Anda di halaman 1dari 90

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Lahnil Hidayati Oktaviani


NPM : 11700028
Program Studi : Pendidikan kedokteran
Fakultas kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis dengan judul
“HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM
PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI BALITA BERPENGARUH
TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS BANGKALAN
TAHUN 2017”,
Bersdia untuk diunggah dalam e-repository Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Surabaya, 24 Juli 2017


Yang mebuat pernytaan

(Lahnil Hidayati Oktaviani)


11700028
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM
PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI BALITA BERPENGARUH
TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS BANGKALAN

Lahnil Hidayati Oktaviani. 2017


e-mail : lahnilhidayati@yahoo.co.id
Tugas Akhir. Program Studi Pendidikan Dokter.
Fakultas Kedokteran. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Pembimbing : dr Febtarini Rachmawati, Sp.PK

ABSTRAK
Pengetahuan dan sikap yang baik diharapkan anak mendapat asupan gizi
yang baik agar pertumbuhan anak sesuai dengan usia pertumbuhan dan
perkembangan. Pengetahuan dan sikap ibu akan mempertimbangkan pemberian
makanan sehari-hari dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan gizi anak. Namun
hasil studi terdahulu yang melalui wawancara diperoleh gambaran bahwa masih
terdapat ibu yang masih kurang mengerti, memahami akan pengetahuan gizi,
demikian sikap ibu masih ada yang kurang baik. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahuai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam pemenuhan
nutrisi balita terhadap status gizi balita di puskesmas Bangkalan. Tujuan
penelitian : mengetahuai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam
pemenuhan nutrisi balita terhadap status gizi balita di puskesmas Bangkalan.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik, yaitu penelitian yang
mengamati dan menganalisa langsung kepada responden dengan melakukan
penyebaran kuisioner. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan cross sectional,
yaitu penelitian yang dilaksanakan sekali atau satu periode saja.
Hasil ini diperoleh 45 responden yang memenuhi kriteria inklusi & eksklusi.
Dari hasil pengisian kuisioner tercatat mayoritas responden mempunyai tingkat
pengetahuan sedang yaitu sejumlah 23 orang (51.1%). Sedangkan responden yang
mempunyai tingkat pengetahuan baik berjumlah 17 orang (37.8%) dan responden
yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang berjumlah 5 orang (11.1%).
Mayoritas responden mempunyai tingkat sikap sedang yaitu sejumlah 24 orang
(53.3%). Sedangkan responden yang mempunyai tingkat sikap baik berjumlah 16
orang (35.6%) dan responden yang mempunyai tingkat sikap kurang berjumlah 5
orang (11.1%). mayoritas anak responden mempunyai status gizi normal yaitu
sejumlah 30 orang (66.7%). Sedangkan responden yang mempunyai status gizi
tidak baik berjumlah 15 (33.3%). Uji analisis dengan menggunakan chi square
didapatkan masing-masing hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam
pemenuhan nutrisi balita terhadap status gizi balita mempunyai P-value 0,001 <
dari nilai α (0,05). Kesimpulan terdapat hubungan positif antara tingkat
pengetahuan dan sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi balita terhadap status gizi
balita

Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, dan Status Gizi


RELATIONSHIP LEVEL KNOWLEDGE AND MOTHER ATTITUDE IN
FULFILLMENT OF NEEDS NUTRITION NEEDS TOWARDS
NUTRITION STATUS IN BUSINESS PUSKESMAS BANGKALAN
Lahnil Hidayati Oktaviani
e-mail : lahnilhidayati@yahoo.co.id
Thesis. Medical Education Program. Medical School.
Universitas Of Wijaya Kusuma Surabaya
Supervisor : dr Febtarini Rachmawati, Sp.PK

ABSTRACT

Good knowledge and attitudes are expected to get children a


good nutritional intake for the growth of children according to age of growth and
development. Mother's knowledge and attitude will consider daily feeding in
sufficient quantities for the child's nutritional needs. But the results of previous
studies through interviews obtained a picture that there are still mothers who still
lack understanding, understand the nutritional knowledge, so there is still a bad
attitude of the mother. The purpose of this research is to know the relationship of
knowledge level and mother attitude in fulfilling nutrition of balita to nutrition
status of balita at health center of Bangkalan. The purpose of the study: to know
the relationship between knowledge level and mother's attitude in nutrition
fulfillment of children under five years old at Bangkalan health center.
Research method of This research uses descriptive analytic design, that is
research that observes and analyzes directly to the respondents by distributing
questionnaires. This research also use cross sectional approach, that is research
conducted once or one period only.
Results: There were 45 respondents who met the inclusion & exclusion
criteria. From the results of filling the questionnaires, the majority of respondents
have moderate knowledge level of 23 people (51.1%). While respondents who
have good knowledge level amounted to 17 people (37.8%) and respondents who
have a level of knowledge less amounted to 5 people (11.1%). The majority of
respondents have a moderate attitude level of 24 (53.3%). While respondents who
have good attitude level amounted to 16 people (35.6%) and respondents who
have attitude level less amounted to 5 people (11.1%). majority of respondent's
children have normal nutritional status that is 30 people (66.7%). While
ix respondents who have nutritional status is not good amounted to 15 (33.3%).
Chi-square analysis test showed that each relationship of knowledge level and
mother attitude in nutrition fulfillment of children under five years old have P-
value 0,001 <from α value (0,05). Conclusion: There is a positive relationship
between the level of knowledge and attitude of the mother in the fulfillment of
nutrition of children under five to the nutritional status of children.

Keywords: Knowledge of mother's nutrition, mother's attitude, nutritional status


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

pembuatan Proposal penelitian dengan judul :

“HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM

PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI BALITA TERHADAP STATUS

GIZI BALITA DI PUSKESMAS BANGKALAN TAHUN 2016”

Proposal ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk kegiatan

penelitian guna memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana kedokteran Ucapan

terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada :

1. Kedua orang tua yang telah memberikan doa dan dukungan sehingga

penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

2. Prof. H. Soedarto, dr., DTM&H.,Ph.D.,Sp.Park.Dekan Fakultas

Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang telah memberi

kesempatan kepada penulis dalam menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran

Universitas Wijaya Kusuma.

3. dr. Febtarini Rahmawati,Sp.PK selaku pembimbing yang telah

memberikan bimbingan arahan, serta dorongan dalam menyelesaikan

tugas akhir ini.

4. dr. Widjaja Indrachan, Sp.OG selaku penguji tugas akhir yang telah

memberikan kesempatan penulis untuk mempresentasikan hasil tugas

akhir yang sudah dibuat oleh penulis.


5. Segenap tim pelaksanaan tugas akhir yang telah memberikan fasilitas

proses penyelesaian proposal penelitian.

6. Semua rekan-rekan sejawat Program Studi Kedokteran Universitas Wijaya

Kusuma Surabaya yang telah memberikan motivasi.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih banyak kekurangan, oleh

karena itu kritik dan saran selalu penulis harapkan, semoga tugas akhir ini

dapat bermanfaat.

Surabaya, 24 Juli 2017

Lahnil Hidayati Oktaviani


DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... iv
ABSTRAK .......................................................................................................... vi
ABTRACT .......................................................................................................... vii
DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... x
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL ............................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1


A. Latar belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3
1. Tujuan Umum ................................................................................... 3
2. Tujuan Khusus ................................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3
1. Instasi Pemerintah ............................................................................. 3
2. Masyarakat / subjek ........................................................................... 3
3. Peneliti ............................................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 5


A. Pengertian Pengetahuan .................................................................... 5
B. Tingkatan Pengetahuan ..................................................................... 5
C. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pengetahuan .............................. 7
D. Skala Pengukuran Pengetahuan ........................................................ 11
E. Sikap Terhadap Gizi .......................................................................... 10
F. Status Gizi Anak Balita ..................................................................... 13
1. Pengertian ..................................................................................... 13
2. Klasifikasi Balita .......................................................................... 14
3. Faktor yang mempengaruhi status gizi balita umur 3-5 tahun ..... 17
4. Patogenesis Status Gizi ................................................................. 18
5. Penilaian Status Gizi Anak Balita ................................................ 18
6. Cara Pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan ........................ 24

BAB III KERANGKA KONSEP ...................................................................... 26


A. Kerangka Konsep .............................................................................. 26
B. Hipotesis ............................................................................................ 27

BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................... 28


A. Jenis dan Rancangan Penelitan ......................................................... 28
B. Populasi Penelitian ............................................................................ 28
C. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ......................................... 28
D. Estimasi Besar Sampel ...................................................................... 28
E. Kriteria Pemilihan Sampel ................................................................ 29
1. Kriteria inklusi ........................................................................... 29
2. Kriteria ekslusi .......................................................................... 29
F. Variabel Penelitan ............................................................................. 29
G. Prosedur Pengambilan atau Pengumpulan Data ................................ 31
H. Cara Pengolahan dan Analisi Data .................................................... 33
I. Tempat dan Waktu Penelitan ............................................................ 34

BAB V HASIL ANALISIS DATA ..................................................................... 35


A. Gambaran Daerah penelitin ............................................................... 35
B. Karakteristik Responden ................................................................... 36
C. Analisis Bivariat ................................................................................ 44

BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................... 46


A. Keterbatasan Penelitian .................................................................... 46
B. Analisis univariat ............................................................................... 47
C. Analisis Bivariat ................................................................................ 52
BAB VII KESIMPULAN dan SARAN ............................................................ 56
A. Kesimpulan ........................................................................................ 56
B. Saran .................................................................................................. 57

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 58


Lampiran .............................................................................................................. 60
DAFTAR GAMBAR

Gambar III.1 Keranka Konsep ....................................................................... 36


Gambar V.1 Presentase Responden berdasarkan Umur Responden .............. 36
Gambar V.2 Presentase Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu .................. 37
Gambar V.3 Presentase Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu .................... 38
Gambar V.4 Presentase Responden Berdasarkan Penghasilan Ibu ............... 39
Gambar V.5 Presentase Responder Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga 40
Gambar V.6 Presentase Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu ............... 41
Gambar V.7 Presentase Responden Berdasarkan Sikap Ibu .......................... 42
Gambar V.8 Presentase Responden Berdasarkan Status Gizi ........................ 43
DAFTAR TABEL

Tabel II.1 Batas Ambang dan Istilah Status Gizi (Supariasa, 2002) .................... 19
Tabel II.2 Keuntungan dan kerugian masing-masing Indeks Antropometri ........ 20
Tabel III.1 Definisi operasional ............................................................................ 29
Tabel V.1 Jumlah responden berdasarkan umur Responden ................................ 36
Tabel V.2 Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu ................................. 37
Tabel V.3 Jumlah Reponden Berdasarkan Pekerjaan Ibu ..................................... 38
Tabel V.4 Jumlah Responden Berdasarkan Penghasilan Ibu ................................ 39
Tabel V.5 Jumlah Responden Berdasarkan Jumlah Nggota Keluarga .................. 40
Tabel V.6 Jumlah Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu .............................. 41
Tabel V.7 Jumlah Responden Berdasarkan Sikap Ibu ......................................... 42
Tabel V.8 Jumlah Responden Berdasarkan Status GIzi ....................................... 43
Tabel V.9 Analisa chi-square hubungan Pengetahuan Ibu dengan Status Gizi .... 44
Tabel V.10 Analisa chi-square Hbungan Sikap Ibu dengan Status Gizi ................ 45
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Landasan dasar pembangunan nasional yang berorientasi global dan


berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan terlaksana tanpa adanya
peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas. Indikator kualitas hidup
manusia yaitu dengan derajat kesehatan,sedangkan kesehatan ditentukan oleh
lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya disamping pelayanan kesehatan. Tidak
dapat dipungkiri bahwa gizi merupakan faktor penentu utama derajat kesehatan
untuk mencapai sumber daya manusia yang berkualitas. (Wiryo, 2005)
Masalah gizi lebih banyak terjadi pada kelompok masyarakat pedesaan yang
mengkonsumsi bahan pangan yang kurang, baik jumlah maupun mutunya.
Sebagian besar dari masalah tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi. Namun
demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa faktor sosial, budaya dan faktor ketidak
tahuan juga mempengaruhi secara nyata gambaran menyeluruh mengenai
,masalah gizi di daerah masyarakat miskin. Pemberian makanan padat dini pada
bayi baru lahir yang sebagaian besar berupa pisang ataupun nasi, disamping
karena faktor kemiskinan juga sangat dipengaruhi oleh kekerabatan sosial, dan
kultur kebiasaan masyarakat. Kebiasaan pemberian makanan yang telah terjadi
karena ketidaktahuan, tahayul dan adanya kepercayaan yang salah. ( Wiryo, 2005)
Menurut data WHO tahun 2005, Indonesia tergolong sebagai negara dengan
status kekurangan gizi yang tinggi pada 2004 karena 5.119.935 balita dari
17.983.244 balita Indonesia. (28,47%) termasuk kelompok gizi kurang dan gizi
buruk. Data dari Departemen Kesehatan menyebutkan pada 2004 masalah gizi
masih terjadi di 77,3% kabupaten dan 56% kota di Indonesia. Data tersebut juga
menyebutkan bahwa pada 2003 sebanyak lima juta anak balita (27,5 persen)
kurang gizi dimana 3,5 juta (19,2 persen) diantaranya berada pada tingkat gizi
kurang dan 1,5 juta (8,3 persen) sisanya mengalami gizi buruk (Depkes RI, 2005).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Julita Nainggolan dan Remi Zuraida di
Puskesmas Rajabasa Indah Kelurahan Rajabasa Raya Bandar Lampung
2

mendapatkan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap ibu
dalam pemenuhan nutrisi yang baik dengan status gizi balita dan pengetahuan gizi
ibu merupakan adalah faktor yang paling kuat hubungannya dengan status gizi
balita. Penelitian lain yang dilakukan oleh Nuriz Zuraida Rakhmawati mengenai
hubungan pengetahuan dan sikap ibu dalam pemberian makanan balita
mendapatkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan
perilaku pemberian makanan anak usia 12-24 bulan dan terdapat hubungan
bermakna antara sikap ibu dengan perilaku pemberian makanan anak usia 12-24
bulan.
Berdasarkan laporan status gizi balita menurut jenis kelamin dan
kabupaten provinsi Jawa Timur tahun 2012 di kota Bangkalan ditemukan balita
dengan gizi buruk 2 dan berdasarkan laporan status gizi balita menurut jenis
kelamin Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Kota Bangkalan ditemukan gizi
kurang 59 balita dan gizi buruk 2 balita dengan UPTD (Unit Pelaksana Tekhnis
Daerah) Kalampangan 15 balita dengan gizi kurang dan UPTD Kayon 9 balita
dengan gizi kurang. Dari hasil pemantauan status gizi pada tahun 2013 di UPTD
Kayon didapatkan bahwa balita dengan status gizi sangat kurang 3 dan kurang 26
berdasarkan berat badan/ umur, sangat pendek 1 dan pendek 18, sangat kurus 15
dan kurus 29 balita dari 225 balita yang diambil secara acak oleh UPTD Kayon,
sedangkan laporan GIZI, KIA, IMUNISASI P2M dan KB bulanan dari UPTD
Kayon tahun 2014 dari bulan januari sampai juli didapatkan bahwa jumlah balita
dengan garis merah (BGM) adalah 76.
Dengan melihat kenyataan diatas pada kesempatan ini penulis bermaksud
melakukan penelitian di puskesmas bangkalan untuk mengetahui apakah kejadian
yang berlangsung di kota palangkaraya juga terjadi di bangkalan. Selain itu
penulis juga akan melakukan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi
terhadap status gizi balita di puskesmas Bangkalan.
3

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti berkeinginan untuk mengangkat


permasalahan apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan sikap
ibu dalam pemenuhan nutrisi terhadap status gizi balita di puskesmas bangkalan?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu dalam


pemenuhan nutrisi balita terhadap status gizi balita di puskesmas Bangkalan.

2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui tingkat pengetahuan gizi ibu dalam pemenuhan nutrisi balita di


puskesmas Bangkalan.
2. Mengetahui bagaimana sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi di puskesmas
Bangkalan.
3. Mengetahui status gizi balita balita di puskesmas Bangkalan.
4. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap Ibu dalam pemenuhan
nutrisi terhadap status gizi balita di puskesmas Bangkalan.

D. Manfaat Penelitian

1. Instasi Pemerintah

Sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan penanganan gizi buruk pada
balita yang sudah dilakukan sehingga dapat diharapakan lebih meningkatkan
pelayanan kesehatan khususnya bagi balita dalam pemenuhan nutrisi yang baik
dan seimbang.

2. Masyarakat / subjek

Diharapkan penelitian ini mampu menambah wawasan dan pengetahuan


bagi masyarakat dalam pemenuhan nutrisi yang baik dan seimbang bagi balita
sehingga tidak ditemukan lagi balita dengan gizi kurang atau gizi buruk dalam
masyarakat.
4

3. Peneliti

Diharapkan penelitian ini dimanfaatkan sebagai tahap pembelajaran dan


menerapakan teori yang telah di pelajari selama pendidikan untuk meningkatkan
daya pikir dan kritis dalam menganalisa suatu permasalahan yang terjadi di
masyarakat sekaligus dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dimasyarakat
selain menambah pengetahuan dalam penulisan propsal penelitian dan menambah
pengalaman dalam bidang penelitian khususyna dalam pemenuhan nutrisi yang
baik dan seimbang bagi balita.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pengetahuan

Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta


dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi
kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya.
Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara
orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu
pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat
mengalami reorganisasi karena ada pemahaman-pemahaman baru
(Muhibbin Syah, 2008).
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” d an ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh
melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang yang disebut overbehavior. Karena
dari pengalaman dan penelitian yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng daripada pelaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2003).

B. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2003), pengetahuan seseorang terhadap objek


mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda-beda. Secara garis besar
dibagi dalam 6 tingkatan, yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat
ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang
6

spesifik di seluruh badan yang dipelajari merupakan tingkatan


pengetahuan yang paling rendah (Notoatmojo, 2003).
b. Memahami (Comprehention)
Menahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar, orang yang
telah paham terhadap objek suatu materi harus dapat menjelaskan,
menyimpulkan, dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari
(Notoatmojo, 2003).
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi sebenarnya. Aplikasi
disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,
rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks situasi lain
(Notoatmojo, 2003).
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain
(Notoatmojo, 2003).
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis itu suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-
formulasi yang ada (Notoatmojo, 2003).
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penialain terhadap suatu materi atau objek.
Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu cerita yang telah
7

ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah


ada (Notoatmojo, 2003).
Menurut Arikunto (2006), tingkatan pengetahuan dapat
dikategorikan
berdasakan nilai sebagai berikut:
a) Pengetahuan baik : mempunyai nilai pengetahuan > 75 %
b) Pengetahuan cukup : mempunyai nilai pengetahuan 60-75 %
c) Pengetahuan kurang : mempunyai nilai pengetahuan < 60 %

C. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), faktor-faktor yang memengaruhi


pengetahuan yaitu :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur
hidup. Pendidikan merupakan proses belajar, makin tinggi pengetahuan,
makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut
menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan
cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun
dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat (Notoatmodjo, 2003).
b. Mass media/informasi
Informasi yang diperolah baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)
sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
Dengan majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa
yang dapt memengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.
Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televise, radio,
surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh bersar terhadap
pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru
8

mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi


terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Notoatmodjo, 2003).

c. Sosial budaya dan ekonomi


Kebiasaan dan tradisi adalah yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan
demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak
melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya
suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status
sosial ekonomi ini akan memengaruhi pengetahuan seseorang
(Notoatmodjo, 2003).
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,
baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh
terhadap proses masuknya pengetahuan kedalam individu yang berada
dalam lingkungan tersebut. Hal ini tejadi karena adanya interaksi timbal
balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap
individu (Notoatmodjo, 2003).
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperolah kebenaran pengetahuan yang diperolah dalam memecahkan
masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman belajar dalam bekerja
yang dikembangakan memberikan pengetahuan dan keterampilan
profesional serta pengalaman belajar sambil bekerja akan dapat
mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan
suatu manifestasi dan keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang
bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya (Notoatmodjo, 2003).
f. Usia
Usia memengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya
9

semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif
dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakuakan
persiapan demi suksenya upaya menyesuaiakn diri menuju usia tua.
Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal
dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Semakin tua
semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai semakin
banyak hal-hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya
(Notoatmodjo, 2003).

D. Skala Pengukuran Pengetahuan

Skala pengukuran pengatahuan dapat dilakukan dengan memberikan


seperangkat alat tes/kuesioner tentang objek pengetahuan yang mau diukur,
selanjutnya dilakukan penilaian dimana setiap jawaban benar dari masing-
masing pertanyaan diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0. Penilaian
dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor jawaban dengan skor
yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya berupa
persentase dengan rumus yang digunakan sebagai berikut (Notoatmodjo,
2005).

N x 100%

Keterangan :
N = nilai pengetahuan
Sp = skor yang didapat
Sm = skor tertinggi/maksimum.
Selanjutnya persentase jawaban diinterpretasikan dalam kalimat kualitatif
dengan acuan sebagai berikut :
Baik : Nilai > 75%
Cukup : Nilai 60-74%
Kurang : Nilai < 59%
10

E. Sikap Terhadap Gizi

Sikap di definisikan sebagai reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Di sini dapat di simpulkan bahwa
manifestasi sikap itu tidak dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang
tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi
terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi
yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 2003).
Selanjutnya, Notoatmodjo (2003) berpendapat bahwa sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi
tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan
merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan
kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek.
Menurut Allport 1954 (dalam Notoatmodjo, 2003) menjelaskan bahwa
sikap itu mempuyai 3 komponen pokok yaitu :
1. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek. Artinya
bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.
2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek.
Artinya bagaimana penilaian (terkandung didalamnya faktor emosi) orang
tersebut terhadap objek.
3. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave). Artinya sikap adalah
merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap
adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan).
Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk
bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap
objek. Menurut Notoatmodjo (2003) dalam hal sikap, dapat dibagi dalam berbagai
tingkatan, antara lain :
11

1. Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan


memperhatikan stimulus yang di berikan (objek). Misalnya sikap orang terhadap
gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-
ceramah tentang gizi.
2. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas
yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk
menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari
pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valving)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah
adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah di pilihnya dengan segala resiko
merupakan sikap yang paling tinggi.
Menurut Sunaryo (2004), ada dua faktor yang mempengaruhi
pembentukan dan pengubahan sikap adalah faktor internal dan eksternal.
1. Faktor internal adalah berasal dari dalam individu itu sendiri. Dalam hal ini
individu menerima, mengolah, dan memilih segala sesuatu yang datang dari luar,
serta menentukan mana yang akan diterima atau tidak diterima. Sehingga individu
merupakan penentu pembentukan sikap. Faktor interna terdiri dari faktor motif,
faktor psikologis dan faktor fisiologis.
2. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu, berupa stimulus
untuk mengubah dan membentuk sikap.

Menurut Azwar (2005) faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap


yaitu
1. Pengalaman pribadi
Jika berbagai pangan yang berbeda tersedia dalam jumlah yang cukup, biasanya
orang memiliki pangan yang telah dikenal dan yang disukai. Hal tersebut
disebabkan oleh : (a) Banyaknya informasi yang dimiliki seseorang tentang
12

kebutuhan tubuh akan gizi selama beberapa masa dalam perjalanan hidupnya, (b)
kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan gizi ke dalam memilih
makanan jajanan dan pengembangan cara pemanfaatan pangan yang sesuai.
Pengalaman pribadi adalah apa yang telah ada yang sedang kita alami akan ikut
membentuk dan mempengaruhi penghayatan anak dalam memilih makanan
jajanan.
2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Di antara orang yang biasanya dianggap penting oleh individu adalah orang tua,
orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru. Pada
umumnya anak cenderung untuk memiliki sikap searah dengan sikap orang yang
dianggap penting.
3. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan masyarakat mempunyai kekuatan yang berpengaruh dalam memilih
makanan jajanan yang akan dikonsumsi. Aspek sosial Budaya pangan adalah
fungsi pangan dalam masyarakat yang berkembang sesuai dengan keadaan
lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan pendidikan masyarakat tersebut
(Baliwati, 2004).
4. Media Massa
Dalam pemberitaan surat kabar mauoun radio atau media komunikasi lainnya,
berita yang seharusnya faktual disampaikan secara obyekstif cenderung
dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap
konsumennya.
5. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat
menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada
gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
6. Faktor Emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang
berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego (Azwar, 2005). Sikap bersifat relatif tetap, stabil, dan
terus menerus. Suatu sikap yang sudah tumbuh dalam psikis seseorang tidak
13

mudah akan berubah. Secara umum diketahui bahwa sikap itu terbentuk melalui
pengetahuan (akal) dan pengalaman. Bahkan untuk membentuk sikap diperlukan
penguatan-penguatan yang sebaiknya dilakukan. Sikap mengandung komponen
efektif, sikap terbentuk dari pengalaman seseorang, bertambah dan berkembang
dalam psikis yang lain, merupakan proses internal, melibatkan keseluruhan
pribadi dalam menanggapi objek pada suatu situasi.
Sikap terhadap gizi merupakan kecenderungan seseorang untuk menyetujui
atau tidak menyetujui terhadap suatu pernyataan (statement) yang diajukan. Sikap
terhadap gizi sering kali terkait erat dengan pengetahuan gizi. Pengukuran sikap
dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pengukuran yang dilakukan
secara langsung yaitu dengan mewawancarai atau memberi pertanyaan kepada
responden mengenai pendapatnya terhadap suatu objek (Notoatmodjo 2003).

