Anda di halaman 1dari 19

TUGAS CRITICAL JOURNAL REVIEW

FILSAFAT PENDIDIKAN
“MANFAAT KAJIAN FILSAFAT, NILAI ETIKA DAN
PRAGMATIS ILMU PENGETAHUAN UNTUK MELAKUKAN
PENELITIAN ILMIAH”

DISUSUN OLEH :

NAM A MAHASISWA : Eka Noviasari

NIM : 4183111104

KELAS : Pendidikan Matematika C 2018

DOSEN PENGAMPU : Rahmilawati Ritonga , S.P., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah Swt. atas segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas “Critical Journal Review” Filsafat
Pendidikan” ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.

Penulis juga berterima kasih pada Ibu Rahmilawati Ritonga, S.P., M.Pd. selaku
Dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan Universitas Negeri Medan yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.

Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan,
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

Akhir kata, hanya kepada Allah kami bersyukur atas selesainya makalah ini, semoga
Allah Swt. memberikan petunjuk kepada kita semua. Akhir kata, kami berharap semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Medan, 1 Oktober 2018

Eka Noviasari

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………..…..………. i

DAFTAR ISI ………………………………………………………...……………… ii

BAB I PENDAHULUAN ………….……………………..........................………… 1

1.1 Latar Belakang ……..………….…………………….……...……………...…… 1


1.2 Tujuan ..................................................................................……………….…… 1
1.3 Manfaat ………….………….……………………………………………..……. 1
1.4 Identitas Jurnal ………...…………………………………………………..……. 1

BAB II RINGKASAN ISI JURNAL …………...………...………….………..…… 2

2.1 Pendahuluan ……..………….………………………………………....…..…… 2


2.2 Pembahasan …….………….…………………………………………………… 3
2.3 Metode Penelitian ………….………….………………………………...........… 9
2.4 Penutup ………...……………...………...…………………………………........ 9

BAB III PEMBAHASAN …………..…………...………...……...…..…………… 11

3.1 Hubungan antara judul dengan metode ………………………………...…..…. 11


3.2 Kelebihan dan kekurangan jurnal …………………………………...…..….…. 11
3.3 Ketajaman Jurnal …….………………………………………………………... 12

BAB IV PENUTUP ……………..…..…………...………...…………….....……… 13

4.1 Kesimpulan …………….…………………………………....…………...…… 13


4.2 Saran ………………………..…………………………………………...…….. 13

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………....… 14

LAMPIRAN COVER JURNAL …………………………………………….….… 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tulisan dalam jurnal ini mencoba melakukan penelitian ilmiah salah satu aliran
pemikiran dalam filsafat pendidikan, yaitu pragmatisme. Penelitian ilmiah tersebut digunakan
untuk meninjau manfaat kajian filsafat, nilai etika dan pragmati ilmu pengetahuan dan untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dimana salah satunya melalui penerapan
metode ilmiah tanpa mengabaikan nilai etika dan nilai pragmatis dalam pelaksanaan
penelitian ilmiah sebagai pemenuhan persyaratan kelulusan bagi peserta didik tingkat
akademik/universitas di Indonesia.
Hal ini mengingat masih terdapat peserta didik yang terpaksa drop out, karena sejak
awal kurang memahami hukum atau peraturan-peraturan metode ilmiah dalam penelitiannya,
sehingga tidak mampu menyelesaikan tugas akhir sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengulas isi dari sebuah jurnal.
2. Untuk mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam jurnal.
3. Untuk memperoleh gambaran tentang peraturan-peraturan metode ilmiah dalam
melakukan penelitian ilmiah.

1.3 Manfaat
1. Untuk memenuhi tugas CJR mata kuliah “Filsafat Pendidikan”
2. Untuk menambah wawasan tentang peraturan-peraturan metode ilmiah dalam
melakukan penelitian ilmiah, melalui kajian filsafat ilmu pengetahuan, nilai etika dan nilai
pragmatis

1.4 Identitas Jurnal


1. Nama Jurnal : Jurnal Ilmiah Widya
2. Judul Jurnal : Manfaat Kajian Filsafat, Nilai Etika dan Pragmatis Ilmu
Pengetahuan Untuk Melakukan Penelitian Ilmiah
3. Penulis Jurnal : Tjen Dravinne Winata
3. Penerbit : Universitas M.H. Thamrin Jakarta
4. Tahun Terbit : Mei – Juli 2014
5. Kota Terbit : Jakarta
6. ISSN : 2337-6686
7. Volume Jurnal : Volume 2
8. Halaman Jurnal : Hal. 32 sampai 40

1
BAB II
RINGKASAN ISI JURNAL

2.1 Pendahuluan
Abstrak:
Untuk melakukan penelitian ilmiah yang benar, peserta didik tingkat akademi/universitas di
Indonesia perlu mengetahui metode ilmiah, nilai etika dan nilai pragmatis yang dikaji dari
filsafat ilmu pengetahuan. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran
tentang peraturan-peraturan metode ilmiah dalam melakukan penelitian ilmiah, melalui kajian
filsafat ilmu pengetahuan, nilai etika dan nilai pragmatis dalam mencari kebenaran ilmu
pengetahuan. Jenis penelitian ini adalah kajian pustaka dengan pendekatan secara retrospektif
kualitatif. Dapat disimpulkan bahwa: (1) Metode ilmiah yang dilaksanakan secara
bertanggungjawab sesuai hukum dan peraturan-peraturan penelitian, akan menjamin
kesahihan hasil penelitian. 2. Hal mendasar dalam melakukan penelitian ilmiah adalah
sistematis, benar, jelas dan logis dengan metode ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan
serta sesuai hukum atau aturan penelitian. (3) Metode ilmiah sebagai langkah-langkah,
hukum atau aturan dalam mencari kebenaran ilmu pengetahuan adalah: (a) Perumusan
masalah, (b) Pengajuan hipotesis, (c) Proses deduksi hipotesis melalui kajian literatur, (d)
Pembuktian hipotesis melalui proses induksi, (e) Penerimaan hasil penelitian menjadi ilmu
atau teori ilmiah baru yang bersifat kontruktif

