Anda di halaman 1dari 23

EKUITAS

Makalah ini disusun untuk memenui tugas mata kulliah Teori Akuntansi
Dosen : Yane Devi Anna, SE., M.Si., Ak. CA

Disusun Oleh :
Ayu Aulia C10160150
Intan Komariah C10160169
Denna Siti Djuariah C10160183
Dini Puspita Sari C10160184
Nurlita Agustin C10160193
Rizka Rahmatika C10160194
Fitri Diani C10160281

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI EKUITAS


Jl. P.H.H. Mustofa No. 31 Bandung 40124
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT berkat rahmat-Nya kami di berikan kesehatan
untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Dan berkat ridho-Nya pula kami
diberi kekuatan untuk membuat makalah yang berjudul Ekuitas dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Teori Akuntansi.
Ucapan Terima Kasih tak lupa kami sampaikan kepada para pihak yang
sejak awal telah banyak memberikan referensi, dukungan dan bantuan hingga
terselesaikannya pembuatan makalah ini, diantaranya:
1. Ibu Yane Devi Anna, selaku dosen mata kuliah Teori Akutansi.
2. Orang tua kami yang telah memberi motivasi dan doa.
3. Serta teman-teman kami yang telah banyak membantu dalam segala hal.
Karena kami masih dalam tahap pembelajaran, tentunya kami secara sadar
mengakui masih banyak kekurangan, untuk itu kami mohon kritik dan sarannya
untuk membangun kesempurnaan makalah ini. Dan dalam hal ini kami memohon
maaf apabila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandung, Mei 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 3
2.1 Pengertian Ekuitas............................................................................. 3
2.2 Komponen Ekuitas ............................................................................ 3
2.3 Tujuan Penyajian Ekuitas.................................................................. 5
2.4 Teori Ekuitas ..................................................................................... 5
2.5 Posisi FASB .................................................................................... 12
2.6 Laporan Nilai Tambah Sebagai Pelengkap Laporan Keuangan .... 13
BAB III PENUTUP .................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 19
3.2 Saran ................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 20

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Istilah modal sering digunakan pula sebagai padan kata equity walaupun
modal lebih dekat maknanya dengan istilah capital. Karena ekuitas
mengandung unsur pemilikan (ownership), untuk organisasi nonprofit ekuitas
disebut sebagai aset bersih (net assets) untuk menghindari kesan adanya
pemilikan.

Ekuitas merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yaitu selisih


antara aktiva dan kewajiban yang ada, dan dengan demikian tidak merupakan
ukuran nilai jual perusahaan tersebut. Ekuitas sebagai bagian hak pemilik dalam
perusahaan harus dilaporkan sedemikian rupa sehingga memberikan informasi
mengenai sumbernya secara jelas dan disajikan sesuai dengan peraturan
perundangan dan akta pendirian yang berlaku.Untuk perusahaan perseorangan,
ekuitas sering disebut modal, untuk organisasi nonprofit ekuitas disebut dengan
aset bersih (net assets) untuk menghindari kesan adanya pemilikan.

Karena kensep kesatuan usaha yang memisahkan antara manajemen dan


pemilikan, informasi tentang akuitas pemegang saham menjadi sangat penting
karena hal tersebut menunjukan hubungan antara perusahaan (perseroan)
dengan pemegang saham. dari sudut pemegang saham, ekuitas pemegang
saham merupakan hak atas kekayaan atau nilai yang tertanam dalam perseroan.
Kalau dipandang dari sudut kesatuan usaha, ekuitas pemegang saham
merupakan "utang" perseroan kepada para pemegang saham. Oleh karena itu,
ekuitas pemegang saham dapat juga dipandang sebagai gambaran hubungan
yuridis antara perseroan dan pemegang saham. Dengan kedudukannya yang
demikian persoalannya adalah bagaimana melaporkan atau menyajikan
informasi elemen ini agar hubungan dan tanggung jawab yuridis dapat
dipertahankan

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian ekuitas ?
2. Apa tujuan penyajian ekuitas?
3. Apa saja komponen ekuitas?
4. Bagaimanakah teori ekuitas?
5. Bagaimana posisi Financial Accounting Standard Board (FASB) mengenai
teori ekuitas?
6. Bagaimana laporan nilai tambah (Value Added) sebagai pelengkap laporan
keuangan?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian eskuitas
2. Untuk mengetahui tujuan penyajian ekuitas
3. Untuk mengetahui komponen ekuitas
4. Untuk mengetahui tentang teori ekuitas
5. Untuk mengetahui bagaimana posisi Financial Accounting Standard
Board (FASB) mengenai teori ekuitas.
6. Untuk mengetahui bagaimana laporan nilai tambah (Value Added) sebagai
pelengkap laporan keuangan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekuitas


Pengertian ekuitas tidak dapat didefinisi secara independen terhadap asset
dan kewajiban. Ekuitas pemilik pada dasarnya bukan kewajiban, tetapi merupakan
klaim sisa (residual claim) terhadap aktiva. Dalam kerangka dasar Standar
Akuntansi Indonesia (2002), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mendefinisi ekuitas
sebagai berikut (pasal 49): ekuitas adalah hak residual atas aktiva perusahaan
setelah dikurangi semua kewajiban. Pada dasarnya ekuitas berasal dari investasi
pemilik dan hasil usaha perusahaan. Ekuitas akan berkurang dengan adanya
penarikan kembali penyertaan oleh pemilik, pembagian keuntungan (deviden) atau
kerugian usaha.

