Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS MATA

BAB I
DESKRIPSI KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Tn. P
Umur : 20 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : -
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Warga Negara : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Jalan Kaliurang KM.13

II. ANAMNESIS (Alloanamnesis/ autoanamnesis)

 Keluhan Utama :
Mata merah, terasa mengganjal dan keluar kotoran mata (belekan).
 Riwayat gangguan/ penyakit sekarang :
Pasien datang dengan keluhan mata kiri dan kanan merah, terasa seperti ada
yang mengganjal sejak satu hari yang lalu. Keluhan juga disertai adanya sekret (
belekan) yang dirasakan banyak pada saat pagi hari yaitu saat bangun tidur.Pasien
mengaku sebelum terjadi mata merah , pasien terpapar udara panas, berkeringat
dan kena debu, lalu pasien mengucek-ngucek mata tanpa mencuci tangan terlebih
dahulu dan tangan dalam keadaan kotor, setelah itu langsung timbul mata
merah.Keesokan harinya pada saat bangun tidur timbul kotoran mata yang
jumlahnya cukup banyak dan terasa lengket sehingga susah membuka mata.
Tampak sedikit bengkak pada kelopak mata bagian atas. Tidak disertai rasa perih,
gatal dan fotofobia. Pasien belum mengobati keluhan tersebut.Keluhan tersebut
terasa sedikit berkurang apabila pasien tidur, tetapi keluhan tersebut sangat
mengganggu karena menimbulkan rasa yang tidak nyaman pada mata. Pasien juga
tidak ada kontak dengan orang lain yang sakit mata merah. Pasien mengaku
kurang fit dan kurang tidur.

1
 Riwayat gangguan/ penyakit sebelumnya :
Pasien pernah mengalami keluhan serupa pada saat SMP, sembuh setelah
diberikan obat tetes mata.
 Riwayat gangguan/ penyakit pada keluarga :
- Ayah pasien menderita sakit stroke
- Ibu pasien menderita sakit jantung
 Riwayat kondisi lingkungan sosial, lingkungan kerja, dan kebiasan sehari-hari :
Kondisi lingkungan sosial :
Keadaan lingkungan di sekitar rumah kurang bersih dan banyak debu.
Kondisi lingkungan kerja :
Pasien sering berada di lingkungan yang panas dan berdebu. Karena pasien
sedang menjalankan kerja praktek lapangan di suatu tempat proyek pembangunan.
Kebiasaan sehari-hari :
Setiap hari senin-kamis pasien kuliah, hari jumat dan sabtu pasien
menjalankan kerja praktek lapangan. Mandi 2 kali sehari, makan teratur 3 kali
sehari. Pasien jarang olahraga dan juga sering begadang.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Gizi : Baik
Tanda vital : T : 37,2ᵒ𝐶, nadi :80 x/m, respirasi: 20 x/m, TD:130/80 mmHg
Status spesifik
Kepala : Pada mata kanan dan kiri terdapat edema pada kelopak mata
bagian atas, konjungtiva tampak hiperemis, terlihat adanya
sekret berwarna kuning kehijauan pada kedua mata.
Leher : Dalam batas normal
Thorax : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Genitalia :-
Ekstremitas : Dalam batas normal

Status Lokalis

 Pemeriksaan Subyektif

2
Pemerikasaan OD OS

Visus mata 6/6 6/6


Refraksi DBN DBN
Koreksi TDL TDL
Visus dekat TDL TDL
Proyeksi sinar DBN DBN
Persepsi warna ( merah,hijau) TDL TDL