F. Status Gizi Anak Balita

1. Pengertian

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsimakanan dan


penggunaan zat-zat gizi.Dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan
lebih (Almatsier, 2009).
Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variable tertentu
(Supariasa, 2001).
Status gizi seseorang merupakan keadaan kesehatan yang dipengaruhi oleh
keseimbangan antara pemasukan zat gizi dan pengeluaran akibat penggunaannya
oleh tubuh. Jika tubuh mendapatkan asupan makanan dalam kualitas dan kuantitas
yang terpenuhi, maka orang tersebut akan mendapatkan status gizi yang optimal
(Soediaoetama, 1999).

Pada prinsipnya, penilaian status gizi balita serupa dengan penilaian pada
periode kehidupan lain. Pemeriksaan yang perlu lebih diperhatikan tentu saja
tergantung pada bentuk kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit
tertentu.Kurang energi protein, misalnya lazim menjangkiti balita. Oleh karena
14

itu, pemeriksaan terhadap tanda dan gejala kearah sana termasuk pula kelainan
lain yang menyertainya, perlu dipertajam (Arisman, 2004).

2. Klasifikasi Balita

Lewer (1996) membagi tahap perkembangan untuk usia balita meliputi


usia bayi (0-1 tahun), usia bermain toddler (1-3 tahun), dan usia pra sekolah (3-5
tahun).

1) Usia bayi (0-1 tahun)


Bayi memiliki sistem kekebalan tubuh yang primitif dengan kekebalan
pasif yang didapat dari ibunya selama dalam kandungan. Pada saat bayi kontak
dengan antigen yang berbeda ia akan memperoleh antibodinya sendiri. Imunisasi
diberikan untuk memberi kekebalan terhadap penyakit yang dapat membahayakan
bayi bila berhubungan secara alamiah misalnya difteri dan batuk rejan (Lewer H.,
1996).

Pertumbuhan dan perkembangan pada usia bayi yang cepat yaitu aspek
kognitif, motorik dan sosial, juga pembentukan rasa percaya pada diri anak
melalui perhatian dan pemenuhan kebutuhan dasar dari orang tua.

Sebelum tahun 2001, World Health Organization (WHO) merekomen-


dasikan untuk memberikan ASI eksklusif selama 4-6 bulan.Namun pada tahun
2001, setelah melakukan telaah artikel penelitian secara sistematik dan
berkonsultasi dengan para pakar, WHO merevisi rekomendasi ASI eksklusif
tersebut dari 4-6 bulan menjadi 6 bulan.

Pertumbuhan berat badan menjadi dua kali lipat dari berat badan lahir pada
waktu umur 5 bulan, dan tiga kali lipat pada waktu berumur 1 tahun.Panjang
badan bertambah 25-30 cm dan tahun pertama. Lingkar kepala yang waktu lahir
berukuran rata-rata 34-35 cm bertambah menjadi 44 cm pada umur 6 bulan, dan
47 cm pada umur 1 tahun. Lingkar dada berukuran agak lebih kecil dari lingkar
kepala, tetapi sewaktu umur 1 tahun keduanya berukuran sama (Markum A. H.,
1991).
15

2) Usia toddler (1-3 tahun)


Anak usia toddler mulai menghasilkan antibodinya sendiri untuk
melindungi dirinya dari beberapa infeksi. Program imunisasi harus dapat
memberikan perlindungan terhadap penyakit yang parah (Lewer H., 1996).
Toddler menunjukkan perkembangan motorik yang lebih lanjut dan anak
menunjukkan aktivitas lebih banyak bergerak, mengembangkan kemampuan rasa
ingin tahu dan eksplorasi terhadap benda disekelilingnya.Pada periode toddler
risiko terjadi kecelakaan harus diwaspadai.
Anak usia ini mempunyai karakteristik yang khas yaitu bergerak terus,
tidak bisa diam dan sulit untuk diajak duduk dalam waktu relatif lama. Selain itu
kebutuhan nutrisi dan kalori menurun.Kebutuhan kalori kurang lebih 100 kkal/kg
BB (Supartini Y., 2004).
Selama tahun kedua masa kehidupan, masih nampak kelanjutan
perlambatan pertumbuhan fisik, yaitu dengan kenaikan berat badan berkisar antara
1,5 - 2,5 kg (rata-rata 2,0 kg) dan panjang badan 6-10 cm (rata-rata 10 cm) per
tahun (Markum A. H., 1991)
Perkembangan bahasa pada anak usia ini meningkat, gerakan dan
pengamatannya dapat memberitahukan keinginan dan kebutuhannya melalui
bahasa. Anak mengalami pertentangan terutama dengan ibunya, karena anak
hanya mengenal kepentingan dirinya dan tidak mengerti kepentingan orang lain.
Pada usia 2 atau 3 tahun mencapai suatu fase gemar memprotes, masa ini disebut
kopigheid’s periode (berkeras kepala).
Imunisasi pada anak harus sudah diberikan sesuai anjuran, untuk
melindungi mereka dari infeksi pada masa kanak-kanak.Kekebalan bayi terhadap
penyakit sekecil apapun sampai sistem kekebalan berkembang
sempurna.Mekanisme pengaturan panas yang buruk dapat merupakan predisposisi
mendapatkan penyakit infeksi. Anak usia toddler meskipun lebih mampu
mempertahankan suhu tubuh dengan fisiknya dibanding usia bayi, namun masih
berisiko kejang demam (Lewer H, 1996).
Tahun kedua kehidupan merupakan umur penuh resiko karena dalam
periode ini banyak berkaitan dengan faktor-faktor makanan, imunitas terhadap
16

infeksi dan ketergantungan psikologis. Menurut Jellife, secara fungsional biologis


masa umur 6 bulan hingga 2 atau 3 tahun adalah rawan. Masa itu penuh tantangan
karena konsumsi zat makanan yang kurang, disertai minuman buatan yang encer
dan terkontaminasi kuman menyebabkan diare dan marasmus.Selain itu dapat
juga terjadi sindrom kwashiorkor karena penghentian ASI yang mendadak dan
pemberian makanan padat yang kurang memadai. Imunitas pasif, yang didapat
bayi melalui antibodi maternal dan ASI akan menolong bayi dalam mencegah
infeksi selama bulan pertama kehidupan. Daya imunitas kemudian akan menurun
dan kontak dengan lingkungan akan makin meningkat, insidens dari infeksi akan
makin bertambah secara cepat dan menetap tinggi selama tahun kedua dan ketiga
kehidupan. Infeksi dan diet yang tidak adekuat akan tidak banyak berpengaruh
pada status gizi yang cukup baik. Bagi anak dengan gizi kurang, setiap episode
infeksi akan berlangsung lama dan mempunyai pengaruh yang cukup besar pada
kesehatan (Akre J, 1994).
3) Usia pra sekolah (3 – 5 tahun)
Meningkatnya kemampuan sosial pada tahun prasekolah berisiko besar
terkena infeksi yang didapat.Anak pra sekolah cenderung batuk dan flu tapi
biasanya teratasi tanpa pengobatan (Lewer H, 1996).
Kemampuan berinteraksi sosial lebih luas terutama pada anak prasekolah
dan mempersiapkan diri untuk memasuki diri untuk memasuki dunia
sekolah.Perkembangan konsep sudah dimulai pada periode ini. Perkembangan
fisik pada usia ini lebih lambat dan relatif menetap. Sistem tubuh harusnya sudah
matang dan sudah terlatih dengan toileting.Keterampilan motorik, seperti berjalan,
berlari, melompat menjadi semakin luwes, tetapi otot dan tulang belum begitu
sempurna.
Pertumbuhan anak usia ini sedikit lambat. Kebutuhan kalorinya adalah 85
kkal / kg BB. Karakteristik pemenuhan kebutuhan nutrisi pada usia pra sekolah
yaitu nafsu makan berkurang, anak lebih tertarik pada aktivitas bermain dengan
teman atau lingkungannya dari pada makan, dan anak mulai senang mencoba jenis
makanan yang baru (Supartini Y., 2004).
17

Kenaikan ukuran pertumbuhan fisik selama tahun ke 3, 4, 5 bersifat tetap,


yaitu kenaikan berat badan kurang dari 2,0 kg dan tinggi badan 6-8 cm per tahun.
Dibandingkan dengan bentuk tubuh sebelumnya kebanyakan anak usia ini akan
menjadi lebih langsing (Markum A. H., 1991).

3. Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Anak Balita Umur 3-5


Tahun

Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang pada balita secara


umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang
anak yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan dapat dibagi
dua yaitu : faktor pranatal dan lingkungan pascanatal. Faktor pranatal antara lain
gizi ibu saat hamil, mekanis, toksin, radiasi dan infeksi sedangkan faktor
lingkungan pascanatal yang mempengaruhi pertumbuhan anak setelah lahir adalah
gizi, perawatan kesehatan, penyakit kronis dan sanitasi (Soetjiningsih, 1998).

Menurut Soekirman (1999), status gizi anak dipengaruhi oleh faktor


langsung dan tidak langsung. Faktor langsung yaitu asupan makanan dan penyakit
infeksi. Anak yang mendapat makanan cukup, tetapi sering terserang penyakit
seperti diare atau demam, maka status gizinya akan kurang. Anak yang kurang
makan, daya tubuhnya menjadi lemah dan mudah terserang penyakit dan kurang
nafsu makan.

Faktor tidak langsung yang mempengaruhi status gizi anak balita meliputi
ketahanan pangan keluarga, pola asuh anak, serta pelayanan kesehatan dan
sanitasi lingkungan.Ketersediaan pangan adalah kemampuan keluarga untuk
memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluaga dalam jumlah cukup dan
bergizi.Ketersediaan pangan adalah dipengaruhi harga pangan dan daya beli serta
pengetahuan tentang gizi.Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga
untuk menyediakan waktu perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat
tumbuh kembang dengan sebaik-baiknya.Pelayanan kesehatan adalah
keterjangkauan dalam upaya pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan
seperti imunisasi, pemeriksaan kehamilan, penimbangan anak, penyuluhan
18

kesehatan dan gizi.Ketiganya berhubungan dengan pendidikan umum,


pengetahuan tentang pengasuhan anak, sifat pekerjaan sehari-hari serta adat
kebiasaan keluarga dan masyarakat. Makin tinggi tingkat pendidikan,
pengetahuan dan keterampilan makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga,
makin baik pola pengasuhan anak, termasuk pola pemberian makanan anak
(Soekirman, 1999).

