Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Penilaian status gizi adalah langkah pertama dalam terapi malnutrisi

dan salah satu penilaian status gizi melalui pemeriksaan indeks massa tubuh

(IMT). Indeks massa tubuh (IMT) atau Body Mass Indeks(BMI) digunakan

untuk memantau kelebihan atau kekurangan berat badan sesorang. Indeks

massa tubuh juga telah digunakan dalam beberapa penelitian populasi

Internasional untuk menilai risiko penyakit di antara orang dewasa. IMT yang

meningkat terkait dengan risiko dari diabetus mellitus tipe 2, faktor risiko

penyakit kardiovaskular, dan terutama pada tekanan darah tinggi

(Kaulina,2009).

Gambaran status gizi berdasarkan IMT di Indonesia pada profil kesehatan

Indonesia 2012 menunjukkan data bahwa pada kelompok dewasa berusia

diatas 18 tahun di dominasi dengan masalah obesitas, selain itu masalah

kekurangan gizi juga masih cukup tinggi (Kumala, 2009).

Tekanan darah merupakan tekanan yang terjadi pada pembuluh darah

arteri ketika darah kita di pompa oleh jantung untuk dialirkan ke seluruh

anggota tubuh. Tekanan darah dalam tensimeter menunjukkan dua nomor atas

dan bawah. Nomor atas menunujukkan tekanan pembuluh arteri akibat

denyutan jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor bawah menunjukkan

1
2

tekanan saat jantung beristirahat diantara pemompaan, dan disebut tekanan

diastole (Nanang, 2012).

Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 prevalensi

tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg) di Indonesia sebanyak 25,8%.

Prevalensi tekanan darah tinggi di Indonesia menurut Data Riset Kesehatan

Dasar (RISKESDAS) mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun

keatas. Dari jumlah itu, 60% penderita tekanan darah tinggi berakhir pada

stoke. Sedangkan sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Walaupun

tekanan darah tinggi terjadi penurunan dari 31,7% tahun 2013 menjadi 25,8%

tahun 2007, Riskesdas tetap menyebutkan tekanan darah tinggi sebagai

penyebab kematian nmer 3 setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya

mencapai 6,8% dari proposi kematian pada semua umur di Indonesia

(Riskesdas, 2007).

Dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya (Eva, 2010 ; Ully, 2007 ;

Nieky, 2011) menunjukkan bahwa ada hubungan antara indeks massa tubuh

dengan tekanan darah. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti pola makan tinggi

kalori, dan berlemak, mempunyai kebiasaan merokok dan minum alkohol

merupakan salah satu perilaku yang dapat menimbulkan penyakit yang

diantaranya seperti hipertensi (Apriani,2012). Sementara dari penelitian lain,

mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan

tekanan darah, karena indeks massa tubuh hanya berhubungan dengan berat

badan dan tinggi badan seseorang. Sementara itu, tekanan darah juga
3

mempunyai faktor tersendiri yang dapat mengakibatkan terjadinya

peningkatan tekanan darah (Destyana,2009).

Hasil observasi awal pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan

2017 Kelas B di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya menemukan bahwa

ada beberapa mahasiswa (8 orang) yang mempunyai postur tubuh kategori

gemuk, hal ini memberikan gambaran tubuh yang gemuk atau obesitas

berisiko memilii tekanan darah meningkat.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan adanya perbedaan dari hasil

penelitian terdahulu, menurut penelitian Nieky (2011) ada hubungan antara

indeks massa tubuh dengan tekanan darah, sedangkan menurut penelitian

Destyana (2009) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara indeks massa

tubuh dengan tekanan darah, karena indeks massa tubuh hanya berhubungan

dengan berat badan dan tinggi badan seseorang. Alasan ini membuat peneliti

tertarik untuk membuktikan apakah benar terdapat pengaruh Indeks Massa

Tubuh terhadap hipertensi.

B. Rumusan masalah

Apakah ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan hipertensi pada

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Kelas B di Universitas

Wijaya Kusuma Surabaya ?


4

C. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum :

Mencari hubungan antara indeks massa tubuh dengan hipertensi pada

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Kelas B di Universitas

Wijaya Kusuma Surabaya.