Latar Belakang :
Latar belakang penulisan makalah ini adalah perlunya upaya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia dimana salah satunya melalui penerapan metode ilmiah
tanpa mengabaikan nilai etika dan nilai pragmatis dalam pelaksanaan penelitian ilmiah
sebagai pemenuhan persyaratan kelulusan bagi peserta didik tingkat akademik/universitas di
Indonesia. Hal ini mengingat masih terdapat peserta didik yang terpaksa drop out, karena
sejak awal kurang memahami hukum atau peraturan-peraturan metode ilmiah dalam
penelitiannya, sehingga tidak mampu menyelesaikan tugas akhir sesuai dengan waktu yang
ditetapkan.
Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam
pengembangan intelektual dan profesionalisme masyarakat, serta perannya menjadi semakin
penting saat Indonesia harus menjadi kuat dalam menghadapi persaingan global. Menurut
USAID (2014), berdasarkan hasil monitoring UNESCO terhadap fasilitas, akses, dan
pemerataan atas distribusi institusi pendidikan telah terjadi penurunan peringkat kualitas
pendidikan di Indonesia sebesar ±0,1% pada tahun 2011-2012.

Tujuan :
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang peraturan-
peraturan metode ilmiah dalam melakukan penelitian ilmiah, melalui kajian filsafat ilmu

2
pengetahuan, nilai etika dan nilai pragmatis dalam mencari kebenaran ilmu pengetahuan yang
sudah berkembang sejak pertengahan abad ke 2. Jenis penelitian ini adalah kajian pustaka
dengan pendekatan secara retrospektif kualitatif.

2.2 Pembahasan
Perbedaan Pengetahuan dan Pengalaman
Menurut Soekidjo N.(2005), perbedaan pengetahuan (knowledge) dengan ilmu
(science) adalah hanya pada keguna untuk eksistensi kehidupan sehari-hari atau hanya
bersifat sebagai existensial pragmatis, yang diperoleh manusia dari bakatnya. Hal ini untuk
mengetahui segala sesuatu yang berasal dari pengalaman persentuhan inderanya (empirisme)
dengan obyek pada alam sekitar yang nyata maupun tidak. Pengalaman ini akan menjadi
pengetahuan jika manusia membuat keputusan untuk mengolah obyek pengalaman, menurut
sudut pandangnya berdasarkan akal budinya (rasionalisme). Perbedaan sudut pandang
manusia ini yang membedakan pengetahuan yang dihasilkan sedangkan upaya mencari kaitan
dan hubungan antara pengetahuan yang satu dengan yang lain telah memicu manusia untuk
selalu berpikir analitik.

Pengetahuan ini baru dapat disebut ilmu (science) jika sudah dikaji secara ilmiah,
dengan kriteria: (1) mengandung 2 tingkat kesadaran yaitu: (a) Kesadaran tingkat pertama ;
kesadaran adanya obyek (dalam keyakinan), (b) Kesadaran tingkat kedua ; kesadaran bahwa
ia sadar adanya obyek (fakta/empiris berdasarkan panca indera sebagai alat bantu). (2) Jenis
pengetahuan yang terdiri: (a) Pengetahuan khusus ; pengetahuan hanya mengenai satu saja,
contohnya segitiga lancip, meja makan, rumah joglo, (b) Pengetahuan umum; pengetahuan
yang berlaku bagi seluruh jenis dan masing- masing dalam macamnya sendiri, contohnya
segitiga, meja, rumah. (c) Pengetahuan biasa ; pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari
tanpa mengetahui lebih lanjut atau seluk beluknya, contohnya tahu tentang air, binatang, laut,
(d) Pengetahuan tidak biasa ; pengetahuan yang tidaksekedar apanya sesuatu, tetapi sampai
pada mengapa dan bagaimana sesuatu itu ada.

Beberapa Dasar Ilmu Pengetahuan


Menurut Soekidjo N. (2005): “Ilmu pengetahuan harus didasarkan pembuktian
pengetahuan yang berasal pengalaman empiris (fakta), dan dibatasi oleh sifat fenomena
(gejala/kejadian/ keadaan pada suatu saat tertentu) terhadap suatu obyek yang menyentuh
indera dan telah diolah dan diputuskan berdasarkan akal budi (rasio) subyek” .

