang
cukup lebar dan dalam di sekeliling pertanaman. Lebar parit 2 m dan dalam
parit 1 m, cukup menghalangi usaha babi hutan memasuki areal tersebut.
Usaha lain adalah menangkap babi hutan yang dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa jenis perangkap (hidup atau mati), atau dapat juga
dengan menggunakan jaring atau jerat.

3.2 Kera Hitam


3.2.1 Siklus Hidup
Jenis Monyet Hitam Dare membentuk kelompok – kelompok
dengan jumlah individu, setiap kelompok terdiri atas 9 sampai 53 ekor. Dalam
satu kelompok terdapat banyak jantan dan banyak betinanya
(multimale/multifemale). Jantan dominan sering terlihat menentukan
pergerakan kelompok. Sering kali terlihat multiple mating yaitu betina
dikawini oleh beberapa jantan dalam kelompok tanpa adanya persaingan
antar jantan. Persaingan antar jantan tidak begitu kuat dalam hal makanan
maupun betina. (Supriatna, 2000).
3.2.2 Gejala Serangan
Monyet hitam merusak tanaman sagu pada bagian yang masih muda
dan selalu merusak tanaman sagu lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
Selain sagu, kera hitam juga menyebabkan rusaknya bagian pucuk tanaman
kopi yang masih muda sehingga mengganggu pertumbuhan vegetatif. Akibat
gangguan ini maka pertumbuhan tanaman terhambat, dan jika berlangsung
terus menerus maka tanaman dapat mengalami kematian. Kerusakan tersebut
diduga karena monyet menyukai cairan kambium tanaman dari bagian
pangkal sampai ujung tanaman (Kurniawan, 2009)
3.2.3 Kerusakan
Kera-kera tersebut memakan biji kopi yang masih muda dan
mematahkan batang pohon kopi. Gangguan ini sulit dicegah karena kera
menyerang kebun kopi pada malam hari, sedangkan petani hanya bisa
memantau pada siang hari. Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan oleh hama
primata berupa rusaknya bagian pucuk tanaman kopi yang masih muda
sehingga mengganggu pertumbuhan vegetatif Kerusakan tersebut diduga
karena monyet menyukai cairan kambium tanaman dari bagian pangkal
sampai ujung tanaman (Rahayu dan Novie,2015).
3.2.4 Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan lewat pemasangan jerat, racun,
berburu, pemagaran, penjagaan, dan menggunakan musuh alami. Namun
pengendalian menggunakan racun dan pemburuan hingga menimbulkan
hewan mati sangat tidak disarankan mengingat satwa tersebut merupakan
jenis satwa yang dilindungi. Sampai saat ini pengendalian terbaik yang
dilakukan adalah dengan cara memotong dahan yang rimbun di sekitar kebun
dan juga memotong pohon bambu yang menjadi sarang kera (Rahayu dan
Novie,2015).
3.3 Musang
3.3.1 Siklus Hidup
Musang dapat hidup sampai 22–24 tahun. Dewasa kelamin musang
betina yaitu sekitar umur 11–12 bulan. Lama kebuntingan musang yaitu 60
hari. Musang betina secara umum melahirkan 2–5 anak per siklus masa
kebuntingan (Weigl, 2005). Musang beranak sepanjang tahun, walaupun
pernah ada catatan bahwa anak musang lebih sering ditemukan antara bulan
Oktober hingga Desember. Anak–anak musang sering diletakkan di dalam
lubang pohon atau gua. Perilaku reproduksi musang selama mating
