Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan, semakin tinggi


suatu kecerahan perairan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air.
Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan
air akan mengurangi kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula
mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan ke dalam
suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi kecerahan air.

Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan


merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan
menggunakansecchi disk yang dikembangkan oleh Profesor Secchi pada abad ke-
19. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai ini sangat dipengaruhi
oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, padatan tersuspensi dan kekeruhan serta
ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Tingkat kecerahan air dinyatakan
dalam suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan secchi disk .

Apabila dalam suatu perairan tingkat kecerahannya rendah maka akan


mempengaruhi biota laut yang ada di dalamnya. Seperti plankton terutama
pitoplankton, dimana pitoplankton sangat membutuhkan cahaya untuk melakukan
fotosintesis. Apabila perairannya keruh maka akan menghambat pertumbuhan
pitoplankton, apabila pitoplankton tidak dapat berfotosintesi akan berdampak
pada zooplankton dimana pitoplanton merupakan makana dari zooplankton,
begitu pula zooplankton merupakan makanan dari hewan-hewan kecil dan hewan-
hewan kecil merupakan makanan dari hewan-hewan besar dan seterusnya. Jadi
apabila apabila perairan keruh akan berdampak buruk bagi seluruh biota laut yang
ada didalamnya. Selain itu keadaan perairan yang keruh juga akan mempengaruhi
kadar oksigen yang ada di dalamnya, yang akan menyebabkan biota laut
kekurangan oksigen dan mati.

Pada saat ini perairan yang ada di indonesia sebagian besar telah tercemar
dan memiliki tingkat kecerahan yang sangat rendah, ini di sebabkan oleh gaya
hidup masyarakat yang kurang perduli terhadap lingkungan sehingga linggkungan

1
menjadi sangat kotor dan tercemar. bahan pencemar ini biasanya limbah rumah
tangga yang di bawa oleh sungai, pupuk kimia dan sampah yang di bawa oleh
hujan. Namun kita masih bersyukur karena beberapa wilayah di bali memiliki
pantai yang masih memiliki tingkat kecerahan yang cukup tinggi dan
kebersihannya masih terjaga.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun Permasalahan pokok yang di ambil dalam pembuatan laporan ini


adalah
1.Apakah yang dimaksud dengan kecerahan perairan?
2.Apa dampak dari perairan yang tercemar terutama kerena tumpahan minyak?
3.Bagaimanakah kondisi perairan yang ada di indonesia?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penelutian yang kami lakukan yaitu, antara lain:
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan kecerahan perairan.
2. Untuk mengetahui apa dampak dari pencemaran perairan terutama karena
tumpahan minyak.
3. Untuk mengetahui bagaiman kondisi perairan yang ada di indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kecerahan

Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan, semakin tinggi


suatu kecerahan perairan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air.
Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan
air akan mengurangi kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula
mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan yang masuk
ke dalam suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi
kecerahan air (Effendi, 2000).Kecerahan air tergantung pada warna dan
kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan
secara visual dengan menggunakan secchi diskyang dikembangkan oleh Profesor
Secchi pada abad ke-19. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai ini
sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, padatan tersuspensi
dan kekeruhan serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Tingkat
kecerahan air dinyatakan dalam suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan secchi
disk

Tingkat kecerahan adalah suatu angka yang menunjukkan jarak penetrasi


cahaya matahari ke dalam kolom air yang masih dapat dilihat oleh mata kita yang
berada di atas permukaan air. Kedalaman suatu perairan merupakan salah satu
faktor yang membatasi kecerahan perairan. Menurut Sidabutar dan Edward
(1995), bahwa kecerahan sangat ditentukan oleh intensitas cahaya matahari dan
partikel-partikel organik dan anorganik yang melayang-layang di kolom air.
Berdasarkan hasil pengamatan dari pengukuran tingkat kecerahan pada perairan
laut Bungkutoko dengan menggunakan alat Sechi dick, diperoleh kecerahan
sebesara 24 cm dengan kedalaman 79 cm. Hal ini disebabkan karena penetrasi
cahaya dihalangi oleh partikel-partikel zat terlarut seperti Lumpur dan partikel-
partikel lain yang mengendap. Dengan tingkat kecerahan yang rendah tersebut
akan mengakibatkan organisme nabati tidak akan dapat melakukan proses

3
fotosintesis untuk menghasilkan energi dan bahan makanan. Menurut Odum
(1993), bahwa bila kekeruhan disebabkan oleh fitoplankton, maka ukuran
kekeruhan merupakan indikasi produktivitas perairan.