 Pemeriksaan Objektif
Pemeriksaan OD OS
1. Sekitar mata
 Supercilia DBN DBN
2. Kelopak mata
 Pasangan Simetris Simetris
 Gerakan Simetris Simetris
 Lebar rima 10-12 mm 10-12 mm
 Kulit Normal , tidak tampak Normal , tidak tampak
hiperemis, tidak ada hiperemis, tidak ada
luka dan bekas luka luka dan bekas luka
 Tepi Kelopak Trikiasis (-), Trikiasis (-),
Entro/ektopion (-) Entro/ektopion (-)
 Margointermarginalis Trikiasi (-), Trikiasi (-),
Edema (-) Edema (-)
3. Apparatus lakrimalis
 Sekitar gld lakrimalis Dalam batas normal Dalam batas normal
 Sekitar saccus lakrimalis Dalam batas normal Dalam batas normal
 Uji Fluoresin TDL TDL
 Uji regurgitasi TDL TDL
4. Bola mata
 Pasangan Sejajar Sejajar
 Gerakan Simetris ke segala Simetris ke segala arah
arah
 Ukuran DBN DBN
5. Tekanan bola mata Normal Normal

3
6. Konjungtiva
 K. Palpebra Superior Tenang Tenang
 K. Palpebra inferior Tenang Tenang
 K. Fornik Tenang Tenang
 K. Bulbi Hiperemi / Injeksi Hiperemi / Injeksi
konjungtival konjungtival
7. Sklera
 Episklera Tenang Tenang
8. Kornea
 Ukuran DBN DBN
 Kecembungan DBN DBN
 Limbus DBN DBN
 Permukaan DBN DBN
 Medium Jernih Jernih
 Dinding Belakang TDL TDL
 Uji Fluresin TDL TDL
 Placido TDL TDL
9. Camera oculi anterior
 Ukuran kedalaman Dalam Dalam
 Isi Jernih Jernih
10. Iris
 Warna Coklat Coklat
 Pasangan Simetri Simetri
 Gambaran Tajam Tajam
 Bentuk Normal Normal
11. Pupil
 Ukuran Normal (2-3 mm) Normal (2-3 mm)
 Bentuk Bulat Bulat
 Tempat Sentral Sentral
 Tepi Bebas Bebas
 Reflek direct Normal Normal
 Reflek indeirect Normal Normal
12. Lensa
 Ada/Tidak Ada Ada

4
 Kejernihan Jernih Jernih
Shadow Test
 Letak Sentral Sentral
 Warna Kekeruhan TDL TDL
13. Korpus viterum TDL TDL
(funduskopi)
14. Reflek fundus (funduskopi) TDL TDL

Kesimpulan Pemeriksaan

OD OS
Visus: 6/6 Visus: 6/6
Konjungtiva : Konjungtiva bulbi tampak Konjungtiva : Konjungtiva bulbi tampak
hiperemis/injeksi konjungtiva hiperemis/injeksi konjungtiva
Edema pada kelopak mata bagian atas Edema pada kelopak mata bagian atas
Kornea: DBN Kornea: DBN
COA : DBN COA : DBN
Lensa : DBN Lensa : DBN
TIO : Normal TIO : Normal
disertai adanya sekret mukopurulen. disertai adanya sekret mukopurulen.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG/ USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan swab konjungtiva

V. RINGKASAN & DAFTAR MASALAH


Pasien datang dengan keluhan mata merah, terasa mengganjal dan keluar
kotoran mata (belekan), keluhan tersebut disertai adanya demam subfebris. Dari
hasil pemeriksaan palpebra tampak edema, konjungtiva hiperemis, sekret
berwarna kuning kehijauan pada mata kanan dan mata kiri. Sekret banyak pada
saat pagi hari. Keluhan tersebut timbul setelah pasien mengucek-ngucek mata
pada saat terkena debu dan keringat dalam keadaan tangan kotor.