2. Tujuan Khusus :

a. Mengidentifikasi profil indeks massa tubuh (IMT) pada Mahasiswa

Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Kelas B di Universitas Wijaya

Kusuma Surabaya.

b. Mengidentifikasi hipertensi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Angkatan 2017 Kelas B di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

c. Menganalisis hubungan antara indeks massa tubuh terhadap

hipertensi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017

Kelas B di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi institusi pendidikan

Untuk menyajikan informasi mengenai adanya hubungan indeks

massa tubuh dengan hipertensi, sehingga dapat menambah pengetahuan

bagi pelajar maupun mahasiswa.

2. Bagi peneliti

a. Untuk mengetahui adakah pengaruh indeks massa tubuh dengan

hipertensi pada remaja.

b. Untuk menambah pengetahuan tentang obesitas dan hipertensi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Indeks Massa Tubuh

Indeks Massa Tubuh/IMT merupakan indikator sederhana untuk

memantau status gizi seseorang khususnya yang berkaitan dengan

kekurangan atau kelebihan berat badan. IMT dihitung sebagai berat badan

dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter (m) dan tidak terkait

pada jenis kelamin. IMT secara signifikan berhubungan dengan kadar lemak

tubuh total sehingga dapat dengan mudah mewakili kadar lemak tubuh. Saat

ini, IMT secara internasional diterima sebagai alat mengidentifikasi kelebihan

berat badan dan obesitas (Suprariasa, 2012).

Tabel 2.1: Klasifikasi IMT berdasarkan WHO


IMT (kg/m) Klasifikasi
<16 Kurang Energi Protein III
16-16.9 Kurang Energi Protein II
17.0-18.5 Kurang Energi Protein I
18.5-24.9 Normal
25.0-29.9 Kelebihan berat badan ( overweight )
30.0-34.9 Obesitas I
35.0-39.9 Obesitas II
>40.0 Obesitas III

Sumber : WHO, 2014

5
6

Tabel 2.2 : Klasifikasi IMT berdasarkan Depkes RI (1994)

IMT (kg/m) Kategori

<17.0 Kekurangan berat badan badan tingkat berat ( Kurus)


17.0-18.4 Kekurangan berat badan tingkat ringan ( Kurus )
18.5-25.0 Normal ( Normal )
25.1-27.0 Kelebihan berat badan tingkat ringan ( Gemuk )
>27.0 Kelebihan berat badan tingkat beratn (Gemuk )
Sumber : Depkes RI, 1994

B. Tekanan darah
Tekanan darah merupakan tekanan yang ditimbulkan pada dinding

arteri. Tekanan ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti curah

jantung, ketegangan arteri, volume, dan laju serta kekuatan (viskositas) darah.

Tekanan darah terjadi akibat fenomena siklik. Tekanan puncak terjadi saat

jantung beristirahat. Rata-rata tekanan darah normal 120/80 mmHg

(Febby,2012).

Tekanan darah normal (normotensi) sangat dibutuhkan untuk

mengalirkan darah keseluruh tubuh, yaitu untuk mengangkut oksigen dan zat-

zat gizi. Tekanan darah ada dalam pembuluh darah, sedangkan tekanan darah

tinggi dalam arteri terbesar (Martuti, 2009).

Secara umum ada dua komponen tekanan darah, yaitu tekanan darah

sistolik (angka atas) adalah tekanan yang timbul akibat pengerutan bilik

jantung sehingga akan memompa darah dengan tekanan terbesar, dan tekanan

darah diastolik (angka bawah) yang merupakan kekuatan penahan pada saat
7

jantung menggembang antar denyut, terjadi pada saat jantung dalam keadaan

menggembang (saat beristirahat) (Martuti,2009).

Tekanan darah tinggi (≥140/90 mmHg), disebut juga sebagai

pembunuh gelap (the silent kiler) karena merupakan penyakit mematikan

tanpa gejala terlebih dahulu. Tekanan darah yang meningkat dan tidak

terkontrol serta tidak terdeteksi dapat menyebabkan terjadinya serangan

jantung, stroke, dan gagal ginjal. Tekanan darah tinggi tidak hanya terjadi

pada orang dewasa atau lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada remaja.

Prevalensi meningkat pada kejadian overwight (Riskesdas,2007).

Tekanan darah tinggi dapat terjadi oleh karena faktor antara lain

makanan (diit). Dalam kondisi normal, protein dibutuhkan oleh tubuh sekitar

0,8-1 gr/kgBB/hari dengan perbandingan protein nabati dan hewani yaitu 3;1.