Kecerahan air laut juga merupakan parameter fisika yang erat kaitannya
dengan proses fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi
menunjukkan daya tembus cahaya matahari yang jauh ke dalam perairan. Begitu
juga sebaliknya. Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan ke dalam air
yang dinyatakan dalam % dari beberapa panjang gelombang di daerah spektrum
yang terlihat cahaya melalui lapisan 1 meter jauh agak lurus pada permukaan air.
Apabila kecerahan tidak baik, berarti perairan itu keruh. Kekeruhan ( turbidity )
air sangat berpengaruh terhadap ikan. Kekeruhan terjadi karena plankton, humus
dan suspensi lumpur, atau bisa juga diakibatkan

Kecerahan air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari
kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi
sinar matahari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis tumbuhan akan kurang
dibandingkan dengan air laut jernih.

Ada beberapa warna air karena beberapa sebab yaitu:

1. Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari
yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada
sinar lain.
2. Warna kuning, karena di dasarnya terdapat lumpur kuning, misalnya sungai
kuning di Cina.
3. Warna hijau, karena adanya lumpur yang diendapkan dekat pantai yang
memantulkan warna hijau dan juga karena adanya planton-planton dalam
jumlah besar.
4. Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es seperti di laut kutub
utara dan selatan.
5. Warna ungu, karena adanya organisme kecil yang mengeluarkan sinar-sinar
fosfor seperti di laut ambon.
6. Warna hitam, karena di dasarnya terdapat lumpur hitam seperti di laut hitam

4
7. Warna merah, karena banyaknya binatang-binatang kecil berwarna merah
yang terapung-apung. Selain itu karena kadar salinitas di laut itu sangat tinggi
seperti di arab yang memiliki laut berwara merah sehingga sering di sebut
laut mati.

Adapun faktor-faktor kekeruhan suatu perairan yaitu:

1. Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur.

2. Jasad-jasad renik yang merupakan plankton

3. Warna air yang ditimbulkan oleh zat-zat koloid yang berasal dari daun-
daun tumbuhan yang terekstrak.

4. Kondisi lingkungan yang ada disekitarnya seperti limbah rumah tangga


dan pupuk kimia yang terbawa oleh sungai atau air hujan.

Faktor-faktor ini dapat menimbulkan warna dalam air dan mempengaruhi


tingkat kecerahan dan kekeruhan air. Senhingga air laut yang mengandung bahan-
bahan di atas akan memiliki tingkat kecerahan air yang sangat rendah.

2.2 Dampak dari Pencemaran Air Laut Akibat Tumpahan Minyak

Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut


yang selalu menjadi fokus perhatian masyarakat luas, karena akibatnya sangat
cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak
makhluk hidup di sekitar pantai tersebut. Selain itu pencemaran ini juga
mengakibatkan terhambatnya cahaya matahari masuk ke dalam lautan dan
menyebabkan laut menjadi keruh. Pencemaran minyak semakin banyak terjadi
sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan minyak untuk dunia industri
yang harus diangkut dari sumbernya yang cukup jauh, meningkatnya jumlah
anjungan – anjungan pengeboran minyak lepas pantai. dan juga karena semakin
meningkatnya transportasi laut.

Berdasarkan PP No.19/1999, pencemaran laut diartikan sebagai


masuknya/ dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain
ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun

5
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi
dengan baku mutu dan/atau fungsinya (Pramudianto, 1999). Sedangkan Konvensi
Hukum Laut III (United Nations Convention on the Law of the Sea = UNCLOS
III) mengartikan bahwa pencemaran laut adalah perubahan dalam lingkungan laut
termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat yang buruk sehingga
dapat merusak sumber daya hayati laut (marine living resources), bahaya terhadap
kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan
penggunaan laut secara wajar, menurunkan kualitas air laut dan mutu kegunaan
serta manfaatnya (Siahaan, 1989 dalam Misran, 2002

Dampak dari Pencemaran Minyak di Laut. Komponen minyak yang tidak


dapat larut di dalam air akan mengapung yang menyebabkan air laut berwarna
hitam. Beberapa komponen minyak tenggelam dan terakumulasi di dalam
sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai. Komponen
hidrokarbon yang bersifat toksik berpengaruh pada reproduksi, perkembangan,
pertumbuhan, dan perilaku biota laut, terutama pada plankton, bahkan dapat
mematikan ikan, dengan sendirinya dapat menurunkan produksi ikan. Proses
emulsifikasi merupakan sumber mortalitas bagi organisme, terutama pada telur,
larva, dan perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada
lingkungan tercemar (Fakhrudin, 2004). Sumadhiharga (1995) dalam Misran
(2002) memaparkan bahwa dampak-dampak yang disebabkan oleh pencemaran
minyak di laut adalah akibat jangka pendek dan akibat jangka panjang.