Ekuitas didefinisikan sebagai hak residual untuk menunjukkan bahwa


ekuitas bukan kewajiban. Ini berarti ekuitas bukan pengorbanan sumber ekonomi
masa datang (Soewardjono, 2005). Karena didefinisi atas dasar asset dan
kewajiban, nilai ekuitas juga bergantung pada bagaimana asset dan kewajiban
diukur.

FASB Statement of Financial Accounting Concepts No. 6 mendefinisikan


ekuitas sebagai "hak sisa terhadap aktiva suatu entitas setelah dikurangi
hutang". Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa dua karakteristik ekuitas
adalah sebagai berikut:

a. Ekuitas sama dengan aktiva neto, yaitu selisih antara aktiva perusahaan dengan
hutang perusahaan.
b. Ekuitas dapat bertambah atau berkurang karena kenaikan atau penurunan aktiva
neto baik yang berasal dari sumber bukan pemilik (pendapatan dan biaya)
maupun investasi oleh pemilik atau distribusi kepada pemilik.

2.2 Komponen Ekuitas


Komponen ekuitas terdiri dari:

3
1. Modal Setoran (Contributed Capital)

Modal Setoran mencakup Modal Yuridis dan Modal Setoran Lainnya. Modal
yuridis yang dihitung berdasarkan nilai nominal (par value) saham menunjukkan
aktiva neto yang tidak dapat didistribusikan ke pemegang saham. Kelebihan nilai
di atas nilai nominal diakui sebagai agio saham (additional paid-in capital).

a. Modal Yuridis (Legal Capital), terdiri dari:


1. Nilai nominal dari saham preferen (Par Value of Preferred stock)
2. Nilai nominal saham biasa (Par Value of common stock)
3. Umum (atau saham preferen berlangganan) (Common (or preferred
stock subscribed)
4. Surat saham dan opsi (Stock Warrant and options)
5. Dividen saham yang akan dibagikan (Stock dividends to be distributed)
6. Saham biasa dari penerbitan kembali (common stock from the
reissuance of)
b. Modal Setoran Lainnya (Paid-in Capital), terdiri dari:
1. Pada saham preferen (on preferred stock)
2. Pada saham biasa (on common stock)
3. Dari sumber lain (pemecahan saham, saham preferen, konversi, dll)
saham. (from other sources (stock splits, preferred stock, conversion,
etc) stock.
2. Laba Ditahan (Retained Earnings)/(Earned Capital)

Laba ditahan terdiri dari Laporan Laba/Rugi, penyesuaian periode


sebelumnya, dan deviden. Oleh karena Laporan Laba/Rugi merupakan bagian
dari laba ditahan, maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan saling terkait atau
artikulasi (articulation) antara Laporan Laba/Rugi dan Neraca.

3. Penyesuaian Modal Belum Terealisasi (Unrealized Capital Adjustment).


a. Kerugian portofolio yang belum direalisasi untuk efek non-
pasar (Unrealized portfolio losses for non-market securities)
b. Selisih kurs yang belum direalisasi dan rugi (Unrealized foreign exchange
gains and losses.

4
c. Modal sumbangan (Donated capital).

2.3 Tujuan Penyajian Ekuitas


Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi
oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen keuangan. Pada
umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah
menyediakan informasi kepada yang berkepentingan tentang efisiensi dan
kepengurusan (stewardship)manajemen. Informasi tentang kewajiban yuridis
perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak lainnya juga merupakan tujuan
penyajian ekuitas pemegang saham ini.
Untuk memenuhi tujuan tersebut, informasi yang harus disampaikan
tentang ekuitas pemegang saham tersebut minimal adalah:
a. Sumber ekuitas pemegang saham beserta riwayatnya;
b. Peraturan yuridis yang membatasi pembagian dividen dan pengembangan
modal setoran kepada pemegang saham;
c. Prioritas beberapa golongan pemegang saham atau pemegang ekuitas
lainnya (urutan proteksi).