Pada 2 studi observasional utama yaitu INTERMAP dan the Chicago Western

Electric Study telah membuktikan adanya hubungan sumber protein nabati

dengan penurunan tekanan darah, sedangkan sumber protein hewani tidak

berpengaruh terhadap tekanan darah (Apple, 2010).

1. Jenis-Jenis Hipertensi

Hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu:

a. Hipertensi primer

Hipertensi yang memiliki beberapa kemungkinan

penyebabnya. Beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh

darah dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Hipertensi

primer terjadi karena kondisi masyarakat yang memiliki asupan


8

garam cukup tinggi, lebih dari 6,8 gram setiap hari, serta karena

faktor genetik. Namun gen-gen (bagian kromosom yang sangat kecil

yang menghasilkan protein penentu sifat individu) untuk hipertensi

belum terindikasi. Penelitian terkini difokuskan pada faktor genetik

dalam mempengaruhi sistem Renin Angiotensin Aldosteron, yaitu

sistem yang membantu mengatur tekanan darah melalui

keseimbangan garam dan kondisi arteri (Junaidi, 2010).

b. Hipertensi sekunder

Kurang dari 10% kasus, tekanan darah tinggi bersifat

sekunder akibat dari kondisi atau faktor yang telah diketahui.

Penyebab umum hipertensi sekunder adalah:

1) Penyakit parenkim ginjal dan renovaskular, yang mengganggu

regulasi volume dan atau mengaktivasi sistem renin-

angiotensin-aldosteron.

2) Gangguan endokrin, seringkali pada korteks adrenal, dan terikat

dengan oversekresi aldosteron, kortisol, dan katekolamin.

3) Kontrasepsi oral, yang dapat menaikkan tekanan darah melalui

aktivitas renin-angiotensin-aldosteron dan hiperinsulinemia.

(Aaronson dan Ward, 2008)

2. Komplikasi Hipertensi

Adapun beberapa komplikasi hipertensi antara lain:

a. Stroke
9

Stroke terjadi akibat hipertensi kronis apabila arteri yang

memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga

aliran darah ke daerah otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak

yang mengalami aterosklerosis dapat melemah sehingga

meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.

b. Infark miokard

Infark miokard terjadi apabila arteri koroner yang aterosklerotik

tidak dapat memberikan cukup oksigen ke miokardium atau apabila

terbentuknya trombus yang menghambat aliran darah melewati

pembuluh darah. Pada hipertensi kronis, kebutuhan oksigen

miokardium mungkin tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia

jantung yang menyebabkan infark.

c. Gagal ginjal

Gagal ginjal terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi

pada kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus , aliran

darah ke unit fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan

dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya

membran glomerulus, protein akan keluar melalui urine sehingga

tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan menyebabkan edema,

yang sering dijumpai pada hipertensi kronis.

d. Ensefalopati (kerusakan otak)

Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi

maligna atau hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya.


10

Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan

peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke ruang

interstisial di seluruh susunan saraf pusat. Neuron-neuron di

sekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.

e. Kejang

Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir

mungkin memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi

plasenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia

dan asidosis jika ibu mengalami kejang selama atau sebelum proses

persalinan. (Corwin, 2009).

3. Anamnesis Hipertensi

Hipertensi umumnya asimtomatik, kadang-kadang disertai dengan

nyeri kepala, malaise, atau gejala lain yang menunjukkan diagnosis

penyebab. Hipertensi bisa menyebabkan gagal jantung, gagal ginjal,

gangguang penglihatan, stoke, dan IHD.

Penyebab hipertensi yang lebih jarang yang memiliki gejala

spesifik adalah:

a. Sindrom Cushing (berta badan bertambah, hirsutisme, mudah memar)

b. Feokromositoma (gejala paroksismal: palpitasi, kolaps, dan merona

merah/ flushing)

c. Penyakit ginjal (hematuria mikroskopik/ proteinuria dan gejala gagal

ginjal). (Gleadle, 2005)


11

4. Penanganan Hipertensi

Secara garis besar, pengobatan hipertensi dibagi dalam dua

kategori:

a. Pengobatan non farmakologik

Pengobatan non farmakologis merupakan pengobatan tanpa

obat-obatan yang diterapkan pada hipertensi. Pengobatan hipertensi

secara non farmakologik termasuk di antaranya mencegah dan

mengatasi obesitas, peningkatan aktivitas fisik dan olah raga,

modifikasi diet termasuk mengurangi konsumsi garam, dan berhenti

merokok. Pada seseorang yang obesitas terdapat penurunan tekanan

darah yang signifikan setelah program penurunan berat badan, terlebih

lagi bila digabung dengan peningkatan akifitas fisik/ olahraga.