4. Patogenesis Status Gizi

Patogenesis penyakit gizi kurang melalui 5 tahapan yaitu :


a) Ketidak cukupan zat gizi. Apabila ketidakcukupan zat gizi ini berlangsung
lama maka persediaan / cadangan jaringan akan digunakan untuk
memenuhi ketidakcukupan itu
b) Apabila berlangsung lama, maka akan terjadi kemerosotan jaringan, yang
ditandai dengan penurunan berat badan
c) Terjadi perubahan biokimia yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan
laboratorium
d) Terjadi perubahan fungsi yang ditandai dengan tanda yang khas
e) Terjadi perubahan anatomi yang dapat dilihat dari munculnya tanda yang
klasik

5. Penilaian Status Gizi Anak Balita

Penilaian status gizi ada 2 cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung
(Hastoety, 2002).
a) Secara Langsung
Penilaian secara langsung memiliki akurasi yang baik karena penentuan
status gizi dilakukan dengan mengukur secara langsung individu, sehingga
diperoleh hasil yang sesungguhnya tanpa melalui prediksi.Penilaian antropometri
merupakan salah satu metode penilaian status gizi secara langsung yang biasa
digunakan. Secara umum antropometri digunakan untuk melihat
ketidakseimbangan asupan energy dan protein yang terlihat pada pola
pertumbuhan fisik (Supariasa, 2002).
19

Indeks antropometri yang sering digunakan untuk menentukan status gizi


adalah berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur dan berat badan
(Supariasa, 2002). Interpretasi indeks antropometri membutuhkan standart baku
rujukan. WHO merekomendasikan penggunaan baku WHO-NCHS diseluruh
negara. Data baku rujukan WHO-NCHS disajikan dalam persentil dan skor
simpang baku atau z_score (Supariasa, 2002). Saat ini perhitungan baku standart
WHO-NHCS dapat dilakukan menggunakan software computer, seperti Gizicom
(Hastoety, 2002).
Tabel II.1 Batas Ambang dan Istilah Status Gizi (Supariasa, 2002)

Indeks Status Gizi Nilai z_score

BB/U Gizi lebih >+ 2 SD

Gizi baik - SD sampai + 2 SD

Gizi kurang < - 2 SD sampai -


3 SD
Gizi buruk

TB/U Normal + 2 SD

Pendek (stundet) - 2 SD sampai + 2


SD

BB/TB Baik (Normal) - 2 SD sampai + 2


SD
Tidak baik: Rendah (Kurus/
Wasted, Kurus sekali), Tinggi < - SD sampai -3
(Gemuk) SD, < - 3 SD dan > 2
SD
20

Tabel II.2 Keuntungan dan kerugian masing-masing Indeks Antropometri

Indeks Kelebihan Kekurangan

BB/U a.Indeks ini baik a.Umur sulit ditaksir secara


untuk mengukur tepat atau kurang dapat
status gizi saat ini dipercaya. Umur anak kurang
< 2 tahun biasanya diteliti dan
bila ada kesalahan mudah
b.Sangat sensitif dikoreksi, tapi sulit
terhadap perubahan- mempekirakan umur anak > 2
perubahan tahun

c.Pengukuran b.Ibu-ibu didaerah tertentu


objektif dan bila mungkin kurang menerima
diulang memberikan apabila anaknya ditimbang
hasil yang sama menggantung pada dacin

d.Alat mudah
dibawah dan relatif
murah

e.Mudah dilakukan
dan diteliti

TB/U a.Baik untuk menilai a.Tinggi badan tidak cepat


status gizi masa naik, bahkan tidak mungkin
lampau turun

b.Ukuran panjang b.Pengukuran relatif sulit


21

dapat dibuat sendiri, dilakukan karena anak harus


murah dan mudah berdiri tegak, sehingga perlu 2
dibawah orang untuk melakukannya

c.Pengukuran c.Menggunakan beberapa


objektif dan teknik pengukuran seperti alat
memberikan hasil ukur untuk umur < 2 tahun
yang sama apabila dan alat untuk umur > 2 tahun
diulang
d.Membutuhkan pengalaman
pengukurannya
e.Ketepatan umur sulit
d.Jarang ibu
keberatan jika
anaknya diukur

e.Paling baik untuk


usia > 2 tahun

BB/TB a.Tidak memerlukan a.Membutuhkan 2 macam alat


data umur ukur

b.Dapat b.Lebih mahal dan lebih sulit


membedakan membawa
proporsi badan
c.Pengukurannya relatif lebih
(gemuk, normal,
lama
kurus)
d.Membutuhkan 2 orang
c.Lebih baik untuk
untuk melakukannya
anak umur > 2 tahun
e.Menyebabkan estimasi yang
d.Pengukuran
rendah tentang KEP
objektif dan dapat
memberi hasil yang
sama, bila diulang
22

pengukurannya

Sumber : fajrin cit. Hastoesty (2002) cit. Supariasa (2002)

Penelitian ini menggunakan indeks berat badan menurut tinggi badan.Berat badan
memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan normal
perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan
kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai
status gizi saat ini (sekarang).Indeks BB/TB adalah merupakan indeks yang
independent terhadap umur (Supariasa cit. Jelliffe, 2001).
Di Puskesmas Lampeapi Kab.Konawe dalam menentukan status gizi anak
balita menggunakan standart berat menurut umur, dalam hal ini yang digunakan
adalah Kartu Menuju Sehat (KMS) dan ditambah dengan gejala klinis. Anak
balita dengan berat badan rendah pada kartu KMS akan Nampak berat badan
berada pada Bawah Garis Merah (BGM). Adapun protap penggunaan kartu KMS
adalah sebagai berikut :
1) Hitung umur anak dalam bulan
2) Timbang anak dengan menggunakan timbangan yang mempunyai
ukuran tepat. Anak harus memakai pakaian ringan ketika ditimbang
3) Gunakan grafik pada KMS untuk menentukan berat badan menurut
umur
a.) Lihat poros kiri pada grafik untuk mencari letak garis yang
menunjukkan berat badan anak
b.) Lihat poros dasar pada grafik untuk menentukan letak garis
yang menunjukkan umur anak dalam bulan
c.) Cari titik grafik dimana garis berat badan bertemu dengan
garis umur
4) Tentukan apakah titik itu berada diatas, pada, atau dibawah garis
merah
23

a.) Jika titik dibawah garis merah, anak itu mempunyai berat
badan sangat rendah menurut umur (BGM=Bawah Garis
Merah)
b.) Jika titik berada di atas atau pada garis merah, maka berat
badan anak tidak sangat rendah menurut umurnya. (MTBS,
DepKes RI dan WHO, 2005)

b) Secara tidak langsung


Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga, salah satunya yaitu
survei konsumsi makanan.Metode ini melihat jumlah dan jenis zat gizi yang
dikonsumsi sehari-hai.Pengumpulan dan konsumsi dapat memberikan gambaran
tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu.
Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi (Supariasa.
2000)
Metode recall24 jam merupakan pengukuran konsumsi makanan untuk
individu. Prinsip metode ini adalah mencatat jenis dan jumlah bahan makanan
yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Apabila pengukuran hanya
dilakukan 1x24 jam, maka data yang diperoleh kurang representatif
menggambarkan kebiasaan makan individu (Supariasa, 2000). Beberapa
penelitian menunjukan bahwa minimal 2x recall 24 jam tanpa berturut-turut,
dapat menggambarkan asupan zat gizi dan memberikan variasi yang lebih besar
tentang intake harian individu (Sanjur cit Supariasa, 2002).
Kelebihan dan kekurangan Metode Recall 24 jam (Supariasa, 2002) :
1) Kelebihan
(a) Mudah melaksanakannya dan membebani responden
(b) Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan alat dan tempat
khusus untuk wawancara
(c) Cepat, mencakup banyak responden
(d) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf
24

(e) Dapat memberikan gambaran konsumsi individu yang sebenarnya,


sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari
2) Kekurangan
(a) Tidak dapat menggambarkan intake zat gizi sehari-hari, bila
hanya dilakukan recall satu hari
(b) Ketepatan tergantung daya ingat responden
(c) The flat slope syndrome
(d) Butuh petugas terlatih dan terampil
(e) Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan
penelitian
(f)Tidak cocok digunakan pada saat tertentu, misalnya saat panen,
upacara adat atau agama

6. Cara Pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan

a. Cara pengukuran berat badan dan tinggi badan


1) Meletakkan timbangan berdiri pada lantai yang datar
2) Penimbangan dilakukan pada pencahayaan yang baik
3) Validasi kenormalan timbangan berada pada titik nol
4) Jika anak balita memakai pakaian yang tebal atau berlapis maka
pakaian diganti dengan pakaian yang lebih tipis
5) Jika anak memakai alas kaki, maka dilepaskan terlebih dahulu
6) Sampel diminta untuk berdiri diatas timbangan dengan badan tegak
dan menghadap kedepan
7) Pemeriksa mengecek hasil penimbangan berat badan dengan jarak
minimal 30 cm dari alat ukur.
8) Hasil penimbangan ditulis pada format pedoman pendokumentasian
b. Cara mengukur tinggi badan :
1) Meletakkan Stature meter pada dinding yang datar
2) Pengukuran tinggi badan dilakukan pada pencahayaan yang baik
3) Jika anak memakai alas kaki maka dilepaskan terlebih dahulu
25

4) Sampel diminta berdiri dengan badan ditegakkan, kepala rapat


pada dinding
5) Pemeriksa mengecek hasil penimbangan berat badan dengan jarak
30 cm dari alat ukur
6) Hasil penimbangan ditulis pada format pendokumentasian
26

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep
Faktor yang mempengaruhi status
gizi balita

Langsung Tidak langsung

- Asupan makanan - Pengetahuan


- Penyakit infeksi - Sikap
(sumber:
soekirman, 1999)

Status gizi balita (baik/buruk)

GambarIII.1 Kerangka konsep

Keterangan :

: tidak diteliti

: diteliti

Status gizi anak dipengaruhi oleh faktor langsung dan tidak langsung.
Faktor langsung yaitu asupan makanan dan penyakit infeksi. Anak yang mendapat
makanan cukup, tetapi sering terserang penyakit seperti diare atau demam, maka
status gizinya akan kurang. Anak yang kurang makan, daya tubuhnya menjadi
lemah dan mudah terserang penyakit dan kurang nafsu makan. Faktor tidak
27

langsung yang mempengaruhi status gizi anak balita meliputi pengetahuan dan
sikap orang tua. Orang tua yang mempunyai pengetahuan dan sikap yang baik
terhadap gizi tentu kemungkinan terjadinya gizi buruk bagi anak lebih kecil. Pada
penelitian ini hanya faktor tidak langsung yang akan diteliti yaitu pengetahuan dan
sikap orang tua.

B. Hipotesis

Ho : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan sikap ibu dalam
pemenuhan nutrisi terhadap status gizi balita di puskesmas bangkalan.
H1 : Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dan sikap ibu dalam
pemenuhan nutrisi terhadap status gizi balita di puskesmas bangkalan.
28

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitan

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian bersifat


deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional yaitu melakukan observasi
data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat dan tidak
ada follow up. Dimana dalam penelitian ini peneliti ingin melihat hubungan
antara pengetahuan dan sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi terhadap status gizi
balita.

B. Populasi Penelitian

Populasi target dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang berdomisili di


kota Bangkalan sedangkan populasi terjangkau dari penelitian ini ibu dengan
balita yang periksa di puskesmas Bangkalan.

C. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Sampel terdiri dari berbagai populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai
subjek penelitian melalui sampling. Sampel adalah jumlah sebagian dan
karakteristik dari populasi tersebut sampel pada penelitian ini diambil dari
polpulasi terjangkau. Teknik pengambilan sampel yang dipilih dalam penelitian
ini menggunakan teknik sampling proportionate random sampling yaitu
pengambilan sampel dari populasi yang mempunyai anggota atau unsur yang
tidak homogen dan berstrata prorsional.

D. Estimasi Besar Sampel

Penentuan besar sampel pada penelitian ini menurut Slovin dengan rumus
sebagai berikut :

Keterangan:
n : Besar sampel
29

N : Besar populasi
d : Nilai kritis atau batas ketelitian yang diinginkan
(0,1)

E. Kriteria Pemilihan Sampel

1. Kriteria inklusi

2. Ibu yang mempunyai balita

3. Ibu yang mengasuh anaknya sendiri

4. Ibu yang bertempat tinggal di berdomisili di wilayah kerja Puskemas


Bangkalan

2. Kriteria ekslusi

1. Ibu yang memiliki balita yang tidak mau ditimbang


2. Ibu yang tiba-tiba pulang saat dilakukan wawancara

F. Variabel Penelitan

Identifikasi variabel dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) yaitu


variabel independen (bebas) dan variabel dependen (tergantung).

