Anda di halaman 1dari 27

HIDROLISIS GARAM

A. Pengertian Hidrolisis Garam

Sebagaimana kita ketahui bahwa jika larutan asam direaksikan dengan larutan basa
akan membentuk senyawa garam. Jika kita melarutkan suatu garam ke dalam air, maka akan
ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu: Ion-ion yang berasal dari asam lemah (misalnya
CH3COO– , CN– , dan S2– ) atau ion-ion yang berasal dari basa lemah (misalnya NH4+, Fe2+,
dan Al3+) akan bereaksi dengan air.

Reaksi suatu ion dengan air inilah yang disebut hidrolisis. Air seperti yang kita
tahu, adalah pelarut yang unik. Salah satu sifat khususnya adalah kemampuannya untuk
bertindak sebagai asam atau basa. Fungsi air sebagai dasar dalam reaksi dengan asam seperti
HCl dan CH3COOH, dan berfungsi sebagai asam dalam reaksi dengan basa seperti NH3.
(Chang, 2008: 531). Berlangsungnya hidrolisis disebabkan adanya kecenderungan ion-ion
tersebut untuk membentuk asam atau basa asalnya.
Contoh:

CH3COO– + H2O ⎯⎯→ CH3COOH + OH–

NH4+ + H2O ⎯⎯→ NH4OH + H+

Ion-ion yang berasal dari asam kuat (misalnya Cl–, NO3–, dan SO42–) atau ion-ion yang
berasal dari basa kuat (misalnya Na+, K+, dan Ca2+) tidak bereaksi dengan air atau tidak
terjadi hidrolisis. Hal ini dikarenakan ion-ion tersebut tidak mempunyai kecenderungan
untuk membentuk asam atau basa asalnya. (Ingat kembali tentang kekuatan asam-basa).

Na+ + H2O ⎯⎯→ tidak terjadi reaksi

SO42– + H2O ⎯⎯→ tidak terjadi reaksi

Hidrolisis hanya dapat terjadi pada pelarutan senyawa garam yang terbentuk dari ion-ion
asam lemah dan ion-ion basa lemah. Jadi, garam yang bersifat netral (dari asam kuat dan
basa kuat) tidak terjadi hidrolisis. Ionisasi HCl dalam larutan air berjalan sempurna karena
HCl adalah asam kuat yang mudah melepaskan proton. Pada saat yang sama, ion, basa

1
konjugat HCl, memiliki kecenderungan yang sangat kecil untuk mengambil proton dari basa
yang sangat lemah.

Jika asam kuat dengan basa kuat akan menghasilkan:

HCl + OH- Cl- + H2O

Jika asam lemah dengan basa lemah akan menghasilkan:

HI + OH- I- + H2O

(Petrucci, 2011: 702)

Dalam larutan air, semua asam lemah berperilaku dengan cara yang sama karena adanya
donor proton. Beberapa contoh adalah HC2H3O2, HSO4-, dan NH4+. Dalam air, ini
berpartisipasi dalam keseimbangan berikut.:

HC2H3O2 + H2O H3O+ + C2H3O2-


HSO4- + H2O H3O+ + SO42-
NH4+ + H2O H3O+ + NH3

Asam bereaksi dengan air untuk menghasilkan H3O+ dan basa konjugat yang dapat mewakili
reaksi-reaksi ini secara umum menggunakan HA untuk merepresentasikan formula asam
lemah dan A- untuk anion:

HA + H2O H3O+ + A-

Persamaan umumnya dapat ditulis sebagai berikut:

[H3O+][A-] = Ka
[HA]

Konstanta baru Ka disebut konstanta ionisasi asam. Singkatan H3O+ sebagai H+, persamaan
untuk ionisasi asam dapat disederhanakan sebagai berikut:

HA H+ + A-

2
Dimana Ka dapat ditulis persamaannya:

Ka = [H+] [A-]
[HA]

Seperti halnya asam lemah, semua basa lemah berperilaku sama didalam air air merupakan
akseptor proton. Contohnya adalah amonia, NH3, dan ion asetat, C2H3O2-. Reaksinya adalah:

NH3 + H2O NH4+ +OH-

C2H3O2- + H2O HC2H3O2 + OH-

Basa bereaksi dengan air untuk menghasilkan OH- dan asam konjugasi yang sesuai. Jika
basa diwakili dengan simbol B, reaksinya adalah:

B + H2O BH+ + OH-

(Seperti halnya asam lemah, B tidak harus netral secara listrik.) menghasilkan hukum
keseimbangan, di mana air dihilangkan seperti biasa dengan memiliki konstanta
kesetimbangan baru yang disebut konstanta ionisasi basa, dengan simbol Kb:

Kb = [BH+] [OH-]
[B]

Karena nilai Kb untuk basa lemah biasanya angka kecil, jenis yang sama notasi logaritmik
sering digunakan untuk mewakili konstanta kesetimbangannya. Jadi, pKb didefinisikan
sebagai:

pKb = -log Kb

(Brady, 2012: 780-782)

Reaksi asam-basa, konsentrasi ion hydrogen sangat penting. Nilainya menunjukkan


keasaman atau kebasaan larutan. Karena hanya sebagian kecil molekul air terionisasi,

3
konsentrasi air, [H2O], tetap tidak berubah. Oleh karena itu, konstanta kesetimbangan untuk
autoionisasi air, dengan persamaan:

Kc= [H3O+][OH-]

Karena kita menggunakan H+ (aq) dan H3O+ (aq) secara bergantian untuk mewakili proton
terhidrasi, konstanta kesetimbangan juga dapat dinyatakan sebagai berikut:

Kc = [H+][OH-]

Untuk menunjukkan bahwa konstanta kesetimbangan mengacu pada autoionisasi air,


persamaan Kc sama dengan Kw:

Kw = [H3O+][OH-]= [H+][OH-]

di mana Kw disebut konstanta produk ion, yang merupakan produk konsentrasi molar ion
H+ dan OH- pada suhu tertentu. Dalam air murni pada 25 oC, konsentrasi ion H+ dan OH-
sama dan ditemukan [H+] =1,0 10 7 M dan [OH-] =1,0 10 7 M pada 25 oC.

Kw = (1.0 x 10-7)(1.0 x 10-7) = 1.0 x 10-14

Jadi pada air murni maupun larutan air pada 25oC dinyatakan sebagai berikut:

KW = [H+] [OH] = 1.0 X 10-14

Setiap kali [H+] [OH-] larutan air bersifat netral. Dalam larutan asam, ada kelebihan ion H+
dan [H+] [OH-]. Dalam larutan dasar, ada kelebihan ion hidroksida, jadi [H+] [OH-]. Dalam
praktiknya, dapat diubah konsentrasi ion H+ atau OH- dalam larutan, tetapi tidak dapat
mengubah keduanya secara terpisah. Jika disesuaikan sehingga [H+]=1,0 x 10 6 M,
konsentrasi OH- harus berubah menjadi:

[OH-] = KW = 1.0 X 10-14 = 1.0 X 10-8 M


[H+] 1.0 X 10-6

4
Karena konsentrasi ion H+ dan OH- dalam larutan air sering kali jumlahnya sangat kecil dan
karenanya tidak nyaman untuk digunakan, kimiawan Denmark Soren Sorensen pada tahun
1909 mengusulkan ukuran yang lebih praktis yang disebut pH.

Larutan asam : [H+] > 1.0 X 10-7 M, Ph < 7.00


Larutan basa : [H+] < 1.0 X 10-7 M, Ph > 7.00
Larutan netral : [H+] = 1.0 X 10-7 M, Ph = 7.00

(Chang, 2008: 531-533)

pH= -log [H+]

[H+] = 10-pH

(Brady, 2012: 776)

B. Jenis Hidrolisis Garam


Hidrolisis garam di bedakan menjadi 2, yaitu sebagai berikut:
a. Hidrolisis garam sebagian (parsial)
Hidrolisis garam sebagian adalah reaksi garam dengan air dimana yang bisa
bereaksi hanya anion nya saja atau kation nya saja. Garam yang mengalami hidrolisis
sebagian yaitu:
1. Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat
2. Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah
b. Hidrolisis garam total
Hidrolisis garam total adalah reaksi garam dengan air dimana semua ion garam
dapat bereaksi dengan air, baik kation maupun anion nya. Garam yang mengalami
hidrolisis total, yaitu garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah.

C. Macam – Macam Garam yang direaksikan dari Reaksi Asam – Basa


1. Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat

5
Garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat dalam air mengalami
hidrolisis sebagian. Komponen garam (anion asam lemah) mengalami hidrolisis
menghasilkan ion OH-, maka pH > 7 sehingga larutan garam bersifat basa. Contoh
CH3COOK, CH3COONa, KCN, CaS, dan sebagainya.
Reaksi ionisasi : CH3COOK(aq) → K+(aq) + CH3COO–(aq)
Reaksi hidrolisis : K+(aq) + H2O(l) -/-> (tidak terhidrolisis)
CH3COO–(aq) + H2O(l) → CH3COOH(aq) + OH–(aq) bersifat basa

Rumus :

Keterangan :
Kh = konstanta hidrolisis
Kw = konstanta air
Ka = konstanta asam
[G] = konsentrasi garam
h = derajat hidrolisis

Untuk menentukan besarnya derajat hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah dan
basa kuat di gunakan rumus berikut:

Contoh:

Jika 50 mL larutan KOH 0,5 M di campur dengan 50 mL larutan CH3COOH 0,5 M,


maka hitung pH campuran yang terjadi (Ka = 10-6)!

Jawab:

KOH + CH3COOH => CH3COOK + H2O

6
M : 25 mmol 25 mmol 0 mmol 0 mmol

R : 25 mmol 25 mmol 25 mmol 25 mmol-

S: 0 mmol 0 mmol 25 mmol 25 mmol

pOH = – log 5 . 10-5 = 5 – log 5

pH = 14 – (5 – log 5) = 9 + log 5

2. Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa lemah


Garam yang berasal dari asam kuat dan basa lemah dalam air mengalami
hidrolisis sebagian karena salah satu komponen garam (kation basa lemah) mengalami
hidrolisis menghasilkan ion H+, maka pH < 7 sehingga larutan garam bersifat asam.
Contoh (NH4)2SO4, AgNO3, NH4CI, CuSO4 dan sebagainya.

