Anda di halaman 1dari 16

PANDUAN

PELAYANAN TRANSPORTASI AMBULAN


RS ISLAM SARI ASIH AR RAHMAH
PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM SARI ASIH AR RAHMAH
NOMOR :038/PER/DIR/RSISAA/IX/2017

TENTANG
PANDUAN PELAYANAN TRANSPORTASI AMBULANCE
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM SARI ASIH AR RAHMAH

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit, dan pasien
safety Rumah Sakit Islam sari Asih Ar Rahmah kepada masyarakat,maka
diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang bermutu dan memadai baik dari
segi kualitas maupun kuantitas.
b. bahwa agar pelayanan di Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya peraturan direktur tentang panduan
transportasi Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah sebagai landasan bagi
penyelenggaraan seluruh pelayanan Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah.
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a
dan huruf b, perlu ditetapkan dengan peraturan direktur Rumah Sakit Islam Sari
Asih Ar Rahmah tentang penetapan panduan transportasi Rumah Sakit Islam
Sari Asih Ar Rahmah Kota Tangerang.

Mengingat : 1. Undang – undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 2009 nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia nomor 5063).
2. Undang – undang nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 2009 nomor 116, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia nomor 4431).
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1333/MENKES/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit.
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
5. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor : 107/DSN-
MUI/X/2016 Tentang Pedoman Penyelengaraan Rumah Sakit Berdasarkan
Prinsip Syariah
6. Surat Keputusan Kongres PERSI VI Tentang Pengesahan Berlakunya Kode
Etik Rumah Sakit Indonesia,1993
7. Surat Keputusan Kongres PERSI VIII Tentang Perbaikan dan Penyempurnaan
KODERSI,2000
8. Keputusan direktur nomor036/PER/DIR/RSISAA/IX/2017 Tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
9. Keputusan Ketua Yayasan Bintang Rahmah Tangerang nomor
002/YBRT/SK/IX/2017 Tentang Struktur Organisasi dan Tata Kelola ( SOTK )
Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah
10. Keputusan Ketua Yayasan Bintang Rahmah Tangerang nomor
007/YBRT/SK/XII/2016 tentang pengangkatan direktur Rumah Sakit Islam Sari
Asih Ar Rahmah

MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU : Mencabut peraturan direktur nomor 081/PER/DIR/RSISAA/III/2017 tentang
pelayanan transportasi RS Islam Sari Asih Ar Rahmah
KEDUA : Panduan pelayanan transportasi rumah sakit islam sari asih ar rahmah
sebagaimana dimaksud diktum kesatu terlampir dalam keputusan ini.
KETIGA : Panduan ini menjadi acuan bagi rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah untuk
melaksanakan pelayanan transportasi di Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar
Rahmah.
KEEMPAT : Peraturan tentang panduan pelayanan transportasi ini mulai berlaku pada
tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Tangerang
Pada tanggal : 30 Desember 2017

Direktur,

dr. Adi Nugroho SpAn


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan kepada
kami semua, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku “PANDUAN
PELAYANAN TRANSPORTASI AMBULAN”.

Dengan adanya buku panduan ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan bagi tenaga
kesehatan Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah dalam memberikan pelayanan terhadap
pasien.

Buku Panduan ini tentunya belumlah menjadi sebuah acuan dan dasar yang sempurna dan
untuk itu kami akan melakukan sebuah evaluasi dan perbaikan-perbaikan bilamana dalam
pelaksanaan panduan ini ditemukan hal-hal yang kurang atau tidak sesuai lagi dengan
kondisi di Rumah Islam Sakit Sari Asih Ar Rahmah.

Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim
penyusun, yang dengan segala upaya dan kerja sama telah berhasil menyusun panduan ini
untuk diberlakukan di Rumah Sakit Islam Sari Asih Ar Rahmah.

Semoga Allah SWT senantiasa memberi rahmat dan taufik serta hidayahnya bagi kita
semua.

Amin amiin ya robal alamin.

Tangerang, 30 Desember 2017

Direktur

dr. Adi Nugroho, SpAn

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………..…


PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM SARI ASIH AR RAHMAH NOMOR
038/PER/DIR/RSISAA/IX/2017 TENTANG PANDUAN PELAYANAN TRANSPORTASI
AMBULAN………………………………………………………………………...……….........
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………….…………………………………………………………………… ii
BAB I DEFINISI……………………………………………………………………………….… 1
BAB II RUANG LINGKUP…………………………………..…………………….…………… 2
BAB III TATA LAKSANA ……………………..……………………………………………..… 6
BAB IV DOKUMENTASI …………………………………………………………………….… 11

ii
BAB I
DEFINISI

A. Pengertian Transportasi Pasien

Transportasi Pasien adalah sarana yang digunakan untuk mengangkut


penderita/korban dari lokasi bencana ke sarana kesehatan yang memadai dengan
aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana kesehatan yang memadai.

B. TUJUAN

Memberikan panduan dasar transportasi pasien dari unit pelayanan yang satu ke unit
pelayanan lainnya, dengan aman, nyaman dan terhindar dari resiko.