VI. DIAGNOSIS
 Diagnosis Banding
- Konjungtivitis bakterial akut

5
- Konjungtivitis viral
- Konjungtivitis alergika
- Konjungtivitis klamidia
 Diagnosis Sementara
Konjungtivitis bakterial akut

VII. RENCANA/ USULAN TERAPI


 Umum
- Selama masih dalam masa pengobatan jangan menggunakan kontak lens
terlebih dahulu
- Jangan mengucek mata
- Tangan harus dalam keadaan bersih apabila akan berkontak dengan bagian
mata
- Jangan menggunakan lap atau handuk yang sama dengan penghuni rumah
yang lainnya
 Farmakoterapi
Antibiotik : Chlorampenicol 0,5%
Antipiretik : Paracetamol 500 mg

VIII. PROGNOSIS
- Ad Visam : Bonam
- Ad Sanam : Bonam
- Ad Vitam : Bonam
- Ad Kosmetikam : Bonam

6
BAB II
PEMBAHASAN

A. Manifestasi Klinis
Dari hasil autoanamnesis terhadap Tn.P beliau mengeluhkan mata merah,
terasa mengganjal dan keluar kotoran mata ( belekan). Keluhan tersebut muncul
sejak satu hari yang lalu hingga sampai saat dilakukan autoanamnesis. Gejala yang
dirasakan Tn.P yaitu mata terasa mengganjal disertai keluarnya kotoran mata
terutama pada saat bangun tidur.Pada saat bangun tidur mata terasa lengket dan
sekret berwarna kuning kehijauan. Tn. P mengaku hal tersebut cukup mengganggu
karena pada saat mata dalam keadaan terbuka dan tertutup terasa seperti ada yang
mengganjal. Dari hasil inspeksi mata kanan dan kiri kelopak mata tampak sedikit
edema, sklera tampak kemerahan, sekret purulen,konjungtiva bulbi hiperemis dan
terdapat injeksi konjungtival.
Dari hasil autoanamnesis kami mendapatkan beberapa diagnosis banding yang
berhubungan dengan gejala yang timbul pada pasien yaitu :
- Konjungtivitis bakterial akut
- Konjungtivitil viral
- Konjungtivitis alergika
- Konjungtivitis klamidia
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang
membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebra) dan
permukaan anterior sklera ( konjungtiva bulbaris). Konjungtiva mengandung kelenjar
musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata
terutama kornea.
Konjungtivitis merupakan peradangan kunjungtiva atau merahnya selaput mata
yang biasanya berwarna putih yang dapat karena infeksi, reaksi alergi, atau fisik
seperti sinar ultra violet. Dapat bersifat akut atau menahun. Gejala pada
konjungtivitis dapat disertai keluhan dan tanda sebagai berikut :
 Mata merah ( hiperemia)
Hiperemia merupakan tanda klinis konjungtivitis akut yang paling menyolok.
Kemerahan paling jelas di forniks dan makin berkurang ke arah limbus karena
dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior. Pada mata normal sklera
terlihat berwarna putih karena sklera dapat terlihat melalui bagian konjungtiva
dan kapsul Tenon yang tipis dan tembus sinar. Hiperemia konjungtiva terjadi
akibat bertambahnya asupan pembuluh darah. Warna merah terang
mengesankan konjungtivitis bakteri, dan tampilan putih susu mengesankan