Rumus:

Keterangan:
Kh = konstanta hidrolisis
Kw = konstanta air
Kb = konstanta basa
[G] = konsentrasi garam
h = derajat hidrolisis

Untuk menentukan besarnya derajat hidrolisis garam yang berasal dari asam kuat dan
basa lemah digunakan rumus:

Contoh: Diketahui 250 mL larutan (NH4)2SO4 0,1 M, Kb = 2 x 10-5. tentukan pH

7
larutan tersebut!
Jawab:

pH = – log 10-5 = 5
Jadi pH larutan tersebut adalah 5.

3. Garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah


Garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah dalam air mengalami
hidrolisis total, karena kedua komponen garam (anion asam lemah dan kation basa
lemah) terhidrolisis menghasilkan ion H+dan ion OH-, sehingga harga pH larutan ini
tergantung harga Ka dan Kb. Contoh: NH4CN, (NH4)2S, CH3COONH4, dan sebagainya.

Rumus:

Keterangan:
Kw = konstanta air
Ka = konstanta asam
Kb = konstanta basa
Kh = konstanta hidrolisis

Harga pH dari garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa lemah tergantung
harga Ka dan Kb
1. Jika Ka = Kb, maka larutan akan bersifat netral (pH = 7)
2. Jika Ka > Kb, maka larutan akan bersifat asam (pH < 7)
3. Jika Ka < Kb, maka larutan akan bersifat basa (pH > 7)

8
Contoh: Hitunglah pH larutan CH3COONH4 0,1 M. Jika di ketahui Ka CH3COOH
= 10-10 !
Jawab:

4. Garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat


Asam dan basa kuat dianggap 100% terdisosiasi dalam larutan berair. Ini
membuat menghitung konsentrasi H+ dan OH- dalam solusi mereka menjadi tugas yang
relatif sederhana. (Brady, 2012:778)
Garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat dalam air tidak mengalami
hidrolisis. Karena kedua komponen garam tidak terhidrolisis sehingga pH larutan sama
dengan air, yaitu pH = 7 bersifat netral. Contoh: NaCI, Na2SO4, NaNO3, KCI, K2SO4,
Ba(NO3)2, dan sebagaimana:

(Klug, S William, Cummings R. M. (1996).

D. Hidrolisis Garam dalam Kehidupan Sehari-hari


Berikut ini beberapa contoh penerapan hidrolisis garam dalam kehidupan sehari-hari:
1. Pemutih Pakaian
Kita sering menggunakan bayclin untuk memutihkan pakaian. Produk ini mengandung
sekitar 5% NaOCl yang sangat reaktif yang dapat menghancurkan pewarna, sehingga
pakaian menjadi putih kembali. Garam NaOCl berasal dari HOCl (asam lemah) dan
NaOH (basa kuat).
NaOCl + H₂O → Na+ + OCl-

9
OCl- akan terhidrolisis, sedangkan Na+ tidak terhidrolisis. Jadi, garam NaOCl yang
menjadi bahan untuk membuat bayclin mengalami hidrolisis parsial. Garam yang
dihasilkan bersifat basa.
2. Sebagai Pupuk
Agar tanaman tumbuh dengan baik, pH tanaman harus dijaga. pH tanah pada lahan
pertanian harus disesuaikan dengan pH tanamannya. Untuk menjaga pH-nya agar tetap
sama, diperlukan pupuk agar tidak terlalu asam atau basa. Biasanya para petani
menggunakan senyawa (NH₄)₂SO₄ untuk menurunkan pH tanah. Garam (NH₄)₂SO₄
berasal dari H₂SO₄ (asam kuat) dan NH₄OH (basa lemah).
(NH₄)₂SO₄ → NH₄+ + SO₄2-
NH₄+ akan terhidrolisis, sedangkan SO₄2- tidak terhidrolisis. Jadi, garam (NH₄)₂SO₄
mengalami hidrolisis parsial. Garam yang dihasilkan bersifat asam.
3. Penjernihan air
Penjernihan air minum oleh PAM berdasarkan prinsip hidrolisis, yaitu menggunakan
senyawa aluminium fosfat yang mengalami hidrolisis total. Hidrolisis total merupakan
reaksi penguraian seluruh garam oleh air, yang mana komponen garam terdiri dari
asam lemah dan basa lemah.
4. Pelarutan Sabun
Sabun cuci atau garam natrium stearat (C₁₇H₃₅COONa) akan mengalami hidrolisis jika
dilarutkan dalam air, menghasilkan asam stearat dan basa NaOH.
C₁₇H₃₅COONa +H₂O → C₁₇H₃₅COO + NaOH
Oleh karena itu, jika garam tersebut digunakan untuk mencuci, airnya harus bersih dan
tidak mengandung garam Ca2+ atau Mg2+. Garam Ca2+ atau Mg2+ banyak terdapat dalam
air sadah. Jika air yang digunakan untuk mencuci mengandung garam Ca2+ atau Mg2+,
buih yang dihasilkan akan menjadi sangat sedikit. Akibatnya, cucian tidak bersih karena
fungsi buih adalah untuk memperluas permukaan kotoran agar mudah larut dalam air.
5. Penyedap Makanan
Agar lebih terasa gurih dan enak, biasanya ke dalam makanan ditambahkan monosodium
glutamat (MSG) yang berfungsi sebagai penyedap makanan. Monosodium glutamat
yang memiliki rumus kimia C₅H₈NO₄Na merupakan garam yang bersifat basa.

