Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA I

ANALISIS JURNAL ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA


KELOMPOK RENTAN/KHUSUS

Dosen Pengampu :

Ns. Rika Sarfika, S.Kep, M.Kep

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3

Syafrida Wulandari (1711312007) Vinny Darma Fajri (1711312019)

Sri Dinda Andrifa (1711312009) Ulfha Putri Rahmi (1711312021)

Ilda Yunanda (1711312011) Siti Rahma (1711312023)

Adzkia Pinta Dano (1711312013) Shintya (1711312025)

Makhda Nurfatmala Lubis (1711312017)

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami kirimkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya kami dapat membuat dan menyelesaikan makalah kami yang
berjudul “Analisis Jurnal Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Kelompok Rentan/Khusus”.

Kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu kami
dalam menyelesaikan makalah ini, diantaranya:
1. Yang terhormat Ibu Ns. Rika Sarfika, S.Kep, M.Kep selaku dosen mata kuliah
Keperawatan Kesehatan Jiwa I
2. Pihak-pihak lain yang ikut membantu dalam pelaksanaan maupun proses
penyelesaian makalah ini.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi para
pembaca dan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam proses pembelajaran.
Namun, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan maupun
pembahasan dalam makalah ini, sehingga belum begitu sempurna. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
kekurangan-kekurangan tersebut sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang, April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................

DAFTAR ISI ...........................................................................................................

BAB I : PENDAHULUAN .....................................................................................

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................

1.3 Tujuan .................................................................................................................

BAB II : PEMBAHASAN ......................................................................................

2.1 Konsep Dasar Autisme …………………………………………………………

2.2 Analisis Jurnal ………………………………………………………………….

2.3 Asuhan Keperawatan pada Anak Autisme ………………………………………

BAB III : PENUTUP ..............................................................................................

4.1 Kesimpulan .........................................................................................................

4.2 Saran ...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap tahun di seluruh dunia, kasus autisme mengalami peningkatan. Dalam


penelitian yang dirangkum Synopsis of Psychiatry awal 1990-an, kasus autisme masih
berkisar pada perbandingan 1 : 2.000. Angka ini meningkat di tahun 2000 dalam
catatan Sutism Research Institute di Amerika Serikat sebanyak 1 dari 150 anak punya
kecenderungan menderita autis. Di Inggris, datanya lebih mengkhawatirkan. Di sana
berdasarkan data International Congress on Autism tahun 2006 tercatat 1 dari 130 anak
punya kecenderungan autis.
Di Indonesia sering kali cukup sulit mendapatkan data penderita auitis, ini
karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari
gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di RS.
Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan pendengaran
dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya mengalami masalah
dengan perkembangan fisik.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep dasar autism pada anak?


2. Bagaimana analisis 3 jurnal ?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan autisme ?

1.3 Tujuan

1. Mahasiwa dapat mengetahui konsep dasar Autisme


2. Mahasiswa dapat menganalisis jurnal
3. Mahasiswa mampu menerapkan konsep keperawatan pada anak dengan autisme
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR AUTISME

2.1.1 Pengertian

Autism disebut juga sindroma keanner. Dengan gejala tidak mampu bersosialisasi,
mengalami kesulitan menggunakan bahasa, berperilaku berulang-ulang,serta bereaksi
tidak biasa terhadap rangsangan sekitarnya. (dr.leo keanner,1938)

Autism bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) dimana
terjadi penyimpangan perkembangan social, kemampuan berbahasa dan kepedulian
terhadap sekitar, sehingga autism seperti hidup dalam dunianya sendiri.

Autism tidak termasuk golongan penyakit jadi tetatepi suatu kumpulan gejala kelainan
perilaku dan kemajuian perkembangan. Dengan kata lain,pada anak autism terjadi
kelainan emosi, intelektual dan kemauan (gangguan pervasive).

Autism terjadi sejak usia muda,biasanya sekitar 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai
siapa saja.