2.4 Teori Ekuitas


Teori ekuitas adalah teori yang menjelaskan sudut pandang yang digunakan
dalam akuntansi berkaitan dengan penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
Dengan kata lain, penyusunan dan penyajian laporan keuangan sangat tergantung
pada sudut pandang yang digunakan yaitu siapa yang dianggap paling
berkepentingan terhadap laporan keuangan. Oleh karena itu, teori ini membahas
pihak yang dianggap paling dominan dan menjadi sudut pandang dalam pelaporan
keuangan. Pemakaian sudut pandang yang berbeda dapat menghasilkan format
pelaporan yang berbeda pula.
1. Teori Propietary
Pada awalnya teori ini muncul sebagai perwujudan dari sistem pembukuan
berpasangan. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada pemilik. Jadi dalam
akuntansi, tujuan perusahaan, jenis modal, makna rekening dan lain-lain

5
semuanya dilihat dari sudut pandang pemilik. Dengan demikian tujuan
perusahaan adalah meningkatkan kemakmuran pemilik. Persamaan akuntansi yang
digunakan adalah:

Aktiva – Hutang = Modal

Aktiva merupakan kekayaan pemilik, sementara hutang merupakan


kewajiban pemilik. Kepemilikan ini dianggap sebagai nilai bersih dari perusahaan
untuk pemilik. Ketika usaha baru dimulai, nilai ini sama dengan investasi pemilik.
Selama berjalanmya usaha maka nilai perusahaan sama denganinvestasi awal
ditambahakumulasi laba bersih setelah dikurangi prive untuk pemilik. Jadi teori
proprietary menganut wealth concept.

Teori proprietary sangat cocok diterapkan untuk organisasi perusahaan


perseorangan dan firma oleh karna dalam bentuk organisasi ini ada hubungan
personal antara manajemen perusahaan dengan pemilik perusahaan. Hal ini
disebabkan laba bersih atau net inocme ditambah setiap periode ke rekening modal
pemilik walaupun perhitungan laba bersih tidak mengukur kenaikan bersih
kekayaan (wealth).

Teori proprietary tidak dapat langsung digunakan untuk bentuk perusahaan


perseroan terbatas seperti halnya untuk perusahaan perseorangan dan firma. Namun
demikian, dalam praktek banyak yang memandang bahwa total modal saham yang
diinvestasikan dan laba ditahan dianggap sebagai kekayaan bersih pemilik dan hal
ini mengimplikasikan teori proprietary. Konsep laba komprehensif yang diadopsi
oleh FASB juga menggunakan dasar teori proprietary yaitu memasukkan semua
item yang mempengaruhi pemilik selama periode itu kecuali pengambilan dividen
dan transaksi modal.

Teori proprietary banyak mempengaruhi praktek-praktek akuntansi maupun


terminologi akuntansi perusahaan perseroan terbatas. Sebagai misal, laba
bersih suatu perusahaan sering dianggap sebagai laba bersih bagi pemilik.
Labih jauh lagi laporan keuangan harus menunjuk pada earning per
share dan book value per share. Pengertian "laba bersih bagi pemilik"

6
dapat diinterpretasikan sebagai sisa laba bersih yang dialokasikan kepada
modal pemilik dan "book value per share" dapat diinterpretasikan sebagai book
equity per share menurut pendekatan entitas.

Oleh karena sudut pandang yang digunakan adalah pemilik,


maka pengukuran dengan menggunakancurrent value dipandang lebih
relevan dibandingkan historical cost.
Makna Laba (Income)
Berdasarkan sudut pemilik, pendapatan diartikan kenaikan modal pemilik,
sementara biaya diartikan Sebagai penurunan modal pemilik. Dengan demikian
laba merupakan kenaikan kekayaan atau kemakmuran pemilik selama satu periode
yang menjadi hak bagi pemilik.

2. Teori Entitas ( Kesatuan Usaha)

Teori entitas muncul untuk mengatasi kelemahan yang melekat pada teori
proprietary. Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan kegiatan usaha
menyebabkan perusahaan menjadi unit usaha yang berdiri sendiri terpisah dari
identitas pemilik. Hal ini berarti terdapat pemisah antara kepentingan pribadi
pemilik dengan kepentingan perusahaan. Perusahaan dianggap Bertindak atas nama
dan kepentingannya sendiri terpisah dari pemilik. Teori entitas didasarkan atas
persamaan akuntansi:

Aktiva = Hutang = Modal

Atau

Aktiva = Modal ( Hutang = Modal Pemilik)

Elemen yang ada pada sisi kanan persamaan sering disebut hutang, tetapi
sesungguhnya adalah ekuitas dengan hak yang berbeda didalam perusahaan.
Perbedaan utama antara hutang dan ekuitas pemilik adalah hak kreditur dapat
dinilai secara independen dari penilaian yang lain jika perusahaan dalam
keadaan solvent, sedangkan hak pemegang saham atau pemilik diukur dari
penilaian aktiva yang diinvestasikan ditambah laba yang diinvestasikan
kembali. Namun demikian, hak pemegang saham untuk menerima diveiden
dan bagian

7
aktiva jika dilikuidasi adalah hak sebagai pemegang saham bukan hak
sebagai pemilik aktiva khusus.