Mengurangi garam dalam makanan sehari-hari juga dapat membantu

menurunkan tekanan darah. Jumlah garam yang dianjurkan adalah 0.5-

1 mEq/kgBB/hari atau kira-kira 2 gram NaCl/ hari untuk remaja

dengan berat badan 20-40kg. Berhenti merokok, minum alkohol dan

obat golongan simpatomimetik, juga dianjurkan untuk menurunkan

tekanan darah. (Saing, 2005).

Bila dengan cara ini, setelah beberapa minggu tidak berhasil

menurunkan tekanan darah atau sebaliknya jadi meningkat, maka

selanjutnya diperlukan pengobatan farmakologik. (Saing, 2005).


12

b. Pengobatan farmakologis

Pengobatan farmakologis adalah pengobatan yang

menggunakan obat-batan modern. Pengobatan farmakologis dilakukan

pada hipertensi dengan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih.

Pengobatan farmakologis biasanya dengan obat-obatan modern

dilakukan bersamaan dengan pengobatan non farmakologis. (Junaidi,

2010).

Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka panjang,

bahkan sampai seumur hidup. Pengobatan secara farmakologis dapat

dilakukan dengan panduan dari National Institute of Health, sebagai

berikut:

1) Hipertensi derajat 1, tekanan darah 140-159/90-99 mmHg. Melalui

pola hidup sehat ditambah satu jenis obat hipertensi.

2) Hipertensi derajat 2, tekanan darah 160/100 mmHg atau lebih. Pola

hidup sehat ditambah dua jenis atau lebih obat hipertensi. (Junaidi,

2010).

5. Tindakan Untuk Mencegah Hipertensi

a. Tahap primer

Upaya pencegahan primer yang bisa dilakukan untuk menvegah

terjadinya hipertensi adalah dengan cara merubah faktor resiko yang

ada pada kelompok beresiko. Upaya-upaya yang dilakukan dalam

pencegahan primer terhapat penyakit hipertensi antara lain:


13

1) Pola makan yang baik

Mengurangi asupan garam dan lemak tinggi. Disamping itu,

perlunya meningkatkan makan buah dan sayur. Diet yang rendah

garam diberikan kepada pasien yang hipertensi. Tujuan diet rendah

garam adalah untuk menurunkan tekanan darah. Diet rendah garam

bukan hanya membatasi mengonsumsi garam dapur tetapi

mengkonsumsi makanan rendah sodium atau natrium (Na).

(Triyanto, 2014)

2) Olahraga teratur

Olahraga sebaiknya dilakukan secara teratur dan bersifat aerobik,

karena kedua sifat inilah yang dapat menurunkan tekanan darah.

Olahraga aerobik maksudnya adalah olahraga yang dilakukan

secara terus menerus dimana kebutuhan oksigen masih dapat

dipenuhi tubuh, misalnya jogging, senam, renang, dan bersepeda.

Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan

pengeluaran tenaga dan energi. Aktifitas fisik sebaiknya dilakukan

sekurang-kurangnya 30 menit perhari. Salah satu manfaat aktifitas

fisik adalah menjaga tekanan darah tetap stabil dalam batas normal.

(Triyanto, 2014)

3) Mengelola stres

Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah selama

beberapa waktu. Jika stres telah berlalu, tekanan darah biasanya

akan kembali normal. Otot jantung dan beberapa dinding


14

pembuluh darah terdapat suatu reseptor yang berfungsi memantau

perubahan tekanan darah arteri dan vena. Apabila terjadi perubahan

tekanan darah, reseptor ini akan mengirim sinyal keotak untuk

menormalkan kembali tekanan darah, melalui pelepasan hormon

dan enzim yang bekerja pada jantung, pembuluh darah, dan ginjal,

sehingga dicapailah tekanan yang normal. (Junaidi, 2010).