10
6. Pelapukan Batuan
Reaksi hidrolisis berperan penting dalam proses pelapukan batuan. Proses ini penting
dalam pembentukan tanah, dan membuat mineral penting tersedia bagi tanaman.
Berbagai mineral silikat, seperti feldspar, mengalami reaksi hidrolisis lambat dengan air,
membentuk tanah liat dan lumpur, bersama dengan senyawa larut.
7. Kompres Dingin
8. Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan terciptanya banyak
benda-benda yang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Dulu kita menggunakan
kain dan es batu untuk mengompres ketika demam. Namun sekarang sudah tersedia
kompres dingin instan yang diperjualbelikan di pasar. Kompres ini menggunakan garam
ammonium nitrat (NH₄NO₃) yang bersifat asam.
(Keenan, Charles W – Pudjaatmaka (1999)

11
Larutan Buffer
A. Pengertian Larutan Buffer

Jika ke dalam air murni ditambahkan asam atau basa meskipun dalam jumlah yang

sedikit, harga pH dapat berubah secara drastis. Sebagaimana kita ketahui bahwa air murni

mempunyai pH = 7. Penambahan 0,001 mol HCl (1 mL HCl 1 M) ke dalam 1 liter air murni

akan menghasilkan ion H+ sebanyak 10–3M, sehingga pH turun menjadi 3. Di lain pihak,

penambahan 0,001 mol NaOH (40 mg NaOH) ke dalam 1 liter air murni akan menghasilkan

ion OH– sebanyak 10–3M, sehingga pH naik menjadi 11.

Jadi, air murni tidak mampu menyangga atau mempertahankan pH terhadap

penambahan asam maupun basa. Sekarang jika HCl yang sama (1mL HCl 1 M) ditambahkan

ke dalam 1 liter air laut, ternyata perubahan pH-nya jauh lebih kecil, yaitu dari 8,2 menjadi

7,6. Larutan seperti air laut ini, yaitu larutan yang mampu mempertahankan nilai pH tertentu

disebut larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar.

Larutan penyangga adalah larutan yang bersifat mempertahankan pH-nya, jika

ditambahkan sedikit asam atau sedikit basa atau diencerkan. Larutan penyangga merupakan

campuran asam lemah dengan basa konjugasinya atau campuran basa lemah dengan asam

konjugasinya. (Channg, Raymond. 2012)

Pembuktian

Larutan yang mengandung CH3COOH 0,1 M dan CH3COONa 0,1 M

a. Penambahan sedikit asam (penambahan sedikit HCl )

12
Jika ke dalam larutan ini ditambahkan sedikit HCl, maka pH larutan tidak berubah. Hal

ini disebabkan H+ yang berasal dari HCl dalam larutan akan dinetralkan dengan

CH3COO- yang berasal dari CH3COONa berdasarkan reaksi berikut.

H+(aq) + CH3COO-(aq) → CH3COOH(aq)

Reaksi ini menyebabkan jumlah H+ dalam larutan tidak berubah. Akibatnya, pH larutan

tidak berubah.

b. Penambahan sedikit basa (penambahan sedikit NaOH )

Jika ke dalam larutan ini ditambahkan sedikit NaOH, maka pH larutan tidak berubah. Hal

ini disebabkan OH- yang berasal dari NaOH dalam larutan akan dinetralkan CH3COOH

berdasarkan reaksi berikut.

OH-(aq) + CH3COOH(aq) → CH3COO-(aq) + H2O

Reaksi ini menyebabkan jumlah OH- atau H+ dalam larutan tidak berubah. Akibatnya, pH

larutan tidak berubah.

c. Pengeceran.

Contoh, pengeceran larutan hingga volumenya = 10 kali volume semula.

Jika larutan ini diencerkan hingga volumenya = 10 kali volume semula, maka CH3COOH

bertambah yang dapat menyebabkan jumlah H+ dalam larutan bertambah. Tetapi,

konsentrasi H+ tidak berubah sebab volume larutan bertambah. Akibatnya, pH larutan

tidak berubah. (Martin S. Silberberg.2008)

B. Jenis-jenis Larutan Buffer


Campuran antara CH3COOH dengan CH3COONa atau NH4OH dengan NH4Cl
merupakan contoh larutan buffer. Dinamakan larutan buffer karena larutan ini mampu
mempertahankan (menyangga) pH-nya. Tetapi, apakah semua larutan dapat bersifat sebagai

13
buffer? Larutan apa saja yang dapat bersifat sebagai buffer? Simaklah penjelasan
lengkapnya.
1. Larutan buffer dari asam lemah dan basa konjugasinya
Larutan penyangga ini terdiri dari campuran asam lemah dengan basa
konjugatnya. Salah satu contoh adalah larutan penyangga yang mengandung CH3COOH
dan CH3COO- . larutan ini dapat dibuat dengan mencampurkan larutan CH3COOH
dengan larutan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam tersebut, misalnya
garam CH3COONa. Kedua larutan dalam air akan terionisasi sebagai berikut.

