Anda di halaman 1dari 11

5.

Gelombang R

Gelombang R merupakan defleksi positif pertama dari kompleks QRS, yang


menggambarkan depolarisasi ventrikel.

a. Gelombang R dapat didahului atau tanpa gelombang Q.


b. Gelombang R umumnya positif di lead I, II, V5 dan V6.
c. Pada lead AVR, V1 dan V2 biasanya hanya kecil atau tidak ada sama sekali.
d. Normalnya memiliki tinggi sekitar 5 – 10 mm.
e. Gelombang R positif normalnya meningkat amplitude dan durasinya dari sadapan V₁
hingga V₄ atau V₅.
f. Tidak adanya tampilan normal gelombang R menandakan kelainan.

Kepentingan :

1. Menandakan adanya hipertrofi ventrikel


2. Menandakan adanya tanda-tanda Bundle Branch Block (blok cabang berkas his)

Peningkatan dan penurunan amplitude menjadi sangat signifikan pada beberapa


kondisipenyakit. Hipertopi ventricular akan menimbulkan gelombang R yang sangat tinggi
karena hiprtropi otot memerlkan arus listrikyang sangat kuat untuk depolarisasi.

6. Gelombang S

Gelombang S merupakan defleksi negative pertama setelah R yang menggambarkan


depolarisasi ventrikel.

Gelombang S normal :

a. Di lead aVR dan V1 gelombang S terlihat dalam, dari V2 ke V6 akan terlihat makin lama
makin menghilang atau berkurang dalamnya.
b. Rasio amplitude R/S pada V1 dan V2 normalnya dibawah 1 mV
c. R pada V5 atau V6 ditambah S pada V1 atau V2 tidak boleh lebih dari 35 mm.

Kepentingan :

1. Menandakan adanya hipertrofi ventrikel


2. Menandakan adanya tanda-tanda Bundle Branch Block (blok cabang berkas his )

7. Gelombang T

Gelombang T merupakan gelombang panjang setelah QRS yang menggambarkan


repolarisasi ventrikel. Gelombang T invited : gelombang T yang berada dibawah baseline
(negative T).

Gelombang T normal :

a. Bentuknya bisa defleksi positif maupun negative.


b. Gelombang T yang normal biasanya awalnya lebih panjang daripada akhirnya.
c. Umumnya gelombang T positif di lead I, II, V3-V6 dan terbalik di aVR.
d. Gelombang T normal tidak boleh lebih dari 5mm pada semua lead, kecuali lead
precordial (V1-V6), dimana disini dapat setinggi 10mm.

Amplitudo normal :

 Kurang dari 10mm di sadapan dada


 Kurang dari 5mm di sadapan ektremitas
 Minimum 1mm

Kepentingan :

 Menandakan adanya iskemik/ infark


 Menandakan adanya kelainan elektrolit

8. Gelombang U

Gelombang U merupakan gelombang tambahan yang terbentuk diantara gelombang T


dan gelombang P berikutnya, terlihat paling jelas di V1-V4

Penyebab timbulnya gelobang U masih belum diketahui, namun diduga sebagai akibat
dari repolarisasi lambat system konduksi interventrikular.

Kepentingan :

 Bila amplitude U>T, menandakan adanya hypokalemia


 Gelombang U yang terbalik terdapat pada eskemia dan hipertrofi

9. Interval PR

Interval PR merupakan penjumlahan dari waktu depolarisasi atrium dan waktu


perlambatan dari nodus AV (AV node delay). Dengan demikian bisa dikatakan juga bahwa
interval PR merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi atrium dari jalannya impuls
melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi ventrikel.

Interval PR ini diukur dari permulaan gelombang P sampai dengan permulaan kompleks
QRS. Nilai normal interval PR ini ditentukan oleh frekuensi jantung, bila denyut jantung lambat
maka interval PR akan menjadi lebih panjang. Nilai normalnya berkisar antara 0,12-0,20 detik.

Keentingan :

a. Interval PR < 0,12 detik : terdapat pada keadaan hantaran dipercepat syndrome W.P.W
b. Interval PR > 0,20 detik : terdapat pada blok AV
c. Interval PR berubah-ubah : terdapat pada wandering pacemaker

10. Segmen ST

Segmen ST merupakan garis isoelektris yang menunjukan waktu diantara akhir


depolarisasi ventrikel sampai dengan permulaan repolarisasi ventrikel sampai dengan permulaan
repolarisasi ventrikel. Dengan demikian, segment ST diukur dari akhir gelombang S sampai awal
gelombang T.

