Anda di halaman 1dari 9

EVALUASI PEMBELAJARAN DI SD

PDGK4301
RANGKUMAN
MODUL 5 KUALITAS ALAT UKUR
(INSTRUMEN)

Dosen Mata Kuliah :

Amini Ari Purwati, S.Pd., M.Pd

Disusun oleh :

Hesty Magfiroh (858640175)

S1 PGSD BI INPUT SARJANA


Universitas Terbuka
Tahun 2019
A. Kegiatan Belajar 1 : Validitas Dan Reliabitas Hasil Pengukuran
1. Apakah Validitas Itu ?
Validitas adalah Ketepatan Hasil Pengukuran Menurut (Gronlunddan Linn, 1990) ada
tiga jenis validitas mengacu pada ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil
pengukuran yaitu :
a. Validitasisi (content validity)
Mengacu pada seberapa banyak materi tes tersebut dapat mengukur keseluruhan
bahan atau materi yang telah diajarkan.
b. Validitas konstrak (construct validity)
Mengacu pada seberapa banyak alat ukur tersebut dapat mengungkap keseluruhan
konstrak yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan tes tersebut.
Konstrak adalah konsep hipotesis yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan
alat ukur.
c. Validitas yang dikaitkan dengan kriteria tertentu (criterion related validity)
Mengacu pada seberapa banyak materi tes dapat dengan tepat memprediksi
kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki sekarang dengan keberhasilannya pada
masa yang akan datang atau kesesuaian antara penguasaan suatu pengetahuan dengan
keterampilan penggunaan pengetahuan.

2. Apakah Reliabilitas Itu ?


Hasi lpengukuran yang reliabel (tetap, konsisten, stabil). Hasil pengukuran yang
berhubungan dengan aspek fisik seperti mengukur panjan gmeja, berat badan, tinggi
badan, dll biasanya menghasilkan reliabilitas yang tinggi sedangkan yang berhubungan
dengan aspek psikologi dan sosial seperti dalam pengukuran mewakili intelegensi,sikap
dan konsep diri yang tidak dapat diukur dengan ketepatan dan konsisten yang tinggi.
Menurut (gronlund dan linn, 1990) pengertian validitas mengacu pada ketepatan hasil
pengukuran maka pengertian reliabilitas mengacu pada ketetapan hasil yang diperoleh
dari suatu pengukuran. Hasil pengukuran dikatakan mempunyai reliabilitas yang tinggi
jika hasil pengukuran pertama hampir sama dengan hasil pengukuran kedua. Dan
sebaliknya hasil pengukuran dikatakan mempunya reliabilitas yang rendah jika hasil
pengukuran pertama jauh berbeda dengan hasil pengukuran kedua.
Ada dua konsep reliabilitas adalah :
a. Konsep Reliabilitas dalam arti equivalent tes Dimaksudkan untuk mengetahui apakah
dua set tes yang digunakan paralel atau tidak.
b. Konsep reliabilitas dalam arti konsistensi internal Dimaksudkan untuk mengetahui
apakah kumpulan butir soal yang ada dalam satu set tes tersebut mengukur dimensi
hasil belajar yang sama atau tidak.
Untuk menghitung korelasi digunakan formula product-moment :
Dimana : r x y : koefisien korelasi dari xy
N : jumlah data
X : data pertama
Y : data kedua

Contoh:

10 x 21090 − 458 x 457


𝑟𝑥𝑦 =
√10 x 21160 − 209764 x √10 x 2137 − 208849
210900−209306
= 42,8 𝑥 39

1594
= 1669,2 = 0,95

3. Bagaimana Hubungan Antara Validitas Dan Reliabilitas ?


Alat ukur yang mempunyai reliabilitas yang tinggi belum tentu secara otomatis
mempunyai validitas yang tinggi. Sebab tingginya reliabilitas yang dihasilkan suatu alat
ukur jika tidak dibarengi dengan tingginya validitas dapat memberikan informasi yang
salah tentang apa yang ingin diukur.
4. Bagaimana Meningkatkan Reliabilitas ?
Reliabilitas suatu tes dapat ditingkatkan dengan menambah jumlah butir soal ke
dalam tes tersebut. Butiran soal yang homogen artinya butiran soal-soal yang mengukur
hal yang sama dengan butir soal yang sudah ada. Penambahan butiran soal tidak akan
menaikkan reliabilitas tes jika butiran soal yang ditambahkan tidak homogen dengan
butiran soal yang telah ada. Untuk menghitung penambahan butir soal menggunakan
rumus Spearman-Brown:
di mana:
ryy = reliabilitas sebelum penambahan butir soal
rxx = reliabilitas setelah penambahan butir soal
J = rasio jumlah butir soal setelah dan sebelum penambahan
B. Kegiatan Belajar 2 : Validitas Dan Reliabitas Hasil Pengukuran
1. Mengapa Analisis Butiran Soal Penting?
Menganalisi soal bermanfaat untuk memperoleh informasi yang bermanfaat bagi
guru, siswa, dan proses pembelajaran itu sendiri. Menurut Niko (1983) analisis butiran
soal menggambarkan suatu proses pengambilan data, dan penggunaan informasi
tentang respon siswa terhadap setiap butiran soal. Arti penting penggunaan analisis
butiran soal adalah :
a. Untuk mengetahui apakah butir soal-butir soal yang disusun sudah berfungsi sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh penyusun soal. Berikut hal-hal yang menentukan
apakah soal-soal yang telah disusun telah berfungsi sebagaimana seharusnya.
1) Apakah soal-soal yang anda susun sudah sesuai untuk mengukur perubahan
tingkah laku seperti telah dirumuskan dalam tujuan instruksional khusus?
2) Apakah tingkat kesukaran sudah anda perhitngkan?
3) Apakah soal tersebut sudah mampu membedakan antara siswa yang pandai
demham siswa yang kurang pandai?
4) Apakah kunci soal anda buat sudah benar dengan maksud soal?
5) Jika anda menggunakan tes pilihan berganda, apakah pengecoh yang anda pilih
sudah sudah berfungsi dengan baik?
6) Apakah soal tersebut masih dapat ditafsirkan ganda atau tidak?
b. Sebagai umpan balik bagi siswa untuk mengetahui kemampuan mereka dalam
menguasai suatu materi
c. Sebagai umpan balik bagi guru untuk mengetahui kesulitan - kesulitan yang dialami
siswa dalam memahami suatu materi 4.
d. Sebagai acuan untuk merevisi soal 5.
e. Untuk memperbaiki kemampuan guru dalam menulis soal.

2. Kapan Analisis Butiran Soal Dilakukan?


Validitas set soal dapat diketahui dari kisi-kisi soal sedangkan reliabilitas soal baru
dapat diketahui setelah uji coba. Dalam menganalisis butir soal paling tidak ada dua
karakteristik butir soal yang perlu diperhatikanya itu tingkat kesukaran dan daya beda
butir-butir soal.
a. Tingkat kesukaran butir soal
Tingkat kesukaran merupakan salah satu karakteristik yang dapat menunjukkan
kualitas butir soal tersebut apakah termasuk mudah, sedang atau sukar.
Secara matematis tingkat kesukaran butir soal dapat dihitung dengan rumus:
𝐵
𝑝=
𝑁
Dimana :
p : Indeks tingkat kesukaran butir soal
B : Jumlah peserta tes yang menjawab benar
N : Jumlahseluruhpeserta
Menurut Fernandes (1984) kategori tingkat kesukaran butir soal adalah :
P > 0,75 ∶ 𝑀𝑢𝑑𝑎h
0,25 ≤ P ≥ 0,75 ∶ Sedang
P ≤ 0,24 ∶ Sukar
b. Daya beda (D)
Daya beda butir soal memiliki pengertian seberapa jauh butir soal tersebut dapat
membedakan kemampuan individu peserta tes.
Indeks daya beda dapat dihitung dengan rumus:
D = P𝐴 − PB

Dimana :
D : Indeks daya beda butir soal
P𝐴 : Proporsi kelompok atas yang menjawab benar
PB : Proporsi kelompok bawah yang menjawab benar

Menurut Fernandes (1984) kategori indeks daya beda butir soal adalah :
D ≥ 0,40 ∶ Sangat baik
0,30 ≤ D < 0,40 ∶ 𝐵𝑎𝑖𝑘
0,20 ≤ D < 0,30 ∶ 𝑆𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔
D < 0,20 ∶ 𝑆𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔

3. Bagaimana Melakukan Analisis Secara Sederhana?


Langkah - langkah dalam menganalisis butir soal:
a. Hitunglah jumlah jawaban yang benar untuk seluruh siswa
b. Berdasarkan jumlah jawaban yang benar dari seluruh siswa tersebut susunlah skor
siswa mulai dari skor tertinggi ke skor terendah
c. Berdasarkan urutan skor tersebut tertentu tentukan siswa yang masuk dalam
kelompok atas dan siswa yang termasuk dalam kelompok bawah. Untuk menentukan
berapa persen yang masuk kelompok atas dan bawah gunakan rambu-rambu sebagai
berikut (Nitko, 1983 dan Hanna, 1993):
1) Jika jumlah siswa ≤ 20 maka jumlah kelompok atas dan kelompok bawah
masing-masing 50%.
2) Jika jumlah siswa 21-40 maka jumlah kelompok atas dan kelompok bawah
masing-masing 33,3%.
3) Jika jumlah siswa ≥ 41 maka jumlah kelompok atas dan kelompok bawah
masing-masing 27%.
d. Hitunglah jumlah siswa dalam kelompok atas yang memilih tiap-tiap alternatif
jawaban yang disiapkan
e. Dengan cara yang sama hitung jumlah siswa dalam kelompok bawah yang memilih
tiap - tiap alternatif jawaban yang disediakan
f. Hitung jumlah seluruh peserta yang menjawab benar
g. Hitung tingkat kesukaran butiran soal dan daya beda dengan rumus yang disediakan.
Contoh:
Perhatikan Jawaban 100 siswa terhadap butir soal nomor 1 berikut:

Tingkat kesukaran butir soal tersebut dapat dihitung dengan rumus:


𝐵 (15+25+7) 47
P=𝑁= = 100 = 0,47
100

Indeks daya beda butir soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
15 7 8
D = PA - PB = – = = 0,30
27 27 27

4. Bagaimana Menganalisis Tes Uraian?


Cara menganalisis tes uraian oleh Whitney dan Sabers (Mehrens dan Lehmann, 1984)
sebagai berikut:
a. Tentukan jumlah yang termasuk dalam kelompok atas (25%) dan kelompok bawah
(25%)
b. Hitung jumlah skor kelompok atas dan jumlah skor kelompok bawah
c. Hitung tingkat kesukaran dan daya beda setiap butiran soal dengan rumus berikut.
ΣA + ΣB − (2Nskormin )
𝑝=
2N(skormaks − skormin )

ΣA − ΣB
𝐷=
N(skormaks − skormin )

Dimana :
ΣA : Jumlah skor kelompok atas
ΣB : Jumlah skor kelompok bawah
N : 25 % peseerta didik
skormaks : Skor maksimal setiap butir soal
skormin :Skor minimal setiap butir soal
Contoh:
Perhatikan tabulasi data hasil tes sumatif IPA untuk butir soal nomor 1 yang diikuti
oleh 100 siswa berikut:

Tingkat kesukaran dan daya beda butir soal yang dihitung sebagai berikut:
ΣA + ΣB − (2Nskormin )
𝑝=
2N(skormaks − skormin )
88+68−(2x25x0)
= 2 x 25 (7−0)
88+68 156
= 50 (7−0) = 350− 0 = 0,45

ΣA − ΣB
𝐷=
N(skormaks − skormin )
88+68 20
= 25 (7−0) = 350−0 = 0,11

5. Bagaimana Memperbaiki Butiran Soal?


Beberapa hal dalam memperbaiki butiran soal sebagai berikut:
a. Perhatikan tingkat kesukaran butir soal. Butir soal dianggap baik jika mempunyai
tingkat kesukaran (p) antara 0.25 sampai dengan 0.75 atau yang mendekati angkat
tersebut.
b. Perhatikan daya beda butir soal. Butir soal dianggap baik jika kunci atau jawaban
yang dianggap benar mempunyai daya beda positif tinggi dan alternative jawaban
mempunyai daya beda negative dan ada salah satu alternative jawaban mempunyai
daya beda positif, aka butir soal tersebut perlu ditelaah kembali,sebab ada
kemungkinan terjadi salah kunci.

6. Bagaimana Memperbaiki Non-Tes?


Prosedur memperbaiki instrumen non-tes:
a. Meminta pakar untuk meriview atau menelaah instrument
b. Uji coba kelapangan.
c. Analisis hasil uji coba dengan menggunakan program analisis instrument yang
relevan.
d. Melihat kualitas instrument seperti validitas, reliabilitas serta kualitas sosa.
e. Memperbaiki butir soal yang lemah
f. Uji coba butir soal yang telah diperbaiki sampai yakin instrument non-tes yang akan
digunakan dapat dipertanggung jawabkan kualitasnya.
Penyebab butir soal kurang baik antara lain:
a. Penggunaan bahasa kurang komukatif
b. Kalimat bersifat ambiguous (dapat ditafsirkan ganda)
c. Pertanyaan atau pernyataan yang dibuat menyimpang dari indikator
d. Pertanyaan atau pernyataan tidak mengukur trait (sifat) yang akan diukur.