2.1.2 Penyebab

Penyebab terjadinya belum diketahui secara pasti,hanya diperkirakan mungkin adanya


kelainan dari system saraf (neurologi) dalam berbagai derajat beratnya ringan
penyakit.(faisal,2003)

Penyebab wabah autisme menurut buku (bony,2003) adalah :

a. Gangguan susunan saraf pusat


Ditemukan kelainan neuranotomi (anatomi susunan saraf pusat) pada beberapa tempat
didalam otak anak autis. Selain itu,ditemukan kelainan struktur pada pusat emosi
didalam otak sehingga emosi anak autis sering terganggu. Penemuan ini membantu
dokter menentukan obat yang lebih tepat. Obat-obatan yang sering dipakai adalah dari
jenis psikotropika,yang bekerja pada susunan saraf pusat.

b. Gangguan sistem pencernaan

Ada hubungan antara gangguan sistem pencernaan dengan gejala autis. Tahun
1997,seorang pasien autis,Parker Beck,mengeluhkan gangguan pencernaan yang
sangat buruk. Ternyata,ia kekurangan enzim sekretin. Setelah mendapat suntikan
sekretin,Beck sembuh dan mengalami kemajuan luar biasa. Kasus ini memicu
penelitian-penelitian yang mengaruh pada gangguan metabolisme pencernaan.

c. Peradangan dinding usus

Bersdasarkan pemeriksaan endoskopi atau peneropongan usus pada sejumlah anak


autis yang memiliki pencernaan buruk ditemukan adanya peradangan usus pada
sebagian besar anak. Dr. Andrew Wakefiled ahli pencernaan asal inggris,menduga
peradangan tersebut disebabkan virus,mungkin virus campak. Itu sebabnya, banyak
orangtua yang kemudian menolak imunisasi MMR (measles,mumps,rubella) karena
diduga menjadi biang keladi autis pada anak.

d. Faktor genetika

Ditemukan 20 gen yang terkait dengan autisme. Namun, gejala autisme baru bisa
muncul jika terjadi kombinasi banyak gen. bisa saja autisme tidak muncul,meski anak
membawa gen autisme. Jadi perlu faktor pemicu lain.

e. Keracunan logam berat

Berdasarkan tes laboratorium yang dilakukan pada rambut dan darah ditemukan
kandungan logam berat dan beracun pada banyak anak autis. Diduga,kemampuan
sekresi logam berat dari tubuh terganggu secara genetik.
2.1.3 Tanda Dan Gejala

Kelompok kelainan perilaku yang hampir selalu ditemukan pada autisme,antara lain :

a. Mengalami kesulitan untuk menjalin pergaulan yang rapat

b. Sangat kurang menggunakan bahasa

c. Sangat lemah kemampuan berkomunikasi

d. Kelainan lain :

- Sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Anaka akan bereaksi secara emosional
kadang bereaksi kasar meskipun hanya perubahan kecil dari kehidupan rutin

- Setiap perubahan bagi anak autisme selalu dirasakan buruk dan perubahan yang
kearah baik pun tidak pernah dirasakan surprise.

- Memperlihatkan gerakan-gerakan tubuh yang aneh

- Sebagian kecil anak autisme menunjukkan masalah perilaku yang sangat


menyimpang

autisme ditandai oleh ciri- ciri utama,antara lain :

a. Tidak peduli dengan lingkungan sosialnya

b. Tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya

c. Perkembangan bicara dan bahasa tidak normal (penyakit kelainan pada anak =
autistic-children)

d. Reaksi/pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau berulang-ulang dan tidak


padan.

Gejala ini bervariasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur,
intelegensia,pengaruh pengobatan, dan beberapa kebiasaan pribadinya. Pada
pemeriksaan status mental,ditemukan kurangnya orientasi lingkungan,rendahnya
tingkatan meskipun terhadap kejadian yang baru, demikian juga kepedulian terhadap
lingkungan sekitar sangat kurang. Anak autisme kalau berbicara cepat tetapi tanpa
arti,kadang diselingi suara yang tidak jelas maksudnya seperti suara gemeretak gigi.