Morfologi normal segmen ST :

 Isoelektris atau sejajar dengan interval PR


 Pada lead precordial penurunan yang ditoleransi sebesar -0,5mm dan kenaikan yang
ditoleransi sebesar +2mm

Morfologi patologis pada segmen ST :

 ST elevasi : segmen ST yang naik diatas baseline


 ST depresi : segmen ST yang turun dibawah baseline
 ST flat atau straight ST : gelombang ST yang lurus garis horizontal
 ST sagging : berbentuk konkaf, menghadap keatas dan berada dibawah baseline

Kepentingan :

1. Elevasi segment ST terdapat pada :


 Infark miokard akut/ injuri
 Aneurisme
 Pericarditis
2. Depresi segment ST terdpat pada :
 Iskemia
 Angina pectoris
 Efek digitasils
 Ventrikuler strain

11. interval QT

Interval QT merupakan jarak antara permulaan gelombang Q sampai dengan akhir


gelombang T. dengan demikian interval QTmenggambarkan lamanya aktivitas, depolarisasi dan
repolarisasi ventrikel. Nilai interval QT dipengaruhi oleh frekuensi jantung.

Interval QT-c (corrected QT interval) adalah nilai interval QT yang telah dikoreksi/
disesuaikandengan interval QT pada frekuensi jantung 60 kali permenit, dan nilainya dapat
ditentukan dengan sebuah nomogram.

Nilai normal interval QT-c adalah :

 Laki-laki : 0,42 detik


 Wanita : 0,43 detik

Kepentingan :

1. Interval QT-c memanjang : efek quinidine, hipokalsemia


2. Interval QT-c memendek : efek digitalis, hiperkalsemia

12. Titik J
Titk J atau RS-junction merupakan titik penghubung antara QRS dan ST.

Kepentingan : sebagai titik pegangan untuk menetukan adanya deviasi sgmen ST.

BAB V

INTERPRETASI EKG

Berdasarkan kelengkapan sadapan atau lead yang digunakan, interpretasi dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu interpretasi EKS 12 dan interpretasi EKG strip.

EKG 12 lead merupakan gambaran lengkap rekaman EKG dari keseluruhan lead. Lead
itu sendiri terdiri dari 6 lead ekstremitas dan 6 lead precordial. Langkah-langkah menilai EKG 12
lead adalah sebagai berikut :

1. Menentukan irama jantung


2. Menentukan frekuensi jantung
3. Menentukan sumbu (axis) jantung
4. Menentukan ada tidaknya tanda hipertropi
5. Menentukan ada tidaknya tanda iskemia
6. Menetukan efek akibat gangguan lain, seperti obat-obatan dan ketidakseimbangan
elektrolit.

Sedangkan EKG strip merupakan rekaman EKG yang hanya terdiri dari 1 sadapan atau lead.
Langkah-langkah menilai EKG strip antara lain sebagai berikut :

1. Menentukan irama jantung apakah teratur atau tidak


2. Tentukan frekuensi jantung
3. Tentukan gelombang P normal atau tidak, kemudian pastikn apakah setiap gelombang P
selalu diikuti dengan kompleks QRS?
4. Tentukan interval PR normal atau tidak
5. Tentukan gelombang QRS nya normal apa tidak

Interpretasi EKG 12 Lead


1. Menentukan irama jantung

Irama jantung normal berasal dari nodus SA (irama sinus) yang berjalan secara teratur
(regular), sehingga dinamakan sebagai sinus rhytm. Sehingga yang ditentukan dari iramanya
adalah apakah termasuk irama sinus atau bukan dan termasuk irama regular atau irregular.