Menurut Toeti N. (2005) dan Wikipedia (2014) bahwa terdapat 4 hal mendasar yang
dipertanyakan tentang pengetahuan agar dapat dikategorikan menjadi ilmu pengetahuan
ilmiah yaitu: 1. Sumber Pengetahuan; wilayah filsafat yang mempertanyakan tentang
bagaimana cara pengetahuan diperoleh yakni (a) sumber rasio dan (b) religi yang dalam
perkembangannya telah menyebabkan keberpihakan tentang sumber pengetahuan ini, dan
membagi faham Filsafat menjadi 2, yaitu (1) Faham Rasionalisme, dipelopori oleh Rene
Descartes sebagai Bapak Filsafat Rasionalisme/Bapak Filsafat Modern, diikuti oleh Spinoza
3
dan Reibnis. Faham ini berkembang di Eropa dan dikenal sebagai Filsafat Anglosaxon,
mengakui rasio/akal/pikiran sebagai satu satunya sumber ilmu pengetahuan yang pasti benar,
selanjutnya dikenal sebagai cara berpikir deduktif. Pengetahuan yang dihasilkan adalah
pengetahuan apriori yang mengandalkan pengetahuan akal budi atau pengetahuan sebelum
tahu atau mendahului pengalaman; (2) Faham Empirisme ; dipelopori oleh David Hume
diikuti oleh Berkeley dan John Lock, yang berkembang di Inggris dan dikenal sebagai
Filsafat Continental , faham ini mengakui indera dalam memperoleh pengetahuan
berdasarkan fakta-fakta dari pengalaman empiris sebagai satu-satunya sumber ilmu
pengetahuan yang pasti benar karena akal budi hanya dapat berfungsi kalau ada acuannya
realitas atau pengalaman, selanjutnya dikenal sebagai cara berpikir induktif. Pengetahuan
yang dihasilkan adalah pengetahuan aposteriori, yaitu pengetahuan berdasarkan pengalaman
panca indera yang sudah dibuktikan kebenaran faktanya.
Faham Sintesis; yang dipelopori oleh Immanuel Kant merupakan upaya sintesis atau
penggabungan kedua faham Rasionalisme dan Empirisme, faham ini yang percaya bahwa
pengetahuan harus didukung oleh kedua sumber yang ada, baik sumber pengetahuan
berdasarkan pertimbangan rasio maupun pengetahuan empiris yang tertangkap dalam ruang
dan waktu. Pengalaman (empirisme) yang diperoleh melalui indera penting sebagai dasar
membentuk pengetahuan, akal budi (rasionalisme) juga penting untuk mengolah pengalaman
tersebut.

Menurut Immanuel Kant:


“pengetahuan tanpa rasio adalah buta, pengetahuan tanpa empiri adalah kosong”. Ilmu
Pengetahuan harus merupakan hasil dari perpaduan kedua sumber pengetahuan rasio dan
empiris atau cara berpikit deduktif (rasio) dan induktif (pengalaman empiris indera)”.

Masalah lainnya adalah adanya perbedaan antara individu yang satu dengan individu yang
lain, dimana apa yang sama-sama dialami secara fisik/indera manusia oleh masing-masing
individu, akan memberikan kesan persepsi yang diterima/pengalaman berbeda-beda pada
masing-masing individu. Dengan kata lain pengetahuan yang berawal dari pengalaman
sehari-hari yang sama (misalnya bahasa dan pengalaman), dapat berkembang menjadi
teoriyang berbeda, sebagai akibat cara berpikir/akal sehat/penalaran akal budi/fokus
pengamatan yang berbeda. sebagai contoh teori figure-ground phenomena atau Psikologi
Gestalt, dimana manusia dapat dengan mudah menangkap bentuk/ figure, karena ada kontur
(garis bentuk) yang membatasi bentuk dari latar di belakangnya. Untuk dapat melihat gambar
latar berupa 2 (dua) wajah saling berhadapan, menurut Psikologi Gestalt, manusia dituntut
melakukan pengamatan lebih terhadap bagian-bagian dari bentuk yang harus tampak
terorganisir.
2. Batas-batas Pengetahuan ; adalah pada apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita
ketahui dan tercakup dalam ruang dan waktu. Hal ini dibedakan menjadi: (1) Fenomenon
(gejala); batas pengetahuan yang dapat di ketahui, dan dapat ditangkap oleh panca indera
serta prinsip bahwa semua yang di lihat ini adalah gejala; dan (2) Nomenon; sesuatu yang
tidak diketahui dan berada di luar jangkauan indera kita, tetapi sangat nyata dan sangat
4
mempengaruhi dan sangat berarti dalam menata hidup agar kita menjadi orang yang bermoral
dan beragama, misalnya Tuhan, jagat raya, nasib manusia, jiwa, ide, dan lain lain.
3. Struktur Pengetahuan ; dibedakan menjadi dua yaitu Subyek dan Obyek dengan batas-
batas tertentu. Rene Descartes membedakan batas-batas subyek dan obyek menjadi 2
substansi kesadaran, yaitu (a) Res Cogitans; kesadaran subyek tentang kehadiran dan
keberadaannya.Dengan moto: Saya berpikir maka saya ada (cogito ergosum), Aku
merupakan kesadaran, dan (b) Res extensa;keluasan obyek yang dihadapi kesadaran
(substansi resextensa).
4. Keabsahan Pengetahuan; dibedakan berdasarkan 3 teori kebenaran pengetahuan, yaitu: (a)
Kebenaran Koherensi; jika tidak ada kontradiksi antara gagasanyang satu dengan gagasan
yang lain, maka kedua gagasanbersifat koheren atau konsisten karena kedua gagasantersebut
sama. Sebagai contoh, suatu pernyataan dianggapbenar bila pernyataan itu (misalnya pada
proposisitentatif/hipotesis) bersifat koheren atau konsisten denganhasil penelitian/teori/
pernyataan sebelumnya (b)Kebenaran Korespondensi (veritas est adaequatio reiet intellectus)
; jika ada persesuaian atau hubungan antara ide (gagasan pada proposisi tentatif/hipotesis)
dengan deskripsi realitas obyek dari ide atau fakta empiris hasil penelitian/ observasi/
eksperimen. Sebagai contoh, ide atau gagasan baru dianggap benar jika hasil survei memang
benar, misalnya ide bahwa semua peserta didik S3 mempunyai mobil mewah. Untuk
menyatakan bahwa ide ini benar maka harus dilakukan survei dahulu. Jadi suatu pernyataan
adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung dalam pernyataan tersebut,
berkorespondensi (ada persesuaian/hubungan) dengan obyek (deskripsi realitas obyek/hasil
penelitian) yang dituju oleh pernyataan tersebut; dan (c) Kebenaran Pragmatis; jika ada
kebenaran yang bersifat konstruktif dan asas manfaat bagi kesejahteraan masyarakat diukur
dengan kriteria lainselain nilai benar. Sebagai contoh, kriteria fungsional dalam kehidupan
praktis, nilai mantap, mahal, ekonomis untuk konstruksi jembatan, atau nilai aman dan etis
untuk bedah jantung dan lain-lain. Contoh kebenaran pragmatis ilmu adalah jika ilmu itu
bermanfaat, aman dan etis walau tidak koheren atau tidak korenpondensi, misalnya pada Ilmu
Bedah Jantung.

