Anda di halaman 1dari 20

PEMBUATAN PULP SECARA BASA BERBASIS BAMBU

( Laporan Praktikum Teknologi Pulp dan Kertas )

Oleh

Kelompok 1
Gea Fanny Tirta L 1614051052
Sonia Dwi N 16141510
Nida Rianda Nabila 1614051061
Mayyuka Reforika 1614051065
Regina Caely Saing 1654051023
Rizka Ayu Kencana 16540510
Aisyah Chintya Devi 16540510

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pulp, tetapi salah satu
kelemahannya adalah seratnya yang pendek dan mengandung lignin yang tinggi.
Penelitian pengunaan bambu sebagai bahan baku pembuatan pulp dengan metode
organosolve sudah dilakukan sebelumnya, tetapi pulp yang dihasilkan belum
memiliki sifat kimia yang baik sehingga perlu penambahan bahan yang memiliki
serat panjang seperti bambu dan optimasi proses produksi. Oleh sebab itu perlu
dilakukan penelitian optimasi proses organosolve untuk campuran bambu dan
ampas tebu yang menghasilkan pulp dengan karakteristik sifat kimia yang baik.
Bambu memiliki keunggulan sebagai bahan pembuat kertas, antara lain bahan
mudah diperoleh, kandungan selulosa yang sangat cocok untuk dijadikan bahan
kertas dan rayon yaitu sebesar 55% memiliki ketahanan tarik mencapai 28,7
kg/cm2sehingga memenuhi SNI (0830-83) bahkan Cina sangat mengandalkan
bambu sebagai bahan baku industri kertasnya (Silitonga dan Pasaribu, 1974).

Salah satu teknologi pembuatan pulp yang sedang berkembangdan ramah


lingkungan adalah dengan menggunakan pelarut organik sebagai bahan
pemasaknya yang disebut dengan proses organosolve. Proses organosolve
memiliki beberapa keuntungan, antara lain yaitu rendemen pulp yang dihasilkan
tinggi, pendauran lindi hitamdapat dilakukan dengan mudah, juga diperoleh hasil
samping berupa lignin dan hemiselulosa dengan kemurnian yang relatif tinggi
(Shatalov et al.,2005; Alaejos et al. 2006). Proses acetosolve merupakan salah satu
proses organosolve yang menggunakan asam asetat sebagai pelarutnya. Faktor
yang memengaruhi keberhasilan pemasakan pulp (pulping) acetosolve adalah
rasio pelarut dengan air, rasio antara jumlah pelarut pemasak dengan bahan yang
akan dimasak, suhu pemasakan, lama pemasakan, dan jenis serta konsentrasi
katalisator yang digunakan (Muurinen, 2000; Sridach, 2010).

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui isolasi lignin pada bambu dengan
menggunakan NaOH dengan konsentrasi yang berbeda
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bambu (Bambusa Sp.)

Bambu tergolong keluarga Gramineae (rumput-rumputan) disebut juga Giant


Grass (rumput raksasa), berumpun dan terdiri dari sejumlah batang (buluh) yang
tumbuh secara bertahap, dari mulai rebung, batang muda dan sudah dewasa pada
umur 3-4 tahun. Batang bambu berbentuk silindris, berbuku-buku, beruasruas
berongga, berdinding keras, pada setiap buku terdapat mata tunas atau. Salah satu
jenis bambu yang sudah banyak dikenal dan sering dimanfaatkan oleh masyarakat
adalah bambu tali atau bambu apus. Bambu ini termasuk dalam genus
Gigantochloa, , berikut ini urutan klasifikasi bambu tersebut.

Devisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotiledonae
Ordo : Graminales
Famili : Gramineae
Subfamili : Bambusoideae
Genus : Gigantochloa (Bl. Ex Schult.) Kurz
Spesies : Bambu sp

(Djafaruddin, 2004).
Gambar 1. Bambu

Tanaman bambu yang tumbuh subur di Indonesia merupakan tanaman bambu


yang simpodial, yaitu batang-batangnya cenderung mengumpul didalam rumpun
karena percabangan rhizomnya di dalam tanah cenderung mengumpul. Batang
bambu yang lebih tua berada ditengah rumpun, sehingga kurang menguntungkan
dalam proses penebangannya. Arah pertumbuhan biasanya tegak, kadang-kadang
memanjat dan batangnya mengayu. Jika sudah tinggi, batang bambu ujungnya
agak menjuntai dan daun-daunya seakan melambai. Tanaman ini dapat mencapai
umur panjang dan biasanya mati tanpa berbunga. Tanaman bambu mempunyai
sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat (Djafaruddin,
2004).

