Anda di halaman 1dari 1

ANALISIS KORELASI STRATIGRAFI UNTUK MENDUKUNG PERHITUNGAN

STABILITAS TEROWONGAN

Pada perhitungan kestabilan terowongan, mengetahui kondisi bawah permukaan, jenis tanah
dan parameternya merupakan hal yang sangat penting. Karena itu dalam melakukan korelasi
data bor harus dilakukan sebaik mungkin agar dapat mewakili kondisi bawah tanah. Penelitian
ini akan menguji kestabilan terowongan MRT Jakarta stasiun Senayan-Istora dan pengaruhnya
terhadap tinggi muka air tanah yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil korelasi data bor tanah
dibagi menjadi menjadi 5 satuan tanah yang terdiri dari Lempung N-SPT rendah, lanau N-SPT
rendah, Lanau N-SPT tinggi, pasir N-SPT rendah, dan pasir N-SPT tinggi, endapan tanah pada
daerah ini umumnya berasal dari endapan sungai. Stabilitas terowongan yang dibahas meliputi;
Tekanan muka terowongan saat penggalian, stabilitas tubuh terowongan, dan stabilitas
terowongan terhadap gaya angkat (uplift). Hal ini dilakukan pada 4 kondisi air tanah yang
berbeda. Tekanan muka terowongan divalidasi dengan pembacaan tekanan muka terowongan
di lapangan. Secara umum metode yang paling mendekati hasil pembacaan di lapangan adalah
metode COB Commisie L510 (1996). Stabilitas tubuh terowongan dihitung dengan metode
Carranza-Torres (2013), gaya yang paling besar dalam menekan terowongan adalah sebesar
137,93 kN/m2 dari kapasitas dukung lining terowongan 726 kN/m2. Stabilitas terowongan
terhadap gaya angkat menghasilkan faktor aman paling kecil sebesar 2,26. Analisis dengan
metode elemen hingga menyimpulkan bahwa gaya aksial dan juga momen lentur masih berada
dalam kapasitas dukung terowongan, sedangkan gaya gesek yang bekerja pada terowongan
paling besar 84,81 kN.