Menurut Toeti N. (2005): “Hakikat kebenaran ilmu pengetahuan, harus dapat


diverifikasi/dipertanggung-jawabkan lewat metodologi sebagai jalan yang harus
dilalui/ditempuhuntuk mengubah pengetahuan menjadi ilmu dan pelaksanaannya harus jelas
dan logis”.

Perbedaaan Pengetahuan (Knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (Science)


Menurut Soekidjo N. (2005), seumum-umumnya ilmu pengetahuan masih harus
didasarkan pada pembuktian ilmiah, baik berdasarkan pengalaman empiris maupun
keputusan rasio yang mendalam. Jadi bukan sekedar mengetahui obyeknya saja tetapi
penalarannya harus mencakup: (1) Penyelidikan/penelitian dengan cara/metode tertentu, dan
(2) Dari hasil penyelidikan tersebut disusun teori yang sistematis, logis dan obyektif. Dengan
kata lain ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri:

5
1. Ada Obyek ; Obyek Ilmu Pengetahuan dibedakan
menjadi obyek material sebagai obyek yang diselidiki, yang dapat sama atau juga umum serta
obyek formal sebagai obyek khusus dari sudut mana ilmu itu dikaji dan yang
mencirikan/membedakan ilmu satu dengan ilmu yang lain). Contohnya pada Sosiologi dan
Psikologi, obyek materia manusia, akan tetapi untuk obyek formalnya berbeda. Obyek formal
untuk Sosiologi adalah kebudayaan manusia, sementara obyek formal Psikologi pada
keadaan psikologis manusia.
2. Ada Metode (Metodologi) ; yang menjamin untuk mencari kebenaran ilmu, berupa 3
sistem langkah atau peraturan yang menyangkut prosedur dalam rangka memperoleh
pengetahuan yang disebut ilmu, yaitu: Jurnal Ilmiah WIDYA 35 Volume 2 Nomor 2 Mei-Juli
2014 Tjen Dravinne Winata, 32 – 40 (a) Proses Induksi; mengandalkan pengetahuan dari
fakta-fakta pengalaman empiris yang dikumpulkan oleh masyarakat ilmiah sebagai hasil
pengamatan indera dan dinilai paling penting oleh Thomas Kuhn. (b) Proses Deduksi ;
mengandalkan pengetahuan berdasarkan nalar/akal budi/rasio, yang dikenal sebagai dunia ide
dan dinilai paling penting oleh Carl Popper. (c) Bahasa Ilmiah yang sangat erat hubungannya
dengan logika dan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.
3. Disusun secara Sistematis mengikuti Logika Tertentu Ada 6 langkah dan 5 komponen
informasi penting dalam pencarian kebenaran pengetahuan, yang harus dilaksanakan secara
sistematis menurut urutan logika berpikir deduktif dan induktif, yaitu:
a) Langkah 1 : Penemuan atau Penentuan masalah (informasi pertama -masalah) ; Persepsi
dan bahasa sebagai pengalaman sehari-hari masyarakat ilmiah. Persepsi adalah apa yang
dilihat sehari-hari, variabel yang mempengaruhi persepsi: (1) atribut obyek persepsi , (2)
situasilingkungan sosial persepsi, dan (3) karakteristik subyek yang mempersepsi . Bahasa
adalah bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat ilmiah, sedangkan pemurnian,
adalah tuntutan agar persepsi dan bahasa (pengalaman sehari-hari) didefinisikan dengan akal
sehat/rasio peneliti, terkendali/terarah sehingga menjadi istilah-istilah/konsep-konsep ilmiah
yang dapat digunakan saat merumuskan masalah penelitian.
b) Langkah 2 : Perumusan Kerangka Masalah atau mendeskripsikan masalah dengan jelas;
Masalah penelitian (problem) adalah masalah-masalah yang dijumpai oleh masyarakat ilmiah
dalam kehidupan sehari-hari, yang harus dirumuskan secara ilmiah dalam konteks yaitu: (1)
Latar Belakang Penelitian ; Masalah dapat terjadi jika ada kesalahan/ kekeliruan atau
perbedaan antara kenyataan yang dijumpai di lapangan dengan apa yang seharusnya (teori-
teori ilmu pengetahuan dari hasil-hasil penelitian terdahulu/dari kepustakaan/internet).
Masalah- masalah yang dijumpai ini disampaikan secara ringkas sebagai pernyataan dalam
latar belakang tentang perlunya dilakukan penelitian. (2) Tujuan Penelitian disampaikan
alam bentuk pernyataan ringkas tentang upaya untuk menjawab permasalahan. (3)
Pertanyaan Penelitian. Perumusan masalah yang dijumpai sebagai pertanyaan yang harus
dijawab melalui pelaksanaan penelitian berdasarkan hukum/kaidah-kaidah metode penelitian
ilmiah. (4) Jawaban sementara atas masalah/pertanyaan penelitian disampaikan dalam
bentuk hipotesa penelitian. (5) Jawaban akhir atas masalah , tujuan dan pertanyaan penelitian
harus disampaikan dalam kesimpulan dan saran atas kesimpulan penelitian. c) Langkah 3:
Pengajuan (perumusan) Hipotesis (informasi kedua-hipotesa). Hipotesis adalah proposisi
6
tentatif sebagai hasil penggabungan konsep-konsep ilmiah dengan bahasa ilmiah, sehingga
menjadi penyataan sementara peneliti yang dapat diverifikasi/dipertanggung- jawabkan dan
berisi gagasan/tebakan/jawaban sementara atas pertanyaan/masalah penelitian. Hipotesis
dirumuskan berdasarkan adanya hubungan (sebab akibat/koherensi/ korespondensi dan
konsisten) antara masalah penelitian
dengan teori-teori dari hasil penelitian terdahulu (yang disampaikan sebagai tinjauan
pustaka/kerangka teori penelitian). (informasi ketiga-teori) . Perumusan hipotesa sangat