(perkawinan), pasangan musang tetap tinggal bersama sampai anak–anak
tersebut lahir. Musang betina memiliki tiga pasang puting susu (Grassman,
1998)
3.3.2 Gejala Serangan & Kerusakan
Jenis musang ini umumnya banyak menimbulkan kerusakan pada
tanaman kelapa namun beberapa jenis tanaman buah kadang - kadang juga
diserangnya. Gejala serangan hama bajing pada buah kelapa tampak
terbentuknya lubang yang cukup lebar dan tidak teratur dekat dengan ujung
buah, sedang jika yang menyerang tikus maka lubang yang terbentuk lebih
kecil serta tampak lebih teratur / rapi. (Mudappa et al., 2010)
3.3.3 Pengendalian
Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan
jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu
menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau
mempunyai sejumlah musuh - musuh alami. Tersedianya banyak makanan
dan tidak adanya agen - agen pengendali alami akan menyebabkan
meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat
penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh
musuh-musuh alaminya. Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di
Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.(Smith,1978)
3.4 Landak
3.4.1 Siklus Hidup
Landak mampu bereproduksi hingga dua kali setahun. Landak betina
mengalami masa bunting 16 minggu atau hampir 100 hari. Anak yang
dilahirkan berjumlah 2-3 ekor. Tubuh anak sangat lemah sampai umur 10 hari
dan anak-anak ini diasuh oleh induknya selama 3 bulan. Landak liar
diperkirakan dapat hidup 12-15 tahun, sementara landak yang dipelihara di
kebun binatang tercatat dapat hidup hingga 27,33 tahun. Landak memiliki
siklus estrus rata-rata 30-35 hari, dengan periode bunting mulai 93-110 hari.
Landak yang baru lahir memiliki berat 3% dari berat tubuh induknya.
Menurut Nowak dan Paradiso (1991), landak betina mencapai dewasa seksual
pada umur 9-16 bulan, sedangkan jantan 8-18 bulan. Satu ekor landak ratarata
dapat menghasilkan 3 ekor anak per tahun dalam satu kali kelahiran. Dengan
panjang gestasi 100-110 hari. Landak yang baru dilahirkan dapat
mengkonsumsi pakan secara normal setelah berumur 2-3 minggu (Nowak dan
Paradiso, 1991).
3.4.2 Gejala Serangan & Kerusakan
Landak sangat suka bagian bonggol kelapa sawit yang masih muda,
terutama bibit yang baru dipindahkan dari polybag ke lahan. Gejala
serangannya sangat khas yaitu tanaman sawit akan tercabut dari lubang
tanamnya. Kondisi ini terjadi lantaran landak berusaha menggali pangkal
batang tanaman kelapa sawit dengan merusak bonggol perakarannya
menggunakan kukunya yang tajam. Akibatnya tanaman yang dirusak tidak
akan tumbuh kembali dan mengalamai kematian. (SOP SPKS, 2016)
3.4.3 Pengendalian
Pengendalian yang dilakukan untuk mengatasi hama landak adalah
dengan sanitasi pada areal rendahan atau jurangan, batang-batang kayu
dimusnahkan, penanaman kacangan di areal rendahan, pemburuan dengan
anjing pelacak, peracunan dengan umbi ketela, ubi jalar dan buah-buahan,
pemasangan jerat landak (SOP SPKS, 2016)