Persamaan ionisasi menunjukkan bahwa dalam larutan penyangga tersebut


terdapat campuran asam lemah (CH3COOH) dengan basa konjugasinya (CH3COO-).
Harga pH larutan penyangga bergantung pada perbandingan konsentrasi asam lemah
terhadap konsentrasi basa konjugasinya ([CH3COOH]/]CH3COO-]).Ketika
menambahkan sedikit asam kuat ke dalam larutan penyangga, maka asam tersebut akan
melepaskan ion H+ yang kemudian bereaksi dengan basa konjugat untuk membentuk
asam lemah menurut reaksi berikut

CH3COO-(aq) + H+(aq) → CH3COOH(aq)


dari asam
Asam yang ditambahkan hanya bereaksi dengan sedikit basa konjugat sehingga
hanya sedikit mengurangi konsentrasi basa konjugat. Asam lemah yang terbentuk juga
hanya sedikit meningkatkan konsentrasi asam lemah sehingga perbandingan
[CH3COOH/CH3COO-] dapat dikatakan relatif tetap. Oleh karena itu pH larutan
penyangga praktis tidak berubah.

Sebaliknya, ketika menambahkan sedikit basa kuat ke dalam larutan, iom OH- dari basa
btersebut akan bereaksi dengan asam lemah dari larutan penyangga dan membentuk
basa konjugat menurut reaksi berikut.

14
CH3COOH(aq) + OH-(aq) → CH3COO-(aq) + H2O(l)
Basa yang ditambahkan hanya bereaksi dengan sedikit asam lemah sehingga
hanya sedikit mengurangi konsentrasi asam lemah. Basa konjugat yang terbentuk juga
hanya sedikit meningkatkan konsentrasi basa konjugat yang terbentuk juga hanya
sedikit meningkatkan konsentrasi basa konjugat larutan penyangga sehingga
perbandingan [CH3COOH]/[CH3COO-] dapat dikatakan relatif tetap. Oleh karena itu,
pH larutan penyangga praktis tidak berubah.

2. Larutan buffer dari basa lemah dan asam konjugasinya


Larutan penyangga ini terdiri dari campuran basa lemah dengan asam
konjugatnya. Misalnya, larutan penyangga yang mengandung NH3 dan NH4+. Larutan ini
dapat dibuat dengan mencampurkan larutan NH3 dengan larutan garam yang
mengandung asam konjugat dari basa tersebut, misalnya garam NH4CL.
Jadi, dalam larutan penyangga tersebut terdapat campuran basa lemah (NH3)
dengan basa konjugatnya (NH4+). Jika ditambahkan sedikit asam kuat kedalam larutan
penyangga, ion H+ dari asam bereaksi dengan basa lemah dan membentuk asam
konjugat. Sebaliknya, ketika ditambahkan sedikit basa kuat ke dalam larutan penyangga,
ion OH- dari basa akan bereaksi dengan asam konjugatnya membentuk basa lemah.
Reaksi yang terjadi pada penambahan asam dan basa terhadap larutan penyangga adalah
sebagai berikut.
NH3(aq) + H+(aq) → NH+(aq)
dari asam

NH4+(aq) + OH-(aq) → NH3(aq) + H2O(l)


dari basa
dalam larutan penyangga basa lemah, harga pH bergantung pada perbandingan
konsentrasi basa lemah dengan konsentrasi asam konjugatnya. Dengan menggunakan
penjelasan yang sama seperti pada larutan penyangga asam lemah dan basa
konjugatnya, maka dalam larutan penyangga basa lemah dan asam konjugatnya juga

15
dapat dikatakan bahwa sedikit asam kuat atau basa kuat yang ditambahkan ke dalam
larutan penyangga praktis tidak akan mengubah harga pH larutan penyangga tersebut.

Ketika kedalam dua jenis larutan penyangga tersebut ditambahkan air sehingga
larutan menjadi encer, konsentrasi dari asam lemah dan basa konjugatnya maupun
konsentrasi basa lemah dan asam konjugatnya akan menurun dengan faktor yang sama.
Akan tetapi perbandingan konsentrasi dari spesi penyusunnya dalam kedua jenis larutan
penyangga tersebut tidak mengalami perubahan sehingga harga pH juga dikatakan tidak
berubah.

Jadi penambahan sedikit asam kuat maupun basa kuat dan pengenceran pada
larutan penyangga praktis tidak akan mengubah pH larutan penyangga kecuali jumlah
asam atau basa atau air yang ditambahkan relatif lebih besar dibandingkan jumlah
laruutan penyangga. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa larutan penyangga
merupakan larutan yang dapat mempertahankan harga pH. Agar larutan penyangga
dapat berfungsi secara efektif, konsentrasi asam lemah dan basa konjugatnya atau
konsentrasi basa lemah dan asam konjugatnya dijaga tetap tinggi dan hampir sama satu
sama lain. (Petrucci, H. Ralph. 2011)

C. Harga pH Larutan Buffer

pH larutan penyangga asam tergantung dari tetapan ionisasi asam (Ka) dan
perbandingan molaritas asam lemah dan basa konjugasinya. Sedangkan pH larutan
penyangga basa tergantung dari tetapan ionisasi basa (Kb) dan perbandingan molaritas basa
lemah dan asam konjugasinya.
1. pH larutan penyangga asam
Perhatikan larutan penyangga CH3COOH/CH3COO– yang terbuat dari asam
lemah CH3COOH dan garam CH3COONa. Asam lemah CH3COOH akan mengion
sebagian menurut persamaan reaksi kesetimbangan berikut.

Penambahan garam CH3COONa akan menaikan molaritas basa konjugasi CH3COO–.