dipengaruhi oleh kemampuan pengetahuan tertentu dari peneliti, karena mengandalkan
rasio/cara berpikir/penalaran akal budi peneliti dan bertumpu pada fokus pengamatan peneliti
yang dipengaruhi oleh keluasan pengalaman empiris peneliti (sesuai kenyataan obyektif).
d) Langkah 4: Deduksi dari hipotesis ; proses identifikasi fakta-fakta apa yang dapat dilihat di
lapangan dengan memanfaatkan logika deduksi. Logika adalah upaya pengkajian dengan
berpikir secara sahih. Logika digunakan selama proses penalaran dalam mencari
pengetahuan, agar pengetahuan yang dihasilkan melalui proses berpikir mempunyai dasar
kebenaran sehingga kesimpulan yang dihasilkan dapat dianggap sahih. Logika deduktif
adalah upaya penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menjadi hal-hal yang bersifat
khusus (umum ke umum atau umum ke khusus) dalam rangka menghasilkan ilmu- ilmu
deduktif. Dari berpikir secara logika deduktif akan dihasilkan ilmu pengetahuan yang bersifat
rasional, koheren (tidak ada kontradiksi) dan konsisten dengan ilmu pengetahuan yang
sebelumnya (hasilnya pengetahuan apriori= mengandalkan pengetahuan terdahulu sebelum
proses tahu atau mendahului pengalaman). Pola berpikir yang digunakan adalah Silogismus,
yaitu dari dua premis (pernyataan) ditarik satu kesimpulan, sebagai contoh: 1. Premis mayor:
semua mahluk hidup mempunyai mata 2. Premis minor: ikan adalah mahluk hidup 3.
Kesimpulan: ikan mempunyai mata
e) Langkah 5: Pembuktian Hipotesis (Informasi keempat- Observasi/ eksperimen), melalui
proses observasi/eksperimen/verifikasi/falsifikasi (error elimination); berdasarkan proses
induksi yang dilakukan secara bersamaan dengan proses deduksi, untuk mengeliminasi
kesalahan/kekeliruan agar tebakan/ pernyataan sementara peneliti (hipotesis) tidak salah/tidak
keliru/tidak meleset dan kesimpulan dari fakta-fakta sesuai dengan hukum penelitian yang
berlaku yaitu: (1) Hukum; yang dimaksud adalah dasar yang digunakan selama proses
pembuktian kebenaran proposisi tentatif,kebenaran karena adanya hubungan sebab
akibat/kesesuaian/tidak kontradiksi/konsistensi antara obyek penelitian dan perlakuan yang
diberikan selama observasi/eksperimen. Hukum dapat berupa: (a) Teori paradigm , teori
dominan hasil penelitian terdahulu, yang dimanfaatkan sebagai dasar untuk membuktikan
proposisi tentative; (b) Langkah-langkah Metode ilmiah/ siklus empiris yang harus
dilaksanakan.; dan (c) Hukum alamiah yang berlaku pada obyek penelitian, misalnya hokum
berat jenis pada zat cair. (2) Falsifikasi; adalah upaya untuk mencoba menghilangkan
kesalahan/ kekeliruan, agar hipotesa (penyataan yang masih harus dibuktikan melalui
penelitian/eksperimen/obeservasi) tidak salah/keliru/meleset dan agar hasil penelitian tidak
bertentangan/kontradiksi dengan teori-teori ilmu pengetahuan terdahulu, akan tetapi bukan
berarti anomaly (penyimpangan terhadap teori-teori) tidak dimungkinkan, karena anomaly
anomali ini dapat menjadi pemicu munculnya paradigma baru (teori-teori dominan baru) jika
7
didukung konsensus antara para peneliti (intersubyektif). (3) Proses Deduksi; proses
pembuktian memanfaatkan rasio/akal budi peneliti dan logika deduktif, memanfaatkan
kepustakaan teori-teori ilmu pengetahuan hasil penelitian terdahulu sebagai titik tolak
kerangka teori. (4) Proses induksi; proses pembuktian memanfaatkan indera dan pengalaman
empiris peneliti dan logika induktif melalui penarikkan kesimpulan dari hal-hal yang khusus
menjadi hal-hal yang bersifat umum untuk menghasilkan ilmu-ilmu induktif dengan kriteria,
bahwa suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung oleh
pernyataan tersebut. Sebagai contoh penyataan sementara/proposisi tentatif/ hipotesa harus
berkorespondensi/berhubungan atau ada persesuaian/koheren/ tidak kontradiktif dengan
obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut dengan kata lain deskripsi realitas obyek hasil
penelitian harus sesuai hipotesa penelitian.
f) Langkah 6: Penerimaan Kesimpulan atau Hasil Pembuktian hipotesis menjadi teori ilmiah
atau upaya generalisasi ilmu pengetahuan baru. ( Informasi kelima- kesimpulan); Kesimpulan
harus berisi jawaban atas pertanyaan penelitian, dirumuskan sebagai hasil dari proses
pembuktian hipotesis, melalui upaya observasi/eksperimen/klasifikasi yang didasarkan pada
metode ilmiah/hukum/peraturan-peraturan yang menyangkut prosedur untuk mendapatkan
pengetahuan yang disebut ilmu dan menjadi dasar dalam merumuskan saran.
4. Menyangkut masyarakat profesional dan bersifat universal ; Penelitian ilmiah dilakukan
oleh ilmuwan dalam suatu masyarakat ilmiah tertentu secara profesional. Sifat universal ilmu
pengetahuan didapat melalui upaya generalisasi teori hasil penelitian, dalam bentuk upaya
yang bersifat kontruktif agar teori yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh peneliti lain demi
kesejahteraan manusia.