1
BAB II

RUANG LINGKUP

A. Jenis-Jenis dari Transportasi Pasien

Transportasi pasien pada umumnya terbagi atas tiga: Transportasi gawat darurat,
Transportasi pasien kritis, dan transportasi pasien rujukan.

a. Transportasi Gawat Darurat :

Setelah penderita diletakan diatas brankar (atau Long Spine Board bila diduga
patah tulang belakang) penderita dapat diangkut ke rumah sakit.

Mekanikan saat mengangkat tubuh gawat darurat

Tulang yang paling kuat ditubuh manusia adalah tulang panjang dan yang paling
kuat diantaranya adalah tulang paha (femur). Otot-otot yang beraksi pada tutlang
tersebut juga paling kuat.

Dengan demikian maka pengangkatan harus dilakukan dengan tenaga terutama


pada paha dan bukan dengan membungkuk angkatlah dengan paha, bukan
dengan punggung.

Panduan dalam mengangkat penderita gawat darurat

1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita. Nilai beban yang
akan diangkat

2. Diangkat secara bersama dan bila merasa tidak mampu jangan dipaksakan

3. Kedua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit didepan kaki sedikit
sebelahnya

4. Berjongkok, jangan membungkuk, saat mengangkat

5. Tangan yang memegang menghadap kedepan

6. Tubuh sedekat mungkin ke beban yang harus diangkat. Bila terpaksa jarak
maksimal tangan dengan tubuh kita adalah 50 cm

2
7. Jangan memutar tubuh saat mengangkat

8. Panduan diatas berlaku juga saat menarik atau mendorong penderita.

b. Transportasi Pasien Kritis :

Pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih
sistem tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi.

1. Transport intra hospital pasien kritis harus mengikuti beberapa aturan,


yaitu:

a. Koordinasi sebelum transport

 Informasi bahwa area tempat pasien akan dipindahkan telah siap


untuk menerima pasien tersebut serta membuat rencana terapi

 Dokter yang bertugas harus menemani pasien dan komunikasi antar


dokter dan perawat juga harus terjalin mengenai situasi medis pasien

 Tuliskan dalam rekam medis kejadian yang berlangsung selama


transport dan evaluasi kondisi pasien

b. Profesional (dokter atau perawat) harus menemani pasien dalam kondisi


serius.

 Salah satu profesional adalah perawat yang bertugas, dengan


pengalaman CPR atau khusus terlatih pada transport pasien kondisi
kritis

 Profesional kedua dapat dokter atau perawat. Seorang dokter harus


menemani pasien dengan instabilitas fisiologik dan pasien yang
membutuhkan urgent action

2. Peralatan untuk menunjang pasien

 Transport monitor

 Blood presure reader

3
 Sumber oksigen dengan kapasitas prediksi transport, dengan tambahan
cadangan 30 menit

 Ventilator portable, dengan kemampuan untuk menentukan volume/menit,


pressure FiO2 of 100% and PEEP with disconnection alarm and high
airway pressure alarm.

 Mesin suction dengan kateter suction

 Obat untuk resusitasi: adrenalin, lidocaine, atropine dan sodium


bicarbonat didalam box emergency.

 Cairan intravena dan infus obat dengan syringe atau pompa infus dengan
baterai

 Pengobatan tambahan sesuai dengan resep obat pasien tersebut

3. Monitoring selama transport.


Tingkat monitoring dibagi sebagai berikut:

Level 1 = wajib, level 2 = Rekomendasi kuat, level 3 = ideal

 Monitoring kontinu: EKG, pulse oximetry (level 1)

 Monitoring intermiten: Tekanan darah, nadi , respiratory rate (level 1 pada


pasien pediatri, Level 2 pada pasien

c. Transportasi Pasien Rujukan

Rujukan adalah penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan kesehatan ke


pelayanan kesehatan lainnya.

Transportasi pasien rujukan adalah sarana atau alat yang digunakan saat
pemindahan pasien dari satu pelayanan kesehatan ke pelayanan kesehatan
lainnya, demi memenuhi pelayanan dan kebutuhan medis pasien

System rujukan upaya kesehatan adalah suatu system jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerangan tanggung jawab secara
timbale-balik atas masalah yang timbul, baik secara vertical maupun horizontal ke

4
fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional, dan tidak dibatasi
oleh wilayah administrasi. Dalam proses transportasi pasien rujukan alat
transportasi yang digunakan adalah ambulance. Kategori ambulance saat
transportasi pasien yaitu ambulance basic dan ambulance andvance.

5
BAB III

TATA LAKSANA

Langkah-langkah rujukan adalah :

1. Menentukan kegawat daruratan penderita

a) Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan penderita yang tidak
dapat ditangani sendiri oleh keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera
dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat,oleh karena itu
mereka belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan.

b) Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembatu dan puskesmas. Tenaga


kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan kesehatan tersebut harus dapat
menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus
manayang boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.

2. Menentukan tempat rujukan

Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang


mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk fasilitas pelayanan swasta
dengan tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan penderita.

3. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga

4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju

a. Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk.

b. Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan
selama dalam perjalanan ke tempat rujukan.

c. Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong penderita bila


penderita tidak mungkin dikirim.