2.1.4 Klasifikasi

Autisme dikelompokkan menjadi 3 yaitu :

a. Autisme persepsi

Autisme persepsi dianggap autisme asli dan disebut juga autisme internal karena
kelainan sudah timbul sebelum lahir.

b. Autisme reaktif

Pada autisme reaktif,penderita membuat gerakkan-gerakkan tertentu berulang-ulang


dan kadang-kadang disertai kejang-kejang

c. Autisme yang timbul kemudian

Kalau kelainan dikenal setelah anak agak besar tentu akan sulit memberikan pelatihan
dan pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat,ditambah beberapa
pengalaman baru dan mungkin diperberat dengan kelainan jaringan otak yang terjadi
setelah lahir.

Dalam berinteraksi anak autisme dikelompokkan atas 3 kelompok :

a. Menyendiri

- Terlihat menghindari kontak fisik dengan lingkungannya

- Bertendensi kurang menggunakan kata-kata dan kadang-kadang sulit berubah


meskipun usianya bertambah lanjut.

- Menghabiskan harinya berjam-jam sendiri,dan kalau berbuat


sesuatu,melakukannya berulang-ulang
- Sangat tergantung pada kegiatan sehari-hari

b. Kelompok anak autisme yang pasif

- Lebih bisa bertahan pada kontak fisik dan agak mampu bermain dengan
kelompok.

- Mempunyai pembendaharaan kata yang lebih banyak meskipun masih agak


terlambat biasa berbicarannya.

- Kadang malah lebih cepat merangkai kata meskipun kadang ada kata yang
kurang tepat

- Gangguan kelompok ini tidak seberat anak kelompok menyendiri.

- Kelompok ini bisa diajari dan dilatih

c. Anak autisme kelompok yang aktif tetapi menggunakan cara sendiri

- Kelompok ini lebih cepat mempunyai pembendaharaan kata paling banyak dan
cepat bisa berbicaramasih bisa ikut berbagi rasa dengan teman

- Meskipun bisa merangkai kata dengan baik namun masih terselip kata yang
aneh dan kurang dimengerti

- Menyenangi dan terpaku pada salah satu jenis barang tertentu.


2.2 ANALISIS JURNAL

Analisis Jurnal 1

1. Judul Jurnal

Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perkembangan Motorik Pada Anak Autis Di


Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontalo

2. Kata Kunci

Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Perkembangan Motorik, Anak Autis

3.Penulis Jurnal

Nurhayati Lasomba, dr. Edwina R. Monayo, M.Biomed, Rhein R. Djunaid, S.Kep, Ns,
M.Kes

4. Latar Belakang

Peranan orangtua anak autis dalam membantu anak untuk mencapai


perkembangan dan pertumbuhan optimal sangat menentukan. Begitupula Guru
pendamping anak autis memiliki peran ganda, yaitu membantu anak menguasai tugas
akademis dan membantu anak berkembang sesuai tahapan perkembangan yang
seharusnya. Begitupun dengan keterlibatan masyarakat dalam usaha membantu anak
autis dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah pemberian pendidikan, pelatihan,
dan bimbingan dibidang pendidikan, sosial, karier, pribadi, dan keterampilan, sensorik
dan motorik sangat besar perananya (Hadi, 2006).
5. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga
dengan perkembangan motorik pada anak autis di Pusat Layanan Autis Provinsi
Gorontalo.
6. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PLA Provinsi Gorontalo pada tanggal 28 Mei5Juni
2015, dengan menggunakan desain observational analitik. Variabel penelitian ini yaitu
dukungan keluarga sebagai variabel independen dan perkembangan motorik pada anak
autis adalah variabel dependen.
7. Hasil Penelitian

