Anda di halaman 1dari 26

CRITICAL JOURNAL

REVIEW
MK. FISIKA UMUM
PRODI S1 DIK
MATEMATIKA -
FMIPA

Skor Nilai :

JURNAL FLUIDA STATIS

NAMA MAHASISWA : EKA NOVIASARI


NIM : 4183111104
DOSEN PENGAMPU : Dr. Sondang R. Manurung, M.Pd.
MATA KULIAH : FISIKA UMUM

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN
Bulan November 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
RahmatNyalah tugas Critical Jurnal Review ini dapat saya selesaikan dengan baik dan sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan. Saya berterima kasih kepada Ibu Dr. Sondang R.
Manurung, M.Pd.. yang sudah memberikan bimbingan dan arahan kepada saya sehingga
tugas Critical Jurnal Review ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, saya meminta maaf
jika ada kesalahan dalam penulisan, dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan
kritik dari pembaca agar saya dapat memperbaiki tugas ini. Akhir kata saya berharap semoga
critical jurnal review ini dapat memberikan manfaat bagi saya dan terlebih pembaca. Atas
perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Medan, Oktober 2018

Eka Noviasari

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… i


DAFTAR ISI …………………………………………………...…………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi pentingnya CJR ………………………………………………..………….. 1
B. Tujuan penulisan CJR …………………..…………………………..…………………… 1
C. Manfaat CJR …………..………………..………………...……………………………… 1
D. Identitas Jurnal …………….…………....…………………………..…………………… 1

BAB II RINGKASAN ISI JURNAL


A. Ringkasan Jurnal 1 …………….……………..…………………..……………………… 3
B. Ringkasan Jurnal 2 …………….……………..…………………………………..……… 5

BAB III PEMBAHASAN


A. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal 1 …………….……...……………………………..… 7
B. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal 2 …………….………...………………..…………… 7

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan …………….…………...………..……………………………………...…… 9
B. Saran …………….……………..………………….……………...……………………… 9

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi pentingnya CJR

Tulisan dalam jurnal ini mencoba melakukan penelitian ilmiah salah satu penelitian
dalam fisika yaitu Fluida statis. Penelitian ilmiah tersebut digunakan untuk mengembangkan
instrumen evaluasi berbasis taksonomi Structure of the Observed Learning Outcome dan
bermanfaat agar mahasiswa dapat memecahkan masalah fluida Statis dengan pengembangan
instrumen evaluasi berbasis taksonomi Structure of the Observed Learning Outcome.
Suatu zat yang mempunyai kemampuan mengalir dinamakan Fluida. Cairan adalah
salah satu jenis fluida yang mempunyai kerapatan mendekati zat padat. Letak partikelnya
lebih merenggang karena gaya interaksi antar partikelnya lemah. Gas juga merupakan fluida
yang interaksi antar partikelnya sangat lemah sehingga diabaikan. Dengan demikian
kerapatannya akan lebih kecil. Karena itu, fluida dapat ditinjau sebagai sistem partikel dan
kita dapat menelaah sifatnya dengan menggunakan konsep mekanika partikel. Apabila fluida
mengalami gaya geser maka akan siap untuk mengalir. Jika kita mengamati fluida statis
misalnya di air tempayan.

B. Tujuan penulisan CJR


1. Untuk mengulas isi dari dua jurnal.
2. Untuk membandingkan kedua jurnal dengan materi yang sama.
3. Untuk mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam kedua jurnal.
4. Untuk memperoleh gambaran tentang peraturan-peraturan metode ilmiah dalam
melakukan penelitian ilmiah.

C. Manfaat CJR
1. Untuk memenuhi tugas CJR mata kuliah “Fisika Umum”
2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan jurnal.
3. Untuk menambah wawasan tentang memecahkan asalah fluida statis dalam
melakukan penelitian ilmiah, melalui kajian fluida statis

D. Identitas Jurnal
Jurnal 1
1. Judul Artikel : Pengembangan Instrumen Evaluasi Berbasis Taksonomi Structure
of the Observed Learning Outcome (SOLO) Untuk Menentukan Profil Kemampuan
Siswa dalam Memecahkan Masalah Fluida Statis.
2. Nama Journal : Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika
3. Edisi Terbit :3
4. Pengarang Artikel : Nurul Dwi Pratiwi dan Woro Setyarsih

1
5. Penerbit : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Surabaya
6. Kota Terbit : Surabaya
7. Nomor ISSN : 2302-4496
8. Alamat Situs : jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/inovasi-pendidikan-
fisika/article/view/133300