Jadi hutang adalah kewajiban khusus perusahaan, dan aktiva menunjukkan


hak perusahaan menerima barang dan jasa khusus atau manfaat lainnya. Penilaian
aktiva harus menceminkan pengukuran manfaat yang diterima oleh perusahaan.
Laba bersih suatu perusahaan umumnya diekspresikan dalam bentuk perubahan
bersih modal pemilik, tidak termasuk perubahan yang berasal dari deklarasi deviden
dan transaksi modal. Hal ini tidak sama dengan teori proprietary yang mengatakan
bahwa laba bersih adalah laba bagi pemegang saham. Laba bersih dalam
pendangan entitas menggambarkan sisa perubahan posisi ekuitas setelah
dikurangi semua klaim, termasuk bunga hutang jangka panjang dan pajak
penghasilan.

Teori entitas cocok diterapkan untuk organisasi yang berbentuk perseroan


terbatas (corporate), tetapi juga relevan untuk perusahaan lain yang memiliki
eksistensi yang terpisah dari individu pemilik.

Teori entitas memiliki dua versi yaitu versi tradisional dan versi baru.
Perbedaan kedua versi tersebut terletak pada sudut pandang yang digunakan dalam
melihat entitas.
a. Versi Tradisional

Menurut pandangan tradisional perusahaan beroperasi untuk pemegang


ekuitas (equity holders) yaitu pihak yang memberi dana bagi perusahaan. Dengan
demikian perusahaan harus melaporkan status investasi dan konsekuensiinvestasi
yang dilakukan pemilik.

b. Versi Baru

Pandangan ini menyatakan bahwa perusahaan beroperasi atas namanya


sendiri dan berkentingan terhadap kelangsungan hidupnya sendiri. Penyajian
laporan keuangan kepada pemegang ekuitas dimaksudkan untuk memenuhi syarat
legal dan menjaga hubungan baik dengan pemegang ekuitas dalam kaitannya
dengan kebutuhan dana yang diperlukan dimasa mendatang.

8
Meskipun kedua pandangan diatas memusatkan perhatiannya pada
kesehatan usaha (entitas yang independen), namun pandangan tradisional melihat
pemegang ekuitas sebagai partner (associate) dalam kegiatan usaha yang
dijalankan. Sedangkan pandangan baru melihat pemegang ekuitas sebagai pihak
luar perusahaan.

Oleh karena pemilik dan kreditor merupakan pemegang ekuitas yang


memberi dana, maka persamaan akuntansinya adalah:

Aktiva = Ekuitas

Ekuitas menunjukkan hak/klaim pemegang ekuitas terhadap aktiva suatu


unit suatu usaha. Kreditor memiliki klaim yang secara spesifik dapat ditentukan,
sementara pemegang saham memiliki klaim atas sisa aktiva dalam kasus likuidasi.
Pemegang saham memiliki hak terhadap total aktiva dan dividen apabila
diumumkan oleh dewan direktur. Meskipun demikian, hak yang diterima
didasarkan pada perjanjian kontraktual yang ada.

Atas dasar teori entitas, neraca yang disajikan mengandung makna sebagai
berikut:

 Aktiva perusahaan menyajikan informasi langsung mengenai nilai


unit usaha
 Ekuitas menunjukkan laporan tidak langsung terhadap jumlah nilai
yang sama
 Aktiva adalah milik perusahaan
 Hutang merupakan kewajiban perusahaan bukan kewajiban pemilik
 Aktiva non monoter lebih relevan bila diukur dengan cost histories
karena nilai total aktiva sama dengan umlah pasivanya.

Makna Laba

Dalam pendekatan entitas ini, laporan rugi laba relevan dibandingkan


neraca. Alasannya:

 Pemegang ekuitas lebih tertarik pada alba yang merupakan hasilm


dari investasi mereka
 Perusahaan didirikan dengan maksud mencari laba

9
 Laba merupakan perubahan dalam aktiva bersih perusahaan
 Pendapatan adalah aliran masuk aktiva karena transaksi yang
dilakukan perusahaan
 Biaya adalah cost aktiva atau jasa yang digunakan perusahaan dalam
rangka menghasilkan pendapatan

Laba ditahan

Menurut pandangan tradisional laba dicatat dan ditampung dalam laba


ditahan. Pandangan baru melihat bahwa laba ditahan merupakan ekuitas
perusahaan/investasi milik sendiri.