Berdasarkan tabel 1. di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang anak


yang berusia 4 tahun sebanyak 1 orang (3,3%), 5 tahun sebanyak 3 orang (10,0), 6
tahun sebanyak 3 0rang (10,0%), 7 tahun sebanyak 3 orang (10,0%), 8 tahun sebanyak
1 orang (3,3%), 9 tahun sebnayak 6 orang (20,0%), 10 tahun sebanyak 4 orang (13,3%),
11 tahun sebanyak 2 orang (6,7%), 12 tahun sebanyak 1 orang (3,3%), 13 tahun
sebanyak 1 orang (3,3%), 14 tahun sebanyak 2 orang (6,7%) dan 15 tahun sebanyak 3
orang (10,0%). Jadi distribusi tertinggi terdapat pada anak yang berusia 9 tahun yaitu
sebanyak 9 orang (20,0%).
Berdasarkan tabel 2. di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang
termasuk kategori pekerjaan orangtua sebagai petani sebanyak 1 orang (3,3%), yang
berprofesi sebagai IRT sebanyak 10 orang (33,3%), yang berprofesi sebagai swasta
sebanyak 6 orang (20,0%) sedangkan yang berprofesi sebagai PNS sebanyak 13 orang
(43,3%). Jadi distribusi tertinggi terdapat pada kategori pekerjaan orangtua yang
berprofesi PNS yaitu sebanyak 43,3%.
Berdasarkan tabel 3. di atas menunjukan bahwa dari 30 responden orangtua
yang berpendidikan SMP sebanyak 1 orang (3,3%), yang berpendidikan SMA
sebanyak 14 orang (46,7%), sedangkan yang berpendidikan sampai ke perguruan tinggi
sebanyak sebanyak 15 orang (50,0%). Jadi distribusi tertinggi terdapat pada kategori
pendidikan orangtua hingga ke perguruan tinggi yaitu sebanyak 50,0%.
Berdasarkan tabel 4. di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang
termasuk kategori dukungan keluarga baik sebanyak 17 orang (56,7%), sedangkan
yang termasuk kategori dukungan keluarga kurang sebanyak 13 orang (43,3%). Jadi
distribusi tertinggi terdapat pada kategori dukungan orangtua baik yaitu sebanyak
56,7%.
Berdasarkan tabel 5. di atas menunjukan bahwa dari 30 responden yang
termasuk kategori perkembangan motorik baik sebanyak 15 orang (50%), sedangkan
yang termasuk kategori perkembangan motorik kurang sebanyak 15 orang (50%).
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukan bahwa dukungan keluarga baik dan
perkembangan motorik anak autis baik yaitu sebanyak 14 orang (82,4%), sedangkan
dukungan orangtua kurang dan perkembangan motorik anak autis baik yaitu sebanyak
1 orang (7,7%). Kemudian untuk dukungan orangtua baik dan perkembangan motorik
anak autis kurang yaitu sebanyak 3 orang (17,6%) sedangkan untuk dukungan orangtua
kurang dan perkembangan motorik anak autis kurang yaitu sebanyak 12 orang (92,3%).

8. Kesimpulan
Dukungan keluarga baik terhadap perkembangan anak penyandang autis di
Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontalo sebanyak (56,7 %) dan dukungan keluarga
kurang sebanyak (43,3 %). Perkembangan motorik anak autis baik terhadap
perkembangan anak penyandang autis di Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontalo
sebanyak (50 %) dan perkembangan motorik anak autis kurang sebanyak (50 %).
Sedangkan hubungan antara dukungan keluarga dengan perkembangan motorik anak
autis di Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontaloρ = 0,000 (α < 0,05).