Jurnal 2
1. Judul Artikel : Pembelajaran Kooperatif dengan Media Virtual untuk
Peningkatan Penguasan Konsep Fluida Statis Siswa.
2. Nama Journal : Jurnal Pendidikan Fisika dan Teknologi
3. Edisi Terbit :2
4. Pengarang Artikel : Nina Nisrina, Gunawan dan Ahmad Harjono
5. Penerbit : Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Mataram
6. Kota Terbit : Mataram
7. Nomor ISSN : 2407-6902
8. Alamat Situs : jurnalfkip.unram.ac.id/index.php/JPFT/article/view/291/284

2
BAB II
RINGKASAN ISI JURNAL

A. Ringkasan Jurnal 1
Fluida statis dikategorikan sebagai materi fisika yang mengandung kompetensi dasar
dengan Kata Kerja Operasional (KKO) “menganalisis”, maka pembelajaran fluida statis
hendaknya dilaksanakan melalui proses pemecahan masalah (BSNP, 2006). Selain itu, pada
fluida statis siswa dapat mempelajari banyak konsep fisika yang sering ditemui dalam
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dalam memecahkan masalah yang termuat di dalam
soal siswa dapat mengabstraksikan pertanyaan untuk menganalisis, menemukan hubungan
antar fakta/informasi yang diberikan, mengidentifikasi dan merencanakan strategi
penyelesaian soal agar mendapatkan jawaban yang tepat. Meninjau hasil PISA tahun 2012
khususnya pada bidang sains, kemampuan siswa Indonesia dalam menggunakan algoritma,
rumus, dan prosedur dasar untuk menyelesaikan soal masih tergolong rendah (Indonesia,
PISA Centre, 2014). Hal serupa juga diduga terjadi pada siswa kelas X SMA NU 1 Gresik.
Hasil studi pendahuluan dengan teknik dokumentasi ditemukan bahwa nilai rata-rata Ujian
Tengah Semester (UTS) genap tahun 2013/2014 untuk fisika sebesar 7,72 dengan
Kompetensi Ketuntasan Minimal (KKM) 8,00. Menanggapi hal ini, perlu diadakan evaluasi
perbaikan proses pembelajaran.
Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh
mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan dapat tercapai (Suharsimi, 2009).
Evaluasi di dalam proses pembelajaran dipandang sebagai salah satu aspek penting karena
dengan evaluasi guru dapat mengetahui informasi mengenai prestasi siswa. Pada
kenyataannya evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru ketika memberikan
penilaian hasil belajar siswa hanya berpedoman pada kunci jawaban yang ditetapkan dan
menilai jawaban siswa pada benar atau salah saja. Jarang guru melakukan evaluasi dengan
melihat perlakuan yang diberikan oleh siswa ketika membaca atau menjawab pertanyaan di
dalam soal (respon siswa). Hal semacam ini kurang tepat jika diterapkan, khususnya dalam
melakukan evaluasi dengan menggunakan instrumen berupa soal uraian, karena di dalam soal
uraian dapat ditemui banyak perbedaan respon siswa dalam memecahkan masalah. Berkaitan
dengan hal ini, salah satu kerangka yang dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk
mengetahui respon siswa dalam memecahkan masalah yang termuat pada soal fisika yaitu
taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome).Taksonomi SOLO
dikembangkan oleh Biggs dan Collis pada tahun 1982. Biggs dan Collis mengklasifikasikan
taksonomi SOLO berdasarkan lima level yaitu prastruktural, unistruktural,
multistruktural,relasional, dan extended abstrak (Biggs, 2007; Brabrand, 2009; Kuswana,
2012). Klasifikasi ini didasarkan pada keragaman kemampuan berpikir siswa dalam
melakukan pemecahan masalah ketika merespon soal yang disajikan. Selain itu, Watson
dalam Kuswana (2012) juga berpendapat bahwa taksonomi SOLO dapat digunakan sebagai
alat yang mudah dan sederhana untuk menyusun dan menentukan tingkat kesulitan atau
3
kompleksitas suatu pertanyaan di dalam soal.Menurut Hamdani (2009) perbedaan taksonomi
SOLO dengan taksonomi Bloom yang biasa digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan
tujuan kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia bergantung pada cara pandang dalam
melihat tujuan pembelajaran. Dalam mengklasifikasikan hasil belajar siswa berdasarkan cara
berpikir siswa dapat menggunakan taksonomi Bloom, namun untuk lebih spesifik dalam
mengklasifikasikan cara berpikir siswa yang dilihat dari respon siswa ketika memberikan
perlakuan untuk membaca dan menjawab pertanyaan soal, maka dapat digunakan taksonomi
SOLO.
Berdasarkan uraian di atas, untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan
masalah fisika maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan Instrumen
Evaluasi Berbasis Taksonomi Structure of the Observed Learning Outcome (SOLO)Untuk
Menentukan Profil Kemampuan Siswa dalam Memecahkan Masalah Fluida
Statis.”Pengembangan instrumen evaluasi yang diteliti pada penelitian ini mengacu pada
kriteria soal berbasis taksonomi SOLO yang dikembangkan oleh Biggs (1999).