Nilai Etika dan Nilai Pragmatis Ilmu Pengetahuan


Hal yang yang harus dipertimbangkan agar pengetahuan yang baru dihasilkan dari
penelitian, dapat dikategorikan sahih dan bersifat universal, yaitu:
1. Teori hasil penelitian merupakan hasil pembuktian atas tebakan/hipotesa/proposisi tentatif
yang teruji atau dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya, termasuk kebenaran pragmatis
(nilai aman, manfaat, etis, dan nilai lainnya selain nilai benar) serta harus bersifat obyektif
(tetap ada walau subyek sudah meninggal), sehingga ilmu/teori/ide-ide yang dihasilkan akan
menjadi warisan bagi generasi manusia selanjutnya
2. Proses pelaksanaan penelitian selain harus didasarkan atas hukum penelitian, juga harus
didasarkan pada:(a) Kekuatan argumentasi, (b) Mempercayai cara berpikir rasional, (c)
Bersifat terbuka terhadap kritik dan kebenaran yang lain; (d) Bersifat pragmatis (konstruktif)
dan harus didasari sifat-sifat: (1) Azas manfaat bagi orang banyak; (2) Tidak merubah kodrat
manusia; (3) Tidak merendahkan martabat manusia,(4) Tidak mencampuri permasalahan
tentang kehidupan (misalnya penggunaan alat kontrasepsi masih bertentangan dengan
beberapa hukum agama), dan
(5) Netral dari nilai yang bersifat dogmatis (misal Tuhan menciptakan sesuatu/cara tertentu)
dalam menafsirkan hakekat realitas.
Sesuai dengan norma etika penelitian yaitu nilai moral dalam pelaksanaan penelitian.
Nilai etika mendorong orang-orang atas kesadaran, kemauan, dan keinginan bebasnya
8
sendiri, untuk senantiasa menempatkan diri, bersikap, berperilaku, bertindak secara
baik, benar, dan bertanggung jawab untuk menghindari hal-hal yang dinilai buruk dan salah
oleh kaidah-kaidah moral, pandangan agama, dan pandangan hidup, serta oleh lingkungan
sosial, budaya, dan kenyataan hidup di tengah masyarakat yang dipengaruhi dan terikat oleh
perubahan-perubahan ruang dan waktu. Etika penelitian berperan sebagai rambu- rambu
moral, untuk menjaga agar proses dan hasil penelitian maupun interaksi yang terjadi selama
proses penelitian di antara peneliti dengan pemegang peran yang lain (promotor penelitian,
dosen pembimbing, lembaga pendidikan, penyandang dana misalnya pabrik obat dan obyek
penelitian sebagai mahluk hidup, khususnya manusia), berlangsung sesuai dengan kaidah-
kaidah moral. Nilai moral yang dikaji adalah terkait dengan nilai-nilai buruk (evil/bad
/kejahatan) dan nilai-nilai kebaikan( good /keutamaan) tentang tingkah laku manusia maupun
nilai etis dalam proses memperoleh maupun saat pemanfaatan ilmu serta pertanyaan-
pertanyaan yang timbul karenanya. Contoh proses penelitian yang tidak sesuai etika adalah
“plagiatisme”

2.3 Metode Penelitian


Metode ilmiah sebagai langkah-langkah, hukum atau aturan dalam mencari kebenaran ilmu
pengetahuan adalah:
(1) Perumusan masalah penelitian yang harus tergambar dalam latar belakang, tujuan dan
pertanyaan penelitian;
(2) Pengajuan hipotesis sebagai pernyataan atau jawaban sementara atas pertanyaan yang
mewakili tujuan penelitian;
(3) Proses deduksi hipotesis melalui kajian literatur agar hasil penelitian konsisten dan
koheren dengan ilmu pengetahuan sebelumnya;
(4) Pembuktian hipotesis melalui proses induksi (observasi/eksperimen/ verifikasi/falsifikasi
atau error elimination agar tebakan keliru/tidak meleset) yang dilakukan secara bersamaan
dengan proses deduksi tanpa mengabaikan nilai etika penelitian; sampai
(5) Penerimaan hasil penelitian menjadi ilmu atau teori ilmiah baru yang bersifat kontruktif
bagi kesejahteraan manusia karena bernilai pragmatis nilai manfaat, etis, aman, efisien,
efektif, dan nilai lainnya.