4) Tidak merokok

Tidak merokok merupakan salah satu cara untuk mencegah

terjadinya hipertensi, karena kandungan zat yang terdapat pada

rokok dapat merusak lapisan dinding arteri, yang pada akhirnya

akan membentuk plak atau kerak diarteri. Kerak atau plak ini

menyebebkan penyempitan lumen atau diameter arteri, sehingga

diperlukan tekanan yang lebih besar untuk memompa darah sampai

ke organ orang yang membutuhkan. Hal ini kemudian disebut

dengan hipertensi. (Junaidi, 2010).

Zat nikotin yang terdapat dalam rokok dapat meningkatkan

pelepasan epinefrin, yang dapat mengakibatkan terjadinya

penyempitan dinding arteri karena kontraksi yang kuat. Zat lain

dalam rokok adalah karbonmonoksida (CO), yang menyebebkan

berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Akhirnya, jantung akan

berkerja lebih berat untuk memberikan cukup oksigen ke sel-sel

tubuh.
15

Selain itu rokok berperan membentuk ateroskerosis dengan

cara:

 Meningkatkan kecenderungan penggumpalan sel-sel darah

pada dinding arteri dan meningkatkan resiko pembentukan

thrombus atau plak.

 Merokok menurunkan jumlah kolesterol HDL serta

menurunkan kemampuan HDL menyingkirkan kelebihan

kolesterol LDL.

 Merokok meningkatkan oksidasi lemak yang berperan

membentuk aterosklerosis.

Merokok mengurangi kemampuan seseorang dalam

menanggulangi stres karena zat kimia dalam rokok, terutama

karbonmonoksida, akan mengikat oksigen dalam darah sehingga

kadar oksigen dalam darah berkurang. Akibatnya metabolisme

tidak berjalan dengan baik sehingga energi pun berkurang. Otak

yang bekerja keras dalam menghadapi stres juga tidak berfungsi

dengan optimal karena akan mengalami kekurangan oksigen dan

energi. Merokok juga memiliki efek buruk lainnya, seperti

menyebebkan kanker, terutama kanker paru, dan merupakan faktor

utama penyebab resiko terkena penyakit jantung dan stroke.

(Junaidi, 2010).
16

5) Membatasi mengkonsumsi alkohol

Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar dapat mengganggu dan

merusak fungsi beberapa organ. Salah satunya adalah hati. Fungsi

hati akan terganggu sehinghga mempengaruhi kinerja atau fungsi

jantung. Gangguan fungsi jantung inilah pada akhirnya

menyebebkan hipertensi. (Junaidi, 2010).

6) Membatasi konsumsi kafein

Kafein merupakan suatu zat yang dapat meningkatkan tekanan

darah dan terdapat dalam kopi, teh, coklat, dan soft drink. Efek

kafein pada setiap individu tidak sama, kafein dapat meningkatkan

tekanan darah pada sebagian orang, tetapi sebagian orang lainnya

tidak memperlihatkan efek tersebut. Cara kafein meningkatkan

tekanan darah adalah dengan memblok kerja hormon adenosin,

atau merangsang kelenjar adrenal melepaskan lebih banyak

adrenalin dan kortisol, sehingga arteri berkontraksi. Untuk

mengurangi efeknya, batasilah konsumsi kafein dengan hanya

tidak meminum dua cangkir kopi, atau tiga cangkir teh, atau dua

kaleng soft drink sehari. (Junaidi, 2010).

7) Mengatasi kegemukan

Obesitas atau kegemukan adalah kelebihan berat badan sebagai

akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebih. Setiap orang

memerlukan sejumlah lemak untuk menyimpan energi, sebagian

lagi untuk menyekat panas, menyerap guncangan, dan untuk fungsi


17

lainnya, tetapi harus dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan.

(Junaidi, 2010).

b. Tahap Sekunder

Penanganan tahap sekunder yaitu upaya pencegahan hipertensi

yang sudah pernah terjadi akibat serangan berulang atau untuk

mencegah menjadi berat terhadap timbulnya gejala-gejala penyakit

secara klinis melalui deteksi dini. Pencegahan ini ditunjukkan untuk

mengobati para penderita dan mengurangi akibat-akibat yang lebih

serius dari penyakit, yaitu melalui diagnosa dini dan pemberian obat.