3.5 Kelelawar
3.5.1 Siklus Hidup
Pada umumnya pola reproduksi kelelawar sangat dipengaruhi oleh
musim. Beberapa spesies di daerah sedang dan banyak spesies di daerah
tropis melahirkan satu anak dalam setiap kelahiran. Masa gestasi 3-6 bulan
dan berat anak dapat mencapai 25-30% berat induknya (dibanding dengan
manusia yang hanya 5% berat induknya), kecuali Lasiurus borealis yang
dapat menghasilkan anak hingga lima ekor. Kelelawar dikenal memiliki
kemampuan membawa beban yang handal. Berbeda dengan mamalia lainnya
yang menyapih anakan bila telah mencapai 40 % ukuran dewasa, kelelawar
menyapih ketika anakannya hampir berukuran dewasa. Keunikan anggota 10
subordo Microchiroptera lainya adalah pada saat dilahirkan kaki anaknya
akan keluar lebih dahulu, sedangkan mamalia lainnya kepala keluar lebih
dulu (Nowak, 1994).
3.5.2 Gejala Serangan dan Kerusakan
Kelelawar merupakan hewan yang aktif di malam hari (nocturnal). Pada
malam hari kelelawar pemakan buah akan terbang dan singgah di pohon-
pohon untuk mencari makan. Biasanya buah yang di cari adalah buah yang
sudah matang. Jenis-jenis buah yang ia makan seperti mangga, jambu biji,
jambu air, pisang, dan lain-lain. Tipe mulut dari kelelawar adalah menggit
mengunyah sehingga gejala serangan yang ditimbulkan adalah adanya bekas
gigitan pada buah yang sudah matang, sisa-sisa kotoran yang terjatuh diatas
permukaan tanah, adanya suara kelelawar, dll. Kerusakan yang dihasilkan
oleh kelelawar adalah rusaknya buah sehingga buah tidak layak untuk
dijual(Indriyani, 2013)
3.5.3 Pengendalian
Pengendalian hama kelelawar ini cukup mudah dan cukup sulit. adalah
cara pengendalian hama kelelawar :
1. Menyalakan penerangan seperti lampu, karena kelelawar tidak
menyukai tempat terang.
2. Melindungi buah dengan kelongsong.
3. Menangkap kelelawar dengan jarring.
4. Menggunakan insektisida.
5. Menggunakan kamper atau kapur barus untuk mengacaukan sensor
aroma dari kelelawar
(Indriyani 2013)
3.6 Keongmas
3.6.1 Siklus Hidup
Daur hidup keong mas menurut Soenarjo et al (1989) dari stadium telur
sampai stadium telur berikutmya membutuhkan waktu tiga bulan sedangkan
untuk keong sawah memerlukan waktu 6 – 7 bulan. Pada umur 15 hari keong
mas mencapai ukuran lebar 4,1 mm dan tinggi 5,8 mm. selanjutnya tiga bulan
sejak telur menetas keong mas telah dianggap dewasa dan siap berproduksi
dimana ukuran panjang tubuhnya telah mencapai 3 – 4 cm dengan berat 10 –
20 g. daur hidup keong mas sebagai berikut ; Telur → masa inkubasi (7 – 14
hari) → menetas → dewasa tubuh (15 – 25 hari) → masa pertumbuhan (49 –
59 hari) → dewasa kelamin → masa reproduksi (60 hari – 3 tahun).
3.6.2 Gejala Serangan
Keong emas bersifat pemangsa segala jenis tanaman. Binatang ini aktif
memakan daun dan pucuk-pucuk tanaman pada malam hari. Pada siang hari
tanaman sudah nampak gundul. Bekas tanaman bekas serangan siput dan
pada benda-benda di sekitar daerah serangan, biasanya terdapat lendir yang
telah mengeringbekas jalur perjalanan (Rahmat Rukmana, 1997: 111). Lebih
lanjut dinyatakan bahwa binatang ini merupakan hama tanaman padi.
Menurut Nur Tjhayadi (1995; 28) keong makan daun tanaman dengan
kecepatan yang cukup tinggi, sehingga keong merupakan jenis hama yang
merugikan .
3.6.3 Kerusakan
Keong mas memiliki mulut yang berada di antara tentakel bibir dan
memiliki radula, yaitu lidah yang dilengkapi beberapa baris duri yang tiap
baris terdiri atas tujuh duri. Radula memarut jaringan tanaman pada
perbatasan permukaan air sehingga tanaman patah dan dimakan. Tingkat
kerusakan tanaman padi sangat tergantung pada populasi , ukuran keong, dan
umur tanaman. Tiga ekor per m² tanaman padi akan mengurangi hasil secara
nyata. Semakin besar ukuran diameter keong mas, kerusakan yang
ditimbulkan semakin besar (Suharto dan Kurniawati, 2012).