1. Variabel independen pada penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan sikap
ibu

2. Variabel dependen pada penelitian ini adalah status gizi balita

Tabel III.1 Definisi operasional

Alat
No Variabel Definisi Operasional Kriteria Skala Data
Ukur
1. Tingkat Segala informasi yang Kuisioner 1. Nilai baik, apabila Nominal
pengetahuan Diketahui dan dimengerti jawaban responden
oleh orang tua mengenai benar > 75% dari
30

penyebab gizi buruk, total nilai (55-72)


faktor-faktor yang 2. Nilai sedang,
mempengaruhi gizi balita apabila jawaban
dll responden benar 40-
75% dari total nilai
(29-54)
3. Nilai kurang,
apabila jawaban
responden benar <
40% dari total nilai
(0-28)
2. Sikap Sikap orang tua dalam Kuisioner 1. Nilai baik, apabila Nominal
menanggapi berbagai hal jawaban responden
yang menyangkut dengan benar > 75% dari
gizi balita total nilai (42-54)
2. Nilai sedang,
apabila jawaban
responden benar 40-
75% dari total nilai
(22-41)
3. Nilai kurang,
apabila jawaban
responden benar <
40% dari total nilai
(0-21)
31

3 Status gizi Status gizi ini didapatkan kuisioner 1. Normal jika: -


dari data puskesmas. 2 SD sampai + 2 Nominal
Data tersebut meliputi SD
berat badan dan tinggi
2. Tidak baik jika <
badan
-2 SD sampai -
3 SD, < - 3 SD
dan > 2 SD

G. Prosedur Pengambilan atau Pengumpulan Data

Dalam prosedur pengambilan dan pengumpulan data, peneliti melakukan


tahap – tahap sebagai berikut :

1. Data primer diperoleh dari:


a. Hasil wawancara langsung dengan responden yang berpedoman pada
kuisioner meliputi usia, jenis kelamin,status gizi balita, pengetahuan dan
sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi bagi balita yang merupakan sampel
penelitian dan akan diolah pada aplikasi SPSS for Windows.
b. Memberikan informed Consent kepada subjek penelitian untuk meminta
izin menggunakan data subjek
32

c. Melakukan penimbangan balita di berdasarkan berat badan dan tinggi


badan untuk mengetahui status gizi balita wilayah kerja puskesmas
Bangkalan
d. Cara pengukuran Pengetahuan.
Untuk pengetahuan diberikan dalam bentuk 18 pertanyaan. Dimana
untuk pertanyaan pengertian nutrisi pertanyaan nomor (1), jenis nutrisi
pertanyaan nomor (2,3,4,6,7,15,16), manfaat nutrisi pertanyaan nomor
(5,9,17,18), akibat kekurangan nutrisi pertanyaan nomor (,8,10,11,12),
cara mengolah makanan pertanyaan nomor (13), cara menyajikan makanan
pertanyaan nomor (14). Dimana setiap pertanyaan yang dijawab benar
diberi bobot 1 (satu) dan salah diberi bobot 0 (nol), kemudian dinilai
dengan menggunakan rumus :

P = f / N x 100 %

Dimana P = Presentasi

f = Jumlah jawaban yang benar

N = Jumlah skor maksimum jika jawaban benar

Setelah presentase diketahui kemudian hasilnya diinterpretasikan dengan


kriteria:

1. Baik = >75 %

2. Cukup = 40 % - 75 %

3. Kurang = < 40 %.

e. Cara pengukuran Sikap.


Aspek sikap menggunakan skala likert yang terdiri dari 4 alternatif
jawaban yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.
Untuk sikap diberikan 8 pertanyaan positif dan 3 pertanyaan negatif. Pada
pertanyaan yang bersifat favorable (positif) jawaban sangat setuju diberi
nilai 4, setuju diberi nilai3, tidak setuju nilai 2, sangat tidak setuju diberi
33

nilai 1, yakni pada pertanyaan no (1,2,3,4,7,9,10,11). Sebaliknya pada


pertanyaan unfavorable (negatif) jawaban sangat setuju diberi nilai 1,
setuju diberi diberi nilai 2, tidak setuju nilai 3, sangat tidak setuju diberi
nilai 4, yakni pada pertanyaan no (5,6,8). Berdasarkan jumlah nilai yang
diperoleh responden maka dapat dikategorikan tingkat sikap responden
sebagai berikut :
1. Tingkat sikap baik, apabila nilai yang diperoleh responden > 75%
2. Tingkat sikap sedang, apabila nilai yang diperoleh responden berkisar
antara 40-75%
3. Tingkat sikap kurang, apabila nilai yang diperoleh responden < 40%
2. Data skunder diperoleh dari:
a. Hasil dari KMS yang dimiliki oleh responden mengenai status gizi balita
dan data laporan pemeriksaan bulanan yang dilakukan oleh petugas
puskesmas Bangkalan.

H. Cara Pengolahan dan Analisi Data

1. Rencana Manajemen
a. Editing
Hasil wawancara, kuesioner dan pengamatan dilapang harus dilakukan
penyutingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan
kegiatan untuk pengecekan atau perbaikan isian formulir atau kuesioner.

b. Coding
Setelah semua kuesioner di edit atau disunting, selanjutnya dilakukan
peng”kodeaan” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding ini sangat berguna dalam
memasukan data kekomputer
c. Data Entry

Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing responden dalam bentuk


“kode” (angka atau huruf) dimasukan kedalam program atau “software”
34

komputer. Salah satu program paling sering digunakan adalah program SPSS for
windows.

d. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai
dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya
kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian
dilaukan pembetulan dan koreksi
e. Tabulating.
Data – data hasil penilitian yang telah dianalisis dangan program
komputer dimasukan kedalam tabel-tabel
2. Analisis Data
Data yang sudaah terkumpul di analisis dengan menggunakan program
SPSS analisis data meliputi:
a. Analisis univariat
Analisis univariat ( analisis persentase ) dilakukan untuk
mengambarkan distribusi frekuensi masing-masing, baik variable bebas,
variable terikat maupun deskripi karakteristik responden.
b. Analisis bivariate
Analisis bivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara 2
variabel, yaitu hubungan antara status gizi balita dengan pengetahuan ibu
dalam pemenuhan nutrisi dan hubungan antara status gizi balita dengan
sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi dengan menggunakan uji Chi square
dengan batuan program SPSS for Windows.

i. Tempat dan Waktu Penelitan

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskemas Bangkalan pada bulan


maret dan membutuhkan waktu sekitar 2 minggu dalam pengambilan data serta
pengolah data yang didapat.
35

BAB V
HASIL ANALISA DAN DATA

A. Gambaran umum daerah penelitian

Kabupaten Bangkalan adalah sebuah kabupaten di Pulau Madura, Provinsi Jawa


Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Bangkalan. Kabupaten ini terletak di ujung
paling barat Pulau Madura; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten
Sampang di timur serta Selat Madura di selatan dan barat.

Pelabuhan Kamal merupakan pintu gerbang Madura dari Jawa, di mana terdapat
layanan kapal feri yang menghubungkan Madura dengan Surabaya (Pelabuhan
Ujung). Saat ini telah beroperasi Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang
merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. Kabupaten Bangkalan merupakan
salah satu wilayah yang masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya,
yaitu Gerbangkertosusila.

Kabupaten Bangkalan terdiri atas 18 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah
273 desa dan 8 kelurahan. Pusat pemerintahannya berada di Kecamatan
Bangkalan.

Sejak diresmikannya Jembatan Suramadu, Kabupaten Bangkalan menjadi gerbang


utama Pulau Madura serta menjadi salah satu destinasi wisata pilihan di Jawa
Timur, baik dari keindahan alamnya (Bukit Jaddih, Gunung Geger, Pemandian
Sumber Bening -Langkap - Modung dsb); budaya (Karapan sapi, dsb), serta
wisata kuliner di antaranya adalah nasi bebek khas Madura.

Di puskesma rowotengah hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian


diare pada anak usia 4 sampai 6 tahun periode April 2016 telah dilakukan. Data
dari penelitian ini didapat dari data primer dari kuisioner hasil wawancara ke
responden. Jumlah sampel pada penelitian ini sebesar 58 responden. Analisis data
dari penelitian ini antara lain, analisis univariat untuk mengetahui distribusi dan
presentasi pada setiap variabel dan analisis bivariat menggunakan uji spearman
untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan
36

kejadian diare pada anak usia 4 sampai 6 tahun di Desa Rowotengah Kecamatan
Sumberbaru Kabupaten Jember.

B. Karateristik responden

1. Distribusi responden berdasarkan umur

Tabel V.1 Jumlah responden berdasarkan umur

Frekuensi Persentase
< 20 tahun 8 17.8
20 – 35 tahun 15 33.3
36 – 45 tahun 18 40.0
> 45 tahun 4 8.9
Total 45 100.0

Gambar V.1 Presentase responden berdasarkan umur responden

Berdasarkan tabel V.1 dan gambar V.1 menunjukkan perbandingan antara


responden yang mempunyai berumur <20tahun, 20-35 tahun, 36-45 tahun, >45
tahun. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas responden mempunyai umur 36-
37

45 tahun yaitu sebanyak 18 orang (40%). Sedangkan responden yang berumur 20-
35 tahun berjumlah 15 orang (33.3%), responden dengan umur <20 tahun
berjumlah 8 orang (17.8%), dan responden dengan umur >45 tahun berjumlah 4
orang (8.9%)

2. Distribusi responden berdasarkan pendidikan ibu

Tabel V.1 Jumlah responden berdasarkan pendidikan ibu

Frekuensi Persentase
SD 14 31.1
SMP 14 31.1
SMA 11 24.4
Perguruan tinggi 6 13.3
Total 45 100.0

Gambar V.2 Presentase responden berdasarkan pendidikan ibu


38

Berdasarkan tabel V.2 dan gambar V.2 menunjukkan perbandingan antara


jumlah jenjang terakhir pendidikan responden. Dari hasil kuisioner yang di isi
mayoritas responden mempunyai pendidikan terakhir SD dan SMP yaitu sejumlah
14 orang (31.1%). Sedangkan responden yang mempunyai jenjang pendidikan
terakhir berumur SMA berjumlah 11 orang (24.4%), dan perguruan tinggi
berjumlah 6 orang (13.3%).

3. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan ibu


Tabel V.2 Jumlah responden berdasarkan pekerjaan ibu

Frekuensi Persentase
Pegawai negeri 10 22.2
IRT 27 60.0
Swasta 8 17.8
Total 45 100.0

Gambar V.3 Presentase responden berdasarkan pekerjaan ibu


39

Berdasarkan tabel V.3 dan gambar V.3 menunjukkan perbandingan antara


pekerjaan responden. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas responden
mempunyai pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dengan jumlah 27 orang (60%).
Sedangkan responden yang mempunyai pekerjaan sebagai pegawai negeri
berjumlah 10 orang (22.2%), dan swasta berjumlah 8 orang (17.8%).

4. Distribusi responden berdasarkan penghasilan ibu

Tabel V.4 Jumlah responden berdasarkan penghasilan ibu

Frekuensi Persentase
< Rp 500.000 6 13.3
Rp 500.000 – 1.000.000 10 22.2
Rp 1.000.000 – 2.000.000 19 42.2
> Rp 2.000.000 10 22.2
Total 45 100.0

Gambar V.4 Presentase responden berdasarkan penghasilan ibu


40

Berdasarkan tabel V.4 dan gambar V.4 menunjukkan perbandingan antara


jumlah penghasilan ibu. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas responden
mempunyai penghasilan 1-2 juta yaitu sejumlah 19 orang (42.2%). Sedangkan
responden yang mempunyai penghasilan 5 ratus ribu – 1 juta berjumlah 10 orang
(22.2%), responden dengan penghasilan >2 juta berjumlah 10 orang (22.2%), dan
< 5 ratus ribu berjumlah 6 orang (13.3%).

5. Distribusi responden berdasarkan jumlah anggota keluarga

Tabel V.5 Jumlah responden berdasarkan jumlah anggota keluarga

Frekuensi Persentase
3 Orang 29 64.4
4 Orang 9 20.0
5 Orang 3 6.7
>5 Orang 4 8.9
Total 45 100.0

Gambar V.5 Presentase responden berdasarkan jumlah anggota keluarga


41

Berdasarkan tabel V.5 dan gambar V.5 menunjukkan perbandingan antara


jumlah anggota keluarga. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas responden
mempunyai jumlah anggota keluarga 3 orang yaitu sejumlah 29 orang (64.4%).
Sedangkan responden yang mempunyai jumlah anggota keluarga 4 orang
berjumlah 9 orang (20%), responden yang mempunyai jumlah anggota keluarga 5
orang berjumlah 3 orang (6.7%), dan responden yang mempunyai jumlah anggota
keluarga >5 orang berjumlah 4 orang (8.9%).

6. Distribusi responden berdasarkan pengetahuan ibu

Tabel V.6 Jumlah responden berdasarkan pengetahuan ibu

Frekuensi Persentase
Baik 17 37.8
Sedang 23 51.1
Kurang 5 11.1
Total 45 100.0

Gambar V.6 Presentase responden berdasarkan pengetahuan ibu


42

Berdasarkan tabel V.6 dan gambar V.6 menunjukkan perbandingan tingkat


pengetahuan ibu. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas responden mempunyai
tingkat pengetahuan sedang yaitu sejumlah 23 orang (51.1%). Sedangkan
responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik berjumlah 17 orang
(37.8%) dan responden yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang berjumlah
5 orang (11.1%).