1. Akibat jangka pendek.

Molekul hidrokarbon minyak dapat merusak membran sel biota laut,


mengakibatkan keluarnya cairan sel dan berpenetrasinya bahan tersebut ke dalam
sel. Berbagai jenis udang dan ikan akan beraroma dan berbau minyak, sehingga
menurun mutunya. Secara langsung minyak menyebabkan kematian pada ikan
karena kekurangan oksigen, keracunan karbon dioksida, dan keracunan langsung
oleh bahan berbahaya.

2. Akibat jangka panjang.

Lebih banyak mengancam biota muda. Minyak di dalam laut dapat termakan oleh
biota laut. Sebagian senyawa minyak dapat dikeluarkan bersama-sama makanan,

6
sedang sebagian lagi dapat terakumulasi dalam senyawa lemak dan protein. Sifat
akumulasi ini dapat dipindahkan dari organisma satu ke organisma lain melalui
rantai makanan. Jadi, akumulasi minyak di dalam zooplankton dapat berpindah ke
ikan pemangsanya. Demikian seterusnya bila ikan tersebut dimakan ikan yang
lebih besar, hewan-hewan laut lainnya, dan bahkan manusia.

Pencemaran minyak di laut juga merusak ekosistem mangrove. Minyak


tersebut berpengaruh terhadap sistem perakaran mangrove yang berfungsi dalam
pertukaran CO2 dan O2, dimana akar tersebut akan tertutup minyak sehingga
kadar oksigen dalam akar berkurang. Jika minyak mengendap dalam waktu yang
cukup lama akan menyebabkan pembusukan pada akar mangrove yang
mengakibatkan kematian pada tumbuhan mangrove tersebut. Tumpahan minyak
juga akan menyebabkan kematian fauna-fauna yang hidup berasosiasi dengan
hutam mangrove seperti moluska, kepiting, ikan, udang, dan biota lainnya.

Ekosistim terumbu karang juga tidak luput dari pengaruh pencemaran


minyak . Menurut O'Sullivan & Jacques (2001), jika terjadi kontak secara
langsung antara terumbu karang dengan minyak maka akan terjadi kematian
terumbu karang yang meluas. Akibat jangka panjang yang paling potensial dan
paling berbahaya adalah jika minyak masuk ke dalam sedimen.

2.3 Kondisi Perairan di Indonesia

Dengan 17.504 pulau, Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di


dunia1. Garis pantainya mencapai 95.181 kilometer persegi, terpanjang di dunia
setelah Kanada, Amerika Serikat dan Rusia. Enam puluh lima persen dari total
467 kabupaten/kota yang ada di Indonesia berada di pesisir2. Pada 2010 populasi
penduduk Indonesia mencapai lebih dari 237 juta orang3, dimana lebih dari 80%
hidup di kawasan pesisir4.

Kepulauan Indonesia terbentang antara terumbu karang di Indonesia


mencapai 50.875 kilometer persegi5, atau sekitar 18% dari total kawasan terumbu
karang dunia. Sebagian besar terumbu karang ini berlokasi di bagian timur
Indonesia, di wilayah yang lazim disebut segitiga karang (coral triangle).
Terumbu karang Indonesia di kawasan segitiga karang adalah salah satu yang

7
terkaya dalam keanekaragaman hayati di dunia, rumah bagi sekitar 590 spesies
karang keras6. Terumbu di Kepulauan Raja Ampat diakui para ilmuwan sebagai
“pusat” keanekaragaman hayati terumbu karang dunia7.

Selain membawa keuntungan ekonomi, ekosistem terumbu karang


melindungi pantai dari hantaman gelombang, sehingga mengurangi abrasi dan
kerusakan. Terumbu karang juga berkontribusi kepada sektor penangkapan ikan
dengan menyediakan daerah pemijahan dan asuhan, penyediaan makanan dan
tempat berlindung beragam jenis mahluk laut. Indonesia mempunyai sebaran
ekosistem mangrove yang luas, bahkan terbesar di dunia (FAO, 2007). Menurut
Spalding et al. pada 2010 diperkirakan luas mangrove di Indonesia sekitar
3,189,359 hektar, hampir mencapai 60% luas total mangrove Asia Tenggara.
Jumlah ini juga merupakan 20% dari total tutupan mangrove yang ada di dunia.
Menurut FAO, ada 48 spesies mangrove di Indonesia, membuat Indonesia
menjadi pusat penting keanekaragaman hayati mangrove dunia. Ekosistem padang
lamun Indonesia diperkirakan sebesar 30,000 km2,dimana terdapat 30 dari 60
spesies padang lamun yang ada di dunia8. Meski pemerintah telah berinisiatif
untuk memimpin upaya konservasi, sebagian besar ekosistem laut Indonesia yang
luas ini masih berada dalam ancaman.