Jika deteksi tidak dilakukan secara dini terapi tidak diberikan segera

maka akan terjadi gejala klinis yang merugikan. (Triyanto, 2014)

c. Tahap Tersier

Penatalaksaan tahap tersier yaitu upaya pencegahan terjadinya

hipertensi komplikasi yang lebih berat atau kematian. Pencegahan

tersier difokuskan pada rehabilitasi dan pemulihan setelah terjadi sakit

untuk meminimalisasikan kesakitan, kecacatan, dan meningkatkan

kualitas hidup. (Triyanto, 2014)

6. Faktor risiko yang mempengaruhi hipertensi

Faktor risiko adalah faktor-faktor atau keadaan-keadaan yang

mempengaruhi perkembangan suatu penyakit atau status kesehatan. Istilah

mempengaruhi disini mengandung pengertian menimbulkan risiko lebih

besar pada individu atau masyarakat untuk terjangkitnya suatu penyakit

atau terjadinya status kesehatan tertentu (Bustan, 2007). Faktor risiko yang
18

dapat berpengaruh pada kejadian hipertensi ada faktor yang dapat

dikontrol seperti obesitas, olahraga, kebiasaan merokok, konsumsi garam,

minum minuman beralkohol, konsumsi kopi, dan yang tidak dapat

dikontrol seperti faktor usia, jenis kelamin dan keturunan.

C. Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Tekanan Darah

Dalam berat badan yang meningkat akan menyebabkan bertambahnya

lemak dalam subkutan ataupun visceral dalam tubuh. Semakin bertambah

banyaknya lemak dalam tubuh akan mempengaruhi bertambahnya pula

indeks massa tubuh yang akan meningkat setiap harinya. Hal ini yang akan

menyebabkan tekanan darah dalam tubuh seseorang akan meningkat pula.

Dapat disebabkan oleh elastilitas pembuluh darah yang tidak stabil, pada

pembuluh darah sehingga menyebabkan penggumpalan darah. Dan hal lain

yang menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam tubuh adalah darah

yang tidak men dapatkan oksigen yang dimana dalam pembuluh darah

terdapat gumpalan lemak. Maka dari itu indeks massa tubuh memberikan

signifikan yang luar biasa terhadap tekanan darah seseorang (Apriliani, 2012).

Berbeda dengan hasil penelitian hubungan indeks massa tubuh dengan

tekanan darah di Kelurahan Mersi Kecamatan Mojokerto yang menunjukkan

bahwa tidak ada hubungan indeks massa tubuh dengan tekanan darah. Faktor

yang mempengaruhi tekanan darah diantaranya adalah faktor genetik,

aktifitas saraf simpatis, kebisingan, konsumsi garam berlebihan, status

perkawinan dan aktifitas fisik. Maka dari itu, Indeks massa tubuh tidak
19

memberi dampak yang signifikan pada tekanan darah seseorang (Destyana,

2009).
BAB III

KERANGKA TEORI, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Teori

Asupan makanan BB IMT Tekanan darah


meningkat meningkat meningkat meningkat

Penimbunan
lemak

LDL
meningkat

Aterosklorosis
pada pembuluh
Terjadi proses darah
oksidasi

LDL
teroksidasi

Gambar III.1 Kerangka teori Penelitian (Desain Oleh Peneliti)

Keterangan :

Asupan makanan yang berlebihan akan menyebabkan berat badan meningkat,

sehingga menyebabkan indeks massa tubuh yang meningkat pula. Asupan

makanan yang berlebih juga akan menyebabkan penimbunan lemak, sehingga

20
21

menyebabkan peningkatan LDL. Dengan adanya proses oksidasi akan

menimbulkan LDL teroksidasi yang akan memacu adanya aterosklerosis dalam

pembuluh darah sehingga mengganggu elastilitas pembuluh darah, dan tekanan

darah dalam tubuh akan meningkat.

B. Kerangka Konsep

INDEKS MASSA TEKANAN


TUBUH DARAH
MENINGKAT MENINGKAT

Gambar III.2 Kerangka Konsep Penelitian (Desain Oleh Peneliti)

Keterangan :

Pada kerangka konsep ini, dapat dijelaskan bahwa indeks massa tubuh yang

meningkat akan mengakibatkan tekanan darah meningkat.