Pandangan Tradisional
 Bunga pinjaman adlah distribusi laba ditahan atas pemakaian pinjaman
modal bukan biaya bagi kreditor
 Deviden merupakan distribusi laba ditahan bagi pemilik saham
 Pajak penghasilan merupakan distribusi laba ditahan

Pandangan Baru
Kreditor dan pemegang saham dianggap sebagai pihak luar. Bunga
pinjaman, deviden dan pajak penghasilan dianggap sebagai biaya perusahaankarena
menurunkan jum;lah ekuitas unit usaha tersebut.
3. Teori Ekuitas Residual

Seorang teoritisi akuntansi William Paton (1962) menyatakan bahwa


ekuitas residual merupakan salah satu jenis ekuitas dalam kerangka teori entitas.
Dalam pandangan teori entitas, pemegang saham memiliki ekuitas di perusahaan
seperti pemegang ekuitas lainnyan, tetapi pemegang saham tidak dianggap sebagai
pemilik.

Jadi, teori ekuitas residual merupakan pandangan antara teori proprietary


dan teori entitas. Dalam pandangan ini persamaan akuntansinya menjadi:

Aktiva – Ekuitas khusus = Ekuitas Residual

Ekuitas khusus meliputi klaim kreditur dan ekuitas pemegang saham


preferen. Namun demikian pada kasus khusus dimana kerugian begitu besar
sehingga perusahaan mengalami kebangkrutan, ekuitas pemegang saham biasa

10
dapat hilang dan pemegang saham preferen atau pemegang obligasi menjadi
pemegang ekuitas residual. Tujuan pendekatan ekuitas residual adalah memberikan
informasi yang lebih baik kepada pemegang saham biasa dalam rangka
pengambilan keputusan investasi.

Pemegang saham biasa pada umumnya dianggap memiliki ekuitas residual


di dalam laba perusahaan dan di dalam aktiva bersih pada saat likuidasi. Oleh
karena laporan keuangan umumnya disusun tidak dalam rangka likuidasi, maka
informasi yang disajikan dalam kaitannya dengan ekuitas residual harys berguna
untuk memprediksi dividen masa datang bagi pemegang saham biasa.
4. Teori Enterprise

Teori enterprise suatu perusahaan merupakan konsep yang lebih luas


dibandingkan teori entitas. Di dalam teori entitas perusahaan dipandang sebagai
unit ekonomi terpisah yang dioperasikan dalam rangkamemberikan manfaat bagi
pemegang saham. Sedankan dalam teori enterprise perusahaan dipandang sebagai
lembaga dosial yang dioperasikan dalam rangka memberikan manfaat bagi banyak
pihak yang berkepentingan. Dalam arti luas pihak-pihak yang berkepentingan
meliputi pemegang saham, kreditur, pegawai, konsumen, pemerintah dan
masyarakat secara umum. Jadi bentuk luas dari teori enterprise dapat dipandang
sebagai teori akuntansi sosial.

Konsep ini cocok diterapkan untuk perusahaan skala besar dan modern dan
memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan pengaruh dari tindakannya kepada
beberapa kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Dari aspek akuntansi hal
ini berarti tanggungjawab pelaporan keuangan tidak hanya kepada pemegang
saham dan kreditur semata, tetapi lebih luas kepada semua kelompok lain yang
berkepentingan dan masyarakat keseluruhan. Konsep income yang paling relevan
dengan teori enterprise adalah laporan keuangan nilai tambah (value added
statement) yaitu laporan keuangan yang menujukkan kontribusi pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap perusahaan didalam menghasilkan nilai tambah
perusahaan.

5. Teori Dana (Fund)

11
Teori dana mengabaikan asumsi hubungan personal dalam teori proprietary
dan asumsi personifikasi perusahan sebagai unit ekonomi dan legal secara artifisal
dalam teori entitas. Menurut teori dana, unit aktivitas operasi merupakan dasar
akuntansi. Unit aktivitas operasi ini disebut dana yang meliputi sekelompokaktiva
dan restriksi atau batasan-batasan yang menggambarkan fungsi atau aktivitas
ekonomi. Teori dana berdasarkan pada persamaan akuntansi sebagai berikut:
Aktiva = Restriksi Aktiva

Aktiva menggambarkan jasa prospektif kepada dana atau unit operasi.


Hutang merupakan retriksi aktiva khusus atau umum dari dana. Modal yang
diinvestasikan mencerminkan retriksi legal atau financial untuk menggunakan
aktiva. Konsep teori dana ini banyak digunakan di sektor pemerintah dan lembaga
nir-laba.

Didalam pemerintahan dana yang umunya digunakan meliputi dana umum


(general fund), dana pendapatan khusus (special revenuefund), dana proyek (capital
projectfund), dana pelunasan hutang jangka penjang (debt service fund). Setiap
dana ini memiliki restriksi penggunaan yang diatur dalam undang-undang atau
peraturan pemerintah lainnya. Masing-masing dana dipertanggungjawabkan
sendiri-sendiri sehingga masing-masing memiliki pembukuan debit kredit sendiri
dan memiliki neraca dan laporan perubahan saldo dana.