7. Distribusi responden berdasarkan sikap ibu

Tabel V.7 Jumlah responden berdasarkan sikap ibu

Frekuensi Persentase
Baik 16 35.6
Sedang 24 53.3
Kurang 5 11.1
Total 45 100.0

Gambar V.7 Presentase responden berdasarkan sikap ibu


43

Berdasarkan tabel 5.7 dan gambar 5.7 menunjukkan perbandingan tingkat


sikapibu. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas responden mempunyai tingkat
sikap sedang yaitu sejumlah 24 orang (53.3%). Sedangkan responden yang
mempunyai tingkat sikap baik berjumlah 16 orang (35.6%) dan responden yang
mempunyai tingkat sikap kurang berjumlah 5 orang (11.1%).

8. Distribusi responden berdasarkan status gizi

Tabel V.8 Jumlah responden berdasarkan status gizi

Frekuensi Persentase
Normal 30 66.7
Tidak baik 15 33.3
Total 45 100.0

Gambar V.8 Presentase responden berdasarkan status gizi


44

Berdasarkan tabel V.8 dan gambar V.8 menunjukkan perbandingan status


gizi. Dari hasil kuisioner yang di isi mayoritas anak responden mempunyai status
gizi normal yaitu sejumlah 30 orang (66.7%). Sedangkan responden yang
mempunyai status gizi tidak baik berjumlah 15 (33.3%).

C. Analisa bivariat

1. Hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi

Tabel V.9 Analisa chi-square hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi

Pengetahuan/Status
Total
Gizi
Normal Tidak baik
P
Value
∑ % ∑ % ∑ %
Baik 15 33.3 2 4.4 17 37.8
Sedang 15 33.3 8 17.8 23 51.1 0.001
Kurang 0 0.0 5 11.1 5 11.1
Total 30.0 66.7 15.0 33.3 45 100.0

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa hasil chi-square test menunjukkan
nilai signifikan 0.001. Sedangkan untuk melihat apakah ada hubungan atau tidak
maka nilai signifikan dibandingkan dengan nilai α (0.05). Setelah dibandingkan
nilai signifikan (0.001)<α (0.05) sehingga Ho ditolak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat terdapat hubungan pengetahuan ibu dan status gizi di
puskesmas Bangkalan.
45

2. Hubungan sikap ibu dengan status gizi

Tabel V.10 Analisa chi-square hubungan sikap ibu dengan status gizi

Sikap/Status
Total
Gizi
Normal Tidak baik
P
Value
∑ % ∑ % ∑ %
Baik 14 31.1 2 4.4 16 35.6
Sedang 16 35.6 8 17.8 24 53.3 0.001
Kurang 0 0.0 5 11.1 5 11.1
Total 30.0 66.7 15.0 33.3 45 100.0

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa hasil chi-square test menunjukkan
nilai signifikan 0.001. Sedangkan untuk melihat apakah ada hubungan atau tidak
maka nilai signifikan dibandingkan dengan nilai α (0.05). Setelah dibandingkan
nilai signifikan (0.001)<α (0.05) sehingga Ho ditolak. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat terdapat hubungan sikap ibu dan status gizi di
puskesmas Bangkalan.
46

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Keterbatasan Penelitian

Penelitian dengan desain cross sectional study merupakan penelitian


analitik observasional yang pengukurannya dilakukan satu kali dan pada desain
cross sectional tidak ada prosedur tindak lanjut atau follow up.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap


ibu terhadap status gizi balita di puskesmas Bangkalan

Penelitian dengan desain cross sectional study merupakan penelitian


analitik observasional yang pengukurannya dilakukan satu kali dan pada desain
cross sectional tidak ada prosedur tindak lanjut atau follow up. Data yang
digunakan adalah data primer hasil dari kuisioner yang diisi oleh responden. Pada
waktu pengambilan data primer terdapat beberapa responden yang enggan untuk
mengisi kuisioner. Selain hal tersebut sebelum melakukan pengambilan data
primer juga terdapat kendala dalam hal penentuan populasi ataupun sampel antara
lain:

a) Keterbatasan waktu, penelitian dilakukan dengan menggunakan 45 orang


sampel sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan
informasi yang akurat pada waktu melakukan wawancara dan pengisian
kuisioner namun karena waktu yang terbatas maka wawancara dan pengisian
kuisioner dilakukan dengan tergesa-gesa yang dapat menimbulkan kurang
akuratnya data yang diterima.

b) Terdapat beberapa responden yang kurang serius dalam pengisian kuisioner


sehingga data yang diterima berkurang keakuratannya.

c) Tidak keterbukaan orang tua dalam menjawab kuisioner yang diberikan


menyebabkan menurunnya keakuratan penelitian.
47

B. Analisa univariat

1. Umur Ibu

Berdasarkan tabel V.1 mayoritas responden mempunyai umur 36-45 tahun


yaitu sebanyak 18 orang (40%). Sedangkan responden yang berumur 20-35 tahun
berjumlah 15 orang (33.3%), responden dengan umur <20 tahun berjumlah 8
orang (17.8%), dan responden dengan umur >45 tahun berjumlah 4 orang (8.9%).

Data tersebut menunjukan mayoritas responden memiliki usia masa


dewasa akhir sesuai dengan departemen kesehatan indonesia. Semakin bertambah
usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga
memudahkan ibu untuk berpikir mengingat informasi yang didapat dari luar dan
menerapkan perilaku sehat yang didapatkan dari luar. Responden dengan umur
produktif dan memiliki pendidikan formal yang cukup, mudah menerima
informasi dan memproses informasi yang didapat.

2. Pendidikan Ibu

Berdasarkan tabel V.2 mayoritas responden mempunyai pendidikan


terakhir SD dan SMP yaitu sejumlah 14 orang (31.1%). Sedangkan responden
yang mempunyai jenjang pendidikan terakhir berumur SMA berjumlah 11 orang
(24.4%), dan perguruan tinggi berjumlah 6 orang (13.3%)

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan


kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering
terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara
otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang
berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.Tingkat pendidikan
menentukan apakah seseorang dapat dengan mudah menerima, menyerap dan
memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi
pendidikan seseorang semakin baik pula pengetahuannya. Ibu dengan pendidikan
rendah akan mempengaruhi pengetahuan tentang gizi seperti dalam pemelihan
48

makanan, penyusuna menu makanan keluarga, pengolahan makanan yang


disajikan pada balita.Selain itu pengetahuan juga dipengaruhi oleh informasi atau
media massa. Informasi yang di peroleh dapat dari TV, koran, radio, internet ,
majalah dan lain-lain..

3. Pekerjaan Ibu
Berdasarkan tabel V.3 mayoritas responden mempunyai pekerjaan sebagai
ibu rumah tangga dengan jumlah 27 orang (60%). Sedangkan responden yang
mempunyai pekerjaan sebagai pegawai negeri berjumlah 10 orang (22.2%), dan
swasta berjumlah 8 orang (17.8%).

Dengan banyaknya ibu rumah tangga di wilayah keja puskesmas


Bangkalan. Hal ini justru dapat mendukung upaya peningkatan kualitas gizi
seorang anak karena para orang tua bisa lebih fokus dan konsentrasi terhadap
tumbuh kembang anak serta mempunyai waktu yang lebih banyak dalam hal
mencari informasi mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi gizi seorang anak.

4. Penghasilan Ibu

Berdasarkan tabel V.4 mayoritas responden mempunyai penghasilan 1-2 juta


yaitu sejumlah 19 orang (42.2%). Sedangkan responden yang mempunyai
penghasilan 5 ratus ribu – 1 juta berjumlah 10 orang (22.2%), responden dengan
penghasilan >2 juta berjumlah 10 orang (22.2%), dan < 5 ratus ribu berjumlah 6
orang (13.3%).

Penghasilan merupakan nilai yang menghubungkan antara tingkat


penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Tidak dapat disangkal
bahwa pendapatan keluarga akan mempengaruhi tersedia dan menentukan
makanan yang akan disantap oleh keluarga sehari-hari, baik kualitas maupun
kuantitas makanan yang disedikan. Walaupun demikian banyak anggapan bahwa
makanan yang berkualtias dan bergizi hanya dapat disediakan pada keluarga
dengan penghasilan cukup. pengetahuan tentang makanan bergizi dalam berbgai
sumber bahan makanan bagi kesehatan keluarga membantu ibu dalam memilih
49

dan menyediakan makanan dengan harga yang tidak mahal akan tetatpi memiliki
kandungan gizi yang baik bagi keluarga terutama balita. Selain itu pendapatan
juga mempengaruhi tersedianya makanan, keluarga dengan pendapatan terbatas
mungkin akan mendapat makanan yang kurang memenuhi zat gizi dalam
tubuhnya, sebaliknya keluarga dengan pendapatan lebih akan mendapatkan
makanan yang dapat memenuhi zat gizi bagi tubuhnya .

Dengan melihat jumlah peghasilan yang mayoritas masih 1-2 juta maka
dapat disimpulkan bahwa sebagian masyarakat di wilayah kerja bangkalan masih
memiliki penghasilan dibawah rata-rata yaitu dibawah UMK bangkalan yang
berkisar 1.4 juta rupiah. Hal ini dapat mempengaruhi usaha untuk memperbaiki
perbaikan gizi masyarakat. Dengan daya beli yang rendah maka kemungkinan
terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi yang baik bagi
keluarganya.

5. Jumlah Anggota Keluarga

Berdasarkan tabel 5.5 mayoritas responden mempunyai jumlah anggota


keluarga 3 orang yaitu sejumlah 29 orang (64.4%). Sedangkan responden yang
mempunyai jumlah anggota keluarga 4 orang berjumlah 9 orang (20%), responden
yang mempunyai jumlah anggota keluarga 5 orang berjumlah 3 orang (6.7%), dan
responden yang mempunyai jumlah anggota keluarga >5 orang berjumlah 4 orang
(8.9%).

Sebuah keluarga sangat begitu mengingikan kehadiran seorang anak akan


tetapi tidak semua keluarga tidak mengetahui jumlah anggota keluarga yang ideal
walaupun pemerintah sudah melakukan program keluarga berencana yaitu
menyarankan 2 anak cukup. memiliki anak yang banyak akan mempengaruhi pola
asuh dan kasih sayang dari keluarga terutama dari ibu sehingga perhatian ke anak
akan terbagi dan kurang diterima oleh anak, kondisi ini diperburuk lagi apabila
penghasilan keluarga tersebut rendah. Dengan memiliki jumlah anggota keluarga
yang sesuai dengan program pemerintah tentunya akan dapat menjaga kesehatan
50

ibu dan balita tersebut, ikatan emosional dan kondisi peronomian akan lebih
terkontrol.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Dewi Kurni yang mendapatkan bahwa
jumlah anggota keluarga terbanyak adalah keluarga dengan jumlah besar 4 dan 5
orang masing –masing sebanyak 41,5 % hal ini berbeda dengan dengan penelitian
yang dilakukan oleh peneliti di wilayah kerja puskesmas bangkalan yaitu
mayoritas ibu memiliki anggota keluarga 3 orang sebanyak 64.4%.

6. Status Gizi Balita


Pada penelitian kali ini status gizi balita dilakukan dengan cara
pengukuran antropometri dengan indeks berat badan menurut umur yang diukur
melalui penimbangan di posyandu dan untuk mengetahui status gizi balita
digunakan tabel standar WHO (World Health Organitation) dengan kategori
status normal dan status tidak baik (kurang,buruk, dan lebih).