16
CH3COON(aq) → CH3COO-(aq) + Na+(aq)

Kenaikan molaritas CH3COO-(aq) hanya menggeser harga tetapan kesetimbangan sedikit


sekali, sehingga dapat dirumuskan

Karena asam lemah CH3COOH dan basa konjugasinya CH3COO dalam volume
sama, maka tidak perlu menuliskan molaritas asam lemah CH3COOH dan basa
konjugasinya CH3COO dalam molaritas (mol L-1) cukup dengan mol saja. Sehingga
secara umum, pH larutan penyangga asam HA/A- dapat dirumuskan sebagai berikut.

Denniston, K. J. (Katherine J.) 2008

17
Contoh :

Suatu larutan penyangga mengandung CH3COONa 0,4 mol dan CH3COOH 0,25 mol.
Jika Ka = 1,8 × 10–5, maka tentukan pH larutan penyangga.
Jawab
Jumlah mol basa konjugasi (CH3COO–) diperoleh dari garam CH3COONa
CH3COONa(aq) → CH3COO–(aq) + Na+(aq)
Mula-mula 0,4 mol - -
Reaksi 0,4 mol 0,4 mol 0,4 mol
Akhir 0 0,4 mol 0,4 mol

pH larutan penyangga dapat dihitung sebagai berikut.

𝐶𝐻3𝐶𝑂𝑂𝐻
pH = pKa – log 𝐶𝐻3𝐶𝑂𝑂−

0,25
pH = -log (1,8 x 10-5) – log 0,4

= - (log 1,8 + log 10-5 ) – log 0,625

= 4, 74 – (- 0,20)

= 4, 94

Jadi, pH larutan penyangga sebesar 4,94

2. pH larutan penyangga basa


Perhatikan larutan penyangga NH-3/NH4 + yang terbuat dari basa lemah NH3 dan
asam konjugasi NH4 +. Di dalam air, NH3 akan terionisasi sebagian menurut
persamaan reaksi kesetimbangan berikut.
NH3(aq) + H2O(l) ↔ NH4+(aq) + OH-(aq)
Molaritas asam konjugasi NH4+ dapat dinaikan dengan menambahkan garam NH4Cl.
NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl-(aq)

18
kenaikan molaritas NH4+ hanya menggeser kesetimbangan sedikit sekali, sehingga
tetapan kesetimbangannya dapat dituliskan.
[𝑁𝐻4+ ][ 𝑂𝐻 − ]
Ka =
[𝑁𝐻3 ]

Atau dapat dituliskan


[𝑁𝐻4+ ][ 𝑂𝐻 − ]
[OH-] =
[𝑁𝐻3 ]

Karena pOH = -log [OH-] dan pKb = -log Kb , maka


[𝑁𝐻3 ]
-log [OH-] = - log Kb – log
[𝑁𝐻4+ ]

Sehingga
[𝑁𝐻 ]
pOH = pKb – log [𝑁𝐻 3+ ]
4

secara umum, untuk larutan penyangga basa B/BH+, persamaan di atas dapat dituliskan
sebagai berikut.
𝑛𝐵
pOH = pKb – log 𝑛
𝐵𝐻+

dengan pOH = derajat kebasaan larutan penyangga


Kb = tetapan ionisasi basa
nB = jumlah mol basa lemah B .........(M)
nBH- = jumlah mol basa lemah BH+ .....(M)
sehingga pH larutan penyangga basa dapat ditentukan dengan rumus berikut.
pH = 14 – pOH
dengan pH = pH larutan penyangga basa
pOH = derajat kebasaan larutan penyangga (Syukri, S.1999)
contoh
hitung pH suatu larutan penyangga yang mengandung NH4Cl 0,2 mol dan NH3 0,15 mol
jika pKb NH3 = 4,74

19
jawab
jumlah mol asam konjugasi ( NH4+) diperoleh dari ionisasi NH4Cl
NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl-(aq)
Mula – mula 0,2 mol - -
Reaksi 0,2 mol 0,2 mol 0,2 mol
Akhir 0 0,2 mol 0,2 mol

pOH larutan penyangga dapat ditentukan sebagai berikut.


[𝑁𝐻 ]
pOH = pKb – log [𝑁𝐻 3+ ]
4

0,15
= 4,74 – log 0,2

= 4,74 – (-0,12)
= 4,86
pH larutan penyangga basa NH3 / NH4+ dapat dihitung dengan cara berikut.
pH = 14 – pOH
= 14 – 4,86 = 9,14
Jadi, larutan penyangga basa NH3/NH4+ sebesar 9,14. (Purba, M.1994)
3. Pengaruh pengenceran, penambahan sedikit asam, dan basa terhadap pH larutan
penyangga.
pH suatu larutan penyangga ditentukan oleh komponenkomponennya. Komponen-
komponen itu dalam perhitungan membentuk perbandingan tertentu. Jika campuran
tersebut diencerkan, maka harga perbandingan komponen-komponennya tidak berubah
sehingga pH larutan juga tidak berubah.
Secara teoritis, berapapun tingkat pengenceran tidak akan merubah pH. Akan
Tetapi dalam praktiknya, jika dilakukan pengenceran yang berlebihan, maka pH larutan
penyangga akan berubah. Misal 1 L larutan penyangga diencerkan dengan 100 L
akuades, maka pH larutan akan berubah.