Ciri dari sinus rhytm antara lain :

 Irama teratur regular


 Frekuensi jantung antara 60-100x /menit
 Gelombang P normal, dimana setiap gelombang P selalu diikuti dengan gelombang
QRS dan gelombang T
 Interval PR normal (0,12-0,20 detik)
 Semua morfologi gelombng dalam satu sadapan relative sama

Irama irregular ditandai dengan kesamaan jarak antara puncak R – R dalam satu lead.
Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa variasi dari irama sinus, antara lain :

a. Sinus rhytm : irama sinus, regular dan heart rate (HR) 60-100x /menit
b. Sinus aritmia : irama sinue, irregular, dan HR 60-100x /menit
c. Sinus takikardi : irama sinus, regular/irregular, dan HR > 100x /menit
d. Sinus brakikardi : irama sinus, regular/ irregular, dan HR < 60x /menit

Selain irama sinus, terdapat pula irama lain, yaitu :

a. Irama junctional

Irama junctional ini merupakan irama jantung dimana impulnya bukan berasal dari nodus
SA melainkan nodus AV dan atau berkas His, ciri dari irama junctional ini antara lain :

 Morfologi gelombang P tidak normal (defleksi negative, bentuk aneh) atau tidak ada
sama sekali
 Interval PR sempit atau tidak ada
 Komleks QRS sempit
 HR 40-60 kali/menit
b. Irama ventricular

Irama ventricular merupakan irama jantung yang berasal dari serabut purkinje. Ciri-ciri dari
irama ini antara lain :

 Gelombang P tidak Nampak


 Kompleks QRS melebar (> 0,12 detik)
 HR 20-40 kali/menit

2. Menentukan frekuensidenyut jantung (heart rate)

Metode penentuan HR tergantung dari irama jantungnya, apakah regular atau irregular.

a. Irama regular

Terdapat dua cara untuk menentukan HR pada irama regular, antara lain :

1) 300 dibagi dengan jumlah kotak besar diantara puncak gelombang R-R
2) 1500 dibagi dengan jumlh kotak kecil diantara puncak gelombang R-R

Catatan : metode nomor (2) memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi dibandingkan dengan nomor
(1), karena sering terbentuk pada kenyataan bahwa jarak antara puncak gelombang R-R itu tidak
selalu memiliki kotak besar yang penuh, sehingga memberi kesulitan tersendiri, misalnya apakah
jaraknya 2,3 atau 1,5 kotak besar.

b. Irama irregular

Menghitung irama irregular tidak bisa menggunakan metode seperti pada irama regular
karena hasilnya tentu akan berbeda. Oleh karena itu rumus untuk mencari HR adalah :

[jumlah gelombang R pada 30 kotak besar kemudian dikalikan 10]

Metode ini bisa diterapkan baik pada irama regular maupun irregular. Sayangnya cara
perhitungan seperti ini membutuhkan rekaman panjang sehingga boros kertas.

3. Menentukan axis jantung


Axis jantungkan merupakan arah rata-rat kelistrikan jantung. Normalnya axis jantung terletak
diantara aVL dan aVF. Tahapan-tahapan menghitung aksis jantung ini dapat dilihat kembali pada
BAB III tentang axis jantung.

4. Menentukan ada tidaknya tanda hipertropi

Hipertropi bisa terjadi pada autrum maupun ventrikel

 Hipertropi atrium

Hipertropi atrium dibedakan menjadi 2 macam yaitu hipertropi atrium kiri dan hipertropi
atrium kanan. Hipertropi atrium kanan ditandai dengan terbentuknya gambaran P pulmonalis
pada V1 dan V2. Sedangkan hipertropi atrium kiri ditandai dengan terbentuknya P mitralis pada
sadapan V1 dan V2. Morfologi gelombang P mitralis dan P pulmonal dapat dilihat pada gambar
4.4 bab sebelumnya.

 Hipertropi ventrikel

Hipertropi ventrikel kiri

Hipertropi ventrikel kiri ditandai oleh hal-hal berikut ini :

 Terdapat LAD (left axis deviation)


 Terdapat peningkatan amplitude gelombang R yng sangat besar pada V5, V6, lead aVL
dan I :
o Amplitude gelombang R padasadapan V5 atau V6 ditambah amplitude
gelombang S di V1 atau V2 > 35mm
o Amplitude gelombang R disadapan V5 > 26mm
o Amplitude gelombang R disadapan V6 > 18mm
o Amplitude gelombang R pada sadapan V6 > amplitude gelombang R pada
sadapan V5

Hipertropi ventrikel kanan

 Terdapa RAD (right axis deviation)


 Perubahan morfologi gambaran EKG di V1 sampai dengan V6.
Normalnya gelombang R di V1 rendah, namun pada hipertropi ventrikel kanan gelombang R
di V1 tampak tinggi. Demikian juga dengan gelombang S di V1 itu dalam, namun pada
hipertropi ventrikel kanan tampak kecil dan dangkal.