7
konjungtivitis alergika. Mata merah pada kasus konjungtivitis bakteri disebabkan
karena melebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva posterior disebabkan
karena adanya infeksi.
 Mata kotor atau adanya belek terutama di pagi hari
Sekret dikeluarkan oleh epitel yang mempunyai sel lendir atau pada sel
goblet konjungtiva. Oleh karena itu, apabila terdapat keluhan sekret yang
berlebihan hal ini menunjukkan terjadi kelainan pada konjungtiva yang biasanya
berupa konjungtivitis. Jumlah sekret lebih banyak pada pagi hari terutama
sewaktu bangun pagi. Penutupan kelopak mata yang lama akan membuat suhu
sama dengan suhu tubuh yang akan mengakibatkan berkembang biaknya kuman
dengan baik, karena suhu badan merupakan inkubator yang optimal untuk
kuman sehingga kuman akan memberikan peradangan yang lebih berat pada
konjungtiva sehingga sekret akan bertambah di waktu bangun pagi. Sedangkan,
pada kelopak mata yang terbuka suhu mata biasanya lebih rendah daripada
suhu tubuh akibat penguapan air mata.
 Fotofobia ( perasaan silau dan sakit)
 Mata berair ( epifora)
Epifora sering kali menyolok pada konjungtivitis. Sekresi air mata diakibatkan
oleh adanya sensasi benda asing, sensasi terbakar, atau oleh rasa gatal.
Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh-pembuluh yang hiperemik dan
menambah jumlah air mata tersebut.
 Kelopak bengkak atau edema palpebra
Kelopak mata bengkak disebabkan baik karena radang ataupun bukan
radang. Peradangan seperti hordeolum, konjungtivitis dan trauma. Kalazion,
penyakit ginjal, jantung dan tiroid merupakan penyebab edema palpebra yang
bukan merupakan radang ( Sidarta Ilyas, 2010).
 Limfadenopati
Pembesaran limfonodi preaurikular dan submandibular, kalau ditekan sakit
dan teraba seperti ada massa. Penyebabnya adalah infeksi virus, infeksi klamidia
dan konjungtivitis gonore yang berat ( Suhardjo dan Hartono, 2007).
 Pseudoptosis
Terkulainya palpebra superior karena infiltrasi di otot Muller. Keadaan ini
dijumpai pada beberapa konjungtivitis berat, mis, trakoma dan keratokonjungtvitis
epidemika.

8
1. Konjungtivitis bakteri
Terdapat dua bentuk konjungtivitis bakteri : akut dan kronik. Konjungtivitis bakteri
akut biasanya jinak dan dapat sembuh sendiri, berlangsung kurang dari 14 hari.
Konjungtivitis kronik biasanya sekunder terhadap penyakit palpebra atau obstruksi
ductus nasolacrimalis. konjungtivitis biasanya disebabkan oleh akibat infeksi
gonokok, meningokok, stapillococcus aureus, streptococcus pneumoniae,
hemophilus influenza dan escheria coli.
Memberikan gejala sekret mukopurulen dan purulen, kemosis konjungtiva,
edema kelopak, kadang-kadang disertai keratitis dan blefaritis. Terdapat papil pada
konjungtiva dan mata merah.
- Konjuntivitis bakteri akut
Konjungtivitis bakteri hiperakut (purulen) disebabkan oleh Ngonorrhoeae ,
Neisseria kochii dan Nmeningiditis) ditandai oleh eksudat purulen yang
banyak. Setiap konjungtivitis berat dengan banyak eksudat harus segera
dilakukan pemeriksaan laboratorium dan segera diobati. Jika ditunda dapat
terjadi kerusakan kornea.
Konjungtivitis bakteri akut ( mukopurulen) sering terdapat dalam bentuk
epidemik dan disebut mata merah “pinkeye”. Penyakit ini ditandai dengan
hiperemia konjungtiva akut dan sekret mukopurulen sedang. Penyebab paling
umum Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus aegyptius.Pengobatan
bisa diberikan dengan antibiotik tunggal sebelum dilakukan pemeriksaan
mikrobiologik.
- Konjungtivitis bakteri kronik
Terjadi pada pasien obstruksi ductus nasolacrimalis dan biasanya unilateral.
Dapat disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae. Pseudomembran atau
membran yang dihasilkan oleh organisme ini dapat terbentuk pada
konjungtiva palpebralis.
2. Konjungtivitis viral
Konjungtivitis viral adalah suatu penyakit umum yang dapat disebabkan oleh
berbagai jenis virus.
- Demam faringokonjungtiva
Demam faringokonjungtiva ditandai dengan hiperemia konjungtiva, sekret
serous, fotofobia, kelopak bengkak dengan pseudomembran, pembesaran
kelenjar linfe preaurikuar, demam 38,3-40oC, sakit tenggorokan , sekret berair
dan sedikit, serta konjungtivitis folikular pada satu atau dua mata. Biasanya
disebabkan adenovirus tipe 3 dan 7. Pengobatan hanya suportif karena dapat
sembuh sendiri.