3.6.4 Pengendalian

Adapaun pengendalian keong mas pada pertanaman padi adalah


sebagai berikut:

1. Sebelum penggaruan terkahir, melakukan pengambilan keong mas


secara langsung yang dapat dilakukan pada pagi dan sore hari ketika
keong masih aktif dan mudah diambil. Hal ini dilakukan pada tahap
pengolahan lahan. Selama penggaruan terakhir, pada saat
pengolahan lahan dibuat caren yang dalam dengan lebar 25 cm dan
dalamnya 5 cm (Gassa, 2011).
2. Menggunakan tanaman atraktan yang diletakkan dalam petakan
sawah secara berjejer, berjarak 1 - 2 meter antar umpan, yang
dilakukan sebelum panen hingga 5 minggu setelah tanam. Jumlah
atraktan yang diperlukan yaitu ± 40 kg per hektar. Tanaman atraktan
yang dapat digunakan yaitu daun pepaya (Carica papaya)
(Wiresyamsi dan Haryanto, 2008)
3. Penggembalaan itik yang sering disebut ISG (Itik Sistem Gembala).
Hal ini dapat dilakukan pada saat pengolahan lahan, saat
penanaman, maupun setelah panen. Penggembalaan itik pada saat
masa tanam dilakukan pada 30- 35 hari setelah tanam (HST). Itik
dilepaskan di daerah areal persawahan dan selanjutnya akan
memangsa baik keong mas yang dapat dilakukan pada pagi dan sore
hari. (Sesbany, 2011)

3.7 Bekicot

3.7.1 Siklus Hidup

Menurut Meer Mohr (1949), umur dewasa kelamin bekicot dicapai


setelah cangkang mencapai ukuran 60 mm. Pada ukuran tersebut bekicot telah
melakukan perkawinan. Pematangan seksual sepenuhnya dicapai pada saat
ukuran cangkang mencapai 80 mm. Menurut Misbet (1974), ukuran telur
bekicot rata-rata memiliki panjang 6,3 mm dan lebar 5,6 mm. menurut
Lambert (1974) telur bekicot berdiameter antara 4,5 mm-5,5 mm. jumlah
telur bekicot menurut Meer Mohr (1949) berkisar antara 82-315 butir. Jumlah
telur yang dilepaskan bekicot sangat tergantung pada daerah tempat hidup.

Menurut Berry dan Chan fungsi reproduksi bekicot dikontrol oleh sel-
sel neurosekretorik yang berasal dari otak dan dari tentakel okuler.
Pemotongan tentakel okuler bekicot berakibat meningkatkan oogenesis. Ini
artinya terjadi kontrol bersama antara fungsi hormone tentakuler (menekan
oogenesis) dan system neurohormonal dari otak (memacu oogenesis).
Menurut Meer Mohr (1949) bekicot melakukan perkawinan di waktu awal
pagi hari. Lama kawin dinyatakan antara 1,5-2 jam. Periode gestasi antara
14,16, 18 hari, ada pula yang menyatakan paling pendek 20 hari dan dapat
mecapai 341 hari (Lambert,1974;Raut dan Ghise,1982).

3.7.2 Gejala Serangan dan Kerusakan


Mead (1961) telah menginventarisasi macam-macam tumbuhan
termasuk tanaman budidaya yang menjadi makanan bagi bekicot. Bagian
tumbuhan yang diserang bekicot berbeda-beda mulai dari bagian kulit batang,
daun, bunga, buah, tumbuhan muda, sisa tumbuhan yang telah kering sampai
bagian keseluruhan dari tumbuhan tersebut. Kerusakan yang ditimbulkan
akibat serangan siput adalah cukup besar. Akar-akar muda, tunas baru, dan
kuncup bunga adalah makanan paling lezat bagi siput ini. Anggrek bulan
merupakan tanaman anggrek yang paling sering diserang oleh siput ini.
Biasanya melancarkan serangannya pada malam hari.

3.7.3 Pengendalian

Pengendalian secara kultur teknis (teknis budidaya) meliputi mengubah


jadwal penyiraman, pengolahan tanah secara teratur, menggunakan
bibit/benih yang tidak disukai bekicot. Adapun pengendalian secara fisik
yaitu penggunaan material lansekap tertentu, seperti potongan/serpihan kayu,
kerikil dan pasir, sulit untuk dipanjat oleh bekicot, dan penaburan garam di
areal tanaman.(Khusniyati dan Sarni, 2019)

3.8 Siput setengah cangkang

3.8.1 Siklus Hidup

Siput setengah cangkang ini bersifat hermaprodit. Setiap individu


memiliki kedua alat reproduksi baik jantan maupun betina dan dapat
menghasilkan telur. Daur hidup siput umumnya sekitar 1 tahun dalam stadia
belum dewasa atau pradewasa dan pada tahun kedua sebagai stadia dewasa.
Stadia pra dewasa lebih kecil dalam ukuran dan warnanya lebih cerah, tetapi
menyerupai dewasa dalam bentuk. Siput dewasa meletakkan telur secara
berkelompok dengan 10-15 butir per kelompok. Jumlah telur yang dihasilkan
sebanyak 300 butir. Telur tersebut akan menetas lebih kurang selama 10 hari
pada cuaca hangat atau sampai 100 hari pada cuaca dingin. Rata-rata
pematangan telur adalah sekitar 1 bulan (Jones, 2002).