Analisis Jurnal 2
1. Judul Jurnal

Pengaruh Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) Terhadap Peningkatan Interaksi


Sosial Pada Anak Autis Usia 6-12 Tahun di SLB PKK Sumberejo Kabupaten
Bojonegoro

2. Kata Kunci

Kata kunci : Interaksi social, Terapi ABA, Anak autis

3. Penulis Jurnal
Moh. Saifudin, S.kep, Ns, S.psi, M.Kes dan Iwanina Syadzwina

4. Latar Belakang

Dikarenakan ada nya hambatan-hambatan perkembangan sering dijumpai pada


anak autis dan ADHD karena penanganannya lebih sulit dari yang lainnya. Gangguan
ini pertama kali terjadi pada usia kurang dari 30 bulan (Copel,2007).

5. Tujuan Penelitian

Banyak macam terapi yang dapat diberikan pada anak autism diantaranya terapi
ABA. Terapi untuk dicobakan kepada anak autism untuk mengintervensi gangguan
dalam interaksi social salah satunya dengan terapi ABA yang dimana metode ini tata
laksana perilaku menggunakan metode mengajar tanpa kekerasan.

6. Metodologi Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitian Eksperimental dengan Pra
eksperimental. Penelitian ini menggunakan pendekatan one group pretest-posttest
design. Pengambilan sampel menggunakan teknik Total Sampling dengan total 13
sampel. Data penelitian diambil melalui lembar observasi interaksi sosial sebelum dan
sesudah terapi, terapi dilakukan selama 2 minggu dengan 8 kali pertemuan dengan
durasi tiap pertemuan 60 menit di SLB PKK Sumberrejo dengan menggunakan uji
statistik Wilcoxon Sign Rank Test.
7. Hasil Penelitian
Hasil menunjukkan bahwa sesudah dilakukan terapi ABA sebagian besar anak autis
memperoleh skor interaksi sosial yang baik yaitu sebanyak 7 anak atau 54%, sedangkan
sebagian kecil anak autis sesudah dilakukan terapi ABA memperoleh skor interaksi
sosial cukup yaitu sebanyak 6 anak atau 46%.

8. Kesimpulan
Sebagian besar anak autis memiliki tingkat interaksi sosial yang kurang sebelum
dilakukan terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) di SLB PKK Sumberrejo
Kabupaten Bojonegoro. Sebagian besar anak autis memiliki tingkat interaksi sosial
yang baik sesudah dilakukan terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) di SLB PKK
Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro. Terdapat pengaruh terapi ABA (Applied
Behaviour Analysis) terhadap peningkatan interaksi sosial pada anak autis usia 6-12
tahun di SLB PKK Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.

Analisis Jurnal 3
1. Judul jurnal

Terapi Visual Terhadap Perkembangan Bahasa Reseptif dan Ekspresif Pada Anak Autis

2. Kata kunci

Kata kunci : autis, perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif. terapi visual

3. Penulis jurnal

Faridah Hanum, Mutdasir, Rusli Yusuf

4. Latar belakang

Anak Autis merupakan bagian integral dari anak luar biasa. Penyebab autisme
salah satunya adalah ketidakberfungsian sistem saraf di otak, selain menimbulkan
masalah dalam belajar dan bahasa, anak autis mempunyai masalah dalam
mengembangkan kemampuan untuk memproses informasi yang diterima melalui alat
indera.

Maka dari itu penelitian ini selain memberikan dukungan yang berbentuk
terapi, juga dengan tujuan meningkatkan kemampuan bahasa anak yang berupa reseptif
dan ekspresif. Permasalahan dalam penelitian ini adalah tingginya jumlah anak autis
yang tidak memahami bahasa yang sangat diperlukan terhadap aktivitas sehari-hari,
sehingga peneliti ingin memberikan intervensi yang dapat meningkatkan kemampuan
anak autis dalam mengenalkan bahasa melalui media visual yang diharapkan dapat
membantu bagi anak dan keluarga, sehingga dapat menunjukkan bagaimanakah
“Pengaruh Terapi Visual Terhadap Perkembangan Bahasa Reseptif dan Ekspresif Pada
Anak Autis di Sekolah Yayasan Cinta Mandiri Kecamatan Muara Dua Kota
Lhokseumawe Tahun 2016”.