2.2 Lignin

Lignin adalah zat yang bersama-sama dengan selulosa yang adalah salahsatu sel
yang terdapat dalam kayu. Lignin berguna dalamkayu seperti lem atau semen
yang mengikat sel sel lain dalam satu kesatuan, sehingga dapat kekuatan kayu
(mechanical strength) agar kokoh dan berdiri tegak. Lignin memiliki struktur
kimiawi yang bercabang-cabang dan berbentuk polimer tiga dimensi. Molekul
dasar lignin adalah fenil propan (Mulyani, 2006).

Molekul lignin memiliki derajat polimerisasi tinggi. Oleh karena ukuran dan
strukturnya yang tiga dimensi memungkinkan lignin berfungsi sebagai semen atau
lem bagi kayu yang dapat mengikat serat dan memberikan kekerasan struktur
serat. Bagian tengah pada sel kayu, sebagian besar terdiri dari lignin, berikatan
dengan sel sel lain dan menambah kekuatan struktur kayu. Dinding sel juga
mengandung lignin. Pada dinding sel, lignin bersama-sama dengan hemiselulosa
membentuk matriks (semen) yang mengikat serat-serat halus selulosa. Lignin di
dalam kayu memiliki persentase yang berbeda tergantung dari jenis kayu
(Mulyani, 2006).

2.3 NaOH (Natrium Hidroksida)

Natrium hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium dan
sejenis dengan basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa
namun perlu dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin
yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang
industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu
dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen.Natrium hidroksida merupakan
basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia. Larutan NaOH
sangat basa dan biasanya digunakan untuk reaksi dengan asam lemah, dimana
asam lemah seperti natrium karbonat tidak efektif. NaOH tidak bisa terbakar
meskipun reaksinya dengan metal amfoter seperti aluminium, timah, seng
menghasilkan gas nitrogen yang bisa menimbulkan ledakan. NaOH juga
digunakan untuk mengendapkan logam berat dan dalam mengontrol keasaman air
(Riswiyanto, 2011).
III. METODE PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini di lakukan pada hari Rabu, tanggal 3 April 2019, pukul 08.00-
10.00 WIB. Praktikum ini di laksanakan di laboratorium Analisis Kimia Hasil
Pertanian, Jurusan teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Lampung.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Erlenmeyer, Hotplate, beaker
glas, gelas ukur, pipet tetes, kertas saring, alumunium foil, gunting dan batang
pengaduk.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah bambu 20 gram, NaOH
(5 %, 10% dan 15%) dan aquades.
2.3 Diagram Alir

Diagram alir yang digunakan pada praktikum ini akan disajikan pada Gambar 1.

Bambu 20 gram

Dipotong kecil - kecil

Dimasukkan kedalam erlenmeyer

Dibuat larutan 150ml aquades dengan NaOH ( 5%, 10%, Dan 15%) sesuai perlakuan

Dicampurkan larutan tersebut dengan bambu kedalam erlenmeyer

Dipanaskan selama 1,5 jam pada suhu 70°C

Disaring dan ampas yang diperoleh dicuci serta dikeringkan dalam lemari asam
selama 24 jam

Ditimbang

Hasil

Gambar 1. Diagram alir pembuatan pulp berbahan dasar serat bambu

Diambil bambu sebanyak 20 gram dan dipotong kecil – kecil, lalu dicuci dengan
air mengalir hingga bersih. Buat larutan aquades dengan NaOH, aquades yang
digunakan 150ml dan NaOH yang digunakan sesuai perlakuan yaitu 5%, 10% dan
15%. Campurkan larutan tersebut dengan bambu yang sudah dipotong kecil –
kecil di dalam erlenmeyer. Masak bambu selama 1,5 jam dan setelah itu saring
bambu serta lakukan pencucian dengan aquades dan diamkan selama 24 jam di
dalam lemari asam dan setelah itu timbang bambu tersebut.
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