9
- Keratokonjungtivitis epidemi
Disebabkan adenovirus 8 dan 19. Ditandai dengan mata berair berat, seperti
kelilipan, perdarahan subkongtiva, folikel terutama konjungtiva bawah,
terdapat pseudomembran.
- Konjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpes simpleks
Konjungtivitis varisela-zoster
3. Konjungtivitis alergika
Bentuk radang konjungtiva terhadap reaksi alergi terhadap agen non infeksi. Dapat
berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi lambat sesudah beberapa hari
kontak seperti saat reaksi terhadap obat, bakteri dan toksik (delay).
- Konjungtivitis vernal
Konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata
dan bersifat rekuren. Disebabkan oleh obat, bakteri dan toksik. Pada mata
ditemukan papil besar dengan permukaan rata pada konjungtiva tarsal,
dengan rasa gatal berat, sekret gelatin yang berisi eosinofil, pada kornea
erdapat keratitis, neovaskularisasi dan tukak indolen. Penatalaksanaan bisa
diberikan antihistamin, kortikosteroid, kompres dingin.
- Konjungtivitis flikten
Konjungtivitis nodular yang disebabkan alergi terhadap bakteri atau antigen
tertentu akibat reaksi hipersensitivitas tipe IV. Disebabkan tuberkuloprotein,
stafilokok, infeksi parasat dan infeksi di tempat lain dalam tubuh. Gejala pada
konjungtivitis flikten mata berair, iritasi dengan rasa sakit, fotofobia.
Penatalaksanaan dengan steroid topikal, antibiotik topikal dan air mata
buatan.
4. Konjungtivitis klamidia
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan
merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak
putih dan dapat timbul pada pasien diabetes dan pasien dengan sistem imun yang
terganggu ( Vaughan, 2012).
- Trakoma
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan
Chlamydia trachromatis. Tanda dan gejala mata berair, fotobobia , nyeri,
eksudasi, edema palpebra, kemosis konjungtiva bulbaris, hiperemia, hipertrofi
papilar, folikel tarsal dan limbal dan sebuah nodus preaurikular yang nyeri
tekan. Terapi bisa diberikan tetracycline 1-1,5 g/hari per oral dalam empat
dosis terbagi selama 3-4 minggu, doxycycline 100 mg per oral dua kali sehari

10
selama 3 minggu, atau erythromycin 1g/hari per oral dibagi dalam empat
dosis selama 3-4 minggu.

B. Penegakan diagnosis
Berdasarkan hasil autoanamnesis kami mendiagnosis Tn. P mengalami
konjungtivitis bakterial akut.Konjungtivitis akut yaitu reaksi peradangan yang muncul
tiba-tiba dan diawali dengan satu mata ( unilateral) serta dengan durasi kurang dari 4
minggu. Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik terhadap Tn.P. Dari tanda dan gejala yang dialami pasien
diagnosis banding lainnya bisa disingkirkan. Konjungtivitis bakterial akut ditandai
dengan onset yang cepat dari kemerahan pada konjungtiva dan sekret yang
mukopurulen yang merupakan tanda klasik dari konjungtivitis bakteri ( Segal et al.,
2014). Gejala utama pada konjungtivitis bakterial akut yaitu penglihatan tidak
terganggu, mata kotor ( belekan), mata merah, mata merasa adanya benda asing,
kelopak bengkak ( edema palpebra) gejala tersebut juga ditemukan pada Tn.P
disertai adanya demam. Untuk membedakan konjungtivitis bakteri dengan
konjungtivitis lainnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Konjungtivitis bakterial akut sering disebabkan oleh flora normal pada kulit seperti
Staphylococcus epidermidis, Sta. aureus, Str. pneumoniae,Haemophilus influenzae,
Moraxella catarrhalis dan bakteri gram negatif intestinal.
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti
Staphylococci, streptococci, Corynebacterium.Perubahan pada mekanisme
pertahanan tubuh ataupun pada jumlah koloni flora normal dapat menyebabkan
infeksi klinis. Perubahan pada flora normal dapat disebabkan karena adanya
kontaminasi eksternal, peyebaran dari organ sekitar atau melalui pembuluh darah.
Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang meliputi