2.4 Penutup
Kesimpulan :
1. Metode ilmiah yang dilaksanakan secara bertanggung-jawab sesuai hukum dan peraturan-
peraturan penelitian, akan menjamin kesahihan hasil penelitian.
2. Hal mendasar dalam melakukan penelitian ilmiah adalah sistematis, benar, jelas dan logis
dengan metode ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan serta sesuai hukum atau aturan
penelitian.
3. Metode ilmiah sebagai langkah-langkah, hukum atau aturan dalam mencari kebenaran ilmu
pengetahuan adalah:
(a) Perumusan masalah, (b) Pengajuan hipotesis, (c) Proses deduksi hipotesis melalui kajian
literatur, (d) Pembuktian hipotesis melalui proses induksi, (e) Penerimaan hasil penelitian
menjadi ilmu atau teori ilmiah baru yang bersifat kontruktif.
9
Saran-saran :
1. Perlu implementasi metode ilmiah yang benar dan bertanggung-jawab selama proses
penelitian untuk peningkatan kualitas pendidikan setingkat akademik /universitas di
Indonesia.
2. Perlu sosialisasi metode ilmiah sebagai bagian sistematika penelitian ilmiah melalui proses
pendidikan maupun media informasi lain untuk mendukung peserta didik dalam melakukan
penelitian ilmiah sebagai pemenuhan persyaratan kelulusan setingkat akademik ke atas

10
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hubungan antara judul dengan metode


Antara judul jurnal dengan metode penelitian saling berhubungan. Pembahasan dari
metode penelitian sesuai dengan judul padajurnal tersebut.
Judul Jurnal
“MANFAAT KAJIAN FILSAFAT, NILAI ETIKA DAN PRAGMATIS ILMU
PENGETAHUAN UNTUK MELAKUKAN PENELITIAN ILMIAH” dengan,

Metode Penelitian
Metode ilmiah sebagai langkah-langkah, hukum atau aturan dalam mencari kebenaran ilmu
pengetahuan adalah:
(1) Perumusan masalah penelitian yang harus tergambar dalam latar belakang, tujuan dan
pertanyaan penelitian;
(2) Pengajuan hipotesis sebagai pernyataan atau jawaban sementara atas pertanyaan yang
mewakili tujuan penelitian;
(3) Proses deduksi hipotesis melalui kajian literatur agar hasil penelitian konsisten dan
koheren dengan ilmu pengetahuan sebelumnya;
(4) Pembuktian hipotesis melalui proses induksi (observasi/eksperimen/ verifikasi/falsifikasi
atau error elimination agar tebakan keliru/tidak meleset) yang dilakukan secara bersamaan
dengan proses deduksi tanpa mengabaikan nilai etika penelitian; sampai
(5) Penerimaan hasil penelitian menjadi ilmu atau teori ilmiah baru yang bersifat kontruktif
bagi kesejahteraan manusia karena bernilai pragmatis nilai manfaat, etis, aman, efisien,
efektif, dan nilai lainnya.

3.2 Kelebihan dan kekurangan jurnal


Kelebihan Jurnal : Judul jurnal sudah jelas sesuai dengan topic yang dibahas, isi
abstrak yang terdapat didalam jurnal tersebut sudah spesifik dan jelas,.Bahasa yang
digunakan kebanyakan dari ide si penulis sendiri. Dari segi struktural penyusunan jurnal
sudah sangat lengkap dan tersutruktur, yang terdapat tujuan/rumusan masalah penelitian,
metode penelitian dan kesimpulan. e-ide yang dituangkan oleh penulis penting dalam
menambah pengetahuan pembaca tentang kepemimpinan. Terdapat tabel yang membantu
mempermudah untuk dimengerti, Terdapat juga banyak pendapat ahli. Tidak ada kesalahan/
error atas fakta dan interprestasi, karena hasil Penelitian yang terdapat didalam jurnal tersebut
berdasarkan fakta dan interprestasi yang sangat lengkap dan cukup mudah dimengerti
sehingga mudah dimengerti juga dari segi tujuan penelitian dan manfaatnya dan juga dari
hasil penelitian yang berdasarkan bukti-bukti dan hasil hipotesis dari penulis sudah sangat
jelas dipaparkajuga disertai dengan pembahasan yang aktual berdasarkan bukti dan hipotesis

11
yang diajukan penulis berdasrkan hasil survei yang telah dilakukan pada hal yang
bersangkutan.

Kekurangan Jurnal : Menurut saya, jurnal tersebut tidak mencantumkan tujuan jurnal
di abstrak dan tidak memberikan kajian mengenai tujuan dialakukannya penelitian dengan
jelas dan rinci serta tidak mencantumkan manfaat dilakukkannya penelitian sehingga
pembaca tidak dapat mengetahui apa manfaat dari jurnal tersebut . Meskipun jurnal ini
mempunyai sedikit kekurangan, tetapi jurnal ini sudah bagus dan lengkap.

3.4 Ketajaman Jurnal


Ketajaman Jurnal : Menurut saya, keakuratan jurnal tersebut sudah termasuk akurat karena
disitu ada dipaparkan beberapa pendapat ahli sehingga dapat dinyakini data penelitian
tersebut akurat . Pada jurnal ini metode penelitian yang digunakan tidak terlalu rumit. Dimana
pada jurnal ini dijelaskan dengan luas dan rinci mengenai metode dalam penulisan.
Kemudian peneliti juga melakukan pencarian data-data yang relevan dan terkait dengan
kajian judul jurnal . Abstrak yang disajikan penulis pada jurnal ini menggunakan dua bahasa
yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan kata kunci metode ilmiah, ilmu,
pengetahuan, penelitian. Sesuai dengan sifat-sifat abstrak yang dikemukakan oleh (Santoso,
2009) yaitu : 1) Ringkas, 2) Jelas 3) Tepat, 4) Berdiri sendiri, 5) Objektif, Maka secara
keseluruhan isi dari abstrak ini mampu menggambarkan secara jelas mengenai metode
analisis, hasil kajian dan menempatkan kata kuci yang pas untuk bahasan jurnal ini yang
menurut saya sebagai pembaca menjadi mudah memahami jurnal ini, karena dengan melihat
isi abstak nya saja kita sudah dapat mengetehaui kajian dari jurnal penelitian tersebut tetapi
tidak terdapat tujuan dalam abstrak tersebut.

