Anda di halaman 1dari 6

162

Buku Ajar Infeksi & Penyakit Tropis : Ankilostomiasis

35
Ankilostomiasis 
(Infeksi Cacing Tambang)

Penyakit cacing tambang pada manusia (ancylostomiasis) disebabkan oleh


Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Di Indonesia infeksi oleh N.
americanus lebih sering dijumpai dibandingkan infeksi oleh A.duodenale.
Cacing dewasa kecil, silinder. Cacing jantan berukuran 5-11 mm x 0.3-0.45
mm dan cacing betina 9-13 mm x 0.35-0.6 mm, sedangkan A.duodenale sedikit
lebih besar dari N. americanus. N. americanus dapat menghasilkan 10.000-
20.000 telur setiap harinya, sedangkan A.duodenale 10.000-25.000 telur per
hari. Ukuran telur N. americanus adalah 64-76 mm x 36-40 mm dan
A.duodenale 56-60 mm x 36-40 mm. Telur cacing tambang terdiri dari satu
lapis dinding yang tipis dan adanya ruangan yang jelas antara dinding dan
sel didalamnya. Telur cacing tambang dikeluarkan bersama tinja dan
berkembang di tanah. (Gambar 1)

Gambar 1. Telur Cacing tambang


Sumber : Purnomo dkk. Atlas Helmintologi Kedokteran. Gramedia, Jakarta. 1987: 17.
163 Buku Ajar Infeksi & Penyakit Tropis : Ankilostomiasis

Dalam kondisi kelembaban dan temperatur yang optimal (23-330C),


telur akan menetas dalam 1-2 hari dan melepaskan larva rhabditiform yang
berukuran 250-300 m. Setelah 2 kali mengalami perubahan, akan terbentuk
larva filariform. Perkembangan dari telur ke larva filariform adalah 5-10 hari.
Kemudian larva menembus kulit manusia dan masuk ke sirkulasi darah
melalui pembuluh darah vena dan sampai di alveoli. Setelah itu larva
bermigrasi ke saluran nafas atas yaitu dari bronkhiolus ke bronkhus, trakhea,
faring, kemudian tertelan, turun ke esofagus dan menjadi dewasa di usus
halus (Gambar 1).

Gambar 2. Siklus hidup Cacing tambang


Sumber: Stricland GT. Hunter’s Tropical Medicine and Emerging Infectious Diseases.
WB. Saunders Company. 2000: 732.

Manusia mendapat infeksi dengan cara tertelan larva filariform


ataupun dengan cara larva filariform menembus kulit. Pada Necator
americanus, infeksi melalui kulit lebih disukai, sedangkan pada Ancylostoma
duodenale infeksi lebih sering terjadi dengan tertelan larva. A.duodenale dan
N.americanus yang cara infeksinya dengan menelan larva, maka cacing ini
tidak mempunyai siklus di paru.
Buku Ajar Infeksi & Penyakit i Tropis : Ankilostomiasis 164

Epidemiologi

Cacing tambang adalah penyakit yang penting pada manusia. N.americanus


maupun A.duodenale ditemukan di daerah tropis dan subtropis seperti Asia
dan Afrika. Infeksi pada manusia umumnya dapat terjadi oleh pengaruh
beberapa factor, yaitu:
1. Adanya sumber infeksi yang adekuat di dalam populasi
2. Kebiasaan buang air besar yang jelek, yang mana tinja yang
mengandung telur cacing tambang ikut mencemari tanah
3. Kondisi setempat yang menguntungkan untuk dapat terjadinya
perkembangan telur menjadi larva
4. Kesempatan larva berkontak dengan manusia.
Manusia merupakan tuan rumah utama infeksi cacing tambang.
Endemisitas infeksi tergantung pada kondisi lingkungan untuk menetaskan
telur dan maturasi larva. Kondisi yang optimal ditemukan di daerah
pertanian di negara tropis. Morbiditas dan mortalitas infeksi cacing tambang
terutama terjadi pada anak-anak. Dari suatu penelitian diperoleh bahwa
separuh dari anak-anak yang telah terinfeksi sebelum usia 5 tahun, 90%
terinfeksi pada usia 9 tahun. Intensitas infeksi meningkat sampai usia 6-7
tahun dan kemudian stabil.

Manifestasi Klinis

Migrasi larva

1. Sewaktu menembus kulit, bakteri piogenik dapat terikut masuk pada


saat larva menembus kulit, menimbulkan rasa gatal pada kulit (ground
itch). Creeping eruption (cutaneous larva migrans), umumnya disebabkan
larva cacing tambang yang berasal dari hewan seperti kucing ataupun
anjing, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan oleh larva Necator
americanus ataupun Ancylostoma duodenale.
2. Sewaktu larva melewati paru, dapat terjadi pneumonitis, tetapi tidak
sesering oleh larva Ascaris lumbricoides.