3.8.2 Gejala Serangan dan Kerusakan


Gejala tanaman yang terserang siput setengah cangkang adalah bekas
lubang–lubang tak beraturan pada daun. Bekas lendir yang sedikit mengkilat
dan kotoran menjadi tanda yang membedakan serangan siput setengah
cangkang dengan ulat. Selain memakan daun, Parmarion juga menyerang
akar dan tunas serta seringkali merusak persemaian atau tanaman yang baru
saja tumbuh bahkan pada umur lanjut pada tanaman kubis bunga. Siput
setengah cangkang ini juga memakan bahan organik yang telah busuk
ataupun tanaman yang masih hidup (Isnaningsih, 2008).

3.8.3 Pengendalian

Pengendalian siput ini dapat dilakukan dengan menaburkan


campuran metaldehid dan sekam padi. (Hadiyani dan Indrayani, 1999).
Adapun cara pengendalian secara hayati yaitu memanfaatkan predator alami
siput yaitu siput karnivora, lipan, dan katak (Symondson, 1995)

3.9 Tikus Sawah

3.9.1 Siklus Hidup

Rattus rattus argentiventer mencapai umur dewasa sangat


cepat, masa kebuntingannya sangat pendek dan berulang-ulang
dengan jumlah anak yang banyak pada setiap kebuntingan. Masa
umur Rattus rattus argentiventer pada saat dewasa adalah 68 hari,
dan bagi betina masa bunting selama 20-22 hari (Liem, 1979)

3.9.2 Gejala Serangan dan Kerusakan

Gejala serangan tikus di pesemaian yaitu :

a. Benih padi yang baru ditabur dimakannya sehingga permukaan


bedengan rusak, jumlah benih berkurang, dan sisa benih tampak berserakan.

b. Benih yang telah berkecambah atau berakar dicabut dan dimakan


se¬hingga bila pesemaian digenangi, akan tampak potongan akar meng-
ambang di permukaan air.
c. Bibit padi bagian tengah bedengan dipotong dan dimakan sebagian
batangnya sehingga bibit tampak seperti baru disabit

Sedangkan gejala serangan Tikus di pertanaman yaitu :

a. Pada tanaman muda, bagian tengah petakan tampak gundul karena


batang-batang padi dipotong dan dimakan tikus.

b. Pada fase bunting, malai muda di bagian tengah petakan dimakan


melalui kelopak daun. Kadang-kadang bagian tanaman tidak diputuskan
semuanya sehingga tampak dari jarak jauh daun-daun berwarna kuning
kecokelatan seperti terserang sundep, wereng batang, atau terserang penyakit.

c. Saat bulir padi mendekati masak, tikus akan memotong dan meleng-
kungkan tanaman, kemudian memakan bulirnya. Bekas potongan biasa-nya
bersudut ± 45° dengan sebagian kecil tanaman masih terlihat berdiri tegak
dan dari jarak jauh tampak tanaman di bagian tengah petakan seperti terbakar,
berwarna kecokelat-cokelatan.

d. Gejala serangan pada tanaman umbi-umbian dan ubi-ubian, terutama


ubi jalar ialah tampak adanya lubang-lubang pada guludan, dan di
per¬mukaan lubang tersebut biasanya berserakan serpihan ubi sisa makan.

e. Pada buah kelapa, serangan tikus menyebabkan buah berlubang tidak


rata, terutama bagian pangkal buah.