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan:


1. Hasil validasi internal kelayakan instrumen soal pada ranah materi sebesar 87,50%, ranah
konstruk sebesar 85,42%, dan pada ranah bahasa sebesar 88,89%. Hasil validasi eksternal
(empiris) kelayakan instrumen soal dinyatakan sebagai instrumen tes “valid” dengan nilai t-
test sebesar 8,61 yang hasilnya lebih besar jika dibandingkan dengan t-tabel sebesar 1,75.
2. Ditinjau dari hasil uji coba II diperoleh profil kemampuan siswa kelas X MIA di SMA NU
1 Gresik dalam memecahkan masalah fluida statis berdasarkan taksonomi SOLO, sebagai
berikut: a. Pada level prastruktural diperoleh persentase
sebesar 31,39% yang menunjukkan bahwa siswa belum dapat mengerjakan tugas secara tepat
artinya siswa tidak memiliki keterampilan yang dapat digunakan dalam menyelesaikan tugas
yang diberikan. b.
Pada level unistruktural diperoleh persentase sebesar 13,28% yang menunjukkan bahwa
siswa hanya menggunakan sedikitnya satu informasi dan menggunakan satu konsep atau
proses pemecahan masalah.
c. Pada level multistruktural diperoleh persentase sebesar 20,32% yang menunjukkan bahwa
siswa dapat membuat beberapa hubungan dari beberapa data/informasi dalam memecahkan
masalah.
d. Pada level relasional diperoleh persentase sebesar 27,16% yang menunjukkan bahwa siswa
dapat menghubungkan beberapa data/informasi kemudian mengaplikasikan konsep dan
membuat kesimpulan yang relevan.
e. Pada level extended abstract diperoleh persentase sebesar 7,85% yang menunjukkan bahwa
siswa dapat berpikir secara konseptual dan dapat melakukan generalisasi pada suatu
domain/area pengetahuan dan pengalaman lain.

4
B. Ringkasan Jurnal 2
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-
centered), strategi instruksional dalam bentuk instruktur yang memfasilitasi (instructor-
facilitated) dimana terdapat sebuah kelompok kecil yang terdiri dari beberapa siswa yang
bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka individual dan anggota kelompok mereka.
siswa berinteraksi satu sama lain dalam kelompok yang sama untuk belajar dan mencapai
tujuan [8]. Teori utama yang mendasari pembelajaran kooperatif adalah teori social
konstruktivisme oleh Vygotsky pada tahun 1986 dimana dia mempertimbangkan bahwa
peran budaya, social, bahsa, dan interaksi adalah penting dalam memahami bagaimana
mansua belajar . Slavin menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif secara ekstensif, atas
dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang
sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep yang sulit apabila mereka
dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya [9]. Sedangkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dikemukakan oleh Slavin adalah sebuah metode
pembelajaran yang terdiri dari 4 atau 5 orang yang heterogen dari segi tingkat kemampuan,
jenis kelamin, dan latar belakang budaya. Pada STAD yang dinyatakan oleh Slavin bahwa:
“Most often, the study involves students discussing problems together,comparing answers,
and correcting any misconceptions if teammates make mistakes”, yang artinya siswa
mendiskusikan masalah bersama, membandingkan jawaban dan memeriksa miskonsepsi jika
tim membuat kesalahan. Lima
Komponen utama dari kooperatif tipe STAD adalah pertama, presentasi kelas dimana
materi diperkenalkan terlebih dulu di dalam kelas yang dapat dilakukan langsung atau dengan
audiovisual; kedua, tim yang terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian
dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnisitas. Segala bentuk
kegiatan baik praktikum dilakasanakan dalam kelompok/tim kooperatif; ketiga, kuis yang
berupa kuis individual yang dilaksanakan setelah guru presentasi dan praktik tim; keempat,
skor kemajuan individual yang diberikan sesuai dengan kinerja yang dilakukan siswa dan
timnya; dan kelima, rekognisi tim dimana tim akan mendapat penghargaan apabila skor tim
mencapai kriteria.
Pembelajaran kooperatif didasari pada kepercayaan bahwa pembelajaran akan
menjadi paling efektif ketika siswa secara aktif terlibat dalam berbagi ide dan bekerja secara
kooperatif untuk menyelesaikan tugas akademiknya. Pembelajaran kooperatif sudah banyak
digunakan sebagai metode instruksi dan alat pembelajaran pada berbagai tingkat pendidikan
.Keefektifan suatu pembelajaran pada abad 21 ini menjadi lebih baik jika sejalan dengan
berkembangnya teknologi dan informasi. Informasi dapat diperoleh dari media cetak maupun
media virtual yang merupakan komponen dari teknologi. Hampir seluruh sekolah
menggunakan teknologi dalam memperoleh informasi, dari mulai proses pembelajaran ko-
kurikuler dan eks-kurikuler.
ICT (Information and Communication Technology) atau yang lebih dikenal sebagai
teknologi informasi dan komunikasi dipandang sebagai sebuah alat untuk mendukung
pembaruan kurikulum dan keyakinan pedagogic guru dari teacher-centered menuju ke