5. Tujuan Penelitian

Mengkaji keefektifan terapi reseptif dan ekspresif pada anak autisme

6. Metodologi Penelitian

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pra
eksperimen dengan rancangan pre and post test withoutcontrol atau disebut juga
rancangan one group -pre test - post test (rancangan pra-pasca test dalam satu
kelompok), dimana bahasa reseptif dan ekspresif diukur sebelum dan sesudah
diberikan perlakuan yaitu berupa terapi visual.Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah seluruh anak autis yang berada disekolah yayasan cinta mandiri
yaitu 15 orang.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling, dimana
seluruh populasi dijadikan sampel sehingga besarnya sampel dalam penelitian ini
adalah 15 anak autis. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
berbentuk lembaran observasi yang dirancang oleh. lembaga Yayasan Pendidikan
Anak Cacat (YPAC), dengan dimodifikasi oleh peneliti karena peneliti membatasi
hanya pada aspek perkembangan bahasa. Sesuai dengan perkembangan budaya dan
anak, untuk memperoleh instrument yang valid maka digunakan uji pakar untuk
menilai kelayakan instrument.

Uji pakar dilakukan oleh tiga dokter spesialis anak, untuk mendapatkan apakah
instrument tersebut sudah dapat digunakan, setelah mendapatkan saran dan kritikan
terhadap uji yang digunakan, peneliti merevisi kuesioner tersebut sesuai dengan arahan
pakar, para pakar menyarankan agar kuesioner sesuai denga tumbuh kembang anak,
mengingat instrument juga merupakan instrument baku, sehingga setelah direvisi,
instrument dinyatakan layak untuk digunakan.Analisis data di interpretasi
menggunakan univariat dan bivariat. Univariat yaitu melihat persentase dari setiap
variabel, bivariat dengan menggunakan uji statistic t test dependen untuk menilai
kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif sebelum mendapatkan perlakuan dan dinilai
kembali setelah mendapatkan perlakuan. Perlakuan yang diberikan yaitu terapi dengan
menggunakan Picture Exchange Communication System (PECS). Dalam pengambilan
data peneliti mengikuti langkah yang sesuai dengan etika penelitian, peneliti
menggunakan standar etika penelitian berdasarkan komisi nasional etik penelitian
kesehatan (KENPK) dimana kelayakan penelitian harus mempertimbangkan;
autonomy, anonymity, confidentially, non maleficence dan justice (Depkes, 2005).

Sebelum melakukan pengambilan data awal untuk kelanjutan penelitian,


peneliti telah lulus kajian etik oleh komite etik penelitian keperawatan pada fakultas
keperawatan Universitas Syiah Kuala.

7. Hasil Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan di sekolah Yayasan Cinta Mandiri Kecamatan


Muara Dua Kota Lhokseumawe pada tanggal 20 Februari sampai dengan 25 Maret
tahun 2016, pada 15 anak yang sudah didiagnosis mengalami autis.

Berdasarkan tabel disimpulkan bahwa distribusi frekuensi data demografi


responden diperoleh; frekuensi tertinggi penanggung jawab anak adalah orang tua 12
(80%). Frekeunsi tertinggi pekerjaan orang tua/wali berada pada jenis pekerjaan petani,
10 (67%). Frekuensi penghasilan orang tua/wali tertinggi berada pada ≤ 1. 900.000, 10
(67%). Frekuensi umur anak tertinggi berada pada umur ≥ 10 tahun, 9 (60%). Frekuensi
jenis kelamin anak yaitu didominasi oleh anak laki-laki, 15 orang, (100%).