20
Rumus pengenceran dapat dituliskan sebagai berikut.
V1M1 = V2M2

dengan V1 = volume sebelum pengenceran ......... (L)


V2 = volume sesudah pengenceran ......... (L)
M1 = molaritas sebelum pengenceran ..... (M)
M2 = molaritas sesudah pengenceran ..... (M)

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, larutan penyangga


mempunyai kemampuan mempertahankan pH walaupun ditambah sedikit asam atau
basa. pH larutan penyangga hanya berubah sedikit saja, sehingga perubahannya bisa
diabaikan

contoh

Larutan penyangga sebanyak 1 L mengandung NH3 0,1 M dan NH4Cl 0,1 M. Jika
diketahui Kb NH3 = 1,8 × 10–5, maka tentukan
a. pH larutan penyangga,
b. pH larutan penyangga jika ditambahkan akuades sebanyak
19 L.

Jawab
a. Molaritas asam konjugasi NH4 + diperoleh dari ionisasi NH4Cl
NH4Cl(aq) → NH4 +(aq) + Cl–(aq)
Mula-mula 0,1 mol - -
Reaksi 0,1 mol 0,1 mol 0,1 mol
Akhir 0 0,1 mol 0,1 mol
pOH larutan penyangga dapat ditentukan sebagai berikut.

21
[𝑁𝐻 ]
pOH = pKb – log [𝑁𝐻 3+ ]
4
0,1
= -log ( 1,8 x 10-5) – log 0,1
= - (log 1,8 x 10-5 ) – log 1
= - (0,26 – 5 ) – 0
= 4,74
pH larutan penyangga NH3 / NH4 + dapat dihitung sebagai berikut.
pH = 14 – pOH
= 14 – 4,74 = 9,26
Jadi, pH larutan penyangga NH3 / NH4+ dapat dihitung sebagai berikut.
pH = 14 - pOH
= 14 – 4,74 = 9,26
Jadi pH larutan penyanga NH3 / NH4+ sebesar 9,26

b. Setelah ditambah akuades, maka volume larutan menjadi 20 L. Dengan rumus


pengenceran, molaritas masingmasing zat setelah pengenceran dapat diketahui.
𝑉2 𝑋 𝑀1 1𝐿 𝑋 0,1 𝑀
[NH3] = = = 0,005 𝑀
𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 20 𝐿
𝑉2 𝑋 𝑀2 1𝐿 𝑋 0,1 𝑀
[NH4Cl] = = = 0,005 𝑀
𝑉𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 20 𝐿

Seperti sebelumnya, molaritas asam konjugasi ( NH4+) diperoleh dari ionisasi NH4Cl.
NH4Cl(aq) → NH4+(aq) + Cl-(aq)
Mula – mula 0,005 mol - -
Reasksi 0,005 mol 0,005 mol 0,005 mol
Akhir 0 0,005 mol 0,005 mol
pOH larutan penyangga setelah pengenceran dapat dihitung sebagai berikut.
[𝑁𝐻3 ]
pOH = -log Kb - log
[𝑁𝐻4+ ]

0,005
= -log ( 1,8 x 10-5) – log 0,005
= - (log 1,8 x 10-5 ) – log 1
= - (0,26 – 5 ) – 0
= 4,74

pH larutan penyangga NH3/NH4+ setelah pengenceran dapat dihitung sebagai berikut .

pH = 14 – pOH

pH = 14 – 4,74 = 9,26

22
jadi, pH larutan penyangga NH3 / NH4+ setelah pengenceran sebesar 9,26

D. Peranan Larutan Buffer dalam Kehidupan Sehari – hari


Larutan penyangga sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa fungsi
larutan penyangga dalam kehidupan dapat kalian pelajari pada uraian di bawah ini.
1. Larutan Buffer dalam darah
pH darah tubuh manusia berkisar antara 7,35 - 7,45. pH darah tidak boleh kurang
dari 7,0 dan tidak boleh melebihi 7,8 karena akan berakibat fatal bagi manusia. Organ
yang paling berperan untuk menjaga pH darah adalah paru-paru dan ginjal.

Kondisi di mana pH darah kurang dari 7,35 disebut asidosis. Faktor-faktor


penyakit jantung, penyakit ginjal, kencing manis, dan diare yang terus-menerus.
Sedangkan kondisi di mana pH darah lebih dari 7,45 disebut alkolosis. Kondisi ini
disebabkan muntah yang hebat, hiperventilasi (kondisi ketika bernafas terlalu cepat
karena cemas atau histeris pada ketinggian). Untuk menjaga pH darah agar stabil, di
dalam darah terdapat beberapa larutan penyangga alami, yaitu
a. Penyangga hemoglobin
Oksigen merupakan zat utama yang diperlukan oleh sel tubuh yang didapatkan
melalui pernapasan. Oksigen diikat oleh hemoglobin di dalam darah, di mana O2
sangat sensitif terhadap pH. Reaksi kesetimbangan yang terjadi dapat dituliskan
sebagai berikut.
HHb+ + O2 ↔ H+ + HbO2
Asam hemoglobin