5
student-centered. Sebagai kegunaan ICT dalam pendidikan, diperoleh daya tarik yang besar
dalam pendidikan formal (bagi guru dan bagi siswa), mengajar, dan pembelajaran yang
dibingkai dalam satu set proses-transfer ilmu pengetahuan sebagai pelengkap dan
penghubung . Salah satu bentuk ICT yang digunakan dalam pembelajaran adalah media
virtual. Banyaknya percobaan yang dilakukan di sekolah biasanya menimbukan keterbatasan
yang didasari pada dasar-dasar tertentu seperti infrastruktur yang kurang, alat, waktu dan
tempat, serta presisi alat yang kurang. Semua masalah tersebut dapat dihindari dengan
percobaan menggunakan laboratorium virtual . Percobaan virtual yang ditampilkan dengan
teknologi komputer menambah nilai suatu percobaan fisika dengan mengizinkan siswa untuk
mencari fenomena-fenomena yang sulit untuk diobservasi, link yang dapat diobservasi,
informasi-informasi yang penting, mengizinkan siswa untuk menciptakan percobaan ganda
bahkan lebih hanya dalam waktu yang singkat serta bimbingan yang menarik .
Hasil penelitian ini diperoleh dengan pemberian tes awal dan tes akhir yang berbentuk
soal pilihan ganda sebanyak 28 soal untuk mengukur penguasaan konsep siswa dalam materi
fluida statis dengan tujuan untuk menganalisis penguasaan konsep siswa dengan menerapkan
model kooperatif berbantuan media virtual yang melibatkan kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Berdasarkan pemberian tes awal dan tes akhir pada kedua kelas terlihat bahwa
adanya peningkatan penguasaan konsep kedua kelas yang terlihat.
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual
berpengaruh terhadap penguasaan konsep fisika siswa pada materi fluida statis secara
signifikan. Pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dengan media virtual
mampu meningkatkan kemampuan penguasaan konsep fisika siswa pada sub-materi hukum
utama hidrostatis, tekanan hidrostatis, hukum paskal, dan hokum stokes serta gejala
kapilaritas dan tegangan permukaan. Sedangkan untuk sub-materi hukum Archimedes dan
viskositas, baik model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual dan model
pembelajaran langsung memiliki pengaruh yang sama terhadap peningkatanya. Sedangkan
untuk peningkatan penguasaan konsep dari aspek kognitif C1 sampai C5 dipengaruhi secara
signifikan oleh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media virtual sedangkan
untuk aspek C6 peningkatannya lebih dipengaruhi oleh model pembelajaran langsung.