Data pengamatan yang diperoleh dari percobaan kali ini disajikan dalam bentuk
tabel yaitu sebagai berikut :

Tabel 1. Data Pengamatan Rendemen Pulp

Berat Basah Berat Kering


Kelompok Perlakuan Rendemen (%)
(gr) (gr)
1, 2 dan 3 NaOH 5% 20 16,70 6,6
4 dan 5 NaOH 10% 25,60 21,53 8,14
6 dan 7 NaOH 15% 26,70 22,64 8,12

4.2 Pembahasan

NaOH dapat mengekstraksi hemiselulosa dengan cara memecah struktur amorf


pada hemiselulosa. NaOH juga dapat menguraikan lignin pada suhu kurang dari
1800C. Jadi, penggunaan NaOH dapat menghancurkan lignin sekaligus
mengekstraksi selulosa dan hemiselulosa pada serbuk bambu.(Singh and Bishnoi,
2012). NaOH digunakan dalam pembuatan pulp secara soda. NaOH merupakan
senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. Bentuknya
kristal putih dan cepat menyerap kelembaban. Larutan NaOH berfungsi dalam
pemisahan dan penguraian serat selulosa dan non-selulosa (Heradewi, 2007).

Penambahan katalis basa (NaOH) pada larutan pemasak delignifikasi


organosolvmemberikan pengaruh nyata terhadap rendemen, tingkat kemurnian,
keasaman (pH), bobot molekul dan kadar metoksil isolat lignin. Larutan NaOH
pada pemasak berfungsi untuk memisahkan dan menguraikan serat-serat selulosa
dan non selulosa . Pemisahan serat ini sangat penting sebab kadar non selulosa
yang cukup tinggi akan menurunkan kualitas pulp misalnya mengakibatkan
degradasi dan pelarutan selulosa yang berlebihan sehingga mengakibatkan sifat-
sifat kekuatan pulp turun. Lamanya pemasakan juga akan mempengaruhi kualitas
pulp yang dihasilkan. Karena jika terlalu lama akan menyebabkan selulosa
terhidrolisis, sehingga akan menurunkan kualitas pulp. Dengan kata lain, waktu
pemasakan yang terlalu sebentar mengakibatkan lignin belum terekstrak secara
sempurna sedangkan jika terlalu lama akan menghidrolisis selulosa (Indrainy,
2005).

Berdasarkan penelitian Oktaveni (2008) pada proses pemasakan dengan waktu


yang sebentar (kurang dari 30 menit), delignifikator hanya dapat mendegradasi
lignin diantara sel – sel kayu sementara lignin yang berada pada dinding sel kayu
baru terlarut setelah waktu pemasakan ditingkatkan.Pemakaian suhu diatas 180°C
menyebabkan kemungkinan selulosa terdegradasi lebih banyak karena pada suhu
ini lignin telah habis terlarut sehingga delignifikator yang tersisa akan
mendegradasi selulosa. Hal ini dikarenakan pada suhu tinggi panas akan masuk
kedalam sel kayu sehingga mempercepat penetrasi lignin keluar. Sementara pada
suhu rendah lignin belum terurai dan masih melindungi selulosa sehingga selulosa
masih sulit untuk diakses.

Pulp adalah produk utama kayu terutama digunakan untuk pembuatan


kertas.tetapi pulp juga diproses menjadi berbagai turunan selulosa,seperti rayon
dan selofan.Pulp juga sering disebut hasil pemisahan serat dari bahan kayu
berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses pembuatannya.Proses
proses pembuatan pulp secara basa atau kimia adalah proses pembuatan pulp yang
melibatkan bahan kimia sebagai bahan untuk melarutkan bagian-bagian kayu
yang tidak diinginkan,sehingga pulp berkadar selulosa tinggi.Ada tiga macam
proses pembuatan pulp secara basa yaitu proses soda,sulfat (kraft), dan proses
sulfit.Proses soda dan sulfit menggunakan bahan kimia alkali dalam cairan
pemasak,sehingga pembuatan pulpnya dikelompokkan dalam pembuatan pulp
alkali.Proses pembuatan pulp secara basa ini mempergunakan cairan pemasak
NaOH, Na2S,dan Na2CO3 untuk proses sulfat, dan proses soda menggunakan
cairan pemasak NaOH.Pulp yang dihasilkan dari proses ini berwarna coklat dan
mempunyai kekuatan fisik yang tinggi sehingga biasa digunakan untuk membuat
kertas, semen, kertas bungkus, kantong pupuk, kertas karbon tetapi mudah untuk
diputihkan (Nugroho dan Rusmanto,2010).