Tikus sawah dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi mulai


dari saat pesemaian padi hingga padi siap dipanen, dan bahkan menyerang
padi di dalam gudang penyimpanan. Kerusakan akibat tikus sawah di negara-
negara Asia mencapai 10-15% setiap tahun dan di Indonesia luas serangan
tikus sawah setiap tahun rata-rata mencapai lebih dari 100.000 ha. Kerugian
akibat hama tikus dapat jauh lebih tinggi lagi karena kerusakan pada periode
pesemaian dan stadium padi vegetatif tidak termasuk kerugian dilaporkan
(Badan Litbang Pertanian. 2011)

3.9.3 Pengendalian
Beberapa hal yang dapt dilakukan untuk meminimalisasi gangguan
tikus :

a. Minimalisasi tempat bersarang/harborages antara lain : eliminasi


rumput/semak belukar

b. Meletakkan sampah dalam garbage/tempat sampah yang memiliki


konstruksi yang rapat, kuat, kedap air, mudah dibersihkan, bertutup rapi dan
terpelihara dengan baik.

c. Meniadakan sumber air yang dapat mengundang tikus, karena tikus


membutuhkan minum setiap hari

d. Menyimpan semua makanan atau bahan makanan dengan rapi ditempat


yang kedap tikus.

e. Sampah harus selalu diangkut secara rutin minimal sekali sehari.

f. Meningkatkan sanitasi tempat penyimpanan barang/alat sehingga tidak


dapat dipergunakan tikus untuk berlindung atau bersarang.(Badan Litbang
Pertanian. 2011)

3.10 Siput Sumpil

3.10.1 Siklus Hidup

Daur hidup siput umumnya sekitar 1 tahun dalam stadia belum dewasa
atau pradewasa dan pada tahun kedua sebagai stadia dewasa. Stadia pra
dewasa lebih kecil dalam ukuran dan warnanya lebih cerah, tetapi menyerupai
dewasa dalam bentuk. Siput dewasa meletakkan telur secara berkelompok
dengan 10-15 butir per kelompok. Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 300
butir. Telur tersebut akan menetas lebih kurang selama 10 hari pada cuaca
hangat atau sampai 100 hari pada cuaca dingin. Rata-rata pematangan telur
adalah sekitar 1 bulan (Jones, 2002).

3.10.2 Gejala Serangan

Siput ini tinggal pada tanaman anggrek di antara media tumbuh dalam
pot dan menyerang bagian akar. Malam hari siput naik ke permukaan pot dan
menyerang bagian daun,bunga, dan akar anggrek. Serangan berat terjadi pada
musim hujan. Tanda serangannya dapat mudah dikenali lewat lendir dan
fesesnya yang mengering (Novriyanti, 2007)

3.10.3 Pengendalian

Pengendalian siput ini dapat dilakukan dengan menaburkan


campuran metaldehid dan sekam padi. (Hadiyani dan Indrayani, 1999).
Adapun cara pengendalian secara hayati yaitu memanfaatkan predator alami
siput yaitu siput karnivora, lipan, dan katak (Symondson, 1995)

3.11 Tikus Pohon

3.11.1 Siklus Hidup

Pada satu musim tanam, tikus betina dapat melahirkan 2-3 kali,
sehingga satu induk mampu menghasilkan sampai 100 ekor tikus, sehingga
populasi akan bertambah cepat meningkatnya. Tikus betina terjadi cepat,
yaitu pada umur 40 hari sudah siap kawin dan dapat bunting. Masa kehamilan
mencapai 19-23 hari, dengan rata-rata 21 hari. Tikus jantan lebih lambat
menjadi dewasa daripada betinanya, yaitu pada umur 60 hari. Lama hidup
tikus sekitar 8 bulan (Paryanto, 2010)

3.11.2 Gejala Serangan dan Kerusakan

Serangan tikus pohon (R. tiomanicus) menyebabkan kerugian yang


cukup besar pada bidang pertanian di Indonesia dan di banyak negara. Tikus
pohon mampu menyerang tanaman kelapa sawit, baik yang belum maupun
yang sudah menghasilkan. Pada tanaman yang baru ditanam dan belum
menghasilkan, tikus mengerat serta memakan bagian pangkal pelepah daun,
sehingga mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat atau bahkan
tanaman dapat mati jika keratan tikus mengenai titik tumbuhnya. Pada
tanaman kelapa sawit yang sudah menghasilkan, tikus pohon dapat memakan
buahnya. Bila pakan yang ada di sekitar tikus berlimpah, maka tikus akan
berkembang biak sangat cepat sehingga kerusakan yang ditimbulkan juga
semakin besar. Perkembangan tikus sangat dipengaruhi oleh keadaan pakan
dan lingkungan sekitar (Aplin et al 2003).