Hasil analisis bivariat data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji t test
dependen. Untuk melihat pengaruh sebelum dan sesudah intervensi.Dari hasil analisis
menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan bahasa reseptif pada pengukuran pertama
adalah 6,933 dengan standar deviasi
1,907. Pada pengukuran kedua didapat rata-rata kemampuan bahasa reseptif adalah
13,200 dengan standar deviasi 1,612. Terlihat nilai mean perbedaan antara pengukuran
pertama dan kedua adalah 6,26 dengan standar deviasi 1,83. Hasil uji statistik
didapatkan nilai p= 0,000.Untuk rata-rata kemampuan bahasa ekspresif pada
pengukuran pertama adalah 6,333 dengan standar deviasi 0,899. Pada pengukuran
kedua didapat rata-rata kemampuan bahasa ekspresif adalah 15,066 dengan standar
deviasi 2,120. Terlihat nilai mean perbedaan antara pengukuran pertama dan kedua
adalah 8,73 dengan standar deviasi 2,15. Hasil uji statistik
didapatkan nilai p= 0,000.

8. Kesimpulan

Ada pengaruh terapi visual terhadap perkembangan bahasa ekspresif pada anak
autis di Sekolah Yayasan Cinta Mandiri Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe
dengan nilai perbedaan mean antara pengukuran pertama dan kedua adalah 6,26 dengan
standar deviasi 1,83. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,000 yang menunjukkan
bahwa ada pengaruh kemampuan ekspresif sebelum dan sesudah perlakuan.

2.3 ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK AUTISME

1. Pengkajian
a. Riwayat gangguan psikiatri/jiwa pada keluarga.
b. Riwayat keluarga yang terkena autisme.
c. Riwayat kesehatan ketika anak dalam kandungan
1. Sering terpapar zat toksik, seperti timbal.
2. Cedera otak.
d. Status perkembangan anak.
· Anak kurang merespon orang lain.
· Anak sulit fokus pada objek dan sulit mengenali bagian tubuh.
· Anak mengalami kesulitan dalam belajar.
· Anak sulit menggunakan ekspresi non verbal.
· Keterbatasan Kongnitif.
e. Pemeriksaan fisik
· Tidak ada kontak mata pada anak.
· Anak tertarik pada sentuhan (menyentuh/disentuh).
· Terdapat Ekolalia.
· Tidak ada ekspresi non verbal.
· Sulit fokus pada objek semula bila anak berpaling ke objek lain
· Anak tertarik pada suara tapi bukan pada makna benda tersebut.
· Peka terhadap bau

2. Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan komunikasi yang berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus.
Hasil yang diharapkan :
Anak mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata-kata atau gerakan
tubuh yang sederhana, konkret; bayi dengan efektif dapat mengkomunikasikan
kebutuhannya (keinginan akan makan, tidur, kenyamanan, dsb).
Intervensi :
a. Ketika berkomunikasi dengan anak, bicaralah dengan kalimat singkat yg terdiri atas
1 hingga 3 kata, dan ulangi perintah sesuai yang diperlukan. Minta anak untuk melihat
kepada anda ketika anda berbicara dan pantau bahasa tubuhnya dengan cermat.
b. Gunakan irama, musik dan gerakan tubuh untuk membantu perkembangan
komunikasi sampai anak dapat memahami bahasa.
c. Bantu anak mengenali hubungan antara sebab dan akibat dengan cara menyebutkan
perasaannya yang khusus dan mengidentifikasi penyebab stimulus bagi mereka.
d. Ketika berkomunikasi dengan anak, bedakan kenyataan dengan fantasi, dalam
pernyataan yang singkat dan jelas.
e. Sentuh dan gendong bayi, tetapi semampu yang dapat ditoleransi.
2. Risiko membahayakan diri sendiri atau orang lain yang berhubungan dengan rawat
inap di rumah sakit
Hasil yang diharapkan :
Anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan atau
perilaku merusak diri sendiri, yang ditandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi
atau destruksi berkurang, serta peningkatan kemampuan mengatasi frustasi.
Intervensi :
a. Sediakan lingkungan kondusif dan sebanyak mungkin rutinitas sepanjang periode
perawatan di rumah sakit
b. Lakukan intervensi keperawatan dalam sesi singkat dan sering. Dekati anak dengan
sikap lembut, bersahabat, dan jelaskan apa yang anda akan lakukan dengan kalimat
yang jelas dan sederhana. Apabila dibutuhkan, demonstrasikan prosedur kepada orang
tua.
c. Gunakan restrain fisik selama prosedur ketika membutuhkannya, untuk memastikan
keamanan anak dan untuk mengalihkan amarah dan frustasinya.
d. Gunakan teknik modifikasi perilaku yang tepat untuk menghargai perilaku positif
dan menghukum perilaku yang negatif.
e. Ketika anak berperilaku destruktif, tanyakan apakah ia mencoba menyampaikan
sesuatu.
3. Risiko Perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan gangguan
Hasil yang diharapkan :
Orang tua mendemonstrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang
ditandai oleh ungkapan kekhawatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat
serta bantuan.
Intervensi :
a. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mereka.
b. Rujuk orang tua ke kelompok pendukung autisme setempat dan ke sekolah khusus
jika diperlukan
c. Anjurkan orang tua untuk mengikuti konseling (bila ada)
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Autism disebut juga sindroma keanner. Dengan gejala tidak mampu bersosialisasi,
mengalami kesulitan menggunakan bahasa, berperilaku berulang-ulang,serta bereaksi
tidak biasa terhadap rangsangan sekitarnya.