5. Persiapan penderita

6
6. Pengiriman Penderita

7. Tindak lanjut penderita :

a) Untuk penderita yang telah dikembalikan.

b) Harus kunjungan rumah, penderita yang memerlukan tindakan lanjut tapi tidak
melapor.

Assesment Kebutuhan Transportasi Pasien

1. Pada pasien yang dirujuk / di transfer ke penyedia pelayanan lain

Pasien Petugas keterampilan yang Peralatan Utama dan


pendamping dibutuhkan Jenis Kendaraan
(minimal)
Derajat 0 petugas ambulan Bantuan hidup dasar Kendaraan High
(BHD) Dependency Service
(HDS)/ Ambulan
Derajat 0,5 petugas ambulan Bantuan hidup dasar Kendaraan HDS/
(orangtua/ dan paramedic Ambulan
delirium)
Derajat 1 Petugas ambulan  Bantuan hidup dasar  Kendaraan HDS/
dan perawat  Pemberian oksigen Ambulan
 Pemberian obat-  Oksigen
obatan  Suction
 Kenal akan tanda  Tiang infus portabel
deteriorasi  Infus pump dengan
 Keterampilan baterai
perawatan  Oksimetri
trakeostomi dan
suction

7
Derajat 2 Dokter,  Semua ketrampilan  Ambulans EMS
perawat,dan di atas, ditambah; LUXIO
petugas ambulans  Penggunaan alat  Semua peralatan di
pernapasan atas, ditambah;
 Bantuan hidup lanjut  Monitor EKG dan
 Penggunaan kantong tekanan darah
pernapasan (bag-  Defibrillator bila
valve mask) diperlukan
 Penggunaan
defibrillator
 Penggunaan monitor
intensif
Derajat 3 Dokter, perawat, Dokter:  Ambulans lengkap/
dan petugas  Minimal 6 bulan AGD 118
ambulan pengalaman  Monitor ICU portabel
mengenai perawatan yang lengkap
pasien intensif dan  Ventilator dan
bekerja di ICU peralatan transfer
 Keterampilan yang memenuhi
bantuan hidup dasar standar minimal.
dan lanjut
 Keterampilan
menangani
permasalahan jalan
napas dan
pernapasan, minimal
level ST 3 atau
sederajat.
 Harus mengikuti
pelatihan untuk

8
transfer pasien
dengan sakit berat /
kritis

Perawat:
 Minimal 2 tahun
bekerja di ICU
 Keterampilan
bantuan hidup dasar
dan lanjut
 Harus mengikuti
pelatihan untuk
transfer pasien
dengan sakit berat /
kritis
(lengkapnya lihat
Lampiran 1)

Keterangan:
a. Derajat 0:
Pasien yang tidak terdapat resiko perburukan kondisi dan yang telah dinyatakan
sembuh oleh dokter yang merawat/pasien membutuhkan ruang perawatan biasa
b. Derajat 0,5:
Pasien yang tidak terdapat risiko perburukan kondisi dan yang telah dinyatakan
sembuh oleh dokter yang merawat
c. Derajat 1:
Pasien dengan risiko perburukan kondisi, yang sebelumnya menjalani perawatan
di High Care Unit (HCU)
d. Derajat 2:

9
Pasien yang membutuhkan observasi / intervensi lebih ketat, termasuk
penanganan kegagalan satu sistem organ atau perawatan pasca-operasi, dan
pasien yang sebelumnya dirawat di HCU
e. Derajat 3:
Pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan lanjut (advanced respiratory
support) atau bantuan pernapasan dasar (basic respiratory support) dengan
dukungan / bantuan minimal pada 2 sistem organ, termasuk pasien-pasien yang
membutuhkan penanganan kegagalan multi-organ

2. Pada pasien yang siap pulang dari rawat inap atau kunjungan rawat jalan

Jika pasien yang akan pulang dinilai mempunyai derajat transfer kurang dari derajat 1 atau
derajat 0 maka pasien diperbolehkan pulang menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan
dari luar Rumah sakit tetapi apabila setelah dinilai masih mempunyai derajat lebih dari atau
sama dengan derajat 1 maka proses transportasi disesuaikan dengan kebutuhan ambulans
yang diperlukan, tetapi apabila keluarga / pasien tetap menghendaki menggunakan kendaraan
dari luar Rumah Sakit atau kendaraan pribadi maka pihak keluarga / pasien mengisi form
penolakan tindakan medis.

10
BAB IV
DOKUMENTASI

1. Dalam transportasi pasien dokumentasi yang diperlukan adalah formulir transfer pasien
2. Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien ke rumah sakit, memindahkan dari satu
unit pelayanan ke unit lainnya. Dalam proses tranportasi
3. Sarana yang digunakan untuk proses transportasi adalah brankar pasien, kursi roda dan
ambulance
4. Transportasi pasien pada umumnya terbagi atas dua: Transportasi gawat darurat dan kritis
.
5. Dalam transportasi pasien derajat transfer pasien dapat digunkana untuk menentukan
kompetensi pendamping, peralatan dan transportasi yang digunakan.

Direktur

dr.Adi Nugroho Sp,An

11