2.5 Posisi FASB


Financial Accounting Standard Board (FASB) sangat jelas mengadopsi
teori ekuitas residual ketika berhubungan dengan ekuitas pemilik (owner' equity)
yang menyatakan "hak residual pada aktiva suatu entitas yang tersisa setelah di
kurangi hutang". Pandangan ini sejalan dengan tujuan akuntansi yang dinyatakan
oleh FASB yaitu menyediakan informasi khususnya kepada investor atau lebih
khusus kepada peemegang saham biasa.

FASB juga mengakui bahwa pendekatan ini menimbulkan masalah jika


berkaitan dengan hybrid securites atau saham yang memiliki karakteristik ganda
yaitu sebagian hutang dan sebagian saham seperti pada hutang obligasi yang
dikonversikan. Persoalannya adalah bagaimana memisahkan dan mengungkapkan
saham yang memiliki dua karakteristik ini.

12
2.6 Laporan Nilai Tambah (Value Added) Sebagai Pelengkap Laporan
Keuangan
Laporan keuangan suatu perusahaan yang terdiri dari neraca, laporan laba
rugi, laba yang belum dibagi dan perubahan posisi keuangan atau arus kas serta
catatan atas laporan keuangan sebenamya tidak lain adalah laporan
pertanggungjawaban manajemen kepada terutama para pemilik
perusahaan. Laporan keuangan ini disusun berdasarkan dua anggapan pokok.
Pertama, bahwa pemilik modal yang ditanamkan dalam perusahaan adalah
pemegang saham. Kedua, tujuan penyusunan laporan keuangan dititik beratkan
pada kebutuhan para pemegang saham dan investor. Oleh karena itu laba bersih
suatu perusahaan dapat dipandang sebagai pendapatan yang dihasilkan
perusahaan untuk para pemegang saham dan investor (ada investor yang
mendapat bunga).

Konsep teori enterprise memandang bahwa tujuan perusahaan


adalah dalam rangka memberikan kesejahteraan kepada beberapa kelompok orang
yang berkepentingan terhadap perusahaan tersebut. Untuk memberikan laporan
kesejahteraan perusahaan kepada beberapa kelompok yang berkepentingan
terhadap perusahaan, dapat dilakukan dengan menyusun laporan tambahan selain
laporan keuangan yang biasa, yaitu laporan nilai tambah (value added
statement). Laporan nilai tambah menunjukkan pendapatan suatu perusahaan
sebagai kesatuan usaha dan bagaimana nilai tambah ini didistribusikan kepada
kelompok-kelompok yang menyumbangkan terciptanya nilai tambah tersebut.

A. Konsep Nilai Tambah


Konsep nilai tambah secara umum dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara
pebghasilan kotor yang diterima oleh suatu perusahaan dari hasil penjualan produk
dan jasa dengan jumlah uang yang dibayarkan untuk membeli bahan baku dan jasa
alin yang disediakan oleh pemasok dari luar perusahaan. Dari definisi ini dapat
disimpulkan bahwa nilai tambah pada dasarnya adalah hasil penjualan dikurangi
dengan biaya bahan baku dan jasa pihak luar yang digunakan dalam rangka
menciptakan penghasilan tersebut. Sebagian dari hasil penjualan dipakai untuk
membayar bahan baku dan jasa yang dibeli dari masyarakat di luar perusahaan.
Sisanya adalah kekayaan atau nilai tambah perusahan atau nilai tambah perusahaan

13
yang diciptakan oleh pegawai yang ada di dalam perusahaan yang bekerja dengan
sejumlah modal yang berasal dari pemegang saham, kreditur dan pemakaian
fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah.

B. MetodePenentuan Nilai Tambah


Ada dua metode yang dapat digunakan untuk menghitung nilai tambah suatu
perusahaan, yaitu:
1. Metode Subtractive merupakan nilai tambah perusahaan dapat dihitung dari
besarnya nilai penjualan atau output kotor perusahaan yaitu dengan cara hasil
penjualan (HP) dikurangi dengan beban input (BI) yang terdiri dari bahan baku atau
jasa yang dibeli dari luar perusahaan yang dipakai untuk menghasilkan penjualan
tersebut atau secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:
NT = HP- BI
2. Metode Additive merupakan nilai tambah perusahaan dapat dihitung dari
laporan laba opeasi, yaitu dengan cara menjumlahkan jumlah input produksi yang
berasal dari modal dan tenaga kerja dalam rangka menghasilkan penjualan. Dalam
istilah akuntansi adalah jumlah laba operasi (sebelum pajak, bunga dan pos-pos luar
biasa tetapi setelah menghilangkan unsur beban operasi dan laba yang berasal dari
kegiatan non produksi) ditambah dengan biaya gaji dan upah pegawai atau secara
matematis dirumuskan sebagai berikut:
NT = BG + (LO – NP)
NT : Nilai Tambah
BG : Beban Gaji dan Upah
LO : Laba Operasi
NP : Beban Operasi dan Laba yang Berasal dari Kegiatan Non Produksi