11
konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya adalah sistem imun
yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin yang terdapat
pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan berkedip. Adanya
gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan inidapat menyebabkan
infeksi pada konjungtiva.
Mata merah pada konjungtivitis bakterial disebabkan oleh injeksi konjungtival (
melebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva posterior).
 Mudah digerakkan dari dasarnya. Hal ini disebabkan arteri konjungtiva posterior
melekat secara longgar pada konjungtiva bulbi yang mudah di lepas dari sklera
dasarnya.
 Pada radang konjungtiva pembuluh darah ini terutama didapatkan di daerah
forniks
 Ukuran pembuluh darah makin besar ke bagian perifer, karena asalnya dari
bagian perifer atau arteri siliar anterior
 Berwarna pembuluh darah yang merah segar
 Dengan tetes adrenalin 1:1000 injeksi lenyap sementara
 Gatal
 Pupil ukuran normal dengan reaksi normal
 Fotofobia tidak ada ( Sidarta Ilyas, 2009).
Sekret merupakan produk kelenjar, yang pada konjungtiva bulbi dikeluarkan oleh
sel goblet. Bila sekret konjungtiva bulbi pada konjungtivitis bersifat :
 Air , kemungkinan disebabkan infeksi virus atau alergi
 Purulen , oleh bakteri atau klamidia
 Hiperpurulen, disebabkan gonokok atau meningokok
 Lengket, oleh alergi atau vernal
 Seros, oleh adenovirus

C. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan yaitu pemeriksaan swab konjungtiva
dengan pewarnaan gram dan giemsa. Apabila dilakukan pemeriksaan sitologik
dengan pewarnaan giemsa maka akan didapatkan :
 Limfosit-monosit-sel berisi nukleus sedikit plasma, infeksi mungkin disebabkan
oleh virus
 Netrofil oleh bakteri
 Eosinofil oleh alergi
 Sel epitel dengan badan inklusi basofil sitoplasma oleh klamidia

12
 Sel raksasa multinuklear oleh herpes
 Sel Leber-makrofag raksasa oleh trakoma
 Keratinisasi dengan filamen oleh pemfigus atau dry eye
 Badan guarneri eosinofilik oleh vaksinia

D. Tatalaksana farmakoterapi
Konjungtivitis bakterial bisa bersifat self-limiting, tetapi pada sebuah jurnal
dijelaskan penggunaan antibiotik lebih efektif dibandingkan penggunaan plasebo “in
patients with acute bacterial conjunctivitis, antibiotic therapy is more effective than
placebo for early and late clinical and microbiological remission”
Pengobatan diberikan sebelum pemeriksaan mikrobiologik dengan antibiotik
tunggal seperti :
- Kloramfenikol 0,5%-1%.
Untuk tatalaksana primer konjungtivitis bakterial akut bisa diberikan antibiotik
topikal spektrum luas seperti kloranfenikol. Kloramfenikol bisa diberikan 2-3
jam sekali untuk tiga hari pertama kemudian bisa diturunkan 4 jam sekali
selama satu minggu ( Chen and Tey, 2014).
- Golongan aminoglikosida
Digunakan untuk bakteri gram negatif, Gentamisin dan Tobramisin bisa
menjadi pilihan. Penggunaan topikal aminoglikosida bisa menyebabkan
toksisitas kornea ( Chen and Tey, 2014).
- Golongan fluoroquinolon
Bisa digunakan ofloxacin, ciprofloxacin, moxifloxacin. Moxifloxacin
merupakan fluoroquinolon generasi ke empat yang kerjanya menghambat
DNA gyrase dan topoisomerase IV. Digunakan untuk terapi terhadap bakteri
gram positif.
- Azitromisin
Azitromin merupakan antibiotik makrolid generasi kedua yang mempunyai
efek anti-inflamasi. Azitromisin diturunkan dari eritromisin dengan
menambahkan satu atom nitrogen ke cincin lakton eritromisin A. Azitromisin
menghambat sintesis dari protein bakteri. Azitromisin topikal biasanya
digunakan untuk konjungtivitis bakteri purulen ( Robredo et al., 2013).
Pada kasus konjungtivitis bakteri akut terapi antibiotik awal biasanya
menggunakan tetes mata kloramfenikol ( 0,5%-1%) 6 kali sehari minimal diberikan
selama 3 hari, atau dapat juga diberikan tetes mata antibiotik berspektrum luas 6 kali
sehari ( Segal et al., 2014). Apabila memakai tetes mata, sebaiknya sebelum tidur