C. Hipotesis Penelitian

HO : Tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh terhadap hipertensi

pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Kelas B di

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

HI : Ada hubungan antara indeks massa tubuh terhadap hipertensi pada

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Kelas B di

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancangan penelitian

Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif

yang menggunakan metode olah data cross-sectional, yaitu pengambilan data

yang dilakukan dalam satu kurun waktu, maksimal dua atau tiga bulan.

Peneliti mengumpulkan data dari sampel pada waktu yang bersamaan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017

Kelas B di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya selama bulan April 2019.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari semua variabel yang menyangkut masalah

yang diteliti (Nursalam,2010). Dalam penelitian ini, populasi akan diteliti

oleh peneliti adalah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Kelas B

di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya berjumlah 38 orang dan terdiri dari

perempuan 23 orang dan laki-laki 15 orang

22
23

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih secara sampling

tertentu untuk bisa mewakili atau memenuhi populasi (Nursalam,2010).

Metedologi pengambilan sampel pada penelitian ini merujuk pada Arikunto

(2013) bahwa apabila subjeknya kurang dari 100 responden maka lebih baik

diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi

bila populasinya besar dalam beberapa ratus maka dapat diambil antara 10-

15% atau 20-25% atau lebih dari total polulasi.

Berdasarkan ketentuan sampling dalam penelitian ini adalah probability

sampling, maka penarikan sempel dilakukan seara acak dan dalam hal jumlah

yang diperoleh karena kurang dari 100 populasi maka peneliti merujuk pada

konsep pulasi Arikunto (2013) sehingga memasukkan seluruh jumlah

populasi tersebut ke dalam sampel penelitian ini yaitu berjumlah 38 orang

responden sehingga diperoleh informasi yang diperlukan sesuai tujuan

penelitian ini.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas atau independent variable, yaitu variabel yang

mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variabel terikat. Dalam

penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X1) : Indeks Massa Tubuh.

2. Variabel terikat atau dependent variable, yaitu variable yang dipengaruhi

atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian
24

ini yang menjadi variabel terikat (Y) : tekanan darah sistolik dan

diastolik.

E. Definisi Operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk

tabel sebagai berikut :

Tabel IV.1 Definisi Operasional

NO Definisi Kategori Alat ukur Skala


Variabel operasional
1. IMT IMT adalah 1. <18,5 : Berat Timbangan Skala
petunjuk untuk badan berat badan interval
menentukan kurang. dan Stature Adalah
kelebihan 2. 18,5–22,9 : meter skala yang
berdasarkan Berat badan digunakan
berdasarkan normal untuk
indeks quatelet ( 3. >23,0 : menunjukan
berat badan Kelebihan , tingkatan,
dalam kilogram berat badan mempunyai
dibagi dengan 4. 23,0-24,9 : interval
kuadrat tinggi Beresiko yang sudah
badan dalam obesitas pasti.
meter ). 5. 25,0-29,9 :
Obesitas I
6. >30,0 :
Obesitas II

.
25

2. Tekanan Yang dimaksud 1. Normal : Tensimeter Skala


atau
darah dengan tekanan <120/<80 Ratio yaitu
sphygmoman
sistolik darah sistolik 2. Pre ometer. skala yang
adalah tekanan hipertensi : dapat
pada dinding 120-139/ memberi
arteri selama 80-89 keterangan
kontraksi otot 3. Hipertensi tentang
jantung. 1 140-159/ nilai
90-99 absolut
4. Hipertensi dari objek
2 >160/100 yang
diukur.

Tekanan
3. Tekanan darah
1. Normal : Skala
darah Tensimeter
diastolik adalah
<120/<80 atau Ratio yaitu
diastolik
jumlah tekanan sphygmoman
2. Pre skala yang
ometer.
darah atau angka
hipertensi : dapat
bawah yang
120-139/ memberi
menunjukkan
80-89 keterangan
tekanan dalam
3. Hipertensi tentang
arteri saat
1 140-159/ nilai
jantung
90-99 absolut
beristirahat
4. Hipertensi dari objek
2 >160/100 yang
diukur.
26

F. Prosedur Penelitian

1. Langkah dan Cara Kerja

a. Tahapan persiapan meliputi kesiapan peneliti dan kesiapan sarana

dan prasarana penelitian.

b. Peneliti akan mencari responden dan memasukkan kriteria inklusi

dan eksklusi beserta proses identifikasi untuk menentukan individu

yang berpotensi menjadi subjek penelitian

c. Responden yang sesuai kemudian diberi informed consent serta

penjelasannya dan dimintai persetujuan untuk diikutsertakan dalam

penelitian.

d. Peneliti kemudian akan mengumpulkan data. Data antropometri

diperoleh dari responden dengan pengukuran terhadap tinggi

badan, berat badan, IMT, dan tekanan darah. Data mengenai

identitas, jenis kelamin, usia diperoleh melalui data pemeriksaan.