C. Penyusunan Laporan Nilai Tambah


Laporan keuangan nilai tambah dapat disusun dengan mudah hanya dengan
mengubah laporan Laba Rugi. Besarnya laba yang ditahan perusahaan dapat

14
dihitung dengan cara mengurangkan berbagai macam beban, pajak dan deviden dari
hasil penjualan atau secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:
LD = HP – BI – Dep – BG – I – Div – T…….(1)
LD : Laba Ditahan
HP : Hasil Penjualan
BI : Total Beban Input Bahan Baku dan Jasa Lain
BG : Beban Gaji dan Upah Pegawai
Dep : Beban Depresiasi
I : Beban Bunga
Div : Deviden yang Dibayar
T : Pajak Penghasilan
Dengan mengubah persamaan (1) yaitu memindahkan elemen hasil penjualan,
beban input dan beban depresiasi ke sebelah kiri persamaan serta memindahkan
elemen beban gaji, beban bunga, deviden, pajak dan laba ditahan ke sebelah kanan
persamaan, maka dapat dihitung besarnya nilai tambah bersih:
HP – BI – Dep = BG + I + Div + T + LD ……………(2)
Jika nilai depresiasi dalam persamaan (2) dipindahkan ke sebelah kanan persamaan
maka akan didapat besarnya nilai tambah kotor:
HP – BI = BG + I + Div + T + LD + Dep
Contoh:
Perusahaan A. Menjual bahan baku kepada perusahaan B. Secara keseluruhan
penjualan ini tidak akan menaikkan nilai tambah, karena pertambahan nilai pada A
akan diimbangi dengan pengurangan nilai tambah pada B (sebagai biaya bahan
pada B). Apabila barang yang diperjual belikan itu aktiva tetap, maka seandainya
B melaporkan atas dasar nilai tambah kotor, pembelian aktiva tetap oleh B tidak
akan mengurangi nilai tambah, sedangkan nilai tambah A akan naik sebesar
penjualan aktiva tetap tersebut.
Contoh tabel nilai tambah kotor:
Hasil penjualan Rp. 100.000
Beban input Bahan Baku Rp. 30.000
Nilai tambah kotor Rp. 70.000
Didistribusikan Kepada :

15
Gaji dan Upah Rp. 30.000
Bunga dan Deviden Rp. 15.000
Pajak Penghasilan Rp. 10.000
Untuk mempertahankan dan memperluas aktiva :
Depresiasi Rp. 10.000
Laba Ditahan Rp. 5.000 Rp. 15.000
Nilai tambah kotor Rp. 70.000

Contoh tabel nilai tambah bersih :


Hasil penjualan Rp. 100.000
Dikurangi :
Beban input Bahan Baku Rp. 30.000
Depresiasi Rp. 10.000 Rp. 40.000
Nilai tambah bersih Rp. 60.000
Didistribusikan Kepada :
Gaji dan Upah Rp. 30.000
Bunga dan Deviden Rp. 15.000
Pajak Penghasilan Rp. 10.000
Laba Ditahan Rp. 5.000
Nilai tambah bersih Rp. 60.000

D. Manfaat Laporan Nilai Tambah


Pengungkapan
Laporan nilai tambah merupakan usaha memberikan informasi yang lengkap dan
relevan tentang kegiatan perusahaan dengan memasukkan informasi beberapa
kelompok orang yang berkepentingan terhadap perusahaan, seperti pemilik,
kreditur, pegawai dan pemerintah.
Bagi pemakai laporan keuangan yang sudah ahli hal ini dapat dibenarkan karena
mereka dengan mudah dapat mencari informasi yang sama dari laporan tahunan
perusahaan. Namun demikian, perlu diingat bahwa tujuan utama laporan keuangan
adalah memberikan informasi yang berguna bagai berbagai macam pemakai

16
laporan keuangan yang memiliki kebutuhan dan kemampuan menganalisa yang
berbeda.
 Sederhana dan Fleksibel

Laporan nilai tambah sangat mudah disusun hanya dengan memodifikasi laporan
laba rugi. Desamping itu, bentuk dan isi laporan nilai tambah lebih mudah dipahami
dibandingkan laporan laba rugi, khususnya bagi para pegawai, pemilik modal dan
pemerintah, karena laporan tersebut mengelompokkan pihak-pihak yang ikut
menyumbang tercipiptanya nilai tambah perusahaan.
 Hubungan Industrial