6
BAB III
PEMBAHASAN

A. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal 1


Kelebihan :
1. Memaparkan secara jelas dan lengkap latar belakang dari permasalahan mengapa
dilakukan penelitian tersebut
2. Penjelasan yang disampaikan pada landasan teori memaparkan cukup jelas
3. Penggunaan tata bahsa yang sesuai dengan EYD dan mudah dipahami para pembaca
4. Penulisan sesuai dengan ketentuan pembuatan suatu jurnal
5. Pembahasan metode yang digunakan jelas
6. Abstrak jelas, sehingga pembaca dapat mengetahui hasil dari penelitian tersebut dengan
membaca abstraknya
7. Judulnya sesuai dengan penelitian
8. Menjelaskan manfaat penelitian secara detail
9. Terdapat saran untu penelitian selanjutnya

Kekurangan :
1. Judul yang digunakan terlalu panjang
2. Pembahasan dalam penelitian ini tidak mencantumkan penelitian yang lain

B. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal 2


Kelebihan :
1. Penjelasan yang disampaikan pada landasan teori memaparkan cukup jelas
2. Penggunaan tata bahsa yang sesuai dengan EYD dan mudah dipahami para pembaca
3. Penulisan sesuai dengan ketentuan pembuatan suatu jurnal
4. Terdapat grafik yang mendukung hasil dan pembahasan penelitian
5. Terdapat persentase yang mendukung hasil dan pembahasan penelitian
6. Abstrak jelas, sehingga pembaca dapat mengetahui hasil dari penelitian tersebut dengan
membaca abstraknya
7. Judulnya sesuai dengan penelitian

7
8. Menjelaskan manfaat penelitian secara detail
9. Penelitian memberikan intervensi pada responden dan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa ada hubungan yanng bermakna antara subjek dan objek

Kekurangan :
1. Judul yang digunakan terlalu panjang
2. Memaparkan latar belakang permasalahan dari penelitian tersebut, akan tetapi tidak
dipaparkan dengan jelas
3. Tidak terdapat saran untuk penelitian selanjutnya

8
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada kenyataannya evaluasi proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru ketika
memberikan penilaian hasil belajar siswa hanya berpedoman pada kunci jawaban yang
ditetapkan dan menilai jawaban siswa pada benar atau salah saja. Jarang guru melakukan
evaluasi dengan melihat perlakuan yang diberikan oleh siswa ketika membaca atau menjawab
pertanyaan di dalam soal (respon siswa). Hal semacam ini kurang tepat jika diterapkan,
khususnya dalam melakukan evaluasi dengan menggunakan instrumen berupa soal uraian,
karena di dalam soal uraian dapat ditemui banyak perbedaan respon siswa dalam
memecahkan masalah. Berkaitan dengan hal ini, salah satu kerangka yang dapat digunakan
sebagai alat evaluasi untuk mengetahui respon siswa dalam memecahkan masalah yang
termuat pada soal fisika yaitu taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning
Outcome) dan pembelajaran Kooperatif dengan Media Virtual untuk Peningkatan Penguasan
Konsep Fluida Statis Siswa.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, diajukan saran sehubungan dengan hasil review


jurnal ini, yaitu hendaknya mengembangkan penulisan tentang fluida statis dan vektor
khususnya Mahasiswa Program Strata 1, mengingat masih banyak persoalan yang belum
tuntas dan masih perlu dibahas. Selanjutnya, semoga review jurnal ini bisa memberikan
tambahan wawasan bagi yang membacanya sekaligus memperkaya khasanah kita sebagai
kaum intelektual yang berlatarkan Pendidikan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Biggs, John. 1999. Teaching for Quality Learning at University Formulating and Clarifying
Curriculum Objectives.

Biggs, J. & Tang, C. 2007. Teaching for Quality Learning at


University.http://store.freecollege.org/noleechl.php?hidden=q:/386000/45cc90a412ef1783ee6
d3e10cbaecb59&hidden0=John+Biggs,+Catherine+Tang+Teaching+for+Quality+Learning+
at+University+++2007.pdf. Tanggal 11 Februari 2015.

Braband, D. & Dahl, B. 2009. Using SOLO Taxonomy to Analyze Competence Progression
of University Science Curricula. Higher Education. 58(4): 531-549.
http://www.itu.dk/people/brabrand/progression.pdf. Tanggal 11 Februari 2015.

BSNP. 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:
BSNP.Chick, H, L. 1998. Cognition in the Formal Modes: Research Mathematics and the
SOLO Taxonomy. Australian Senior Mathematics Journal 2, Vol.10, 4-26.

Ekawati, dkk. 2013. Studi Respon Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Pemecahan Masalah
Matematika Berdasarkan Taksonomi Strcuture The Observed Learning Outcome (SOLO).
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujmer. Tanggal 25 Desember 2015.

Ganina, S. & Voolaid, H. 2010. The Influence of Problem Solving on Studying Effectiveness
in Physics.
http://www.ksk.edu.ee/epcontent/uploads/2011/03/KVUOAToimetised13GAninaVoolaid.pdf
. Tanggal 25 Desember 2014.

Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Hastuti, dkk. 2011. Analisis Kesalahan Dalam Menyelesaikan Soal Materi Pokok Kalor Pada
Siswa Kelas X SMA. http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/fisika/article/view/1872. Tanggal
12 Desember 2014.

Indonesia PISA Center. 2014. Level PISA.


http://www.indonesiapisacenter.com/2013/08/levelpisa.html. Tanggal 12 Desember 2014.

Kuswana. Wowo S. 2012. Taksonomi Kognitif Perkembangan Ragam Berpikir. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya.

Nurachman, Setya. 2009. Fisika 2 : Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.

O’Neill, G & Murphy , F. 2010. UCD Teaching and Learning/Resources, Guide to


Taxonomies of Learning. http://www.ucd.ie/t4cms/ucdtla0034.pdf.Tanggal 11 Februari 2015.

Plotzner, Rolf. 1994. The Integrative Use Of Qualitative and Quantitative Knowledge in
Physics Problem Solving.http://www.peterlang.com/download/datasheet_47640.pdf. Tanggal
12 Desember 2014.
Rahma, Anisa. 2014. Ketidakmampuan Pemecahan Soal Hukum Archimedes Berdasarkan
Taksonomi Structure Of The Observed Learning Outcome Siswa SMA.
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/6317/6489. Tanggal 25 Desember 2014.

Szetala, W. & Nicol, C. 1992. Evaluating Problem Solving in Mathematics.


http://.ascd.org/ASCD/pdf/journals/ed_lead/el_199205_szetala.pdf. Tanggal 12 Desember
2014

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatis Dan R&D. Bandung: IKAPI.

Suharsimi, A. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Revisi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Sukmadinata, N. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Suroso, 2005. Mekanika Fluida. Purwokerto : Jurusan Teknik Sipil Unsoed.

Tipler. 1991. Fisika Untuk Sains Dan Teknik Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Uno, H. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Mason, A., & Singh, C. (2016). Usingcategorization of problems as an instructional tool to


help introductory students learn physics. Physics Education, 51(2), 025009.

Lindstrøm, C., & Sharma, M. D. (2009). Link maps and map meetings: Scaffolding student
learning. Physical Review Special Topics-Physics Education Research, 5(1), 010102.

Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Kurikulum 2004 Mata Pelajaran


Fisika SMA. Jakarata: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003.

Zakaria, E. (2009). Promoting cooperative learning in science and mathematics education: A


Malaysian perspective. Colección DigitalEudoxus, (22).

Kauertz, A., Neumann, K., & Haertig, H. (2012). Competence in science education. In
Second international handbook of science education (pp. 711-721). Springer Netherlands.

Valle, R. C., Normandeau, S., & Gonzalez, G. R. (2015). Education at a glance interim
report: update of employment and educational attainment indicators. Paris: OCDE, Jan.

Zacharia, Z. C., & Constantinou, C. P. (2008).Comparing the influence of physical and


virtual manipulatives in the context of the Physics by Inquiry curriculum: The case of
undergraduate students’ conceptual understanding of heat and temperature. American Journal
of Physics, 76(4), 425-430.

H. Lam, B. P. Li, M. 2005. Cooperative Learning. The Hong Kong Institute of Education.

Slavin, R. E. (1990). Cooperative learning: Theory, research, and practice. Prentice-Hall.

Cheah, H. M., & Lim, K. Y. (2016). Mediating approaches to the use of ICT in teaching and
learning through the lenses of ‘craft’and ‘industrial’educator. Journal of Computers in
Education, 3(1), 21-31.

Herga, N. R., Čagran, B., & Dinevski, D. (2016). Virtual Laboratory in the Role of
DynamicVisualisation for Better Understanding of Chemistry in Primary School. Eurasia
Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 12(3), 593-608.

De Jong, T., Linn, M. C., & Zacharia, Z. C. (2013). Physical and virtual laboratories in
science and engineering education. Science, 340(6130), 305-308.

Brown, A. L., & Palincsar, A. S. (1989). Guided, cooperative learning and individual
knowledge acquisition. Knowing, learning, and instruction: Essays in honor of Robert Glaser,
393-451.

Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom's taxonomy: An overview. Theory into


practice,41(4), 212-218.

Kost, L. E., Pollock, S. J., & Finkelstein, N. D. (2009). Characterizing the gender gap in
introductory physics. Physical Review Special Topics-Physics Education Research, 5

LAMPIRAN
Jurnal 1
Jurnal 2