Tinggi badan diperoleh dari pengukuran menggunakan pita

meteran dengan ketinggian 0,1cm. Cara pengukuran tinggi badan

yaitu:

1) Pengukur menempelkan pita menempelkan pita meteran pada

dinding datar.

2) Responden yang akan diukur berdiri tegak tanpa alas kaki dan

penutup kepala.

3) Posisi responden berdiri tegak lurus tumit, pantat, punggung,

dan kepala bagian belakang harus menempel pada dinding


27

dengan pandangan lurus ke depan, diusahakan jangan bergerak

agar tidak mempengaruhi hasil pengukuran tinggi badan.

4) Pengukur mensejajarkan skala pada pita meteran dengan

bagian kepala responden.

5) Pengukur membaca angka pada skala pita meteran yang

menunujukkan tinggi badan.

e. Berat badan diperoleh menggunakan timbangan. Cara pengukuran

berat badan yaitu :

1) Memeriksa timbangan.

2) Responden berdiri tegak tanpa alas kaki. Diusahakan jangan

bergerak agar tidak mempengaruhi hasil pengukuran berat

badan.

3) Pengukur membaca angka yang tertera pada timbangan

sebagai berat badan.

f. Tekanan darah akan diperoleh menggunakan tensimeter air raksa.

Cara pengukuran tekanan darah dengan tensimeter yaitu :

1) Responden berbaring atau duduk, selanjutnya menset

tensimeter diikatkan pada lengan atas, sekitar 2 jari diatas

lipatan siku.

2) Stetoskop diletakkan pada arteri brakhialis yang berada di

lipatan siku.

3) Sambil mendengarkan denyut nadi, tekanan didalam

tensimeter dinaikkan dengan cara memompa sampai sekitar


28

140 mmHg. Jika responden terkena hipertensi naikkan 160

mmHg sehingga denyut nadi tidak terdengar lagi, kemudian

tekanan dalam tensimeter pelan-pelan diturunkan.

4) Pada saat denyut nadi mulai terdengar lagi, baca tekanan yang

terdapat pada batas atau permukaan air raksa yang terdapat

pada tensi meter. Maka itu disebut sistolnya.

5) Tekanan dalam tensimeter tetap diturunkan samapi suatu saat

suara denyutan terdengar melemah dan akhirnya menghilang.

Saat denyutan nadi terdengar melemah, kembali kita lihat

tekanan dalam tensimeter. Tekanan itu disebut tekanan darah

diastol.

g. IMT dapat dihitung menggunakan rumus berat badan dalam

kilogram dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter.

h. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat untuk setiap

variabel dan analisis bivariat digunakan untuk menganalisis

hubungan antara dua variabel yang diteliti sehingga akan didapat

hasil penelitian. Analisis multivariat digunakan untuk mengetahui

hubungan setiap variabel.


29

2. Alur Penelitian

Populasi terjangkau pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran


Angkatan 2017 Kelas D di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Probability sampling dengan


dengan memasukkan semua
subyek menjadi sample (38 )
responjden

Sampel

Informed consent

Pengambilan data

Pengolahan data

Analisa data

Hasil

G. Analisis Data

Dalam penelitian ini data yang diperoleh menggunakan statistik uji

kolerasi spearman. Uji kolerasi sparman adalah uji statistik yang ditujukan

untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel berskala ordinal.

Dengan analisis data menggunakan SPSS 16.00 for windows. Untuk

pengambilan keputusan uji statistik ini menggunakan pedoman :


30

1. Jika nilai signifikansi probabilitas () lebih dari 0,05 maka H0 diterima

yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara indeks masa tubuh (IMT)

terhadap hipertensi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan

Tahun 2017 Kelas B di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

2. Jika nilai signifikansi probabilitas () kurang dari 0,05 maka H1 diterima

yang berarti bahwa ada hubungan antara indeks masa tubuh (IMT)

terhadap hipertensi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan

Tahun 2017 Kelas B di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.