3.11.3 Pengendalian

Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan cara kultur


teknis yaitu dengan membuat lingkungan yang tidak menguntungkan atau
tidak mendukung bagi kehidupan dan perkembangan populasi tikus, seperti
membatasi makanan dan tempat perlindungannya. Modifikasi lingkungan
atau sanitasi merupakan pengendalian jangka panjang, sedangkan
penggunaan perangkap dan umpan beracun merupakan pengendalian jangka
pendek. Pengendalian sanitasi dengan melakukan tindakan mengelola dan
memelihara lingkungan sehingga tidak menarik dan tidak sesuai bagi
kehidupan dan perkembangbiakan tikus (Priyambodo 2003).

Pengendalian fisik-mekanis dengan usaha untuk mengubah lingkungan


fisik dengan menggunakan perangkap. Pengendalian biologis adalah
pengendalian menggunakan parasit, patogen dan predator dan secara genetik
yang dilakukan dengan pelepasan individu tikus yang membawa gen perusak
dan pelepasan individu steril atau mandul pada populasi tikus untuk
menurunkan laju reproduksi tikus. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan
dengan menggunakan bahan kimia yang mampu mematikan atau
mengganggu aktivitas tikus (Priyambodo 2003).
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Mollusca merupakan filum yang terbesar kedua dari kerajaan


binatang (Animalia) setelah filum Arthropoda. Mollusca termasuk
dalam hewan yang lunak baik yang dengan cangkang ataupun tanpa
cangkang.

2. Mamalia adalah suatu kelas dari hewan bertulang belakang


(vertebrata) yang memiliki kelenjar susu untuk menyusui anak yang
baru dilahirkan atau anak yang masih kecil.

3. Hama mollusca yang ditemukan yaitu keong mas,bekicot, siput


setengah cangkang dan siput sumpil. Sedangkan hama mamalia yang
ditemukan yaitu babi hutan, kera hitam, musang, landak, kelelawar,
tikus sawah, tikus pohon.
DAFTAR PUSTAKA

Agus Dharma. (1998). Perencanaan Pelatihan, Jakarta : Pusdiklat Pegawai


Depdikbud.

Alamendah.2015.Babi Hutan Atau Celeng Sus scrofa Satwa


Mendunia.https://alamendah.org/2015/06/30/babi-hutan-atau-
celeng-sus-scrofa-satwa-mendunia/.Di Akses Pada Tanggal 28 April
2019.

Aplin KP, Brown PR, Jacob J, Krebs CJ, Singleton. 2003.


FieldMethodsforRodent, Studies in Asia andthe Indo-pacific.
Australia: Canberra.

[CPC]. CropProtectionCompedium 2002. CPC global


moduleWallingfordUnviversityofKentucky. USA: CAB
International.

Heryanto, R.M. Marwoto, A. Munandar, & Susilowati P. 2003. Keong dari


Taman Nasional Gunung Halimun-Salak: 77-8. Bogor: Biodiv.
Consv. Project LIPI-JICA-PHKA.

Priyambodo, S. 2003. Pengendalian Hama Tikus Terpadu Seri Agrikat.


Penebar Swadaya. Jakarta. Vol : 6.

Rahman, A., S. Fardiaz, W. P. Rahayu, Suliantari, dan C. C. Nurwitri. 1992.


Teknologi Fermentasi Susu. Pusat Antar Universitas Pangan dan
Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Supriatna, J dan E. H. Wahyono. (2000). Panduan Lapangan Primata


Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia.

Watanabe, K. and E. Brotoisworo. 1982. Field observation of Sulawesi


macaques. Kyoto Univ. Overseas Res. Rep. Asian Nonhuman
Primates 2: 3 – 9.