Proses organosolv merupakan proses pulping yang menggunakan bahan yang


lebih mudah didegradasi seperti pelarut organic.Pada proses ini,penguraian lignin
terutama disebabkan oleh pemutusan ikatan eter.Beberapa senyawa organic yang
dapat digunakan antara lain adalah asam asetat, etanol, dan methanol.Proses
organosolv tidak menggunakan unsur sulfur sehingga lebih aman terhadap
lingkungan dan daur ulang lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah.Proses
organosolv berkembang pesat pada saat ini adalah proses acetoll yaitu proses yang
menggunakan bahan kimia pemasak berupa asam asetat dan proses alcell yaitu
proses pembuatan pulp dengan bahan baku pemasak yang berupa campuran
alcohol dan NaOH.Tuntutan masyarakat akan teknologi bersih semakin
meningkat baik di tingkat nasional maupun internasional tentu hal ini tidak dapat
diakomodasikan dengan menggunakan proses kraft.Agar produksi pulp yang
dihasilkan dapat diterima dipasaran,maka harus dilakukan suatu usaha pencarian
teknologi alternatif yang lebih aman terhadap lingkungan yaitu penggunaan
proses organosolv (Marzuki,2005).

Proses organosolv ini telah memberikan dampak yang baik bagi lingkungan dan
sangat efisien dalam pemanfaatan sumber daya hutan.Dengan menggunakan
proses organosolv diharapkan permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh
industry pulp dan kertas dapat diatasi.Hal ini karena proses organosolv
memberikan beberapa keuntungan antara lain yaitu rendemen pulp yang
dihasilkan tinggi,daur ulang lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah, tidak
menggunakan unsur sulfur sehingga lebih aman terhadap lingkungan karena
mampu menghasilkan limbah yang bersifat ramah lingkungan. Selain itu menurut
Dewi (2009), juga menyatakan bahwa pemanfaatan biomassa secara efisien dapat
dilakukan dengan menerapkan konsep biomassrefining yaitu pemrosesan dengan
menggunakan pelarut organik dengan cara melakukan fruksionasi biomass
menjadi komponen-komponen utama penyusunnya selulosa,hemiselulosa, dan
lignin tanpa banyak merusak ataupun mengubahnya serta kelebihan proses
organosolv dibandingkan dengan konvensional adalah tidak menyebabkan
timbulnya pencemaran gas-gas berbau, pelarut organic yang digunakan dapat
dipakai kembali setelah dilakukan pemurnian terlebih dahulu, dan proses dapat
dilakukan dengan temperatur dan tekanan rendah.

Kelemahan dari penggunaan proses organosolv yang dihasilkan memiliki warna


coklat atau gelap karena kandungan lignin yang tinggi dan harus diputihkan
melewati proses pemutihan terlebih dahulu.Proses pemutihan (bleaching) adalah
suatu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan derajat putih pulp dengan cara
memaksimalkan pendegradasian lignin sisa pemasakan menggunakan bahan
kimia.Pemutihan dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang
bersifat oksidator dan reduktor.Penggunaan klor sebagai oksidator menimbulkan
pencemaran lingkungan sedangkan bahan kimia yang bersifat reduktor seperti
ditionit membutuhkan zat penstabil agar tidak terjadi penguraian.Selulosa dapat
mengalami kerusakan akibat reaksi oksidasi, oleh sebab itu diperhatikan factor-
faktor yang dapat mempengaruhi proses pemutihan seperti tingkat pemutihan,
jumlah dan zat pemutih yang dipakai, waktu dan suhu pemutihan serta konsentrasi
pemutih (Fitria,2008).
IV. KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah


1. NaOH 10%2 memiliki berat basah dan berat kering 5,60 dan 21,53 serta
kekeruhan 8,14.

2. NaOH dapat mengekstraksi hemiselulosa dengan cara memecah struktur amorf


pada hemiselulosa.