5. Menentukan ada tidaknya tanda iskemi dan infark

Iskemi ditandai dengan adanya ST depresi atau T inverted (terbalik) dan infark ditadai
dengan munculnya bentuk Q patologis.

Infark sendiri terbagi menjadi 3 macam, yaitu :

 Akut

Adanya Q patologis + ST elevasi atau hanya ST elevasi

 Sub akut

Adanya Q patologis + T inverted

 Old

Terdapat Q patologis, sedangkan segmen ST dan gelombang T normal kembali

6. Menentukan efek akibatgangguan lain, seperti obat-obatan dan ketidakseimbangan


elektrolit.

Gangguan elektrolit yang sering menimbulkan perubahan gambar EKG adalah kadar kalium
dan kalsium.

a. Hyperkalemia

Tahapan perubahan EKGpada hyperkalemia meliputi :

a) Ketika K mulai naik, gelombang T pada seluruhsadapan EKG mulai meruncing (T peak).
Perbedaan dengan infark mioakar akut (AMI), jika AMI hanya terjadi pada beberapa
sadapan saja, sedangkan pada hiperkalemi terjadi pada seluruh sadapan.
b) Saat K serum meningkat lagi, Interval PR memanjang dan gelombang P secara bertahap
menghilang.
c) Akhirnya kompleks QRS melebar dan menyatu dengan gelombang T, membentuk
gambaran gelombang sinus. Kemudian fibrilasi ventrikel bisa terjadi.
b. Hypokalemia

Morfologi gambaran EKG adalah sebagai berikut :

 Gelombang U menjadi lebih jelas


 Gelombang T semakin mendatar dan akhirnya terbalik (inverted)
 Terdapat depresi segmen ST
 Pemanjangan interval PR
c. Hiperkalsemia dan hypokalemia

Hipokalsemia ditandai dengan pemanjangan interval QTsedangkan hiperkalsemia ditandai


dengan pemendekan interval QT. pemanjangan interval QT ini terkait dengan terbentuknya
gambaran torsdesdepointes. Ini merupakan varian dari ventrikal takikardi, yang merupakan
situasi mengancam jiwa.

Interpretasi EKG strip

1. Menentukan irama jantung

Untuk menentukan irama jantung dapat dilihat pada interpretasi EKG 12 lead.

2. Tentukan frekuensi jantung

Metode yang digunakan sama dengan interpretasi EKG 12 lead.

 Apakah ada untuk setiap kompleks QRS?


 Apakah gelombang ini tidak ada, seperti pada junction rhytm?
 Apakah digantikan oleh bentuk gelombang lain?
 Seperti apa bentuknya?
 Apakah mirip, aakah bentuknya bagus atau bentuknya berubah seperti pada fibrasi
atrial atau takikardi atrial paroksimal?
3. Identifikasi interval PR

Interval PR yaitu terlalu lama dapat menjadi precursor untuk berbagai heart block karena
terapi obat atau penyakit miokardial

4. Tentukan gelombang QRSnya normal atau tidak

Apakah kompleks QRS sempit atau melebar. Pelebaran kompleks QRS menunjukan adanya
irama ventricular yang disebabkan gagalnya pacemaker jantung diatasnya (SA node dan AV
node)

5. Lihat adanya gelombang Q patologis atau jika waktunya lebih dari 0,04 detik dan jika
dalamnya lebih dari 3mm atau lebih besar dari sepertiga tinggi gelombang R.
6. Hitung kompleks S.
 apakah mereka identic dalam bentuknya?
 Apakah mereka turun terlalu awal?
 Apakah bentuknya bervariasi?
 Apakah ad jarak dan aneh, menunjukan adanya kontraksi ventricular premature?
7. Perhatikan segmen ST. elevasi segmen ST menunjukan adanya pola injuri dan biasanya
terjadi pada perubahan awal di miokardial infark akut. ST depresi terjadi pada keadaan
iskemi. perubahan kadar kalium dan kalium juga mempengaruhi segmen ST.
8. Lihat gelombang T. apakah defleksi positif atau negative. gelombang T yang Terbaik
mengidentifikasikan terjadinya iskemia.
9. Hitung interval QT. interval QT yang normal tidak lebih dari satu setengah interval PR.
Interval QT yang terlalu lama mengidentifikasikan toksisitas digitalis, quinidine yang
terlalu lama (quinaglute) atau terapi procainamide (pronestyl) atau hipomagnesia.