Cacing dewasa

Cacing dewasa umumnya hidup di sepertiga bagian atas usus halus dan
melekat pada mukosa usus. Gejala klinis yang sering terjadi tergantung pada
165 Buku Ajar Infeksi & Penyakit Tropis : Ankilostomiasis

berat ringannya infeksi; makin berat infeksi manifestasi klinis yang terjadi
semakin mencolok seperti :
1. Gangguan gastro-intestinal yaitu anoreksia, mual, muntah, diare,
penurunan berat badan, nyeri pada daerah sekitar duodenum, jejunum
dan ileum.
2. Pada pemeriksaan laboratorium, umumnya dijumpai anemia
hipokromik mikrositik
3. Pada anak, dijumpai adanya korelasi positif antara infeksi sedang dan
berat dengan tingkat kecerdasan anak.
Bila penyakit berlangsung kronis, akan timbul gejala anemia,
hipoalbuminemia dan edema. Hemoglobin kurang dari 5 g/dL dihubungkan
dengan gagal jantung dan kematian yang tiba-tiba. Patogenesis anemia pada
infeksi cacaing tambang tergantung pada 3 faktor yaitu:
1. Kandungan besi dalam makanan
2. Status cadangan besi dalam tubuh pasien
3. Intensitas dan lamanya infeksi
Ketiga faktor ini bervariasi di negara tropis. Di Nigeria, dimana
masukan besi tinggi (21-30 mg per hari), perdarahan yang disebabkan oleh
infeksi cacing tambang tidak menunjukkan berkurangnya besi meskipun di
dalam tubuhnya terdapat sampai 800 cacing tambang dewasa. Pada infeksi
cacing tambang, kehilangan darah yang terjadi adalah 0.03-0.05 ml
darah/cacing/hari pada Necator americanus dan 0.16-0.34 ml
darah/cacing/hari pada Ancylostoma duodenale.

Diagnosis

Pada pemeriksaan tinja ditemukan telur cacing tambang ataupun cacing


dewasa.Pada kultur tinja, dijumpai larva cacing tambang.

Pengobatan

1. Creeping eruption: Krioterapi dengan liquid nitrogen atau kloretilen


spray, tiabendazol topikal selama 1 minggu. Coulaud dkk (1982)
mengobati 18 kasus cutaneous laeva migrans dengan albendazol 400 mg
selama 5 hari berturut-turut, mendapatkan hasil yang sangat
memuaskan.
Buku Ajar Infeksi & Penyakit i Tropis : Ankilostomiasis 166

2. Pengobatan terhadap cacing dewasa: di bangsal anak RS. Pirngadi


Medan, pengobatan yang digunakan adalah gabungan pirantel-pamoat
dengan mebendazol, dengan cara pirantel pamoat dosis tunggal 10
mg/kgBB diberikan pada pagi harinya diikuti dengan pemberian
mebendazol l00 mg dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut. Hasil
pengobatan ini sangat memuaskan, terutama bila dijumpai adanya
infeksi campuran dengan cacing lain.

Obat-obat lain yang dapat digunakan :


1. Pirantel-pamoat, dosis tunggal 10 mg/kgBB
2. Mebendazol 100 mg dua kali sehari selama 3 hari berturut-turut
3. Albendazol, pada anak usia di atas 2 tahun dapat diberikan 400 mg (2
tablet) atau setara dengan 20 ml suspensi, sedangkan pada anak yang
lebih kecil diberikan dengan dosis separuhnya, dilaporkan hasil cukup
memuaskan.

Terapi Penunjang

Pemberian makanan yang bergizi dan preparat besi dapat mencegah


terjadinya anemia. Pada keadaan anemia yang berat (Hb<5 g/dL), preparat
besi diberikan sebelum dimulai pengobatan dengan obat cacng. Besi
elementer diberikan secara oral dengan dosis 2 mg/kgBB tiga kali sehari
sampai tanda-tanda anemia hilang.

Pencegahan

1. Pemberantasan sumber infeksi pada populasi


2. Perbaikan sanitasi dan kebersihan pribadi/lingkungan
3. Mencegah terjadinya kontak dengan larva.

Kepustakaan

1. Lubis CP. Bahan Kuliah Infeksi/Penyakit Tropis Anak. Fakultas Kedokteran


USU. In press 1988.
167 Buku Ajar Infeksi & Penyakit Tropis : Ankilostomiasis

2. King CH. Hookworms. In: Berhman RE, Kliegman RM, Arvin AM, editors.
Nelson’s Tetxbook of Pediatrics. 15th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company;
1996. p.1000-1.
3. Garcia LS, Bruckner DA. Diagnostic Medical Parasitology. Elsevier Science
Publishing Co, Inc; 1988. p.151-4.
4. Gilles HM. Hookworms Disease. In: Strickland GT, editor. Hunter’s Tropical
Medicine. 6th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 1984. p.629-36.
5. Gilman RH. Hookworm Infections. In: Strickland GT, editor. Hunter’s Tropical
Medicine. 8th ed. Philadelphia: W.B.Saunders Company; 1984. p.730-36.
6. Purnomo, Gunawan W, Magdalena LJ, Aydar, Harijadi AM. Atlas Helmintologi
Kedokteran. Jakarta: Gramedia; 1987. p.17.