12
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Menurut saya, jurnal ini sudah bagus karena memliki beberapa alasan yaitu : hubungan
judul dengan metode penelitian juga saling berhubungan dan dari segi struktural
penyusunan jurnal sudah sangat lengkap dan tersutruktur, yang terdapat tujuan/rumusan
masalah penelitian, metode penelitian dan kesimpulan. e-ide yang dituangkan oleh penulis
penting dalam menambah pengetahuan pembaca tentang filsafat. Tidak ada kesalahan/
error atas fakta dan interprestasi, karena hasil Penelitian yang terdapat didalam jurnal
tersebut berdasarkan fakta dan interprestasi yang sangat lengkap dan cukup mudah
dimengerti dan banyak dikutip pendapat para ahli.

4.2 Saran
Berdasarkan hasil Critical Journal Review yang sudah di review, saya menyarankan agar
filsafat pendidikan dipelajari dan dipahami semua lapisan baik guru, orang tua maupun
masyarakat sehingga dalam berbagai hal kehidupan. Selain itu, juga disarankan agar
menulis jurnal, bila membuat manfaat dari jurnal tersebut sehingga pembaca dapat
tertarik membaca jurnal tersebut.

13
DAFTAR PUSTAKA

Budi Sampurna. Kebijakan, Etika dan Hukum Perumah-sakitan. Makalah Diskusi Jenjang
Pendidikan S2 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakart. 2008.

Does Sampoerno. Penyelesaian Kasus Kelalaian Medis di RS . Makalah Diskusi Filsafat,


Jenjang Pendidikan S3, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Universitas
Indonesia. Jakarta. 2005.

Does Sampoerno . Visi Misi dan Pendekatan Kesehatan Masyarakat. Makalah Diskusi
Filsafat, Jenjang Pendidikan S3, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, Universitas
Indonesia. Jakarta. 2005.

Does Sampoerno . Etika Kesehatan Masyarakat. Makalah Diskusi Filsafat, Jenjang


Pendidikan S3, Fak. Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakarta.
2005.

Does Sampoerno. Etika Kedokteran. Makalah Diskusi Filsafat, Jenjang Pendidikan S3,
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakarta. 2005.

Does Sampoerno . Etika Kedokteran Gigi. Makalah Diskusi Filsafat, Jenjang Pendidikan S3,
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakarta. 2005.

http://www.indonesianembassy.org.uk/education/education_system 1.html, Education


System in Indonesia , diunduh tanggal 21Maret 2014.

Samsi Jacobalis. Etika Rumah Sakit. Makalah Diskusi, Jenjang Pendidikan S2 Fak.
Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Jakarta. 2008.

Samsi Jacobalis. Komite Medis Organisasi Manajemen RS. ScienceBuddies, Step of Science
Methode, diunduh 2014.

http://www.prestas0-iief.org/index.php/english/feature/68. Reflectionon Education in


Indonesia, USAID diunduh dari (2014)

Soekidjo Notoatmodjo. Etika dan Hati Nurani.Tanpa Penerbit. TanpaKota. Tanpa Tahun.

Soekidjo Notoatmodjo. Etika sebagai Cabang Filsafat.Tanpa Penerbit.Tanpa Kota. Tanpa


Tahun.

14
Soekidjo Notoatmodjo. Etika: Kebebasan dan Tanggung Jawab, Hakdan Kewajiban.Tanpa
Penerbit. Tanpa Kota. Tanpa Tahun.

Soekidjo Notoatmodjo. Makalah Diskusi Filsafat, Jenjang PendidikanS3, Fakultas


Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, UniversitasIndonesia. Jakarta. 2005.

Soekidjo Notoatmodjo. Metode Ilmu Pengetahuan.Tanpa Penerbit.Tanpa Kota. Tanpa Tahun.

Soekidjo Notoatmodjo. Pengantar Filsafat.Tanpa Penerbit. TanpaKota. Tanpa Tahun.

Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-prinsip Logika sebagai SaranaBerpikir Ilmiah. Tanpa


Penerbit.Tanpa Kota. Tanpa Tahun.

Soekidjo Notoatmodjo. Proses Berpikir Ilmiah (Induksi-Deduksi) .Tanpa Penerbit. Tanpa


Kota. Tanpa Tahun.

Tuti Nurhadi . Aksiologi Ilmu Pengetahuan.Tanpa Penerbit. TanpaKota. Tanpa Tahun.

Tuti Nurhadi. Epistemiologi Ilmu Pengetahuan.Tanpa Penerbit. TanpaKota. Tanpa Tahun.

Tuti Nurhadi. Hakekat Ilmu dan Kebenaran Ilmiah.Tanpa Penerbit.Tanpa Kota. Tanpa
Tahun.

Tuti Nurhadi. Ilmu Pengetahuan dan Etika.Tanpa Penerbit. TanpaKota. Tanpa Tahun.

Tuti Nurhadi. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tanpa Penerbit. Tanpa Kota. Tanpa Tahun.

Tuti Nurhadi. Makalah DiskusiFilsafat Jenjang Pendidikan S3,Fakultas Kedokteran dan


Kesehatan Masyarakat, UniversitasIndonesia. Jakarta. 2005.

Tuti Nurhadi. Ontologi Ilmu Pengetahuan.Tanpa Penerbit. TanpaKota. Tanpa Tahun.

Wikipedia. Pendidikan di Indonesia, diunduh dari


http://en.wikipedia.org/wiki/Education_in_Indonesia (2014).

Wikipedia. Psikologi Gestalt dan Persepsi Sosial, diunduh dariwww. File: Multistability,

Wikipedia. the Free Encyclopedia -en.wikipedia.org/wiki/ gestalt_psychology dan


www.social
perception, Wikipedia, the Free Encyclopedia - en.wikipedia.org/wiki/social_perception
(2014) .

15
LAMPIRAN COVER JURNAL

16