3. Larutan NaOH pada pemasak berfungsi untuk memisahkan dan menguraikan


serat-serat selulosa dan non selulosa.

4. Proses pemasakan dengan waktu yang sebentar (kurang dari 30 menit),


delignifikator hanya dapat mendegradasi lignin diantara sel – sel kayu sementara
lignin yang berada pada dinding sel kayu baru terlarut.

5.Larutan NaOH berfungsi dalam pemisahan dan penguraian serat selulosa


dan non-selulosa
DAFTAR PUSTAKA

Alaejos, J., F. López, M.E. Eugenio, dan R. Tapias. 2006. Sodaanthraquinone,


kraft and organosolv pulping of holm oak trimmings. Bioresource
Technology 9:1013-1018.
Dewi, Fauziah. 2009. Basic Concepts of Analytical Chemistry . New Age
International Publisher. UI Press. Jakarta.

Djafaruddin. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Umum). PT Bumi


Aksara. Jakarta.

Fitria. 2008. Pengolahan Biomassa Berlignoselulosa Secara Enzimatis dalam


Pembuatan Pulp. Jurnal Teknologi Pertanian. 9 (2) 70-74.

Indrainy, M. 2005. Kajian Pulping Semimekanis dan Pembuatan Handmade Paper


Berbahan Dasar Pelepah Pisang. (Skripsi). Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Heradewi. 2007. Isolasi Lignin dari Lindi Hitam Proses Pemasakan Organosolv
Serat Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Bogor: IPB.

Marzuki, Fanni. 2005. Pembuatan Pulp dari Sabut Kelapa dengan System
Organosolv. Tugas Akhir Teknik Kimia. Universitas Jambi. Jambi.

Muurinen, E. 2000.Organosolv Pulping (A review and distillation study related to


peroxyacid pulping). Fakultas TeknikUniversitas Oulu. Linnanmaa. 314
hlm.

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan . Kanisius. Yogyakarta.

Nugroho,P dan Rusmanto. 2010. Pemilihan Pelarut Organik Etanol dan Asam
Asetat untuk Pembuatan Pulp dari Tandan Kosong Kelapa Sawit. Kanisius.
Yogyakarta.
Oktaveni, D. 2008. Lignin Terlarut Asam dan Delignifikasi Pada Tahap Awal
Proses Pulping Alkali. IPB. Bogor.

Riswiyanto. 2011. Kimia Organik . Penerbit Erlangga. Jakarta.

Shatalov, A.A., dan H. Pereira. 2005. Arundo donax L. Reed: new perspectives
for pulping and bleaching. Part 4. Peroxide bleaching of organosolv pulps.
Bioresource Technology 96:865- 872.
Silitonga dan Pasaribu. 1974. Percobaan pengolahan kayu daun lebar campuran
sebagai bahan baku pulp kertas. Laporan Lembaga Penelitian Hasil Hutan.
Bogor.

Singh, A. dan Bishnoi, N. R. 2012. Enzymatic hydrolysis optimization of


microwave alkali pretreated wheat straw. Bioresource Technology . 108: 95-
101.

Sridach, W. 2010. The environmentally benign pulping process of nonwood


fibers. Suranaree J. Sci. Technol 17(2):105-123.
LAMPIRAN
Gambar Praktikum

Gambar 2. Gambar 3.
Gambar 1.
Penimbangan bambu Penambahan NaOH
Perkecilan ukuran
bambu

Gambar 5. Gambar 6.
Gambar 4.
Penyaringan Pencucian dengan
Pemanasan
aquades
Gambar 7.

Hasil lignin
kelompok 1
Tabel Pembagian Tugas

No Nama Tugas
1 Regina Caely Saing Daftar Pustaka, Edit, lampiran gambar dan
Print
2 Nida Rianda Nabila Metodelogi
3 Sonia dwi Noviani Pembahasan
4 Aisyah Chintya Devi Pembahasan
5 Mayyuka Reforika Cover dan Pendahuluan
6 Gea Fany Tirta Lrasati Kesimpulan dan Lampiran (tabel
pembagian tugas)
7 Rizka Ayu Kencana Tinjauan Pustaka