Berdasarkan tabel 5.8 mayoritas anak responden mempunyai status gizi


normal yaitu sejumlah 30 orang (66.7%). Sedangkan responden yang mempunyai
status gizi tidak baik berjumlah 15 (33.3%)

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada dasarnya ditentukan


oleh dua hal yaitu makanan yang dimakan dan keadaan kesehatan. Keadaan
kesehatan anak juga berhubungan dengan karakteristik ibu terhadap makanan dan
kesehatan, daya beli keluarga, ada tidaknya penyakit infeksi dan jangkauan
terhadap pelayanan kesehatan. Adapun faktor lain yang mempengaruhi adalah
kondisi sosial ekonomi dan budaya keluarga seperti pola asuh keluarga.
Hal ini menunjukan respon positif yang dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kualitas pemenuhan gizi balita sehingga dapat mencegah terjadinya
status gizi yang tidak baik pada daerah tersebut.
7. Pengetahuan ibu
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Di Wilayah Kerja puskesmas
Bangkala diketahui bahwa tingkat pengetahuan ibu dalam pemenuhan nutrisi
balita dengan tingkat pengetahuan baik adalah sebanyak 17 (37.8%) kemudian
51

ibu dengan tingkat pengetahuan sedang adalah sebanyak 23 (51.1%) dan ibu
dengan pengetahuan kurang adalah 5 (11.1%) .
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh Winda Morani pada
tahun 2008 di Kecamatan Kotanopan kabupaten Mandailing Natal memliki
pengetahuan yang baik adalah sebanyak 86 (97,7%) orang memiliki pengetahuan
yang baik tentang makanan bergizi dari 88 ibu. Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar ibu-ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pemenuhan gizi
yang baik bagi balitanya. Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini
terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang.
Ibu dengan pengetahuan yang baik mampu menyediakan menu makanan
yang baik untuk dikonsumsi oleh keluarganya, semakin baik pengetahuan ibu
tentang pemenuhan nutrisi yang baik bagi balita maka ia akan memperhitungkan
jenis dan jumlah makanan yang akan diolah dan dikonsumsinya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Pusekesmas
Bangkalan maka dapat dikatanakan bahwa mayoritas ibu mememiliki
pengetahuan sedang dalam hal pemenuhan nutrisi balita, hal ini masih
dikategorikan sebagai sumber daya positif yang dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kualitas pemenuhan gizi Balita.
8. Sikap ibu
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Di Wilayah Kerja puskesmas
Bangkalan diketahui bahwa diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai
tingkat sikap sedang yaitu sejumlah 24 orang (53.3%). Sedangkan responden yang
mempunyai tingkat sikap baik berjumlah 16 orang (35.6%) dan responden yang
mempunyai tingkat sikap kurang berjumlah 5 orang (11.1%).
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Rinda Sari, mengatakan bahwa responden yang mempunyai sikap
baik terhadap pemberi makanan seimbang sebesar 75%, dan responden yang
mempunyai sikap kuarang sebesar 25%.
Sikap adalah suatu reaksi atau respon seseorang terhapad stimulus atau
52

objek yang belum merupakan tindakan dan atau aktivitas. Sikap juga termasuk
kecendrungan terhadap suatu objek dengan suatu cara yang menyatakan adanya
tanda-tanda untuk menyenangi objek tersebut. Sikap diukur secara langung
maupuntidak langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat berupa pendapat
atau pernyataan terhadap responden akan suatu objek. Pada penelitian kali ini
sikap diukur adalah sikap responden terhadap bagaimana sikap responden dalam
pemenuhan nutrisi yang baik bagi balita usia 1-5 tahun apakah responden dapat
menerima pernyataan yang diberikan oleh peneliti tentang informasi tentang
balita, merespon informasi tentang nutrisi balita, menghargai informasi tentang
nutrisi balita dan bertanggung jawab terhadap nutrisi balita
Dari hasil yang ditemukan sebagian besar ibu-ibu di wilayah kerja
Puskemas Bangkalan memiliki sikap yang cukup baik dalam pemenuhan nutrisi
balitanya, hal ini sejalan dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh ibu-ibu
dikawasan tersebut, sebab secara tidak langsung pengetahuan yang baik akan
berpengaruh terhadap sikap yang baik pula. Sikap positif ini merupakan asset
yang dapat digunakan oleh pemerintah setempat dalam upaya peningkatan status
gizi balita, sebab sikap yang baik memiliki kontribusi yang cukup baik terhadap
perilaku masyarakat dalam usaha pemenuhan gizi balita.

C. Analisa bivariat

1. Hubungan pengetahuan ibu dengan status gizi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas


Bangkalan menunjukan sebagian besar ibu balita dengan status gizi balitanya
dimana dari 45 orang ibu memiliki balita dengan status gizi normal 30 (66.7%),
dan gizi tidak baik 15 (33.3%). Dari hasil penelitian dapat kita lihat juga bahwa
ibu dengan pengetahuan yang baik mempunyai status balita dengan gizi baik
sebanyak 15 (33.3%) dan balita dengan gizi tidak baik sebanyak 2 (4.4%), ibu
dengan pengetahuan yang sedang mempunyai status balita dengan gizi baik
sebanyak 15 (33.3%) dan balita dengan gizi tidak baik sebanyak 8 (17.8%), ibu
dengan pengetahuan yang kurang mempunyai status balita dengan gizi baik
sebanyak 0 (0%) dan balita dengan gizi tidak baik sebanyak 5 (11.1%).
53

Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan gizi ibu dengan status gizi balita dengan perolehan hasil P
Value < 0,05 yaitu sebesar 0,001.
Dengan demikian maka sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan
yang baik dalam pemenuhan nutrisi balita. Pengetahuan (knowledge) merupakan
hasil “tahu” seseorang setelah melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Berdasarkan teori HL Blum dan Lawrence
Green menyatakan bahwa status kesehatan dipengaruhi oleh perilaku dimana
faktor perilaku ini terdiri atas pengetahuan selain itu terdapat pula faktor
predeposisi yang merupakan yang merupakan faktor-faktor yang mempermudah
terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan,
kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi. Didukung oleh Hurlock yang menjelaskan
bahwa semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hurlock menjelaskan bahwa pada
tahapan yang lebih dewasa seseorang akan bertambah pengetahuan sebelum
akhirnya mencapai masa penurunan daya ingat.
Tingkat pengetahuan seseorang sangat menentukan apakah orang tersebut
dapat menerima, memahami pengetahuan yang didapatkannya dan pada umumnya
semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah orang tersebut
dapat menerima dan memahami pengetetahuan yang diberikan kepadanya.
Pengetahuan yang baik mengenai pemenuhan nutrisi yang baik bagi balita sangat
penting untuk dapat diterima dan dipahami oleh ibu agar status gizi balita tidak
mengalami gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan balitanya.
Dari penjelasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
tingkat pengetahuan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi balita terhadap status
gizi balita, penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Julita Nainggolan dan Remi Zuraida di Puskesmas Rajabasa Indah Kelurahan
Rajabasa Raya Bandar Lampung mendapatkan pengetahuan gizi ibu merupakan
adalah faktor yang paling kuat hubungannya dengan status gizi balita, akan tetapi
pengetahuan yang baik dalam pemenuhan nutrisi balita bukan satu-satunya faktor
54

yang menentukan status gizi balita tersebut terdapat faktor lain yang dapat
mempengaruhi status gizi balita seperti usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu,
pengahasilan ibu, jumlah anggota keluarga ibu dan sumber informasi atau
pengetahuan mengenai makanan dan minuman yang berkualitas bagi balitanya.

2. Hubungan sikap ibu dengan status gizi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas


Bangkalan menunjukan sebagian besar ibu balita dengan status gizi balitanya
dimana dari 45 orang ibu memiliki balita dengan status gizi normal 30 (66.7%),
dan gizi tidak baik 15 (33.3%). Dari hasil penelitian dapat kita lihat juga bahwa
ibu dengan sikap yang baik mempunyai status balita dengan gizi baik sebanyak 14
(31.1%) dan balita dengan gizi tidak baik sebanyak 2 (4.4%), ibu dengan sikap
yang sedang mempunyai status balita dengan gizi baik sebanyak 16 (35.6%) dan
balita dengan gizi tidak baik sebanyak 8 (17.8%), ibu dengan sikap yang kurang
mempunyai status balita dengan gizi baik sebanyak 0 (0%) dan balita dengan gizi
tidak baik sebanyak 5 (11.1%). Berdasarkan hasil uji statistik diketahui bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan status gizi balita
dengan perolehan hasil P Value < 0,05 yaitu sebesar 0,001.
Hasil tersebut Hal ini sejalan dengan penelitian Mardiana yaitu responden
yang mempunyai sikap mendukung sebanyak 66% cenderung mempunyai balita
dengan status gizi yang baik dan responden yang mempunyai sikap tidak
mendukung sebanyak 33% cenderung mempunyai balita dengan status gizi yang
tidak baik. Menurut Notoatmodjo, S. sikap adalah suatu reaksi atau respon masih
tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap yang positif
terhadap nilai-nilai kesehatan terutama nilai gizi biasanya terwujud dalam suatu
tindakan nyata. Namun tidak disetiap keadaan kita menjumpai sikap yang sesuai
dengan tindakannya. Ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi seseorang
dalam melakukan tindakan. Newcomb, salah satu seorang psikologis sosial
menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,
dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap merupakan suatu
55

kesiapan untuk bereaksi terhadap objek tertentu sebagai suatu penghayatan yang
terdiri dari menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab.
Dalam terbentuknya perilaku menurut Teori WHO (Wolrd Health
Organitation) menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku
tertentu adalah salah satunya yaitu sikap. Sikap menggambarkan suka atau tidak
suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri
atau orang lain yang paling dekat. Sikap membuat seseorang mendekati atau
menjauhi orang lain atau objek lain.
56

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Tingkat pengetahuan ibu dalam pemenuhan nutrisi balita di wilayah kerja


puskesmas Bangkalan tahun 2016 adalah sebanyak 33.3% ibu memiliki
pengetahuan yang baik dalam pemenuhan nutrisi balitanya, kemudian ibu
dengan tingkat pengetahuan cukup dalam pemenuhan nutrisi balita adalah
sebanyak 33.3% dan ibu dengan pengetahuan kurang dalam pemenuhan
nutrisi balitanya adalah 0%.

2. Sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi balita di wilayah kerja puskesmas


bangkalan tahun 2016 adalah sebanyak 33.3% memiliki sikap yang baik dalam
pemenuhan nutrisi balitanya, kemudian ibu dengan sikap sedang dalam
pemenuhan nutrisi balitanya adalah sebanyak 35.6% dan ibu dengan sikap
kurang dalam pemenuhan nutirsi balitanya adalah 0%.

3. Status gizi balita selama penelitian di wilayah kerja puskesmas dari 45 sampel
yang ditemukan terdapat 66.7% balita dengan status gizi normal dan 33.3%
balita dengan status gizi tidak baik

4. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dalam


pemenuhan nutrisi balita terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskemas
Bangkalan tahun 2016 dengan nilai p<0,05 yaitu 0,001

5. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dalam pemenuhan nutrisi
balita terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskemas Bangkalan tahun
2016 dengan nilai p<0,05 yaitu 0,001
57

B. Saran

1. Diadakan penyuluhan dan sosialisasi terhadap masyarakat atau instansi


terkait mengenai pentingnya menjaga pola makan sehat agar balita tetap
dalam status gizi yang normal
2. Diadakan penyuluhan dan sosialisasi terhadap masyarakat atau instansi
terkait mengenai pentingnya pengetahuan terhadap penyebab gizi buruk
maupun berlebih yang dapat mengancam kesehatan balita
3. Diadakan sosialisi kepada orang tua mengenai faktor-faktor lain yang
memicu terjadinya gizi buruk pada balita
4. Melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai penyebab dan dampak
gizi buruk bagi kesehatan balita.
58

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset


Kesehatan Dasar. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010.

Ony L, Hamal D.K. Hubungan Pendidikan dan Pekerjaan Orang Tua Serta Pola
Asuh dengan Status Gizi Balita di Kota dan Kabupaten Tangerang Banten.
[Skripsi]. Jakarta : Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Prof Dr. HAMKA, 2011

World Health Organization. World Health Statistics. World Health Organization.


[internet] 2010. [ cited 2014 11 Juli ] Available from URL:
http://www.who.int/gho/publications/world_health_statistics/en/.