Menurut World Resources Institute, pada 2011 ada 139.000 kilometer


persegi kawasan wilayah laut yang dilindungi di Indonesia9. Pemerintah
berkomitmen meningkatkannya menjadi 200.000 kilometer persegi pada 202010.
Tetapi pengelolaan kekayaan sumberdaya hayati pesisir dan kawasan terlindungi
ini masih menjadi tantangan berat. Data terbaru (2012) Pusat Penelitian
Oseanokarang Indonesia yang tergolong sangat baik. Sementara 27,18%-nya
digolongkan dalam kondisi baik, 37,25% dalam kondisi cukup, dan 30,45%
berada dalam kondisi buruk11. Bahkan, Burke, dkk. menyebutkan setengah abad
terakhir ini degradasi terumbu karang di Indonesia meningkat dari 10% menjadi
50%12. Penyebab kerusakan terumbu karang diantaranya adalah pembangunan di
kawasan pesisir, pembuangan limbah dari berbagai aktivitas di darat maupun di
laut, sedimentasi akibat rusaknya wilayah hulu dan daerah aliran sungai,
pertambangan, penangkapan ikan merusak yang menggunakan sianida dan alat
tangkap terlarang, pemutihan karang akibat perubahan iklim, serta penambangan

8
terumbu karang. Indonesia sudah kehilangan sebagian besar mangrovenya. Dari
1982 hingga 2000, Indonesia telah kehilangan lebih dari setengah hutan
mangrove, dari 4,2 juta hektar hingga 2 juta hektar13. Masalah yang dihadapi oleh
terumbu karang dan mangrove juga dialami ekosistem padang lamun. Ekosistem
padang lamun Indonesia kurang dipelajari dibanding terumbu karang dan
mangrove. Tetapi berdasar berbagai indikasi, padang lamun juga rentan terhadap
gangguan alam dan kegiatan manusia. Seperti pengerukan terkait pembangunan
real estate pinggir laut, pelabuhan, industri, saluran navigasi, limbah industri
terutama logam berat dan senyawa organolokrin, pembuangan limbah organik,
limbah pertanian, pencemaran minyak, dan perusakan habitat di lokasi
pembuangan hasil pengerukan14.

9
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Adapun simpulan dari laporan pengukuran tingkat kecerahan air laut yang
kami buat yaitu:

1. Kecerahan air merupakan ukuran kejernihan suatu perairan, semakin tinggi


suatu kecerahan perairan semakin dalam cahaya menembus ke dalam air.
Kecerahan air menentukan ketebalan lapisan produktif. Berkurangnya kecerahan
air akan mengurangi kemampuan fotosintesis tumbuhan air, selain itu dapat pula
mempengaruhi kegiatan fisiologi biota air, dalam hal ini bahan-bahan yang masuk
ke dalam suatu perairan terutama yang berupa suspensi dapat mengurangi
kecerahan air

2. Adapun faktor-faktor kekeruhan suatu perairan yaitu:

 Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur.

 Jasad-jasad renik yang merupakan plankton

 Warna air yang ditimbulkan oleh zat-zat koloid yang berasal dari daun-
daun tumbuhan yang terektrak.

 Kondisi lingkungan yang ada disekitarnya seperti limbah rumah tangga


dan pupuk kimia yang terbawa oleh sungai atau air hujan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Fajrien,fajar. 2013. Kecerahan Air


Laut.http://fajarfajrien.blogspot.com/2013/01/kecerahan-air-laut.html. 19
Desember 2013.
http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20110609072907AAmplaz. 19
Desember 2013
http://www.sentra-edukasi.com/2011/06/kecerahan-kekeruhan-air-dan-
pengaruhnya.html#.UrKhXidKJ14. 19 Desember 2013
Sariiegucchy. 2013. Dampak Pencemaran Air Laut Akibat Tumpahan
Minyak.http://sariiegucchy.blogspot.com/2013/06/tugas-3-dampak-pencemaran-
air-laut.html. 19 Desember 201

11