23
Produk buangan dari tubuh adalah CO2- yang di dalam tubuh bisa membentuk
senyawa H2CO3 yang nantinya akan terurai menjadi H+ dan HCO3- . Penambahan H+
dalam tubuh akan mempengaruhi pH, tetapi hemoglobin yang telah melepaskan O2
dapat mengikat H+ membentuk asam hemoglobin.
b. Penyangga karbonat
Penyangga karbonat juga berperan dalam mengontrol pH darah. Reaksi
kesetimbangan yang terjadi sebagai berikut.
H+(aq) + HCO-(aq) ↔ H2CO3(aq) ↔ H2O(aq) + CO2(aq)
Perbandingan molaritas HCO3- terhadap H2CO3 yang diperlukan untuk
mempertahankan pH darah 7,4 adalah 20:1. Jumlah HCO3- yang relatif jauh lebih
banyak itu dapat dimengerti karena hasil-hasil metabolisme yang diterima darah
lebih banyak bersifat asam.
c. Penyangga fosfat
Penyangga fosfat merupakan penyangga yang berada di dalam sel. Penyangga
ini adalah campuran dari asam lemah H2PO4– dan basa konjugasinya, yaitu HPO42
Jika dari proses metabolisme sel dihasilkan banyak zat yang bersifat asam,
maka akan segera bereaksi dengan ion HPO42–
HPO42–(aq) + H+(aq) ↔ H2PO4–(aq)
Jika pada proses metabolisme sel menghasilkan senyawa yang bersifat basa,
maka ion OH akan bereaksi dengan ion H2PO4–
H2PO4–(aq) + OH–(aq) ↔ HPO4–(aq) + H2O(l)
Sehingga perbandingan [H2PO4–]/[HPO42–] selalu tetap dan akibatnya pH
larutan tetap. Penyangga ini juga ada di luar sel, tetapi jumlahnya sedikit. Selain itu,
penyangga fosfat juga berperan sebagai penyangga urin.
2. Larutan Buffer dalam Obat – obatan
Sebagai obat penghilang rasa nyeri, aspirin mengandung asam asetilsalisilat.
Beberapa merek aspirin juga ditambahkan zat untuk menetralisir kelebihan asam di
perut, seperti MgO. Obat suntik atau obat tetes mata, pH-nya harus disesuaikan dengan
pH cairan tubuh. Obat tetes mata harus memiliki pH yang sama dengan pH air mata agar

24
tidak menimbulkan iritasi yang mengakibatkan rasa perih pada mata. Begitu pula obat
suntik harus disesuaikan dengan pH darah.
3. Larutan Buffer dalam industri
Dalam industri, larutan penyangga digunakan untuk penanganan limbah. Larutan
penyangga ditambahkan pada limbah untuk mempertahankan pH 5-7,5. Hal itu untuk
memisahkan materi organik pada limbah sehingga layak di buang ke perairan.
Contohnya asam sitrat. Keasaman asam sitrat dari 3 gugus karboksil (COOH) yang dapat
melepaskan proton dari larutan ion yang dihasilkan adalah ion sitrat.

4. Air Ludah sebagai Larutan Penyangga

Gigi dapat larut jika dimasukkan pada larutan asam yang kuat. Email gigi yang
rusak dapat menyebabkan kuman masuk ke dalam gigi. Air ludah dapat
mempertahankan pH pada mulut sekitar 6,8. Air liur mengandung larutan penyangga
fosfat yang dapat menetralisir asam yang terbentuk dari fermentasi sisa-sisa makanan.

5. Menjaga keseimbangan pH tanaman.

Suatu metode penanaman dengan media selain tanah, biasanya dikerjakan dalam
kamar kaca dengan menggunakan mendium air yang berisi zat hara, disebut
dengan hidroponik . Setiap tanaman memiliki pH tertentu agar dapat tumbuh dengan baik.
Oleh karena itu dibutuhkan larutan penyangga agar pH dapat dijaga. Didalam tanah secara
alami sudah ada penyangga yaitu penyangga tanah. Jika pH tanah rendah ion-ion H+ yang
terserap diganti oleh ion-ion Ca+2 maka terjadi peningkatan pH tanah berarti keasaman tanah

25
telah dinetralkan. Dengan adanya sifat penyangga dalam tanah, menyebabkan pH dalam
tanah dapat stabil.

26
DAFTAR PUSTAKA

Brady, JE.- Pudjaatmaka & Suminar (1994). Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta:
Erlangga
Channg, Raymond. 2012. General Chemistry: The Essential Concepts, Fifth Edition. Amerika:
New York
Darrell D. Ebbing, Steven D.2007. Gammon General Chemistry.Eighth Edition.USA:Wayne
State University Emeritus
Denniston, K. J. (Katherine J.) 2008. General, organic, and biochemistry–6th ed. Towson
University Erlangga Hall
Keenan, Charles W – Pudjaatmaka (1999). Ilmu Kimia Universitas. Jakarta:Erlangga
Klug, S William, Cummings R. M. (1996). Essentials of Genetics. New Jersey: Prentice
Martin S. Silberberg.2008. Principles of General Chemistry Second Edition:Library of Congress
Cataloging-in-Publication Data
Petrucci, H. Ralph. 2011. General Chemistry: Principle and Modern Application, Tenth Edition :
Canada
Purba, M.1994. Kimia untuk SMA kelas XI:2B. Jakarta:Penerbit Erlangga
Syukri, S.1999.Kimia Dasar 2. Bandung: ITB Press

27