Rakhmawati NZ. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan Perilaku Ibu
dalam Pemberian Makanan Anak Usia 12-24 Bulan. [Skripsi]. Semarang:
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Unversitas Diponegoro,2013

Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
2001 : 132- 50

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia Pemantauan


Pertumbuhan Balita. Jakarta: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan
Republik Indonesia,2002

Mc. Wiliams, Margaret. Nutrition for The Growing Year. In Press 1993

Suhardjo, Riyadi H. Metode Penilaian Status Gizi Masyarakat (Method of


Community Nutritional Assessment). FN IUC Bogor Agricultural
University. Bogor, 1990
59

Nainggolan J, Remi Z. Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Gizi Ibu dengan
Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kelurahan
Rajabasa Raya Bandar Lampung. [Skripsi]. Bandar Lampung: Fakultas
Kedokteran Universitas Bandar Lampung, 2012

Notoatmodjo Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta: Rineka


Cipta 2007: 11-4,59-62,92

Supariasa, I Dewa Nyoman dkk. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC, 2001

Djoko Wijono. Manajemen Perbaikan Gizi Masyrakat. Surabaya: Duta Prima


Airlangga. 2009
60

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan dibawah ini saya :


Nama : Lahnil Hidayati Oktaviani
NPM : 11700028
Program Studi : Pendidikan kedokteran
Fakultas kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis
dengan judul “ HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU
DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI BALITA
BERPENGARUH TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS
BANGKALAN TAHUN 2017”, benar benar hasil karya sendiri, bukan
pengambil alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan
atau tulisan saya sendiri. Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa tugas
akhir ini adalah hasil jiplakan, maka sya bersedia menerima sanksi atau perbuatan
tersebut.

Surabaya,24 juli 2017


Yang membuat pernyataan,

(Lahnil Hidayati Oktaviani)


NPM :11700028
61

LAMPIRAN 2: Sertifikat kelayakan etik


62

LAMPIRAN 3 : Lembar Konsultasi Tugas Akhir


63
64

LAMPIRAN 4
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Lahnil Hidayati Oktaviani
NPM : 11700028
Adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya, akan melakukan penelitian dengan judul : “HUBUNGAN TINGKAT
PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM PEMENUHAN
KEBUTUHAN NUTRISI BALITA TERHADAP STATUS GIZI BALITA DI
PUSKESMAS BANGKALAN TAHUN 2016”
Untuk maksud di atas, maka saya mohon dengan hormat kepada Ibu untuk
bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui apakah ada hubungan pengetahuan, dan sikap ibu dalam pemenuhan
nutrisi dengan status gizi balita
1) Kesediaan Ibu untuk menandatangani informed consent
2) Identitas Ibu akan dirahasiakan sepenuhnya oleh peneliti.
3) Kerahasiaan informasi yang diberikan Ibu dijamin oleh peneliti karena
hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil
penelitian.
Atas perhatian dan partisipasi Ibu sekalian saya ucapkan terima kasih.

Surabaya,23 oktober 2016

Hormat saya,
65

LAMPIRAN 5

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


(Informed Consent))

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bersedia menjadi


peserta responden penelitian yang dilakukan oleh Lahnil Hidayati Oktaviani,
mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran Wijaya Kusuma Surabaya yang berjudul :
“HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM
PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI BALITA TERHADAP STATUS
GIZI BALITA DI PUSKESMAS BANGKALAN TAHUN 2016”
Persetujuan ini saya buat dengan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Surabaya,23 oktober 2016


Responden

(...................................)
66

LAMPIRAN 6
LEMBAR KUESIONER DATA RESPONDEN
Petunjuk pengisian :
Diisi oleh responden
Beri tanda silang (x) pada jawaban yang dianggap benar
Jangan memberi tanda apapun pada kotak disebelah kanan
A. Identitas Ibu
1. Umur :
a) < 20 tahun c) 20 – 35 tahun
b) 36 – 45 tahun d) > 45 tahun
2. Pendidikan Terakhir :
a) Tidak sekolah c) Lulus SMA/Sederajat
b) b) Lulus SD e) Akademi/Perguruan Tinggi
c) Lulus SMP/Sederajat
3. Pekerjaan :
a) Pegawai Negeri d )Tidak bekerja
b) Ibu rumah tangga e) Lainnya, sebutkan……
c) Swasta/wiraswasta
4. Penghasilan orang tua perbulan :
a) < Rp. 500. 000 c) Rp 500. 000 – 1.000.000
b) Rp. 1.000. 000 – 2. 000. 000 d) > Rp. 2. 000. 000
5. Berapa orang jumlah anggota keluarga……..
a) 3 orang c) 4 orang
b) 5 orang d) > 5 orang
6. Dari manakah ibu mendapatkan Sumber informasi tentang makanan dan
minuman untuk balita yang berkualitas …..
a) Petugas kesehatan d ) Televisi, radio (media elektronik)
b) Koran, majalah (media massa) e) Lainnya,sebutkan…….
c) Keluarga
67

B). Identitas Balita

1. Usia balita ……………………

2. Jenis kelamin [ ].laki-laki [ ] perempuan.

3. Berat badan balita saat ini ……………………

4. Tinggi badan balita saat ini ……………………

5. Penyakit yang diderita ……………………


sekarang

Lembar kuisoner pengetahuan


1. Pengetahuan
Petunjuk pengisian :
Diisi oleh responden
Berilah tanda ( ) pada jawaban kuesioner yang Anda anggap benar
I. Isilah pertanyaan berikut!
Soal Pengetahuan

No Pertanyaan Benar Salah

1 Makanan bergizi adalah makanan yang seimbang zat


gizinya

2 Telur adalah jenis makanan yang mengandung


karbohidrat

3 Daging, ikan, telur merupakan sumber protein

4 Jeruk, tomat, nenas banyak mengandung vitamin C

5 Karbohidrat adalah zat yang berguna untuk


menghasilkan energy
68

6 Vitamin A diperlukan untuk kesehatan gigi dan gusi

7 Susu dan keju adalah jenis makanan yang banyak


mengandung kalsium

8 Kekurangan vitamin C bisa mengakibatkan sakit gigi

9 Makanan dengan gizi seimbang penting untuk anak


karena meningkatkan daya tahan tubuh anak

10 Kekurangan zat makanan pada anak akan menyebabkan


anak menderita gizi kurang

11 Anak yang menderita gizi kurang bisa menyebabkan


gangguan tumbuh kembang anak

12 Apabila anak kekurangan masukan makanan ke dalam


tubuh sehingga berat badan tidak mau naik tiap bulan
disebut gizi kurang

13 Cara mengolah makanan yang benar adalah dipotong


dahulu bahan makanan baru dicuci

14 Anak menyukai makanan yang disediakan oleh ibu


dalam bentuk lucu, unik dan berwarna

15 Saya akan memberikan makanan 3x sehari pada anak


saya

16 Makanan yang bergizi adalah makanan yang


mengandung karbohidrat, vitamin, protein, mineral,
lemak dan air

17 Makanan bergizi sangat diperlukan bagi tumbuh


kembang anak
69

18 Pemberian makanan yang tepat akan memberikan hasil


yang lebih baik bagi pertumbuhan anak

Lembar kuisoner sikap


2. Sikap
Petunjuk pengisian:
Diisi oleh responden
Beri tanda checklist ( √ ) pada jawaban yang dianggap benar
Jawaban
No Pertanyaan ST Skor
SS ST TS
S
1 Menurut saya informasi tentang nutrisi
yang baik untuk anak sangat penting
2 Menurut saya informasi tentang nutrisi
anak sangat berguna untuk menambah
wawasan
3 Saya akan memperhatikan kebutuhan
nutrisi anak seperti karbohidrat, protein,
lemak, vitamin, mineral dan air
4 Saya merasa perlu berkonsultasi dengan
orang lain tentang nutrisi yang diperlukan
anak
5 Menurut saya anak tidak perlu makan ikan
banyak karena bisa sebabkan cacingan
6 Menurut saya anak tidak perlu diberikan
sayur, cukup dengan ikan saja yang penting
anak mau makan
7 Saya akan memberikan makanan yang
sama dengan keluarga pada anak dengan
porsi kecil tapi sering
70

8 Menurut saya anak tidak perlu diberikan


susu karena sudah bisa makan makanan
orang dewasa
9 Saya akan memberikan minum susu 2-3
gelas sehari pada anak
10 Saya akan memberikan makanan pada anak
tanpa ada pantangan makan dan sesuai
dengan kebutuhannya
11 Saya akan memberikan makan anak saya
teratur dengan pola 3 kali sehari pagi, siang
,sore

Keterangan :
TS : Tidak Setuju
SS : Sangat Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
ST : Setuju

1. Kisi-kisi Soal dan Jawaban Pengetahuan

Tingkat Pengetahuan No Pertanyaan B S

Tahu Pengertian 1 1. Makanan yang bergizi adalah 1 0


nutrisi makanan yang seimbang zat
gizinya
Jenis 2,3,4, 2. Telur adalah jenis makanan 0 1
nutrisi 7 yang mengandung karbohidrat

3. Daging, ikan, telur merupakan 1 0


sumber protein
4. Jeruk, tomat, nenas banyak 1 0
mengandung vitamin C
7. Susu dan keju adalah jenis 1 0
71

makanan yang banyak


mengandung kalsium

Manfaat 5,9 5. Karbohidrat adalah zat yang 1 0


nutrisi berguna untuk menghasilkan
energy

9. Makanan dengan gizi seimbang 1 0


penting untuk anak karena
meningkatkan daya tahan
tubuh anak

Memahami Akibat 6,8, 6. Vitamin A diperlukan untuk 0 1


kekurangan kesehatan gigi dan gusi
10,
nutrisi
11,12

8. Kekurangan vitamin C bisa 0 1


mengakibatkan sakit gigi

10. Kekurangan zat makanan pada 1 0


anak akan menyebabkan anak
menderita gizi kurang

11. Anak yang menderita gizi 1 0


kurang bisa menyebabkan
gangguan tumbuh kembang
pada anak

12. Apabila anak kekurangan 1 0


masukan makanan ke dalam
tubuh sehingga berat badan
tidak mau naik tiap bulan
disebut gizi kurang
72

Cara 13 13. Cara mengolah makanan yang 0 1


mengolah benar adalah dipotong dahulu
makanan bahan makanan baru dicuci

Cara 14 14. Anak menyukai makanan yang 1 0


menyajikan disediakan oleh ibu dalam
makanan bentuk lucu, unik dan
berwarna

Aplikasi 15 15. Saya akan memberikan 1 0


makanan dengan pola 3x
sehari pada anak saya

Analisis 16 16. Makanan yang bergizi adalah 1 0


makanan yang mengandung
karbohidrat, vitamin, protein,
mineral, lemak dan air

Sintesis 17 17. Makanan bergizi sangat 1 0


diperlukan bagi tumbuh
kembang anak

Evaluasi 18 18. Pemberian makanan yang 1 0


tepat akan memberikan hasil
yang lebih baik bagi
pertumbuhan anak

Keterangan:
B = Benar S = Salah
73

2. Kisi-kisi soal dan jawaban Sikap

Jawaban
Sikap Ibu No Pertanyaan Skor
SS ST TS STS

Menerima 1 Menurut saya 4 3 2 1


informasi informasi tentang
tentang nutrisi nutrisi yang baik untuk
batita balita sangat penting

2 Menurut saya informasi 4 3 2 1


tentang nutrisi balita
sangat berguna untuk
menambah wawasan

Merespon 3 Saya akan 4 3 2 1


informasi memperhatikan
tentang nutrisi kebutuhan nutrisi balita
batita seperti karbohidrat,
protein, lemak,
vitamin, mineral dan
air

4 Saya merasa perlu 4 3 2 1


berkonsultasi dengan
orang lain tentang
nutrisi yang diperlukan
balita

Menghargai 5 Menurut saya anak 1 2 3 4


informasi tidak perlu makan ikan
tentang nutrisi banyak karena bisa
74

batita sebabkan cacingan

6 Menurut saya anak 1 2 3 4


tidak perlu diberikan
sayur, cukup dengan
ikan saja yang penting
anak mau makan

7 Saya akan memberikan 4 3 2 1


makanan yang sama
dengan keluarga pada
balita dengan porsi
kecil tapi sering

8 Menurut saya anak 1 2 3 4


tidak perlu diberikan
susu karena sudah bisa
makan makanan orang
dewasa

Bertanggung 9 Saya akan memberikan 4 3 2 1


jawab terhadap minum susu 2-3 gelas
nutrisi anak usia sehari pada anak saya
1-5 tahun

10 Saya akan memberikan 4 3 2 1


makanan pada anak
tanpa ada pantangan
75

makan dan sesuai


dengan kebutuhannya

11 Saya akan memberikan 4 3 2 1


makan anak saya
teratur dengan pola 3
kali sehari pagi, siang
,sore

Keterangan:
TS = (Tidak Setuju)
SS = (Sangat Setuju)
STS = (Sangat Tidak Setuju)
ST = (Setuju)
1. Pertanyaan yang berwarna hitam adalah pernyataan positif
2. Pertanyaan yang diberi tanda berwarna merah adalah pernyataan negatif