Dukungan keluarga baik terhadap perkembangan anak penyandang autis di


Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontalo sebanyak (56,7 %) dan dukungan keluarga
kurang sebanyak (43,3 %). Perkembangan motorik anak autis baik terhadap
perkembangan anak penyandang autis di Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontalo
sebanyak (50 %) dan perkembangan motorik anak autis kurang sebanyak (50 %).
Sedangkan hubungan antara dukungan keluarga dengan perkembangan motorik anak
autis di Pusat Layanan Autis Provinsi Gorontaloρ = 0,000 (α < 0,05).
Sebagian besar anak autis memiliki tingkat interaksi sosial yang kurang
sebelum dilakukan terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) di SLB PKK Sumberrejo
Kabupaten Bojonegoro. Sebagian besar anak autis memiliki tingkat interaksi sosial
yang baik sesudah dilakukan terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) di SLB PKK
Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro. Terdapat pengaruh terapi ABA (Applied
Behaviour Analysis) terhadap peningkatan interaksi sosial pada anak autis usia 6-12
tahun di SLB PKK Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.

Ada pengaruh terapi visual terhadap perkembangan bahasa ekspresif pada anak
autis di Sekolah Yayasan Cinta Mandiri Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe
dengan nilai perbedaan mean antara pengukuran pertama dan kedua adalah 6,26 dengan
standar deviasi 1,83. Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,000 yang menunjukkan
bahwa ada pengaruh kemampuan ekspresif sebelum dan sesudah perlakuan.
3.2 Saran
Dalam penulisan makalah ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu kritik dan saran yang sifatnya membangun kami harapkan demi kesempurnaan
penulisan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Ariyana, Desi. (2009). Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Perkembangan Anak


Dengan Perkembangan Motorik Kasar dan Motorik Halus Anak Autis Di SLB Kota
Padang.Jurnal Keperawatan Vol. 2 No. 2: Diakses 1 Mei 2019.

Danuatmaja. 2003. Terapi Anak Autisma Di Rumah. Jakarta: Puspa Swara.

Hartley. S., Sikora. M., Coy. Mc. (2008). Prevalence and Risk Factors of
Maladaptive Behaviour in Young Children With Autistic Disorder. Journal
Intellect Disabil; 2 (10): 819–829.

Haryana, R. (2012). Pengembangan Interaksi Sosial dan Komunikasi Anak Autis


: Program ETraining Kompetensi Pengembangan Interaksi dan Komunikasi Bagi
Siswa Autis Bagi Guru Sekolah Luar Biasa. PLB. Bandung.