13
diberi salep mata ( sulfasetamid 10-15%). Tn. P juga mengalami demam sehingga
perlu diberikan antipiretik. Antipiretik adalah zat-zat yang dapat mengurangi suhu
tubuh, dapat menurunkan panas dengan cara menghambat sintesis prostaglandin
pada sistem saraf pusat. Obat-obat yang memiliki efek antipiretik contohnya :
ibuprofen, aspirin, parasetamol,metamizole.
Pada kasus tn.P dokter memberikan obat tetes mata yang mengandung
kloranfenikol 0,5% dan dexamethasone sodium phosphate 1 mg digunakan 3-4 kali
sehari satu tetes.Antipiretik yang diberikan yaitu parasetamol dosis 500 mg di minum
3 kali sehari bila perlu saja, yaitu apabila demam sudah turun dan suhu tubuh
kembali normal konsumsi obat boleh diberhentikan.

E. Tatalaksana Non-farmakoterapi
- Selama masih dalam masa pengobatan jangan menggunakan kontak lens
terlebih dahulu
- Jangan mengucek mata , karena mengucek mata bisa menyebabkan trauma
pada pembuluh darah di sekitar mata
- Tangan harus dalam keadaan bersih apabila akan berkontak dengan bagian
mata. Mencuci tangan sebelum dan sesudah memberikan pengobatan terhadap
mata sangatlah penting, untuk mencegah agar bakteri tidak bertambah banyak.
- Jangan menggunakan lap atau handuk yang sama dengan penghuni rumah
yang lainnya karena konjungtivitis bakterial sangat menular.
- Lindungi mata dari sinar matahari, debu dan udara kering.

F. Prognosis
Prognosis pada penderita ini baik, didukung oleh kepustakaan yang
mengatakan bahwa kebanyakan kasus konjungtivitis bakterial akut dapat sembuh
sendiri tanpa diberikan terapi. Komplikasi dari penyakit ini juga jarang terjadi.
Namun perlu diperhatikan pencegahan agar tidak menular kepada orang lain
mengingat angka penularannya cukup tinggi.

14
BAB III
KESIMPULAN

Pasien laki-laki berusia 20 tahun didiagnosis sebagai konjungtivitis oculi dexra dan
sisnistra ec. suspek bakterial dan diberi tatalaksana non-farmakoterapi berupa edukasi
untuk cuci tangan secara berkala dan menggunakan handuk dan alat kosmetik secara
sendiri-sendiri untuk mencegah penularan, edukasi agar melindungi mata dari sinar
matahari, debu dan udara kering. Secara medikamentosa adalah memberikan obat tetes
mata antibiotik dan antiinflamasi Erlamycetin 3-4 kali sehari dan Paracetamol 500 mg 3 kali
sehari bila perlu.

15
16

Beri Nilai