Laporan nilai tambah memiliki beberapa kelebihan dibandingkan laporan laba rugi.
1. Laporan nilai tambah menggambaran peranan pegawai di dalam perusahaan oleh
karena dipandang sebagai pihak yang ikut menyumbangkan terciptanya kekayaan
perusahaan. Sedang dalam laporan laba rugi diperlakukan sebagai beban.
2. Dengan memberikan insentif kepada para pegawai atas dasar basarnya
sumbangan mereka terhadap nilai tambah perusahaan, maka dengan sendirinya
akan menaikkan motivasi pegawai di dalam proses penciptaan kekayaan
perusahaan.
3. Laporan nilai tambah dapat digunakan sebagai referensi guna penyelesaian
kasus-kasus pemburuhan.
 Kebijakan Ekonomi

Laporan nilai tambah berperan dalam memperbaiki kegiatan analisa ekonomi, oleh
karena konsep nilai tambah konsisten dengan analisa input-output yang sering
dipakai para ekonom untuk menghitung pendapatan nasional. Apabila setiap
perusahaan secara konsisten menyajikan laporan nilai tambah, maka pemerintah
akan mampu mengumpulkan data ekonomi secara akurat dan tepat waktu yang pada
gilirannya akan memberikan data yang akurat bagi keperluan peramalan dan
penyusunan kebijakan ekonomi pemerintah.
 Analisis Komparasi

Laporan nilai tambah memberikan tambahan kriteria yang dapat dipakai sebagai
dasar untuk meniali dan membandingkan prestasi suatu perusahaan dengan

17
perusahaan lain. Dengan mengetahui besarnya rasio antara nilai tambah dan gaji
pegawai akan dapat diprediksi sehat tidaknya suatu perusahaan. Disamping itu
laporan nilai tambah dapat pula dipakai sebagai alat untuk mengukur besar dan
pentingnya suatu perusahaan. Besarnya perusahaan biasanya tercermin dari
besarnya nilai penjualannya, tetapi perlu diingan bahwa angka nilai penjualan dapat
menyesatkan jika besarnya turnover perusahaan hanyalah pencerminan dari biaya
pembelian produk dari perusahaan lain yang di jual kembali kepada konsumen.

E. Kelemahan Laporan Nilai Tambah


Bagi para pemakai yang tidak memahami konsep laporan keuangan, laporan nilai
tambah dapat membingungkan mereka sebab nilai tambah suatu perusahaan baik
sebaliknya laba perusahaan turun.
Misalnya penjualan suatu perusahaan R. 100.000, sedang biaya inputnya Rp. 0 dan
biaya gaji pegawai Rp. 110.000. laporan nilai tambah perusahaan menunjukkan
Rp.100.000 (Rp. 100.000 – Rp. 0 dan menderita kerugian bersih sebesar Rp.
100.000 (Rp.100.000 – Rp. 110.000). apa yang terjadi pada perusahaan ini
sebenarnya adalah kekayaan yang diciptakan oleh perusahaan Rp. 100.000
sedangkan kekayaan yang didistribusikan kepada pegawai sebesar Rp. 110.000
melebihi besarnya kekayaan yang diciptakan. Jadi ada transfer kekayaan dari
pemegang saham ke pegawai perusahaan.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
FASB Statement of Financial Accounting Concepts No. 6 mendefinisikan
ekuitas sebagai "hak sisa terhadap aktiva suatu entitas setelah dikurangi
hutang".
Komponen ekuitas terdiri dari:
 Modal Setoran (Contributed Capital)
 Laba Ditahan
 Penyesuaian Modal Belum Terealisasi
Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi
oleh tujuan penyajian informasi tersebut kepada pemakai statemen keuangan.
Pada umumnya, tujuan pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah
menyediakan informasi kepada yang berkepentingan tentang efisiensi dan
kepengurusan (stewardship)manajemen. Informasi tentang kewajiban yuridis
perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak lainnya juga merupakan
tujuan penyajian ekuitas pemegang saham ini.
Teori Ekuitas terdiri dari Teori Propietary, Teori Entitas, Teori Ekuitas
Residual, Teori Enterprise, Teori Dana.

3.2 Saran
Penyusun menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna didalam
penyusunan dan penulisan makalah ini, kedepannya penyusun akan lebih
fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber -
sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun
harapkan dari pembaca semua agar kedepannya bisa lebih baik lagi dan semua
kekurangan yang ada tidak terulang kembali. Dan semoga dapat menambah
wawasan serta pengetahuan bagi kita semua, khususnya bagi penyusun dan
rekan-rekan lainnya.

19
DAFTAR PUSTAKA

http://samfarhan.blogspot.com/2017/05/makalah-teori-akuntansi-konsep
ekuitas.html

http://sundariliriklagu.blogspot.com/2016/11/teori-akuntansi-ekuitas-ruang-
lingkup.html

https://dexsuar.wordpress.com/2013/09/18/konsep-hutang-dan-ekuitas/

20